Posts Tagged ‘UB’

Manifestasi Wanita dalam Budaya Patriarki: Ideologi dalam Serat Candraning Wanita dan Refleksi pada Iklan Era Modern

Joan Isma Ayu Astri Fachrani[1]

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang

email: joanismaayuaf@ gmail.com

 

ABSTRAK

 Budaya patriarki merupakan perwujudan ideologi hegemoni, dimana pria sebagai pihak dominan berhak menentukan persetujuan sosial pada wanita sebagai pihak subordinat. Serat Candraning Wanita adalah salah satu naskah kuno yang merefleksikan budaya patriarki pada budaya Jawa. Dalam naskah ini, perempuan digolongkan menjadi 33 jenis serta dijelaskan ciri fisik, alat kelamin, hingga watak. Wanita digambarkan sebagai objek sehingga dapat ditentukan konsepnya. Ideologi ini kemudian dipertahankan di era modern, konsep penampilan fisik serta peran wanita dijadikan komoditas. Ideologi ini dipertahankan agar persetujuan sosial dan posisinya tidak bergeser, bila hal tersebut bergeser maka wanita akan menolak kodratnya dan mengambil kembali kuasa atas tubuhnya.

 

Kata Kunci: budaya patriarki, ideologi hegemoni, feminimitas, Serat Candraning Wanita

 

PENDAHULUAN

Kebudayaan adalah sisi yang tak terpisahkan dari masyarakat. Secara ternaturalisasikan, masyarakat di berbagai belahan dunia mengkonstruksikan diri mereka dalam budaya patriarki dimana pria sangat diagungkan dan diunggulkan dengan sisi maskulinitasnya sementara peran wanita dengan sisi feminimitasnya hanya sebagai pelengkap pria atau subordinat. Perbedaan gender antara maskulin dan feminim dalam budaya patriarki sangat kentara, serta dapat ditemukan perbedaan gender ini pada masyarakat di berbagai belahan dunia. Salah satu masyarakat yang menganut budaya patriarki adalah masyarakat yang hidup dalam budaya Jawa.

Di dalam budaya Jawa, maskulinitas dan feminimitas bukanlah status yang diberikan sedari lahir, tetapi lebih kepada konstruksi sosial. Hal ini bagai dua kutub yang berbeda atau bagai suatu busur yang nilainya bila ditarik masing-masing akan memberikan derajat maskulinitas dan feminitas yang berbeda. Darwin (1999) menyatakan bahwa sosok maskulin yang ideal menurut orang Jawa adalah lelananging jagad yang sakti, tampan dan banyak istri, seperti layaknya Arjuna, sang tokoh pewayangan yang merupakan salah satu anggota dari Pandawa, yang selalu menang di setiap medan perang, dan selalu memenangkan hati setiap dewi.

Dalam budaya Jawa, pria ideal adalah pria yang memiliki benggol (uang) dan bonggol (kejantanan seksual). Di balik dominasi pria ini lah posisi wanita dipertanyakan, maka dimana sejatinya posisi wanita? Dalam kultur ini wanita adalah milik atau objek dari pria yang sejajar dengan bondo (harta), griyo (istana atau rumah), turonggo (kendaraan), kukilo (burung, binatang peliharaan, bunyi-bunyian), dan pusoko (senjata atau kesaktian) (Darwin, 1999). Adapun kata wanita (wanito) dalam budaya Jawa berasal dari kata wani atau berani dan ditata yang berarti diatur, sehingga artinya seorang wanita adalah sosok yang berani ditata atau diatur, sehingga kata wanita lebih digunakan daripada kata perempuan karena kata tersebut lebih dekat dengan kesadaran praktis masyarakat Jawa (Handayani, dkk., 2008). Darwin (1999) kemudian menegaskan bahwa penguasaan terhadap wanita (wanito) adalah simbol kejantanan seorang pria. Dalam hal ini wanita pun tidak mempunyai independensi karena ketundukan, ketergantungan, dan kepasrahan wanita terhadap pria adalah simbol kemuliaan hati seorang wanita Jawa. Dari berbagai istilah budaya Jawa tersebut dapat disimpulkan bahwa wanita secara tidak langsung ditempatkan sebagai objek, dimana laki-laki dalam posisi subjek dapat memberi konsep tentang bagaimana peran, tugas dan kedudukan wanita seharusnya.

Kedudukan wanita sebagai objek ini pula yang membuat pandangan terhadap wanita pada umumnya digambarkan dari sudut pandang pria sebagai subjek. Hal ini dapat terlihat dari berbagai literatur Jawa dan salah satunya adalah naskah (autograph) Jawa Serat Candraning Wanita. Literatur ini dapat digolongkan sebagai sebuah kumpulan wacana falogosentris. Menurut Lestari (2006) wacana falogosentris adalah teks yang falosentris (falus yang logosentris) atau bisa disebut sebagai wacana yang mengambil sudut pandang dari pria. Literatur Jawa ini menggambarkan secara gamblang ciri-ciri fisik (mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki serta alat kelamin) beserta watak wanita yang pantas dan ideal sebagai istri, secara tak langsung hal ini mendiskreditkan wanita sebagai objek yang bisa digolongkan kepada jenis-jenis tertentu oleh pria yang berdiri sebagai subjek.

Hal yang bermula dari budaya patriarki inilah yang akhirnya mempengaruhi bagaimana wanita memandang dirinya, memberikan gambaran ideologi budaya patriarki terhadap wanita melalui sudut pandang naskah Serat Candraning Wanita. Pada masa modern kini, pandangan terhadap fisik maupun watak ideal wanita sebagai objek pun dijadikan komoditas. Peran gender dan kecantikan wanita pun terstandarisasi, sehingga secara tak sadar wanita mempunyai tuntutan untuk harus berusaha mereproduksi dan meraih standar dari kecantikan tersebut sebagai prestasi diri serta memenuhi konsep yang ditentukan oleh pria.

 

KAJIAN PUSTAKA

Ideologi dalam budaya patriarki merupakan salah satu ideologi hegemoni, dimana ideologi tersebut membenarkan penguasaan satu kelompok dominan terhadap kelompok subordinat. Norman Fairclough, seorang tokoh pendiri Critical Discourse Analisis atau Analisis Wacana Kritis dalam bukunya yang berjudul Language and Power (1989) menyatakan bahwa ideologi adalah sekumpulan ide yang sudah ditentukan dan diinterpretasikan sebagai kenyataan yang dianggap benar atau “kewajaran” dan disetujui oleh sekelompok orang yang digunakan untuk mengatur kehidupan masyarakat tertentu. Dalam pengaruh ideologi ada unsur pemaksaan (coercion) maupun persetujuan serta dominasi di dalamnya yang tersamarkan bahwa unsur tersebut memang wajar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dominasi pada ideologi ini dapat terjadi berdasarkan perbedaan antar jenis kelamin (pria atau wanita), agama, ras, atau kelas ekonomi. Darwin (1999) menyebutkan 3 asumsi dasar yang mendasari ideologi hegemoni ini:

  1. Kesepakatan-kesepakatan sosial yang sesungguhnya hanya menguntungkan kepentingan kelompok yang dominan cenderung dianggap mewakili kepentingan semua orang.
  2. Ideologi hegemonis seperti ini merupakan bagian dari pemikiran sehari-hari, cenderung diterima apa adanya (taken for granted) sebagai sesuatu yang memang demikianlah semestinya.
  3. Dengan mengabaikan kontradiksi yang sangat nyata antara kepentingan kelompok yang dominan dengan kelompok subordinat, ideologi seperti ini dianggap sebagai penjamin kohesi dan kerjasama sosial, sebab jika tidak demikian yang terjadi justru suatu konflik.

Dari penjelasan di atas dapat disebutkan bahwa ideologi sejatinya adalah sebuah konvensi sosial yang dianggap sebagai pemikiran yang memang diterima sebagai bentuk kerjasama sosial yang dianggap sudah sewajarnya dan begitu adanya. Ideologi adalah elemen kunci dalam membentuk kekuasaan kaum dominan dan mengendalikan kaum subordinat. Secara spesifik, ideologi adalah identitas yang kuat yang dimiliki oleh budaya, agama dan kepercayaan, masyarakat, negara, kelas sosial, partai politik, perkumpulan sosial, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah ideologi yang diyakini dan dijadikan pedoman warga negara Indonesia yaitu Pancasila, atau ideologi dalam ajaran agama Islam yang digunakan sebagai pedoman maupun mengatur jalannya kehidupan umat pemeluk agama Islam. Dapat dijelaskan bahwa kekuasaan ideologi adalah kekuasaan yang memproyeksikan praktek-praktek dari seseorang maupun sekelompok orang menjadi sesuatu yang universal dan ‘umum’.

Selanjutnya dalam hal ini yang dibahas lebih lanjut adalah ideologi patriarki dalam dominasi kekuasaan antara pria dan wanita, dimana wanita pada posisi subordinat tidak memiliki ruang yang memadai dalam dominasi pria. Dapat diketahui bahwa pria dan wanita didapati berbeda dalam hal gender. Lips (1988) mendefinisikan gender sebagai ideologi (yang tidak berkesinambungan) dan relasi materi yang muncul diantara sekelompok orang-orang yang disebut ‘pria’ dan sekelompok orang-orang yang disebut wanita. Fakih (1996) menyatakan bahwa gender adalah sebuah konstruksi sosio-kultural tentang definisi pria dan wanita.

Gender selalu identik dengan dua konsep, yaitu ‘maskulin’ dan ‘feminin’ yang selalu dikaitkan dengan konstruksi sosio-kultural dan ekspektasi bagaimana pria dan wanita ‘harus’ berkelakuan. Sebagai contoh, kita dapat merelasikan hal ini dengan konstruksi sosial ‘feminimitas’ dalam budaya Jawa. Beberapa bukti menunjukkan bahwa banyak aspek dalam gender yang tidak dibawa sejak lahir ‘innate’. Sebagaimana dibuktikan oleh anak-anak yang tumbuh dalam masyarakat patriarki di komunitas Jawa, bagi seorang wanita ketika masih kecil, sangat ‘dilarang’ untuk tertawa hingga terlihat giginya atau bahkan berteriak karena hal tersebut adalah Pamali! (Sangat dilarang untuk dilakukan), bahkan, ia harus tetap tenang dan mengikuti apa yang orang tua ia katakan (Hermawati, 2007). Contoh lainnya adalah wanita dilarang oleh orangtuanya makan terlampau banyak karena akan mempengaruhi bentuk tubuhnya maupun bertingkah laku kelaki-lakian karena dapat dikategorikan tidak pantas untuk pria atau suaminya. Bahkan dalam faktanya, keluarga atau lingkungan dari wanita itu sendiri merasa sebagai keharusan untuk ikut berpartisipasi dalam ‘mendidik’ seorang wanita.

Dalam budaya Jawa pula terdapat konstruksi sosial wanita Jawa yang sering disebut kanca wingking, dimana seorang wanita menggantungkan seluruh jiwa-raganya pada sang suami yang bertugas meladeni sang suami dan tak terkecuali tugas mendidik anak-anaknya. Berdasarkan Zuntriana (2006), budaya patriarki ini lah yang berkonstribusi besar untuk memarginalisasikan wanita dalam peran gender yang nampaknya ditentukan sepenuhnya oleh konstruksi sosio-kultural, contohnya seperti kanca wingking tersebut. Wanita dalam peran gendernya pula diposisikan sebagai lawan pria secara biologis dan juga sebagai pelengkap pria (esensialis). Wanita kemudian menjadi warga seks kedua di masyarakat, sebuah konsep berkelanjutan yang dikonstruksikan oleh masyarakat patriarki.

Faktanya, kehadiran wanita memang hanya dianggap sebagai pelengkap dari pria, dan ditemukan beberapa istilah-istilah yang mendukung hal tersebut. Sebagai contoh, terdapat istilah 3M dalam budaya Jawa, yaitu manak (melahirkan keturunan), macak (berdandan), dan masak (memasak); serta istilah-istilah lain seperti, dapur (dapur atau memasak), pupur (bedak atau berdandan), kasur (tempat tidur atau melayani suami), dan sumur (sumur atau mencuci). Istilah-istilah tersebut sangat melekat pada para wanita hingga sekarang, karena sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa penguasaan terhadap wanita adalah simbol dari kekuasaan pria. Zuntriana (2006) mengatakan bahwa wanita yang bergantung dan membutuhkan perlindungan serta dukungan pria justru merupakan contoh dari wanita yang baik dalam kultur Jawa. Pernyataan dari Zuntriana tersebut berkaitan dengan pula dengan pemahaman ideologi secara interior menurut Fairclough (1989) dimana kelompok subordinat dari ideologi patriarki ini harus menyetujui dan menerima apa yang ditentukan kaum dominan sebagai dasar pemikiran dalam ideologi yang ada.

Ideologi dalam budaya patriarki ini seringkali ditemukan dalam naskah-naskah tradisional yang terdapat dalam daerah yang menganut budaya patriarki di berbagai belahan dunia, salah satunya adalah budaya Jawa. Pada naskah-naskah tradisional, sering ditemukan adanya naskah naratif yang mengambil sudut pandang pria (falogosentris), salah satu contohnya adalah naskah tradisional Jawa yang berjudul Serat Candraning Wanita yang akan dikaji lebih lanjut. Naskah ini merupakan naskah literatur Jawa sebagai panduan kepada pria untuk memilih wanita sebagai calon istri yang ideal dan pantas berdasarkan ciri fisik dan kelaminnya. Dengan kata lain, ideologi patriarki akan eksploitasi tubuh dan peran gender wanita sebagai objek sudah ada sejak lama. Bahkan, ideologi ini masih dipertahankan hingga di era modern oleh kaum-kaum yang dominan agar posisinya tidak tergeser dan agar keseimbangan sosial tetap terjaga seimbang.

Lambat laun ideologi atas eksploitasi tubuh dan peran gender wanita oleh kaum dominan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat patriarki menjadi fenomena yang muncul pada ranah baru, yaitu sebagai komoditas dalam iklan produk rumah tangga dan iklan kecantikan wanita yang membombardir media. Nampaknya para produsen menyadari bahwa dengan mengambil ideologi yang dominan bertumbuh dalam masyarakat akan lebih menarik konsumen yang sebagian besar adalah wanita dan ibu rumah tangga, karena ideologi tersebut memang sudah dipahami sebagai kewajaran yang memang sebagaimana adanya dan itulah konsep yang memang sudah ada dalam masyarakat.

 

PEMBAHASAN

PANDANGAN MENGENAI Wanita dalam Serat Candraning Wanita

Gambaran ideal tentang wanita tidak hanya muncul pada era modern, tetapi sudah muncul sejak beberapa waktu lampau. Ada beberapa naskah literatur Jawa yang menggambarkan wanita, di antaranya adalah Serat Candraning Wanita, Serat Rerepen Warna-warni, Serat Rerepen, Tjandra Wanita, Piwulang Warna-warni, Serat Wiwasat, Serat Klempakan, Serat Wulang Sunu, Serat Wirasating Pawestri, Serat Warnasari, Serat Primbon, Serat Kidungan, dan Serat Primbon. Salah satu naskah yang menggambarkan wanita secara detail adalah Serat Candraning Wanita. Naskah ini merupakan naskah autograph yang dipesan oleh Ir. J. L. Moens di Yogyakarta pada tahun 1930-an, nama pengarang rupanya tidak diketahui serta tidak ada informasi lebih lanjut tentang pengarang meski naskah ini pernah diteliti pula oleh seorang Profesor bernama Prof. Dr. Edwin Paul Wieringa yang mengajar Indonesian Philology and Islamic Studies di University of Cologne. Lebih lanjut naskah ini berisi tentang deskripsi fisik tubuh seorang wanita yang ideal, pantas dan baik untuk dijadikan istri (Bonita, 2012).

Naskah Serat Candraning Wanita adalah naskah yang memiliki ciri-ciri sebagai teks primbon, khususnya mengenai katuranggan. Katuranggan adalah teks yang berisi tentang deskripsi seseorang atau binatang yang berfungsi sebagai penilai (Endraswara, 2010). Primbon diyakini dalam budaya Jawa dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang lekat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Endraswara (2010) umumnya primbon berisi tentang aneka ragam pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti tafsir mimpi, wedal (hari lahir), wektu (waktu), samagaha (gerhana), katuranggan, katumbiri (perhitungan jodoh), dan petungan (perhitungan).

Selain naskah Serat Candraning Wanita, cukup banyak naskah-naskah lain yang berkaitan tentang primbon dan membahas tentang wanita, seperti Serat Mustikaning Kidung, Serat Rerepen Warna-warni, dan Serat Candrarini yang berisi pembahasan mengenai sosok wanita yang baik untuk dijadikan seorang istri, termasuk ajaran membina rumah tangga dan bersenggama yang baik. Ada pula Serat Wiwasat yang membahas tentang karakter melalui tanda yang didapat pada tubuh seseorang atau binatang. Terdapat pula Serat Klempakan Warna-warni, Serat Lambang Pusaka, Serat Wiwasating Manungsa, Serat Warnasari, dan Serat Piwulang Warna-warni yang mendeskripsikan fisik seorang wanita. Hingga saat ini sudah terdata sekitar 18 naskah kuno Jawa tentang wanita dan umumnya mendeskripsikan fisik (Bonita, 2012).

Serat Candraning Wanita menjadi naskah yang terpilih untuk dibahas karena menceritakan secara detail tentang penandaan atau pendeskripsian fisik wanita beserta karakternya secara rinci yang dapat dijadikan panduan para pria untuk mencari istri. Naskah ini terdiri dari lima bagian dan terdapat pula daftar isi penyebutan nama jenis-jenis wanita sebanyak 33 nama yang didasarkan pada bentuk perawakan fisik dan warna kulit beserta wataknya. Berikut ini adalah 33 penamaan jenis wanita dalam Serat Candraning Wanita:

  1. Candra Wela
  2. Raseksi Durga
  3. Retna Kancana
  4. Koncang Lepasan
  5. Kunci Kancana
  6. Kusumastuti
  7. Durga Sari
  8. Durga Sori
  9. Durga Mangsah
  10. Durga Ngerik
  11. Tarabas
  12. Tasik Madu
  13. Surya Surup
  14. Sri Tumurun
  15. Wulan Andhadhari
  16. Pandhan Kanginan
  17. Lintang Karahinan
  18. Padma Nagara
  19. Padmari Lelédhang
  20. Puspa Wicitra
  21. Madu Guntur
  22. Madu Pinastika
  23. Menyan Cinandhi
  24. Menjangan Ketawan
  25. Mutyara
  26. Mrica Pecah
  27. Gedang Séta
  28. Pedaringan Kebak
  29. Guntur Madu
  30. Ngembat Lawung
  31. Amurwa Tarung
  32. Ngentrok Sari
  33. Madurasa

 

Selanjutnya ada beberapa contoh deskripsi jenis wanita dalam naskah Serat Candraning Wanita beserta terjemahannya dikutip dari Bonita (2012):

 

// Retna Kencana. Pasuryan jené, réma akas sarta panjang, suku alit, dedeg pideksa, bathuk cekapan, tutuk semu ciyut. Watekipun setya tuhu dhateng laki. Bathuking baga semu ciyut saha bolonganing baga ugi ciyut, sarira katingal garing, pinunjul saresminipun //

Terjemahannya:

// Retna Kancana (wanita seperti emas permata) (ciri-cirinya): muka berwarna kuning, rambutnya panjang dan kasar, kakinya kecil, tubuhnya proposional, dahinya pas, dan mulutnya agak kecil. (Wanita) seperti ini berwatak sangat setia kepada suami. (Wanita) ini memiliki (dahi) dan lubang vagina agak kecil, tubuhnya kurus namun unggul dalam bersenggama //

 

Salah satu pendeskripsian wanita yang pantas dijadikan istri diatas digambarkan secara detail mulai dari muka yang berwarna kuning (kuning langsat), rambut yang panjang dan kasar, kaki yang kecil, tubuh yang proporsional namun lebih condong ke kurus atau ramping, dahi yang juga proporsional, mulut yang kecil beserta watak yang setia kepada suami hingga dahi. Dideskripsikan pula bahwa wanita dengan jenis ini mempunyai lubang alat kelamin yang kecil serta unggul dalam bersenggama. Nama Retna Kencana yang bermakna wanita seperti emas permata ini adalah salah satu dari karakteristik wanita yang paling ideal dan sempurna dalam Serat Candraning Wanita. Dalam penggalan naskah di atas, pendeskripsian fisik seorang wanita tidak hanya disebutkan secara langsung, namun juga menggunakan nama lain untuk menyebut anggota tubuh yang dimaksud, semisal bathuking baga untuk membedakan kata dahi alat kelamin wanita dan dahi di kepala yang disebut pula sebagai bathuk. Selanjutnya ada pula deskripsi jenis wanita dalam naskah Serat Candraning Wanita yaitu Durga Sari.

// Durga sari. Pasuryan semu abrit, réma akas dedeg lencir, bathuking pasuryan wiyar manyul pakulitan garing, pawakan gilig, lathi tipis, sarira ugi tipis, suku gilig, kéncet ramping, tutuk dhawah cekap wiyaripun. Watekipun tuhu trisna dhateng laki. Bathuking baga wiyar radi mungal, lambé ing baga tipis, bolonganing baga wiyar, boten sugih has sarta baga katingal mancung. Pinunjul ing saresminipun, kesating toya//

Terjemahannya:

// Durga Sari (Ciri-cirinya): muka berwarna kemerah-merahan, rambutnya kasar, badan langsing, dahinya lebar dan agak maju, kulit kering, muka agak bulat panjang, lidah tipis, badannya juga tipis (kurus), kakinya bulat panjang, betisnya ramping, mulutnya cukup lebarnya. (Wanita seperti ini) berwatak mudah jatuh cinta kepada lelaki. (Wanita) ini memiliki (dahi) vagina lebar dan agak maju, bibir vagina tipis, lubang vagina luas, namun tidak berbulu. Vagina wanita ini maju ke depan (mancung) sehingga unggul dalam bersenggama, walaupun kurang lembab//

 

Pendeskripsian wanita diatas yang termasuk dalam nama Durga Sari ini digambarkan pula dengan sangat detail, kesamaan dengan Retna Kencana sebelumnya adalah proporsi badan yang cenderung kurus, langsing dan ramping. Selanjutnya wanita dalam penamaan ini digambarkan dengan muka yang berwarna kemerah-merahan, rambutnya kasar, dahinya lebar dan agak maju, kulitnya kering (tidak disebutkan dengan jelas warna kulitnya), muka agak bulat panjang (cenderung lonjong), lidahnya tipis, kakinya bulat dan panjang dengan betis yang ramping, serta mulutnya cukup lebarnya.

Wanita ini dideskripsikan memiliki dahi alat kelamin lebar dan agak maju, bibir alat kelaminnya tipis, lubang alat kelaminnya luas namun tidak berbulu. Wanita dengan ciri-ciri ini digambarkan unggul bersenggama meskipun kesating toya atau alat kelaminnya kurang lembab. Wanita dengan jenis ini digambarkan mudah jatuh cinta dengan laki-laki, dan dikhawatirkan akan bermain serong bila sudah berumah tangga dengan pasangannya. Sehingga harus dipertimbangkan benar oleh para pria untuk dijadikan istri karena kecenderungannya untuk berserong disebabkan oleh wataknya yang mudah jatuh cinta dan terpesona kepada laki-laki. Selanjutnya ada pula penamaan wanita berdasarkan ciri-ciri fisik dan wataknya yang bernama Raseksi Durga seperti berikut ini.

// Raseksi Durga. Pakulitan jéne, sarira abrit. Réma lemes, payudara ageng, dedeg ragil, pasuryan radi wiyar, bathuk wiyar tur radi nonong. Watekipun awon, téga dhateng lakinipun. Bathuking baga wiyar tur manyul, karem sanget dhateng saresmi. Tiyang ingkang kasebut nginggil punika, bolonganing baga ciyut namung lebet, boten kathah hasipun, raos gonyéh//

Terjemahannya:

// Raseksi Durga (Raksasa Wanita) (ciri-cirinya): Kulitnya berwarna kuning, tubuhnya berwarna merah, rambutnya lembut, payudaranya besar, tubuhnya kecil, mukanya agak lebar, dahi lebar dan agak nong-nong. (Wanita seperti ini) berwatak jelek dan tega kepada lelaki (suaminya). (Selain itu, wanita ini) memiliki (dahi) vagina yang lebar dan agak maju, (sehingga) sangat senang bersenggama. Orang (wanita) yang disebutkan di atas ini memiliki lubang vagina yang kecil dan dalam (namun) tidak berbulu (sehingga) rasanya hambar //

 

Penamaan jenis wanita diatas yaitu Raseksi Durga yang berarti “raksasa wanita” dapat memberikan kesan negatif kepada wanita dengan ciri fisik dan watak dalam penamaan ini karena Raseksi Durga identik dengan tokoh antagonis dalam pewayangan yaitu Bethari Durga yang menyimbolkan kebatilan. Sebagaimana dijelaskan dengan detail dalam terjemahan penggalan naskah di atas ini, wanita ini mempunyai karakteristik tubuh yang sama dengan dua jenis wanita sebelumnya yaitu tubuhnya kecil meskipun dinamakan Raseksi. Kulitnya berwarna kuning (kuning langsat), tubuhnya berwarna kemerahan (bila terkena sinar matahari). Rambutnya lembut, payudaranya besar, tubuhnya kecil, mukanya agak lebar, dahi lebar dan agak nong-nong (maju).

Wanita dengan jenis ini terkenal berwatak kurang baik dan tega kepada suaminya sehingga dinamakan Raseksi Durga. Kemudian wanita ini mempunyai dahi alat kelamin yang agak lebar dan agak maju sehingga sangat senang bersenggama, namun lubang alat kelaminnya yang kecil dan dalam tersebut tidak berbulu hingga rasanya akan kurang memuaskan bila bersenggama dengan suaminya. Wanita dengan jenis penamaan ini adalah salah satu wanita yang disebut kurang pantas diantara jenis lainnya untuk dijadikan sebagai istri karena sikapnya yang tega dan kurang tunduk kepada suaminya, hal ini juga bertentangan dengan budaya Jawa karena ketundukan seorang wanita kepada suaminya adalah simbol kemuliaan wanita Jawa. Selanjutnya ada jenis penamaan Puspa Wicitra yang mempunyai ciri-ciri serta watak yang cukup berkebalikan dengan Raseksi Durga seperti yang dijelaskan dalam penggalan naskah dibawah ini.

// Puspa Wicitra. Wanita ingkang andhap alit, ules cemeng, rémanipun panjang, paraupun semu bunder kaduk manis, mripat jait lindri semu liyep, lampahipun nyarpa lupa, payudara muntek cengkir gadhing, pangandikanipun kaduk lelah, manawi lenggah katingal tajem. Punika amratandhani wanita ingkang susila sarta wanita ingkang langkung prayogi manawi kanggé timbangan. Watekipun bekti dhateng kakung sarta gemi nyimpen kadonyan. Pawéstri ingkang kasebut nginggil punika boten gadhah manah arih yén dipunmaru lan kénging kawastanan puspa wicitra//

Terjemahannya:

// Puspa Wicitra (ciri-cirinya): Wanita yang bertubuh pendek dan kecil, mukanya berwarna hitam, rambutnya panjang, bentuk mukanya agak bulat dan sedikit manis, matanya agak sipit dan panjang, badannya seperti ular (memiliki lekukan atau agak proporsional), payudara penuh seperti buah kelapa muda, bicaranya lemah lembut, bokong tajam (rasa jika dipangku). (Wanita) ini memiliki watak sopan dan bijaksana jika dimintai pendapat serta berbakti kepada lelaki (suami) dan hemat menyimpan harta. (Wanita seperti ini) dinamakan Puspa Wicitra//

 

Salah satu jenis wanita yang pantas dan ideal untuk dijadikan istri adalah wanita dengan jenis Puspa Wicitra seperti yang dideskripsikan oleh penggalan naskah diatas. Wanita dengan jenis seperti ini digambarkan bertubuh pendek dan kecil (cenderung kurus), mukanya berwarna hitam dengan rambut panjang, muka yang berbentuk agak bulat serta raut mukanya manis, matanya digambarkan agak sipit dan panjang, badannya mempunyai lekukan seperti ular dan agak proporsional (dalam istilah modern disebut mempunyai lekukan seperti gitar), payudaranya penuh seperti cengkir gadhing atau “kelapa muda” serta pantatnya yang tajam (penuh). Namun selanjutnya tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai alat kelamin wanita dengan jenis ini.

Wanita dengan jenis ini tidak hanya sempurna fisiknya namun juga berwatak baik kepada pria atau suaminya, tutur katanya lemah lembut, karakternya sopan dan bijaksana dalam berpendapat serta berbakti kepada suaminya. Kemudian digambarkan pula hemat dalam menyimpan kadonyan atau harta benda sang suami. Sehingga wanita dalam jenis penamaan ini dapat dikatakan memenuhi syarat sebagai wanita yang disebut mulia dalam budaya Jawa, karena wataknya yang baik, tunduk dan berbakti kepada pria.

Dalam naskah Serat Candraning Wanita ini sosok wanita digolongkan dalam jenis-jenis tertentu kemudian digambarkan secara terperinci berdasarkan ciri-ciri fisik hingga wataknya. Bahkan alat kelamin wanita, payudara dan tabiat bersenggama pun dideskripsikan dalam naskah tersebut. Dari cuplikan beberapa jenis wanita di atas, dapat disimpulkan bahwa ada pola unik dalam penggambaran ciri-ciri fisik setiap wanita, yakni bentuk alat kelamin wanita yang dapat diketahui melalui bentuk kepala dan dahi; bentuk lubang alat kelamin wanita dapat ditentukan dari besar atau kecilnya bentuk mulut; kemudian bentuk alis juga dapat menentukan lebat atau tidaknya bulu kelamin wanita tersebut.

Sebagai contoh, jika dahi terlihat agak maju (nong-nong) maka kemungkinan menyimbolkan dahi alat kelaminnya yang juga agak maju dan jika dahinya sempit maka menyimbolkan dahi alat kelamin yang juga sempit, jika mulut terlihat agak kecil maka menyimbolkan lubang alat kelamin yang terlihat agak kecil pula, dan jika alisnya tipis dan terlihat agak kurang jelas, maka menyimbolkan bahwa wanita tersebut tidak mempunyai bulu pada alat kelaminnya. Ada pula pendeskripsian ciri fisik dominan tentang wanita yang pantas dijadikan istri, yaitu mempunyai tubuh yang kecil dan cenderung ramping dan kurus karena digambarkan tabiatnya unggul dalam bersenggama. Pendeskripsian tersebut terdengar cukup tabu karena wanita digambarkan sebagai objek yang ditentukan ciri-ciri fisiknya dan ciri alat kelaminnya.

Terdapat tiga karakteristik wanita yang dominan ditemukan dalam cuplikan beberapa jenis wanita di atas, pertama, penampilan fisik wanita yang pantas dijadikan sebagai istri ialah yang bertubuh kecil; pada beberapa jenis wanita dijelaskan lebih lanjut, yaitu wanita bertubuh yang kecil cenderung kurus, langsing, dan proporsional. Kedua, ciri yang dijelaskan secara dominan adalah alat kelamin wanita serta tabiatnya dalam bersenggama dengan pasangannya. Ketiga, disebutkan pula watak wanita yang pantas dan baik dijadikan sebagai istri adalah wanita yang berwatak baik, sabar, pengertian, tunduk dan berbakti kepada suaminya.

Dari beberapa cuplikan naskah dalam Serat Candraning Wanita tersebut terdapat ideologi tersembunyi yang menyetujui wanita sebagai objek. Mengingat naskah ini yang termasuk dalam naskah primbon katuranggan, maka semakin menegaskan pula ideologi bahwa wanita adalah objek karena disejajarkan dengan pendeskripsian ciri-ciri fisik binatang yang termasuk dalam jenis naskah primbon katuranggan. Selanjutnya, ditemukan pula bahwa beberapa karakteristik watak wanita yang pantas dijadikan istri pun menggambarkan wanita yang baik, sabar dan berbakti kepada suaminya karena hal ini dapat dikaitkan dengan peran wanita sebagai istri yang melayani suami dan anak-anaknya serta mengurus area rumah tangga. Bila wanita tersebut berwatak kurang baik, berani dan tega kepada suaminya maka dikhawatirkan tidak dapat mengurus suami, anak-anak dan rumah tangganya dengan baik, serta wanita tersebut dikhawatirkan pula akan berani menggeser posisinya dan perannya sebagai istri dan ibu.

Dalam penggalan naskah tersebut dapat diketahui pula bahwa penulis menyiratkan wacana ideologi pada budaya patriarki, dimana terdapat dominasi gender terhadap posisi wanita sebagai objek. Tidak dapat dipungkiri bahwa naskah Jawa Serat Candraning Wanita merupakan bentuk dari ideologi hegemoni yang terjadi dalam budaya patriarki, dimana peran pria yang maskulin dan dominan dalam ideologi ini berhak membuat kesepakatan-kesepakatan sosial dalam menggolongkan wanita kepada jenis-jenis tertentu mulai yang dianggap paling pantas sebagai istri karena ciri-ciri fisiknya yang hampir sempurna, wataknya yang baik dan tunduk kepada suami, hingga wanita yang kurang pantas dijadikan istri karena ciri-ciri fisik serta wataknya yang kurang baik. Ideologi hegemoni seperti inilah yang nampaknya cenderung diterima oleh pemikiran masyarakat patriarki sebagai suatu kewajaran dan wanita harus menyetujuinya, karena pada kodratnya wanita memang harus dapat ditata oleh suaminya.

Maskulinitas yang mendominasi derajat feminimitas ini memang terlihat kontradiksi di balik kenyataannya, namun kepentingan yang dominan dalam ideologi seringkali dipertahankan dan dianggap sebagai kerjasama sosial, dimana bila hal tersebut bila dilanggar maka akan terjadi suatu konflik sosial. Ideologi yang dipertahankan ini bukan tidak mungkin mendiskreditkan wanita sebagai objek atau warga kelas kedua karena sejatinya tidak pernah ada penggolongan wanita sebagai golongan kedua. Konsep tentang wanita pun akhirnya menjadi persetujuan sosial yang akan terbawa hingga ke era modern.

 

PANDANGAN MENGENAI WANITA DALAM IKLAN ERA MODERN

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Serat Candraning Wanita menggolongkan wanita dalam jenis-jenis tertentu kemudian mendeskripsikan wanita berdasarkan ciri-ciri fisik hingga wataknya, sebagai panduan untuk kaum pria mencari sosok wanita yang pantas dan baik dijadikan istri. Hal ini merupakan pengaruh ideologi hegemoni dalam budaya patriarki dimana kaum pria yang dominan menetapkan dominasi mereka dengan memberikan konstruksi-konstruksi sosial tentang wanita yang nampaknya dipahami masyarakat sebagai sebuah kewajaran yang sebagaimana adanya. Lambat laun hal ini kemudian menjadi konvensi atau persetujuan sosial tentang bagaimana seharusnya karakteristik derajat feminimitas dalam masyarakat yang kemudian di adaptasi sebagai komoditas yang dapat diukur dan diperjual belikan. Hal ini dapat dilihat dalam era modern saat ini dimana ada persetujuan-persetujuan tentang penggambaran wanita dalam pemberitaan media maupun iklan.

Dari beberapa cuplikan jenis wanita dalam naskah Serat Candraning Wanita terdapat 3 karakteristik dominan wanita yang baik, ideal dan pantas dijadikan sebagai istri yaitu bertubuh kecil yang cenderung kurus dan proporsional, mempunyai ciri alat kelamin wanita yang dapat memuaskan suaminya, serta berwatak baik, penurut dan berbakti kepada suaminya. Karakteristik ini adalah yang dipercayai dan diyakini oleh masyarakat patriarki pada jaman naskah ini dituliskan. Dapat disimpulkan bahwa pada saat itu wanita harus memenuhi standar penampilan fisik di atas agar menarik perhatian pria (suaminya) serta wanita harus mempunyai karakteristik watak seorang wanita yang pantas sebagai istri seperti yang telah disebutkan karena merujuk kepada reproduksi peranan-peranan dan tugas-tugasnya dalam wilayah domestik. Karakteristik dominan terhadap wanita pada jaman itu kemudian saat ini diadaptasi dalam iklan-iklan yang sekarang beredar secara luas pada televisi nasional maupun televisi swasta.

Karakteristik penampilan fisik dan peran wanita yang telah sekian lama dipercayai masyarakat patriarki ini kemudian ditangkap oleh produsen produk kecantikan dan produk rumah tangga, yang kemudian digunakan sebagai media konstruksi produk dan komoditas seperti yang dapat terlihat di dalam iklan yang terdapat di televisi. Menurut Rani (2010), iklan pada umumnya berisi pesan-pesan penjualan yang dipilih sebagai paling persuasif dan diarahkan kepada para calon pembeli potensial atas produk barang atau jasa tertentu. Sebagai contoh, iklan produk pelangsing tubuh akan berisi pesan persuasif kepada para ibu rumah tangga sebagai calon pembeli potensial agar menjaga bentuk tubuhnya sehingga disenangi oleh suaminya; selanjutnya pada iklan pembersih area kewanitaan yang mengandung bahan tertentu (seperti gambir dan manjakani) akan memberi pesan bahwa istri yang menjaga keharmonisan rumah tangga adalah istri yang menjaga daerah kewanitaannya agar bersih dan tetap kencang demi suaminya; yang terakhir adalah iklan produk rumah tangga akan memberikan pesan persuasif bahwa ibu yang ideal adalah ibu yang pandai mencuci piring, baju dan membersihkan rumah dengan baik. Sebaliknya dalam iklan tersebut bila seorang wanita tidak dapat menjaga bentuk tubuhnya, tidak bisa menjaga keharmonisan dan mengurus rumah tangga, maka tidak akan disenangi suaminya dan akan mendapat pandangan negatif secara tidak langsung kepada masyarakat yang menontonnya.

Saat ini, persetujuan sosial atas konstruksi fisik wanita warisan ideologi budaya patriarki pun tercermin pada iklan produk kecantikan. Produk dan iklan tersebut mengadopsi serta mengembangkan ideologi atas ciri fisik tentang wanita yang ideal dan pantas di mata pria yang telah ada sejak lama pada masyarakat patriarki. Seperti pola dominan yang telah ditemukan pada Serat Candraning Wanita adalah fisik wanita yang ideal adalah wanita yang bertubuh kecil cenderung kurus, langsing dan proporsional. Beberapa iklan yang menampilkan konstruksi penampilan fisik tersebut mayoritas adalah iklan produk pelangsing tubuh, salah satu contohnya adalah iklan WRP Diet Center yang ditayangkan pada akhir tahun 2013 dalam edisi “Inspirasi Kisah Nyata Ibu Vita Subroto” berikut ini.

  • Vita: “Gara-gara gemuk, gak PD jalan bareng Untung ketemu

WRP Diet Center, Nutrisionisnya care banget. Turun 22 kilo, Amazing! Seperti terlahir kembali! Ini aku yang sesungguhnya. WRP Diet Center.”

 

Di dalam iklan ini digambarkan awal mula Ibu Vita Subroto yang tidak percaya diri dengan suaminya saat bertubuh gendut, suaminya pun sepertinya menjaga jarak dengan istrinya saat berjalan bersama. Setelah istrinya berkonsultasi di WRP Diet Center dan tubuhnya menjadi kecil dan langsing, seketika diperlihatkan sang suami kembali mendekati istrinya dan pasangan suami istri pun berjalan dengan mesra. Suaminya semakin mencintainya bahkan para wanita lainnya seakan takjub oleh perubahan wanita tersebut. Dari iklan tersebut terlihat bahwa penampilan fisik wanita yang bertubuh kecil, kurus dan langsing adalah penampilan yang disenangi pria atau suami. Dapat disimpulkan bahwa wanita berusaha meraih capaian tersebut tidak lain hanya untuk memenuhi konsep yang ditentukan kaum pria.

Ada pula iklan Sumber Ayu Sabun Sirih yang tayang pada tahun 2013. Pembukaan pada iklan ini membandingkan dua pasangan suami istri bertetangga yang satunya sangat harmonis dan yang satunya lagi kurang harmonis. Suami dari pasangan yang kurang harmonis tersebut nampaknya kurang bahagia dan enggan berdekatan dengan sang istri, berikut adalah cuplikan dialognya.

  • Dian Nitami: “Keharmonisan rumah tangga perlu dirawat. Nih, pakai yang terbaik dari alam, Sumber Ayu Sabun Daun Sirih. Diperkaya dengan ekstrak gambir yang dipercaya membantu mengencangkan daerah kewanitaan. Makin rapet, makin dekat. Sumber Ayu Sabun Daun Sirih”

 

Iklan yang dibintangi Dian Nitami sebagai seorang istri dari pasangan yang harmonis ini kemudian menyarankan tetangganya untuk menggunakan produk Sumber Ayu Sabun Sirih dengan ekstrak gambir yang dipercaya membuat alat kewanitaannya kencang (rapat) kembali sehingga suaminya kembali menyayanginya dan rumah tangganya seketika kembali harmonis. Terdapat penggunaan kata “alam” yang memberikan citra pola hidup alternatif (Rani, 2010). Menurut Rani (2010), penggunaan kata ini dipahami sebagai ‘sehat dan nyaman, tidak mengandung resiko atau efek samping. Produsen Sumber Ayu Sabun Sirih berusaha meyakinkan wanita bahwa menjaga area kewanitaanya demi keharmonisan dengan suami baiknya menggunakan produk mereka yang alami. Dapat disimpulkan bahwa iklan ini mengandung pula ideologi patriarki bahwa wanita harus menjaga daerah kewanitaannya –sekali lagi– demi suaminya, sebagaimana diketahui bahwa wanita adalah kanca wingking jadi wajib bagi mereka untuk melayani suaminya. Selain Sumber Ayu, banyak produk daerah kewanitaan yang menjamin keharmonisan dengan suami, ironisnya jarang sekali ditemukan iklan yang memusatkan kepada pria untuk menjaga daerah “kelaki-lakiannya” demi keharmonisan rumah tangga.

Produk pelangsing tubuh serta pembersih kewanitaan sama-sama menggunakan teknik penyebaran ideologi standar fisik wanita secara masif dan persuasif. Wanita yang mempunyai standar-standar kecantikan tertentu dianggap mempunyai nilai lebih pada pria (suaminya). Kecantikan wanita pun dianggap sebagai komoditas yang dapat distandarkan dan diperjual belikan. Hal ini membuat wanita mereproduksi iklan tersebut dengan membeli produk kecantikan yang dimaksud kemudian menggunakannya secara rutin agar meningkatkan kualitas dirinya dan menarik perhatian pria. Faktanya, tidak semua wanita dapat mencapai standar tersebut karena kondisi fisik juga bergantung pada ras dan suku.

Produk rumah tangga pun juga sama-sama memberikan ideologi bahwa wanita yang ideal dan pantas sebagai istri adalah wanita yang berbakti kepada suaminya serta pandai mengurus rumah tangga. Salah satu contohnya terdapat pada contoh iklan Kispray edisi “Kispray Pilihan Istri Cerdas” berikut ini.

  • Wanita: “Kalau pakai pelembut sebenarnya rugi, sisa air wanginya harus dibuang, Boros! Saat dijemur wanginya berkurang. Lebih hemat pakai parfum Kispray. Parfum semprot tidak ada yang terbuang. Bisa pilih mana yang lebih wangi. Setrika jadi gampang, nggak Keren. Sudah berhari-hari, lebih wangi dari pelembut. Kispray”

 

Dari dialog iklan Kispray disebutkan bahwa memakai pelembut cucian adalah boros dan membuang uang; di dalam iklan digambarkan bahwa saat membuang air sisa rendaman pelembut tersebut sama juga dengan membuang banyak uang. Dapat disimpulkan dalam iklan ini bahwa istri yang baik adalah istri yang bisa menyimpan dan menghemat uang (harta), seperti salah satu ciri yang terdapat pada jenis wanita Puspa Wicitra pada Serat Candraning Wanita. Selanjutnya, dalam iklan tersebut digambarkan bahwa istri yang baik adalah yang mampu menyetrika dengan baik sehingga baju suaminya bersih, rapi dan terlihat keren. Dari salah satu contoh iklan produk rumah tangga ini dapat ditemukan bahwa peran wanita adalah sebagai istri yang berbakti kepada suaminya dan mengurus rumah tangganya dengan baik. Apakah selama ini ditemukan iklan dimana seorang pria mencuci baju, menyetrika atau bahkan mencuci piring menggantikan peran istrinya? Jawabannya, hampir tidak ada. Persetujuan masyarakat sosial mengenai peran wanita selama ini adalah pada area subordinat atau area rumah tangga, sementara pria atau suami tidak mengurus area tersebut.

Hal ini sebelumnya tidak hanya muncul pada era modern tapi merupakan warisan-warisan ideologi hegemoni dalam budaya patriarki yang sudah dimanifestasikan sebelumnya pada naskah Serat Candraning Wanita. Secara tidak langsung naskah tersebut mencerminkan ideologi yang dianggap sebagai kewajaran mengenai gambaran wanita pada jaman itu dan juga menentukan perkembangan tentang persetujuan sosial terhadap konsep wanita pada jaman sekarang. Wanita dari dulu hingga sekarang dianggap sebagai kanca wingking, wanita harus dapat diatur oleh pria, mempunyai sifat penurut, baik, bijaksana, bergantung dan berbakti kepada suami, hingga membantu menyimpan harta benda sang suami. Sehingga seakan-akan wanita tidak punya indepensi, karena dalam budaya patriarki yang dijalani oleh mayoritas masyarakat Jawa menganggap wanita yang baik dan mulia ialah wanita yang tunduk dan bergantung kepada pria.

Dalam sejarah perkembangan umat manusia, konsep tentang penampilan fisik dan watak pada sosok wanita ideal sepertinya susah tergantikan, karena berkaitan dengan konsep yang dibentuk oleh masyarakat patriarki bahwa wanita haruslah pantas, baik dan sempurna di depan pria (suami). Ideologi yang telah umum dalam masyarakat patriarki ini pula yang kemudian di adaptasi oleh para produsen produk kecantikan dan produk rumah tangga untuk membuat iklan persuasif yang seakan-akan “membantu” wanita memenuhi konsep yang sudah tertanam dan dipertahankan dalam masyarakat patriarki tersebut. Bahkan wanita mereproduksi wacana dalam iklan tersebut ke dalam perilaku, bahwa wanita harus mengikuti tuntutan kriteria tertentu agar dikategorikan sebagai cantik, menarik dan menguasai area domestik (mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga) dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa di era modern pun pria masih mendominasi dan menentukan ideologi hegemoni mengenai derajat feminimitas wanita, sehingga tubuh dan peran gender terhadap wanita tidak jauh beda dengan objek yang mempunyai standar dan kriteria tertentu. Wanita seakan-akan tidak mempunyai kendali akan tubuhnya dan tidak mempunyai independensi berkaitan dengan konsep akan peran gender dalam dirinya.

 

KESIMPULAN

Pria dengan maskulinitasnya dan wanita dengan femininimitasnya adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Pembedaan antara maskulinitas dan feminimitas cenderung bias dalam budaya patriarki. Secara tidak langsung kaum pria dengan perannya yang dominan berhak menentukan konstruksi tentang ciri-ciri fisik atau penampilan hingga watak seorang wanita yang dianggap baik dan pantas sebagai seorang istri, salah satunya dimanifestasikan dalam naskah Jawa, Serat Candraning Wanita. Jenis-jenis wanita dibedakan menjadi 33 nama dalam naskah primbon jenis katuranggan tersebut dan kesemuanya menjelaskan secara detail ciri-ciri fisik wanita dimana beberapa bagian seperti dahi, alis dan bibir juga menyimbolkan bentuk alat kelamin wanita tersebut. Kemudian, dijelaskan pula mengenai watak wanita berdasarkan ciri-ciri fisiknya, ciri alat kelamin hingga tabiat wanita dalam bersenggama pun digambarkan mengingat naskah ini adalah panduan pria untuk menemukan calon istri yang pantas. Sejatinya, hal ini malah akan mendiskreditkan wanita sebagai objek karena dapat digolongkan menjadi jenis-jenis tertentu.

Kebanyakan wanita yang dianggap pantas dan ideal adalah wataknya yang tunduk, berbakti, sabar, dan baik kepada pria (suaminya). Hal ini adalah gambaran kemuliaan hati seorang wanita Jawa sebagai kanca wingking. Penentuan watak wanita tersebut tidak hanya sekedar saja namun juga dikaitkan dengan peran dan tugas wanita dalam area domestik sebagai pengurus rumah tangga, istri yang melayani suami dan anak-anaknya. Posisi wanita yang dideterminasikan dalam kacamata pria pun seakan mendiskreditkan posisi wanita dalam masyarakat, wanita seakan-akan dianggap sebagai warga kelas kedua.

Pengaruh ideologi hegemoni dalam budaya patriarki tetap dipertahankan pada era modern. Hal ini bisa dilihat dari persetujuan konsep sosial terhadap penampilan dan karakter wanita. Bahkan dua hal ini kemudian diubah menjadi komoditas, sebagai contoh, tiga karakteristik dominan sosok wanita yang pantas dijadikan istri dalam Serat Candraning Wanita, yakni wanita bertubuh kecil, kurus atau langsing cenderung proporsional; mempunyai bentuk alat kelamin (area kewanitaan) yang menggambarkan tabiat bersenggamanya dengan suami; serta mempunyai sifat yang tunduk, baik, pengertian, berbakti, serta mampu menjaga harta benda suami dengan baik. Tiga karakteristik dominan ini pun tetap ada hingga sekarang dan kemudian di adaptasi konsepnya oleh pembuat iklan produk kecantikan dan produk rumah tangga yang juga menggambarkan sosok wanita sebagai istri ideal yang memenuhi standar-standar tertentu, yakni dapat menjaga bentuk tubuhnya menjadi langsing dan proporsional demi suaminya; menjaga area kewanitaan supaya menjaga keharmonisan dengan suami; serta konsep dimana karakter yang keibuan dan mampu mengurus rumah tangga adalah gambaran istri dan ibu yang baik. Hal-hal ini pun kemudian distandarisasi dan diperjual belikan, dimana para wanita yang ingin memenuhi standar dari konsep tersebut dapat meraihnya dengan menggunakan produk-produk tersebut.

Dapat terlihat pada iklan produk kecantikan dan produk rumah tangga yang ditayangkan dalam televisi. Sebagai contoh, pada iklan WRP Diet Center edisi “Inspirasi Kisah Nyata Ibu Vita Subroto” menggambarkan bahwa sosok istri yang ideal ialah wanita yang mampu menjaga tubuhnya sehingga suaminya kembali mencintainya; pada iklan Sumber Ayu Daun Sirih digambarkan pula sosok istri yang baik dapat menjaga area kewanitaannya untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya dengan suami; kemudian, sosok ibu rumah tangga yang baik dalam iklan Kispray edisi “Kispray Pilihan Istri Cerdas” menggambarkan seorang ibu rumah tangga yang dapat menghemat pengeluaran rumah tangga serta mengurus suaminya dengan baik. Kaum wanita pun mereproduksi hal tersebut dengan membeli produk kecantikan dan produk rumah tangga tertentu agar dapat mencapai konsep tersebut. Lagi-lagi ideologi hegemoni berperan dalam hal tersebut, apa yang direproduksi wanita untuk meraih standar tertentu pun dicapai agar memenuhi tuntutan dari pihak dominan, yaitu kaum pria.

Ideologi ini ditanam dan dipertahankan oleh kaum yang dominan supaya tidak ada posisi yang tergeser dalam tatanan di masyarakat. Ideologi ini telah ternaturalisasikan sehingga persetujuan sosial ini dianggap sebagai sebuah kewajaran. Bila persetujuan sosial ini dilanggar maka dikhawatirkan posisi dari kaum dominan dan kaum subordinat akan bergeser. Sehingga dikhawatirkan para wanita akan membuat ‘masyarakat wanita’ sebagai tandingan masyarakat patriarki, kemudian wanita akan merebut kembali kuasa serta independensi atas tubuh mereka sendiri dan menolak perannya sebagai ibu (motherhood).

 

REFERENSI

Bonita, L. 2012. Serat Candraning Wanita (KBG 956): Suntingan Teks. Jakarta:      Universitas Indonesia.

Darwin, M. 1999. Maskulinitas: Posisi Laki-laki dalam Masyarakat Patriarkis.      Unpublished Paper for Center for Population and Policy Studies, S.281,   June     24. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Endraswara, S. 2010. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala.

Fairclough, N. 1989. Language and power. London: Longman.

Fakih, M. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka       Pelajar.

Handayani, C. S., & Novianto, A. 2008. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: PT. LKIS Pelangi Aksara.

Hermawati, T. 2007. Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender. Jurnal Komunikasi         Massa, Vol. 1, No. 1, 18-24.

Lestari, I. 2006. Katakan dan Lawan: Bahasa dan Perjuangan Feminisme dalam Teori Julia Kristeva. Jurnal Perempuan, vol. 48, 103-108.

Lips, H.M. 1988. Sex & Gender, An Introduction. Mountain View, Cal.:        Mayfield Publishing Company.

Rani, A. 2010. Membentuk Budaya Konsumtif, Kajian Kritis Penggunaan Bahasa Iklan. Sidoarjo: Media Ilmu.

Zuntriana, A. 2006. Gender, Perempuan, dan Budaya Patriarki. Unpublished Paper

for Jambore Nasional (Jamnas) Pemberdayaan Gender, Bogor, Jawa Barat.

 

[1] Penulis adalah mahasiswi Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) Program Magister Ilmu Linguistik

AN ANALYSIS OF EQUIVALENCE AT WORD LEVEL IN “THE LOST SYMBOL” TRANSLATION OF ENGLISH INTO INDONESIAN

Laila Sarah Puspita Sari

A Candidate of Master of Applied Linguistics of Universitas Brawijaya

 

According to Newmark (1988:7), translation is a craft consisting in the attempt to replace a written message and/or statement in one language by the same message and/or statement in another language. Then Nida and Taber (1982:12) propose a rather complete definition of translation, that “Translating consisting of reproducing in the receptor language the closest natural equivalence of source language message, first in terms of meaning and secondly in term of style.” Meanwhile, Catford (1965:20) also states that translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL).

Working on translation, technically, a translator has to know the equivalency in translating the source language to the target one. As we know, translation peers always encounter different changes in equivalence within different language levels ranging from physical forms into meaning. Bell (1991:20) defines the phenomenon as “the replacement of a representation of a text in one language by a representation of an equivalent text in a second language.” Baker (2001:77) defines equivalence as the relationship between a source text (ST) and a target text (TT) that has allowed the TT to be considered as a translation of the ST in the first place. From what the experts’ statement above, we can say that equivalence is the most important element in the process of translation.

This paper discusses translation problems arising from lack of equivalence at word level; what does a translation do when there is no word in the target language which expresses the same meaning as to be source language word? Based on those considerations, this paper deals with one of the types of equivalence that Baker proposed in her study, that is equivalence at word level. The data are taken from one of the Dan Brown’s novel, “The Lost Symbol” (Chapter 1) translation of English into Indonesian.

 

THEORETICAL FRAMEWORK

Baker (2001) explores the notion of equivalence at different levels: equivalence at word level, equivalence above word level, grammatical equivalence, textual equivalence, and pragmatic equivalence. These levels of equivalence are closely related to the translation process, including all different aspects of translation and hence putting together the linguistic and the communicative approach. There is n on-to-one correspondence between orthographic words and elements of meaning within across language (Baker, 2001:11). In her book, Baker also describes common problems of non-equivalence at word level and the strategies dealing with it.

Culture-specific concepts

The source-language word may express a concept which is totally unknown in the target language (abstract or concrete; it may relate to a religious belief, a social custom or even a type of food).

The source-language concept is not lexicalized in the target language

The source language word may express a concept which is known in the target culture but simply not lexicalized, that is not “allocated” a target language word to express it.

The source-language word is semantically complex

The source-language word may be semantically complex.

The source and the target languages make different distinctions in meaning.

The target language may make more or fewer distinctions in meaning than the source language.

The target language lacks a superordinate

The target language may have specific words (hyponyms) but no general word (superordinate) to head the semantic field.

The target language lacks a specific term (hyponym)

More commonly, languages tend to have general words (superordinate) but lack specific ones (hyponyms).

Differences in physical or interpersonal perspective

Physical perspective has to do with where things or people are in relation to one another or to a place, as expressed in pairs of words such as come/go, take/bring, arrive/depart, etc. perspective may also include the relationship between participants in the discourse (tenor).

Differences in expressive meaning

There may be a target-language word which has the same propositional meaning as the source-language word, but it may have a different expressive meaning.

Difference in form

There is often no equivalent in the target language for particular form in the source text.

Differences in frequency and purpose of using specific forms.

Even when a particular form does have a ready equivalent in the target language, there may be a difference in the frequency with which it is used or the purpose for which it is used.

The use of loan words in the source text

Words such as au fait, chic and alfresco in English are used for their prestige value, because they add an air of sophistication to the text or its subject matter. This is often lost in translation because it is not always possible to find a loan word with the same meaning in the target language.

In addition, Baker also proposes some strategies dealing with it as follows:

  • Translation by a more general word (superordinate)
  • Translation by a more neutral/ less expressive word
  • Translation by cultural substitution, which involves replacing a culture-specific item or expression with a target-language item which does not have the same propositional meaning but is likely to have a similar impact on the target reader.
  • Translation using a loan word or loan words plus explanation,which is particularly common in dealing with culture-specific items, modern concepts and buzz words. Following the loan word with an explanation is very useful when the word in question is repeated several times in the text.
  • Translation by paraphrase using a related word, whic his used when the concept expressed by the source item is lexicalized in the target language but in a different form, and when the frequency with which a certain form is used in the source text is significantly higher than would be natural in the target language.
  • Translation by paraphrase using unrelated words. This is done if the concept expressed by the source item is not lexicalized at all in the target language, the paraphrase strategy can still be used in some contexts.
  • Translation by omission is adopted whenthe meaning conveyed by a particular item or expression is not vital enough to the development of the text to justify distracting the reader with lengthy explanations, translators can and often do simply omit translating the word or expression in question.
  • Translation by illustration is a useful option if the word which lacks an equivalent in the target language refers to a physical entity which can be illustrated, particularly if there are restrictions on space and if the text has to remain short, concise and to the point.

 

 DATA DISPLAY

In this paper, the data are categorized based on the problems of equivalence at word level.

  1. Culture-specific concepts
  • the 555-foot –> 555 kaki (170 meter)
  • turtlenecks –> Kaus berleher tinggi
  • cravat –> cravat (dasi)
  • fascalia –> fasealia (syal pengikat leher)
  • Staccato –> suara berderak
  1. The source language concept is not lexicalized in the target language
  • austere –> sederhana
  • daybag –> tas bahu
  1. The source-language word is semantically complex
  • unloading platform –> platform untuk menurunkan penumpang
  • collegiate cordovan loafers –> sepatu kulit santai model mahasiswa
  1. The source and the target languages make different distinctions in meaning
  • voice –> aksen
  • read –> membahas
  1. The target language lacks of superordinate
  • leaned –> mencondongkan tubuh
  • saying –> mengucapkan
  • climbing –> naik merayapi ­
  1. The target language lacks of specific term
  • craning –> menjulurkan leher
  • spire –> menara
  1. Differences in physical or interpersonal perspective
  • you –> kau
  • child –> bocah
  • boy –> anak laki-laki
  • boy –> bocah
  • woman –> perempuan
  • your guest –> tamu Anda
  1. Difference in form
  • unexpected –> tak terduga
  • Hate –> tidak ingin
  • background –> latar belakang
  1. The use of loan words in the source text
  • corporate jet –> jet korporasi
  • symbology –> simbologi
  • philanthropist –> filantrop
  • dynasty –> dinasti
  • silhouette –> siluet
  • etymologically –> etimologis

DISCUSSION

As mentioned in the previous part, Baker in her book “In Other Words” proposed some strategies dealing with the problems that translator may face in translating the English into Indonesian. In this part, the work focuses on analyzing the problem and the strategies that the translator deals with.

Culture-specific concepts

a. Data: the 555-foot –> 555 kaki (170 meter)

ST : The 555-foot marble-faced obelisk marked the nation’s heart.

TT : Obelisk berpermukaan marmer setinggi 555 kaki (170 meter) itu menandai jantung bangsa ini.

It is proper for Western to say foot to describe the measure of altitude or length. The foot is still legally recognized as an alternative expression of length in Canada, officially defined as a unit derived from the metric metre and still commonly used in the United Kingdom, although both have partially metricated their units of measurement. The foot is widely used outside the English-speaking country (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Foot_(unit)). In this phenomenon, the translator decides to translate it into 555 kaki and add explanation (170 meter) in which the measurement of length in meter sounds familiar in Indonesia.

b. Data: turtlenecks –> Kaus berleher tinggi

ST : The woman laughed. ‘Those turtlenecks you wear are so dated. You’d look much sharper in a tie!’

TT : Perempuan itu tertawa. “Kaus berleher tinggi yang Anda kenakan kuno sekali. Anda akan tampak jauh lebih cerdas dengan kemeja berdasi!”

American describes turtleneck as a garment, usually a sweater with a close-fitting, round, and high collar that folds over and covers the neck. Indonesian does not have the equivalence word of turtleneck because it is originally worn by American and Australian. The translator tries to find the cultural substitution for this in order to be more understandable for Indonesian. Therefore Kaus berleher tinggi is the best translation for turtleneck by describing how turtleneck looks like, that is t-shirt with high collar that folds over and cover the neck.

c. Data: cravat –> cravat (dasi)

d. Data: fascalia –> fasealia (syal pengikat leher)

ST: —and despite the headmaster’s romantic claims that the origin of the cravat went back to the silk fasealia worn by Roman orators to warm their vocal cords,—

TT : —Walaupun ada pernyataan romantis dari pemimpin akademi bahwa cravat (dasi) berasal dari fasealia (syal pengikat leher) sutra yang dikenakan para orator Romawi untuk menghangatkan pita suara,—

Western describe cravat is a scarf or band worn around the neck as a tie especially by men. Cravat means the forerunner to the modern tie. Historically, a cravat is a symbol of culture and elegance associated with Croats in the 17th century (http://academia-cravatica.hr/interesting-facts/history/). Nowadays cravat is worn by bridegroom of Western style. Again there is no equivalent word for cravat in Indonesian and we only have tie to call kind of long piece of cloth around the neck. In consequence, the translator uses a strategy by keeping the source text and give explanation as an addition, which sounds general or neutral for Indonesian that cravat can be described as the same as tie.

The same phenomenon exist in translating fascalia, there is no equivalence word for fascalia then the translator keeps the word and give explanation in the bracket

The source-language word is semantically complex

  • unloading platform –> platform untuk menurunkan penumpang

ST: Almost there, the boy told himself, craning his neck and looking up at the unloading platform.

TT: Hampir sampai, ujar bocah itu kepada diri sendiri, seraya menjulurkan leher dan mendongak memandangi platform untuk menurunkan penumpang.

In this case, the source text word is semantically complex and the translator decides to translate unloading platform intoplatform untuk menurunkan penumpang. The strategy which is applied is translation by paraphrasing using a related word

  • collegiate cordovan loafers –> sepatu kulit santai model mahasiswa

ST: He was wearing his usual charcoal turtleneck, Harris Tweed jacket, khakis, and collegiate cordovan loafers—

TT: Seperti biasa, dia mengenakan kaus abu-abu tua berleher tinggi, jaket Harris Tweed, celana panjang khaki, dan sepatu kulit santai model mahasiswa

The same problem happens in this part of text. If we translate it word-for-word, it causes a long text to explain one by one the term of that kind of shoes. Then, the same strategies used to transfer the appropriate meaning that is by paraphrasing using related words to get the understandable and acceptable translation.

The source and the target languages make different distinctions in meaning

  • voice –> aksen

ST: ‘Hello! Hello!’ a singsong British voice shouted from across the tarmac. ‘Professor Langdon?’

TT: “Halo! Halo!” teriak sebuah suara merdu beraksen Inggris dari seberang aspal. “Profesor Langdon?”

Literally, voice means sounds made when speaking or singing. For example, she is lost her voice. For this case, the translator considers the addition of information of British in which there is a stress that the character is speaking British English. Cultural substitution is used as the strategy to make it appropriate translation. Therefore he translates it into aksen which is not the literal meaning of voice.

  • read –> membahas

ST: ‘My book group read your book about the sacred feminine and the church!

TT: “Kelompok pembaca buku saya membahas buku Anda tentang sacred feminine dan gereja!

It is a great choice translating read into membahas, whereas the literal meaning of read is membaca. By considering the previous words, it is mentioned already the ‘pembaca’ is used to translate book. Word-for word translation is not the appropriate strategy to solve this problem. Therefore the translator applies the strategy of paraphrase by using the related words by considering some aspects that support the diction choice. The diction choice is acceptable for reader because they have the same information that a book group’s activity is not only reading the book but also discussing the contents of the book.

The target language lacks of superordinate

  • climbing –> naik merayapi ­

ST: Petugas lift sedang mengucapkan sesuatu menenangkan mengenai piston bersambung dan konstruksi besi tempa lift.

TT: Lift Otis yang naik merayapi pilar selatan Menara Eiffel itu dipenuhi turis.

We see that the translator decided to make his translation as natural as possible in Indonesian. He considered his understanding of Eiffel Tower that people can see Paris from above and people already know about it. Meaning that, there is the same knowledge between the reader and the writer. The decision of the collocation used is appropriate dealing with the ‘lift’ . Here ‘lift’ is subject which is climbing with the help of machine. If we translate it into ‘memanjat’, it is not acceptable because we use ‘memanjat’ only for human and some animals. Also the translator makes it more expressive by using naik merayapi. He wants people to imagine what was happening with the lift at that time’

It can be said that it is the strategy of the translator to translate it in two phrases, ‘naik merayap’ intead of ‘naik’. He tends to keep the natural meaning of ‘climbing’ in the text, in which the author describes the ‘lift’ is moving up slowly. Then if he only translates it ‘merayap’, it is less accurate in fact ‘merayap’ can be down, up, right or left.

 The target language lacks of specific term

  • craning –> menjulurkan

ST: Almost there, the boy told himself, craning his neck and looking up at the unloading platform.

TT: Hampir sampai, ujar bocah itu kepada diri sendiri, seraya menjulurkan leher dan mendongak memandangi platform untuk menurunkan penumpang.

In my opinion, the translation of menjulurkan leher fot craning is not appropriate. In Bahasa, menjulurkan is commonly expressed for tongue, menjulurkan lidah. Hence, we need more acceptable word to transfer the meaning of craning. Because of Bahasa lacks of specific term so the strategy used is paraphrase by using related word. The activity which is associated with stretching out one’s neck in order to see something can be called mengulurkan leher in Bahasa.

  • spire –> menara

ST: Outside the window the sun had set, but Langdon could still make out slender silhouette of the world’s largest obelisk, rising on the horizon like the spire of an ancient gnomon.

TT: Matahari sudah terbenam di balik jendela, tapi Langdon masih bisa melihat siluet ramping obelisk terbesar di dunia, yang menjulang di cakrawala seperti menara jam kuno.

A more general word is used as the strategy. Yet, the translator gives lack information to transfer the meaning of spire. He translates spire into menara and the reader will imagine the whole menara (tower), in fact, in his book, the author wants the readers to imagine the special part of the tower that is the spire. In the source text, English has specific word to call the top of the tower that is spire, while in Bahasa it needs two words to call the spire. In my opinion, it is acceptable if the translator translates the word spire into puncak menara in order to get the more specific meaning and information for the reader.

Differences in physical or interpersonal perspective

  • you –> kau

ST: ‘You look pale, son. You should have stayed on the ground.’

TT: “Kau tampak pucat, Nak. Seharusnya kau tetap di bawah.”

The Kau in this dialogue is used as the consideration of poetic term of novel and it is generally used as bound morpheme of engkau. Because of the social status between the speakers, in daily conversation kau sounds rude compared to kamu. In my view, kamu term is more acceptable for Indonesian. Kamu is considered a more familiar way of talking; it stands in the middle of formal and informal. Kamu is used with your sister, brothers, cousins, and other family members of the same age or status.

  • your car –> mobil Anda

ST: ‘If you’ll come with me, sir, your car is waiting.’

TT: ”Ikuti saya, Pak, mobil Anda sudah menunggu.”

Anda is very formal way of talking, like between businessmen, to people that are older, to person that you respect, to teachers, or to strangers. It can also be used as a barrier, because it shows that you have no interests of forming a close relationship with the other person. Considering the relationship between Langdon and the driver shows the different social status between them and the term of Anda is accurate to be used in the translation.

Difference in form

  • unexpected –> tak terduga

ST: The daydream about his late father, Langdon suspected, had been stirred by this morning’s unexpected invitation from Langdon’s longtime mentor, Peter Solomon.

TT: Langdon curiga, agaknya lamunan tentang almarhum ayahnya dipicu oleh undangan tak terduga pagi ini dari mentor lamanya, Peter Solomon.

To describe the minimal formal element of meaning in language, as distinct from word, this may or may not contain several elements of meaning. Thus, an important difference between morpheme and words is that a morpheme cannot contain more than one element of meaning and cannot be further analyzed. The term of tak terduga is an accurate diction for unexpected.

The use of loan words in the source text

  • corporate jet –> jet korporasi

ST: He was sitting all alone in the enormous cabin of a Falcoln 2000EX corporate jet as it bounced its way through turbulence.

TT: Dia sedang duduk sendirian di kabin luas jet korporasi Falcon 2000EX yang berguncang-guncang melewati turbulensi.

In my view, it does not need to keep the loan word in the translation when we have the original word in Bahasa. Corporate can be translated into perusahaan which is more acceptable and understandable for the target reader.

  • symbology –> simbologi

ST: He’d been halfway through reviewing Masonic symbology when his mind had drifted.

TT: Dia sudah setengah jalan meninjau simbologi Mason ketika benaknya tadi berkelana.

Symbology basedon Merriam Webster is the art of expression by symbol, or the study or interpretation of symbol. Bahasa does not have the equivalence word of this term so the translator decides to keep it in his translation and this strategy is exactly appropriate to solve the problem.

  • philanthropist –> filantrop

ST: The fifty – eight-year-oldphilanthropist, historian, and scientist had taken Langdon—

TT: Finlantrop, sejarahwan, dan ilmuwan berusia 58 tahun itu sudah membantu dan membimbing Langdon—

As the same as the previous discussion about using the loan word, in this case the translator does the same thing consider that in Bahasa, we have no term to substitute philanthropist.

  • dynasty –> dinasti

ST: Despite the man’s influential family dynasty and massive wealth,

TT: Walaupun dinasti keluarga Solomon sangat berpengaruh dan kekayaannya luar biasa,

Sometimes translator should not use the loan word to play save in his translation when we have our own term in the target text. When we talk about dynasty, it deals with royal family in a country and the same thing happens in Indonesia. Dinasti term in Bahasa is something like looking back in the China Kingdom era hundred years ago. It is better if dynasty is translated into keturunan because it is more neutral and familiar for Indonesia.

  • clipboard –> clipboard

ST: Langdon looked up to see a middle-aged woman with a badge and clipboard hurrying toward him, waving happily as he approached.

TT: Langdon mendongak dan melihat seorang perempuan setengah baya dengan lencana dan clipboard bergegas menghapirinya, lalu melambaikan tangan dengan gembira ketika Langdon mendekat.

As the same reason and opinion in the discussion above, I propose that the more acceptable translation for clipboard is papan tulis kecil. Some people will not get the same understanding what clipboard is if the translator keeps the English term.

 

CONCLUSION

Based on finding the analysis there are eight types of problems found dealing with the equivalence at word level in The Lost Symbol translation of English into Bahasa: Culture-specific concepts, the source language concept is not lexicalized in the target language, the source-language word is semantically complex, the source and the target languages make different distinctions in meaning, the target language lacks of superordinate, the target language lacks of specific term, differences in physical or interpersonal perspective, difference in form, and the use of loan words in the source text. The most problem faced is the use of loan words, found five terms in English which are no equivalence word in Bahasa. The strategy used by the translator is to loan the word because the term is also familiar for the target reader.

 

REFERENCES

Baker, M. 2001. In Other Words: a Course Book on Translation. London and New York: Routledge

Bell, Roger.T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London and New York: Longman.

Catford, J. C. 1978. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press

Newmark, P. 1988. A Textbook in Translation. London: Prentice Hall

Nida, Eugene and Charles R. Taber. 1982. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E. J. Brill

 

MODIFYING EFL COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING FOR INDONESIAN CONTEXT

Sugeng Susilo Adi

University of Brawijaya

 

Abstract

This article is talking about the problems of implementing Communicative language teaching (CLT) in Indonesia. The main problem of applying the teaching approach is the gap between the theory and its classroom practices. Other problems such as classroom size in term of student number and student learning styles are also highlighted in this article. Accordingly, this article suggests an audio lingual communicative language teaching strategies that might be applicable for the majority of Indonesian junior and senior high schools. These strategies were derived form an empirical research that the writer conducted in Islamic Junior High Schools in Indonesia.

Keywords: communicative language teaching, learning styles, audio lingual, teaching strategies

***

 

When the trend of English language teaching in Indonesia is more focusing on the praxis of Communicative language teaching (CLT), some problems are still found in the implementation at the classroom level. Communicative language teaching that theoretically requires the language use as communication tools, in Indonesia sometimes it could not be implemented successfully. Several constraints are becoming obstacles of the CLT implementation such as the number of students in one classroom, the students learning styles, and non-native speaker teachers.

It is quite often stated that the weaknesses of CLT implementation in some East Asian countries, including Indonesia is that the approach in some cases is not appropriate with cultural local context. Baker (2008:1) states that an essential element in fostering successful intercultural communication is developing cultural awareness as part of ELT pedagogy. To illustrate this, a case study of Thailand is presented examining English use, English teaching policy and practice, and local cultural attitudes towards ELT. This then leads to suggestions on how locally relevant intercultural communicative practices can form part of ELT classroom pedagogy in Thailand with the aim of developing learners’ cultural awareness. It is argued that similar analyses may be applied to other Asian contexts, which may share features with the Thai context. This can lead to the development of teaching practices, which through engaging learners in intercultural reflection will result in English language users who are better able to manage intercultural communication through English.

Three interesting issues are highlighted in this article dealing with the CLT implementation in Indonesian context, particularly how the approach could fit to the Indonesian context which culturally is a part of East Asian context. There issues include the essence of CLT, Indonesian context as an East Asian one, and audio lingual communcative: an emprical base.

 

Communicative language teaching: the essence

The essence of Communicative language teaching (CLT) is teaching language for communication. Richards (2006: 5-23) says that Communicative language teaching is generally regarded as an approach to language teaching which reflects a certain model or research paradigm, or a theory. This language teaching approach is based on the theory that the primary function of language use is communication. Its primary goal is for learners to develop communicative competence ability. Furthermore, he adds that as far as theories of learning and effective strategies in teaching are concerned, CLT does not adhere to one particular theory or method. It draws its theories about learning and teaching from a wide range of areas such as cognitive science, educational psychology, and second language acquisition (SLA). CLT methodologies embrace an eclectic approach to teaching, which means they borrow teaching practices from a wide array of methods that have been found effective and that are in accordance with principles of learning as suggested by research findings in research in SLA and cognitive psychology. Its open-ended or principle-based approach allows for a great deal of flexibility, which makes it adaptable to many individual programmatic and learner needs and goals.

              Savignon (2012: 212) says that communicative language teaching requires several principles in its classroom practices, they are: (1). Language teaching is based on a view of language as communication. That is, language is seen as a social tool which speakers and writers use to make meaning; we communicate about something to someone for some purpose, either orally or in writing. (2). Diversity is recognized and accepted as part of language development and use in second language learners and users as it is with first language users. (3). A learner’s competence is considered in relative, not absolute, terms of correctness. (4). More than one variety of a language is recognized as a model for learning and teaching. (5). Culture is seen to play an instrumental role in shaping speakers’ communicative competence, both in their first and subsequent languages. (6). No single methodology or fixed set of techniques is prescribed. (7). Language use is recognized as serving the ideational, the interpersonal, and the textual functions, as defined by Halliday, and is related to the development of learners’ competence in each. (8). It is essential that learners be engaged in doing things with language, that is, that they use language for a variety of purposes, in all phases of learning. Learner expectations and attitudes have increasingly come to be recognized for their role in advancing or impeding curricular change. Numerous sociolinguistic issues await attention.

In addition, Asassfeh, (2012) explain that one important distinctive feature of CLT is its emphasis on meaning-oriented instruction (MOI), a term that emerged in response to language teaching methods that emphasized the mastery of language forms. Educators’ increasing awareness that learners acquire a foreign language best when their attention is focused on the meaning communicated rather than on the linguistic form led to a lack of interest in such methods as grammar translation and audiolingualism.  Today, meaning-oriented communicative language teaching methodology has the overarching principles of focus on real communication, providing learners with opportunities to try out what they know, tolerance of learners’ errors as a healthy sign of progress in developing the communicative competence, integrating the different skills. In other words, its goal is to make use of real-life situations that necessitate communication (Asassfeh: 525-535).

 

Indonesian context as an East Asian one

The problems of ELT practice in Indonesia, English continues to be the most popular foreign language in Indonesia schools. Since 1994, ELT has been introduced from grade four of elementary level in public schools. With a reorientation objective in 1994 (which is regarded to be important in ELT in Indonesia in the last few years), the focus has been on listening and speaking skills in elementary schools and on speaking and reading skills in secondary schools. Also the language policy for education in Indonesia has made English language learning compulsory. Although the policy has attributed teaching English from early grades in elementary schools, it has not been fully implemented largely because of lack of primary teachers both in numbers and skills level. Nevertheless, there has been an attempt in the last ten years to strengthen and improve the ELT through curriculum revision and development as well as decentralization reform (Imperiani, online, p.6). English Language Teaching (ELT) in Indonesian context is obviously explained in Impreriani’s abovementioned that the curriculum have been experienced may experimaentation. Besides that, some characteristics can be highlighted to illuminate the ELT in the Indonesian context such as the big class size with arround 40 students and South East Asian students‘ language learning styles.

Especially interesting is about the big size classroom as a problem, Bruhwiler and  Blatchford (2011) say that  in many studies of class size effects, teacher characteristics are missing, even though many argue it is not class size that is important but teacher quality. In the present study teachers’ effectiveness on the learning progress was assessed while teaching a unit with predefined learning objectives. To measure adaptive teaching competency a multi-method approach was employed. Smaller classes led to higher academic learning progresses, better knowledge of students, and better classroom processes. Adaptive teacher competency remained relevant in smaller classes, that is, class size and teacher quality were independently important. There are several limitations of research on class size effects which have informed this paper. One limitation of most class size research is that effects are examined in relation to academic outcomes and, more recently, in relation to classroom processes, but rarely are the effects of class size and classroom processes systematically examined in the same study. Studies also tend to examine effects at a ‘‘macro’’ level, for example, in terms of progress over a whole school year, rather than examine effects of class size in terms of specific curriculum units (Bruhwiler and  Blatchford, 2011: 95-108).

About the Indonesian learning style, it might be concluded that Indonesian students learning styles are similar with other East Asian learning styles. Zhenhui (2001) in Matching Teaching Styles with Learning Styles in East Asian Contexts states that in East Asia, most students see knowledge as something to be transmitted by the teacher rather than discovered by the learners. At the second place, the teacher-centered classroom teaching in East Asia also leads to a closure-oriented style for most East Asian students. These closure-oriented students dislike ambiguity, uncertainty or fuzziness.  Another most popular East Asian learning styles originated from the traditional book-centered and grammar-translation method are analytic and field-independent. The final East Asian preferred learning style is concrete-sequential. Students with such a learning style are likely to follow the teacher’s guidelines to the letter, to be focused on the present, and demand full information. They prefer language learning materials and techniques that involve combinations of sound, movement, sight, and touch and that can be applied in a concrete, sequential, linear manner. Oxford & Burry-Stock (1995) discovered that Chinese and Japanese are concrete-sequential learners, who use a variety of strategies such as memorization, planning, analysis, sequenced repetition, detailed outlines and lists, structured review and a search for perfection.

The implementation of CLT in Indonesia is well representing other East Asian countries in terms of its gap between theory and practices. Liao & Zhao (2001) states that Communicative Language Teaching (CLT) approach has become the prevailing language teaching methodology across the world. Language teachers’ application of CLT in foreign language teaching has yet to be explored in past research. The CLT practice is still constrained by the lack of strategies that can be used to make CLT happen in class. For example, some beginning teachers believe that CLT not only can be used to teach the spoken but also the written language. They have created some ideas about using CLT to teach reading and writing activities. Yet, in reality the CLT practice only happens when they speak Chinese for creating the target language environment.

To bridge the theory-practice gap on CLT, Liao (2001) proposed some interesting principle strategies that are relevant to apply in the Indonesian context. The strategies constitute: Teaching should start with listening and speaking, drills on language form should not be excessive, English should be used in class, use of translation should be limited, audio-visual aids like realia, pictures, over-head transparencies, audio-tapes, videos, and computers should be fully utilized, the teacher’s role should be a facilitator and helper to guide students to develop effective learning habits, teachers should be aware of the individual differences among students in the learning process, and appropriate encouragement should be given to students to reinforce their initiatives.

 

Audio Lingual Communcative: an Emprical Base

One of alternatives the writer suggests ia a midified communicative language teaching which is called Audio Lingual Communcative (ALC) approach. This approach is derived from the empirical research and developemnet (R&D) conducted by the writer in 2010. In this developmental project, the writer creates a product consisting of textual learning materials assisted by audio recordings. This development also results in a learning design contained in a teaching manual, which is an integral part of this developmental product. In the learning design contained in the manual, the developer applies a learning strategy which the developer calls the Audio Lingual Communicative (ALC) learning strategy, reflected by the available learning activities.

The ALC learning strategy is an eclectic learning strategy which combines different language learning methods, in particular the Audio Lingual Method with Communicative Language Teaching (CLT) in order to adapt to real situations in the classroom. The real situation in the classroom found by target student observation has shown that classes are composed of at least 40 pupils, the school does not have a language laboratory, teaching materials used were still written exercise-based, and the teacher is still the central figure in learning. One of the reasons that the ALC learning strategy was chosen is because that strategy had been proven successful in China and Vietnam. Both countries have English language learning contexts which are similar to the context of the target students in this development. In 1990, CLT which had been modified with local contexts had been applied in Vietnam and China. In Vietnam, students enjoyed speaking in a large classroom setting, so real communication was directed to answer questions from the teacher in the form of an oral symphony (Rao, 2006; Pham, 2005).

As a learning strategy that combines the Audio Lingual Method with the Communicative Language Teaching (CLT) method, ALC adopts several principles from both teaching methods in the classroom learning praxis. In the Audio Lingual Method, usually a simple laboratory tool which tends to be “audio passive” is used, which stresses listening practice and speaking by way of hearing foreign language expressions using said tool. Using this method stresses the oral skills of speaking and listening.

In the learning practices toward the experimental class used in this development, the ALC strategy applied relies on several principles, among them: 1) giving students the chance to participate in communication by using the language in various activities; 2) keeping the given communicative activities comprehensible and relevant to the students’ interests, 3) putting the communicative activities on a gradation, starting from the simplest and moving to the more complex; and 4) integrating the four language abilities of listening, reading, speaking, and writing into the audio-assisted learning. The consequences of those principles are manifested in the learning activities as the following, among others: 1) listening to the audio, imitating it, and demonstrating the conversation together, creating a spoken orchestra in the classroom; 2) demonstrating the conversation in pairs and groups, seated and in front of the class; 3) reading texts, metered verse, poetry, dialogue, and words aloud, together and individually; 4) working in groups, in pairs, and individually on written text practice; and 5) other challenging student-oriented activities.

Field observations have shown that the ALC strategy adopted in the learning design of this developmental product was able to facilitate target students, which are the middle school students in the Ma’arif  NU Sidoarjo educational environment, to be actively involved in English language learning. Several of the learning activities above were done well by the students.

The teaching materials were organized by the elaboration model (Reigeluth, 1983) which covers selection, sequencing, synthesizing, and summarizing. Content selection was done by collecting relevant materials for English language learning, taken from various sources, including the Internet, domestic- and internationally-published English language books, dictionaries, children’s encyclopedia, and other relevant sources. Sequencing was established by ordering units and sub-units according to the degree of difficulty of the language functions, creating a functional syllabus. Synthesizing was done by keeping the units and sub-units connected with each other. Finally, summarizing was done by showing a vocabulary list at the end of each unit, where students are not only able to find out the meanings of words but are also able to construct sentences with them and read them aloud.

Field observations done on the experimental class used in this development show that students can be actively involved in learning through meaningful language activities such as demonstrating dialogue, finding the meanings of words in a dictionary, reading aloud, singing, and reading poetry or metered verse. Meaningful activities can facilitate the achievement of the general goal of learning which is for students to be able to understand the meaning in very simple transactional and interpersonal conversations, to interact with their surrounding environment.

Based on reviews by experts, teachers, and field tests on the developmental product consisting of audio-assisted teaching materials, the result obtained is that the developmental product is proven feasible and can facilitate the achievement of learning goals. Field test results with the experimental class in this development have shown that students’ judgment regarding the textual teaching materials shows a percentage of 86.75%, while the audio recordings show 87.19%. Results of the post-test of the experimental class using this developmental product shows a significant difference compared to the control class which used a different learning package.  This developmental product, which has been developed and revised based on experiments, has its own unique characteristics compared to other learning devices. Audio Lingual Communicative (ALC) learning strategy which combines the Audio Lingual method with Communicative Language Teaching (CLT), which is applied in the learning design from this development, can be concluded as the proper strategy for the English language learning context in the middle schools of the LP Ma’arif NU Sidoarjo environment. The selection of the ALC learning strategy was based on the eclecticism philosophy which combines several foreign language principles and learning methods, adjusted to student context.

Conclusion

There are several constraints which are becoming obstacles of the CLT implementation in Indonesia. The implementation problem of CLT in Indonesia is that the approach in is always not appropriate with Indonesia socio cultural context. An empirical base which is called audio lingual communicative could be an alternative in modifying the CLT to be fitting to the Indonesian context. The strategies suggest an eclectic learning strategy which combines different language learning methods, in particular the Audio Lingual Method with Communicative Language Teaching (CLT) in order to adapt to real situations in the classroom. As a learning strategy that combines the Audio Lingual Method with the Communicative Language Teaching (CLT) method, ALC adopts several principles from both teaching methods in the classroom learning praxis. In the Audio Lingual Method, usually a simple laboratory tool which tends to be “audio passive” is used, which stresses listening practice and speaking by way of hearing foreign language expressions using said tool (Adi, 2010, 2011).

 

References

Adi, Sugeng S. 2010. Pengembangan bahan ajar tekstual berbantuan rekaman audio bagi siswa kelas VII SMP/MTs di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo. Unpublished Dissertation. Postgraduate Program, State University of Malang

Adi, Sugeng S. 2011. Communicative language teaching: is it appropriate for Indonesian context? International Journal of Educational Technology and Distance Learning. Vol. 8, Number 11, December 2011. Online. (http://www.itdl.org/Journal/Dec_11/Dec_11.pdf, retrieved January 2, 2012)

Asassfeh, Sahail M. 2012. Communicative Language Teaching in an EFL Context: Learners’ Attitudes and Perceived Implementation (pp. 525-535). Journal of Language Teaching and Research, Vol. 3, No. 3, May 2012

Baker, Will. 2008.A Critical Examination of ELT in Thailand : The Role of Cultural Awareness. RELC Journal.Vol. 39, No. 1, 2008. Online. (http://rel.sagepub.com/content/39/1/131 retrieved October 2, 2011)

Bruhwiler, C. and Blatchford, P. 2011 Effects of class size and adaptive teaching competency on classroom processes and academic outcome (pp. 95-108).Learning and Instruction, Vol. 21, 2011

Imperiani, Erni, D.A. English Language Teaching in Indonesia and its relation to the role of English as an International Language. Online. (http://ejournal.upi.edu/index.php/psg/article/view/43 retrieved, August 5, 2011)

Liao, J. and Zhao, D. 2006. Grounded Theory Approach to Beginning Teachers’ Perspectives of Communicative Language Teaching Practice (pp. 76-90).Electronic Journal of Foreign Language Teaching, Vol. 9, Number 1,  2012

Liao, Xiao Qing. 2000. How Communicative Language Teaching Became Acceptable in Secondary Schools in China. The Internet TESL Journal, Vol. VI, No. 10, October 2000. Online.(http://iteslj.org/Articles/Liao-CLTinChina.html retrieved August 1, 2010)

Pham, Hoa. H. (2005) “Imported” Communicative Language Teaching: Implications for Local Teachers (pp. 2-13). English Teaching Forum, Vol 43. Number 4 2005

Richards, Jack C. 2006. Communicative Language Teaching Today.Cambridge University Press: Cambridge

Savignon, Sandra J. 2002. Interpreting CommunicativeLanguage Teaching: Contexts and concerns in teacher education. Yale University Press: London

Savignon, Sandra J. 2007. Beyond communicative language teaching: What’s ahead? (pp.207-220). Journal of Pragmatics,Vol. 39, 2007

Zhenhui, Rao. 2001. Matching Teaching Styles with Learning Styles in East AsianContexts.The Internet TESL Journal, Vol. VII, No. 7, July 2001. Online. (http://iteslj.org/Techniques/Zhenhui-TeachingStyles.html retrieved July 2, 2011

 

NOTE ABOUT THE WRITER

Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum., M.Ed. got his Bachelor from the English Department,  Faculty of Letters, Sebelas Maret University, Surakarta in 1992. His first Master degree is in American Studies which he earned from Postgraduate Program, Gadjah Mada University, Yogyakarta in 1997. His second master degree is Master of Education (M.Ed.) in TEFL which he got from The School of Education, University of South Australia, Adelaide (2002). In 2010 he got his Doctor in Instructional Technology from State University of Malang (UM). One of the summer courses he participated was Study of the US Institutes for Secondary Educators in the University of Chicago at Illinois (UIC), USA in 2008. He is currently teaching at the Department of English Education, Faculty of Cultural Studies, University of Brawijaya (UB), Malang, Indonesia.