Posts Tagged ‘translation’

Penerjemahan dan Dunia Global: Pengalaman Australia dalam Penjurubahasaan

by Rochayah Machali- UNSW, Australia

(Versi awal tulisan ini pernah disajikan di Seminar Nasional Penerjemahan di Politeknik Negeri Malang, tahun 2007)

 

Globalisasi telah menjadi istilah yang sangat umum kita dengar, yang prosesnya sangat terkait secara langsung dengan bidang ekonomi dan pemasaran. Namun demikian, efek globalisasi itu sendiri juga merasuk ke dalam berbagai aspek kehidupan, sistem sosial dan politik, lembaga dan nilai serta ke dalam kegiatan keseharian kita. Banyak perusahaan menjual produknya ke seluruh dunia dan menjadi perusahaan supranasional, sehingga identifikasi kenegaraan tak lagi terlalu penting. Banyak perubahan yang terjadi terhadap bentuk-bentuk bisnis, perdagangan, dan pendidikan, misalnya banyak perusahaan melakukan jual-beli produk melalui Internet.
Kehidupan keseharian kita pun terpengaruhi oleh perkembangan dan perubahan ini. Berbagai hal sudah bisa dilakukan dengan sangat lebih cepat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Perbelanjaan dan perbankan sekarang bisa dilakukan dengan mudah melalui Internet. Semakin banyak iklan yang mengajak kita untuk bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi, misalnya banyak penerjemah lepas yang bekerja dari rumah dengan memanfaatkan ratron dan komputer. Maka, sudah semakin banyak orang menjadi bagian dari benua ke tujuh yang bersifat maya ini, ‘virtual seventh continent’.

Semua perubahan ini telah mempengaruhi cara kita belajar, mencari informasi, dan cara kita berkomunikasi. Pencarian informasi, misalnya, sudah jauh lebih mudah karena kita tinggal menekan tombol di komputer dan memasuki ‘benua ke tujuh’ tersebut di atas. Misalnya, melalui search engines kita bisa mencari makna suatu kata dengan mudah. Selain itu, kegiatan penjurubahasaan juga telah mengalami perubahan penting, misalnya melalui tele-conference pada tataran global, yang tidak memerlukan kehadiran fisik bagi para peserta.
Selain itu, bagi kita yang bekerja di bidang yang terkait bahasa, perubahan yang paling penting adalah yang menyangkut bahasa dan penggunaan bahasa itu sendiri. Misalnya, kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti ‘bahasa atau bahasa-bahasa apa yang digunakan di Internet?’, ‘bahasa apa yang digunakan pada tingkat global?’, ‘apakah salah satu dari bahasa-bahasa ini menjadi bahasa global?, apa pengaruh ‘bahasa global’ ini terhadap kegiatan penerjemahan dan penjurubahasaan?.

Menurut Snell-Hornby (1999), bahasa Inggris-lah yang menjadi bahasa yang dominan dan menjadi lingua franca internasional. Namun, menurutnya bahasa tersebut tidak lagi membawa identitas ragam nasional tertentu. Dengan kata lain, bahasa tersebut menjadi‘globish’ atau menjadi ‘McLanguage’ yang sifatnya lebih sederhana dibandingkan dengan ‘bahasa Inggris’. Di Australia, misalnya, akhir-akhir ini juga ada keprihatinan bahwa bahasa Inggris sudah tidak ada lagi; yang muncul adalah varian-varian seperti ‘Spanglish’, ‘Chinglish’, dll (yang secara akademis sering dirujuk sebagai ‘hibrida’, yang akan dibahas lagi nanti).
Memang, menurut statistik hasil kajian the Economist (15 Mei 1999) dan Der Spiegel (4 Oktober 1999), jumlah situs web yang menggunakan bahasa Inggris sudah menurun menjadi 57.4% (dari 75%), namun bahasa Inggris masih menjadi bahasa yang banyak digunakan karena melalui bahasa inilah pasar global bisa diraih.

Seperti dikatakan di atas, ‘bahasa global’ tersebut mempunyai ciri baru, baik dari segi bentuk maupun ‘aturan’ penggunaannya. Bahasa tersebut menjadi lebih sederhana, meskipun ini tidak berarti terjadi pemiskinan komunikasi. Banyak kajian yang menunjukkan bahwa beberapa aspek kebahasaan dari ‘New English’ ini sudah mengalami perubahan.Misalnya, aspek kala yang digunakan dalam ‘New English’ tidak secanggih bahasa Inggris, khususnya kala ‘progresif’ (Collins, 2007). Selain itu, dalam kajian lain, dikenali adanya kecenderungan ‘hybrid texts’. Adejunmobi (dalam Schäffner, 1999) menyebut teks jenis ini ‘compositional translations’, yakni teks yang dihasilkan oleh penulis pasca-kolonial Afrika yang ditulis dalam bahasa Eropa namun dengan menggunakan pola pikir Afrika. Dengan kata lain, teks dalam bahasa Eropa tersebut ‘berbau’ Afrika.

Dalam kegiatan penjurubahasaan, teks jenis ini paling banyak dijumpai, yang tidak selalu dikarenakan oleh pengaruh globalisasi. Hibriditas teks dalam kegiatan ini lebih dikarenakan oleh sifat kegiatan tersebut, yang menuntut seorang jurubahasa beralih dari satu bahasa ke bahasa lain dalam waktu yang relatif cepat. Seringkali, dalam prosesnya terjadi ‘interlingual transfer’ yang tak terhindarkan. Pembicaraan mengenai teks hibrida itu sendiri dapat dilihat dari berbagai kerangka teori, misalnya melalui kerangka post colonial study, intertextuality, cultural studies, text identity, dsb.

Pembahasan mengenai peran juru bahasa di Australia tidak terlepas dari kebijakan negara itu untuk menerapkan multikulturalisme. Penetapan juru bahasa dan penerjemah sebagai profesi yang diakui di Australia telah melewati sejarah yang panjang, serta melewati beberapa tahap. Oleh karena itu, makalah ini disajikan dalam tiga bagian:
(1) Latar belakang profesi penerjemah dan juru bahasa di Australia, yang mencakup (a) akreditasi bagi penerjemah dan juru bahasa; (b) Organisasi profesi dan kode etik;
(2) Juru bahasa & penjurubahasaan, yang mencakup (a) ‘jenis’, (b) ‘cara penjurubahasaan’, (c) contoh kasus;
(3) Pelatihan dan pendidikan juru bahasa dan penerjemah di Australia (gambaran selayang pandang).

1. PENGALAMAN AUSTRALIA: LATAR BELAKANG PROFESI JURU BAHASA & PENERJEMAH
Meskipun secara geografis Australia terletak di kawasan Asia, adat istiadat, agama, struktur sosial dan struktur pemerintahannya lebih dekat ke negara Inggris yang menjajahnya pada tahun 1788 dan mengesahkan Konstitusi Federalnya di tahun 1901.

Dengan demikian, bahasa utamanya tentu saja bahasa Inggris. Namun, berkaitan dengan meningkatnya jumlah imigran, populasi yang non-Inggris meningkat, sehingga jumlah penggunaan bahasa non-Inggris pun meningkat pula. Pada tahun 1945, dengan jumlah keseluruhan populasi yang hanya mencapai tujuh setengah juta, jumlah pengguna bahasa non-Inggris hanya kecil saja. Namun, sekarang terdapat kira-kira 90 bahasa non-Inggris yang digunakan di Australia, dan yang terbanyak jumlahnya adalah bahasa Italia dan Yunani. Akhir-akhir ini pengguna bahasa Indo-Cina juga semakin banyak.

Walaupun jumlah imigrasi menjadi ciri sejarah Australia, kebutuhan akan penerjemahan dan kejurubahasaan baru dirasakan sejak terjadinya imigrasi secara besar-besaran sesudah PDII. Kebijakan waktu itu mengharuskan para migran bisa berbahasa Inggris serta ada keharusan untuk berasimilasi. Kebijakan ini kemudian dianggap tidak manusiawi dan dianggap gagal karena untuk belajar bahasa Inggris diperlukan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, mereka yang tak mampu berbahasa Inggris mendapat kesulitan memperoleh akses serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik di Australia. Hal ini menjadi dasar mulai dirasakannya perlunya juru bahasa dan penerjemah, yang dimulai dengan usaha sistematis oleh kelompok masyarakat Italia dan Yunani. Jumlah kedua kelompok ini waktu itu sudah semakin banyak.

Pada tahun 1960 Departemen Imigrasi Australia mulai menetapkan Unit Layanan Penerjemahan secara resmi, namun unit tersebut masih hanya dijumpai di Departemen Imigrasi saja. Unit inipun baru ditetapkan 14 tahun sesudah pemerintah Australia mulai menerima imigran secara resmi.
Kemudian, pada tahun 1973 mulailah ada perkembangan yang sangat berarti dalam hal-hal yang berkaitan dengan profesi penerjemahan dan kejurubahasaan. Sejak tahun ini, mulai dirintis berdirinya tiga lembaga dan kebijakan: (1) Committee on Overseas Professional Qualifications (disingkat COPQ). (2) National Accreditation Authority for Translators and Interpreters (disingkat NAATI). (3) Kebijakan Nasional dalam bidang Bahasa (National Language Policy). Ketiga hal ini bersangkut-paut dengan profesi penerjemah dan jurubahasa, sebagaimana dijelaskan di bawah ini. Namun, hanya COPQ dan NAATI saja yang disinggung.

(a) Lembaga Kualifikasi Profesi (COPQ)
Lembaga ini bertugas melakukan evaluasi serta, bila perlu, memberikan sertifikasi bagi kualifikasi profesional yang diperoleh dari luar Australia. Pada tahun 1974 dibentuk Panitia Kerja yang tugasnya tiga:

1. membentuk Lembaga Nasional untuk mengontrol sertifikasi juru bahasa dan penerjemah, terlibat dalam pengujian dan penciptaan lembaga pelatihan.
2. menetapkan klasifikasi standar bagi juru bahasa dan penerjemah, berdasarkan 5 tingkat struktur berdasarkan ketrampilan dan tugas yang dilakukan.
3. menetapkan struktur gaji bagi juru bahasa dan penerjemah untuk menarik minat kalangan terdidik.

Dalam tahun-tahun ini, ada perubahan moto dan sikap dalam kebijakan pemerintah Australia: dari asimilasi ke integrasi, dan kemudian menjadi kebijakan multikulturalisme sampai sekarang. Dalam konteks kebijakan ini, kegiatan kejurubahasaan dan penerjemahan menjadi profesi yang dilindungi, sebagaimana halnya dengan profesi lain.

(b) Akreditasi bagi Penerjemah dan Juru bahasa
Sejalan dengan hasil kerja Panja COPQ di atas, pada tahun 1977 dibentuklah suatu Badan Otonom oleh Departemen Imigrasi dan Urusan Etnis. Badan Otonom ini menetapkan bahwa: ‘…eventually, in Australia no one will be able to practice as an interpreter or translator who has not NAATI accreditation at the appropriate level” (garis bawah ditambahkan).

Pada tahun 1978, pembedaan tingkat ada lima: tingkat pertama dan kedua adalah tingkatan sub-profesional sedangkan tingkat III s/d V adalah tingkat profesional. Pembedaan antara kedua jenis tingkatan ini didasarkan pada dua hal: tingkat pra-profesional adalah dwibahasawan yang menggunakan kompetensinya untuk membantunya dalam tugas utama di tempat kerjanya. Tingkat profesional adalah mereka yang hidupnya tergantung atas penerjemahan/penjurubahasaan.

Namun, belakangan ini tingkat-tingkat tersebut diubah kategorisasinya menjadi: tingkat paraprofesional (penerjemah dan juru bahasa) dan tingkat profesional (penerjemah dan juru bahasa). Masing-masing tingkat mempunyai makna dan batasan tugas sendiri-sendiri (lihat http://www.naati.com.au/accreditation.html). Sebagai lembaga akrediatasi, NAATI menjadi sangat berkuasa dalam menetapkan terakreditasi-tidaknya seorang penerjemah/juru bahasa. Mungkin perlu digarisbawahi di sini bahwa ‘akreditasi’ terkadang tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya dari seorang penerjemah.

(c) Organisasi profesi & Kode Etik
Sejalan dengan semakin dikukuhkannya kedudukan NAATI, lahirlah organisasi profesi bagi penerjemah dan juru bahasa yang disebut AUSIT (Australian Institute for Interpreters and Translators) pada tahun 1987. Dalam jangka waktu kurang-lebih tiga tahun sejak berdirinya, AUSIT telah berhasil meyakinkan organisasi-organisasi serupa lainnya di berbagai negara bagian agar menyatu dalam satu wadah: AUSIT. Pada tahun 1987 itu, ditetapkan dua kategori keanggotaan dalam AUSIT: anggota biasa dan anggota luar biasa. Anggota biasa haruslah mereka yang mempunyai akrediatsi pada tingkat III atau sepadan.
Sebagai organisasi profesi, AUSIT menetapkan “Code of ethics” (lihat http://www.ausit.org). Kode etik bagi juru bahasa dan penerjemah tersebut ditetapkan bersama dengan NAATI. Terdapat dua hal utama: (1) general principles yang mencakup delapan kode etik, dan (2) “Code of practice” yang merupakan penjabaran kode etik. Kedelapan prinsip umum tersebut adalah:

1. Professional conduct, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah hendaknya selalu bertindak sesuai dengan standar dan tujuan AUSIT sebagai organisasi profesi bagi penerjemah dan juru bahasa.
2. Confidentiality, yakni juru bahasa hendaknya merahasiakan informasi yang diperoleh dari pekerjeaannya.
3. Competence, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah hendaknya hanya akan mengerjakan tugas yang sesuai dengan ‘akreditasi dari NAATI.
4. Impartiality, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah hendaknya tidak berpihak dalam semua kontrak profesionalnya.
5. Accuracy, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah sejauh mungkin hendaknya berusaha akurat.
6. Employment, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah bertanggung jawab atas kualitas kerjanya, baik sebagai praktisi bebas maupun praktisi yang dipekerjakan oleh perusahaan.
7. Professional development, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah akan terus mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan profesionalnya.
8. Professional solidarity, yakni bahwa juru bahasa dan penerjemah hendaknya menghormati dan mendukung rekan sekerja.

Organisasi profesi pada zaman maraknya penggunaan ratron ini sudah masuk ke dunia maya (virtual), karena tersedianya Internet (lihat pembahasan lebih lanjut di bawah, Bagian 4).

2. JURU BAHASA & PENJURUBAHASAAN

(a) Jenis
Pertama-tama sebaiknya dibedakan dulu antara penerjemahan (translating) dan penjurubahasaan (interpreting) secara jelas. Keduanya merupakan ketrampilan yang sangat khusus, dan umumnya dilakukan oleh dwibahasawan yang terlatih.

Penerjemahan berkenaan dengan teks tertulis, mulai dari karya sastra, dokumen hukum, petunjuk praktis, sampai dengan resep masakan. Banyak penerjemah yang menggarap pekerjaannya di rumah dan mengembangkan jaringan kerja dengan klien, ahli, maupun para rekan sekerja melalui komputer pribadinya (di rumah). Keberadaan e-mail, Internet dan mailing lists telah sangat memungkinkan adanya berbagai kemudahan bagi penerjemah.
Ada penerjemah yang dipekerjakan oleh perusahaan, lembaga pemerintah maupun organisasi internasional. Banyak juga penerjemah yang bekerja sebagai anggota tim besar yang menggarap tugas-tugas kebahasaan seperti sulih suara, pemasaran, penyiapan perangkat lunak, dsb.

Sebaliknya, juru bahasa adalah penerjemah lisan yang bekerja ‘on-site’, meskipun dimungkinkan dilakukan melalui telepon (telephone interpreting). Terdapat tiga jenis penjurubahasaan pada umumnya:
(a) kegiatan juru bahasa dalam konperensi (conference interpreting);
(b) juru bahasa untuk kepentingan masyarakat (community interpreting);
(c) juru bahasa untuk urusan bisnis (business interpreting).

Dalam penjurubahasaan jenis (a), biasanya juru bahasa berada dalam ‘booth’ (untuk bahasa tertentu), dan masing-masing ‘booth’ dihubungkan langsung ke ‘floor’ tempat para delegasi berkonperensi dan juga dengan ‘booth’ untuk bahasa lain. Misalnya, dalam KTT Non-Blok 1992, ‘booth’ untuk tim Indonesia dihubungkan dengan ‘floor’ dan dengan tim juru bahasa dari PBB. Masing-masing ‘booth’ biasanya diisi oleh dua juru bahasa atau lebih. Dengan demikian, kalau ada juru bahasa yang tiba-tiba terbatuk-batuk ketika menerjemahkan, maka juru bahasa ke dua akan langsung mengambil-alih.

Kalau seorang juru bahasa bisa mahir dalam dua bahasa asing (yang digunakan dalam suatu konperensi), maka hal itu akan sangat bagus sekali. Dengan demikian, ketika misalnya ia mendengarkan pengguna bahasa Inggris ‘beraksen’ yang sulit dipahaminya, maka ia bisa mengalihkan ‘switchboard’-nya ke ‘booth’ di sebelahnya (misalnya ‘booth’ bahasa Prancis) dan melakukan penerjemahkan secara ‘secondhand’—yakni dari Prancis ke Indonesia, meskipun pidatonya dalam bahasa Inggris (yang ‘beraksen’ tersebut). Cara ini pernah dilakukan dalam KTT Non-Blok di Jakarta yang lalu. Dengan demikian, juru bahasanya tak perlu diganti. [Catatan: untunglah dalam KTT Non-blok itu, Indonesia mempunyai juru bahasa yang mahir dalam 4 bahasa asing (Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis—meskipun bahasa Portugis tidak diperlukan waktu itu)]. Dalam ‘conference interpreting’, Mode atau cara penjurubahasaan biasanya dilakukan secara simultan (lihat penjelasan di bawah).

Dalam penjurubahasaan jenis (b), yakni ‘community interpreting’, juru bahasa biasanya berhadapan secara bersegi-tiga dengan klien (bahasa sasaran) dan dengan pembicara.

segitiga jurubahasa
Gambar 1. Pengaturan duduk (seating arrangement)

Sekarang ini, di Australia (maupun di belahan lain dunia ini) telah dimungkinkan juga penjurubahasaan lewat telepon (TIS= Telephone Interpreting Service). Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dengan pemanfaatan teknologi (baik dengan telepon bergambar atau tidak), penjurubahasaan seringkali dilaksanakan melalui tele-conference. Dengan demikian, penjurubahasaan dalam tataran global pun bisa dengan mudah dilaksanakan, tak terbatasi oleh kehadiran fisik, oleh karena tatap muka pun bisa terlaksana berkat kemajuan teknologi.

Di Australia sendiri, penjurubahasaan jenis (b), tetaplah yang paling umum dilakukan, yakni yang disebut ‘liaison interpreting’. Pada prinsipnya, seorang juru bahasa harus memahami hal-hal teknis yang penting, misalnya dia seyogyanya terlatih dalam ‘note taking’, mengetahui seating arrangement (gambar di atas), menerjemahkan dengan ber‘aku’ (karena juru bahasa adalah the ‘mouth piece’) dan bukannya dengan ‘s/he said’ (seperti dalam laporan), dll. Selain itu, juru bahasa harus memahami budaya dari bahasa yang diterjemahkannya, memahami peristilahan yang digunakan (misalnya istilah hukum kalau ia sering menjadi juru bahasa di pengadilan atau di ‘immigration tribunals’), terlatih menggunakan ingatan dan konsentrasi, menguasai ungkapan khusus (idiom, termasuk dialek, slang, dsb.). Di Australia, community interpreting dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari ketiga cara: ‘simultan’, ‘konsekutif’, ‘berbisik’, tergantung kepentingan dan konsensus/konvensi.

Dalam penjurubahasaan jenis (c), suasana umum pada dasarnya tidak terlalu berbeda dengan ‘conference interpreting’, hanya saja biasanya juru bahasa tidak perlu berada dalam ‘booth’ dan suasananya tidak terlalu formal. Biasanya tidak ada pidato resmi, melainkan perundingan yang melibatkan beberapa orang saja. Misalnya, pertemuan yang melakukan evaluasi pegawai hotel dan restoran (2-3 orang), pelatihan agen asuransi yang akan memasuki pasar asing (8-10 orang), dsb.

(b) Cara penjurubahasaan
Pada umumnya terdapat tiga cara penjurubahasaan (modes of interpreting): cara konsekutif (consecutive interpreting), simultan (imultaneous interpreting), dan berbisik (whisper interpreting, juga disebut chuchotage).

Cara konsekutif
Cara ini kebanyakan digunakan dalam pertemuan bisnis, pertemuan biasa, pertemuan kecil yang informal, pengaduan hukum, pemeriksaan kesehatan, dsb. Pada dasarnya:
• juru bahasa mendengarkan pembicara sambil mencatat;
• pembicara berhenti pada interval tertentu (sesudah beberapa kalimat)agar juru bahasa dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa sasaran;
• biasanya jangka waktu penjurubahasaan lebih lama daripada cara simultan, karena ada interval waktu.

Cara simultan
Cara ini kebanyakan digunakan dalam peristiwa-peristiwa berskala besar, misalnya konperensi, KTT, rapat dewan, pelatihan-pelatihan, yakni yang memerlukan penataan ruang seperti kelas atau auditorium. Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan cara ini dalam ‘liaison interpreting’ untuk kepentingan masyarakat, misalnya dalam pemeriksaan kesehatan.
Pada dasarnya:
• juru bahasa mendengarkan pembicara dan langsung menerjemahkannya ke dalam bahasa sasaran, hampir tanpa jarak waktu;
• cara simultan yang berskala besar seringkali memerlukan peralatan khusus (seperti ‘booth’);
• penggunaan waktunya efektif, karena bersifat ‘real time’ (bila dibandingkan dengan cara konsekutif)
Mungkin perlu dicatat di sini bahwa dalam penjurubahasaan konperensi, apalagi yang sangat resmi seperti KTT internasional, seringkali juru bahasa harus rajin ‘berburu’ teks, setidaknya sehari sebelum pelaksanaan tugasnya, misalnya dengan menghubungi panitia pihak negara lain. Seringkali delegasinya sudah mempunyai teks yang tertulis. Hal ini akan sangat memudahkan tugas juru bahasa pada hari pelaksanaan.

Cara berbisik
Pada dasarnya:
• Juru bahasa duduk di belakang partisipan dan menerjemahkan secara langsung melalui bisikan ke telinga pendengar (contohnya: pada zaman Orba, kita seringkali melihat di TV Pak Harto ditemani oleh ‘pak Gundul’ yang menjadi juru bahasanya dan duduk di belakangnya).

(c) Contoh kasus
Ada dua contoh yang ditayangkan: 1. Community interpreting; 2. TIS (Telephone Interpreting Service). Dalam contoh kasus 1 (lihat lampiran), dapat dilihat contoh ‘community interpreting’. Dalam contoh ini, seorang ibu yang hanya bisa berbahasa Mandarin ingin menanyakan kemajuan belajar anaknya bernama ‘Kar’ kepada Kepala Sekolah. Dalam peristiwa penjurubahasaan ini dapat kita perhatikan hal-hal berikut (melalui video):
1. diperlukannya ‘note taking’;
2. diperlukannya pemahaman peristilahan;
3. diperlukannya pemahaman sistem pendidikan (dalam hal ini sistem Australia);
4. adanya pelanggaran kode etik (lihat kode etik nomor 5 pada 1(c) di atas). Perhatikanlah bagaimana juru bahasa ‘menafsirkan’ ucapan Kepala Sekolah, pada bagian akhir teks (lihat lampiran)

Ada beberapa kemungkinan ‘penyebab’ mengapa juru bahasa ‘melanggar kode etik’:
1. dia tidak mengalami persekolahan di Australia dan tidak memahami sistem penilaian yang berlaku, tetapi tidak mau bertanya;
2. juru bahasa memperoleh akreditasi dari ‘tes’ dan tidak terlatih menangani peristiwa yang menimbulkan keraguan baginya.

Berdasarkan alasan (2) ini, banyak juga juru bahasa yang memilih menjalani pelatihan formal daripada mengambil tes akreditasi.
Demikian juga pada contoh yang kedua, yang menuntut pemahaman non-bahasa. Contoh TIS yang ditayangkan di sini kebetulan masih menggunakan ‘telepon kuno’ karena contoh tersebut direkam di tahun 95-an. Namun demikian, prinsip ‘telephone link-up’ yang digunakan dalam TIS tetap sama (seperti yang sudah disebutkan sebelumnya dalam prinsip tele-conference). Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut tak terbatasi oleh batas fisik.
Contoh yang paling mudah untuk disebutkan di sini adalah ketika ada proses adopsi oleh orang tua angkat Australia yang calon anaknya ada di negara lain. Hukum Australia mengharuskan DoCS (Department of Community Services) untuk mewawancarai orang tua kandung. Peristiwa ini tentu melibatkan juru bahasa melalui TIS, dan ketiga pihak (pewawancara, orang tua kandung, calon orang tua angkat) semuanya ada di rumah masing-masing, di negara masing-masing.

3. PENGALAMAN AUSTRALIA: PELATIHAN JURU BAHASA DAN PENERJEMAH
Terdapat dua jenis pelatihan yang harus dibedakan: ‘trade courses’ yang diselenggarakan oleh TAFE (sejenis akademi) dan pelatihan yang lebih merupakan pencapaian prestasi akademik atau sebagai kajian akademik di perguruan tinggi.

Penerjemahan dan Penjurubahasaan sebagai ‘Trade courses’
Dengan memperhatikan sejarah lahirnya COPQ dan NAATI tersebut di atas, maka jelaslah bahwa tujuan dasar bagi penjelanggaraan kegiatan penjurubahasaan dan penerjemahan (Interpreting and Translating disingkat I/T) adalah untuk kepentingan masyarakat. Itulah sebabnya, kedua kegiatan tersebut disebut “Community Interpreting and Translating”. Sebagaimnana dsiebutkan di atas, bahkan tersedia ‘Telephone Interpreting Service’ (TIS).
Oleh karena ciri dan hakikat I/T di Australia yang demikian itu, maka pelatihan dan pengajaran di bidang I/T pun banyak yang mengarah ke sana, khususnya yang diselenggarakan oleh TAFE. Pelatihan yang diselenggarakan tersebut mengarah ke kualifikasi yang disebut ‘trade’ atau ketrampilan siap pakai, yang oleh Departemen Imigrasi ‘dihargai’ dengan jumlah ‘poin’ tertentu apabila seseorang ‘melamar’ untuk hidup sebagai penduduk tetap di Australia.
Pelatihan yang diberi akreditasi oleh NAATI semakin banyak dikejar orang, karena ‘harga’ tersebut. Itulah pula sebabnya NAATI menjadi lembaga yang semakin ‘powerful’. Artinya, meskipun seseorang sudah menyelesaikan program tertentu di sebuah universitas, kalau lulus dia tidak serta merta bisa (baca boleh) praktek sebagai juru bahasa/penerjemah tanpa akreditasi NAATI. Kenyataannya, memang akreditasi NAATI juga diakui oleh PBB. Memang ada pengecualian dalam praktek, misalnya penerjemahan teks yang tak ada signifikansinya bagi urusan keimigrasian tidak memerlukan akreditasi NAATI. Sebagai contoh, penerjemah yang bekerja di pusat-pusat riset (misalnya di the Australian SMERU research centre di Jakarta) tidak disyaratkan akreditasi ini. Yang diperlukan justru paham Trados.

Maka, seringkali kalau ada jurusan yang menawarkan mata kuliah ‘translating’ dan/atau ‘interpreting’ di universitas, mahasiswa seringkali bertanya apakah ada akreditasi NAATI untuk itu. Jelaslah bahwa tanpa akreditasi ini, mata kuliah tersebut ‘kurang laku dijual’. Seringkali pula, para dosen pengajar mata kuliah ini harus menulis secara eksplisit dalam ‘course outline’ bahwa mata kuliah ini melulu kajian akademik dan tidak ada sangkut-pautnya dengan akreditasi NAATI.
Bagi lembaga-lembaga pendidikan seperti TAFE yang diakui oleh NAATI, harus ada standar jumlah jam latihan tertentu yang harus dipenuhi. Itupun oleh NAATI disebut “NAATI approved courses” bukan “NAATI accredited courses”.

Penerjemahan dan Penjurubahasaan sebagai Mata Kuliah di Perguruan Tinggi

Seperti disampaikan di atas, mahasiswa seringkali bertanya apakah suatu prgram atau mata kuliah I/T diberi akreditasi NAATI. Sebagai mata kuliah atau program, ada keseimbangan antara teori dan praktek, atau bahkan kadang-kadang lebih banyak teori daripada prakteknya. Alasannya, diharapkan para mahasiswa akan melanjutkan kajiannya ini dalam bentuk riset di belakang hari. Toh untuk praktek, mereka bisa mengambil tes NAATI.
Seringkali, di beberapa Perguruan tinggi, mata kuliah I/T ini berdiri sendiri sebagai mata kuliah pilihan (misalnya dalam program Applied Linguistics di UNSW). Namun, ada juga yang menawarkannya sebagai paket yang terpadu, meskipun terkadang masih dalam bentuk tambal-sulam, misalnya paket yang ditawarkan oleh Macquarie University, pada tingkat Magister (lihat http://www.ling.mq.edu.au/dbase/program.phtml?oid=38752); Jurusan Bahasa Cina di UNSW mempunyai struktur yang serupa.

Di universitas Macquarie, misalnya, ada satuan mata kuliah inti dan satuan pilihan. Uniknya, praktek penerjemahan diletakkan sebagai satuan pilihan (bukan wajib). Hal ini tentunya sangat berbeda dengan trade courses di TAFE.
Di UNSW, keadaannya lebih-lebih lagi, karena, misalnya, mata kuliah yang saya ajarkan “Translation: Theory and Practice” merupakan bagian dari program “Applied Linguistics” yang ditawarkan di Jurusan Linguistik. Pada tataran School (yang menjadi ‘payung’ bagi jurusan-jurusan bahasa dan linguistik) sekarang ditawarkan program magister yang lebih terpadu, meskipun tanpa embel-embel ‘akreditasi NAATI’. Ada upaya untuk ‘berkiblat’ ke Montreal (The Monterey Institute of International studies) yang mempunyai program dengan penekanan pada conference interpreting. Namun, inipun masih belum terlaksana sepenuhnya.

Tidak mudah memilih prinsip atau ‘ideologi’ yang mendasari model pelatihan yang dipilih: apakah lebih ke teori, lebih ke praktek, ataukah keseimbangan antara keduanya serta bagaimana bentuknya. Mengingat asal-mula terbentuknya NAATI dan sejarah kegiatan I/T di Australia, maka idealnya memang segala pelatihan mengarah ke sana. Namun, bila melulu ideologi ini yang diikuti, maka ‘translation as academic studies’ bisa terkesampingkan. Padahal, translation studies sekarang sudah jauh berkembang menjadi kajian yang semakin menarik, yang bisa diantarkaitkan dengan kajian lain seperti postcolonial studies, discourse studies, dll. Yang paling umum adalah kaitannya dengan cultural studies.

4. PENJURUBAHASAAN (DAN PENERJEMAHAN) PADA DASAWARSA 20-AN

Sebagai praktisi juru bahasa (dan penerjemah), banyak hal yang saya rasakan perubahannya akhir-akhir ini. Misalnya, dengan tersedianya ratron atau email, kegiatan penerjemahan menjadi tidak terbatasi oleh batas geografis. Kadang-kadang, ada pesanan dari Amerika untuk dikerjakan di Australia, dari Indonesia untuk dikerjakan di Singapura, dsb.

Dengan demikian, untuk teks-teks yang tidak ada kaitannya dengan dokumen keimigrasian, akreditasi NAATI tidak lagi terlalu diperlukan, dan kadang-kadang klien bahkan tidak menanyakannya. Untuk kegiatan penerjemahan dalam volume yang besar, yang seringkali ditanyakan oleh klien atau perusahaan besar adalah: apakah penerjemah punya trados. Trados adalah program ‘information management’ yang dikeluarkan oleh Microsoft (kabarnya baru saja dibeli oleh perusahaan SDL). Melalui program ini, penerjemahan teks dalam jumlah besar yang memerlukan konsistensi frase dan peristilahan akan mudah dikerjakan. Namun, dengan harganya yang tak terjangkau, seringkali penerjemah lepas tidak bisa membelinya.

Melalui ratron, segala ‘order’ penerjemahan sekarang bisa dilakukan, termasuk ‘subtitling’ atau ‘screen translating’. Di masa lalu, penerjemah harus menghitung jumlah karakter dalam terjemahannya agar tidak memenuhi layar kaca. Dengan tersedianya ratron, penghitungan tersebut tidak lagi diperlukan. Klien akan mengirim teks elektronik (berbentuk teletext) lengkap dengan ruang yang sudah ditetapkan untuk terjemahannya, dan penerjemah tinggal menyesuaikannya dengan konteks (termasuk konteks visual dalam kasus penerjemahan film).

Seperti disebutkan di atas, kegiatan penjurubahasaan pun sudah bisa memanfaatkan kemajuan teknologi melalui tele-conference.

Organisasi profesi lewat ratron
Dengan timbulnya berbagai mailing lists atau kelompok diskusi melalui ratron belakangan ini, solidaritas antar para penerjemah (dan juru bahasa) semakin luas dan terbina dengan baik. Salah satu ajang diskusi dan tukar pikiran yang melibatkan bahasa Indonesia adalah “bahtera” (website: http://www.geocities.com/Athens/Olympus/7484/, dan mailing list-nya adalah (bahtera@yahoogroups.com). Tentu banyak sudah menjadi anggotanya (mungkin dari para hadirin juga).
Dengan adanya ‘mailing list’ tersebut, poin terakhir dalam kode etik NAATI (professional solidarity) sangat mudah dilaksanakan (meski pelaksananya tidak mengetahui adanya kode etik tersebut). Lowongan-lowongan penjurubahasaan juga seringkali disampaikan melalui ‘Bahtera’.

PENUTUP:

Globalisasi telah menyebabkan perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk di bidang penerjemahan dan penjurubahasaan. Berdasarkan pengalaman Australia sebagai Negara multicultural, telah dibahas kegiatan penjurubahasaan dan penerjemahan di Australia, yang muncul dari kebutuhan masyarakat. Berdasarkan kebutuhan ini telah dibentuk Badan Otonom yang mengatur akreditasinya.
Oleh karena sejarahnya yang melibatkan urusan keimigrasian, maka kegiatan penerjemahan dan penjurubahasaan pada awalnya hanya ditangani sebagai bagian dari Departemen Imigrasi. Baru beberapa lama kemudian, penerjemah dan juru bahasa menjadi profesi yang diakui keberadaannya secara hukum sehingga penetapan ‘gaji’nya pun diatur. Seiring dengan itu, dibentuk pula Lembaga Profesi yang menelurkan kode etik profesi. Seiring dengan itu pula, pelatihan penerjemahan dan penjurubahasaan disesuaikan dengan tuntunan NAATI, dan untuk kepentingan akreditasi NAATI. Namun, penerjemahan dan penjurubahasaan juga menjadi ranah ‘pendidikan’ di perguruan tinggi yang seringkali menekankan sisi teoretik penerjemahan. Di sinilah sisi yang perlu diperhatikan dan masih perlu pemecahan mengenai iedologi yang dianut, dsb.
Seiring dengan kemajuan teknologi, penerjemahan tidak hanya melibatkan ‘manusia’ sebagai ‘pelaksana’ penerjemahan. Ada perangkat lunak yang bisa membantu manusia dalam menerjemahkan suatu teks. Bidang teknologi ini merupakan hal yang tidak bisa dilupakan dalam pelatihan dan pendidikan penerjemah.

——-
Rujukan:

Collins, P (2007), The Progress of Progressive Tenses, ALAA, forthcoming.
Gentile, Adolfo et al, Liaison Interpreting, Melbourne: Melbourne University Press.
Gile, Daniel, Basic Concepts and Models for Interpreter and Translator Training, Amsterdam: John Benjamins, 1995.
Ginori, Luciano, Introduction to Interpreting, Sydney: Lantern, 1995
Machali, Rochayah, Pedoman bagi Penerjemah, Jakarta: Grasindo: 2000.
Machali, Rochayah, Redefining Textual equivalence in Translation, Jakarta: PPUI, 1998
Ozolins, Uldis, Interpreting, Translating and Language Policy, Melbourne: NLIA, 1991.
Snell-Hornby (1999) dalam Schäffner (1999), Editorial: Globalisation, Communication, Translation, Current Issues in Language and Society, Vol. 6, No. 2, 1999.
Thomas. Noel et al, Interpreting as a Language Teaching Technique, London: Centre for Information on Language Teaching and research, 1985.
Seleskovitch, D., Interpreting for International Conferences, Washington: Pen and Booth, 1978.

Websites:
AUSIT http://www.ausit.org
NAATI http://www.naati.com.au
Bahtera http://www.geocities.com/Athens/Olympus/7484/

Videos:
A World in Edgeways (Interpreting in health contexts), Melbourne: Training, Health &
Educational Media Pty Ltd, 1989.
Walking a tightrope: interpreting for professionals, Canberra: National Accreditation
Authority for Translators and Interpreters [distributor], 1984.
Interpreting ethics: ethical issues for community interpreters, Sydney: Open Training and
Education Network, 1996.
Moving towards meaning: interpreting techniques, Adelaide: International Languages and
Tourism, Adelaide Institute of TAFE, 1998.
LAMPIRAN
At the headmaster’s office: Mrs. Lam – Cantonese

HM= Headmaster; I = Interpreter; M= Mother (Mrs. Lam)

HM: How can I help you?
M: …………………………..
I: I want to see you today because I want to talk to you about my son’s study plan.
HM: Tell Mrs. Lam she’s got nothing to worry about. Kar is doing well in all of his subjects.
I: …………………………..
M: …………………………..
I: Yes, all except Math.
HM: Math IS one of his weakest subjects, but it’s above the average, and is improving all the time.
I: ( to M) …………………………..
M: …………………………..
I: (to HM) But we want him to do dentistry and we think he should do 4 Unit Math and I have heard that these difficult subjects are scaled up, so Karr would get better marks? Is that true?
HM: No, I think he should concentrate on his stronger subjects. And it’s common perception that scaling increases your TER score. Now what actually happens is that all courses in the HSC are given the mean percentage. This applies, whether the courses are Math, Math in Society or 4 Unit Math.
I: (to M) …………………………..
HM: (cont) Scaling depends upon the mean and ability of the course candidates. And it may be true that students who choose to do Math in practice are of the lesser ability than students who choose to do 4 Unit Math. So if the course has students in it who are above the average they will be scaled down, and if there are students who are below the average, they will be scaled up.
I: (to M- hesitant, in Cantonese)…. (with subtitles on the screen) scaling depends on the ability of the candidate, but students who choose 4 Unit Math are probably better… Students who are doing worse than others will be scaled up.
M: (in Cantonese — with subtitles) O I see. I’ll take him to 4 unit Math tutoring over the summer break. (…terus mengangguk dan pergi)…….
HM: What did you tell her?

 

 

The Use of Translation for English Teaching in Indonesia: An Attempt to Reclaim Its Legitimacy

by Futuh Handoyo, State Polytechnic of Malang

 

While the status of translation as a field of study is improving with increasing institutional standing, translation as learning and teaching device is still viewed with great suspicion. As a field of study, translation is learned by those who have acquired sufficient proficiency in second language with the purpose of becoming professional translators. As a tool of learning and teaching, translation is used as a technique in the process of acquiring the target language learned. Unluckily, the growing status of translation as a field of study does not automatically justify its rehabilitation as a language teaching instrument.
On the heyday of Grammar Translation Method, translation played a central role in language classroom. The method gained wide acceptance before its decline around the end of nineteenth century along with the advent of Direct Method (Omaggio, 1986). Since then translation for classroom use has been faced with objections of various kinds. The proponents of Direct Method argued that the goal of learning a second and or foreign language was the ability to communicate orally using the target language so the use of students’ native language was strongly prohibited. Audio Lingual Method, a subsequent popular method, also showed strong objection to the use of students’ native language in the classroom as they thought that students’ native language constituted a major source of interference, which would impede the successful process of acquiring the target language. Though not as strong as the above methods, Communicative Approach, which is still widely accepted nowadays, also have significant objection to the use of translation for classroom use. Most language teachers today have been the advocates of this method and largely avoid using translation in their teaching activities, although few of them begin to view it differently.
For a long time, foreign language teaching, particularly English language teaching, in non English departments in Indonesia has been swaying, going to where the winds of global mainstream methods blow, but until now there is still no record reporting significant improvement in the result. It has been a history of series of failures and disappointment. This seems to be the calling to approach the problem with more dignity and self confidence. Instead of just becoming loyal followers and consumers of global methods, experts and practitioners of language teaching in Indonesia should begin to dive into their own ocean directly, activating their own logic and intuition to probe real and actual problems and create genuine solutions. They should increase their understanding on their own problems and contexts so if strategies, methods, or approaches should be adopted or adapted from out there, consideration should be made on their suitability much more than on their worldwide acceptance.
The main objectives of this paper are, first, to reassess the role of translation in English pedagogy for Indonesian context and, second, to describe the case example of how translation is used to teach grammar for more productive purposes.

ARGUMENTS AGAINST OBJECTIONS TO TRANSLATION
First objection
Translation should be avoided because the goal of foreign language teaching nowadays is to help learners to develop communicative competence, primarily spoken communication, while translation only works to develop the learners’ ability to understand written language. This is a typical criticism imposed by the proponents of Direct Method to Grammar Translation Method. This is obviously not fair to blame translation simply because the method that uses translation as its central technique does not serve the goal that is not its own goal. Translation has been abandoned due to the outdated ness of Grammar Translation Method orientation, not due to its own evil. Translation should not have been treated as a victim until hard efforts are made to adjust how it is used with the new language orientation.

Second objection
Translation should be rejected as it is a source of language interference which will result in language deviation. This is criticism from the proponents of Audio Lingual Method, who believe that language is habit formation. As they see it, wrong habits and deviation of any kinds should be avoided as early as possible, otherwise they will be very hard to eradicate. This criticism is, in fact, not realistic as a number of studies have convinced that errors are inevitable and even believed as an indicator of progress. Not even single human being can acquire language without making deviation even when he learns his native language.

A process of acquiring new language, then, should be seen as a process of acquiring successive dialects or language systems which have distinct features from the learners’ native language or target language, with the early systems being closer to their native language and the later systems to their target language. These successive language systems are referred to, in most literatures, as interlanguages (Selinker, 1974).
Learners of early interlanguage stages or beginners still have very limited skill and knowledge about the target language so they tend to use their previous mother tongue as a means to organize the target language data (Brown, 1978).. Therefore, in these stages, interference from native language is unavoidable and the learners will transfer their L1 features to their L2, in spite of prohibition whatsoever. The interlingual deviations will diminish gradually as their competence in L2 is increasing. Thus, it is a waste of time telling the early learners not to translate as it is unrealistic and against their instinct. To reduce the problems of interference, learners are not to block them but to go through them.

ARGUMENTS SUPPORTING TRANSLATION FOR EFL IN INDONESIAN SCHOOLS
First argument
Most students, if not all, still have early interlanguage level and, thus, the pull of interference is still very strong. They still largely rely on Indonesian when producing English so they need to be guided how to do it properly.
.
Second argument
Comprehensible language input is very limited so the chance for incidental learning to take place is low and, in turns, the chance for progress to naturally proceed beyond early interlanguage stage is also low. Deliberate efforts on both sides, the students and the teachers, are necessary to avoid premature fossilization. Lack of grammatical competence has high risk of early fossilization and translation is potential to improve grammatical competence.

Third argument
All students and teachers come from the same native language background so translation strategy has high aspect of practicality. Potential difficulties that are rooted in L1 interference is possible to predict using contrastive linguistic and, thus, material selection and grading can be made for class.
HOW TRANSLATION IS USED TO IMPROVE THE STUDENTS SUBCONSCIOUS GRAMMATICAL COMPETENCE (CASE EXAMPLE).

Conscious vs. subconscious grammar
The terms conscious and subconscious grammar was coined by Stephen Krashen. Conscious grammar refers to grammar competence that is accomplished through conscious process of learning and usually in formal setting with language form as its focus, while subconscious grammar is grammar competence that is acquired subconsciously in natural setting with language meaning as its focus. He claimed that only acquired subconscious grammar competence can give contribution to productive ability, while learned conscious grammar competence only operates as monitoring agent. In addition, He also views that conscious and subconscious knowledge are entirely distinct with the result that conscious competence is not convertible into subconscious competence (Dulay and Krashen, 1982)
The above distinction has also been made by some other authors and variously referred to as declarative-procedural by Anderson, static-dynamic by Diana Larsen Freeman, controlled-automatic processing by Mclaughin and explicit-implicit by Rod Ellis. However, they are different from Krashen in that they believe that conscious grammar competence can be converted into subconscious grammatical competence. Therefore, unlike Krashen, who holds that explicit grammar teaching is not required and, thus, proposes zero-grammar instruction, they indicate its necessity.
Subconscious or implicit grammar competence can be acquired inductively through subconsciously generalizing substantial language input the learners are exposed to, or deductively through internalizing what they have learned consciously. The first, then, is called generalized subconscious or implicit grammar competence and the latter is called internalized subconscious or implicit grammar competence.

Theoretical framework: Anderson’s Cognitive Automaticity Theory
Anderson describes the route through which explicit or conscious knowledge is transformed into implicit or subconscious knowledge. Instead of using the terms explicit and implicit knowledge, he introduced the concept of declarative knowledge and procedural knowledge. In order to bring declarative knowledge into use, or to convert explicit knowledge into implicit knowledge, there are three stages to go through, cognitive stage, associative stage, and autonomous stage (O’Malley, retrieved 2008).

During the cognitive stage, the learner is instructed or self learn the rules to do a certain task consciously and result in a sort of declarative knowledge, which he or she can describe verbally. In this stage, the learner gets intellectual understanding on how to do the task but it is still inadequate for skilled performance. The knowledge is stored in short-term memory, which is capacity-limited. During the second or associative stage, two main changes occur along the process of converting the declarative into procedural knowledge. The learner begins to attempt to put his or her learned declarative knowledge in use. However, he or she still makes a lot of errors, which are gradually detected and eliminated along the course of practice. Besides, the connections among the various components required for successful performance are strengthened. This is a slow process and the ultimate result is that declarative knowledge is now turned into its procedural form or proceduralized. During the third or autonomous stage, the learner’s performance becomes increasingly fine-tuned. Performance of the skill becomes virtually spontaneous and automatic and errors inhibiting successful performance disappear. The force on the part of the learner becomes more effortless and less conscious. The knowledge now is stored in long-term memory, which is capacity-unlimited. In short, declarative knowledge can be learned in one trial but a skill can only be mastered after relatively long period of practice.

Anderson’s three stage processing matches PPP teaching procedure, in which Cognitive stage relates to Presentation, Associative stage to Practice, and Autonomous stage to Produce. Out of the three stages, it is obvious that the second stage constitutes the most complex and crucial stage because it is exactly there the process of converting knowledge to skill is in progress; consequently, in PPP procedure the Practice step constitutes the most challenging step. Mechanical drill in Audio-Lingual Approach and communicative drill in Communicative Language Teaching with their repetition seem to be designed to serve this purpose. Therefore, it makes sense to say that the success of converting knowledge into skill depends largely on whether the learners make a lot of practice or not.

General Principles:
1). Deductive grammar teaching is seen as complementary to inductive grammar teaching and consciousness raising.
2). Grammar items to be taught deductively should be selected only those that are basic and global and have strong role in comprehensibility. Other complicated details are left to subconscious acquisition process and consciousness raising through communicative activities in Speaking and Reading classes.
3). Though distinguishable, conscious learning is not separable from subconscious acquisition. Grammar items learned consciously can subsequently be put into the subconscious or made automatic through three stages described by Anderson.
4). Form-meaning connection should be made to enhance acquisition.
5). Grammar teaching should focus on facilitating students’ interlanguage development.
6). Translation practice should not be done on surface structure or syntactic level only but on semantic level.
7). The Indonesian expressions to be translated should be those that the students are likely to use, instead of standard Indonesian only.
8). Written drill should complement oral drill to reduce the students’ being too exhausted.
7). Students’ positive attitude and their active participation in teaching and learning activities play a very important role in learning success.

General procedure
The procedure of the teaching is basically deductive, proceeding from rule conscious understanding, which constitutes short term memory, to rule subconscious internalization, which is long term memory. In spite of hard criticism, the technique adapts the variant of Audio Lingual procedure which is often referred to as PPP. PPP stands for Presentation, Practice, and Produce.
Since grammar has delayed effect and, hence, takes long time to be reflected in language natural production, the target in this teaching is only to improve the students’ speed in translating Indonesian sentences orally. In Practice stage, a grammar rule consisting of mainly form and meaning is presented deductively using Indonesian language. In Practice stage, unlike in its original practice which focuses on mechanical drill such as substitution drill, etc., more cognitive practice in the form of translating Indonesian expressions into English is given. The early part of practice is focused to reinforce the students understanding. The effect of the practice is observed thoroughly to monitor the students’ conscious understanding and error correction, therefore, is often made. The later part is focused on internalizing the conscious understanding to more subconscious competence. In this stage, the speed of the practice is increased gradually and correction is focused more on students’ mistakes. Finally, Produce stage is used to test the result.
Since learning-acquisition category is seen as a continuum, there is no clear-cut demarcation border between conscious learning and internalization stage. The movement from reinforcing conscious understanding to internalizing the conscious understanding constitutes a fading emphasis from the heavy weight of conscious learning proceeding gradually to that of subconscious internalization.

Sample learning scenario
Topic : Full verbs vs. verbs be
Objectives : 1. Students are able to identify propositions that require verbs be and those that do not.
2. Students are able to translate propositions that require verbs be and those that do not into grammatical English sentences.
Procedure : 1. The teacher explains about the rules of basic English sentences (sentences with be and without be) by comparing with the corresponding Indonesian sentences.
2. The teacher trains the students to be able to judge very quickly whether a sentence requires be or not. First, the class is divided into groups of five or so, then they are given ten Indonesian sentences, some of which require be and some others do not when translated into English. What is required from them is only write be (is, am or are) or verb (go or goes etc.) For example, for the sentence Ayahku di rumah, they should write is, and for the sentence Ibu kerja di bank, they should write only works
3. The students submit their work (one work for one group). The teacher corrects their work and gives it back to discuss in the groups.
4. The teacher asks the groups to translate the complete sentences and submit to him to correct and give back to them.
5. The teacher dictates another ten Indonesian sentences and tells the students to work individually translating the sentences into English. In order that the students focus their attention on grammatical problem, they may ask the teacher about difficult vocabulary, if any. They, then, submit their work and the teacher correct the work at home.

 

REFERENCE

 

Brown, H. Douglas 1987. Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey: Prentice Hall, Inc

Ellis, Rod. 2001. The Study of Second Language Acquisition. Oxford: Oxford University Press

Dulay, Heidi., & Krashen .Stephen. 1982. Language Two. New York: Oxford University Press

Llantada, M Carmen Perez. 2007. New Trends in Grammar Teaching: Issues and Application: An Interview with Prof . Diana Larsen-Freeman. ATLANTIS 29.1. Retrieved August, 2008 from http://www.atlantisjournal.org/Papers/29_1/MCPérez-Llantada.pdf

Omaggio, Alice C. 1986. Teaching Language in Context. Heinle & Heinle Publishers Inc.

O’Malley, J. Michael, et al. Some Application of Cognitive Theory to Second Language Acquisition. Retrieved August, 2008 from http://coursestar.org/ku/markham/TL817/docs/O_Malley.htm

Selinker.1974. Interlanguage, in Jack Richard (ed), Error Analysis Perspectives on Second Language Acquisition,). London: Longman Group Limited,

AN ANALYSIS OF EQUIVALENCE AT WORD LEVEL IN “THE LOST SYMBOL” TRANSLATION OF ENGLISH INTO INDONESIAN

Laila Sarah Puspita Sari

A Candidate of Master of Applied Linguistics of Universitas Brawijaya

 

According to Newmark (1988:7), translation is a craft consisting in the attempt to replace a written message and/or statement in one language by the same message and/or statement in another language. Then Nida and Taber (1982:12) propose a rather complete definition of translation, that “Translating consisting of reproducing in the receptor language the closest natural equivalence of source language message, first in terms of meaning and secondly in term of style.” Meanwhile, Catford (1965:20) also states that translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL).

Working on translation, technically, a translator has to know the equivalency in translating the source language to the target one. As we know, translation peers always encounter different changes in equivalence within different language levels ranging from physical forms into meaning. Bell (1991:20) defines the phenomenon as “the replacement of a representation of a text in one language by a representation of an equivalent text in a second language.” Baker (2001:77) defines equivalence as the relationship between a source text (ST) and a target text (TT) that has allowed the TT to be considered as a translation of the ST in the first place. From what the experts’ statement above, we can say that equivalence is the most important element in the process of translation.

This paper discusses translation problems arising from lack of equivalence at word level; what does a translation do when there is no word in the target language which expresses the same meaning as to be source language word? Based on those considerations, this paper deals with one of the types of equivalence that Baker proposed in her study, that is equivalence at word level. The data are taken from one of the Dan Brown’s novel, “The Lost Symbol” (Chapter 1) translation of English into Indonesian.

 

THEORETICAL FRAMEWORK

Baker (2001) explores the notion of equivalence at different levels: equivalence at word level, equivalence above word level, grammatical equivalence, textual equivalence, and pragmatic equivalence. These levels of equivalence are closely related to the translation process, including all different aspects of translation and hence putting together the linguistic and the communicative approach. There is n on-to-one correspondence between orthographic words and elements of meaning within across language (Baker, 2001:11). In her book, Baker also describes common problems of non-equivalence at word level and the strategies dealing with it.

Culture-specific concepts

The source-language word may express a concept which is totally unknown in the target language (abstract or concrete; it may relate to a religious belief, a social custom or even a type of food).

The source-language concept is not lexicalized in the target language

The source language word may express a concept which is known in the target culture but simply not lexicalized, that is not “allocated” a target language word to express it.

The source-language word is semantically complex

The source-language word may be semantically complex.

The source and the target languages make different distinctions in meaning.

The target language may make more or fewer distinctions in meaning than the source language.

The target language lacks a superordinate

The target language may have specific words (hyponyms) but no general word (superordinate) to head the semantic field.

The target language lacks a specific term (hyponym)

More commonly, languages tend to have general words (superordinate) but lack specific ones (hyponyms).

Differences in physical or interpersonal perspective

Physical perspective has to do with where things or people are in relation to one another or to a place, as expressed in pairs of words such as come/go, take/bring, arrive/depart, etc. perspective may also include the relationship between participants in the discourse (tenor).

Differences in expressive meaning

There may be a target-language word which has the same propositional meaning as the source-language word, but it may have a different expressive meaning.

Difference in form

There is often no equivalent in the target language for particular form in the source text.

Differences in frequency and purpose of using specific forms.

Even when a particular form does have a ready equivalent in the target language, there may be a difference in the frequency with which it is used or the purpose for which it is used.

The use of loan words in the source text

Words such as au fait, chic and alfresco in English are used for their prestige value, because they add an air of sophistication to the text or its subject matter. This is often lost in translation because it is not always possible to find a loan word with the same meaning in the target language.

In addition, Baker also proposes some strategies dealing with it as follows:

  • Translation by a more general word (superordinate)
  • Translation by a more neutral/ less expressive word
  • Translation by cultural substitution, which involves replacing a culture-specific item or expression with a target-language item which does not have the same propositional meaning but is likely to have a similar impact on the target reader.
  • Translation using a loan word or loan words plus explanation,which is particularly common in dealing with culture-specific items, modern concepts and buzz words. Following the loan word with an explanation is very useful when the word in question is repeated several times in the text.
  • Translation by paraphrase using a related word, whic his used when the concept expressed by the source item is lexicalized in the target language but in a different form, and when the frequency with which a certain form is used in the source text is significantly higher than would be natural in the target language.
  • Translation by paraphrase using unrelated words. This is done if the concept expressed by the source item is not lexicalized at all in the target language, the paraphrase strategy can still be used in some contexts.
  • Translation by omission is adopted whenthe meaning conveyed by a particular item or expression is not vital enough to the development of the text to justify distracting the reader with lengthy explanations, translators can and often do simply omit translating the word or expression in question.
  • Translation by illustration is a useful option if the word which lacks an equivalent in the target language refers to a physical entity which can be illustrated, particularly if there are restrictions on space and if the text has to remain short, concise and to the point.

 

 DATA DISPLAY

In this paper, the data are categorized based on the problems of equivalence at word level.

  1. Culture-specific concepts
  • the 555-foot –> 555 kaki (170 meter)
  • turtlenecks –> Kaus berleher tinggi
  • cravat –> cravat (dasi)
  • fascalia –> fasealia (syal pengikat leher)
  • Staccato –> suara berderak
  1. The source language concept is not lexicalized in the target language
  • austere –> sederhana
  • daybag –> tas bahu
  1. The source-language word is semantically complex
  • unloading platform –> platform untuk menurunkan penumpang
  • collegiate cordovan loafers –> sepatu kulit santai model mahasiswa
  1. The source and the target languages make different distinctions in meaning
  • voice –> aksen
  • read –> membahas
  1. The target language lacks of superordinate
  • leaned –> mencondongkan tubuh
  • saying –> mengucapkan
  • climbing –> naik merayapi ­
  1. The target language lacks of specific term
  • craning –> menjulurkan leher
  • spire –> menara
  1. Differences in physical or interpersonal perspective
  • you –> kau
  • child –> bocah
  • boy –> anak laki-laki
  • boy –> bocah
  • woman –> perempuan
  • your guest –> tamu Anda
  1. Difference in form
  • unexpected –> tak terduga
  • Hate –> tidak ingin
  • background –> latar belakang
  1. The use of loan words in the source text
  • corporate jet –> jet korporasi
  • symbology –> simbologi
  • philanthropist –> filantrop
  • dynasty –> dinasti
  • silhouette –> siluet
  • etymologically –> etimologis

DISCUSSION

As mentioned in the previous part, Baker in her book “In Other Words” proposed some strategies dealing with the problems that translator may face in translating the English into Indonesian. In this part, the work focuses on analyzing the problem and the strategies that the translator deals with.

Culture-specific concepts

a. Data: the 555-foot –> 555 kaki (170 meter)

ST : The 555-foot marble-faced obelisk marked the nation’s heart.

TT : Obelisk berpermukaan marmer setinggi 555 kaki (170 meter) itu menandai jantung bangsa ini.

It is proper for Western to say foot to describe the measure of altitude or length. The foot is still legally recognized as an alternative expression of length in Canada, officially defined as a unit derived from the metric metre and still commonly used in the United Kingdom, although both have partially metricated their units of measurement. The foot is widely used outside the English-speaking country (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Foot_(unit)). In this phenomenon, the translator decides to translate it into 555 kaki and add explanation (170 meter) in which the measurement of length in meter sounds familiar in Indonesia.

b. Data: turtlenecks –> Kaus berleher tinggi

ST : The woman laughed. ‘Those turtlenecks you wear are so dated. You’d look much sharper in a tie!’

TT : Perempuan itu tertawa. “Kaus berleher tinggi yang Anda kenakan kuno sekali. Anda akan tampak jauh lebih cerdas dengan kemeja berdasi!”

American describes turtleneck as a garment, usually a sweater with a close-fitting, round, and high collar that folds over and covers the neck. Indonesian does not have the equivalence word of turtleneck because it is originally worn by American and Australian. The translator tries to find the cultural substitution for this in order to be more understandable for Indonesian. Therefore Kaus berleher tinggi is the best translation for turtleneck by describing how turtleneck looks like, that is t-shirt with high collar that folds over and cover the neck.

c. Data: cravat –> cravat (dasi)

d. Data: fascalia –> fasealia (syal pengikat leher)

ST: —and despite the headmaster’s romantic claims that the origin of the cravat went back to the silk fasealia worn by Roman orators to warm their vocal cords,—

TT : —Walaupun ada pernyataan romantis dari pemimpin akademi bahwa cravat (dasi) berasal dari fasealia (syal pengikat leher) sutra yang dikenakan para orator Romawi untuk menghangatkan pita suara,—

Western describe cravat is a scarf or band worn around the neck as a tie especially by men. Cravat means the forerunner to the modern tie. Historically, a cravat is a symbol of culture and elegance associated with Croats in the 17th century (http://academia-cravatica.hr/interesting-facts/history/). Nowadays cravat is worn by bridegroom of Western style. Again there is no equivalent word for cravat in Indonesian and we only have tie to call kind of long piece of cloth around the neck. In consequence, the translator uses a strategy by keeping the source text and give explanation as an addition, which sounds general or neutral for Indonesian that cravat can be described as the same as tie.

The same phenomenon exist in translating fascalia, there is no equivalence word for fascalia then the translator keeps the word and give explanation in the bracket

The source-language word is semantically complex

  • unloading platform –> platform untuk menurunkan penumpang

ST: Almost there, the boy told himself, craning his neck and looking up at the unloading platform.

TT: Hampir sampai, ujar bocah itu kepada diri sendiri, seraya menjulurkan leher dan mendongak memandangi platform untuk menurunkan penumpang.

In this case, the source text word is semantically complex and the translator decides to translate unloading platform intoplatform untuk menurunkan penumpang. The strategy which is applied is translation by paraphrasing using a related word

  • collegiate cordovan loafers –> sepatu kulit santai model mahasiswa

ST: He was wearing his usual charcoal turtleneck, Harris Tweed jacket, khakis, and collegiate cordovan loafers—

TT: Seperti biasa, dia mengenakan kaus abu-abu tua berleher tinggi, jaket Harris Tweed, celana panjang khaki, dan sepatu kulit santai model mahasiswa

The same problem happens in this part of text. If we translate it word-for-word, it causes a long text to explain one by one the term of that kind of shoes. Then, the same strategies used to transfer the appropriate meaning that is by paraphrasing using related words to get the understandable and acceptable translation.

The source and the target languages make different distinctions in meaning

  • voice –> aksen

ST: ‘Hello! Hello!’ a singsong British voice shouted from across the tarmac. ‘Professor Langdon?’

TT: “Halo! Halo!” teriak sebuah suara merdu beraksen Inggris dari seberang aspal. “Profesor Langdon?”

Literally, voice means sounds made when speaking or singing. For example, she is lost her voice. For this case, the translator considers the addition of information of British in which there is a stress that the character is speaking British English. Cultural substitution is used as the strategy to make it appropriate translation. Therefore he translates it into aksen which is not the literal meaning of voice.

  • read –> membahas

ST: ‘My book group read your book about the sacred feminine and the church!

TT: “Kelompok pembaca buku saya membahas buku Anda tentang sacred feminine dan gereja!

It is a great choice translating read into membahas, whereas the literal meaning of read is membaca. By considering the previous words, it is mentioned already the ‘pembaca’ is used to translate book. Word-for word translation is not the appropriate strategy to solve this problem. Therefore the translator applies the strategy of paraphrase by using the related words by considering some aspects that support the diction choice. The diction choice is acceptable for reader because they have the same information that a book group’s activity is not only reading the book but also discussing the contents of the book.

The target language lacks of superordinate

  • climbing –> naik merayapi ­

ST: Petugas lift sedang mengucapkan sesuatu menenangkan mengenai piston bersambung dan konstruksi besi tempa lift.

TT: Lift Otis yang naik merayapi pilar selatan Menara Eiffel itu dipenuhi turis.

We see that the translator decided to make his translation as natural as possible in Indonesian. He considered his understanding of Eiffel Tower that people can see Paris from above and people already know about it. Meaning that, there is the same knowledge between the reader and the writer. The decision of the collocation used is appropriate dealing with the ‘lift’ . Here ‘lift’ is subject which is climbing with the help of machine. If we translate it into ‘memanjat’, it is not acceptable because we use ‘memanjat’ only for human and some animals. Also the translator makes it more expressive by using naik merayapi. He wants people to imagine what was happening with the lift at that time’

It can be said that it is the strategy of the translator to translate it in two phrases, ‘naik merayap’ intead of ‘naik’. He tends to keep the natural meaning of ‘climbing’ in the text, in which the author describes the ‘lift’ is moving up slowly. Then if he only translates it ‘merayap’, it is less accurate in fact ‘merayap’ can be down, up, right or left.

 The target language lacks of specific term

  • craning –> menjulurkan

ST: Almost there, the boy told himself, craning his neck and looking up at the unloading platform.

TT: Hampir sampai, ujar bocah itu kepada diri sendiri, seraya menjulurkan leher dan mendongak memandangi platform untuk menurunkan penumpang.

In my opinion, the translation of menjulurkan leher fot craning is not appropriate. In Bahasa, menjulurkan is commonly expressed for tongue, menjulurkan lidah. Hence, we need more acceptable word to transfer the meaning of craning. Because of Bahasa lacks of specific term so the strategy used is paraphrase by using related word. The activity which is associated with stretching out one’s neck in order to see something can be called mengulurkan leher in Bahasa.

  • spire –> menara

ST: Outside the window the sun had set, but Langdon could still make out slender silhouette of the world’s largest obelisk, rising on the horizon like the spire of an ancient gnomon.

TT: Matahari sudah terbenam di balik jendela, tapi Langdon masih bisa melihat siluet ramping obelisk terbesar di dunia, yang menjulang di cakrawala seperti menara jam kuno.

A more general word is used as the strategy. Yet, the translator gives lack information to transfer the meaning of spire. He translates spire into menara and the reader will imagine the whole menara (tower), in fact, in his book, the author wants the readers to imagine the special part of the tower that is the spire. In the source text, English has specific word to call the top of the tower that is spire, while in Bahasa it needs two words to call the spire. In my opinion, it is acceptable if the translator translates the word spire into puncak menara in order to get the more specific meaning and information for the reader.

Differences in physical or interpersonal perspective

  • you –> kau

ST: ‘You look pale, son. You should have stayed on the ground.’

TT: “Kau tampak pucat, Nak. Seharusnya kau tetap di bawah.”

The Kau in this dialogue is used as the consideration of poetic term of novel and it is generally used as bound morpheme of engkau. Because of the social status between the speakers, in daily conversation kau sounds rude compared to kamu. In my view, kamu term is more acceptable for Indonesian. Kamu is considered a more familiar way of talking; it stands in the middle of formal and informal. Kamu is used with your sister, brothers, cousins, and other family members of the same age or status.

  • your car –> mobil Anda

ST: ‘If you’ll come with me, sir, your car is waiting.’

TT: ”Ikuti saya, Pak, mobil Anda sudah menunggu.”

Anda is very formal way of talking, like between businessmen, to people that are older, to person that you respect, to teachers, or to strangers. It can also be used as a barrier, because it shows that you have no interests of forming a close relationship with the other person. Considering the relationship between Langdon and the driver shows the different social status between them and the term of Anda is accurate to be used in the translation.

Difference in form

  • unexpected –> tak terduga

ST: The daydream about his late father, Langdon suspected, had been stirred by this morning’s unexpected invitation from Langdon’s longtime mentor, Peter Solomon.

TT: Langdon curiga, agaknya lamunan tentang almarhum ayahnya dipicu oleh undangan tak terduga pagi ini dari mentor lamanya, Peter Solomon.

To describe the minimal formal element of meaning in language, as distinct from word, this may or may not contain several elements of meaning. Thus, an important difference between morpheme and words is that a morpheme cannot contain more than one element of meaning and cannot be further analyzed. The term of tak terduga is an accurate diction for unexpected.

The use of loan words in the source text

  • corporate jet –> jet korporasi

ST: He was sitting all alone in the enormous cabin of a Falcoln 2000EX corporate jet as it bounced its way through turbulence.

TT: Dia sedang duduk sendirian di kabin luas jet korporasi Falcon 2000EX yang berguncang-guncang melewati turbulensi.

In my view, it does not need to keep the loan word in the translation when we have the original word in Bahasa. Corporate can be translated into perusahaan which is more acceptable and understandable for the target reader.

  • symbology –> simbologi

ST: He’d been halfway through reviewing Masonic symbology when his mind had drifted.

TT: Dia sudah setengah jalan meninjau simbologi Mason ketika benaknya tadi berkelana.

Symbology basedon Merriam Webster is the art of expression by symbol, or the study or interpretation of symbol. Bahasa does not have the equivalence word of this term so the translator decides to keep it in his translation and this strategy is exactly appropriate to solve the problem.

  • philanthropist –> filantrop

ST: The fifty – eight-year-oldphilanthropist, historian, and scientist had taken Langdon—

TT: Finlantrop, sejarahwan, dan ilmuwan berusia 58 tahun itu sudah membantu dan membimbing Langdon—

As the same as the previous discussion about using the loan word, in this case the translator does the same thing consider that in Bahasa, we have no term to substitute philanthropist.

  • dynasty –> dinasti

ST: Despite the man’s influential family dynasty and massive wealth,

TT: Walaupun dinasti keluarga Solomon sangat berpengaruh dan kekayaannya luar biasa,

Sometimes translator should not use the loan word to play save in his translation when we have our own term in the target text. When we talk about dynasty, it deals with royal family in a country and the same thing happens in Indonesia. Dinasti term in Bahasa is something like looking back in the China Kingdom era hundred years ago. It is better if dynasty is translated into keturunan because it is more neutral and familiar for Indonesia.

  • clipboard –> clipboard

ST: Langdon looked up to see a middle-aged woman with a badge and clipboard hurrying toward him, waving happily as he approached.

TT: Langdon mendongak dan melihat seorang perempuan setengah baya dengan lencana dan clipboard bergegas menghapirinya, lalu melambaikan tangan dengan gembira ketika Langdon mendekat.

As the same reason and opinion in the discussion above, I propose that the more acceptable translation for clipboard is papan tulis kecil. Some people will not get the same understanding what clipboard is if the translator keeps the English term.

 

CONCLUSION

Based on finding the analysis there are eight types of problems found dealing with the equivalence at word level in The Lost Symbol translation of English into Bahasa: Culture-specific concepts, the source language concept is not lexicalized in the target language, the source-language word is semantically complex, the source and the target languages make different distinctions in meaning, the target language lacks of superordinate, the target language lacks of specific term, differences in physical or interpersonal perspective, difference in form, and the use of loan words in the source text. The most problem faced is the use of loan words, found five terms in English which are no equivalence word in Bahasa. The strategy used by the translator is to loan the word because the term is also familiar for the target reader.

 

REFERENCES

Baker, M. 2001. In Other Words: a Course Book on Translation. London and New York: Routledge

Bell, Roger.T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London and New York: Longman.

Catford, J. C. 1978. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press

Newmark, P. 1988. A Textbook in Translation. London: Prentice Hall

Nida, Eugene and Charles R. Taber. 1982. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E. J. Brill

 

DIFFICULTIES IN POETRY TRANSLATION

Maksud Mamatkulovich Temirov*

State University of Malang

Abstract

Poetry is a separate world where the feelings of a poet and his or her heartfelt expressions reside. By means of the correspondence of meaning, word choice, rhyme, rhythm, and some other poetic devices in the poem a poet intends to express his or her ideas of a certain thing or a situation, experiences they or other people had, humane feelings such as love, revulsion, admiration, friendship, faith as well as descriptions of certain things or some circumstances they may experience. Poems could be written in different languages throughout the world but they carry certain meanings and purposes which are tended to be universally understood regardless which language they were written in. Following some points proposed by Hariyanto (no date) the writers try to give examples how to translate English poems into Uzbek, especially in how to handle the translation from the point of view of aesthetic values, expressive values, collocation, poetic structure, metaphorical expression, sounds. Indonesian translation is sometimes used to make the points clear.

 

Key-words: translation, aesthetic values, expressive values, collocation, poetic structure, metaphorical expression, sounds

 

Having been holding an important place in the lives of the people throughout history and across cultural and national boundaries, poetry is a separate world where the feelings of a poet and his or her heartfelt expressions reside. By means of the correspondence of meaning, word choice, rhyme, rhythm, and some other poetic devices in the poem a poet intends to express his or her ideas of a certain thing or a situation, experiences they or other people had, humane feelings such as love, revulsion, admiration, friendship, faith as well as descriptions of certain things or some circumstances they may experience. Poems could be written in different languages throughout the world but they carry certain meanings and purposes which are tended to be universally understood regardless which language they were written in. In this case, we need the help of a translator who can keep the meaning of the poem in its translation in another language as it was in the original one. Nevertheless, many translators face difficulties and have problems when translating a poem.

In the current article, I am also going to shed light on some problematic issues that are common in poetry translation. Specifically, more emphasis will be put on the word choice and rhyming problems.

According to Hariyanto (no date), poetry translation should be semantic translation for a poem is typically rich with aesthetic and expressive values. As the professor claims, a translator of poetry may face the linguistic, literary, aesthetic, as well as socio-cultural problems during his engagement in translation. Linguistic problems may include the collocation and hidden logic which is also called to be non-standard syntactic structure. As for the translation of the collocations, the translated version of the poem should not look awkward to the reader: usually in the English language we say “to make a speech” and not “to say a speech” or “to run a meeting” and not “to do a meeting” and so forth. One thing to keep in mind is that collocations do not really tend to be similar in different languages; conversely, they are differently made and may be used in different ways to mean totally different expressions.

However, it also differs in the English language also. For instance, the word “run” can give several different meanings, such as in the collocation “to run a company/inn/café”, etc. the interpretation is not  something like to get engaged in a physical activity like running but it will be correct to say to govern or to own a company/inn/cafe.

Another point to consider in term of linguistic matter is the obscured or hidden (non-standard) syntactic structures. Such kinds of structures may be written in a poem on purpose as a part of the expressive function of the text. For this reason, these kinds of organizations should be rendered as closely as possible.

As Hariyanto states, the first step to deal with this problem is to find the deep (underlying) structure. According to Newmark (1981: 116), the useful procedure is to find the logical subject first, and then the specific verb. The most important matters are these factors only. Once we discover those two elements, the rest will fall into place. After that the translator can reconstruct the structure in the target language as closely as possible to the original structure.

Mr. Hariyanto also claims that some certain factors that cause hardship in translating poetry are aesthetic and literary problems. They are related to poetic structure, metaphorical expressions as well as sounds. These aesthetic values do not carry an independent meaning, but they are correlative with the various types of meaning in the text. This means that if the translator destroys the word choice, word order, and the sounds, he or she spoils the beauty and the expression of the original poem. Gracefulness, gentleness, for example, will be ruined if the translator provides unsophisticated alliterations for the original carefully-composed alliterations. An English version of an Uzbek poem can be taken as an instance here:

 

 

 

You are my holy shrine

 

Poetry – my holy place, my worshipping shrine,

Full of poison and honey – precious soul of mine,

You are my sorrow and hope, agony and delights.

My modest inspiration at my sleepless nights.

Without you I don’t need gem or treasure,

No need for a beauty, or a pleasure.

Without you for me life is blank too,

May no moment of my life pass without you!

 

The Uzbek version of the above provided poem that is a dedication for poetry was written with adequate elegance and delicacy that a reader may effortlessly comprehend how the writer feels about poetry. However, the translator strived to utilize more close words in case he was not able to find the exact translation of a particular word or phrase. The Uzbek version is available here as a proof:

 

Ka’bamsan

 

Ka’bamsan she’riyat ezgu ehromim,

Og’u ham bol to’liq bebaho jonim.

Alamim va ishqim, umid-u armon,

Uyqusiz tunlarim jindek ilhomim.

Kerakmas inju ham, sensiz haqiq ham,

Kerakmas shaddod ham, sensiz daqiq ham!

Hayot ham men uchun sensiz bema’ni,

Sensiz o’tmasinda hatto daqiqam.

 

Here is the direct amateur translation of mine in the Indonesian language just to be more understandable for the reader:

 

 

 

Anda tempat suci saya


Puisi – tempat suci saya, tempat doa menyembah,
Penuh racun dan madu – jiwa yang berharga saya,
Anda kesedihan saya dan harapan, penderitaan dan kesenangan.
Saya sederhana inspirasi di malam hari tidur saya.
Tanpa kalian, aku tidak perlu permata atau harta karun,
Tidak perlu untuk keindahan, atau kesenangan.
Tanpa Anda bagi saya hidup adalah kosong juga,
Mungkin tidak saat hidupku berlalu tanpa Anda!

 

Now, let’s make a comparison of the translated and original versions of the poem. First of all, the title of the poem itself gives the image of something that is valuable and dear to the poet. However, there is no one-word English equivalent of the word “ka’ba” (ka’bah) that means a holy place or shrine a person may worship to. Specifically, the word “ka’ba” means the shrine in Mecca which is visited by the Muslim pilgrims once a year. Someone may suggest, in that case, the title should not be translated; however, the translator could find the possible closer equivalent and it could be suggested this way also. Nevertheless, some words like “jindek ilhomim” (sedikit inspirasi) were translated more professionally in the target language than the original version. As an equivalent to the word “jindek” which means “a little or small” in the English language, I used the word “modest” instead of translating it directly. “Jindek ilhom” (sedikit inspirasi) means “a small amount of inspiration” in English; however, the translator translates it as “modest inspiration”(direct translation: sederhana inspirasi) which adds more beauty to the translated version of the original work. All that matters is the reasonableness of the translator to deliver the information to the reader in a clear and understandable way keeping the aesthetic values as well as the poetic structure.

According to Hariyanto (no date), poetic structure includes the plan of the original poem as a whole, the shape and the balance of individual sentences in each line. Metaphor is related to visual images created with combinations of words, which may also evoke sound, touch, smell, and taste whereas sound is anything connected with sound cultivation including rhyme, rhythm, assonance, onomatopoeia, and so forth. A translator cannot ignore any of them although he may order them depending on the nature of the poem translated.

According to Mashadi Said, finally, the socio-cultural problems in translating poetry exist in the phrases, clauses, or sentences containing word(s) related to the four major cultural categories, namely: ideas, behavior, product and ecology. The “ideas” include belief, values, and institution; “behavior” includes customs or habits; “products” include art, music, and artifacts, and “ecology” includes flora, fauna, plains, winds, as well as the weather. As an example, Mashadi shows the first stanza of Shakespeare’s Sonnet XVIII:

 

Shall I compare thee with a summer’s day?

Thou are more lovely and more temperate

Rough winds do shake the darling buds of May,

And summer’s lease hath all too short a date;

 

Direct Indonesian translation

 

Haruskah saya membandingkan engkau dengan hari di musim panas?
Engkau lebih indah dan lebih beriklim
Angin kasar lakukan mengguncang tunas Sayan dari Mei,
Dan sewa musim panas telah semua tanggal yang terlalu pendek;:

 

Here, the description of summer serves as a symbol of beauty which gives the image of the gracefulness of the girl being described because “summer” implies a distinguished beauty for temperate countries. However, the cultural equivalents or near equivalent of “summer” does not mean so for some countries with hot climate. And to translate any expression containing such words, the translator should consider every single expression carefully in term of the importance and expressiveness. As Peter Newmark (1988) claims in the above mentioned case the translator does not have any choice; he has to supply the cultural equivalent in the target language. He suggests that the translator should let the reader learn and understand what a certain word means for others in the other part of the globe. Actually, “summer’s day” is a day when the sun shines brightly and the flowers, especially the sweet-scented roses are blossoming everywhere in England as William Shakespeare expressed in his sonnet. Meanwhile, “summer’s day” in other countries with rather burning weather means suffering of life where irrigation channels are dried up and the sand scatters everywhere. Nonetheless, later, the reader who resides in the part of the globe with a hot climate will learn the beauty described with the description of “summer” when he or she discovers that the poem was written by an Englishman.

However, there are a number of other cases that some professors and specialists consider translating poetry to be difficult and there might be some other cases that make translation really a problematic issue for the translator, in their views. For instance, according to William R. Schmalstieg, a professor of the Pennsylvania State University, the difficulty of translating poetry is twofold: the words and meaning on the one hand, the flow and rhythm (or rhyme) on the other. As he claims in his article, most translations of poetry are really bad. One can find no rhythm or rhyme in such “professional” works of translation. This is mainly because the translator knows the foreign language too well and his or her language too poorly or vice versa. Additionally, their grasp of both languages may be limited to the writing of academic and formal papers whereas the procedure of translating a work of poetry requires rather literal and sometimes colloquial language.

According to Nosirjon Juraev, a promising Uzbek poet, a translator needs to possess an aptitude for poetry and must feel and understand the language of poetry as well. For instance, if a professional specialist of the English language is given a poem to translate, he or she may not be able to find a matching word or a phrase in the language being translated into for his or her language skills were limited to other aspects of the language or they may simply lack talent for poetry. Moreover, after a common reader reads his or her translation and gets nothing out of it, this shows that the translator’s efforts were in vain. Therefore, only mastering a foreign language does not suffice to translate a poetry work; instead, the translator must be aware of some certain words or phrases which can give totally different meanings in poetry. Furthermore, the translator sometimes needs to use more precise word or phrase in order to make up the rhyme or to keep the original meaning of the poem. Conversely, the translator may sometimes need more general word or phrase to make his or her translation more beautiful and an effective one. For this reason, the translator may make omissions as well as additions in his or her work. Specifically, as an amateur translator, I also frequently make use of insertions and omissions in my translations differently from the original work of poetry. Nonetheless, I always strive not to lose the originality of the poem but to keep its original meaning in its translated version as well. Another difficulty which I mostly experience while translating poems from Uzbek into English is choosing an appropriate word which can be the best equivalent in the translated version of the poem. I consider that this question at issue is a common problem for all the translators. To be more specific, readers of poetry often come across such occurrences in translated works. An English translation of an Uzbek poem translated by Qosim Ma’murov, an English language professor and translator in Uzbekistan can be shown as an appropriate example for the statements above:

 

Spring

Up the tender crops ju

mp from joy,

Throw their hats into the sky high.

The lazy wind lay embracing still,

The fragrance of Mint’s beloved girl.

 

The tulips blaze sparkling

The joys fall tick-ticking.

In the embrace of green feeling

I wish I were a tulip flaming.

 

www.translate.google.co.id  website translation:

Musim Semi

Tanaman lembut melompat dari sukacita,
Lempar topi mereka ke langit tinggi.
Angin malas berbaring memeluk masih,
Keharuman gadis tercinta permen itu.

Tulip kebakaran berkilau
Kegembiraan yang jatuh tik-berdetik.
Dalam pelukan perasaan hijau
Saya berharap saya adalah tulip menyala.

 

This is a sample translation work of an Uzbek poetess Uktamoy Kholdorova’s poems collected in her book named “My Heart is Weeping” printed in India.

Here is the original version of the above provided poem:

 

 

Ko’klam

 

Sevinchdan irg’ishlar maysalar

Qalpog’in osmonga otadi.

Yalpizning erka qiz hidini

Tanbal yer quchoqlab yotadi.

Porillab yonadi lolalar

Shodliklar chakillab tomadi

Yam-yashil tuyg’ular bag’rida

Lolaga aylansam qaniydi.

 

Here, the reader is suggested to pay attention to the word tender crops in the first line. The reader may get surprised by the translator’s word choice here. He translated the word “maysalar” (rumput muda) which in reality means “newly grown grass” as “tender crops” which means “young, soft or delicate harvest” (muda, panen, lembut atau halus). It is alright to use the word “tender” (lembut) as an adjective before the word “grass”(rumput) to describe how delicate, fragile, and immature it looks but using it with the word “crop” (tanaman) is obviously a mistake; moreover, one would probably consider it to be a blunder. The translator could have used another word such as verdure, greenery, young grass, or sprouts (kehijauan, hijau, rumput muda, atau kecambah) as an English equivalent to the word “maysalar” (young grass – rumput muda) rather than using the word “tender crops” (lelang tanaman). Actually, the word “crop” has the following meanings in the English language as written in the World Book Dictionary and Encyclopedia compiled by Thorndike Barnhart:

  1. a product grown or gathered for use, especially as food:

Wheat, corn, and cotton are three main crops of the United States.

  1. a. the whole amount (of wheat, corn, or the produce of any plant or tree) that is yielded in one season or region:

The potato crop was very small this year. b. the yield of some other product in a season: The ice crop.

  1. 3.       anything like a crop: a crop of lies.
  2. a. a clipping or cutting short of the hair. b. clipped hair; a short haircut.
  3. a mark produced by clipping the ears, especially of a domestic animal; earmark.
  4. a. a baglike swelling of the esophagus of many birds where food is stored and prepared for digestion; craw:

Fuel consumption is so great that most birds have a kind of carburetor called a crop for straining and preparing their food before it is injected into the combustion cylinders of the stomach and intestines (Atlantic).

b. a similar organ in other animals or in insects: The honey sac of a bee is called a crop. The earthworm empties the food into the crop, which is a storage chamber from which the food is released in small portions to the gizzard (A.M.Winchester).

  1. 7.                   a. the handle or stock of a whip. b. a short whip with a loop instead of a lash: a riding crop.
  2. an entire tanned hide of an animal.
  3. Mining. an outcrop of a vein or seam.

 

We have considered almost all the meanings of the word “crop” above; however, we could not find the very meaning we have been searching for. This means that the translator made a mistake and the editor of the book was not aware of that mistake. Also in the third and fourth lines of the poem there are some mistakes. We can effortlessly notice them at a single look: “…Yalpizning erka qiz hidini Tanbal yer quchoqlab yotadi…” Here is its translation: “…The lazy wind lay embracing still, The fragrance of Mint’s beloved girl…”  Angin masih malas berbaring memeluk, Keharuman gadis tercinta Mint   The word “still” (masih) is an insertion here; however, by using this extra word which was not included in the Uzbek version, the translator did a good job in order to make the meaning clearer and more understandable to the reader. Nevertheless, there is a big mistake in that line which totally changed the meaning of the statement written in the Uzbek version. It is the word “wind” which did not exist in the Uzbek version. Actually, it should have been “earth or ground” which means “yer” (tanah) in Uzbek, not “wind” which means “shamol” (angin) in the Uzbek version. This may be a simple typo (a mistake in typing) but there is another blunder in this line too: “…Yalpizning erka qiz hidini Tanbal yer quchoqlab yotadi…”  Translation: “…The lazy wind lay embracing still, The fragrance of Mint’s beloved girl…” This shows that the translator is probably not aware of the language of poetry or he did not understand what the poetess really wanted to mean. Here, the poetess used symbolism and she probably referred to how fragrant the mint was as she described it in an unusual way. This unusual description of the scent of mint made the poem sound more beautiful presenting a “food for thought”. She actually did not mean a real girl who is a beloved one of the mint. If the poem is read in its original form in Uzbek, the reader gets totally different meaning of it unlike its translated form. The translator is definitely responsible for this mistake. This awkward, unconvincing, almost robotic English translation did a disservice to the original version.

The above mentioned mistakes and the problems in a single small poem are just a tip from an iceberg. All that matters in translating poetry is understanding what meaning each word conveys or connotes. Here is my own translation of Muhammad Yusuf’s poem titled as “Hazil” (“Joke”) which is also not free of omissions, insertions, or probably some mistakes:

 

 

Joke

 

All the gossips are false about me,

I have no self-control through and through.

Imbibing wine is legacy to me by Khayyam,

That man will get surely hurt if I do not do.

 

It’s me who started; I will put the end,

My friends vainly fret over loss of mine.

If I happen to die before I turn forty,

It’s because of false girls, not because of wine!..

 

www.translate.google.co.id  website translation:

 

Lelucon

Semua gosip palsu tentang saya,
Saya tidak memiliki kontrol diri melalui dan melalui.
Imbibing anggur adalah warisan kepada saya oleh Khayyam,
Orang itu akan pasti terluka jika aku tidak melakukannya.

Ini aku yang memulai, saya akan menempatkan akhir,
Teman-teman saya sia-sia resah atas hilangnya tambang.
Jika saya kebetulan meninggal sebelum aku berbalik empat puluh,
Itu karena perempuan palsu, bukan karena anggur! ..

 

To be candid, it took me quite a long time to find appropriate words as well as proper rhymes for the above-written translation of the poem. I actually did my utmost to keep the originality of the poem: I also strived to keep the original meaning and utilize more literary words in this translation. The following poem is the original version in the Uzbek language:

 

Hazil

 

Mening haqimdagi g’iybatlar yolg’on,

Ixtiyor o’zimda bo’lsa qaniydi.

Sharob ichish menga Xayyomdan qolgan,

Ichmasam ul zotning ko’ngli ranjiydi.

 

O’zim boshladimmi, o’zim qilgum bas,

Do’slarim behuda zavolim izlar,

Agar qirqqa kirmay o’lsam, may emas,

Meni xarob etgan bevafo qizlar!..

 

The word “imbibing” in the third line which is underlined may not be familiar to some people as it is not frequently used in our everyday speech. Actually, “to imbibe” is another word for “to drink” (minum). Here appears a good question: What is the use of using the word “to imbibe” rather than using its basic translation “to drink” which means minum in the Indonesian language? “To imbibe” is a literary word which can beautify the poem. If the translator wrote simply “to drink” the poem might look to be weaker in literary features. Moreover, in the forth line the translator inserted the word “surely”(pasti)  in order to make the statement look more determined. One can easily notice that he also made an omission (particularly a substitution) in the fourth line: “…Ichmasam ul zotning ko’ngli ranjiydi.” – “…That man will get surely hurt if I do not do.  Orang itu pasti akan menyakiti jika saya tidak melakukan.”

The translator did not translate the word kalau aku tidak minumas “if I do not drink/imbibe”; he just substituted that word to “if I do not do” because the “what-to-do” part was clear from the previous line. The same thing occurred in the following lines:

“…If I happen to die before I turn forty, It’s because of false girls, not because of wine!..” “…Agar qirqqa kirmay o’lsam may emas, Meni xarob etgan bevafo qizlar!..” “… Jika aku kebetulan meninggal sebelum aku berbalik empat puluh, Itu karena perempuanpalsu, bukan karena anggur! ..”

In the above mentioned translated version of Muhammad Yusuf’s poem, a reader may notice some changes in the meaning of the original version of the poem. This is because of the rhyming problems. As it is obvious, without rhyming words or rhythmic structures a work of poetry may look really boring or even meaningless. Such types of works may lack enthusiasm and an encouragement toward the reader to continue reading the work till the end with excitement. Since not all the words have exact equivalents in the target language, there will definitely be some alterations and substitutions in the translated form of a certain work of poetry. Moreover, more scrutiny should be paid on word choice in the poem. It is a crucially important factor in translating poetry.  I would like the readers to pay attention and analyze the poem in term of word choice:

 

 

 

Childhood

 

Once giggling on the hills

Playful girls had a fun.

They used to ask from me

If their scarves were gone.

Although I knew everything –

Their shawls were not gone,

I did not mind as it was

Nubile girls’ act of fun.

 

www.translate.google.co.id  website translation is as follows:

 

Masa Kanak-Kanak

Setelah cekikikan di perbukitan
Gadis Playful telah menyenangkan.
Mereka menggunakan untuk meminta dari saya
Jika selendang mereka pergi.

Meskipun saya tahu segalanya –
Selendang mereka tidak pergi,
Aku tidak keberatan seperti yang
Gadis boleh kawin ‘tindakan menyenangkan.

 

According to an Italian adage a translator is told to be a cheater. I also considered the meaning of that proverb and came to an agreement with that saying through my translations. Actually, a translator never tends to cheat the readers; however, some changes i.e., substitutions, insertions, omissions, as well as some other alterations in the translated versions which may possibly affect the original meaning of a certain literary work can prove this point of view. As it is obvious to everyone, especially to those who possess the knowledge of understanding and analyzing poetry translations it is considerably difficult to translate a poem into a foreign language. Moreover, it requires a plenty of time to carefully choose the right word which can clearly provide the idea of the original form in the translated version too. This means that a translator needs to be patient and possess the knowledge of literature as well as critical thinking on his own translations. Just in order to test your aptitude in poetry, specifically, in poetry translation, I would like to provide one of my translations here for you to have an attempt at translating:

 

Once among poppies

One beauty was asleep.

I wish I did not see her,

My heart started to weep.

She was asleep like a rose,

There was nobody to care.

I would pass not touching her,

But my horse stopped there…

Famous Son

 

The son did not obey good words,

Mother – shocked. Father is nervous.

Neighs the horse at the stable

Ready for a long journey service.

Hands are shaking holding the rein,

Father’s words are now in his eye:

–                      If you don’t leave this year to school,

You will go then, don’t you deny…

Disloyal son happy on the horse:

Studying makes wise always.

I don’t care about cattle,

May they become prey to wolves…

He left leaving fields behind,

As well as his home on the hill.

Becoming a famed bard in town

Was the boy’s inordinate will.

Some years passed. Still stooping

Old father feeds sheep and cow.

By the way, he had a naughty son –

He is famous in the town now.

 

 

Anak Yang Terkenal

(Translated by Widyawati Prayitno)

Seorang anak tak patuhi perintah,

Lara ibu.  Serta ayah.

Sayup-sayup ringkikan

Tandakan siap perjalanan panjang.

Tangan gemetar memegang kekang

Terbayang ucapan ayahnya.

Jika tak pergi mencari ilmu sekarang,

Pergilah kau di tahun depan.

Tak setia namun bahagia di atas kereta

Selalu bijak dalam membaca

Tak peduli pada semua

Walaupun jadi mangsa.

Ia pergi meninggalkan semua

Rumah serta bukit-bukitnya.

Keinginan yang tak biasa

Menjadi penyair terkenal di kota.

Tahun-tahun berlalu, ayah yang renta

Membungkuk menafkahi anaknya.

Sekarang anak yang tak setia

Terkenal di kota tak bernama.

 

 

Reference


Aznaurova, E. S., Abdurakhmanova, Kh. I., Demidova, I. M., Iriskulov, M. T., Phomenko, N. V., Sabirova, M. A., Takhirjanova, S. T., & Khudaiberganova, M. K. 1989 Translation: theory and practice. Tashkent: Ukituvchi.

 

Barnhart, Thorndike. 1963. The World Book Encyclopedia and Dictionary (1 & 2 volumes). Chicago, IL: Doubleday & Company, Inc.

 

Blachowicz, C., & Fisher, P. 2000. Vocabulary instruction. In M. Kamil,  P. Mosenthal, P. D. Pearson & R. Barr (Eds.), Handbook of Reading Research (Vol. 3, pp. 503-523). Mahwah, NJ: Erlbaum.

 

Kholdorova, Uktamoy. 2004. My Heart is Weeping: A dedication to Taj Mahal. India.

 

Kirszner, L. G., & Mandell, S. R. (2004). Portable Literature (fifth edition) Canada: Thomson, Heinle.

 

Hariyanto, Sugeng, no date, Problems in Translating Poetry. Online: http://www.translationdirectory.com/article640.htm

 

Komissarov, V. N., & Koralova, A. L. 1990. A manual of translation from English into Russian. Moscow: Vysshaya shkola.

 

Lefevere, A. 1975. Translating poetry: seven strategies and a blueprint. Assen: Van Gorcum.

 

Levitskaya, T. R., & Fiterman, A. M. 1973. Posobiye po perevodu s angliyskogo yazyka na russkiy. Moscow: Vysshaya shkola.

 

Muhammad Yusuf. 2007. Selected poems. Tashkent: Sharq.

 

Newmark, Peter. 1981. Approaches to Translation. Oxford and New York: Pergamon Press.

Newmark, Peter. 1988. A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall.

PENGKHIANATAN DEMI KESETIAAN: UPAYA MASUK AKAL UNTUK MENCAPAI TERJEMAHAN PUISI IDEAL

Sugeng Hariyanto

Politeknik Negeri Malang

 

Abstrak

Di dalam penerjemahan puisi sering dikatakan bahwa hasil terjemahan tidak sebaik puisi aslinya. Lebih jauh, ada tiga mitos tentang hasil penerjemahan puisi, yaitu: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Di dalam artikel singkat ini penulis berusaha menelusuri asal-muasal mitos di atas dan mencoba menyajikan pandangannya tentang kebenaran mitos tersebut.

Penulis juga menyinggung bagaimana penerjemahan puisi sumber yang sama bisa menghasilkan puisi-puisi yang berbeda jika penerjemahannya dilakukan oleh penerjemah yang berbeda. Keruwetan ini menjadi bertambah, menurut penulis, jika kritikus ikut mengomentari hasil terjemahan karena penerjemah dan kritikus mungkin sekali memiliki pengalaman dan latar budaya yang berbeda.

Akhirnya, penulis mengemukakan pendapatnya bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi tetap bisa diupayakan untuk ‘setia’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Key-words: puisi, terjemahan, kesetiaan bentuk dan isi, keindahan, kritik terjemahan

 

Ada beberapa ‘mitos’ yang berkembang tentang menerjemahkan puisi. Yang saya maksud ‘mitos’ adalah kata-kata yang telah dipercayai kebenarannya tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kadang hal ini juga kita sebut asumsi. Mitos-mitos atau asumsi-asumsi tersebut adalah: (a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.

Pencetus mitos pertama ini adalah Henri Gifford. Dia berpendapat bahwa sastra terjemahan diumpamakan sebagai reproduksi hitam putih dari lukisan cat minyak yang berwarna. Lebih jauh, karya terjemahan menurutnya tidak akan bisa menandingi kehalusan dan kelengkapan imajinasi penulis asli. Setiap upaya penerjemahan adalah sebuah upaya pemiskinan, dan taraf pemiskinan ini pada taraf yang tertinggi pada penerjemahan puisi (Gifford dalam Damono, 2003). Mungkin karena hal inilah, akhirnya Gifford berpendapat bahwa “Translation is resurrection, but not of the body…” (Gifford dikutip Tomlinson dalam Carter, 2005). Hal ini harus kita sikapi dengan pemahaman bahwa Gifford sendiri adalah seorang penerjemah. Jadi, pendapatnya ini bagi saya lebih merupakan ideologi penerjemahannya.

Karena itu penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa di tubuh yang berbeda, maka wajar kalau kita tidak bisa mengharapkan kemolekan tubuh yang sama, bentuk linguistik yang sama. Ketidakpadanan bentuk linguistik atau makna itulah yang disebut pengkhianatan.

Mitos kedua, penerjemahan puisi adalah pengkhianatan yang kreatif. Pikiran ini berasal dari Prancis, yang di sana terjemahan karya sastra dianggap trahison creatice, pengkhianatan yang kreatif. Mitos ini juga tumbuh subur di Indonesian karena ada bukti-bukti yang dilakukan penyair hebat kita Chairil Anwar adalah trahison creatice. Masih terkait dengan mitos kedua, mitos ketiga adalah penerjemahan yang cantik pasti tidak setia, dan yang setia pasti tidak cantik. Sampai sekarang pun, banyak orang percaya bahwa yang cantik mesti tidak setia, dan yang setia selalu tidak cantik. Pernah dalam suatu seminar, Sapardi Joko Damono menunjukkan “kebenaran dua mitos terakhir ini” dengan puisi Huesca-nya Chairil yang dianggap pengkhianatan kreatif dari puisi asli “To Monnet Heinemman”.

Puisi sumber:

Heart of the heartless world,

Dear heart, the thought of you

Is the paint in my side,

The shadow that chills my view

 

The wind rises in the evening

Reminds that autumn is near.

I am afraid to lose you

I am afraid of my fear.

 

On the last mile to Huesca,

The last fence for our pride,

Think so kindly, dear, that I

Sense you at my side.

 

And if bad luck should lay my strength

Into the shallow grave,

Remember all the good you can;

Don’t forget my love.

 

Puisi ‘terjemahan’:

Jiwa di dunia yang hilang jiwa

Jiwa sayang, kenangan padamu

Adalah derita di sisiku,

Bayangan yang bikin tinjauan beku.

 

Angin bangkit ketika senja,

Ngingatkan musim gugur akan tiba.

Aku cemas bisa kehilangan kau,

Aku cemas pada kecemasanku.

 

Di batu penghabisan ke Huesca,

Pagar penghabisan dari kebangaan kita,

Kenanglah sayang, dengan mesra

Kau kubayangkan di sisiku ada.

 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku pada kuburan dangkal,

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

Menurut Sapardi Djoko Damono, terjemahan ini adalah terjemahan yang cantik. Dan di antara terjemahan Chairil Anwar, ini termasuk yang paling setia. Mari kita cermati kesetiaannya.

Pada larik pertama “heartless world” diterjemahkan menjadi “dunia yang hilang jiwa”. Padahal “heartless” aslinya bermakna “kejam”. Apakah “hilang jiwa” berarti “kejam”? Menurut Sapardi Djoko Damono, Chairil menciptakan ungkapan baru yang tidak ada hubungannya dengan kekejaman. Pada larik kedua, “dear heart” diterjemahkan menjadi “Jiwa sayang”, demi memburu pengulangan kata “jiwa” (tidak diterjemahkan menjadi “kekasih”, “jantung hati”, dsb.)  Perhatikan juga “aku cemas” untuk ungkapan asli “I am afraid”. Aku cemas rasanya lebih kuat kandungan emosinya daripada “aku khawatir”, “aku takut”.

Perhatikan pula dua larik terakhir yang disatukan dalam TBSa-nya.

 

Remember all the good you can;

Don’t forget my love

 

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

 

“Remember” dan “don’t forget” dirangkum menjadi “ingatlah”. Sementara itu “yang kekal” ditambahkan untuk memburu rimanya. Dengan contoh ini Sapardi seolah ingin menasbihkan bahwa yang cantik itu tidak setia, alias yang berkhianat. Kalau mau yang setia, carilah yang tidak cantik.

Dari paparan singkat di atas, kiranya dapat dimengerti kenapa asumsi-asumsi itu bisa terjadi. Sekarang, bagaimana pengkhianatan itu bisa terjadi? Dan benarkah mitos-mitos itu di dalam kenyataannya?

Untuk memahami masalah ini, ingin saya tawarkan kacamata teoritis. Kacamata pertama adalah teori polisistem. Di dalam teori polisistem, sebuah budaya merupakan serangkaian sistem dari banyak sistem yang bersifat hierarkis. Misalnya, kalau sastra di dalam sebuah budaya menempatkan sastra yang konvensional dalam posisi primer, maka sastra inovatif berada dalam posisi yang sekunder. Demikian juga sebaliknya. Lantas apa hubungannya dengan terjemahan sastra? Hubungannya terletak pada sikap masyarakat budaya terhadap sastra terjemahan. Kalau masyarakat budaya tersebut menempatkan sastra terjemahan dalam posisi primer, maka penerjemahnya akan berusaha sedekat mungkin untuk “setia”. Namun, kalau masyarakat mendudukkan sastra terjemahan dalam posisi sekunder, maka penerjemahnya harus tunduk pada aturan-aturan keindahan yang ada di dalam sastra sasaran. Menurut perkiraan saya, apabila BSa mempunyai genre/jenis sastra yang mantap untuk karya yang diterjemahkan, maka ada kecenderungan bahwa hasil terjemahannya akan tunduk pada poetika BSa. Namun, apabila jenis yang seperti itu belum ada di dalam BSa maka ada kecenderungan penerjemah untuk lebih setia pada TBSu.

Hal ini menjadi agak rumit jika karya tersebut akan diterbitkan. Karena ada pihak lain (yang disebut patron) yang mempengaruhi cara menerjemahkan. Lefevere (dalam Hoed) berpendapat bahwa ciri khas sastra di dalam sebuah budaya ditentukan oleh dua hal: Patron dan perilaku susastra masyarakat (code of behavior). Patron meliputi ideologi, ekonomi dan status seniman. Di dalam perilaku susastra ada kaidah-kaidah terkait genre, keindahan, dan fungsi sastra.

Lantas, saya menghipotesiskan adanya “pertarungan” pengaruh antara poetika, patron dan penerjemah. Bagi saya, ketiga pihak itu berbagi ruang pengaruh atas karya terjemahan. Apabila pengaruh salah satu pihak meningkat, pengaruh pihak lain akan menurun. Apabila patron sangat berkuasa (penerjemah di pihak yang lemah), maka hasil terjemahannya lebih diwarnai oleh ideologi penerjemahan dari patron. Jika pertimbangan poetika yang dipentingkan, maka pengaruh patron dan pertimbangan ideologi penerjemahan si penerjemah akan semakin kecil pengaruhnya. Demikian juga jika pengaruh patron yang mendominasi, maka kepentingan poetika dan ideologi penerjemah yang dikalahkan.

Saya menduga bahwa untuk para penerjemah besar, yang sangat mempengaruhi adalah ideologi penerjemahannya dan pihak patron mungkin dengan sukarela menyerahkan segalanya kepada penerjemah tersebut.

Kiranya pandangan saya tentang ‘perebutan’ ruang pengaruh ini bisa diperjelas dengan model penerjemahan usulan Bolaños (2002, 2008). Meskipun model ini disebutnya Model Penerjemahan Dinamis, tetapi sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep terjemahan dinamik gagasan Nida. Menurut gagasan Bolanos, pada bingkai terluar sebuah proyek penerjemahan ada pemrakarsa penerjemahan (initiator), yang saya sebit sebagai “patron” dan penerjemah (translator). Pemrakarsalah yang memerintahkan penerjemah untuk bekerja. Di dalam bekerja, penerjemah berusaha menangkap maksud sebuah teks dan itu dia lakukan dengan menganalisis dimensi pragmatik, semantik, sintaktik, atau kadang ditambah semiotik, dari teks bahasa sumber (TBSu) serta mempertimbangkan perintah dari pemrakarsa. Setelah makna dan pesan ditangkap, penerjemah melakukan tekstualisasi. Sebelum melakukan tekstualisasi, dia akan mempertimbangkan norma bahasa sasaran (BSa). Di sinilah, pertimbangan poetika masuk. Pada saat ini, dia juga memperhatikan kehendak pemrakarsa atau patron penerjemahan. Di sini jugalah pengaruh patron mempengaruhi.

Kembali ke perbincangan tentang ketiga asumsi di atas? Betulkah karya terjemahan selalu lebih buruk daripada karya aslinya? Secara teori hal ini bisa disanggah. Setiap budaya mempunyai norma-normanya sendiri, mempunyai kriteria sendiri sebagai ukuran keindahan sastra. Jadi, keindahan puisi terjemahan bisa menyamai keindahan puisi asli apabila ditakar dengan kriteria keindahan sastra BSa. Hal ini bisa dicapai apabila puisi terjemahan tersebut tidak memaksakan diri membawa masuk “tubuh” asing ke dalam BSa. Dengan kata lain, saya setuju dengan Ignas Kleden, saat dia menulis, “sebuah terjemahan biasanya lebih jelek atau lebih baik dari yang asli, dan tak mungkin sama dalam segala sesuatunya dengan sajak yang asli”.  Secara empiris, perhatikan terjemahan puisi “How Happy Is the Little Stone” ke dalam bahasa Jawa oleh Effendi Kadarisman ini (yang begitu cantik dan masih setia):

 

Puisi terjemahan:

 

WATU KLUNGSU

Saiba senenge watu klungsu

Dolan dhewekan satengahing dalan

Ora maelu sakehing gegayuhan

Ora kesamaran nandhang cingkrang

Nganggo jas warna soklat

Paringane jagat kang mbeneri liwat

Uripe merdhika kaya surya

Bisa bebrayan, bisa sumunar tanpa kanca

Anyanggemi patembayan sawiji

Kanthi prasaja, kanthi permati

 

Puisi sumber:

 

How happy is the little Stone

 How happy is the little Stone

That rambles in the Road alone,

And doesn’t care about Careers

And Exigencies never fears —

Whose Coat of elemental Brown

A passing Universe put on,

And independent as the Sun

Associates or glows alone,

Fulfilling absolute Decree

In casual simplicity

 

 Jika kita tidak diberitahu bahwa puisi itu adalah terjemahan dari “How Happy Is the Little Stone” atau tidak kebetulan menghadapi kedua puisi itu dalam waktu yang sama, mungkin kita tidak menyangka bahwa puisi tersebut adalah puisi terjemahan. Kata-kata yang digunakan khas bahasa Jawa, misalnya “watu klungsu” (batu sebesar biji asam) untuk menerjemahkan “little stone”, “gegayuhan” (keinginan) untuk “career”, “nandhang cingkrang” (mengalami kekurangan) untuk “exigencies”, “patembayan” untuk “decree”, dan begitu khasnya “kanthi prasaja, kanthi permati” untuk mengungkapkan “in casual simplicity”. Puisi terjemahan di atas begitu dekatnya dengan puisi asli, tetapi begitu “Jawa-nya” saat kita baca. Inilah yang menurut saya puisi terjemahan yang ideal, yang cantik dan setia. Ini artinya karya terjemahan tidak harus lebih buruk daripada karya aslinya.

Benarkah semua puisi terjemahan adalah pengkhianatan dan yang cantik mesti tidak setia? Ini tergantung pada definisi kata ‘setia’ dan ‘khianat’. Jika ‘setia’ dipahami sebagai kesepadanan (ekuivalensi) sepenuhnya (formal dan maknawi) dari TBSu dan TBSa, maka akan benar adanya bahwa terjemahan puisi yang baik adalah sebuah pengkhianatan. Namun apabila yang disebut kesetiaan mengacu pada keindahan, dan diakui bahwa tolok ukur keindahan dalam bahasa yang berbeda juga berbeda, maka yang ‘cantik dan setia’ akan dapat terwujud. Sekali lagi, sedikit ulasan puisi di atas adalah buktinya. Meskipun ini hanya satu puisi, paling tidak ini memberi bukti bahwa yang ‘cantik dan setia’ masih mungkin diwujudkan.

Ada kalanya, memang, penerjemah harus melepas sedikit makna untuk memburu keindahan (linguistic/literary form), di lain waktu dia mungkin mengorbankan keindahan untuk memburu makna. Selama ini, situasi dilematis ini yang dikedepankan sehingga seolah-olah mitos “cantik tidak setia’ itu menjadi semacam kutukan bagi penerjemahan puisi.

Yang perlu diingat lagi adalah kenyataan bahwa pemahaman penerjemah akan makna, pesan dan keindahan dari puisi aslinya juga sangat menentukan. Dua orang penerjemah mungkin menangkap makna/pesan yang berbeda dari puisi yang sama. Coba perhatikan terjemahan dari puisi “Hope” di bawah ini:

 

Asa

 Asa itu bagaikan burung dan sayapnya

yang bersemayam di jiwa,

dendangkan irama

tiada putusnya.

 

Dalam terpaan angin kencang kukecap merdunya

Dalam amukan badai serasa perihnya

namun si burung mungil tetap setia

tiada henti sebar hangatnya.

 

Kudengar suaranya di negeri paling gigil

dan di samudera paling musykil

namun tak sedikit pun dariku

ia pinta walau hanya secuil,

walau hanya secuil.

(terjemahan oleh Abdul Mukhid)

 

Harap

Harap ialah sesuatu bersayap

yang bertengger di jiwa,

dan berdendang tanpa kata,

dan tanpa putus-putusnya,

 

dan terdengar merdu di deru topan;

dan badai sungguhlah ganas

jika sampai mengusir burung kecil itu,

burung yang sebarkan hangat.

 

Pernah kulihat ia di sedingin-dinginnya daratan,

juga di seasing-asingnya lautan;

tapi, biar cuaca seganas apa, tak pernah

mulut menadah padaku, meski demi seremah.

(terjemahan oleh Wawan Eko Yulianto)

 

Dan berikut ini adalah puisi aslinya:

 

Hope     

 Hope is the thing with feathers

That perches in the soul,

And sings the tune–without the words,

And never stops at all,

 

And sweetest in the gale is heard;

And sore must be the storm

That could abash the little bird

That kept so many warm.

 

I’ve heard it in the chillest land,

And on the strangest sea;

Yet, never, in extremity,

It asked a crumb of me.

 

Jika kita simah hasil kerja dua penerjemah di atas, kita tahu bahwa mereka menunjukkan beberapa perbedaan. Pertama, Abdul Mukhid (AM) memandang bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan, karena itu redundansi. Wawan Eko Yulianto (WEY) berpendapat bahwa itu perlu dihadirkan karena dengan demikian lebih dekat ke aslinya. Kedua, pemahaman kata “sore” juga berbeda. AB menekankan “perihnya”, sementara WEY menekankan akibat dari kata ini kepada si burung. Jadi, dia pilih ungkapan “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang sampai mengusir burung itu.

Dalam contoh-contoh di atas kita simak karya tiga orang. Dua yang terakhir adalah karya dua penyair yang menerjemahkan puisi. Karena keduanya menerjemahkan puisi, keduanya saya sebut “penerjemah” (tidak harus dalam arti profesi penerjemah). Sementara itu Effendi Kadarisman adalah ahli linguistik dan penyair yang kesehariannya mengajarkan dan berdiskusi tentang ilmu linguistik dan etnopoetika kepada para mahasiswa.

Abdul Mukhid (sahabat saya) adalah penyair yang penerjemah. Selain menulis puisi dan menerjemahkan puisi, dia juga menerjemahkan manual-manual teknik yang nirgaya bahasa dan nir-alegori. Di dalam hal penerjemahan puisi ini, yang dikutip dalam artikel ini, semua penerjemah menerjemahkan puisi tanpa adanya pesanan penerbit. Jadi, dalam hipotesis saya patron “penerbit” yang biasanya sangat berpengaruh, sekarang menjadi nihil.

Posisi penerjemah/penyair menjadi dominan. Yang akan membedakan adalah pandangan penerjemah/penyair terhadap bagaimana terjemahan puisi yang baik (ideologi penerjemahan), karena sebagai penyair keduanya mempunyai pemahaman yang dalam tentang poetika sastra Indonesia. Apakah penerjemah memandang dirinya mempunyai tugas untuk menyampaikan makna asli dengan bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, ataukah penerjemah barangkali mempunyai “pesan” yang sama dengan penulis puisi asli dan meminjam puisi asli tersebut untuk menyampaikan pesannya di dalam BSa. Golongan kedua ini akan menjadi sealiran dengan Gifford yang mengatakan bahwa penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa ke dalam badan baru. Di dalam studi penerjemahan, aliran ini akan menyatu dengan “function-oriented approach” yang di masa pasca kolonialisme (PDII) dikembangkan oleh Reiss, Nord, dll., yang di Indonesia adalah segolongan dengan Chairil Anwar.

Sedangkan golongan pertama tadi akan sealiran dengan para teoretikus studi penerjemahan yang berpendapat bahwa penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari BSu ke dalam BSa dengan mempertahankan bentuk linguistiknya sebisa mungkin (Nida) atau penerjemahan adalah proses yang dipengaruhi oleh pemahaman budaya, bahasa dan norma-norma budaya (termasuk di dalamnya norma sastra) dari TBSu dan TBSa oleh penerjemahnya (Newmark, Bolaños).

 

Ruwetnya Jika Kritikus Ikut Nimbrung

Mari kita kembali ke perbedaan pilihan kata antara AM dan WEY di atas. Abdul Mukhid (AM) berpendapat bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan dalam bahasa sasaran. Wawan Eko Yulianto (WEY) memandang bahwa ‘informasi’ itu perlu dihadirkan. Kedua, dari kata asli “sore” AB menekankan rasa “perihnya”, sementara WEY mengemukakan akibat dari kata ini kepada si burung, maka dia pilih kata “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang bisa mengusir burung itu.

Saya adalah pembaca yang kebetulan sedikit mengerti BSu. Misalnya saja saya menjadi kritikus terjemahan. Saya berpendapat bahwa kata “mengusir” di dalam terjemahan WEY kurang tepat. Yang lebih tepat, menurut saya, adalah “membuat diam”. Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa masalah perbedaan tafsir makna/pesan asli ini semakin rumit apabila kritikus terjemahan ikut nimbrung. Perhatikan ilustrasi di Gambar 1 berikut ini.

turunan pesan terjemahan puissiGambar 1. Turunan makna/pesan dalam proses penerjemahan dan pengkritikan karya terjemahan

Dalam Gambar 1 diilustrasikan bahwa pada saat penerjemah membaca puisi aslinya (TBSu), maka dia berusaha menangkap makna dan pesannya. Seperti kita ketahui, makna dan pesan puisi sering kali samar. Hasil penangkapan makna yang samar ini akan dipengaruhi oleh beberapa aspek pribadi penerjemahnya, termasuk pengetahuan budaya dan penguasaan bahasa. Makna dan pesan itu dicermati dan kemudian ditulis ulang (tekstualisasi) ke dalam bahasa sasaran (BSa). Tekstualisasi ini sangat dipengaruhi oleh ideologi penerjemahannya dan penguasaan norma BSa, termasuk norma-norma keindahan sastra BSa. Dan apabila ada orang lain (mis, kritikus atau orang awam) membandingkan puisi terjemahan ini dengan puisi aslinya, maka sebenarnya dia membandingkan pemahamannya akan puisi asli dengan pemahamannya atas puisi terjemahan (BSa) yang merupakan tekstualisasi dari pemahaman penerjemahnya atas puisi asli (BSu). Jadi, puisi terjemahan merupakan ‘turunan’ kedua dari puisi asli. Pemahaman kritikus dari puisi asli adalah ‘turunan’ pertama melalui jalur dirinya. Dan pemahamannya atas puisi terjemahan adalah turunan ‘ketiga’ melalui jalur penerjemah. Sehingga perbandingan yang dilakukan oleh kritikus sastra terjemahan adalah perbandingan dari ‘turunan pertama’ dengan ‘turunan ketiga’. Setiap tahap turunan (derivasi) ada kemungkinan distorsi makna. Dapat dibayangkan betapa hal ini mendatangkan kemungkinan yang besar bagi ketidakpadanan (ketidaksetiaan menurut kaca mata kritikus). Oleh Ignas Kleden (2004), fenomena makna puisi yang sulit ditangkap ini digambarkan dalam ungkapan “a poem means all that it can mean” atau “puisi bisa bermakna apa saja”. Oleh karena itu kebanyakan orang (“kritikus”) akan berpendapat bahwa penerjemahan puisi adalah sebuah pengkhianatan. Sekali lagi, saya berpendapat bahwa hal ini tidak mutlak benar.

Ya, tentu saja, yang cantik tidak akan pernah setia jika definisi kesetiaan mengacu pada bentuk linguistik saja karena kriteria keindahan TBSu dan TBSa menuntut bentuk linguistik yang berbeda. Alhasil, benarlah apa yang dikatakan Benny H. Hoed (segera terbit) bahwa terjemahan suatu karya sastra tidak dapat sepenuhnya memenuhi persyaratan pengalihan pesan yang “sempurna”. Dan ini tampak nyata bila kita bandingkan dengan penerjemahan teks jenis informatif.[1] Maka, apabila persyaratan pengalihan yang “sempurna” untuk jenis teks informatif ini kita terapkan ke penerjemahan sastra, terutama puisi, hasilnya adalah adanya “pengkhianatan kreatif”.

Lantas, kenapa judul tulisan ini “pengkhianatan dalam kesetiaan”? Sebenarnya ini bertolak dari mitos itu, yang membatasi “kesetiaan” pada kesepadanan bentuk linguistik atau fisik. Kesetiaan saya maknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi ini dilakukan dalam upaya menuju ‘kesetiaan’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut hemat saya, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Referensi

Carter, Peter. 2005. Review of Metamorphoses: Poetry and Translation, Same Difference. The London Magazine December / January 2005. Accessible from: www.carcanet.co.uk/cgi-bin/scribe?showdoc=365;doctype=review

Bolaños Cuellar, Sergio. 2002. Equivalence Revisited: A Key Concept in Modern Translation Theory. Forma Y Funcion 15 (2002), pp. 60-88. Departemento de Linguistica, Universidad Nacional de Colombia, Bogota, D.C. (Retrieved from: http://redalyc.uaemex.mx, on 5 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2006. Source Language Text, Parallel Text, and Model Translated Text: A Pilot Study in Teaching Translation. (Article sent personally by the article writer through email on 8 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2008. Towards an Intergrated Translation Approach: Proposal of Dynamic Translation Model. Ph.D. Dissertation. Hamburg: Hamburg University.

Damono, Sapardi Djoko. 2003. Menerjemahkan karya Sastra. Makalah disajikan dalam Kongres Nasional Penerjemahan, UNS, Surakarta, 15-16 September 2003.

 

Hoed, Benny H. (akan terbit). Penerjemahan Karya Sastra.

 

Kleden, Ignas. 2004. Goenawan Muhammad Selected Poems: Resensi Buku. Majalah Tempo, Edisi 25/XXXIII/16-22 Agustus 2004.

 


[1] Katahrina Reiss berpendapat bahwa teks dapat dibedakan menjadi teks informatif, apelatif dan ekspresif. Jenis teks ekspresif (misalnya puisi) harus diterjemahkan dengan mementingkan bentuk dan pesannya, sementara teks informatif mementingkan pesannya saja.