Posts Tagged ‘strategi pembelajaran’

Pembelajaran Inovatif Untuk Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Inggris yang Efektif

Imam Mudofir

Program Studi Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro

Politeknik Negeri Malang

Email: imammudofir76@yahoo.com

 

Abstrak: As a teacher in instruction process always focuses on how to deliver materials to the students in order that the students can understand the materials well. The understanding of students is the important thing in instruction process It also relates to the the innovative strategy in instruction process which creates the effective instruction. It is called effective if it can facilitate the students to achieve the purpose of instruction process. Therefore, teacher needs arranging the strategy is suitable with the characteristic of the students so they can achieve the competence in instruction process. Besides, the usage of mulitimedia is important in innovative and effective instruction processs. Innovative instruction process and the usage of media is important to achieve The effective English instruction.

Keywords: Innovative Instruction and Effective English Instruction

 

Abstrak: Sebagai tenaga pendidik dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar akan selalu terfokus pada bagaimana menyampaikan materi pada pebelajar dengan baik sehingga pebelajar akan paham bahan ajar. Kepahaman pebelajar merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar karena hal tersebut merupakan hasil akhir dari proses belajar dan mengajar. Hasil akhir tersebut juga disertai dengan suatu yang tidak kalah pentingnya yaitu adanya suatu strategi dalam proses belajar dan mengajar yang inovatif yang menciptakan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran disebut efektif bila dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditentukan. Untuk itu pengajar perlu menyusun strategi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mampu membuatnya mencapai kompetensi yang di tentukan dalam tujuan pembelajaran. Dalam hal ini pemanfaatan media juga dibutuhkan dalam pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif dengan menggunakan strategi pembelajaran serta pemanfaatan media sangat penting untuk menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif.

Kata Kunci: Pembelajaran Inovatif dan Pembelajaran Inggris Efektif

 

 Masalah yang kita hadapi dalam dunia pendidikan pada saat sekarang masih banyak dan semakin komplek sehingga perlu adanya suatu sumbangan pemikiran yang cocok dan sebagai obat yang mujarab untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebagai tenaga pendidik, sebaiknya kita tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, kita dengan semampu kita mengatasi masalah itu baik dengan tulisan, diskusi, maupun praktek nyata sebagai tenaga pendidik dalam proses belajar mengajar. Sehingga hal tersebut bukan sekedar perbincangan belaka namun ada wujud nyata dalam proses belajar dan mengajar.

Sebagai tenaga pendidik dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar akan selalu terfokus pada bagaimana menyampaikan materi pada pebelajar dengan baik sehingga pebelajar akan paham apa yang dimaksudkan oleh pembelajar. Kepahaman pebelajar merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar karena hal tersebut merupakan hasil akhir dari proses belajar dan mengajar. Hasil akhir tersebut juga disertai dengan suatu yang tidak kalah pentingnya yaitu adanya suatu strategi dalam proses belajar dan mengajar. Dikarenakan bagaimana proses belajar dan mengajar tersebut berlangsung akan mempengaruhi situasi dan kondisi baik manajemen kelas, pebelajar, dan pembelajar. Sehingga semua yang terlibat dalam proses belajar akan terlibat di dalamnya dengan baik.

Dalam pencapain hasil dari proses belajar dibutuhkan adanya inovasi atau pembaharuan dalam setiap saat sehingga pembelajar akan terus memikirkan selalu strategi apa yang seharusnya pembelajar lakukan dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan setiap situasi dan kondisi berbeda akan membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Apabila diterapkan dengan strategi yang sama maka proses belajar dan mengajar tidak efektif dan tidak efisien. Disini pembelajar membutuhkan suatu pemikiran yang terus menerus untuk membuat inovasi yang baru dalam setiap proses belajar dan mengajarnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran inovatif sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.

 

Definisi Pembelajaran Inovatif

Inovatif (innovative) yang berarti new ideas or techniques, merupakan kata sifat dari inovasi (innovation) yang berarti pembaharuan, juga berasal dari kata kerja innovate yang berarti make change atau introduce new thing (ideas or techniques) in order to make progress. Pembelajaran, merupakan terjemahan dari learning yang artinya belajar,atau pembelajaran. Jadi, pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dikemas oleh pebelajar atas dorongan gagasan barunya yang merupakan produk dari learning how to learn untuk melakukan langkah-langkah belajar, sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar.

Pembelajaran inovatif juga mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh guru atau instruktur lainnya yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu memfasilitasi siswa untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil belajar.

Berdasarkan definisi secara harfiah pembelajaran inovatif tersebut, tampak di dalamnya terkandung makna pembaharuan. Gagasan pembaharuan muncul sebagai akibat seseorang merasakan adanya anomali atau krisis pada paradigma yang dianutnya dalam memecahkan masalah belajar. Oleh sebab itu, dibutuhkan paradigma baru yang diyakini mampu memecahkan masalah tersebut. Namun, perubahan sering dianggap sebagai pengganggu kenyamanan diri,karena pada hakikatnya seseorang secara alamiah lebih mudah terjangkit virus rutinitas.

Padahal, di dalam pendidikan, banyak kalangan mengakui bahwa pekerjaan rutin cenderung tidak merangsang, membuat pendidikan ketinggalan zaman, dan akan mengancam eksistensi negara dalam perjuangan dan persaingan hidup. Rutinitas kinerja dapat bersumber dari beberapa faktor yang dianggap menghambat inovasi. Faktor-faktor yang dapat dikategorikan sebagai penghambat inovasi adalah keunggulan inovasi relatif sulit untuk dijelaskan dan dibuktikan, sering dianggap time dan cost consumming, pelaksanaan cenderung partial, complexity innovation sering menghantui orang untuk diam di jalan rutinitas, dan simplification paradigm dalam innovation dissemination berpotensi mengurangi keyakinan dan pemahaman bagi para praktisi terhadap inovasi.

Inovasi pembelajaran muncul dari perubahan paradigma pembelajaran. Perubahan paradigma pembelajaran berawal dari hasil refleksi terhadap eksistensi paradigma lama yang mengalami anomali menuju paradigma baru yang dihipotesiskan mampu memecahkan masalah. Terkait dengan perkuliahan di perguruan tinggi, paradigma pembelajaran yang dirasakan telah mengalami anomali, adalah (1) kecenderungan guru untuk berperan lebih sebagai transmiter, sumber pengetahuan, mahatahu, (2) kuliah terikat dengan jadwal yang ketat, (3) belajar diarahkan oleh kurikulum, (4)kecenderungan fakta, isi pelajaran, dan teori sebagai basis belajar, (5) lebih mentoleransi kebiasaan latihan menghafal, (6) cenderung kompetitif, (7) kelas menjadi fokus utama, (8) komputer lebih dipandang sebagai obyek, (9) penggunaan media statis lebih mendominasi, (10) komunikasi terbatas, (11) penilaian lebih bersifat normatif. Paradigma tersebut diduga kurang mampu memfasilitasi siswa untuk siap terjun di masyarakat.

Paradigma pembelajaran yang merupakan hasil gagasan baru adalah (1) peran guru lebih sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, dan kawan belajar, (2) jadwal fleksibel,terbuka sesuai kebutuhan, (3) belajar diarahkan oleh siswa sendiri, (4) berbasis masalah,proyek, dunia nyata, tindakan nyata, dan refleksi, (5) perancangan dan penyelidikan, (6)kreasi dan investigasi, (7) kolaborasi, (8) fokus masyarakat, (9) komputer sebagai alat,(10) presentasi media dinamis, (11) penilaian kinerja yang komprehensif. Paradigma pembelajaran tersebut diyakini mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup dan siap terjun di masyarakat.

Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa istilah tentang inovasi yang harus diketahui oleh para colon pendidik, yaitu diskoveri (discovery), invensi (invention), dan inovasi (innovation). Diskoveri adalah penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Invensi adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya hasil karya manusia. Sedangkan inovasi adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat.

Pembelajaran inovatif, dewasa ini menjadi perbincangan hangat diberbagai kalangan, mulai dari guru, praktisi pendidikan, dan pemerintah baik pusat maupun pemerintah daerah.Inovatif (innovative) yang berarti new ideas or techniques, merupakan kata sifat dari inovasi (innovation) yang berarti pembaharuan. Dengan demikian, inovasi dapat dimaknai sebagai suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, atau praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat yang dapat mendorong terjadinya perubahan yang lebih baik.

Pembelajaran, merupakan terjemahan dari learning yang artinya belajar,atau pembelajaran. Jadi, inovasi pembelajaran adalah pembelajaran yang menggunakan ide atau teknik/metode yang baru untuk melakukan langkah-langkah belajar, sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar yang diinginkan. Berdasarkan definisi secara harfiah pembelajaran inovatif, terkandung makna pembaharuan. Inovasi pembelajaran muncul dari perubahan paradigma pembelajaran. Perubahan paradigma pembelajaran berawal dari hasil refleksi terhadap eksistensi paradigma lama yang mengalami perubahan menuju paradigma baru yang diharapkan mampu memecahkan masalah.

Pada lembaga pendidikan, paradigma pembelajaran yang dirasakan telah mengalami perubahan antara lain: kecenderungan guru untuk berperan lebih sebagai transmiter, sumber pengetahuan,dan mahatahu, kuliah terikat dengan jadwal yang ketat, belajar diarahkan oleh kurikulum, kecenderungan fakta, isi pelajaran, dan teori sebagai basis belajar, lebih mentoleransi kebiasaan latihan menghafal, penggunaan media statis lebih mendominas, dan komunikasi terbatas.

Paradigma pembelajaran yang merupakan hasil gagasan baru adalah peran guru lebih sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, dan kawan belajar, jadwal fleksibel,terbuka sesuai kebutuhan, belajar diarahkan oleh siswa sendiri, berbasis masalah,proyek, dunia nyata, tindakan nyata, dan refleksi, perancangan dan penyelidikan, komputer sebagai alat, dan presentasi media dinamis.

Dalam proses pembelajaran, paradigma baru pembelajaran sebagai produk inovasi yang lebih menyediakan proses untuk mengembalikan hakikat siswa sebagai manusia yang memiliki segenap potensi untuk mengalami proses dalam mengembangkan kemanuasiaanya. Oleh sebab itu, apapun fasilitas yang dikreasi untuk memfasilitasi siswa dan siapapun fasilitator yang akan menemani siswa belajar, seharusnya bertolak dan berorientasi pada apa yang menjadi tujuan belajar siswa. Paradigma pembelajaran yang mampu mengusik hati siswa untuk membangkitkan mode mereka hendaknya menjadi fokus pertama dalam mengembangkan fasilitas belajar.

 

Pembelajaran Inovatif dalam Proses Belajar dan Mengajar.

Pembelajaran disebut efektif bila dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditentukan. Untuk itu pengajar perlu menyusun strategi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mampu membuatnya mencapai kompetensi yang di tentukan dalam tujuan pembelajaran. Pengembangan strategi instruksional yang dapat dilakukan oleh pengajar untuk menciptakan situasi pembelajaran yang mendukung pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Sehingga pembelajaran inovatif sangat efektif untuk proses belajar dan mengajar. Berikut langkah-langkah pengembangan strategi instruksional. Urutan kegiatan instruksional metode media waktu yaitu : pendahuluan deskripsi singkat, relevansi, Tujuan Instruksional Khusus (TIK), penyajian uraian, contoh, latihan, penutup tes formatif, umpan balik dan tindak lanjut.

 

Visi Pembelajaran Inovatif

Visi Pembelajaran dilihat dari makna kompetensi masa depan dan bebas berkreasi merupakan hal yang penting harus diyakini bersama oleh pengajar dan peserta didik adalah makna kompetensi yang terkandung dalam tujuan pembelajaran. Kompetensi dalam tujuan pembelajaran itu bukan saja perlu dipahami artinya tetapi juga diyakini manfaatnya oleh peserta didik bagi kehidupannya sekarang dan terutama masa datang. yang Dalam memahami dan menghayati makna tersebut peserta didik harus sampai pada taraf mendapatkan harapan baru, cita–cita baru, dalam hidupnya pada masa depan. Bagi pengajar itulah visi dalam sistem pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu pembelajaran yang mampu menciptakan impian ke masa depan bagi peserta didiknya. Penjelasan dari pengajar tentang visi pembelajaran itu bukan sekedar verbalistik, tetapi harus mampu membawa peserta didik ke angan–angan yang indah dan penuh harapan. Disinilah diperlukan pengajar profesional yang inovatif, sabar, dan selalu berorientasi ke depan, ke arah masa depan yang lebih baik, lebih cerah, lebih bersemangat, lebih positif, bukan sebaliknya, menciptakan peserta didik yang pesimis, negatifis, skeptis, rendah diri, dan tidak mampu melihat masa depannya. Hal ini dilakuakan dengan pengajar bebas berkreasi, bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya menurut situasi saat pembelajaran terjadi. Pengajar tidak perlu diharuskan mematuhi buku pintar tentang satu–satunya bimbingan teknis yang mengikat dan membelenggu kreativitasnya. Biarkan pengajar mencari sendiri cara yang dipandang terbaik dalam menyampaikan visi pembelajaran tersebut dan menguasai berbagai cara yang dipilihnya setiap saat. Yang harus tetap hidup dalam dada peserta didik adalah dicapainya keyakinan tentang makna kompetensi yang akan dicapainya bagi kehidupannya yang lebih baik saat ini dan terutama masa depan.

Sumber belajar yang konsisten dengan visi yang perlu dikuasai pengajar adalah digunakannya pendekatan sistem dalam melaksanakan pembelajaran. Pengajar perlu mempunyai dan menerapkan wawasan bersistem, bahwa untuk mewujudkan visi pembelajaran itu diperlukan cara-cara tentang mendayagunakan semua sumber belajar yang sudah ada dan bila perlu yang harus diadakan olehnya agar interaksi peserta didik dengan sumber belajar tersebut dapat berlangsung dengan aktif, lancar, menarik, menyenangkan, menantang, dan akhirnya menghasilkan kompetensi yang telah ditentukan. Cara-cara itu dapat diciptakan secara bebas oleh pengajar dan dapat diubah-ubah sewaktu-waktu sesuai dengan daya cipta, keinginan, perasaan yang ada padanya. Disamping penguasaan materi yang di ajarkan, perbendaharaan tentang pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai metode, dan media yang diperoleh dari berbagai pelatihan, diperkaya dengan pengalamannya dalam menggunakan berbagai urutan kegiatan penyajian, metode dan media pembelajaran, dan manajemen waktu dalam pembelajaran merupakan referensi bagi pengajar dalam menciptakan cara-cara tersebut agar sesuai dengan karakteristik peserta didik, yang dihadapinya dan visi pembelajaran yang ditentukan. Cara-cara itu disebut strategi pembelajaran. Melalui pengalaman secara kumulatif, setiap pengajar akan kaya strategi bahkan setiap saat dapat menciptakan strategi baru yang semuanya membuat peserta didik berinteraksi dengan sumber belajar secara efektif dan efisien dalam mewujudkan visi pembelajaran. Dengan kata lain pengajar dimungkinkan menemukan strategi yang paling efektif dan efisien serta disenangi untuk mewujudkan visi pembelajaran yang di cita-citakan. Inovasi dalam strategi pembelajaran dapat terjadi setiap saat oleh setiap pengajar. Modal awalnya adalah pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai metode dan media yang diperolehnya dari berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau yayasan pengelola pendidikan.

Keberhasilan mewujudkan Visi yaitu pengajar boleh bahkan bebas seluas-luasnya untuk berkreasi selama proses pembelajaran, tidak harus mengikuti satu strategi sepanjang waktu. Pengajar dapat mengubah strategi pembelajaran dari waktu ke waktu agar ia tidak jenuh, peserta didik tidak bosan tetapi senang, dan muncul gagasan-gagasan baru dalam strategi pembelajaran. Yang tidak boleh berubah-ubah adalah visi pembelajaran saja yaitu: kompetensi yang diharapkan dicapai setelah pembelajaran, karena kompetensi itu telah dirumuskan dan ditetapkan sejak awal. Visi inilah yang menjadi panduan dan fokus bagi pengajar dan peserta didik. Visi yang semula merupakan impian bagi peserta didik, berkat kemampuan pengajar dalam meyakinkannya diikuti dengan strategi pembelajaran yang berfokus kepada visi tersebut. Impian indah itu pada akhirnya harus berwujud kompetensi yang dikuasai peserta didik.

Pengukuran keberhasilan pembelajaran yang lain dilakukan oleh pengajar secara otonom. Pengukuran secara otonom dan mandiri sudah dapat memenuhi rasa ingin tahu tentang efektivitas pembelajaran dan sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban pengajar secara internal baik kepada sekolah maupun kepada peserta didik. Namun untuk memenuhi kepentingan yang lebih besar yaitu tanggung jawab terhadap masyarakat luas dan Pemerintah, pengukuran keberhasilan perlu dilakukan oleh pihak luar, tidak cukup hanya oleh pengajar yang bersangkutan. Disinilah letak perlunya ada ujian akhir nasional (UAN ) yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Pemerintah dalam hal ini adalah pihak luar ditinjau dari pihak pengajar, siswa dan sekolah.

Melalui penyelenggaraan UAN baik peserta didik maupun pengajar diukur keberhasilan mewujudkan visi pembelajarannya secara lebih independen. Bagi Pemerintah kepentingan penyelenggaraan UAN sekaligus sebagai cara untuk memotivasi peserta didik, pengajar, dan pimpinan sekolah untuk menyelenggarakan strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan memperhitungkan karakteristik peserta didik dan ketersediaan sumberdaya pendukung. Hasil UAN ini dapat digunakan pula sebagai dasar oleh Pemerintah atau lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat untuk mengadakan sumber daya yang ideal di setiap sekolah, seperti sarana prasarana, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan, dan peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan. Dengan demikian penyelenggara UAN mempunyai dampak positif walaupun melalui pemberian tekanan kepada semua pihak baik guru, peserta didik, sekolah, pemerintah dan masyarakat untuk berperan dan bertanggungjawab di bidang masing-masing dalam penyelenggaraan pendidikan. Semua pihak itu harus berupaya mengelola tekanan yang acapkali berwujud stress sebaik-baiknya agar visi pembelajaran tercapai.

  1. 1. Pebelajar yang mampu menggali dan mengembangkan potensi diri

Paradigma pembelajaran yang mampu mengusik hati siswa untuk membangkitkan mode mereka hendaknya menjadi fokus pertama dalam mengembangkan fasilitas belajar. Paradigma hati tersebut akan membangkitkan sikap positif terhadap belajar, sehingga siswa siap melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam menjalani invent belajar.

Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku peserta didik. Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2) Pola organisasi kepribadian berbeda untuk setiap orang dan bersifat unik, (3) Bersifat dinamis, terus berubah melalui cara-cara tertentu.

Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang. Tiap individu mampu berkembang menurut pola dan caranya sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. Pembentukkan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat bekerja di masyarakat. Sekolah merupakan tempat untuk mencetak calon-calon warga negara yang siap untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya baik di rumah maupun masyarakat. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran terutama di sekolah atau di lembaga pendidikan umumnya membutuhkan inovasi agar dapat berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan.

 

Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran Inovatif

Pemanfaatan media sangat diperlukan dalam pembelajarn inovatif sehingga pembelajaran tidak monoton. Menurut penelitian franzoni (2009) menunjukkan bahwa dengan adanya pengembangan integrasi taksonmi yang dikombinasikan dengan gaya-gaya mengajar, strategi pengajaran berbeda dan media elektronik akan mampu membantu proses belajar mengajar. Dan selain itu taksonomi yang telah dipaparkan adalah merupakan alat yang sangat berguna untuk memperoleh pengetahuan. Sehingga kita akan tahu strategi pembelajaran yang tepat untuk suatu matapelajaran supaya menjadi pembelajaran inovatif.

Selain itu juga menurut Zheng (2006) keefektifan penggunaan multimedia harus memperhatikan perancangan dan penggunaan multimedia itu sendiri. 2. Penggunaan multimedia harus adanya interaksi yang berarti antara kemampuan spasial dan demogarfi siswa yang mencakup umur, pendidikan, etnis, dan hobi. 3. Apabila penggunaan multimedia tersebut cepat maka akan mempercepat pula pemahaman siswa pada suatu matakuliah atau mata pelajaran. Sehingga waktu yang diperlukan dalam proses pemahaman akan relatif cepat.

 

Prinsip Belajar Bahasa Inggris yang Efektif

Belajar bahasa Inggris tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Yang penting adalah kemauan dan ketekunan. Prinsip pembelajaran bahasa Inggris yang inovatif akan menciptakan pembelajaran yang efektif. Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini. ”Way of life”: Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu, umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita. Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan. Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu. Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya.

Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan. ”Total commitment”: Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris. Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris.

Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif. ”Trying”: Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak. ”Beyond class activities”. Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni. ”Strategies”: Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing. Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita.

 

Gaya Belajar Bahasa Inggris

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing. ”Auditory learners”: Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya. ”Visual learners”: Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual.” Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: flow chart, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya. ”Kinesthetic learners”: Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut. Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

 

Belajar Bahasa Inggris secara On-Line

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar bahasa Inggris. Salah satunya adalah dengan belajar secara on-line. Menurut penelitian (Birch, 2007) menunjukkan bahwa adanya peningkatan komunikasi dan interaksi mahasiswa dari jarak jauh (on-line) yang melibatkan pemberlajaran sosial dan kolaboratif untuk mempraktekkan kosa kata dan meningkatkan fleksibilitas linguistik bahasa Inggris. Prosedur yang digunakan adalah subyek 70 dari 161 mahasiswa. Metode dengan survey elektronik pada akhir semester 1, 2005. 55% responden adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka. 80% wanita 20% laki-laki. 73% responden adalah pekerja paruh waktu. 40% on shore dan 60% off shore Siswa ditanya tentang manfaat dari media online berkenaan dengan pencapaian hasil pembelajaran, seperti pemahaman isi, pengembangan jaringan pembelajaran, dan mencari saran pada item penilaian. Kemudian siswa disuruh melaporkan penilaian diskusi on-line pada mata pelajaran. Sehingga mereka melaporkan manfaat dari hasil pembelajaran dan mengembangkan keahlian-keahlian lulusan. Selain itu siswa disuruh mengindikasikan sikap mereka terhadap item penilaian online pada sejumlah dimensi. Persepsi mereka diukur dalam lima skala yang dikembangkan.

Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah partisipasi mahasiswa sebelumnya: 62% setiap empat hari, 29% per bulan, dan 88% mahasiswa yang melaporkan akses mereka. Non peserta yang diharapkan 38% dan penggunaan waktu yang terbatas 26%. 2) Mendapatkan umpan balik: 94%, mempelajari perspektif siswa: 93%, mempelajari pengalaman siswa lainnya: 93%, interaksi dengan instruktur: 93%, social atribut: 90%, penglaman dengan lainnya: 85%, komunitas pembelajaran: 84%, dan interaksi dengan mahasiswa lainnya: 86%. 3) Persepsi hasil sosial dan kognitif, umpan balik dari instruktur 92%, dengan mahasiswa lain 76%, sharing pandangan 85%, dengan yang lainnya 80%, kesempatan bertemu 42%, dan hubungan lebih dekat 29%. 3) Kemampuan persepsi untuk meningkatkan keahlian lulusan pada kelompok yang menggunakan bahasa yang berlawanan. 5) Sikap mahasiswa terhadap diskusi secara online aktif

Sehingga dapat disimpulkan bahwa media online ini sangat efektif dan bermanfaat bagi mahasiswa yang mempunyai kesibukan dan pekerjaan selain belajar. Sehingga akan memenuhi intensitas pertemuan pengajar dan mahasiswa lainnya. Oleh karena itu media ini sebaiknya didesain dan digunakan dalam lembaga pendidikan.

 

Peningkatan Pembelajaran Bahasa Inggris

Kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kemampuan yang sangat menentukan dalam memperoleh lapangan kerja akhir-akhir ini. Fenomena inilah yang mendasari munculnya berbagai macam kursus Bahasa Inggris di seluruh wilayah Indonesia. Terlepas dari bagaimana sesungguhnya mutu dari kursus-kursus Bahasa Inggris yang ada di Indonesia ini, tersirat suatu keadaan yang memprihatinkan yaitu kurang baiknya mutu hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah.

Secara logika, kita dapat mengajukan argumentasi bahwa tidak mungkin kursus-kursus Bahasa Inggris sedemikian menjamurnya di Indonesia jika hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah ternyata memuaskan. Jika demikian halnya, maka kursus Bahasa Inggris yang ada hanyalah yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan khusus seperti untuk memperoleh sertifikat TOEFL, IELTS, TOEIC dan lain-lain serta bukan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kenyataannya, mayoritas kursus Bahasa Inggris yang ada adalah yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, bukan untuk tujuan-tujuan lain.

Keadaan ini tentunya menimbulkan masalah. Bagi para siswa yang datang dari keluarga menengah ke atas, masalah kesulitan berbahasa Inggris ini dapat diatasi dengan mudah. Mereka tinggal menunjuk kursus Bahasa Inggris mana saja yang mereka suka dan mulai belajar. Tetapi, bagaimana halnya dengan para siswa yang berasal dari kalangan bawah? Hal ini tentunya merupakan kesulitan tersendiri karena, kadang-kadang, jangankan untuk membayar uang kursus, untuk makanpun mereka masih harus mencari uang selepas sekolah. Lalu apa dampaknya? Tentu sangat jelas. Karena perusahaan-perusahaan papan atas yang ada di negara ini selalu mencantumkan persyaratan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu syarat untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut, maka hilanglah kesempatan para siswa yang berasal dari kalangan bawah ini untuk dapat masuk ke wilayah kerja yang dapat memberikan penghasilan yang lebih besar. Mereka akhirnya hanya dapat bekerja di perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris dengan gaji yang sangat jauh tingkatannya dengan perusahaan asing. Dengan demikian, taraf kehidupan mereka tentunya tidak akan jauh berbeda dengan taraf kehidupan orang tua mereka sebelumnya.

Dengan memandang alasan-alasan tersebut di atas, apakah kita sebagai guru Bahasa Inggris tidak tergerak untuk berupaya meningkatkan kemampuan siswa berbahasa Inggris melalui pelajaran Bahasa Inggris di sekolah? Sebagai kalangan yang sering disebut-sebut sebagai Pahlawan tanpa Tanda Jasa, sangatlah tidak layak jika kita ingin dianggap sebagai pahlawan tetapi tidak berupaya untuk memajukan siswa-siswa kita. Di tengah-tengah munculnya fenomena segelintir guru-guru yang mengejar materi untuk kepentingan pribadi dengan memanfaatkan muridnya, marilah kita usik kembali jiwa pengabdian kita untuk berupaya meningkatkan hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah agar siswa-siswa kita yang berasal dari kalangan bawah tidak semakin terpuruk dan tidak akan kalah dari siswa-siswa lain yang berasal dari kalangan berada.

Masalah-Masalah yang Timbul dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Jika kita renungkan lebih dalam, adalah hal yang sangat luar biasa bahwa siswa yang telah belajar Bahasa Inggris selama minimal 6 tahun (sejak SMP) setelah lulus SMA masih tidak dapat berbicara dalam Bahasa Inggris, bahkan untuk memperkenalkan diri sendiri sekalipun. Disebut luar biasa karena jika siswa tersebut mengikuti kursus general english di suatu lembaga kursus dalam waktu yang sama, maka dapat dipastikan siswa sudah sangat mampu berbincang-bincang dalam Bahasa Inggris, bahkan mungkin sudah dapat memahami Bahasa Inggris untuk tingkatan drama, puisi, dan lain-lain. Jadi, mengapa hal ini bisa terjadi?

Masalah-masalah yang menghambat pembelajaran bahasa Inggris adalah:

  1. Jarangnya guru berbicara dengan Bahasa Inggris di dalam kelas. Hal ini dirasakan menghambat oleh para siswa karena menurut mereka, mereka jadi tidak terbiasa mendengar orang lain berbahasa Inggris.
  2. Pelajaran terlalu ditekankan pada tata bahasa (dan bukan pada percakapan), tetapi siswa jarang diberi arahan mengenai bagaimana dan apa fungsi dari unsur-unsur tata bahasa yang mereka pelajari tersebut. Berdasarkan hasil kuestioner dan hasil tes pada para siswa, terlihat bahwa rata-rata siswa menguasai pola-pola tata bahasa Inggris (misalnya struktur untuk simple present tense, dan lain-lain) tetapi, siswa tidak mengetahui kapan struktur tersebut harus digunakan dan bagaimana pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena bahasa Inggris, sama halnya seperti bahasa Indonesia, akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan dan diaplikasikan meskipun secara tata bahasa siswa tidak terlalu menguasainya. Bukan berarti bahwa pembelajaran tata bahasa ini tidak penting, tetapi perlu sekali teori-teori tersebut dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Kosa kata yang diajarkan tidak terlalu berguna dalam percakapan sehari-hari. Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa kata-kata yang diberikan oleh guru Bahasa Inggris di sekolah terlalu bersifat teknis, misalnya mengenai industrialisasi, reboisasi, dan lain-lain, sementara siswa tetap saja mengalami kesulitan untuk mengartikan kata-kata yang banyak digunakan pada film, majalah, dan situs-situs internet berbahasa Inggris. Bahkan kadang-kadang, siswa sangat hapal istilah-istilah bahasa Inggris untuk bidang politik (seperti misalnya reformation, globalization, dan lain-lain) tetapi tidak dapat menyebutkan benda-benda yang biasa mereka pakai sehari-hari dalam bahasa Inggris (misalnya celengan, selokan, dan lain-lain). Beberapa kalangan siswa bahkan mengatakan bahwa dengan kosa kata seperti yang dipelajari di sekolah tidak mungkin siswa dapat memulai percakapan dengan orang asing dengan menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin ada benarnya juga, tidak mungkin tentunya kita tiba-tiba mengajak orang yang baru kita kenal untuk mendiskusikan industrialisasi, misalnya.
  4. Materi pelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMU tidak berkesinambungan Para siswa menyatakan bahwa sering terjadi pengulangan materi (seperti misalnya tenses) yang telah diajarkan di SMP di tingkatan SMU, tetapi tetap saja fungsi dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari kurang jelas.

Jadi, sebagai seorang guru Bahasa Inggris, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut? Banyak tentunya, karena diakui atau tidak, gurulah yang memegang kendali dalam pengajaran. Yang jelas, kita tidak boleh hanya menyalahkan pihak pemerintah (yang membuat kurikulum) saja tetapi akan lebih baik jika kita mengintrospeksi diri sendiri dan lebih menggali lagi potensi kita untuk mencari pendekatan yang lebih berhasil dalam mengajarkan Bahasa Inggris pada siswa di sekolah.

Kesimpulan dan Saran dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak kendala yang harus dihadapi dalam upaya meningkatkan mutu hasil pengajaran bahasa Inggris di sekolah. Untuk itu, penulis memiliki beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi para sesama pengajar bahasa Inggris di Indonesia.

  1. Selalu pertahankan kemampuan kita bercakap-cakap dalam bahasa Inggris agar kelancaran berbahasa tetap terjaga. Hal ini perlu karena dapat memotivasi murid-murid kita untuk dapat berbicara dengan lancar. Mungkin sulit sekali jika kita tidak pernah bertemu dengan orang yang juga dapat berbahasa Inggris. Oleh karena itu, penulis memiliki usul agar para guru bahasa Inggris ini memiliki semacam klub (conversation club) untuk ajang bertemu dan bertukar pikiran antar sesama guru Bahasa Inggris di wilayah yang sama. Dengan demikian, keahlian kita dalam menggunakan bahasa Inggris akan selalu tetap terjaga.
  2. Selalu menekankan fungsi dan aplikasi dari semua unsur tata bahasa yang kita terangkan kepada siswa. Pastikan bahwa siswa benar-benar mengerti kapan mereka harus menggunakan struktur tersebut.
  3. Berikan tambahan kosa kata yang akan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari pada siswa dan perkenalkan siswa dengan majalah-majalah remaja berbahasa Inggris agar mereka menjadi gemar membaca dan memperoleh banyak tambahan kosakata dari majalah tersebut. Dengan demikian, siswa akan percaya diri jika harus bergaul dengan remaja asing yang berbahasa Inggris.
  4. Meskipun kita tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah kurikulum, setidaknya pastikan bahwa pengulangan materi yang kita berikan merupakan pendalaman mengenai apa yang sudah dipelajari siswa dan bukan hanya mengulang tetapi tidak membuat siswa semakin bisa menerapkannya.

Menurut (Laborda, 2007) seharusnya pengajaran bahasa Inggris juga memperhatikan penggunaan teknologi dalam proses belajar dan mengajar seperti penggumaam komputer. Komputer dan pengajaran bahasa saling seiring sejalan dalam proses belajar mengajar. Komputer sebagai alat dalam kelas bahasa kedua. Komputer dan teknologi merupakan sumber bagi pengajar-pengajar di seluruh dunia yang sebagai sarana untuk mengoperasikan internet yang didalamnya bisa dibuat blog, websites, wikis, metologi pengajaran bahasa, jurnal, dan lain sebagainya. Dari sisni dapat dibuktikan bahwa adanya efek positif dalam pengintegrasian komputer dalam pengajaran bahasa. Banyak dari pengajar tertantang untuk mempelajari komputer untuk dimanfaatkan dalam proses belajar dan mengajar. Kegunaan komputer tidak hanya sebagai mengetik untuk sebuah tulisan, mengirim pesan, membrowsing internet, akan tetapi komputer bisa digunakan sebagai alat mengajar sehingga bisa memotivasi dan menginstruksikan pengajar untuk mengintegrasikan komputer dan ICT pada kelas-kelas mereka.

Teknologi dalam suatu kelas pembelajaran sangat penting berhubungan dengan ICT dalam kurikulum bahasa, tetapi dalam kenyataannya banyak pengajar yg enggan menggunakan komputer. Penggunaan komputer dalam pengajaran akan meghasilkan teks dan gambar. Komputer juga dapat digunakan untuk perancangan, pengoperasian dan pemanfaatan website sehingga digunakan untuk membuat dan mencari informasi yang dibutuhkan. Internet based projek work mengacu pada task based learning dan cooperative language learning. Hal ini juga berhubungan dengan wikis, blog, dan poadcast, online reference tools,dan e-learning.

 

Kesimpulan

Pembelajaran inovatif mampu menggali dan mengembangkan potensi diri yang memperhatikan visi dan pemanfaatan media. Selain itu juga pmenurut Pitrik (2002) pemilihan strategi dalam proses belajar dan mengajar sangat diperlukan karena sehingga bisa efektif. Sehingga penggunaan media sebagai pilihan untuk melakukannya merupakan salah satu pilihan. Karena media bisa mengkonstruksi pengetahuan siswa secara on-line. Media sebagai alat supaya siswa dapat berkomunikasi secara fokus. Selain itu penggabungan media teknologi komunikasi dan informasi dengan pembelajaran sosial dan personal sangat dibutuhkan dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Pembelajaran inovatif dengan menggunakan strategi pembelajaran serta pemanfaatan media sangat penting untuk menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif.

 

Saran

Saran-saran untuk pemanfaatan artikel ini:

  1. Saran-Saran untuk Pemanfaatan Pembelajaran

            Berdasarkan hasil artikel yang dipaparkan pada kesimpulan, berikut ini diajukan beberapa saran:

  1. Artikel ini dapat digunakan oleh dosen bahasa Inggris untuk mengadakan inovasi pembelajaran dan penelitian lainnya.
  2. Seluruh lembaga pendidikan dapat mengadakan inovasi dan perbaikan pembelajaran bahasa Inggris dengan menyediakan fasilitas pembelajaran
  3. Saran-saran untuk penelitian lanjutan
  4. Dosen dapat memilih metode pembelajaran yang inovasi, yang dapat meningkatkan hasil belajar baik dengan pengembangan bahan ajar ataupun penggunaan strategi pembelajaran. Dan disarankan pula untuk diadakan pengembangan bahan ajar dan penelitian lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas dan metode pembelajaran yang lebih banyak serta menggunakan variabel-variabel lainnya
  5. Perlu menguji keefektifan pembelajaran yang menggunakan inovasi pembelajaran.

 

Daftar Pustaka

Birch, Dawn & Volkov Michael. (2007). Assessment of online reflections: engaging English Second language (ESL) students. Australian Journal of educational Technology, 23 (3), 291-306.

Franzoni, A. L., & Assar, S. (2009). Student Learning Styles Adaptation Method Based on Teaching Strategies and Electronic Media. Educational Technology & Society, 12 (4), 15-29

Pitrik, Renate M. & Holzinger, A. (2002). Student-Centred Teaching Meets New Media: Concept and Case Study. Educational Technology & Society 5 (4). 2002. ISSN 1436-4522

Zheng R. & Zhou, B. (2006). Recency Effect on Problem Solving in Interactive Multimedia Learning. Educational Technology & Society, 12 (4), 107- 118

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN (STAD VS KONVESIONAL) DAN MODALITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR VOCABULARY DALAM BERBICARA BAHASA INGGRIS

Imam Mudofir

Program Studi Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang

imammudofir76@yahoo.com

 

ABSTRACT: The aim of this study is to examine (1) the differences vocabulary English speaking learning outcome taught by Student Teams Achievement Division (STAD) and the conventional learning strategies, (2) student differences vocabulary in English speaking learning outcome that have different learning modalities (visual, auditory, kinesthetic) gain different result in English speaking skill vocabulary, and (3) the interaction effect between learning strategies and learning modalities (visual, auditory, kinesthetic) towards vocabulary English speaking learning outcome.This research was conducted in the second semester of academic year 2012-2013 of Electronics Engineering Department, State Polytechnic of Malang, which consists of 44 students of experimental class and 44 students of control class. This studyis designed by using quasi-experimental research designs (quasi -experiment) with the model design is Nonequivalent Pretest – Posttest Control Group Design. Based on data analysis, the results of the study (1) there are differences in learning outcome between groups of English speaking students taught by learning strategy STAD with a group of students who are taught by conventional learning strategies (F = 68.344, p = 0.000), (2) there are differences in English speaking learning outcome between the students who have different learning modalities (F = 13.022, p = 0.000), and there is no interaction effect between learning strategy STAD and conventional and learning modalities (visual, auditory and kinesthetic) on English speaking learning outcome (F = 0.783, p = 0.499).

 

Keywords: Students Team Learning Achievement Division (STAD), Conventional, Learning Modality, Learning outcome, vocabulary English Speaking Performance.

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan hasil belajar vocabulary dalam berbicara Bahasa Inggris antara mahasiswa yang diajar dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan strategi pembelajaran konvensional, (2) perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris mahasiswa yang mempunyai modalitas belajar berbeda (visual, auditory, dan kinestetik) memperoleh hasil belajar vocabulary dalam berbicara Bahasa Inggris berbeda, dan (3) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar (visual, auditory, kinestetik) terhadap hasil belajar vocabulary dalam berbicara Bahasa Inggris. Penelitian ini dilakukan di Program Studi Teknik Elektronika, Politeknik Negeri Malang semester II tahun akademik 2012-2013, yang terdiri dari 44 mahasiswa kelas eksperimen dan 44 mahasiswa kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan strategi penelitian yang dirancang dengan menggunakan desain penelitian eksperimental semu (quasi experiment) dengan model rancangan yang digunakan adalah Nonequavalent Pretest-Postest Control Group Design. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) ada perbedaan hasil belajar berbicara Bahasa Inggris antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan strategi pembelajaran STAD (PKs) dengan kelompok mahasiswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional (PKv) (F = 13.022, p = 0.000), (2) ada perbedaan hasil belajar berbicara bahasa Inggris antara kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar berbeda (MB) (F = 68.344, p = 0.000), dan (3) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran STAD dan konvensional dan modalitas belajar (visual, auditory dan kinesthetik) terhadap hasil belajar berbicara Bahasa Inggris (F = 0.783, p = 0.499).

 

Kata kunci: Students Team Achievement Division (STAD), konvensional,   modalitas belajar, hasil belajar, dan vocabulary dalam berbicara Bahasa Inggris

 

Salah satu strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran yang menarik bagi mahasiswa dan bisa menanamkan aspek-aspek soft skills pada mahasiswa (Setyasari, 2009). Hasil penelitian Kendek & Ardhana (2004) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Division (STAD) lebih baik hasilnya dari strategi pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Division (STAD)dapat meningkatkan pemahaman materi yang diajarkan, dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa, dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa, interaksi mahasiswa, pembelajaran yang menyenangkan, bertanggungjawab, inovatif, dan kompetitif untuk belajar (Arnidah dkk., 2005). Dalam referensi dan hasil penelitian, pembelajaran yang menarik dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa (Degeng, 1997). Pembelajar dituntut mampu menyelenggarakan pembelajaran yang inovatif (Ardhana dkk., 2004). Proses pembelajaran inovatif ditandai oleh pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan pengetahuan dengan caranya sendiri sebagai perwujudan terhadap tugas dan tanggung jawab (Gredler, 1992). Adapun yang dimaksud dengan efektif adalah “how well the instruction work”, efisien adalah “the effectiveness of instruction divided by time and/or cost of the instruction”, dan menarik adalah “the extent to which the learners enjoy the instruction” (Reigeluth, 1999).

Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa target sasaran mata kuliah Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Malang yang belum tercapai. Hal ini disebabkan karena penerapan strategi pembelajaran yang tidak sesuai dengan tujuan mata kuliah dan belum optimalnya praktek Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran mata kuliah Bahasa Inggris. Hal ini disebabkan penggunaan komunitas berbahasa Inggris dan budaya kurangnya penggunaan Bahasa Inggris (Chaer & Leonie, 2006) menyatakan bahwa Bahasa Inggris dapat digunakan dan diaplikasikan meskipun secara tata bahasa mahasiswa tidak terlalu menguasainya. Selanjutnya, permasalahan lain dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Malang yaitu dosen belum menggali bagaimana mahasiswa belajar sesuai dengan modalitas belajar yang mereka miliki. Modalitas belajar menurut DePorter dkk. (2000) dan DePorter & Hernacki (2007) yaitu visual, auditory, dan kinestetik.

Adapun target mata kuliah Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Malang adalah mahasiswa mampu berkomunikasi lisan untuk mampu bersaing dalam dunia kerja. Hal ini di dukung bahwa dalam bursa kerja sering kita menemukan suatu lowongan pekerjaan yang mempersyaratkan penguasaan Bahasa Inggris aktif (speaking) dalam wawancara pekerjaan (Tim BAN PSTE, 2012); (Sriwahyuni, 2006) dan (Brown, 2007). Berbicara Bahasa Inggris dalam prakteknya mahasiswa membutuhkan penguasaan vocabulary yang cukup. Mahasiswa yang mempunyai vocabulary yang banyak akan mampu memproduksi kalimat yang banyak dan begitu sebaliknya.Belajar vocabularyBahasa Inggris merupakan sebuah hal yang amat penting di dalam pembelajaran. Tanpa pembendaharaan vocabulary yang cukup banyak, seseorang akan kesulitan dalam berbicara, mengerti maksud, dan menulis dalam bahasa Inggris.Dengan memperhatikanperanan penguasaan komunikasi bahasa maka dirasa perlu untuk memahami pengertian vocabulary.(Khanafi, 2015; Nurgiyanto, 1987; Setiadi;Solihin, 2013; Subekti, 2015; dan Witkin 1974).

Dari berbagai analisis masalah dalam penguasaan vocabularyberbicara Bahasa Inggris dalam proses belajar dan mengajar Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Malang perlu adanya penerapan teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini dengan teori pemerolehan bahasa ke dua dengan menggunakan teori strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan modalitas belajar dengan tujuan penguasaan Bahasa Inggris secara lisan (speaking) dalam menghadapi wawancara pekerjaan. Sehingga mahasiswa lulusan Politeknik Negeri Malang dapat diterima di perusahaan yang mereka idam-idamkan. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Naghavi & Nakhel (2003) yang menyebutkan bahwa strategi pembelajaran Cooperative Learning dengan tipe Students Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris dari hasil kerjasama kelompok. Selain kooperatif mempunyai kelebihan dalam pengajaran EFL, kooperatif juga mempunyai kekurangan dalam pengajaran EFL ( Mudofir, 2006).

Penelitian ini ditekankan pada keahlian berbicara Bahasa Inggris (speaking) dikuatkan dengan hasil pra-kuesioner bahwa dari 180 mahasiswa di Program Studi Teknik Elektronika Politeknik Negeri Malang mengatakan bahwa 121 mahasiswa mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada penguasaan keahlian berbicara (speaking), 35 mahasiswa mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada penguasaan keahlian membaca (Reading), 19 mahasiswa mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada penguasaan keahlian mendengarkan (listening), dan 5 mahasiswa mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada penguasaan keahlian menulis (writing). Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa di Program Studi Teknik Elektronika Politeknik Negeri Malang mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada berbicara (speaking).

Selain itu juga, penelitian ini menerapkan strategi pembelajaran konvensional dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Malang, Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Teknik Elektronika untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris sebagai perbandingan hasil pembelajaran berbicara Bahasa Inggris untuk wawancara kerja dengan menggunakan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).

Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1) Apakah ada perbedaan hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris antara mahasiswa yang diajar dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan strategi pembelajaran konvensional? 2) Apakah mahasiswa yang mempunyai modalitas belajar berbeda (visual, auditory, kinestetik) memperoleh hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris berbeda? 3) Apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar (visual, auditory, kinestetik) mahasiswa terhadap hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris?

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji: 1) Perbedaan hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris antara mahasiswa yang diajar dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan strategi pembelajaran konvensional, 2) Perbedaan mahasiswa yang mempunyai modalitas belajar berbeda (visual, auditory, kinestetik) memperoleh hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris berbeda, 3) Pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar (visual, auditory, kinestetik) mahasiswa terhadap hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris.

 

Kajian Kepustakaan

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran kelompok dengan jumlah peserta didik 2-5 orang dengan gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang maksimal. Suprijono, Agus (2010:54) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh pengajar atau diarahkan oleh pengajar”. Slavin (1995) “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”. Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-5 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”.

Selain menggunakan strategi pembelajaran cooperative learning, pengajar menggali modalitas belajar mahasiswa untuk meningkatkan vocabulary bahasa Inggris mahasiswa. Gaya belajar atau modalitas belajar adalah cara seseorang menginterpretasi dunia sekitarnya melalui penginderaan. Setiap anak punya penginderaan yang paling domininan. Indera yang dominan inilah yang menjadi andalan seseorang untuk memproses sebuah informasi. Penginderaan yang dimaksud adalah Visual. Seseorang dengan gaya belajar visual, belajar menggunakan indera penglihatan. Anak dengan gaya belajar ini sangat menyukai gambar, ilustrasi, grafik, kartu dan warna. Kelak saat si kecil sudah dapat menulis, dia akan belajar dengan cara membuat catatan-catatan. Atau, dia akan sering memejamkan mata untuk membuat gambar dalam benaknya. Auditory adalah gaya belajar auditif, belajar dengan menggunakan indera pendengaran. Dia senang bicara sendiri, mengulang apa yang dikatakan orang lain sebagai sumber informasi. Ketika mendengarkan orang lain berbicara, anak dengan gaya belajar ini akan menirukannya untuk memproses informasi. Semakin keras suara yang dikeluarkannya, semakin mempermudah dia untuk mengingat. Kalau Anda sering mendapati anak bercerita dengan cara melagukannya alias nge-rap, pertanda dia pemilik gaya belajar auditif. Kinestetik adalah gaya belajar dengan menggunakan indera peraba, yaitu  menyentuh. Anak dengan gaya belajar ini adalah pembelajar yang aktif dan butuh banyak bergerak. Dia akan menggunakan tangannya untuk membuat apa saja. Anak yang punya gaya belajar ini mudah terganggu konsentrasinya. Karena itu, anak dengan gaya belajar ini kelak harus duduk di barisan paling depan di kelasnya. (DePorter dkk, 2000 dan DePorter & Hernacki, 2007).

Penggunaan strategi pembelajaran dan modalitas belajar digunakan untuk meningkatkan vocabulary bahasa Inggris mahasiswa. Vocabulary sangat penting dalam pembelajaran bahasa, sehingga pengajar harus menggunakan metode yang baik dalam mengajar vocabulary. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan vocabulary yang dikuasai mahasiswa. Menurut Webster (1992) vocabulary merupakan elemen yang sangat penting dari bahasa.

Vocabulary adalah dasar yang harus dipelajari terlebih dahulu oleh peserta didik. Ini akan membantu pelajar dalam belajar bahasa Inggris dengan baik. Oleh karena itu dapat dikatakan vocabulary adalah komponen inti dari kemampuan bahasa bagi peserta didik untuk memproduksi kalimat dalam berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. 1) Vocabulary dalam membaca adalah seseorang dapat mengenali kata-kata ketika membaca, 2) vocabulary dalam mendengarkan adalah seseorang dapat mengenali kata-kata dalam mendengarkan pelafalan bahasa, 3) vocabulary dalam menulis adalah seseorang dapat menggunakan vocabulary secara tertulis, 4) vocabulary dalam berbicara adalah seseorang dapat menggunakan vocabulary dalam berbagai bentuk berbicara. Dari kegunaan vocabulary dalam empat keahlian bahasa maka vocabulary sangat penting dalam pembelajaran bahasa.

 

Metode Penelitian

Rancangan Penelitian

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan desain penelitian eksperimental semu (quasi experiment), alasan digunakannya eksperimen ini karena dalam penelitian bidang pendidikan (ilmu sosial) sangat sulit melakukan keketatan kontrol seperti pada penelitian bidang eksakta. Desain quasi experimental berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol di samping kelompok eksperimen, namun pemilahan kedua kelompok dilakukan dengan menggunakan dengan purposive random sampling dengan penentuan sampel dengan 1) mengambil responden yang pada saat ini sedang menempuh mata kuliah Bahasa Inggris, 2) mengambil responden yang pada saat ini sedang menempuh mata kuliah Bahasa Inggris di semester dua.

 

Rancangan faktorial penelitian ini adalah (3 x 2) (Tuckman, 1999).

Tabel 1. Rancangan Penelitian

MODALITASBELAJAR STRATEGI PEMBELAJARAN
STAD KONVENSIONAL
Visual Y111, Y112,…Y11n. Y121, Y122,… Y12n
Auditorial Y211,Y212,… Y21n Y221, Y222,… Y22n
Kinestetik Y311,Y312,… Y31n Y321, Y322,… Y32n

 

Keterangan:

Y111, Y112,…Y11n. = Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar visual diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)

Y121, Y122,… Y12n = Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar visual diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran konvensional

Y211,Y212,… Y21n= Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar auditory diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)

Y221, Y222,… Y22n= Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar auditory diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran konvensional

Y311,Y312,… Y31n= Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar auditory diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)

Y321, Y322,… Y32n= Kelompok mahasiswa yang memiliki modalitas belajar auditory diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran konvensional

 

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah di POLINEMA (Politeknik Negeri Malang). Secara populasi penelitian ini dilakukan di Progam Studi Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang untuk angkatan 2013 sebanyak 4 kelas untuk D3 dan 2 kelas untuk D4, dengan jumlah mahasiswa 150 mahasiswa. Penentuan kelompok mahasiswa dengan mengadakan tes vocabulary berbicara dengan cara1) mahasiswa di wawancarai dengan menggunakan tes wawancara pekerjaan “job interview”, 2) dosen menilai penampilan tes wawancara pekerjaan “job interview” mahasiswa pada komponen vocabulary, 3) dosen mengelompokkan mulai nilai yang tetinggi sampai terendah (total skor 0 – 100), 4) dosen membentuk beberapa kelompok dengan 4 anggota setiap kelompoknya secara acak dengan mencampur antara nilai tertinggi dan terendah.

 

Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah 1) Variabel bebas: Strategi pembelajaran yang terdiri dari Student Teams Achievement Division (STAD) dan Konvensional, 2) Variabel moderator: Modalitas belajar (visual, auditory, dan kinestetik) yang diukur dengan menggunakan instrument yang dikembangkan dari DePorter dan Hernacki (2007), 3) Variabel terikat: Hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris.Hasil belajar dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes vocabularyberbicara (speaking) untuk wawancara kerja setelah pelaksanaan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD).

Dari empat kelas yang terpilih sebagai subyek penelitian selanjutnya diberikan tes modalitas belajar. Pada pertemuan berikutnya diberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa. Subyek yang telah memiliki kondisi kemampuan belajar Bahasa Inggris yang diasumsikan sama atau homogen diberikan perlakuan strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) yang dialokasikan waktu 8 kali pertemuan (1 kali pertemuan adalah 2 jam dengan alokasi waktu 1 jam perkuliahan adalah 45 menit).

 

Prosedur Penelitian

Tahap persiapan ekperimen: 1) melakukan studi pendahuluan, 2) Menentukan waktu pelaksanaan eksperimen, 3) mempersiapkan semua instrumen penelitian, 3) mengadakan diskusi dengan dosen pengampu mata kuliah Bahasa   Inggris, 4) menyiapkan perangkat pembelajaran: a) Langkah-Langkah Umum Strategi Pembelajaran STAD dan Konvensional b) Skenario Strategi Pembelajaran STAD dan Konvensional, 3) RPP Strategi Pembelajaran STAD, 4) RPP Strategi Pembelajaran Konvensional, 5) Bahan Ajar, 6) Kisi-Kisi Ulangan Harian, 7) Kisi- Kisi Soal Pre-test dan Post-test, 8) Instrumen Evaluasi VocabularyBerbicara Bahasa Inggris, 9) Instrumen Modalitas Belajar.

Tahap pelaksanaan eksperimen: 1) memberikan tes modalitas belajar mahasiswa, 2) memberikan pre-test vocabulary berbicara untuk wawancara kerja, 3) Melaksanakan perlakuan pembelajaran (eksperimen) menggunakan Student Teams Achievement Division (STAD) dan Konvensional, 4) melakukan evaluasi (post-test) untuk strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Konvensional

Tahap pasca eksperimen: Langkah terakhir setelah memberikan perlakuan, maka kedua kelompok diberi tes akhir atau post-test vocabularyberbicara untuk wawancara kerja, bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap hasil belajar mahasiswa dalam vocabularyberbicara untuk wawancara kerja, serta interaksi pengaruh antara variabel bebas dan variabel moderator terhadap hasil belajar vocabularyberbicara Bahasa Inggris untuk wawancara kerja. Prosedur pelaksanaan penelitian eksperimen tergambar pada bagan 1 sebagai berikut:

Mudof1

Bagan Prosedur Pelaksanaan Penelitian Eksperimen

Keterangan:

PKs     : Pembelajaran STAD

PKv     : Pembelajaran Konvensional

MB      : Modalitas Belajar

MBv    : Modalitas Belajar Visual

MBa    : Modalitas Belajar Auditory

MBk    : Modalitas Belajar Kinestetik

Pada bagan 1 di atas dapat dijelaskan bahwa penelitian ini berlangsung selama 8 kali pertemuan, baik kelompok pembelajaran STAD maupun pada kelompok pembelajaran konvensional. Rincian pelaksanaan pembelajaran adalah: Pertemuan 1 (Penentuan kelas yang menjadi kelompok PKs dan                                   kelompok PKv), pertemuan 2 (pelaksanaan pengumpulan data siswa yang memiliki modalitas belajar) pertemuan 3 – 6 (Pre-test), pertemuan 7 – 14 (pelaksanaan eksperimen dilakukan pada kelompok PKs PKv), pertemuan 15 (peer Assessment, persiapan post-test), pertemuan 16 – 19 (Post-test)

 

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1) memberikan kuesioner modalitas belajar untuk mengetahui modalitas belajar mahasiswaserta pre-test pada semua kelas subyek untuk mengetahui kemampuan awal pemahaman bahasa Inggris, 2) melaksanakan intervensi pembelajaran (eksperimen), dan 3) memberikan post-test pada semua mahasiswa pada semua kelas subyek penelitian untuk mengetahui hasil belajar setelah eksperimen.

 

Teknik Analisis Data

Sesuai dengan jenis variabel penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis of Varians (ANOVA) dua jalur interaksi. Hal ini sejalan dengan pendapat Tuckman (1999) analisis varians memberikan peneliti untuk mempelajari pengaruh secara simultan dari beberapa variabel bebas namun penerapannya memiliki ciri khusus (dua, tiga atau empat). Penggunaan desain penelitian faktorial di dalamnya terdapat variabel bebas, variabel moderator dan variabel terikat. Variabel bebas dan variabel moderator disebut faktor. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial. Untuk pengujian hipotesis penelitian dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap uji asumsi analisis dan tahap uji hipotesis. Keputusan yang digunakan untuk menyatakan adanya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat di dasarkan pada taraf kesalahan 5% atau taraf keyakinan 95%.

Hasil Analisis

Tabel 4.4   Hasil Perbandingan antara Nilai Hasil Belajar Siswa PostTestdengan Menggunakan Metode Konvensional

Pre-test Post-test
Skor Nilai Skor Nilai
Vocabulary 2.22 22.20 2.47 24.68

 

Hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika yang menggunakan metode pembelajaran konvensional sebelum dilakukan bimbingan belajar Bahasa Inggris dengan menggunakan metode pembelajaran metode konvensional diperoleh rata-rata nilai yang cukup baik yaitu sebesar 22.20. Namun setelah dilakukan bimbingan belajar Bahasa Inggris menggunakan metode pembelajaran metode konvensional diperoleh rata-rata nilai yang lebih tinggi daripada saat sebelumnya, yaitu sebesar 24.68. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa bimbingan belajar Bahasa Inggris dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional dapat meningkatkan nilai hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika.

Tabel 4.8   Hasil Perbandingan antara Nilai Hasil Belajar Siswa PostTestdengan Menggunakan Metode STAD

 

Pre-test Post-test
Skor Nilai Skor Nilai
Vocabulary 2.41 24.11 2.93 29.32

 

Hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika menggunakan metode pembelajaran STAD sebelum dilakukan bimbingan belajar Bahasa Inggris menggunakan metode pembelajaran metode STAD diperoleh rata-rata nilai yang cukup baik yaitu sebesar 24.11. Namun setelah dilakukan bimbingan belajar Bahasa Inggris menggunakan metode pembelajaran metode STAD diperoleh rata-rata nilai yang lebih tinggi daripada saat sebelumnya, yaitu sebesar 29.32. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa bimbingan belajar Bahasa Inggris menggunakan metode pembelajaran metode STAD dapat meningkatkan nilai hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika.


Tabel 4.18   Tabel Hasil Uji ANOVA 2 Jalur dengan Interaksi

Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:Score
Source Type III Sum of Squares df Mean Square F
Corrected Model 6276.708a 5 1255.342 29.181 .000
Intercept 102346.913 1 102346.913 2379.089 .000
MB 560.179 1 560.179 13.022 .000
SP 5880.253 2 2940.126 68.344 .000
MB * SP 67.389 2 33.695 .783 .459
Error 7313.292 170 43.019
Total 119234.000 176
Corrected Total 13590.000 175
a. R Squared = .462 (Adjusted R Squared = .446)

 

Hipotesis 1: Berdasarkan hasil ANOVA di atas dapat diketahui bahwa untuk perbandingan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa berdasarkan metode pembelajaran menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa antara metode pembelajaran konvensional dan metode pembelajaranStudent Teams Achievement Division(STAD). Hasil uji pembandingan berganda (shceffe Test) pada metode pembelajaran konvensional berbeda signifikan dengan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa (posttest) pada kelompok yang diajarkan dengan metode pembelajaranStudent Teams Achievement Division(STAD) (p=0.000<0.05). Perbedaan tersebut disebabkan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa inggris pada kelompok yang menggunakan metode pembelajaran konvensional tersebut sebesar 24.682 mempunyai selisih yang cukup jauh dengan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa inggris pada kelompok yang menggunakan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dengan rata-rata nilai 29.318.

Hipotesis 2: Untuk perbandingan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa berdasarkan modalitas belajar dari tabel ANOVA di atas menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar Bahasa Inggris mahasiswa antara yang mempunyai Modalitas Belajar secara kinestetik, auditory, dan visual. Hasil uji pembandingan berganda (multiple comparisons) dengan uji Scheffe (Scheffe Test) sebagai salah satu uji pembandingan berganda yang mempunyai sensitivitas cukup tinggi dalam menguji adanya perbedaan antar perlakuan dalam multiple comparisons. Dengan metode ini akan dilakukan pembandingan berganda terhadap rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa (posttest) antara setiap modalitas belajar. Hasil uji pembandingan berganda (Scheffe Test) antara rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa dengan modalitas belajarkinestetik adalah 28.90, auditoy adalah 18.14, dan visual 33.52, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai skor vocabulary berbicaraBahasa Inggris mahasiswa dengan modalitas belajar mahasiswa berbedahasilnya adalah berbeda signifikan (p=0.00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modalitas belajar secara visual, auditory, dan visual memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II. Modalitas belajar secara visual memberikan rata-rata hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris yang paling besar dibandingkan modalitas belajar secara auditory dan kinestetik, sedangkan modalitas belajar secara auditory memberikan rata-rata hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan secara visual maupun kinestetik.

Hipotesis 3: Hasil perbandingan rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa berdasarkan interaksi antara kelompok perlakuan metode pembelajaran (konvensional dan STAD), serta modalitas belajar (kinestetik, auditory, dan visual) dari hasil ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa berdasarkan interaksi antara kelompok perlakuan metode pembelajaran (konvensional dan STAD), serta modalitas belajar (kinestetik, auditory, dan visual).

Berdasarkan paparan di atas dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini: 1) terdapat perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa antara metode pembelajaran konvensional dan metode pembelajaran STAD, 2) terdapat perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa antara yang mempunyai modalitas belajar secara kinestetik, auditory, dan visual, 3) tidak terdapat perbedaan yang bermakna (signifikan) pada rata-rata nilai skor hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa berdasarkan interaksi antara kelompok perlakuan metode pembelajaran (konvensional dan STAD), serta modalitas belajar (kinestetik, auditory, dan Visual).

 

Pembahasan

Strategi Student Teams Achievement Division (STAD) berhasil memberikan pembelajaran yang membuat mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II aktif dan berminat untuk mengikuti pembelajaran tersebut dibandingkan strategi pembelajaran konvensional.Slavin (1995) mengemukakan bahwa metode kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) berpengaruh positif terhadap hasil belajar ilmu-ilmu eksakta, sosial dan bahasa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa modalitas belajar secara visual, auditory, dan kinestetik memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II. Modalitas belajar secara visual memberikan rata-rata hasil belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris yang paling besar dibandingkan modalitas belajar secara auditory dan kinestetik, sedangkan modalitas belajar secara auditory memberikan rata-rata hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan secara visual maupun kinestetik. Vermunt & Vermetten (2004) mengatakan bahwa siswa yang memiliki dan merefleksikan modalitas belajar (learning style) akan berprestasi lebih baik daripada tidak memperhatikan modalitas belajar.

Interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa Strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) secara visual menghasilkan nilai belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika yang paling tinggi dan berbeda dengan interaksi strategi belajar dengan modalitas belajar lainnya. Sedangkan strategi belajar konvensional secara auditory dan kinestetik, serta STAD secara auditory menghasilkan nilai belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika yang sama dan paling rendah dibandingkan interaksi lainnya.

 

Simpulan

Simpulan dari penelitian ini, sebagai berikut:

  1. Pembelajaran vocabulary berbicaraBahasa Inggris yang dilaksanakan oleh dosen kepada mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika dilakukan dengan strategi dasar (konvensional) dan strategi Student Teams Achievement Division (STAD) menghasilkan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar mahasiswa tersebut, implementasi strategi Student Teams Achievement Division (STAD) memberikan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pembelajaran konvensional.
  2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modalitas belajar secara visual, auditory, dan visual memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar vocabulary berbicara bahasa inggris mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II. Modalitas belajar secara visual memberikan rata-rata hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris yang paling besar dibandingkan modalitas belajar secara auditory dan kinestetik, sedangkan modalitas belajar secara auditory memberikan rata-rata hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan secara visual maupun kinestetik.
  3. Penerapan strategi pembelajaran konvensional maupun Student Teams Achievement Division (STAD) dan modalitas belajar diidentifikasi memiliki pengaruh dalam proses pembelajaran vocabulary berbicaraBahasa Inggris. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar mahasiswa terhadap hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris. Interaksi antara strategi pembelajaran dan modalitas belajar memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap hasil belajar mahasiswa Politeknik Negeri Malang Semester II Program Studi Teknik Elektronika. Strategi pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) secara visual menghasilkan rata-rata hasil belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris yang paling tinggi, sedangkan strategi pembelajaran konvensional secara auditory menghasilkan rata-rata belajar vocabulary berbicaraBahasa Inggris yang paling rendah dibandingkan dengan interaksi lainnya

Saran

Saran-saran untuk pemanfaatan hasil penelitian dan penelitian lanjutan:

  1. Saran-Saran untuk Pemanfaatan Pembelajaran

            Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan pada kesimpulan, berikut ini diajukan beberapa saran kepada:

  1. Dosen bahasa Inggris Politeknik Negeri Malang dapat menggunakan Student Teams Achievement Division(STAD) dapat dilakukan dengan baik dengan memperhatikan modalitas belajar mahasiswa
  2. Ketua Program Studi Teknik Elektronika mengadakan perbaikan pembelajaran bahasa Inggris dengan menyediakan fasilitas pembelajaran untuk kelancaran pembelajaran kooperatif STAD dan meningkatkan mutu, pengetahuan dan ketrampilan dosen dalam mengelola pembelajaran.
  3. Temuan penelitian ini dapat memberi masukan dan pertimbangan dalam perbaikan desain pembelajaran, pengorganisasian pembelajaran, pengelolaan pembelajaran dan penyampaian materi pembelajaran

2. Saran-saran untuk penelitian lanjutan

  1. Dosen dapat memilih metode pembelajaran yang tepat, yang dapat meningkatkan hasil belajar. Dan disarankan pula untuk diadakan penelitian lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas dan metode pembelajaran yang lebih banyak.

b. Variabel-variabel moderator (selain modalitas belajar) yang diduga juga berpengaruh terhadap hasil belajar vocabulary berbicara Bahasa Inggris, disarankan untuk diadakan penelitian lebih lanjut dan dikombinasikan dengan metode pembelajaran kooperatif.

c. Perlu menguji keefektifan pembelajaran kooperatif model STAD dalam pengajaran bahasa Inggris Program Studi Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang dengan menggunakan angket pada mahasiswa terhadap keterlaksanaan pembelajaran.

 

 

 

Daftar Rujukan

Arnidah, Daud, A., Nurstan, & Rahmaniar. 2005. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mata Diklat Matematika untuk Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Siswa di SMKN 1 Makassar. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2 (3): 282-299

 

Brown, H. D. 2007. Principles of Language Learning and Teaching. Engle Cliffs, New Jersey: Prentice Hall

 

DePorter, B., Reardon, M., & Singer-Nourie, S. 2000. M. Quantum Teaching: Orchestrating Student Success. Penerjemah: Ari Nilandari. Penyunting: Ari Nilansari. Bandung: Kaifa.

 

DePorter, B. & Hernacki, M. 2007. Quantum Learning: Unleashing the Genius in You. Penerjemah: Alwiyah Abdurrahman. Penyunting: Sari Meutia. Bandung: Kaifa

 

Gredler. M. E. 1992. Learning and Istruction: Theory into Practice (2nd ed). UpperSaddleRiver. NJ: Prentice Hall, Inc.

 

Khanafi, I. 2015. Cara Meningkatkan Kemampuan Hafalan TOEFL Vocabulary. http://www.belajaringgris.net/cara-meningkatkan-kemampuan-hafalan-toefl-vocabulary-5860.html diakses tanggal 5 Februari 2015

Mudofir, Imam. 2006. Cooperative Learning to Improve Students’ Fluency in Speaking. Thesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UM.

 

Naghavi, M., & Nakhel, M. 2003. On the Effect of Cooperative Leaning Strategy of STAD on Oral Productions of Iranian EFL Learners. Higher Education of Social Science, 2 (1): 43-49

 

Nurgiyantoro, Burhan. 1987. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE

 

Reigeluth, C.M., Ed. 1999. Instructional Design Theories and Models: A NewParadigm of Instructional Theory. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaaum Associates, Publishers.

 

Setiadi, A. Tanpa Tahun. Upaya Peningkatan Vocabulary Siswa dengan Media Wordwall. https://alamsetiadi08.wordpress.com/upaya-peningkatan-vocabulary-siswa-dengan-media-wordwall/ diakses tanggal 5 Februari 2015

 

Setyasari, P. 2009. Pembelajaran Kolaborasi: Landasan untuk Mengembangkan Ketrampilan Sosial, Rasa Saling Menghargai dan tanggung Jawab. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Malang: UM

 

Slavin, R. E. 1995. Cooperative Learning: Theory and Practice. Needhams Heights, MA: Allyn and Bacon

 

Solihin, R. 2013. Makalah Bahasa Inggris Vocabulary. http://rahmatsolihien.blogspot.com/2013/03/makalah-bahasa-inggris-vocabulary.html diakses tanggal 10 februari 2015

 

Suprijono, Agus. (2010). Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Sriwahyuni, S. 2006. Rancangan Model dan Mekanisme Spaeaking Test Berbasis Kompetensi Bahasa Inggris yang dibutuhkan Dunia Kerja bagi Pendidikan Tinggi Vokasional Bidang Rekayasa. Ragam: Pengembangan Humaniora, 8 (1): 26-39

 

Subekti, N. 2015. Kiat Meningkatkan VocabularyBahasa Inggris dengan Flashcard. http://grahabelajar.com/2015/02/01/kiat-menambah-vocabulary-dengan-flashcard/ diakses tanggal 5 Februari 2015

Tuckman, B. W. 1999. Conducting Educational Research. Fifth Edition. New York: HarcourtBraceCollege Publisher.

 

Vermunt, J. D., and Vermetten, Y. J. 2004. Pattern in Student Learning: Relationship Between Learning Strategies, Conceptions of Learning and Learning Orientations. Educational Psychology Review. 16 (4): 376-378

 

Webster, 1992. “Webster New World Dictionary”.New York: A Division of Simon and Schuster

 

Witkin, dkk. 1974. Cognitive Style and Teaching Learning Process. Paper prepared for presentation at annual meeting of American Educational Research Association. Chicago, Illionis: April 1974