Posts Tagged ‘pragmatik’

ANALISIS MAKNA METAFORA BAHASA JEPANG: KAJIAN TERHADAP STRUKTUR MAKNA DAN NILAI-NILAI FILOSOFI

Esther Hesline Palandi

Politeknik Negeri Malang

ABSTRAK

Penelitian ini di­latar-belakangi fenomena per­s­pek­tif sti­listika dan es­te­tika pada meta­fora. Ana­lisis menunjukkan inter­pretasi makna Meta­fora bisa juga di­lakukan ber­dasarkan inter­tekstualitas antar teks mau­­­­­pun kon­teks dalam ce­ri­ta. Temuan yang di­per­­oleh ada­­­lah struktur makna Meta­fora, yaitu: versi Ricoeur (No­mi­­­nal, Pre­di­katif, dan Kalimatif), versi Wahab (Kom­pa­ra­si­­o­­nal, Sub­­­sti­­tu­si­o­nal, dan Inter­aksional), dan versi Ri­ffa­terre (Dis­pla­­cing, Dis­tor­­ting, dan Creat­ing of Mean­ing); serta nilai-nilai filo­­­­­so­fi Meta­­fora, yaitu: Etos (etika (ethics) moral, sosial, dan kultural), Logos (lo­gi­­­ka (logic) ke­mati­an / ke­­hidup­an), dan Patos (emo­­­­­­si­o­nal (pathy: sim­pa­ti dan em­pati) yang po­si­­tif, ne­gatif, dan re­la­tif). Dapat disimpulkan Meta­fora me­miliki struktur makna ter­tentu; dan me­rupa­­kan citra­an nilai-nilai Moral, Sosial, Kul­tu­ral, dan Emo­si­o­nal.

Kata-kunci: metafora, studi literatur, interpretasi, inter­teks­tualitas, citra­an, discourse (wacana), pragmatik, semantik, her­me­neu­tik, semiotik.

 

***

 

Dalam hal berkomunikasi lisan maupun tulis, bangsa Jepang sangat me­nyukai estetika atau keindahan dan daya-tarik. Este­tika atau ke­indahan dan daya-tarik dapat ditemukan dalam warna, bentuk mau­pun bunyi. Hal ter­sebut di­karena­­kan sifat dan manifestasi kehidupan jiwa (batiniah) dapat dituangkan dalam wujud lahiriah. Artinya, kehidupan dapat di­ekspresikan dalam ber­bagai eksis­tensi warna, bentuk, dan bunyi; se­hingga wujud lahiriah men­citra­kan sifat / watak ke­hidup­an. Hal ini dapat di­bukti­­­kan pada karya-kar­ya seni dan sastra yang me­miliki style khusus, antara lain gaya meta­fora yang banyak di­gemari dan di­guna­kan oleh para seniman dan sastrawan. Para sastrawan me­nyam­pai­kan ide atau gagasan cerita dalam karya­nya yang ber­isi teks & konteks, baik berupa narasi pe­ngarang mau­pun dialog para tokoh dalam cerita. Mereka me­nyam­pai­kan ungkapan-ung­kap­an­­nya se­­­demikian rupa untuk me­nuang­kan sifat dan mani­festasi kehidupan jiwa atau bati­niah dalam bentuk lahi­riah melalui karya-karyanya. Fenomena inilah yang men­­dasari pe­neliti untuk men­trans­literasikan ungkapan-ungkapan dalam bentuk meta­­fora, terutama dalam novel Norwei no Mori karya Haruki Mura­kami. Di samping itu pula, pemikiran bangsa Jepang dipengaruhi oleh filsafat Cina, yaitu konsep Tao & Konfucianisme”. Ajaran Tao yaitu kehidupan manusia yang ‘lemah-lembut’ dalam ber­sikap dan ber­­peri­laku. Konfucianisme juga menekankan ajaran­nya agar manu­­sia se­bagai mahluk alam, lebih mementingkan hubungan dengan se­sama­nya.

 

METAFORA DAN PENAFSIRANNYA

Metafora secara umum di­definisi­kan oleh Elena Semino (1997:196), se­­bagai suatu fenomena simbolisme dari yang dipikirkan dan dikatakan me­ngenai sesuatu dan lain­nya dalam keadaan bangun / sadar. Definisi atau penjelasan se­cara khusus di­sampai­­kan oleh Lakoff (1987:388), bahwa metafora adalah suatu eks­presi dari pe­maham­an satu konsep ter­hadap konsep lainnya, di mana ter­dapat ke­samaan atau kore­­lasi antara keduanya.

Petutur (pendengar/pembaca), dapat me­­maknai­ Meta­fora me­lalui proses per­jalanan dari pikiran (thought) menuju kon­fi­gurasi makna / pro­po­sisi[1] (pro­po­si­tion). Proses perjalanan ini menurut Goatly (1997:18) ada­­lah: (1) se­bagai per­kira­an / penaksiran (approxi­mative) ketika jarak antara thought dan pro­po­­sition dekat, dan (2) sebagai penggantian / pemindahan (transfer) ke­tika jarak ter­sebut jauh. Contoh:

Artinya, metafora tersebut (1) sebagai approximative, karena binatang ‘lebah’ dan sifat-sifatnya (dalam makna eksplisit) amat familiar dalam budaya petutur, se­hingga dapat di­terima dalam thought petutur, dan dapat segera diolah men­jadi proposition (dalam makna implisit) oleh petutur. Namun, (2) men­jadi trans­fer, karena me­la­lui makna eksplisit petutur dapat me­mahami maksud penutur.

Ditinjau dari sudut pandang kultural, Wahab (1991) membagi Metafora men­jadi dua kategori, yakni: (1) metafora universal, dan (2) metafora khusus.

Meta­fora Univer­sal adalah metafora yang menggunakan simbol dan lambang dengan makna yang telah ada atau umum dan diketahui oleh siapapun. Dasar pe­­mikiran metafora universal adalah keyakinan akan pendapat yang me­nyebut­kan bahwa semua bahasa memiliki sejumlah fitur yang sama serta mampu me­nampil­kan skema organisasi makna yang sifatnya mendasar atau sama. Perhatikan contoh di bawah ini:

 

Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa semua bahasa memiliki sejumlah fitur yang sama serta menampil­kan skema organisasi makna yang sifatnya sama.

Metafora khusus adalah metafora yang terikat oleh budaya bangsa / suku-bangsa / kelompok tertentu, sehingga memiliki medan pragmatik dan semantik yang ter­­-batas. Dasar pemikiran metafora khusus adalah keyakinan akan adanya pengaruh ling­kung­an pada peng­alaman fisik dan pengalaman kultural yang men­cermin­kan budaya peng­guna bahasa itu. Pengaruh lingkungan, pada pengalaman fisik ber­­hubung­an dengan ke­hidup­an flora & fauna, sedangkan pada peng­alam­an kultu­ral ber­hubung­an dengan kehidupan sosial, moral dan seni. Perhatikan contoh di bawah ini:

 

Sumpit (chop-stick) pada Contoh 4 adalah alat makan yang digunakan bangsa Jepang sehari-hari, dan sudah menjadi budaya turun-temurun hingga saat ini. Se­hingga kelompok lain belum tentu menggunakan kata “sumpit” untuk ungkap­an yang sejenis. Sedangkan Kayu (ki) pada Contoh 5 adalah benda keras yang tidak bisa digunakan untuk mengikat, apa­lagi mengikat hidung (hana) se­bagai anggota tubuh yang sangat peka. Bangsa Jepang menggunakan ungkapan demi­kian, saat menyam-paikan pesan jangan berbicara sembarangan. Ke­lom­pok lain (bangsa lain) akan menyampaikan pesan yang sama, namun dengan ungkap­an ber­beda, sesuai dengan budaya dan perilaku umum kelompoknya.

Penge­tahu­an atau informasi baru yang diterima petutur, hanya dapat di­­proses dalam know­ledge frame­works (kerangka pengetahuan). Dalam aktivitas mem­baca & mendengar, tujuan dari fungsi pokok skemata ada­lah kemampuan petutur untuk meng­interpretasikan isi teks melalui ‘kerangka pengetahuan’­nya, sehingga petutur perlu mengaktifasi skematanya selama membaca & men­dengar guna membantunya dalam peng­kodean teks dan meng­gambarkan simpulan. Jadi, yang diperlukan skemata ada­lah bagaimana ‘pe­nge­ta­huan’ yang lebih dulu dari pem­baca dapat mem­pengaruhi pe­mahaman & ingatannya ter­hadap isi, bentuk / struktur, dan bahasa pada teks. Dalam pemahaman makna metafora, klasi­­fikasi skemata berupa isi, bentuk / struktur, dan bahasa pada teks tersebut di­guna­kan untuk inter­pretasi. Klasi­fikasi Skemata ini terkait dengan apa yang di­sebut Meta­kognisi, yang merupakan titik awal metaphorical competence se­se­orang.

Hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dengan manusia, meng­hasilkan makna. Kata-kata, bukanlah tempat makna bernaung, namun kata-kata itulah yang membangkitkan makna dalam pikiran manusia. Maka, dalam pikir­an manusia itulah, hubungan kata-kata dan makna diciptakan. Hubungan ter­­sebut digambarkan oleh C. K. Ogden dan I. A. Richards (1989:11) berikut ini.

Garis putus-putus menunjukkan bahwa tidak terdapat hubung­­an langsung antara simbol dengan referen. Dapat disimpulkan bahwa untuk menghu-bungkan ke­dua­nya maka dipmerlu­­kan sebuah proses yang di­sebut metaphorical competence (ke­mampu­an metaforis), yaitu kemampuan men­cari persamaan sifat antar kata se­cara kontekstual. Selanjutnya teori ini juga diperkuat dengan teori segitiga makna yang telah di­modi­fikasi oleh Subandi (2000:199) guna menganalisis fenomena ter­jadi­nya makna idiomatikal kata majemuk bahasa Jepang di­tinjau dari konsep Meta­fora.

Jadi, makna tercipta dengan munculnya simbol dan reference (referen) atau acuan dalam pikiran. Mengacu pendapat Spradley (1997:121), simbol ada­lah objek atau peristiwa yang menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: (1) simbol itu sendiri, (2) satu referen atau lebih, (3) hubung­an antar simbol dengan referen. Semua itu merupakan unsur dasar bagi penciptaan makna. Semen­tara itu, makna muncul dari apa yang ‘dirasakan’ dan ‘di­alami’ manu­sia, dan ber­ada dalam pikiran. Demikian pula dengan makna metafora, muncul ber­dasar­kan ‘pe­rasa­an’ dan ‘peng­alam­an’ serta dunia referen ciptaan petutur itu sendiri.

Penafsiran atau interpretasi itu sendiri, menurut Aristoteles (dalam de Inter­pretatione, I.16a.5, dalam Sumaryono, 1999:24) adalah, apa yang diucap­kan atau dituliskan seseorang, merupa-kan konsep atau gambaran (image) dari apa yang di­pikirkan. Sedangkan apa yang dipikirkan dan diucapkan serta ditulis­kan se­se­orang, disebut juga ‘bahasa’. Jadi untuk dapat membuat interpretasi, terlebih dahulu diperlukan pemahaman, yaitu terhadap bahasa, terutama bahasa lisan dan juga ba­hasa tulis. Dari pemahaman yang baik, akan lahir interpretasi yang baik pula.

F. A. Wolf (dalam Sumaryono, 1999:40), mendefinisikan Hermeneutika se­­­bagai suatu seni menemukan makna di balik teks. Teks itu sendiri adalah image dari pikiran. Pikiran pengarang, adalah pengalaman mental pengarang, yang men­­jadi bahan-baku teks. Sedangkan pikiran pembaca adalah gabungan dari teks dan peng­alaman mental pembaca, yang kemudian menjadi bahan-baku inter­pre­tasi.

Menurut Larson (1991:293), jika metafora diterjemahkan secara harfiah, mungkin akan menimbulkan salah pengertian. Hal itu disebabkan karena peng­alam­an berbeda dari budaya yang berbeda, maka komunikasi lintas budaya yang akurat sulit terwujud, dan kesalah-pahaman sering terjadi. Demikian halnya meta­fora yang mengandung makna budaya masyarakat B-Su (Bahasa Sumber) belum tentu sama dengan budaya masyarakat B-Sa (Ba­ha­sa Sasaran). Contoh:

Metafora pada Contoh 6 “membasuh kaki”, mengandung pemahaman budaya, yang bagi bangsa Jepang merupakan perilaku yang membawa perubahan pada kebaikan; sementara bagi bangsa-bangsa Barat merupakan perilaku yang bukan membawa kebaikan atau merupakan kegiatan yang menutup keburukan.
Intertekstualitas dikembangkan oleh Julia Kristeva (Teeuw, 1984:145), untuk menjelaskan fenomena dialog antarteks, kesalingtergantungan antara suatu teks dengan teks sebelumnya. Menurut Kristeva, setiap teks merupakan mo­za­ik, kutip­an-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain. Prinsip inter­teks­tua­litas yang ditegaskan Kristeva adalah bahwa setiap teks sastra harus di­pahami dengan latar belakang teks-teks lain, karena tidak ada satu pun teks yang­ mandiri. Dengan demikian, proses intertekstualisasi yang dilakukan analisis meta­­­­fora kali ini adalah proses pemahaman intertekstualisasi.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan ciri-ciri menurut Moleong (1991:16), hasil peng­olah­an data disajikan dengan meng­gunakan kata-kata, bukan angka dan tidak diperlukan penghitungan se­sederhana apapun. Ciri-ciri tersebut se­suai dengan pernyataan Bogdan & Taylor (1975:4), bahwa penelitian kualitatif adalah proses penelitian yang meng­hasil­kan data des­kriptif berupa data tertulis/lisan dari objek yang di­amati/diteliti

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dan usaha yang dilakukan pada penelitian deskriptif ini adalah menciptakan deskripsi, gambaran, dan pen­jelas­an secara siste­matis, faktual, dan akurat mengenai makna metafora, yang merupakan hasil transkripsi, interpretasi dan intertekstualisasi serta deskripsi struktur makna dan aktua­li­sasi nilai-nilai filosofi metafora.

Penelitian ini menggunakan kerangka pikir phenomenologik interpretif dengan pendekatan Post-positivistik karena sumber kebenaran sepenuhnya ber­asal dari realitas empiri sensual. Ini berbeda dengan pendekatan Rasionalistik (Mu­ha­jir, 2002:81-82) yang mencari kebenaran dari empiri logik serta empiri teo­ri­tik, misal­­nya: penelitian ruang angkasa dan jarak cahaya, me­rupa­kan rea­li­tas yang tidak mudah dihayati dengan empiri sensual, melainkan dengan logis dan teoritis.

Grand Concept (konsep utama) yang menjadi payung analisis untuk me­ma­hami fenomena sosial –termasuk sastra dan budaya– dalam penelitian ini, meng­guna­kan konsep Retorika, agar data realitas empiri dapat dimaknai dalam cakup­an yang lebih luas. Hal tersebut nampak dalam proses interpretasi. Retorika sebagai Grand Concept dalam penelitian ini berpijak pada integrasi teori Pragma­tik dan Seman­tik se­bagai logika makro, ber­be­da dengan penelitian kuanti­­­tatif yang biasa­nya ber­pijak pada teori-teori logika mikro.

Fokus penelitian ini adalah makna metafora, dan data dalam penelitian ini ada­lah metafora, dengan bentuk / wujud kongkrit berupa teks, sejumlah 80 data, dari 50 dis­­course, dalam 20 fragmen; yang di­ambil dari sumber data, yakni Norwei no Mori, novel asli ber­bahasa Jepang karya Haruki Murakami. Hal ini se­­suai dengan pen­dapat Brown & Yule (1996:20) bahwa data yang di­guna­­kan dalam analisis wacana adalah di­ambil dari teks ter­tulis atau ujar­an. Maynard (2004:25) juga men­jelas­­kan bahwa semua yang ber­bentuk dis­course, dapat di­jadi­­kan data pe­nelitian.

Adapun alasan pemilihan data berupa metafora tersebut adalah, karena me­­­nurut pengamatan peneliti, dalam novel Norwei no Mori (sumber data yang di­­pilih) terdapat bermacam-macam metafora; di samping itu banyak pula meto­nimi mau­­­pun simili yang mendampinginya. Namun menurut kajian peneliti terhadap Phi­lo­­­­so­phi­­cal Language (Bahasa Filosofis), metonimi dan simili menunjukkan sig­ni­­­fi­­­kan­si yang rendah dibanding metafora. Hal tersebut nampak jelas dalam fre­­kuen­si peng­gunaan ketiga majas tersebut. Seperti dalam medan istilah, yang di­­guna­kan ada­­­lah: (a) meta­­pho­ri­cal com­pe­tence (kompetensi metaforis), bukan meto­­­ni­mi­cal com­­pe­­tence atau si­mi­li­cal competence; dan (b) metaphorical meaning (makna meta­fo­ris), bukan me­to­ni­mi­cal meaning atau similical meaning. Maka, dapat di­simpul­­­kan, bahwa kata Metafora: (1) se­cara gramatikal telah ber­­kembang men­jadi kata sifat di samping kata benda, namun tidaklah demi­kian untuk kata Meto­nimi dan Simili; (2) secara filosofis telah ter­bukti dari makna­nya yang estetis dan sti­lis­tis dalam kajian bahasa dan sastra.

Sedangkan alasan pemilihan sumber data adalah, menurut pengamatan pe­neliti melalui beberapa authorized reviewer (pemberi resensi berotoritas) ter­hadap karya sastra tingkat dunia yang ternama, novel Norwei no Mori me­rupa­kan se­buah karya yang memperoleh rating relatif tinggi. Di samping itu, berdasarkan fokus pe­nelitian ini, novel Norwei no Mori memiliki ciri-ciri yang unik dan me­ngan­dung bermacam-macam metafora.

Prosedur pengumpulan dan analisis data penelitian ini diuraikan se­­cara rinci sesuai teori Miles and Huberman (1992:21-22), yang telah di­modi­fi­kasi se­suai kebutuhan penelitian dan di­gambar­kan pada Gambar 3.

Analisis data pada penelitian ini, menggunakan langkah-langkah se­suai tujuan penelitian, diadopsi dari Miles & Huberman (1992:458), yakni: Data re­duc­tion (reduksi data: Seleksi & Identifikasi data), Data display (pe­ma­par­an data: Transkripsi & Interpretasi data), dan ­­­Data conclusion (pe­nyimpul­an data: Veri­fikasi & Deskripsi data), yang di­modifikasi dan di­gambar­kan pada Gambar 4.

Untuk memeriksa akurasi (kebenaran/kete-patan) pada penelitian ini, pe­neliti melakukan beberapa metode. Memeriksa ke­absah­an data pada pe­nelitian ini, peneliti me­laku­kan metode sesuai pendapat Soenarto (2001:83) yakni Triangulasi (uji kelayakan dengan cara kaji silang) dengan pihak ketiga, dan Peer-debriefing (uji kelayakan dengan cara diskusi) dengan sesama pengajar bahasa Jepang lain, guna meng­ukur kualifikasi data, metode dan hasil analisis. Memeriksa keabsahan hasil penelitian metafora ini, sangatlah penting, oleh sebab itu ke­benaran dan akurasi data yang diperoleh perlu dike­tahui. Hal ter­­sebut sesuai dengan pendapat Guba (dalam Sudikan, 2001:83), penelitian meta­fora tersebut juga meng­gunakan teori Qualitative Validity (Validitas Kua­li­ta­tif) dengan indikator: (1) cre­di­bi­li­ty (kredibilitas/keter­­percaya-an), (2) transferability (trans­fer­abilitas/ketera-lihan), (3) de­pend­a­bility (dependabilitas/ke­­ber­gantung­an), dan (4) confirmability (kon­firmabili-tas/ke­pastian).

 

PEMBAHASAN

Pembahasan penelitian ini dapat digambarkan pada Gambar 5.

Pembahasan penelitian ini merupakan hasil konklusi dari veri­fi­kasi dan deskripsi. Verifikasi adalah proses penyimpulan hasil analisis data, yang berisi: (1) reduksi data, yaitu be­rupa dis­course dan metafora; dan (2) papar­an data, yaitu berupa trans­kripsi discourse dan interpretasi meta­­fora. Ini mendukung jawaban dari per­ma­sa­lah­­an dan tujuan pe­ne­li­ti­an poin per­tama, yaitu: Men­trans­kripsikan makna literal meta­fora yang telah diidentifikasikan dari frase / klausa / kalimat pada dis­course dalam Norwei no Mori (Norwei no Mori); dan poin kedua, yaitu: Menginterpretasikan makna inter­aksi yang di­nego­­­siasi­­kan pe­ngarang kepada­­ pembaca melalui pencitraan Metafora dalam Norwei no Mori. Deskripsi adalah proses penjabaran hasil analisis data yang berisi: (1) inter­pre­tasi data, yaitu mem­beri­kan makna pada metafora secara kon­teks­tual, dan (2) interteks­tualisasi, yaitu mengaitkan makna metafora dengan makna dari frase/klausa/kali­mat pada dis­course lain dalam satu cerita, untuk men­dukung hasil interpretasi. Ini merupa­kan jawab­an dari permasalahan dan tujuan penelitian poin ketiga, yaitu: Meng­inter­teks­tua­li­sasi­kan hasil inter­pretasi makna Metafora dengan frase/ klausa/kali­mat pada dis­course lain dalam Norwei no Mori.

 

TEMUAN

Hasil penelitian berupa temu-an, diperoleh pada saat proses analisis dan pem­bahas­an, dapat digambarkan pada Gambar 6.

Temuan yang pertama berupa struktur makna metafora oleh Haruki Mura­kami dalam Norwei no Mori dalam novel Norwei no Mori, antara lain: (1) struktur Ricoeur (metafora Nominal, meta­fora Pre­di­ka­tif, dan metafora Kalimatif); (2) struk­tur Wahab (metafora Kom­pa­ra­sional/per­­banding­an makna, meta­fora Sub­sti­tusional/ penggantian makna); dan metafora Inter­ak­si­o­nal/ perpaduan makna); dan (3) struktur Riffaterre (metafora Dis­placing of Meaning/peng­ganti­an makna, meta­fora Distorting of Meaning/pe­nyimpang­an makna, dan meta­fora Creating of Meaning/pen-ciptaan makna). Struktur makna tersebut di­jelas­kan dalam Gambar ­7.

 

Temuan utama berupa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam meta­fora yang di­ungkap­kan pengarang (Haruki Murakami) dalam Norwei no Mori. Nilai-Nilai tersebut muncul sebagai ungkapan Etos, Logos, dan Patos. Hal ini me­rupa­kan jawaban dari permasalahan penelitian dan tujuan penelitian poin ke­empat, yaitu Mengaktualisasikan pesan-pesan filosofis yang diungkapkan oleh pe­ngarang (Haruki Murakami) melalui Metafora dalam Norwei no Mori.

Metafora Etos, mengandung nilai-nilai ethics (etika), berkaitan dengan spirit, yakni peri­laku moral, sosial, dan kultural. Metafora Logos, mengandung nilai-nilai logic (logika), berkaitan dengan mind, yakni akal / pikiran tentang ke­mati­an, kehidupan dan ke­se­imbang­an. Metafora Patos, mengandung nilai-nilai pathy, (simpati / sympathy dan empati / empathy), berkaitan dengan soul, yakni pe­­rasa­an / emosional positif, nega­tif mau­pun relatif. Perhatikan Gambar 8­.

SIMPULAN DAN SARAN

Metafora merupakan hal yang membuat pengarang dapat meng­eks­pre­si­kan ide-ide serta pesan-pesannya. Untuk meng­analisis makna dan pemahaman meta­fora, jelas merupakan kajian bahasa, yang memerlukan interpretasi ber­dasar atau mempunyai alasan dan pem­bukti­an yang tepat. Demi­kianlah hasil ana­li­sis makna Metafora pada novel Norwei no Mori karya Haruki Mura­kami, sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini, dapat disimpulkan antara lain:

1.   Hasil intertekstualitas, yaitu berupa ke­ter­kaitan makna yang terjadi antar frase, kalimat, dan dis­course lain untuk mendukung hasil inter­pre­tasi. Inter­pre­tasi yang dilakukan tidak hanya terbatas pada referen dan konteks, tapi pe­ne­­liti menggunakan metode inter­teks­tua­li­tas. Proses intertekstualitas ini dalam pe­ne­litian lain bisa berupa alternatif lain, namun dalam penelitian ini me­rupa­kan tahapan inti setelah proses interpretasi. Sesuai dengan metode kuali­tatif itu sendiri yakni ber­sifat des­krip­tif, proses ini mendeskripsikan inter­teks yang terjadi. Dalam proses ini, nampak ciri sis­tema­ticity pada meta­fora, sesuai pen­dapat Saeed (1997:306), yakni metafora meng­ambil makna dari sebuah titik per­­bandingan antara berbagai macam objek –frase, kalimat, dan dis­course lain–, lalu membangun kerangka logis bagi diri­nya sendiri. Per­bandingan objek pada metafora Haruki Murakami dalam Norwei no Mori, dapat membangun ke­rang­ka logis, sehingga dapat dipahami oleh kalangan pembaca, khususnya pembaca novel Norwei no Mori yang berbahasa Jepang. Hal ini me­nun­juk­kan bahwa ciri sis­tema­ticity dalam Norwei no Mori ter­sebut, dapat diakui.

2.   Struktur Makna Metafora yang diciptakan Haruki Murakami dalam novel Norwei no Mori, antara lain: (1) struktur Ricoeur (metafora Nominal, metafora Pre­di­ka­tif, dan metafora Kalimatif); (2) struktur Wahab (metafora Kom­pa­ra­si­o­nal / per­­banding­an makna, meta­fora Substitusional / penggantian makna); dan metafora Inter­ak­si­o­nal / perpaduan makna); dan (3) struktur Riffaterre (meta­fora Dis­placing of Meaning / peng­ganti­an makna, metafora Distorting of Meaning / pe­nyimpang­an makna, dan meta­fora Creating of Meaning / pen­cipta­an makna). Pro­ses temuan ini adalah tahap penyimpulan dari tahapan inti, yakni inter­pretasi dan inter­teks­tu­a­li­sasi. Dalam proses temu­an ini nampak ciri asymmetry pada metafora, sesuai pen­dapat Saeed (1997:306), yakni meta­fora mem­banding­kan dua objek bukan dari dua arah, melainkan dari satu arah, namun perbandingannya bersifat tidak umum. Meta­­fora merupakan alat pen­dorong bagi pen­dengar (pembaca) untuk me­lekatkan ciri milik source (bahasa sumber) untuk target (bahasa target), dalam proses pe­ner­jemahan. Struktur makna pada metafora Haruki Murakami dalam Norwei no Mori, berasal dari per­bandingan yang demi­kian, ini me­nun­juk­kan bahwa ciri asymmetry tersebut dapat diakui eksistensinya. Proses per­banding­an­nya, merupakan bagian utama dalam penelitian ini; dan hasil per­banding­an­nya di­klasifikasikan untuk mem­peroleh gambaran yang lebih jelas.

3.   Nilai Filosofis Metafora yang diciptakan Haruki Murakami dalam novel Norwei no Mori, antara lain: (1) nilai Etos (etika Moral, etika Sosial, dan etika Kul­tu­ral); (2) nilai Logos (logika Kematian, logika Kehidupan dan logika Relativitas atau keseimbangan); dan (3) nilai Patos atau emosional (emosi Positif, emosi Negatif, dan emosi Relatif). Proses aktualisasi ini me­rupa­kan tahap akhir pe­nyimpul­an. Dalam proses ini nampak ciri abstraction pada metafora, se­suai pen­dapat Saeed (1997:307), yakni meta­­fora berusaha untuk memindahkan sifat yang terdapat pada se­suatu atau perihal yang konkret ke­pada sesuatu atau perihal yang abstrak. Aktua­li­sasi nilai-nilai filosofis pada metafora karya Haruki Murakami dalam Norwei no Mori, dilakukan dengan menggali sesuatu atau perihal yang konkret dipindahkan kepada sesuatu atau perihal yang abstrak yakni metafora, ini me­­nun­juk­kan bahwa ciri abstraction ini benar-benar melekat pada metafora.

Intisari berdasarkan simpulan hasil analisis makna Metafora dalam sastra Jepang dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: (1) Metafora adalah salah satu sosok Reto­rika berwajah Semiotika yang hidup di dunia Pragmatik. (2) Hermeneu­tika dan Semantik digunakan untuk memahami metafora secara kompre­hensif. (3) Metafora memiliki struktur makna: Kom­pa­ra­­si­­o­­nal, Sub­­sti­tu­si­o­nal, dan Interaksio­nal, serta Dis­pla­­cing, Dis­tor­­ting, dan Crea­ting of Meaning). (4) Meta­fora me­­rupa­kan citraan nilai-nilai Moral, Sosial, Kultural, Logika, dan Emosional. Umumnya hal ini ber­manfaat bagi pen­didik­an, khusus­­nya bidang bahasa, sastra dan budaya.

 

REFERENSI

Bogdan, Robert C. & Steven J. Taylor (1975) Introduction to Qualitative Research Method.Canada: J. Willes & Sons Inc.

Brown, Gillian & George Yule (1996) Discourse Analysis.New York:Cam­bridgeUniv. Press.

Goatly, Andrew (1997) The Language of Metaphors,London &New York: Rout­ledge.

Lakoff, George. (1987) Women, Fire, and Dangerous Things: What Categories Reveal about The Mind.Chicago:Chi­ca­­goUni­v. Press.

Matsuura, Kenji (1994) Nihon-go Indoneshia-go Jiten. Kyoto: Kyoto Sangyo Uni­versity Press.

Maynard, D. W. (2004) “On Predicating a Diagnosis as an Attribute of a Person” dalam Jurnal Discourse Studies, Vol.6.1, p.53-76.

Miles, Matthew B. & A. Michael Huberman (1992) Analisis Data Kualitatif. Judul Asli: Qualitative Data Analysis. Penerjemah: Tjetjep Rohendi Rohidi.Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia, UI Press.

Moleong, J. Lexy (1991) Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke 17. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhajir, Noeng (2002) Metodologi Penelitian Kualitatf. Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Ogden, C. K. & I.A. Richard (1989) The Meaning of Meaning.San Diego: Aca­demic Press.

Palandi, Esther Hesline (2005) “Analisis Metafora dalam Wacana dan Tindak Tutur Bahasa Jepang” Makalah Seminar Internasional dan Workshop Realisasi Pe­­ningkat­an Kompetensi Kajian Jepang, Bidang Bahasa, Sastra dan Peng­ajar­an, oleh Nihon-go Gakkai Jatim, di Universitas Widya Mandala Sura­baya, 26 Nopember 2005. Unpublished.

Semimo, Elena (1997) Language & World Creation in Poems & Other Text.London &New York: Longman.

Soenarto (2001) Dasar-dasar dan Konsep Penelitian. Edisi revisi (diktat kuliah)Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.

Spradley, James P. (1997) Metode Etnografi. Penerjemah: Misbah Zulfa Eli­sa­beth.Yogyakarta: Penerbit PT. Tiara Wacana.

Subandi (2000) “Terjadinya Makna Idiomatikal Kata Majemuk Bahasa Jepang Di­tinjau dari Konsep Metafora” dalam Jurnal Verba, Vol.1 No.3 Juni 2000, p.196-205.Surabaya: Unesa Unipress.

Sudikan, Setya Yuwana (2001) Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Unesa Unipress dan Citra Wacana.

Sumaryono, E. (1999) Hermeneutik. Yogyakarta: Kanisius.

Teeuw, A (1984) Pegawai Bahasa dan Ilmu Bahasa. Jakarta: Pustaka Jaya.



[1] cabang ilmu bahasa yang menelaah konteks sosial dan budaya atau ancangan makna dari mental para pe­­­nutur­nya dan me­miliki infor­masi makna yang kompleks