Posts Tagged ‘penerjemahan’

Model Pengalihbahasaan Buku Teks Bidang Ekonomi dan Keuangan Berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia: Analisis Akurasi Terjemahan Buku Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management

Ade Sukma Mulya, Ina Sukaesih, Nur Hasyim

Politeknik Negeri Jakarta

 

Abstract

This is a multiyear research with the purposes of establishing a translation model for economics texbooks from English to Bahasa Indonesia. In the first year, the research focused on the translation product analysis to investigate the quality of the translation. The research employed descriptive-qualitative approach for multiple cases. The data gathered from Marketing Management and Fundamentals of Financial Management textbooks, The data gathered from the textbooks are obtained through content analysis, results of questionnaires filled in by informants and in-depth interview. The findings of the research indicate that: the translation model pertains with source language, the translation process including the message equivalence, and the use of ideology, methods and techniques of translation, the output ( the target language), and the outcome (the qualitry) including the aspects of accuracy, acceptabilitry, and the readibility. The analysis of the translation products show that the translation of the sentences in the Marketing Management textbook is mostly accurate.

Key words: economics textbooks, translation accuracy, translation model, accuracy, acceptability, and readibility aspects

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menyusun model penerjemahan untuk buku teks bidang ekonomi dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Pada tahun pertama, penelitian diarahkan pada analisis produk terjemahan untuk mengetahui kualitas terjemahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kasus ganda. Analisis konten digunakan terhadap data yang diperoleh dari dokumen (buku teks Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management), hasil kuesioner dan interview mendalam dengan informan. Temuan yang diperoleh pada tahun pertama menghasilkan model terjemahan yang meliputi bahasa sumber, proses penerjemahan yang mencakup kesepadanan pesan dan penggunaan ideologi, metode dan teknik penerjemahan, output (hasil terjemahan dalam bahasa sasaran), dan outcome (kualitas terjemahan) yang mencakup keakuratan, keberterimaan dan keterbacaan. Analisis terhadap aspek keakuratan memperlihatkan bahwa terjemahan buku teks Marketing Management sebagian besar akurat.

Kata kunci: buku teks ekonomi, keakuratan terjemahan, model terjemahan, aspek keakuratan, keberterimaan, keterbacaan

 

Banyak karya pengalihbahasakan buku teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia yang beredar luas di masyarakat, khususnya di perguruan tinggi. Berdasarkan hasil studi awal penelitian diketahui bahwa dalam beberapa kasus pengalihbahasaan terdapat kekeliruan atau ketidaksesuaian dengan prinsip-prinsip teori terjemahan. Kekeliruan yang dilakukan oleh sejumlah penerjemah ketika mengalihbahasakan buku teks dapat merugikan para pembaca dari buku terjemahan tersebut, yang semula buku terjemahan dapat membantu memahami buku teks, tetapi faktanya sebaliknya, buku terjemahan malah menyesatkan para pembaca.

Dari alasan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk menyusun suatu model pengalihan bahasa buku teks sehingga dapat bermanfaat untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas.

Untuk menghasilkan terjemahan yang berkualitas perlu adanya sutau model yang dapat menuntun penerjemah dalam mengalihkan bahasa sumber ke bahasa sasaran. Setelah model tersusun, kemudian model tersebut diimplementasikan   untuk mengungkap kualitas terjemahan buku Management Marketing, dan Fundamentals of Financial Management.

Berdasarkan fokus penelitian di atas, peneliti fokus pada penyusunan model pengalihan bahasa yang dihasilkan dari berbagai kajian teori penerjemahan, kemudian model tersebut digunakan menganalisis kualitas terjemahan pada aspek keakuratan pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.

Studi awal terhadap buku terjemahan Marketing Management, dan Fundamentals of Financial Management ditemukan beberapa hasil terjemahan dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa) yang menurut peneliti tidak tepat, seperti contoh berikut ini.

Bsu : Companies selling mass consumer goods and services such as soft drinks, cosmetics, air travel, and athletic shoes and equipment spend a great deal time trying to establish a superior brand image.

Bsa : Perusahaan yang menjual barang-barang kebutuhan konsumen dan jasa dalam jumlah besar; seperti minuman ringan, kosmetik, penerbangan, sepatu, dan peralatan olah raga, serta menghabiskan banyak waktu untuk mencoba mengembangkan citra merek yang unggul.

Dari hasil terjemahan di atas telah terjadi pergeseran makna karena penerjemah menambahkan kata tambahan serta sebelum kata kerja utama, yang seharusnya tidak perlu, sehingga membuat terjemahan itu tidak sepadan. Kata spend pada kalimat di atas adalah kata kerja utama sehingga memiliki peran yang sangat penting, tetapi karena penerjemah menambahkan kata serta menghabiskan, sehingga mengaburkan makna dari kata kerja utama tersebut.

Penerjemah menerjemahkan mass consumer goods and services adalah barang-barang kebututuhan dan jasa dalam jumlah besar. Goods and services; goods diterjemahkan barang-barang, seharusnya barang; services diterjemahkan jasa sehingga goods and services terjemahannya adalah barang dan jasa. Mass consumer diterjemahkan kebutuhan konsumen, padahal tidak terdapat kata kebutuhan pada bahasa sumber, sehingga terjadi pergeseran makna, dan seharusnya diterjemahkan konsumen dalam jumlah besar, sehingga untuk menerjemahkan mass consumer goods and services adalah barang dan jasa untuk konsumen massal.

Selanjutnya a great deal time trying to establish a superior brand image diterjemahkan banyak waktu untuk mencoba mengembangkan citra merek yang unggul, penerjemah menambahkan kata pengembangan, padahal tidak ada kata itu dalam teks aslinya. Kata pengembangan yang ditambahkan oleh penerjemah juga tidak tepat, dan justru mengubah makna menjadi tidak sepadan. Terjemahannya yang tepat untuk a great deal time trying to establish a superior brand image adalah banyak waktu yang berguna hanya untuk menetapkan merek yang berkesan unggul, sehingga terjemahan yang telah direkontruksi ulang adalah sebagai berikut: “Perusahaan- perusahaan yang menjual barang dan jasa untuk konsumen massal, seperti minuman ringan, kosmetik, penerbangan, sepatu dan peralatan olah raga menghabiskan banyak waktu yang berguna hanya untuk menetapkan merek yang berkesan unggul

Bsu : A growing number of today’s companies are also shaping separate offers, services, and messages, to individual customer , based on information about past transactions, demographics, psychographics, and media, and distribution preferences. Bsa: Kini semakin banyak perusahaan yang juga membentuk penawaran, layanan, dan pesan terpisah untuk pelanggan individual, berdasarkan atas informasi tentang transaksi masa lalu, demografis, psikografis, dan preferensi media, dan distribusi.

Dari terjemahan di atas, telah terjadi pergeseran klausa simples. Klausa simpleks tersebut mendeskripsikan suatu informasi yang menggunakan present conttinuos tense, tetapi oleh penerjemah diterjemahkan menggunakan simple present sehingga maknanya tidak sepadan.

 

Kelompok nomina A growing number of today’s companies diterjemahkan Kini semakin banyak perusahan, A growing number diterjemah banyak, seharusnya diterjemahkan sedang tumbuh, penerjemah tidak menerjemahkan kata growing sehingga terjadi pergeseran makna karena kata growing tersebut untuk mempertegas bahwa hanya perusahan-perusahan yang sedang tumbuh tersebut bukan semua jenis perusahaan. Terjemahannya yang lebih tepat adalah sejumlah perusahaan yang sedang tumbuh saat ini. Apabila diterjemahkan ulang, terjemahannya adalah sebagai berikut: “Sejumlah perusahaan yang sedang tumbuh saat ini juga sedang   membentuk penawaran, layanan, dan pesan terpisah untuk pelanggan individual, berdasarkan atas informasi tentang transaksi masa lalu, demografis, psikografis, dan preferensi media, dan distribusi”.

Dengan memperhatikan contoh-contoh tersebut dipandang perlu dilakukan penelitian tentang kualitas terjemahan buku teks Management Marketing, dan Fundamentals of Financial Management yang selanjutnya hasil penelitian akan dimanfaatkan untuk membuat model penerjemahan buku teks bidang manajemen agar para penerjemah dan pengguna buku dapat menerjemahkan dan mendapatkan hasil terjemahan yang sepadan dengan makna yang tetkandung pada buku aslinya. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian ini secara lengkap diformulasikan sebagai berikut:

Bagaimana model penerjemahan untuk menghasilkan terjemahan yang berkualitas?

Bagaimana implementasi model penerjemahan dalam pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dalam buku terjemahan Management Marketing dan Fundamentals of Financial Management tersebut kedalam bahasa Indonesia

Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk mengidentifikasi teknik, metode dan idiologi penerjemahan dalam buku teks Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management .     Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk menerjemahkan buku teks bidang ekonomi.

Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk menyusun buku panduan penerjemahan.

 

Tujuan umum penelitian ini adalah:

  • Penyusunan model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran khusunya buku teks bidang ekonomi yang berbahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  • Mengimplementasikan model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran fokus pada pengalihan pesan dalam kalimat-kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management. (Fokus Penelitian tahun pertama).
  • Mengimplementasi model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran fokus pada idiologi, metode dan teknik-teknik penerjemahan dalam kalimat-kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management dan istilah teknis dalam buku teks Fundamentals of Financial Management (Fokus Penelitian tahun kedua).
  • Mengimplementasikan model penerjemahan dengan menerjemahkan buku teks bidang ekonomi ( Fokus Penelitian Tahun Ketiga).
  • Penyusunan Buku Panduan Penerjemahan Buku Teks ( Fokus Penelitian Tahun Keempat).

 

KAJIAN TEORI

Pengertian Penerjemahan

Penerjemahan merupakan kegiatan pengungkapkan kembali makna atau pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yang dilakukan oleh seseorang dan seseorang tersebut minimal yang bersangkutan adalah bilingual yaitu menguasai bahasa sumber dan bahasa target. Di samping seorang bilingual juga dituntut seorang penerjemah memahami kontek budaya baik budaya bahasa sumber dan dan bahasa sasaran.

Ada dua teori yang terkenal sampai abad pertengahan 20, atau sejak zaman Romawi; teori terjemahan yang menerjemahkan melalui mengalihan kata perkata dari bahasa sumber ke bahasa sasaran atau disebut “word-for-word translation”, dan teori terjemahan bebas biasa disebut “sense-for-sense translation”. Menurut para ahli penerjemah, kedua teori tersebut memiliki berbagai kelemahan dan kelebihan (Munday 2006 : 21).

Terjemahan dengan teknik kata per kata merupakan strategi penerjemahan yang sudah tua, teknik terjemahan kata per kata ini dikaitkan dengan unit-unit terjemahan, Sementara itu, terjemahan bebas memiliki tujuan untuk mengungkapkan amanat yang ada pada teks (Hatim 2013: 17).

Para pakar teori penerjemahan mendefinisikan penerjemahan dengan cara yang berbeda-beda. Menurut Nababan (2003: 19), definisi-definisi penerjemahan yang mereka kemukakan ada yang lemah, kuat, dan ada pula yang saling melengkapi satu sama lain. Catford (Nababan, 2003: 19) misalnya mendefinisikan penerjemahan sebagai proses penggantian suatu teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran. Dia juga mengartikan penerjemahan sebagai penggantian materi teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran. Menurut Nababan, teori itu sangat lemah karena seorang penerjemah tidak mungkin dapat menggantikan teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran karena struktur kedua bahasa itu pada umumnya berbeda, dan materi bahasa sumber juga tidak pernah digantikan dengan materi bahasa bahasa sasaran. Menurut Nababan, dalam terjemahan ditekankan agar isi teks bahasa sasaran tetap setia dengan isi teks bahasa sumber.

Definisi lain diungkapkan oleh Catford (1974: 20): “translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalence textual material in another language (TL”). Catford menekankan tentang penggantian materi tekstual dari satu bahasa dengan padanan materi tekstual yang sama dalam bahasa lain. Dalam definisinya, selain menyentuh adanya dua bahasa, Catford juga mengungkapkan adanya materi tekstual, yang ditekankan pada ketidakharusan menerjemahkan keseluruhan teks dari Bsu, tetapi diganti dengan padanan maknanya dalam bahasa sasaran. Definisi Catford memiliki sedikit perbedaan dari definisi yang disampaikan Larson, yaitu tambahan faktor materi tekstual.

Ideologi Penerjemahan

Dalam penerjemahan, ideologi adalah keyakinan seorang penerjemah dalam melakukan penerjemahan, bahwa yang dilakukan dalam proses penerjemahan merupakan hal yang benar yang menghasilkan produk penerjemahan dengan kualitas yang baik. Dinyatakan Nababan (2013) bahwa dalam bidang penerjemahan, ideologi diartikan sebagai prinsip atau keyakinan tentang “benar atau salah”. Sebagian orang berpendapat bahwa produk penerjemahan harus memiliki pesan yang dikandung dalam teks bahasa sumber Sementara itu, sebagian lain berprinsip bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kaidah, norma dan budaya yang berlaku pada bahasa sasaran (Nababan, 2013). Berdasarkan kedua perbedaan keyakinan itu, dua ideologi penerjemahan muncul, yaitu foreinisasi dan domestikasi.

Ideologi foreinisasi dinyatakan sebagai paham yang meyakini bahwa mempertahankan budaya bahasa sumber dalam produk terjemahan penting, penerjemah menganggap bahwa pengenalan budaya, adat istiadat, kebiasaan dari budaya bahasa sumber perlu diketahui oleh pembaca. Munday (2001:147) mengutip Venuti bahwa dalam ideologi foreinisasi seolah-olah penerjemah”sending the reader abroad.” Dinyatakan oleh Nababan (2013) bahwa”bagi mereka, terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang tetap mempertahankan gaya dan cita rasa kultural bahasa sumber. Dalam upaya merealisasikan ideologi foreinisasi, penerjemah menggunakan metode penerjemahan word-for-word translation, literal translation, faithful translation dan semantic translation. Dengan keempat metode penerjemahan itu dimungkinkan keutuhan konten kultur bahasa sumber dalam produk penerjemahan karena padanan yang digunakan cenderung pada pemadanan formal atau kaku, sesuai dengan upaya mempertahankan kultur bahasa sumber.

Sementara itu, ideologi domestikasi merupakan paham yang berlawanan dengan ideologi foreinisasi. Ideologi ini meyakini bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kultur yang terdapat pada bahasa sasaran. seluruh aspek dalam produk penerjemahan harus tunduk pada aturan, norma, kebiasaan yang berlaku pada bahasa sasaran. Nababan (2013) mengutip Zhao Ni:”Domestication refers to the target-culture-oriented translation in which unusual expression to the target culture are exploited and turned into some familiar ones so as to make the translated text intelligible and easy for target readers.” Dalam produk terjemahan yang tunduk pada ideologi domestikasi, hal-hal yang kemungkinan tidak dikenal oleh pembaca akan diubah dan disesuaikan dengan kultur pembaca, padanan yang digunakan cenderung dinamis, disesuaikan dengan target pembaca yang dituju penerjemah. Dalam upaya merealisasikan ideologi domestikasi, metode penerjemahan yang sering digunakan adalah adaptation translation, free translation, idiomatic translation dan communicative translation.

Metode Penerjemahan

Ketika seorang penerjemah dihadapkan pada suatu teks bahasa sumber untuk diterjemahkan, maka hal pertama yang harus diputuskannya adalah metode penerjemahan yang akan digunakannya. Hal ini dikemukakan oleh Molina dan Albir (2002:507-508) dalam Nababan bahwa” pada dasarnya metode penerjemahan akan ditetapkan terlebih dahulu oleh penerjemah sebelum melakukan proses penerjemahan.” Jadi apakah yang disebut dengan metode penerjemahan? Nababan (2013) menyatakan bahwa metode penerjemahan adalah cara proses penerjemahan dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan penerjemahan. Metode penerjemahan merupakan pilihan global yang mempengaruhi keseluruhan teks. Metode penerjemahan dipengaruhi oleh ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah.   Ketika seorang penerjemah menganut ideologi foreinisasi maka metode yang akan dipilih adalah metode yang mendukung keutuhan nilai-nilai budaya bahasa sumber, Sementara itu, bagi penerjemah yang menganut ideologi domestikasi, metode yang akan menjadi pilihannya tentu yang memungkinkan pengalihan kultur bahasa sumber kedalam kultur bahasa sasaran.

 

TeknikPenerjemahan

Ketika seorang penerjemah telah memutuskan metode penerjemahan yang akan digunakannya, tahap selanjutnya yang akan dilalui adalah proses penerjemahan. Dalam tahap ini, penerjemah akan dihadapkan pada bagaimana teks akan diterjemahkan. Cara menerjemahkan saat penerjemah berhadapan dengan teks sumber disebut sebagai teknik penerjemahan. Nababan (2013) menuliskan bahwa teknik penerjemahan merupakan prosedur untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bagaimana kesepadanan terjemahan berlangsung yang dapat diterapkan pada berbagai satuan lingual: kata, frase ataupun kalimat. Dinyatakan juga bahwa teknik penerjemahan dapat disebut sebagai realisasi dari proses pengambilan keputusan yang hasilnya dapat diidentifikasikan pada karya terjemahan.

Teknik penerjemahan menyangkut tahapan berjenjang dari mulai leksis, distribusi yang mencakup morfologi dan sintaks serta pesan. Literal procedures digunakan ketika kedua bahasa memiliki kesepadanan kata, struktur, dan atau morfologi. Sementara itu, oblique procedures digunakan dalam kondisi ketika penerjemahan kata demi kata tidak dimungkinkan.

Teknik yang digunakan penerjemah tidak selalu tunggal, akan tetapibisa kombinasi diantaranya sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penerjemahan. Teknik-teknik penerjemahan yang termasuk literal translation proceduresitu, antara lain:      Borrowings: Dalam teknik penerjemahan ini, kata dari teks bahasa sumber dialihkan langsung ke dalam kata teks sasaran tanpa adanya proses penerjemahan.

Calque: Dalam teknik penerjemahan ini, terjadi pemindahan ungkapan atau struktur dari teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran.

Literal translation: Teknik penerjemahan ini sama dengan penerjemahan kata-demi-kata. Hal ini dimungkinkan dilakukan jika ada kesamaan rumpun bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Sementara itu, teknik-teknik penerjemahan yang termasuk dalam oblique translation procedures, antara lain:

Transposition: teknik penerjemahan dimana penerjemah melakukan perubahan terhadap satu bagian ungkapan(kaidah tata bahasa) dalam teks bahasa sasaran tanpa mengubah pesan yang dikandungnya.

Modulation: dalam teknik penerjemahan ini, terjadi perubahan semantik dan cara pandang dari teks sumber ke dalam teks sasaran.

Equivalence: dengan teknik ini, penerjemah menggambarkan situasi yang sama dengan gaya dan alat struktur yang berbeda. Misalnya ketika penerjemah menerjemahkan idiom.    Adaptation: teknik penerjemahan ini memungkinkan penerjemah mengubah referensi budaya, ketika budaya dari teks sumber tidak ditemukan dalam budaya teks sasaran.

Ketujuh teknik-teknik penerjemahan di atas ditambah dengan beberapa teknik lain, yaitu:

Compensation: teknik penerjemahan kompensasi digunakan ketika satu elemen dari teks Bsu tidak bisa diterjemahkan ke dalam teks Bsa karena tidak ada padanannya. Untuk itu hal tersebut diungkapkan dengan memberikan penjelasan.

Concentration: teknik penerjemahan yang menggunakan lebih sedikit ungkapan dalam teks Bsa dibandingkan dengan ungkapan dalam teks asalnya.

Amplification: teknik penerjemahan yang dilakukan ketika teks Bsa menggunakan lebih banyak kata daripada dalam teks Bsu.

Reinforcement: teknik penerjemahan ini hampir sama dengan teknik penerjemahan amplifikasi dimana penggunaan jenis kata dalam teks Bsu diganti atau ditambah dengan jenis kata lain dalam teks Bsa untuk lebih memperjelas makna.

Explicitation: dalam teknik penerjemahan ini dilakukan pengeksplisitan informasi dalam teks Bsu yang belum jelas atau memiliki arti ambigu.

Generalization: dalam teknik penerjemahan ini satu istilah digunakan untuk beberapa kata dalam teks Bsu, misalnya kata ‘rice’ digunakan untuk menerjemahkan kata ‘nasi’ dan ‘beras’.

Inversion: teknik penerjemahan ini memungkinkan pemindahan kata atau frase dalam teks Bsu ke tempat lain dalam kalimat atau paragraf dalam teks Bsa demi kealamian alur teks.

 

Kesepadanan dalam Penerjemahan

Kesepadanan merupakan salah satu teknik atau prosedur yang digunakan dalam  penerjemahan yang bisa terjadi pada tataran kata, frase atau teks. Vinay dan Darbelnet dalam paper “Ungureanu” mendefinisikan equivalence sebagai a procedure which replicates the same situation as in the original, whilst using completely different wording”. Aspek-aspek yang terlibat dalam kesepadanan (equivalence) ini adalah replikasi, situasi asli, kata berbeda. Intinya bahwa pesan yang terkandung dalam teks Bsu dialihkan ke dalam teks Bsa dengan menggunakan kata-kata Bsa.

Selain itu Hervey dan Higgins dalam Miyanda menyatakan bahwa ”equivalence denotes an observed relationship between ST utterances and TT utterances that are seen as directly corresponding to one another… Dalam penjelasan ini dapat dilihat adanya hubungan atau keterkaitan antara ungkapan dan atau pesan dari teks Bsu dengan teks Bsa. Ungkapan mengacu pada kata-kata Sementara itu, hubungan menekankan pada kesepadanan pesan atau makna.

Ke dua definisi di atas memiliki kesepakatan bahwa kesepadanan memiliki aspek kesamaan pesan atau makna dengan bahasa yang berbeda. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penerjemahan, kesepadanan merupakan keharusan walaupun ungkapan atau bahasa yang digunakan berbeda.

 

Mona Baker(1992) menyajikan tipologi kesepadanan yang terdiri dari:

Kesepadanan pada tataran kata; Baker (1992:11) menyatakan bahwa kata merupakan the basic meaningful element in a language. Dalam penerjemahan kesepadanan antara kata Bsu dan Bsa, mungkin terjadi kesepadanan kata atau ungkapan yang sama. Hal ini akan memudahkan penerjemah dalam melakukan tugasnya. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan kemungkinan ketiadaan padanan kata Bsa yang dapat menggantikan kata dari Bsu.

Kesepadanan di atas tataran kata, mengeksplorasi kesepadanan kombinasi antara kata-kata dan frase.

Kesepadanan pada tataran gramatika, mengeksplorasi kesepadanan pada tataran struktur kalimat   Kesepadanan pada tataran teks mengeksplorasi antara keterkaitan makna dalam konteks.

Kesepadanan Pragmatik mengeksplorasi bagaimana teks digunakan dalam situasi komunikasi yang melibatkan unsur-unsur yang terkait dalam penerjemahan, seperti penulis, pembaca, konteks budaya kedua bahasa terkait.

 

Selain Baker, Koller dalam Munday (2001: 47/48) menjelaskan lima tipe kesepadanan:

Denotative Equivalence yang berkaitan dengan kesepadanan unsur ekstralinguistik dalam teks

Connotative Equivalence berkaitan dengan pilihan kata, khususnya antar kata yang memiliki arti yang hampir sama

Text-normative Equivalence berkaitan dengan tipe teks yang berbeda-beda dan memiliki ciri yang berbeda pula

Pragmatic Equivalence, atau communicative equivalence yang berorientasi pada pembaca produk terjemahan. Hal ini sejalan dengan konsep Nida tentang ‘dynamic equivalence’

Formal Equivalence berkaitan dengan bentuk dan estetika teks yang mencakup permainan kata-kata dan aspek-aspek gaya individu teks sumber.

Nida dalam Munday (2001:41–42) membagi kesepadanan kedalam dua tipe, yaitu: (1) Formal equivalence yang menekankan pada pesan, baik dalam bentuk dan isi, (2) dynamic equivalence yang berkaitan dengan pemahaman bahwa pesan harus disesuaikan dengan kebutuhan linguistik dan ekspektasi budaya pembaca serta kealamian ungkapan sebagai pusat perhatian.

Dari ketiga ahli di atas bisa disepakati bahwa kesepadanan berawal dari tataran kata, kemudian berlanjut sampai pada tataran konteks. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kesepadanan adalah pemilihan unsur-unsur kata atau ungkapan, frase, kalimat, teks, komunikatif, budaya dan kealamian teks supaya pesan yang dialihkan dapat mencapai kualitas terjemahan yang tinggi.

Nida memiliki tiga kriteria dalam menilai kualitas penerjemahan, yang dinyatakan sebagai berikut: Three fundamental criteria are basic to the evaluation of all translating, and in different ways help to determine the relative merit of particular translations. These are: (1) general efficiency of the communication process, (2) comprehension of intent, and (3) equivalence of response.

Kriteria yang disajikan bersifat kualitatif yang cenderung subjektif, kurang standar dan nilai reliabilitasnya rendah. Nababan (2010) menyatakan bahwa penerjemahan merupakan transfer makna dari bahasa sumber (source language) ke bahasa sasaran (target language) dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan. Ketiga faktor yang terdapat dalam produk terjemahan tersebut dikenal sebagai kualitas penerjemahan sebagai parameter atau kriteria baik tidaknya suatu produk terjemahan.

Terdapat dua sistem dalam penilaian kualitas terjemahan yang digunakan, dalam (Schiaffino dan Zearo), disebut sebagai: (a) argumentation-centred systems dan (b) quantitative-centered systems. Sistem pertama bertumpu pada penilaian kualitatif, argumentasi, Sementara itu, argumentasi merupakan hal yang lebih relatif dibandingkan dengan sistem kualitatif. Kelebihan sistem kualitatif juga disampaikan oleh Schiaffino dan Zearo sebagai berikut, ” The advantage of quantitative-centered methods is that they lend themselves to quantifying errors and, therefore, make measurements possible.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model Penerjemahan

            Dari pembahan berbagai teori penerjemahan dapat disusun suatu model penerjemahan. Model penerjemahan ini dapat dipakai sebagai acuan untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas. Model penerjemahan dapat dilihat pada tabel berikut.

ade1

 

Penjelasan gambar:

Input : Kata, Istilah Teknis, Frasa, Klausa, Kalimat, Teks yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Proses Penerjemahan :

Kesepadanan : Inti dari kegiatan penerjemahan adalah pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pesan yang dialihkan harus sepadan dengan bahasa sumber.

Kesepadanan pada tataran kata; Baker (1992:11) menyatakan (1)bahwa kata merupakan the basic meaningful element in a language. Dalam penerjemahan kesepadanan antara kata Bsu dan Bsa, mungkin terjadi kesepadanan kata atau ungkapan yang sama. Hal ini akan memudahkan penerjemah dalam melakukan tugasnya. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan kemungkinan ketiadaan padanan, (2)Kesepadanan pada tataran gramatika, mengeksplorasi kesepadanan pada tataran struktur kalimat, (3) kesepadanan pada tataran teks mengeksplorasi antara keterkaitan makna dalam konteks, (4) kesepadanan Pragmatik mengeksplorasi bagaimana teks digunakan dalam situasi komunikasi yang melibatkan unsur-unsur yang terkait dalam penerjemahan, seperti penulis, pembaca, konteks budaya kedua bahasa terkait. .

Idiologi Penerjemahan

Ideologi foreinisasi dinyatakan sebagai paham yang meyakini bahwa mempertahankan budaya bahasa sumber dalam produk terjemahan penting, penerjemah menganggap bahwa pengenalan budaya, adat istiadat, kebiasaan dari budaya bahasa sumber perlu diketahui oleh pembaca. Munday (2001:147) mengutip Venuti bahwa dalam ideologi foreinisasi seolah-olah penerjemah”sending the reader abroad.” Dinyatakan oleh Nababan (2013) bahwa”bagi mereka, terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang tetap mempertahankan gaya dan cita rasa kultural bahasa sumber. Dalam upaya merealisasikan ideologi foreinisasi, penerjemah menggunakan metode penerjemahan word-for-word translation, literal translation, faithful translation dan semantic translation. Dengan keempat metode penerjemahan itu dimungkinkan keutuhan konten kultur bahasa sumber dalam produk penerjemahan karena padanan yang digunakan cenderung pada pemadanan formal atau kaku, sesuai dengan upaya mempertahankan kultur bahasa sumber.

Ideologi domestikasi merupakan paham yang berlawanan dengan ideologi foreinisasi. Ideologi ini meyakini bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kultur yang terdapat pada bahasa sasaran. seluruh aspek dalam produk penerjemahan harus tunduk pada aturan, norma, kebiasaan yang berlaku pada bahasa sasaran. Nababan (2013) mengutip Zhao Ni:”Domestication refers to the target-culture-oriented translation in which unusual expression to the target culture are exploited and turned into some familiar ones so as to make the translated text intelligible and easy for target readers.” Dalam produk terjemahan yang tunduk pada ideologi domestikasi, hal-hal yang kemungkinan tidak dikenal oleh pembaca akan diubah dan disesuaikan dengan kultur pembaca, padanan yang digunakan cenderung dinamis, disesuaikan dengan target pembaca yang dituju penerjemah. Dalam upaya merealisasikan ideologi domestikasi, metode penerjemahan yang sering digunakan adalah adaptation translation, free translation, idiomatic translation dan communicative translation.

Teknik Penerjemahan adalah ah satu cara yang dipakai penerjemah ketika mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Salah satu manfaat dari teknik penerjemahan adalah mengatasi kesulitasn pengalihan pesan dari kata, frasa, klausa atau kalimat.

Teori Teknik Penerjemahan Molina Albir :

Teknik yang digunakan penerjemah tidak selalu tunggal, akan tetapibisa kombinasi diantaranya sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penerjemahan. Teknik-teknik penerjemahan yang termasuk literal translation proceduresitu, antara lain:

Borrowings: Dalam teknik penerjemahan ini, kata dari teks bahasa sumber dialihkan langsung ke dalam kata teks sasaran tanpa adanya proses penerjemahan.

Calque: Dalam teknik penerjemahan ini, terjadi pemindahan ungkapan atau struktur dari teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran.

Literal translation: Teknik penerjemahan ini sama dengan penerjemahan kata-demi-kata. Hal ini dimungkinkan dilakukan jika ada kesamaan rumpun bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Sementara itu, teknik-teknik penerjemahan yang termasuk dalam oblique translation procedures, antara lain:

Transposition:teknik penerjemahan dimana penerjemah melakukan perubahan terhadap satu bagian ungkapan(kaidah tata bahasa) dalam teks bahasa sasaran tanpa mengubah pesan yang dikandungnya.

Modulation: dalam teknik penerjemahan ini, terjadi perubahan semantik dan cara pandang dari teks sumber ke dalam teks sasaran.

Equivalence: dengan teknik ini, penerjemah menggambarkan situasi yang sama dengan gaya dan alat struktur yang berbeda. Misalnya ketika penerjemah menerjemahkan idiom.

Adaptation: teknik penerjemahan ini memungkinkan penerjemah mengubah referensi budaya, ketika budaya dari teks sumber tidak ditemukan dalam budaya teks sasaran.

Ketujuh teknik-teknik penerjemahan di atas ditambah dengan beberapa teknik lain, yaitu:Compensation: teknik penerjemahan kompensasi digunakan ketika satu elemen dari teks Bsu tidak bisa diterjemahkan ke dalam teks Bsa karena tidak ada padanannya. Untuk itu hal tersebut diungkapkan dengan memberikan penjelasan.

Concentration: teknik penerjemahan yang menggunakan lebih sedikit ungkapan dalam teks Bsa dibandingkan dengan ungkapan dalam teks asalnya.

Amplification: teknik penerjemahan yang dilakukan ketika teks Bsa menggunakan lebih banyak kata daripada dalam teks Bsu.

Reinforcement: teknik penerjemahan ini hampir sama dengan teknik penerjemahan amplifikasi dimana penggunaan jenis kata dalam teks Bsu diganti atau ditambah dengan jenis kata lain dalam teks Bsa untuk lebih memperjelas makna.

Explicitation: dalam teknik penerjemahan ini dilakukan pengeksplisitan informasi dalam teks Bsu yang belum jelas atau memiliki arti ambigu.

Generalization: dalam teknik penerjemahan ini satu istilah digunakan untuk beberapa kata dalam teks Bsu, misalnya kata ‘rice’ digunakan untuk menerjemahkan kata ‘nasi’ dan ‘beras’.      Inversion: teknik penerjemahan ini memungkinkan pemindahan kata atau frase dalam teks Bsu ke tempat lain dalam kalimat atau paragraf dalam teks Bsa demi kealamian alur teks.

Metode Penerjemahan

Nababan (2013) menyatakan bahwa metode penerjemahan adalah cara proses penerjemahan dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan penerjemahan. Metode penerjemahan merupakan pilihan global yang mempengaruhi keseluruhan teks. Metode penerjemahan dipengaruhi oleh ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah.   Ketika seorang penerjemah menganut ideologi foreinisasi maka metode yang akan dipilih adalah metode yang mendukung keutuhan nilai-nilai budaya bahasa sumber, Sementara itu, bagi penerjemah yang menganut ideologi domestikasi, metode yang akan menjadi pilihannya tentu yang memungkinkan pengalihan kultur bahasa sumber kedalam kultur bahasa sasaran.

 

Output:

Bahasa sumber adalah hasil pengalihan dari bahasa sasaran. Hasil terjemahan harus akurat sehingga tidak ada distorsi makna dalam terjemhan, Pengukuran keakuratan telah dikembangkan oleh Nababan, Nuraeni dan Sumarjono (2012). Terjemahan akurat adalah makna kata, frasa, klausa dan kalimat dalam bahasa sumber telah dialihkan ke bahasa sasaran.

Outcomes:

  1. Keberterimaan :Hasil terjemahan dapat digunakan. Bahasa yang diterjemahkan harus berterima dalam kontek bahasa sasaran. Hasil terjemahan sudah tersusun dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Keterbacaan : Terjemahan harus bermanfaat dari aspek keterbacaan. Keterbacaan dari terjemahan tersebut mudah dipahami atau sulit dipahami.

 

Pembahasan Pengalihan Pesan

Pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran adalah salah satu yang terdapat pada model penerjemahan. Pengalihan pesan adalah inti dari proses penerjemahan. Pesan bahasa sumber yang dialihkan harus akurat dan sepadan dalam bahasa sasaran.Kesepadanan harus tercapai pada tataran makna, gramatika, dan budaya.

Peneliti menggunakan data terjemahan yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management yang ditulis oleh Philip Kotler dan Kevin Lane Keller . Data yang berupa kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam bahasa sumber beserta hasil terjemahannya dipakai untuk untuk mengimplementasikan model terjemahan pada aspek pengalihan pesan. Data penelitian berjumlah 125 data yang menjelaskan konsep pemasaran. Berikut ini adalah contoh analisis pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran .

Analisis Pengalihan Pesan dalam Terjemahan Buku Teks Marketing Management

Bahasa Sumber: Formally or informally, people and organization engage in a vast number of activities that we could call marketing.

Bahasa sasaran : Secara formal atau informal, orang dan organisasi terlibat dalam sejumlah besar aktivitas yang dapat kita sebut pemasaran.

Analisis :Dari hasil terjemahan di atas; penerjemah mempertahankan strukur kalimat, sehingga tidak terjadi pergeseran atau perubahan struktur kalimat, yaitu kalimat simplek. Ada dua temuan yang tidak tepat; yaitu kata engaged diterjemahkan terlibat seharusnya terikat, terlibat dan terikat memiliki makna yang berbeda. People diterjemahkan orang (tunggal), seharusnya jamak misalnya para individu .

Terjemahan ulangnya adalah secara formal dan informal, para individu dan organisasi terikat dalam sejumlah besar aktivitas yang kita dapat sebut pemasaran.

Bahasa sumber : Marketing has been defined as an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.

Bahasa sasaran : Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan , mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengeola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntngkan organisasi dan pemangku kepentinganya.

Analisis : Dari terjemahan di atas tidak terjadi pergesaran struktur kalimat, namun terdapat ketidak tepatan dalam mengalihbahasaan “ Marketing has been defined as” diterjemahkan pemasaran adalah, padahal seharusnya pemasaran telah didefinisikan sebagai … karena kalimat tersebut merupakan kesimpulan dari beberapa penjelas mengenai pemasaran sebelumnya. Ketidak tepatan yang kedua adalah gerund diterjemahkan menjadi to infinitive a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers, seharusnya tetap dalam bentuk kata gerund, serangkaian proses penciptaan, pengkomunikasian, dan penghantaran nilai kepada pelanggan , meskipun maknanya hampir sama tetapi keakurasian tata bahasa menjadi kurang. Dalam menterjamahkan “ in ways” diterjemahkan dengan cara, seharusnya dalam berbagai cara. Its stakeholders diterjemahkan pemangku kepentingan seharusnya diterjemahkan relasinya .

Terjemahan ulang : Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses penciptaan, pengkomunikasian, dan pemberian nilai kepada pelanggan dan untuk pengelolaan hubungan pelanggan dalam berbagai cara yang menguntungkan organisasi dan para relasinya.

Bahasa Sumber : Thus, we see marketing management as the art and science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer value.

Bahasa sasaran : Karenanya, kita memandang managemen pemasaran (marketing management) sebagi seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih ,mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan, dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

Analisis : Tidak terjadi perubahan struktur sehingga tidak terjadi pergeseran kalimat, Sementara itu, temuan kekeliruan adalah pengubahan gerund menjadi infinitive sehingga terjadi pergeseran makna pada kalimat berikut ini , … as the art and science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer value. Sebaiknya penerjemah tetap menerjemahkan geund sebagai kata kerja yang dibendakan daripada kata kerja murni(verb) dengan menerjemahkan of menjadi dalam sehingga aspek akurasi menjadi lebih baik ..sebagai seni dan ilmu pengetahuan dalam pemilihan pasar sasaran, dan peraihan, pemeliharaan, penumbuhan pelanggan melalui penciptaan, penghantaran, dan pengkomunikasian nilai pelanggan unggul.

Terjemahan ulang: Dengan demikian, kita memandang manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu dalam pemilihan sasaran, dan peraihan, pemeliharaan, dan penumbuhan pelanggan melalui penciptaan, penghantaran, dan pengkomunikasian nilai pelanggan unggul.

Bahasa sumber : A social definition shows the role marketing plays in society; for example, one marketer said that marketing’s role is to deliver a higher standard of living.

Bahasa sasaran: Definisi sosial menunjukkan peran yang dimainkan pemasaran di dalam masyarakat sebagai contoh, seorang pemasar berkata bahwa peran pemasaran adalah untuk memberikan standar kehidupan yang lebih tinggi

Analisis: Penerjemah melakukan pergeseran struktur kalimat aktif menjadi pasif untuk mencapai kesepadanan makna, tetapi justru mengubah makna bahasa sumber. Menurut penulis, terjemahan ini tidak perlu mengubah struktur kalimat dari aktif menjadi passif, tetapi cukup menambahkan kata bahwa. Definisi sosial menunjukkan bahwa pemasaran memainkan peran dalam masyarakat. Penerjemah menerjemahkan kata deliver memberikan, sebenarnya kata yang tepat adalah menyampaikan, …seorang pemasar berkata bahwa peran pemasaran adalah untuk menyampaikan standar hidup yang lebih tinggi.

Terjemahan ulangnya : Definisi sosial menunjukkan bahwa pemasaran memainkan peran dalam masyarakat; sebagai contoh, seorang pemasar mengatakan bahwa peran pemasaran adalah untuk menyampaikan standar hidup yang lebih tinggi.

Bahasa sumber : Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging products and services of value with others.

Bahasa sasaran: Pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan di mana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain.

Analisis: Pada terjemahan tersebut terdapat ketidaktepatan dalam menerjemahkan kata through, dengan , seharusnya melalui sehingga diikuti kata benda (gerund) kalau diterjemahkan “dengan’ pasti akan diikuti kata kerja infinitive . dan kata a tidak perlu diterjemahkan sebuah , penerjemah juga mengalihbahasakan by which dimana seharusnya diterjemahkan sehingga, kemudian kekeliruan berikutnya adalah produk dan jasa yang bernilai dipertukarkan seharusnya yang dipertukarkan itu nilai dari barang dan jasa., sehingga terjemahannya adalah Pemasaran merupakan proses kemasyarakatam sehingga individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, pertukaran nilai dari barang dan jasa secara bebas .

Terjemahan ulangnya adalah : Pemasaran adalah proses kemasyarakat sehingga individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, melakukan pertukaran nilai barang dan jasa dengan bebas dengan pihak lain.

Bahasa sumber : The production concept is one of the oldest concepts in business. It hold that consummers will prefer products that are widely available and inexpensive.

Bahasa sasaran : Konsep produksi adalah salah satu konsep tertua dalam bisnis. Konsep ini menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang tersedia dalam jumlah banyak dan tidak mahal.

Analisis : Kekeliruan dalam terjemahan di atas adalah penerjemah mengalihbahasakan widely dengan banyak sehingga terjadi perubahan makna, sementara yang diinginkan oleh penulis buku adalah secara luas. Kata will tidak diterjemahkan padahal kata will itu penting karena mengandung makna sebab akibat, consummers diterjemahkan tunggal harusnya jamak.

Terjemahannya ulang adalah sebagai berikut :.konsep produksi adalah salah satu konsep tertua dalam bisnis. Konsep ini menyatakan bahwa para konsumen akan lebih menyukai produk yang tersedia secara luas dan tidak mahal.

Bahasa sumber : Relationship marketing , a key goal of marketing is to develop deep, enduring relationships with people and organizations that could directly or indirectly affect the success of the term’s marketing activities.

Bahasa sasaran : Pemasaran Hubungan. Tujuan kunci pemasaran adalah mengembangkan hubungan yang dalam dan bertahan lama dengan orang dan organisasi yang dapat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kesuksesan pemasaran

Analisis: pada terjemahan di atas, people diterjemahkan orang, sebaiknya para individu. Penerjemah mempertahankan struktur kalimat yang sama dengan bahasa sumber.

Bahasa sumber : Heightened competition Brand manufacturers are facing intense competition from domestic and foreign brand, resulting in rising promotion costs and shrinking profit margins.

Bahasa sasaran : Persaingan yang meningkat. Produsen merek menghadapi persaingan yang semakin ketat dari merek domestik dan asing. Akibatnya biaya promosi meningkat dan margin keuntungan semakin kecil.

Analisis : Penerjemah melakukan pergeseran dari satu kalimat simplek menjadi dua kalimat simplek. Menurut penulis tidak perlu mengubah menjadi dua kalimat dengan menggunakan kata penghubung yang, dan kekeliruan yang kedua  Heightened competition diterjamhkan persaingan yang sedang meningkat, seharusnya persaingan yang ditingkatkan karena heightened adalah past participle bukan present participle, kekeliruan yang ketiga adalah present continous tense diterjemahkan simple present sehingga mengubah makna.

Dari analisis, terjemahan yang tepat adalah : Persaingan yang ditingkatkan. Para produsen merek sedang menghadapi persaingan yang ketat dari merek domestik dan asing yang mengakibatkan biaya promosi meningkat dan margin keuntungan menyusut.

Bahasa Sumber : New Company CapabilitiesThey can also conduct fresh marketing research using the internet to arrange for focus group, send out quesionnaires, and gather frimary data in saveral other ways

Bahasa sasaran :Kemampuan Baru Perusahaan. Mereka (para peneliti) juga dapat melakukan riset pemasaran yang baru dengan menggunakan internet untuk mengadakan kelompok fokus, mengirimkan kuesioner, dan mengumpulkan data primer dengan beberapa cara.

Analisis : Dari hasil terjemahan di atas, pengalihan bahasa yang kurang tepat, yaitu fresh diterjemahkan baru seharusnya aktual, arrange diterjemahkan mengadakan seharusnya menentukan   focus group dialihbahasakan kelompok fokus, seharusnya kelompok sasaran. Penerjemah tampaknya ingin mempermudah proses penerjemahannya dengan menggunakan ideologi forenisasi.

Penulis menerjemahkan ulang dengan hasil sebagai berikut : Para peneliti dapat juga melakukan penelitian pemasaran yang masih aktual dengan menggunakan internet untuk menentukan kelompok sasaran, mengirimkan kuesioner, dan mengumpulkan data primer dengan berbagai cara .

Bahasa sumber : Key Igredian of the marketing management process are insightful creative marketing strategies and plans that can guide marketing activities.

Bahasa sasaran : Unsur utama proses manajemen pemasaran adalah strategi dan rencana pemasaran yang mendalam dan kreatif yang dapat memandu kegiatan pemasaran.

Analisis : Hasil terjemahan sudah sesuai dengan tatabahasa bahasa sumber, dan struktur bahasa pada terjemahan sama dengan bahasa sumber, yaitu kalimat simplek.

Bahasa sumber : Marketing and Customer Value.Marketing is about satisying customers’ needs and wants. The task of any business is to deliver customer value at profit.

Bahasa sasaran : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Memuaskan kebutuhan konsumen adalah inti dari pemasaran . sasaran dari setiap busines adalah menghantarkan nilai pelanggan untuk menghasilkan laba.

Analisis : Penulis menemukan kekeliruan pada penerjemahannya , penerjemah menambahkan kata inti padahal tidak terdapat pada bahasa sumbernya. Penerjemah memulainya dengan kata kebutuhan sebagai subjek, seharusnya diterjemahkan sesuai struktur kalimat aslinya saja akan lebih akurat dan berterima. Pada kalimat yang kedua , value of profit diterjemahkan sendiri-sendiri, seharusnya tidak boleh dipisah karena merupakan satu kesatuan . Ada kata yang tepat untuk menerjemahkan kata busniness yaitu kegitan usaha.

Dari hasil analisis tersebut , menurut penulis terjemahan yang tepat adalah : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Pemasaran merupakan pemuasan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Tugas dari setiap kegiatan usaha adalah menghantarkan nilai keuntungan terhadap pelanggan

Bahasa sumber : The Selling Concept. The selling concept is practiced most aggressively with unsought goods, goods that buyers normally do not think of buying, such as insurance, encyclopedias, and cemetery plots. Most firms also practice the selling concept when they have overcapacity. Their aim is to sell what they make, rather than make the market want.

Bahasa sasaran : Konsep penjualan dipraktikan paling agressif untuk barang-barang yang tidak dicari (unsought goods), yaitu barang-barang yang biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli konsumen, seperti asuransi, ensiklopedia, dan peti mati. Kebanyakan perusahan juga mempraktekan konsep penjualan ketika mengalami kelebihan kapasitas. Tujuannya adalah menjual apa yang mereka buat, alih-alih membuat apa yang diinginkan pasar.

Analisis: dari terjemahan di atas terdapat terjemahan yang tidak sepadan diantaranya adalah rather than diterjemahkan alih-alih, seharusnya dialihbahasakan daripada sekedar. Most companies lebih tepat dialihbahasakan kebanyak perusahaan seharusnya sebagian besar perusahaan,… the selling concept when they have overcapasity.sebaiknya diterjemahkan …konsep penjualan tersebut ketika perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kelebihan kapasitas.

Terjemahan ulangnya adalah : Konsep penjualan dilakukan paling agressif untuk barang-barang yang yang biasanya tidak dicari oleh para pembeli, yaitu barang=barang yang biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli oleh para konsumen, seperti asuransi, ensiklopedia, dan peti mati. Sebagian besar perusahaan mempraktekan konsep penjualan tersebut ketika perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kelebihan kapasitas. Tujuannya adalah menjual apa yang mereka buat, daripada sekedar memenuhi kebutuhan yang diinginkan pasar.

Bahasa sumber : The traditional view of marketing is that the firm makes something and then sells it. In this view, marketing takes place in the second half of the process. Companies that subscribe to this view have the best chance of succeeding in economies marked by goods shortages where consumers are not fussy about quality, features, or style –for example , basic staple good in developing market.

Bahasa sasaran : Pemasaran tradisional memandang bahwa perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. Dalam pandangan ini, pemasaran terjadi di paruh kedua proses. Perusahaan yang menerapkan pandangan ini memiliki peluang sukses terbaik dalam ekonomi yang ditandai kelangkaan barang di mana konsumen tidak memusingkan kualitas, fitur atau gaya, –misalnya barang primer dasar di psasr yang sedang berkembang.

Analisis : Ada yang kurang sepadanan dalam menerjemahkan :… marketing takes place in the second half of the process, yang diterjemahkan : …pemasaran terjadi di paruh kedua proses harusnya …pemasaran terjadi di paruh proses yang kedua karena second menunjukkan urutan (cardinal). Kode data : C2/P2/75

Bahasa Sumber : The Value Chain. Michael Porter of Harvard has proposed the value chain as a tool for identifying ways to create more customer value. According to this model, every firm is a syntesis of activities perform to design , produce, market, deliver, and support its product..

Bahasa Sasaran : Rantai Nilai. Michael dari Harvard mengatakan rantai nilai (value chain) alat untuk mengindentifikasi cara menciptakan lebih banyak nilai pelanggan. Menurut model ini, setiap perusahaan merupakan sintesis dari beberapa kegiatan yang dilaksankan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, menghantarkan, dan mendukung produknya.

Analisis :Terdapat beberapa pengalihan bahasa yang tidak sepadan : has proposed dialaihbahasakan mengatakan seharusnya telah mengusulkan , kedua;… to create more customer value diterjamahkan … menciptakan lebih banyak nilai pelanggan sehingga dapat menimbulkan ketidakjelasan seharusnya untuk menciptakan nilai lebih bagi pelanggan.

Terjemahan ulang : Rantai Nilai. Michael Porter telah mengusulkan rantai nilai sebagai alat untuk pengidentifikasian cara penciptaan lebih banyak nilai pelanggan. Menurut model ini setiap perusahaan merupakan sintesis dari berbagai kegiatan yang dipertunjukkan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, menyampaikan, dan mendukung produknya.

Bahasa sumber : Holistic marketers achieve profitable growth by expanding customer share, building customer loyalty and capturing customer lifetime value.

Bahasa Sasaran : Pemasar holistik mencapai pertumbuhan yang menguntungkan dengan memperluas pangsa pelanggan, membangun loyalitas pelanggan, dan menangkap nilai seumur hidup pelanggan.

Analisis : Marketers diterjemahkan pemasar, seharusnya para pemasar yang menunjukkan jamak.

Bahasa sumber : Value Exploration. Finding new value opportunities is a matter of understanding the relationships among three spaces: (1) the customer’s cognitive space,(2)the compnay’s comptence space, (3) the collaborator’s resource space.

Bahasa sasaran : Eksplorasi Nilai. Menemukan peluang nilai baru adalah masalah memahami hubungan antara 3 ruang:(1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan, dan (3) ruang sumber daya kolaborasi.

Analisis : Terdapat terjemahan yang kurang sepadanan diantaranya adalah : Finding new value opportunities dialihbahasakan Menemukan peluang nilai baru seharusnya dialihbahasakan Penemuan berbagai peluang baru yang bernilai, kedua; terjemahan untuk frasa… a matter of understanding the relationships among three spaces dialihbahasakan masalah memahami hubungan antara 3 ruang seharusnya …aspek yang terkait dengan pemahamanan hubungan diantara tiga ruang . finding diterjemahkan sebagai infinitive seharusnya diterjemahkan sebagai gerund.

Terjemahan ulang : Penemuan berbagai peluang baru merupakan permasalahan pemahaman hubungan antara 3 ruang:(1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan, dan (3) Pihak yang bekerjasama memiliki sumber daya .

Bahasa sumber : Value Creation. Value-creation skills for marketers include identifying new customer benefits from the customer’s view; utilizing core competencies from business domain; and selecting and managing business partners from its collaborative networks. To create new customer benefits, marketers must understand what the customer thinks about, wants, does, and worries about and observe whom customers admire and interact with, and who influences them.

Bahasa sasaran : Penciptaan Nilai. Keahlian menciptakan nilai bagi pemasar meliputi pengindentifikasian manfaat pelanggan baru dari pandangan pelanggan; pemanfaatan kompetensi inti dari wilayah bisnisnya; dan pemilihan serta pengelolaan mitra bisnis dari jaringan kolaborasinya. Untuk menciptakan manfaat pelanggan baru, pemasar harus memahami pikiran pelanggan, keinginan, tindakan dan kekhawatiran pelanggan serta meneliti siapa yang dikagumi pelanggan dan berinteraksi dengannya, serta siapa mempengaruhi mereka.

Analisis: tidak terjadi perubahan struktur kalimat pada terjemahan di atas, namun ada beberapa phrasa atau kalimat hasil terjemahannya tidak tepat, misalnya value creation dialihbahasakan keahlian menciptakan nilai seharusnya creation diterjemahkan sebagai gerund yaitu penciptaan, kolaborasi sebaiknya dibahasa Indonesiakan yaitu kerjasama, , seharusnya …, what the customer thinks about, wants,… diterjemahkan …pikiran pelanggan, keinginan,… sehingga terjadi pergeseran makna seharusnya … apa yang para pelanggan pikirkan… observe diterjemahkan meneliti seharusnya mengamati

Terjemahan ulang : Penciptaan nilai. Keahlian penciptaan nilai bagi pemasar meliputi pengindentifikasian manfaat pelanggan baru dari sudut pandang pelanggan, pemanfaatan kompetensi inti dari wilayah bisnisnya; dan pemilihan serta pengelolaan mitra usaha dari jaringan kerjasama. Untuk menciptakan manfaat dari pelanggan baru, para pemasar harus memahami apa yang dipikirkan, apa yang diinginkan oleh pelanggan serta mengetahui tindakan dan kekhawatiran pelanggan dan mengamati kepada siapa mereka kagumi, dan kepada siapa mereka berinteraksi, serta siapa yang mempengaruhi mereka.

Bahasa sumber : Integrative Growth. A business can increase sales and profits through backward, forwrard, or horizontal within its industries.

Bahasa sasaran : Pertumbuhan Integratif. Sebuah bisnis dapat meningkatkan penjualan dan laba melalui integrasi ke belakang, ke depan, dan horizontal di dalam industrinya.

Analisis : tatabahasa sudah sesuai dengan tatabahasa pada bahasa sumber

Kode data : C2/P2/H89

Bahasa sumber : SWOT Analysis. The overall evaluation of a company’s strengh, weaknesses, opportunities, and threats is called SWOT Analisis. It’s a way of monitoring the external internal marketing environment.

Bahasa sasaran : Analisis SWOT. Keseluruhan evaluasi tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahan disebut analisis SWOT. Analisis SWOT (strengh, weaknesses, opportunities, threat) merupakan cara untuk mengamati lingkungan pemasaran eksternal dan internal.

Analisis: Dari terjemahan di atas tidak terjadi perubahan struktur kalimat. The overall evaluation sebaiknya dialihbahasakan evaluasi yang lengkap atau menyeluruh , kata tentang sebaiknya diganti dengan kata terkait sehingga terjemahannya adalah evaluasi yang lengkap terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan perusahaan disebut analisis SWOT. Pada kalimat kedua monitoring diterjemahkan mengamati seharusnya pengawasan ( dasar-dasar manajemen adalah perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi), sehingga terjemahaannya adalah Analisis SWOT merupakan cara pengawasan lingkungan pemasaran eksternal dan internal.

Terjemahan ulang : Analisis SWOT. Evaluasi yang lengkap terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah perusahaan disebut analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan cara penagamatan lingkungan pemasaran internal dan eksternal.

Kode data :C.2/h.75/7

Bahasa sumber : Strong companies are reenginerring their work flows and building cross-functional teams to be responsible for each process.

Bahasa sasaran : Perusahaan yang kuat merekayasa kembali alur kerja mereka dan membangun tim lintas fungsional yang bertanggungjawab dalam tiap-tiap proses.

Analisis :…are reenginerring harusnya diterjemahkan sedang merekayasa ulang, artinya menunjukkan kegiatan yang sedang berproses, apabila tidak menambahkan kata sedang, makna berbeda dengan makna pada bahasa sumbernya,

Terjemahan ulang : Perusahaan-perusahaan yang kuat sedang melakukan perekayasaan ulang alur kerja mereka dan membangun tim lintas fungsional yang bertanggungjawab untuk setiap proses.

Bahasa sumber : Core Competencies.Traditionally, companies owned and controlled most of the resources that entered their business –labor power, materials, machines, information and energy -but this situation is changing. Many companies today outsource less-critical resources if they can obtain better quality or lower cost.

Bahasa sasaran : Kompetensi inti. Dulu, perusahaan memiliki dan mengendalikan sebagian besar sumber daya yang memasuki bisnis mereka – tenaga kerja, bahan, mesin, informasi, dan energi –tetapi situasi ini tengah berubah. Kini banyak perusahaan meng—outsource sumber daya yang kurang penting jika mereka bisa mendapatkan kualitas yang lebih baik atau biaya yang lebih rendah.

Analsis :Sebaiknya tradisionally tidak diterjamahkan dulu tapi dialihbahasakan konsep lama atau konsep tradisional karena dulu dan tradisional berbeda, bisa saja sesuatu yang tradisional masih dipergunakan sampai saat ini.

Terjemahan ulang : Kompetensi inti. Pada konsep lama, perusahaan memiliki berbagai sumber daya sendiri dan mengendalikan sebagian sumber daya milik mereka –tenaga kerja, bahan, mesin, informasi, dan energi tetapi keadaan seperti itu sedang berubah. Kini banyak perusahaan meng-outsource sumber daya dengan kualitas baik dengan biaya yang lebih rendah.

Bahasa sumber : The marketing plan is the central instrument for directing and coordinating the marketing effort.

Bahasa sumber : Rencana pemasaran (marketing plan) Adalah instrumen sentral untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha pemasaran.

Analisis: central diterjemahkan sentral seharusnya penting. Plan sebaiknya diterjemahkan perencanaan, karena plan pada bahasa sumber adalah kata benda yang berarti perencanaan.

Terjemahan ulang : Perencanaan pemasaran adalah instrumen penting untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha pemasaran.

 

Bahasa sumber : Organizational and Organizational Culture. What is exatly corporate? Most business people would be hard – pressed to describe this elusive concept , which some defines as “the shared experiences, stories, beliefs,and norms that characterize an organization”.

Bahasa sasaran : Organisasi dan Budaya Organisasi. Apa sebenarnya budaya korporat itu? Sebagian besar pebisnis sulit menggabarkan konsef elusif ini, yang didefinisikan oleh beberapa orang sebagai ‘pengalaman , cerita, kepercahayaan, dan norma yang dimiliki bersama dan menentukan karakter organisasi.

(catatan : elusive : sukar untuk dipahami, sukar ditangkap)

Analisis : elusive pada terjemahan di atas adalah kata penting oleh sebab itu harus dibahasa indonesiakan. Elusive artinya susah untuk dipahami. Business people diterjemahkan pebisnis, sebaiknya diterjemahkan sebagai pelaku usaha.

Terjemahan ulang : Organisasi dan Budaya Organisasi. Apa sebenarnya pengertian budaya perusahaan? Para pelaku usaha kesulitan untuk memahami kosep budaya organisasi karena sulit untuk dipahami, beberapa definisi menyatakan bahwa budaya organisasi sebagai pertukaran pengalaman, cerita, kepercayaan, dan norma-norma yang membentuk karakter organisasi.

Bahasa sumber : Key ingredians of the marketing management process are insightful, creative marketing strategies and plans that can guide marketing activities. Developing the right marketing strategy over time requires a blend of discipline and flexibility. Firms must stick to a strategy but also find new ways to constantly improve it.

Bahasa sasaran : Unsur utama proses manajemen adalah strategi dan rencana pemasaran yang mendalam dan kreatif yang dapat memandu kegiatan pemasaran. Pengembangan strategi pemasaran yang benar sepanjang waktu memerlukan bauran disiplin dan felksibilitas. Perusahaan harus tetap berpegang pada startegi, tetapi juga menemukan cara baru untuk terus mengembangkannya.

Analisis : pada terjemahan di atas key diterjemahkan utama , bukan kunci menurut penulis sudah tepat karena diikuti kata ingredian yang berarti unsur atau ramuan. Pada kata insightfull diterjemahkan mendalam, padahal insightfull artinya wawasan atau pengetahuan yang luas, … insightfull, creative marketing strategies and plans… seharusnya dialihbahasakan … perencanaan dan strategy pemasaran yang kreatif dan berwawasan luas … berikutnya terjemahan yang kurang sepadan adalah require artinya meminta bukan membutuhkan ; meminta dan membutuhkan memiliki makna yang tidak sepadan, kata lainnya yaitu dicilpine diterjemahkan disiplin padahal yang diinginkan pada kontek tersebut adalah pengetahuan , sehingga untuk menerjemahkan … Developing the right marketing strategy over time requires a blend of discipline and flexibility. Pengembangan strategi pemasaran yang tepat meminta bauran pengetahuan dan fleksibilitas . Pada akhir kalimat terdapat frasa… constantly improve it, dialihbahasakan terus mengembangkannya, sebenarnya yang makna yang tepat adalah terus menerus memperbaikinya .

Dari analisis tersebut, terjemahan ulangnya adalah …Unsur utama managemen pemasaran adalah perencanaan dan strategi pemasaran yang kreatif dan berwawasan luas yang dapat memandu berbagai kegitan pemasaran. Pengembangan stregi pemasaran yang tepat sepanjang waktu meminta bauran pengetahuan dan fleksibilitas. Perusahaan harus tetap berpegang pada startegi, tetapi juga menemukan cara baru yang terus menerus memperbaikinya.

Bahasa sumber : Marketing and Customer Value. Marketing is about satisfying consumer’s needs and wants. The task of any business is to deliver of customer value at a profit.In a hypercompetitive economy with increasingly rasional buyers faced with abundant choices, a company can win only fine-turning the value delivery process and choosing , providing, and communicating superior value.

Bahasa sasaran : Pemasaran dan nilai pelanggan. Memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah inti dari pemasaran.Sasaran dari setiap bisnis adalah menghantarkan nilai pelanggan untuk menghasilkan laba. Dalam ekonomi yang sangat kompetitif, dengan semakin banyaknya pembeli rasional yang dihadapkan dengan segudang pilihan, perusahaan hanya dapat meraih kemenangan dengan melakukan proses penghantaran nilai yang bagus serta memilih, menyediakan, dan mengkomunikasikan nilai-nilai yang unggul.

Analisis : Penerjemah menggunakan teknik terjemahan bebas dan menambahkan beberapa kata yang tidak terdapat pada bahasa sumber sehingga berpengaruh terhadap kesepadanan makna, seprti menambahkan kata inti padahal di bahasa sumbernya tidak ada. Seharusnya penerjemah harus selalu setia pada makna yang disampaikan pada bahasa sumber. Menurut penulis, terjemahannya seharusnya sesuai dengan struktur bahasa sumbernya : Pemasaran adalah terkait dengan pemuasaan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Terjemahan yang tidak sepadan juga ditemui pada kalimat berikut : The task of any business is to deliver of customer value at a profit… the task dialihbahasakan sasaran, seharusnya tugas, untuk terjemahan sasaran adalalah target, sehingga terjemahannya adalah … Tugas kegiatan usaha adalah menghantarkan nilai pelanggan pada pencapaiam keuntungan.

Terjemahan ulang : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Pemasaran adalah pemuasaan kebutuhan dan yang diinginkan pelanggan. Tugas setiap kegiatan usaha adalah menyampaikan pelanggan suatu nilai untuk keuntungan/laba. Dalam persaingan ekonomi yang sangat tinggi dengan meningkatnya para pembeli rasional yag dihadapkan pada banyak pilihan, perusahaan hanya dapat meraih kemenangan dengan melakukan proses pergantian nilai dan pemilihan, penyediaan, dan pengkomunikasian nilai-nilai yang unggul.

Bahasa sumber : Value Exploration. Finding new value opportunities is a matter of understanding the relationships among three spaces:(1) the customer’s cognitive space;(2) the company’s competence space, and(3) the collaborator’s resource space.

Bahasa sasaran : Eksplorasi nilai. Menemukan peluang nilai baru adalah masalah memahami hubungan antara tiga ruang: (1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan , dan (3) ruang sumber daya kolaborator.

Analisis :Finding adalah gerund atau kata kerja yang dibendakan sehingga harus diterjemahkan penemuan bukan menemukan, new value opportunities diterjemahkan peluang nilai baru, seharusnya peluang –peluang baru yang bernilai, matter diterjemahkan masalah, seharusnya aspek, understanding dialihbahasakan memahami seharusnya pemahaman.

Dari analisis tersebut, terjemahan ulangnya adalah : Penemuan peluang-peluang baru yang bernilai merupakan aspek pemahaman hubungan antar 3 ruang: (1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan , dan (3) ruang sumber daya kolaborator.

Bahasa sumber : Marketing opportunity is an area of buyer need and interest that a company has a probability of profitable satisfying.

Bahasa sasaran : Peluang pemasaran(marketing opportunity) adalah wilayah kebutuhan dan minat pembeli, di mana perusahaan mempunyai probabilitas tinggi untuk memuaskan kebutuhan tersebut dengan menguntungkan.

Analisis: Terdapat terjemahan yang tidak sepadan, misalnya penerjemah mengalihbahasakan that dimana, seharusnya sehingga . Ketidaktepatan yang lainnya adalah ketika menerjemahkan probability , probabilitas tinggi, penerjemah menambahkan kata tinggi sehingga tidak sepadan dengan bahasa sumber.

Terjemahan ulangnya adalah : Peluang pemasaran adalah ranah kebutuhan dan minat pembeli sehingga perusahaan mempunyai pilihan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan tersebut dengan cara pemuasan perolehan keuntungan.

Bahasa Sumber : An environmental threat is a challenge posed by an unfavorable trend or development that would lead, in the absence of defensive marketing action, to lower sales or profit

Bahasa sasaran : Ancaman lingkungan adalah tantangan yang ditempatkan oleh tren atau perkembangan yang tidak disukai yang akan menghasilkan penurunan penjualan atau laba akibat tidak adanya tindakan pemasaran defensive.

Analisis : trend harus dialihbahasakan kecenderungan, favorable = baik , posed menurut kamus berarti mengajukan, bersikap, berpose, sementara penerjemah mengalihbahasakan ditempatkan (tidak tepat).

Terjemahan ulang : Ancaman lingkungan merupakan tantangan yang disikapi oleh kecenderungan yang tidak menyenangkan atau perkembangan yang akan mengarah pada penjualan yang rendah atau penurunan keuntungan.

Bahasa sumber : Strategic Formulation. Goals indicate what a business unit wants to achieve ; strategy is a game plan for getting there. Every business must design a strategy for achieving its goals, consisting of a marketing strategy and compatible technology strategy and soucing strategy.

bahasa sasaran : Formulasi strategis. Tujuan(goal) mengindikasikan apa yang ingin dicapai oleh unit bisnis; Sementara itu, strategi adalah rencana permainan kita untuk mencapai kesana. Setiap bisnis harus merancang sebuah strategi untuk mencapai tujuannya, yang terdiri dari strategi pemasaran, serta strategi teknologi, dan strategi pengadaan yang kompatibel.

Analisis: Penerjemah menambahkan kata “Sementara itu, dan kita” padahal tidak ada pada bahasa sumber. There sebaiknya tidak diterjemahkan kesana, tetapi diterjemahkan apa yang ingin dicapai oleh unit bisnis.

Terjemahan ulang : Perumusan strategi. Tujuan menunjukkan bahwa apa yang ingin dicapai oleh unit usaha; strategi adalah suatu permainan perencanaan untuk mencapai apa yang ingin dicapai oleh unit usaha. Setiap usaha/bisnis harus merancang strtegi untuk mencapai tujuan unit usaha, yang terdiri dari strategi pemasaran dan penggunaan strategi teknologi yang tepat.

Bahasa sumber : A marketing information system, MIS, consists of people, equipment, and procedures,to gather, sort, analyze, evaluate, and distribute needed, timely, and accurate information to marketing decision makers.

Bahasa sasaran : Sistem informasi pemasaran, MIS(marketing information system) terdiri dari orang-orang, peralatan dan prosedur, untuk mengumpulkan, memilah, menganalisis, mengevaluasi, dan mendistribusikan informasi yang dibutuhkan, tepat waktu, dan akurat bagi pengambil keputusan pemasaran.

Analisis: tidak terjadi pergeseran kalimat, dan terjemahannya sudah tepat.

Bahasa sumber : A marketing intelligence system is a set procedures and sources managers use to obtain everyday information about developments in the marketing environment..

Bahasa sasaran : Sistem intelijen pemasaran(marketing intelligence system) adalah kumpulan prosedur dan sumber daya yang digunakan manager untuk mendapatkan informasi harian tentang berbagai perkembangan dalam lingkungan pemasaran.

Analisis : a set diterjemahkan sekumpulan, seharusnya seperangkat. Sources managers diterjemahkan sumber daya yang digunakan para manajer, terjemahan yang tepat adalah para manager sumber daya.

Terjemahan ulang : Sistem intelijen pemasaran adalah seperangkat prosedur dan para manager sumber daya menggunakan untuk mendapatkan informasi harian tentang berbagai perkembangan dalam lingkungan pemasaran.

Bahasa sumber : The world population is showing explosive growth: it totaled 6.1 billion in 2000 and will exceed 7.9 billion by the year 2025.

Bahasa sasaran : Pertumbuhan Populasi Dunia. Populasi dunia memperlihatkan pertumbuhan eksplosif: total populasi dunia mencapai 6,1 miliyar pada tahun 2000, dan akan melebihi 7.9 miliar pada tahun 2025.

Analaisis : tense diatas menggunakan present continous tetapi diterjemahkan simple present sehingga makna bahasa sumber tidak sepadan dengan bahasa sasaran. Eksplosif seharusnya diterjemakan luarbiasa. Population seharusnya diterjemahkan penduduk, bukan populasi. Total sebaiknya diterjemahkan jumlah

Terjemahan ulang : Pertumbuhan penduduk dunia. Penduduk dunia sedang memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa: Jumlah penduduk dunia mencapai 6,1 milyar pada tahun 2000, dan akan melebihi 7.9 milyar pada tahun 2025.

Bahasa sasaran : Marketing insights provide diagnostic information about how and why we observe certain effect in the marketplace, and what that means to marketers.

Bahasa sasaran : Pemahaman atau gagasan pemasaran (marketing insight) memberikan informasi diagnostic tentang bagaimana dan mengapa kita meneliti pengaruh tertentu di pasar , dan apa arti hal tersebut bagi pemasar.

Analisis : provide sebaiknya diterjemahkan menyediakan. Diagnostic information sebaiknya diterjemahkan informasi awal.

Terjemahan ulangnya : Pemahaman atau gagasan pemasaran menyediakan informasi awal tentang bagaimana dan mengapa kita mengamati dampak tertentu di pasar, dan apa arti bagi pemasar.

Bahasa sumber : We define marketing research as the systematic design, collection, analysis, and reporting of data and finding relevant to a specific marketing situation facing the company.

Bahasa sasaran : Kita mendefinisikan riset pemasaran (marketing research) sebagai perancangan, pengumpulan, analisis, dan pelaporan data sistematis, serta temuan yang relevan, terhadap situasi pemasaran tertentu yang dihadapi perusahaan.

Analisis : kata systematic hanya untuk kata design, collection dan analisis. Kekeliruan pada terjemahan di atas adalah pelaporan data sistematis, karena sistematis hanya menjelaskan untuk kata perancangan, pengumpulan dan analisis.

Terjemahan ulangnya : Kita mendefinisikan riset pemasaran sebagai perancangan , pengumpulan , analisis yang sistematis dan pelaporan data, serta temuan yang relevan terhadap situasi pemasaran tertentu yang dihadapi oleh perusahaan.

Bahasa sasaran : The second stage of marketing research is where we develop the most efficient plan for the gathering needed information and that will cost.

Bahasa sasaran : Tahap kedua riset pemasaran adalah di mana kita mengembangkan rencana paling efektif untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan, dan berapa biayanya.

Analisis : tidak terjadi perubahan struktur kalimat. Sebaiknya plan diterjemahkan perencanaan. Kata efisien diterjemahkan efektif sehingga mengubah makna karena Efisien dan efektif dua kata yang berbeda.

Terjemahan ulangnya : Tahap kedua dari riset pemasaran adalah dimana kita mengembangkan perencanaan yang paling efesien untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, dan berapa biaya yang akan dikeluarkan.

Bahasa sumber ; The researcher can gather secondary data, primary data, or both. Secondary data are data that were collected for another purpose and already exist somewhere. Primary data are data freshly gathered for a specific purpose or for a research project.

Bahasa sasasaran : Sumber data. Periset dapat mengumpulkan data sekunder, data primer atau keduanya. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk tujuan lain dan sudah ada di suatu tempat. Data primer adalah data baru yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu atau untuk projek riset tertentu.

Analisis : Tidak terjadi perubahan struktur dan terjemahannya sudah sesuai dengan makna bahasa sumber.

Bahasa sumber : Ethnographic research is a particular observational research approach that uses concepts and tools from anthropology and other social science disciplines to provide deep understanding of how people live and work.

Bahasa sasaran : Riset Ethnografi adalah pendekatan riset observasi tertentu yang menggunakan konsep dan alat dari ilmu social lain untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana orang hidup dan bekerja.

Analisis: anthropologi tidak diterjemahkan padahal kata itu penting.

Terjemahan ulang : Riset ethnografi adalah pendekatan riset yang berdasarkan pada hasil obervasi tertentu yang menggunakan konsep dan alat dari ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya untuk memberikan pemahaman yang mendalam bagaimana orang hidup dan bekerja.

Bahasa sumber : A focus group is a gathering of 6 to 10 people carefully selected by researchers based on certain demographic, psychographic, or other considerations and brought together to discuss various topics of interest at length.

Bahasa sasaran : Kelompok focus(focus group) adalah sebuah perkumpulan yang terdiri dari 6 sampai 10 orang yang dipilih secara teliti oleh periset berdasarkan pertimbangan demografis, psikografis, atau pertimbangan lain dan dipersatukan untuk mendiskusikan berbagai topik minat dalam waktu yang panjang.

Analsisis: Tidak terjadi perubahan struktur kalimat dan terjemahannya sudah sesuai dengan makna yang ingin disampaikan pada bahasa sumber.

Bahasa sumber : Experimental research : the most scientifically valid research is experimental research, designed to capture cause-and- effect relationships by eliminating competing explanations of the observed findings.

Bahasa sasaran ; Riset Eksperimen, riset yang paling valid secara ilmiah adalah riset ekperimen(experimental research) .Riset ini dirancang untuk menangkap hubungan sebab akibat dengan menghilangkan berbagai penjelasan tentang temuan yang diteliti.

Analisis: Penerjemah mengubah struktur kalimat untuk memudahkan memahami makna yang ingin disampaikan pada sumber. Menurut penulis perubahan struktur kalimat dari satu kalimat menjadi dua kalimat sudah tepat karena perubahan tersebut dapat membantu pembaca memahami terjemahan tersebut dengan mudah.

Bahasa sumber : Market demand for a product is the total volume that would be bought by a defined marketing environment under a defined marketing program.

Bahasa sasaran : Permintaan pasar(market demand) untuk sebuah produk adalah volume yang akan dibeli oleh kelompok pelanggan tertentu di wilayah geografis tertentu dalam periode waktu tertentu pada lingkungan pemasaran tertentu dibawah program pemasararan tertentu.

Analisis : Total tidak diterjemahkan, sebaiknya total diterjemahkan jumlah . Defined marketing environment diterjemahkan kelompok pelanggan tertentu, menurut penulis tidak tepat karena makna yang ingin disampaikan adalah lingkungan pemasaran yang telah ditetapkan.

Terjemahan ulang : Permintaan pasar(market demand) untuk sebuah produk adalah jumlah volume yang akan dibeli oleh lingkungan pemasaran yang telah ditetapkan di wilayah geografis tertentu. dalam periode waktu tertentu pada lingkungan pemasaran tertentu dibawah program pemasararan tertentu.

Bahasa sumber : The potential market is the set of consumers who profess a sufficient level of interest in a market offer. However, consumer interest is not enough to define a market for marketers unless they also have sufficient income and access to the product.

Bahasa sasaran : Pasar potensial adalah kumpulan konsumen yang memiliki tingkat minat cukup besar terhadap penawaan pasar. Meskipun demikian, minat konsumen tidak cukup untuk mengidentifikasi pasar bagi pemasar kecuali mereka juga mempunyai penghasilan dan akses yang cukup besar terhadap produk.

Analisis : The potential market diterjemahkan pasar potensial, seharusnya diterjemahkan pasar yang memiliki potensi. The set of consumers diterjemahkan kumpulan konsumen, seharusnya sekumpulan konsumen.

Terjemahan ulang :Pasar yang memiliki potensi adalah sekumpulan potensi yang memiliki tingkat minat cukup besar terhadap penawaran pasar. Meskipun demikian, minat konsumen tidak cukup untuk mengidentifikasi pasar bagi pemasar kecuali mereka juga mempunyai penghasilan dan akses yang cukup besar terhadap produk.

Bahasa sumber : Total market potential is the maximum amount of sales that might be available to all the firms in an industry during a given period, under a given level of industry marketing effort and environmental conditions.

Bahasa sasaran : Total potensi pasar (total potential market) adalah jumlah penjualan maksimum yang mungkin tersedia bagi semua perusahaan dalam sebuah industri sepanjang suatu periode di bawah tingkat pemasaran industry dan kondisi lingkungan tertentu

Analisis : Total market potential diterjemahkan total potensi pasar, seharusnya jumlah pasar yang memiliki potensi. A given level of industry marketing effort diterjemahkan tingkat pemasaran industry dan kondisi lingkungan tertentu. Given tidak diterjemahkan, seharusnya diterjemahkan yang telah ada, sehingga terjemahan dari kelompok kata tersebut adalah usaha pemasaran industri pada level yang telah ada.

Bahasa sumber : Total customer satisfaction: satisfaction is person’s feelings of pleasure or disappointment, that result from comparing a product’s perceived performance (or outcome) to their expectations.

Bahasa sasaran : Secara umum, kepuasan (satisfaction) adalah perasaan atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka.

Analisis:Total customer satisfaction diterjemahkan secara umum, seharusnya kepuasan jumlah pelanggan. person’s feelings of pleasure or disappointment, feeling of pleasure harusnya diterjemahkan perasahaan bahagia. …from comparing a product’s perceived performance (or outcome) to their expectations diterjemahkan membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka, seharusnya membandingkan kualitas produk yang dpersepsikan dengan harapan .

Terjemahan ulang : Kepuasan pelanggan yang optimal, kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kualitas produk yang dpersepsikan dengan harapan .

Bahasa sumber : Product and Service Quality: quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.

Bahasa bahasa sasaran: Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

Bahasa sumber : Product and Service Quality: quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.

Bahasa sasaran : Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

Analisis : Product and service tidak diterjemahkan, seharusnya diterjemahkan barang dan jasa.

Bahasa sumber : Customer portfolio. Marketers are recognizing the need to manage customer portfolios, made up of different groups of customers defined in terms of their loyalty, profitability, and other factors.

Bahasa sasaran : Portopolio pelanggan. Pemasar mengakui adanya kebutuhan untuk mengelola portopolio pelanggan yang terdiri dari berbagai kelompok pelanggan yang didefinisikan berdasarkan loyalitas, profitabilitas, dan factor lain.

Analaisis: Marketers diterjemah tunggal seharusnya jamak, para pemasar. Recognize diterjemahkan mengakui seharusnya mengenal. Made up diterjemahkan terdiri dari seharusnya dibuat .

Terjemahan ulang : Portopolio pelanggan. Para pemasar mengenal adanya kebutuhan untuk mengelola portopolio pelanggan , yang dibuat dari berbagai kelompok pelanggan yang dikelompokan berdasarkan loyalitas, profitabilitas, dan factor lain.

Bahasa sumber : Customer relationship management(CRM) is the process of carefully managing detailed information about individual customer “touch points” to maximize customer loyalty.

Bahasa sasaran : Manajemen hubungan pelanggan adalah proses mengelola informasi rinci tentang pelanggan perorangan dan semua ‘titik kontak” pelanggan secara seksama untuk memaksimalkan loyalitas pelanggan.

Analsisis:

Bahasa sumber : Building loyalty: creating a strong , tight connection to customers is the dream of any marketer and often the key to long term marketing success.

Bahasa sasaran : Membangun loyalitas: Menciptakan hubungan yang kuat dan erat dengan pelanggan adalah mimpi semua pemasar dan hal ini sering menjadi kunci keberhasilan pemasaran jangka panjang .

Analsisis: creating diterjemahkan menciptakan seharusnya penciptaan, karena creating yang dimaksud adalah gerund.

Bahasa sumber : The aim of marketing is to meet and satisfy target customers’ needs and wants better than competitors. Marketers are always looking for emerging customer trends that suggest new marketing opportunities. For example, the emergence of the mobile phone, especially with teens and young adults, has marketers rethinking their practices.

Bahasa sasaran : Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan sasaran dengan cara yang lebih baik daripada para pesaing. Pemasar selalu mencari kemunculan tren pelanggan yang menunjukkan peluang pemasaran baru. Misalnya, kemunculan telopon seluler, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, membuat pemasar memikirkan kembali praktik mereka,

Analsisis : …better than competitors mengandung makna memuaskan kebutuhan pelanggan sasaran lebih baik daripada memikirkan para pesaing. Marketers diterjemahkan singular, pemasar harusnya jamak. opportunities diterjemahkan singular harus plural, hat suggest diterjemahkan yang menunjukkan, seharusnya yang sesuai.

Terjemahan ulang: Tujuan pemasaran adalah untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan sasaran hasilnya lebih baik daripada memikirkan para pesaing. Para Pemasar selalu mencari kemunculan tren pelanggan yang sesuai dengan peluang-peluang pemasaran baru. Misalnya, kemunculan telopon seluler, terutama di kalangan remaja dan dewasa , membuat pemasar memikirkan kembali cara memasarkannya.

 

Analisis Pengalihan Pesan Dalam Terjemahan Buku Teks Fundamentals of Financial Management

Keakuratan Hasil Terjemahan Istilah Manajemen keuangan

ADE2

Fundamentals of Financial Management sebagai buku pegangan dalam mata kuliah Manajemen Keuangan telah diterjemhakan ke dalam bahasa Indonesia. Edisi yang terakhir yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia adalah Edisi 13. Dari edisi terjemahan yang menjadi subjek penelitian adalah Edisi 9, Edisi 12, dan Edisi 13. Dalam penelitian ini, aspek keakuratan terjemahan menjadi pokok pembahasan. Dari hasil temuan, dalam Edisi 12, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 141 (80, 57). Hal ini dapat disimpulkan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 12 dapat dianggap akurat. Begitu juga dalam Edisi 13, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 153 (87, 42%). Juga dapat disimpulkan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 13 dianggap akurat.

Sementara itu, dalam Edisi 9, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 63 (36%). Masih jauh untuk mencapai bahkan sampai ke setengah dari jumlah istilah yang dibahas, sehingga membawa ke kesimpulan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 9 dianggap tidak akurat.

Perbandingan keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan dari buku teks Fundamentals of Financial Management adalah: yang paling akurat dalam Edisi 13, urutan kedua tingkat keakuratan dalam Edisi 12, dan dalam Edisi 9 tidak akurat. Tingkat keakuratan yang rendah, sebesar 36% pada Edisi 9 mengarahkan pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi rendahnya penilaian informan terhadap keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan. Faktor yang pertama menurut peneliti adalah faktor kekinian. Edisi 9 yang paling terdahulu (1997) kemungkinan besar masih terbatas dalam hal istilah, baik padanan dalam bahasa sasaran maupun referensi lain yang dapat mendukung, misalnya ketersediaan kamus atau referensi terjemahan sebelumnya untuk perbandingan. Selain itu, penerjemah Edisi 9, Heru Sutojo yang merupakan seorang sarjana ekonomi, yang mungkin dianggap lebih mengerti keakuratan makna pesan yang terkandung dalam istilah manajemen keuangan, akan tetapi tidak bisa menjamin keakuratan dalam mentransfer pesan yang terkandung dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Yang selanjutnya, menurut peneliti adalah ketiadaan atau pengabaian referensi pendukung, kemudian tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan teknik penerjemahan ‘Reduction’ telah menyumbang terhadap tingkat keakuratan dalam edisi terjemahan ini. Yang terakhir adalah ketiadaan pengetahuan tentang teori penerjemahan, atau bahkan mungkin dalam proses penerjemahan tidak ada pemikiran tentang seperti apa penerjemahan yang baik itu.

Sementara itu, Edisi 12 (2005) dan 13 (2015) yang dinilai akurat oleh informan memiliki kekinian yang lebih daripada Edisi 9. Hal ini memberikan dampak positif terhadap keakuratan hasil terjemahannya. Padanan dalam bahasa sasaran sudah lebih banyak, penggunaan istilah dalam bahasa sasaran sudah lebih lazim, tidak ada yang ‘obsolete’. Referensi lain, seperti hasil terjemahan dan kamus telah tersedia. Edisi 12 diterjemahkan oleh dua orang yang memiliki bidang ilmu berbeda, ilmu ekonomi dan ilmu bahasa. Seorang yang memiliki ilmu bahasa, mungkin sedikitnya memiliki pengetahuan tentang penerjemahan sehingga tidak heran hasil terjemahannya memiliki keakuratan tinggi walaupun masih berada di bawah keakuratan Edisi 13. Walaupun begitu, harus juga dilihat faktor-faktor lain yang memberikan dampak pada nilai keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan ini. Untuk Edisi 13, yang pertama, peneliti tetap berpendapat bahwa kekinian lebih memberikan dampak positif terhadap kekuratan hasil terjemahan ini: ketersediaan padanan yang lebih, referensi hasil terjemahan terdahulu untuk perbandingan. Walaupun latar belakang pendidikan penerjemah tidak diketahui, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keakuratan hasil terjemahan, keuntungan memiliki referensi pendukung lain yang lebih beragam merupakan nilai plus dalam keakuratan hasil terjemahannya.

 

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pengalihan pesan menjadi kurang akurat karena ada keterbatasan penerjemah dalam penguasahaan struktur bahasa baik bahasa sumber maupun bahasa sasaran.
  2. Pengalihan pesan menjadi kurang akurat karena adanya penambahan informasi yang dilakukan oleh penerjemah.
  3. Model Penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan buku teks ekonomi meliputi teks dalam bahasa sumber sebagai input, proses yang mencakup kesepadanan, ideologi, metode dan teknik penerjemahan, output sebagai hasil dalam bahasa sasaran dan outcome yang merepresentasikan kualitas terjemahan.
  4. Pengalihan pesan dari istilah teknis manajemen keuangan rata-rata akurat karena tidak dipengaruhi oleh struktur kalimat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baker, Mona. 2009. Translation Studies. New York: Rountledge

Baker, Mona, In Other Words., Prentice Hall, London

Catford, JC. 1974. A Linguistic Theory of Translation. New York: Oxford University Press.

Boris Burden, dkk., 2009, Cultural Translation: an introduction to the problem, and responses. Translation Studies Volume 2, Issue 2

Cronin, Michael & Sherry Simon. 2014. Translation and the City. Translation Studies,

Evans Jonathan. 2014. Film Remake, the blacksheep of translation. Translation Studies

Fitriasari, D. 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta. Salemba 4.

Fromkin, Victoria. An Introduction to Language. New south Wales: Harcourt Brace

Jovanovic Group(Australia) Pty.limited.

Griffiths, P. 2006. An Introduction to English Semantics and Pragmatics.

Edinburgh: Endinburgh University Press

Hatim, Basil and Jeremy Munday.2004. Translation, An Advance Resource Book. New York : Routledge.

Hiltrop, JM. 2008. Human Resource Management in the Future. 13th Edition. London. Prentice Hall,

Ida Sundari Husen. 2005. Masalah pilihan Kata dalam Penerjemahan:Menciptakan Kata  Baru atau Menerima Kata Pinjaman. Lingua Vol. 9 No. 1 Maret 1-15

Malmkjaer, K. 2005. Linguistics and Language of Translation. Edinburgh: Endinburgh University Press.

Molina, L. & Hurtado.A. 2002. Transalation Techniques Revisited: A  Dynamic and Functionalish Approach. Meta, Vol.47, n.4. p. 498-512.University Press.

Munday, J. 2001.Introducing TRANSLATION STUDIES. New York :Routledge.

Mubarakah, Q. 2013. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta. Salemba 4.

Munday, 2001. Theories in Translation. Prentice Hall, London

Text Linguistics and Skopos Theory and their Application in Translation Teaching

by Sugeng Hariyanto (State Polyetchnic of Malang)

Abstract

Translation industry is developing very fast with the economic globalization and digital/internet technology development. Unfortunately, the teaching of translation in universities has not adopted techniques that can response this situation. This paper  aims to propose a translation teaching technique to train the students to produce target texts demanded in the translation business. The technique is proposed by considering two influential concepts in translation theory, i.e., Text Linguistics and Skopos Theory.

Text linguistics is a branch of linguistics that deals with texts as communication systems. Text linguistics takes into account the form of a text and its setting, i.e. the way in which it is situated in an interactional, communicative context. In relation to translation, it can be said that translation is not only the business of analyzing the source text sentence by sentence. Instead, the author and the intended audience and the purpose of communication should also be considered.

Skopos theory is closely related to text-types and also emphasizes the importance of translation purposes. With these ideas as the basis, this article gives example how to apply text linguistics and skopos theory in classroom context to teach functional text translation. The translation teaching materials are selected based on the text type and difficulty levels, students are trained to do text-analysis and be made aware of the purpose of the source text is not always the same with the purpose of the target text. Prior to giving a translation practice, therefore, the teacher writes the clearest translation brief possible

Keywords: text linguistics, skopos theory, classroom teaching, translation teaching

 

***

Translation has been done since long time ago. The activities have created a new profession, i.e. translator. According to Hariyanto (2006), there are two markets for translation business, i.e. publishers (national level) and translation agents (international level). Publishers publish translated books for several reasons. At least there are three motivations: academic, empowerment and business motivations. With academic motivation, the publishers translate books to meet academic demand. For example, Resist Book translates and publishes a book on Chomsky to meet the need for literature on Chomsky in Bahasa Indonesia. They also translate and publish books to empower the readers, for example, in the fields of democratization, human rights, entrepreneurship and other fields. Finally, as the most dominating motivation, publishers translate and publish books for economic reasons. Publication of translated books is more profitable rather than publishing local works. As a comparison, local writer’s royalty is 10% to 20%; and royalty for translated book is only 6% to 7%. Hence, publishers pay less when they publish translated books than when they publish books written by local writers. This is not to mention “copy left” publishers who publish book translated book without first buying the copyright. In terms of quality, usually local writer’s quality is low; while great writers are, unfortunately, co-opted by big publishers. In terms of marketing, some translated books are already backed up with international success. This is illustrated by the high demand of the translation version of Harry Potter, the best seller novel ever.

The translation business in the international market is boosted by the globalization needs. With globalization, many manufacturers want to sell their products in other countries. They need to talk to the people of other countries in their local languages. The text types vary now. They do not only cover novels and textbooks but also websites and software interfaces.

 

The Practice in Translation Teaching

The great challenges of translation business illustrated above, however, are not paralleled with the fact found in educational institutions producing potential translators. Chriss, as cited by Nababan (2007:2), states that up to these days the basic approach in translation teaching seems to remain unchanged from the time of the School of Scribes in Ancient Egypt. The teacher gives out a source text to the students and then without any briefing and notes asks them to translate the text in the class or at home. Upon completing, the target text is then discussed in great depth and detail by the whole class to find out what is lack in the translation. In other words, the translation class is searching for “good” translation. A question to ask is then “good for whom?” or “on what criteria or bases”? As a consequence, such practice can hardly produce potential translator who can take the challenge of the translation business in which a target text should firstly meet the purpose of translating the source text.

This paper, therefore, aims to propose a translation teaching technique which hopefully can train the students to produce target texts demanded in the translation business. The technique is proposed by considering two influential concepts in translation theory, i.e., Text LinguisticsandSkopos Theory. Thus, in its discussion this paper explicates some concepts of Text Linguistics,Skopos Theory andits Translation-oriented text analysis and then describes the translation teaching technique proposed.

 

DISCUSSION

Text Linguistics

            It is mentioned in the background of this paper that texts to be translated in translation business nowadays are various. For Indonesian publishers, translators translate textbooks, popular books, novels, children books, books on Information Technology (IT) and many others; as for many international and a few national translation agents, Indonesian translators work on texts like technical manuals, websites, software interfaces, advertisements, legal documents, annual reports, and many others.

In relation to text-type, Snell-Hornby (1988) classifies translation into three general categories: literary translation, general translation and special language translation. Literary translation is the translation of literary works and Bible, and general translation is translation of newspaper, information text and advertising. Finally, special language translation covers the translation of legal, economic, medicine and science/technology texts. For all of these translation types, text linguistics is necessary. This can be seen in the following chart.

texttype-relevent criteria

Chart 1: Text Types and Relevant Criteria for Translation

 

What is text linguistics anyway? In general, it can be said that text linguistics is a branch of linguistics that deals with texts as communication systems. Text linguistics takes into account the form of a text and its setting, i.e. the way in which it is situated in an interactional, communicative context. Thus, author of a text and its addressee are studied in their respective social and/or institutional roles in the specific communicative context.[1] [It is worth noted that Halliday (1978 and 1994) and his followers also talk about the similar concept of analysis under the discussion of genre.] In relation to translation, it can be said that translation is not only the business of analyzing the source text sentence by sentence. Instead, the author and the intended audience and the purpose of communication should also be considered.

In relation to this, Reiss (1977/1989) has been very influential in focusing attention on the function of text – both in the context of the original and in the context of the situation that demands a translation. As a matter of fact, her approach considers the text rather than the word or the sentence as the translation unit and hence the level at which equivalence is to be sought.

She classifies texts based on discourse function into: (a) informative, (b) expressive, and (c) operative. A text is classified as an informative text if the content is the main focus. This kind of texts plainly communicates facts, information, knowledge, opinions, etc. The logical or referential dimension of language is the main aspect involved. Texts are called expressive if the focus is on creative composition and aesthetics aspects. Both the author and the message are what are foregrounded. The examples are imaginative creative literature texts. Next, an operative text is a text whose focus is the appellative aspect. Here the text appeals to the readers to act in a certain way by persuading, dissuading, requesting, and cajoling them. Usually the form of language is dialogic.

Correspondingly Reiss (1977/1989) advocates specific translation methods for each of these text types. The target text of an informative text should be in plain prose with explication where required, because the aim is to transmit the referential content of the text. The target text of an expressive text should use the identifying method, the translator having to look at it from the ST author’s standpoint. The translation of an operative text has to employ the adaptive method, where the translator tries to create the same effect on the readers, as the ST. See chart 2 for a better understanding of specific translation methods for each of these text types [adapted by Munday (2001: 74) based on Reiss (1977/1989)].

text types-transla-methods

Chart 2: Functional Characteristics of Text Types and Links to Ttranslation                     Methods

Reiss (1977/1989) also talks of evaluatory criteria, which vary according to text types. Thus while the translation of any content-oriented text has to aim at semantic equivalence, and a popular science piece will have to preserve the ST style, there is greater need to retain a metaphor in an expressive text than in an informative target text. She thinks that one could measure the adequacy of a target text (TT) by intra-linguistic criteria—like semantic, grammatical and stylistic features—and extra-linguistic criteria—like situation, subject field, time, place, receiver, sender and implications like humor, irony, emotion etc.

text types

Chart 3. Types of Text.

Reiss (1977/1989) also proposes a text typology. Chart 3 illustrates the typology. The above typology is a useful typology of texts but it is clear that texts are often not easily categorized. One single text can have several characteristics. A biography could have informative as well as appellative content. A personal letter could well be informative, expressive and appellative as can be an advertisement. The important thing here is that her approach is built on earlier ideas of rhetoric and language analysis.

SkoposTheory and Translation-Oriented Text Analysis

Skopos Theory

It is clear from the above discussion on text linguistics that the approach to translation can be closely related to the type of text to translate. Translation theory that has a big concern on text-type is skopos theory or Skopos theorie introduced by Vermeer (1989/2000), the theory that applies the notion of Skopos (a Greek word for purpose) to translation. The translation process of a text is guided by its function i.e. the use of a receiver makes of a text or the meaning that the text has for the receiver. In other words, the prime principle determining any translation process is the purpose/skopos of the overall translational action.

Briefly, Reiss and Vermeer (in Nord, 1997: 29) mention the following Skopos rule:

Each text is produced for a given purpose and should serve this purpose. The Skopos rule thus reads as follows: translate/interpret/speak/write in a way that enables your text/translation to function in the situation in which it is used and with the people who want to use it and precisely in the way they want it to function.

Skopos theory is not only closely related to text-types, but also to the importance of translation purposes which is always oriented to the target readers, especially their response. The difference in focus here is that the ST is the point of departure and the skopos refers to knowing why an ST is to be translated and what the function of the TT will be. Skopos theory focuses on the purpose of the translation, which determines the methods and strategies of translating, which are employed to produce functionally adequate result (Munday, 2001: 79).

Skopos theory which emerged in Germany (Hatim, 2001: 73) is within functionalism. Skopos idea relies on key concepts in pragmatics that is intention and action. There are two important skopos rules:

Skopos rule 1: Intention is determined by its purpose.

Skopos rule 2: purpose varies according to the text receiver.

Translator decision is governed by textual and contextual factors. One of the contextual factors is audience design which accounts for the way a target text is intended to be received. This will affect the translation strategies selected by the translator.

Target text must be produced with the given purpose in mind and that translation will function well when shaped by a particular purpose. Three major kinds of purpose are already recognized: communicative, strategic, and general purposes (Hatim, 2001: 74)

Such purposes cannot be equally important. The success or failure of a translation is ultimately decided whether it can be interpreted successfully by the targeted recipient in a manner that is consistent whit what is expected of it (Hatim, 2001: 75)

In skopos theory, the success or failure of translation is often mentioned as success or protest. Success means definitely success in transferring the text function and protest means failure. A successful translation elicits no protest from the target recipient. No protest means the message received in the manner intended and/or expected. Thus, intention is related with function. Intention is judged by the writer of source text and the function is judged by the receiver (Hatim, 2001: 75). Success of a translation is measured in terms of harmony of content and intention. Content means content of message. Intention means intention of producer or translator (Hatim, 2001: 75). There are two kinds of textual coherence: (a) intra-textual coherence and (b) intertextual coherence. Here intra-textual coherence is more important. (Hatim, 2001: 76).

As a matter of fact, text only contains information offer. Thus, a text may mean many different things to many receivers (Hatim, 2001: 76-77). Therefore, the target readers must be taken into account. Who, then, determines the skopos or purpose of translation? The skopos is determined by the initiator or commissioner of the translation, the translation brief and the type of translation.

In a translation project, there are at least three roles: initiator, commissioner, and translator. The following is an example of a case in translation field.

One of the lectures in MalangStateUniversity has read a book on linguistics. He thought that the book must be translated into Bahasa Indonesia so that Indonesians can study linguistics from the remarkable book. He, then, sent a letter to a publisher to propose translating the book. The publisher agreed, and so the lecturer started translating.

Question: Who is the initiator? – The lecturer

                 Who is the commissioner? – The Publisher

               Who determines the translation purpose? – The lecturer

 

The commissioner gives a translation job to a translator. The “order” is called Translation Brief (Ind. Surat Perintah Kerja). The Translation brief shall contain the function of target text, target audience, where and when target text is to be read, what is the medium (spoken, written) and motive, i.e., why translation is needed. However, publishers rarely issue such a complete translation brief.

There are several principles claimed to be skopos rules by Reiss and Vermeer (1984, in Nord, 1997). The rules are as follows:

1. A translatum or target text (TT) is determined by its skopos.

2. A TT is an offer of information in a target culture and target language (TL)

3. A TT does not initiate an offer of information in a clearly reversible way.

4. A TT must be internally coherent.

5. A TT must be coherent with source text (ST).

6. The five rules above stand in hierarchical order, with the skopos rule predominating.

 

Translation-oriented text analysis

Related closely to skopos approach is text analysis prior to translating. Nord (1997: 59), one of the proponents of Skopos Theory, states that the elements of text analysis area; (a) the importance of the translation commission (translation brief), (b) the role of ST analysis, and (c) the functional hierarchy of translation problems. These points are briefly reviewed as follows.

The commission should give the following information: (a) the intended text function, (b) the addresses (sender and recipient), (c) the time and place of text reception, (d) the medium (speech and writing), and (e) the motive (why the ST was written and why it is being translated). This is also discussed above in which commission is termed by translation brief.

The ST analysis is also important. In analyzing the ST, according to Nord (1991), the most important thing is the pragmatic analysis of the communicative situation involved and the model to be used for ST and the translation brief.

Which factors are to be analyzed? They can be some of the following, i.e. subject matter; content including connotation and cohesion, presuppositions which mean the real-world factors of the communicative situation presumed to be known to the participants; composition including microstructure and macrostructure; non-verbal elements, for example illustrations and italic; lexis including dialect, registers and specific terminology; and sentence structure and suprasegmental features including stress, rhythm and stylistic punctuation.

Moreover, functions are important in translation. The things that should be noticed in relation to text functions among others are the intended function, the functional elements, and the translation types determining translation style, the problems of the text can then be tackled at lower linguistic levels as in the second point above.

Below is an advertisement a commissioner wants a translator to translate and under the text is the text analysis that may be done by the translator.

PR Advertorial – Copy Sheet

Headline Studies

Wulan reveals her ultimate beauty secretSub-headAs the new ambassador of Bella Skin Care, Wulan shares how Bella Skin Care helped her maintain flawless skin.

Body Copy

Q:   What is the secret behind your skin’s radiance?

WULAN:   I have always believed in the importance of going for regular, high-quality skincare treatments to achieve great skin.   Aside from using Bella Skin Care products daily, I go for weekly treatments to soothe my skin after hours of intense makeup sessions. Because of this, I am able to keep my skin in tip-top condition – perfectly supple and visibly revitalized.

Q: How do you keep your skin so luminous despite your hectic film schedule?

WULAN: I really love Bella Skin Care’s BioLymph High Symmetry System. It works wonders by detoxifying my skin and remodeling my facial contours, especially the problem areas around my eyes such as puffy eyes and eye bags – which results after long hours of filming.

Q: Among all the treatments, what is your favourite?

WULAN: One of my favourites is Bella Skin Care’s exclusive Depilux™ Hair Free System. This treatment painlessly impedes hair growth, leading to permanently silky, hair-free skin on any part of the body with zero down time. I’ll never have to worry about wearing revealing clothes during filming. With Bella Skin Care, I know I’m always at my best!

Promo Portion

Indulge in these fabulous beauty offers:

Wulan’s Skin Perfecting Package for perfectly balanced skin

Enjoy 30 Therapies at Rp3,000,000.00*

 

Wulan’s Ultra Whitening Package for fairer, clearer skin

Get 30 Therapies at Rp4,800,000.00*

 

Wulan’s Nutritive Package for hydrated glowing skin

Get 30 Therapies at Rp4,000,000.00*

 

*Terms and conditions apply.

 

The text, under Snell-Hornby categorization, is a general text. The author is the Bella Skin Care firm. The audience is Indonesian young women, middle-up economic class, probably educated women. The purpose of the translation is to sell the product to Indonesian women. Based on Reiss’ categorization it is an operative text. As an operative text, the appropriate method of translation is adaptive method in which all means are taken to achieve equivalent effect, i.e. making Indonesian women buy the products. The target text therefore should focus on this appellative focus to elicit the desired response. The language dimension is dialogic, as evident in the source target also.

The translation of the advertisement above might be like the following.

PR Advertorial – Copy Sheet

Headline Studies

Wulan mengungkapkan rahasianya untuk cantik sempurna

 

Sub-head

Sebagai duta Bella Skin Care yang baru, Wulan mengungkapkan bagaimana Bella Skin membantu agar kulitnya tetap cantik sempurna.

 

Body Copy

Tanya: Apa rahasia dari kulit Anda yang indah berseri?

Wulan:   Saya selalu yakin akan pentingnya perawatan kulit yang rutin dan bermutu tinggi untuk mendapatkan kulit yang cemerlang. Selain menggunakan produk Bella Skin Care setiap hari, saya juga datang untuk mendapatkan perawatan seminggu sekali untuk menenangkan kulit saya setelah berjam-jam memakai riasan yang berat. Hasilnya, saya bisa menjaga kulit agar selalu dalam kondisi prima – lentur sempurna dan terlihat muda lagi.

Tanya: Bagaimana cara Anda merawat kulit sehingga tetap begitu bercahaya meskipun jadwal Anda main film sangat ketat?

Wulan: Saya sangat suka dengan Sistem BioLymph High Symmetry dari Bella Skin Care. Sistem ini manfaatnya sangat menakjubkan yaitu dengan mengeluarkan racun dari kulit dan membentuk kembali kontur wajah saya, terutama sekali di daerah yang bermasalah di sekitar mata seperti mata bengkak dan berkantung yang terjadi akibat bekerja berjam-jam main film.

Tanya: Di antara semua perawatan yang ada, yang mana yang paling Anda sukai?

Wulan: Salah satu perawatan dari Bella Skin Care yang paling saya sukai adalah Sistem Pembersihan Bulu Rambut Depilux™. Perawatan ini mencegah tumbuhnya bulu rambut tanpa rasa sakit, hasilnya kulit yang tetap sehalus sutra yang bebas dari bulu rambut dan ini bisa langsung terlihat hasilnya di bagian kulit mana pun pada tubuh. Saya tidak akan khawatir lagi bila harus mengenakan baju yang agak terbuka bisa sedang main film. Dengan Bella Skin Care, Saya yakin saya selalu dalam kondisi puncak!

 

Promo Portion

Manjakan diri Anda dengan berbagai penawaran istimewa berikut ini:

Paket Kulit Sempurna Wulan untuk kulit sehat sempurna

Nikmati 30 Terapi dengan harga Rp 3.000.000*

 

Paket Pemutih Ultra Wulan untuk kulit lebih putih bersih

Dapatkan 30 Terapi dengan harga Rp 4.800.000*

 

Paket Nutrisi Wulan untuk kulit lembut bercahaya

Dapatkan 30 Terapi dengan harga Rp 4.000.000*

 

*Syarat dan ketentuan berlaku

 

THE PROPOSED TECHNIQUE IN TRANSLATION TEACHING

Based on the discussion on Text Linguistics and Skopos Theory above, some points can be proposed for translation teaching as follows:

  1. The translation teaching material should be selected based on the genres (text type) and difficulty levels.
  2. Students should be trained to do text-analysis (based on text linguistics and skopos theory) to make sure that the characteristics of texts are well understood and the purpose of translation is well adopted.
  3. The students should be made aware of the purpose of the source text which might be different from the purpose of the target text. Therefore, the teacher should write translation brief as clearly as possible prior to giving translation practice.

The actual teaching technique can be like the following 9-step technique:

  1. The teacher makes a selection of the material to be translated based on the text type and translation audience.
  • Text type based on discourse function: expressive, informative, operative
  • Audience: children, adults, academicians, tourists, etc.
  1. The students are assigned to do text analysis to the source text based on skopos theory. The students, assisted by their teacher, should identify the source text, in terms of the type of text, the register, the style and the readership of the text selected, etc. Please note that the readership of the source text may be the same or different from the readership of the target text as stipulated in the translation brief. In either case, the analysis of such features above benefits the translators (students).
  2. The teacher should give a clear translation brief, including the purpose of the translation and the audience of the translation.
  3. The teacher guides a discussion on the similarities/differences between the source text characteristics (based on step 2) and the characteristic of the target text of the same text type (genre).
  4. Students do “deep” reading, by placing emphasis on items where translation problems may appear. This is called “reading with translation intention,” by Gerding-Salas (2000). When doing this, students should first underline unknown terms and then they should mentally confront potential translation difficulties in the text with suitable translation procedures, by keeping in mind the text as a whole.
  5. The students then translate the text using appropriate translation strategy but keeping in mind the purpose of the translation.
  6. The students hand in the final version.
  7. The teacher makes a final revision and returns the text to the students.
  8. The students finally make comments on the lesson learned in the translation learning process. And that is a kind of self-reflection.

CONCLUSION

Some new concepts in translation theory, i.e. Text Linguistics, Skopos Theory and Translation-oriented Text Analysis are not also fruitful to the translation strategies employed by the translators but also to its methods of teaching. The translation teaching materials are selected based on the text type and difficulty levels, students are trained to do text-analysis and be made aware of the purpose of the source text is not always the same with the purpose of the target text. Prior to giving translation practice, therefore, the teacher writes the clearest translation brief possible.

 

REFERENCE

Gerding-Salas, Constanza. 2000. Teaching Translation: Problems and Solutions. Translation Journal. Vol. 4. July 2000. accessed from http://accurapid.com/journal/13educ.htm

Hariyanto, Sugeng. 2006. The Translation Business Prospect in National and International Levels. Paper presented in Seminar on Translation, STAIN Kediri.

Hatim, Basil. 2001. Teaching and Researching Translation. Harlow: Pearson Education Limited.

Munday, Jeremy. 2001.  Introducing Translation Studies – Theories and Applications. London and New York: Routledge.

Nababan, Donald J. 2007. A Product or Process-Based Approach to Translation Training? A Glance at Translation Practice Course. A paper presented in FIT5th Asian translators Forum, Bogor, 11-12 April.

Nord, Christiane. 1991. Text Analysis in Translation: Theory, Method, and Didactic Application of a Model for Translation-Oriented Text Analysis. Amsterdam/Atlanta GA: Rodopi.

Nord, Christiane. 1997. Translation as a Purposeful Activity: Functionalist Approaches Explained. Manchester: St Jerome.

Reiss, Katharina. (1977/1989) ‘Text Types, Translation Types and Translation Assessment’, translated by A. Chesterman, in A. Chesterman (ed.)(1989).

Snell-Hornby, Marry. 1988. Translation Studies: An Integrated Approach. Amsterdam: John Benjamins B.V.

Vermeer, H. J. (1989/2000) ‘Skopos and Commission in Translational Action’ in L. Veneti (ed.) (2000).

Wikipedia. No date. Text Linguistics. http://en.wikipedia.org/wiki/Text_linguistics

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Text_linguistics

DIFFICULTIES IN POETRY TRANSLATION

Maksud Mamatkulovich Temirov*

State University of Malang

Abstract

Poetry is a separate world where the feelings of a poet and his or her heartfelt expressions reside. By means of the correspondence of meaning, word choice, rhyme, rhythm, and some other poetic devices in the poem a poet intends to express his or her ideas of a certain thing or a situation, experiences they or other people had, humane feelings such as love, revulsion, admiration, friendship, faith as well as descriptions of certain things or some circumstances they may experience. Poems could be written in different languages throughout the world but they carry certain meanings and purposes which are tended to be universally understood regardless which language they were written in. Following some points proposed by Hariyanto (no date) the writers try to give examples how to translate English poems into Uzbek, especially in how to handle the translation from the point of view of aesthetic values, expressive values, collocation, poetic structure, metaphorical expression, sounds. Indonesian translation is sometimes used to make the points clear.

 

Key-words: translation, aesthetic values, expressive values, collocation, poetic structure, metaphorical expression, sounds

 

Having been holding an important place in the lives of the people throughout history and across cultural and national boundaries, poetry is a separate world where the feelings of a poet and his or her heartfelt expressions reside. By means of the correspondence of meaning, word choice, rhyme, rhythm, and some other poetic devices in the poem a poet intends to express his or her ideas of a certain thing or a situation, experiences they or other people had, humane feelings such as love, revulsion, admiration, friendship, faith as well as descriptions of certain things or some circumstances they may experience. Poems could be written in different languages throughout the world but they carry certain meanings and purposes which are tended to be universally understood regardless which language they were written in. In this case, we need the help of a translator who can keep the meaning of the poem in its translation in another language as it was in the original one. Nevertheless, many translators face difficulties and have problems when translating a poem.

In the current article, I am also going to shed light on some problematic issues that are common in poetry translation. Specifically, more emphasis will be put on the word choice and rhyming problems.

According to Hariyanto (no date), poetry translation should be semantic translation for a poem is typically rich with aesthetic and expressive values. As the professor claims, a translator of poetry may face the linguistic, literary, aesthetic, as well as socio-cultural problems during his engagement in translation. Linguistic problems may include the collocation and hidden logic which is also called to be non-standard syntactic structure. As for the translation of the collocations, the translated version of the poem should not look awkward to the reader: usually in the English language we say “to make a speech” and not “to say a speech” or “to run a meeting” and not “to do a meeting” and so forth. One thing to keep in mind is that collocations do not really tend to be similar in different languages; conversely, they are differently made and may be used in different ways to mean totally different expressions.

However, it also differs in the English language also. For instance, the word “run” can give several different meanings, such as in the collocation “to run a company/inn/café”, etc. the interpretation is not  something like to get engaged in a physical activity like running but it will be correct to say to govern or to own a company/inn/cafe.

Another point to consider in term of linguistic matter is the obscured or hidden (non-standard) syntactic structures. Such kinds of structures may be written in a poem on purpose as a part of the expressive function of the text. For this reason, these kinds of organizations should be rendered as closely as possible.

As Hariyanto states, the first step to deal with this problem is to find the deep (underlying) structure. According to Newmark (1981: 116), the useful procedure is to find the logical subject first, and then the specific verb. The most important matters are these factors only. Once we discover those two elements, the rest will fall into place. After that the translator can reconstruct the structure in the target language as closely as possible to the original structure.

Mr. Hariyanto also claims that some certain factors that cause hardship in translating poetry are aesthetic and literary problems. They are related to poetic structure, metaphorical expressions as well as sounds. These aesthetic values do not carry an independent meaning, but they are correlative with the various types of meaning in the text. This means that if the translator destroys the word choice, word order, and the sounds, he or she spoils the beauty and the expression of the original poem. Gracefulness, gentleness, for example, will be ruined if the translator provides unsophisticated alliterations for the original carefully-composed alliterations. An English version of an Uzbek poem can be taken as an instance here:

 

 

 

You are my holy shrine

 

Poetry – my holy place, my worshipping shrine,

Full of poison and honey – precious soul of mine,

You are my sorrow and hope, agony and delights.

My modest inspiration at my sleepless nights.

Without you I don’t need gem or treasure,

No need for a beauty, or a pleasure.

Without you for me life is blank too,

May no moment of my life pass without you!

 

The Uzbek version of the above provided poem that is a dedication for poetry was written with adequate elegance and delicacy that a reader may effortlessly comprehend how the writer feels about poetry. However, the translator strived to utilize more close words in case he was not able to find the exact translation of a particular word or phrase. The Uzbek version is available here as a proof:

 

Ka’bamsan

 

Ka’bamsan she’riyat ezgu ehromim,

Og’u ham bol to’liq bebaho jonim.

Alamim va ishqim, umid-u armon,

Uyqusiz tunlarim jindek ilhomim.

Kerakmas inju ham, sensiz haqiq ham,

Kerakmas shaddod ham, sensiz daqiq ham!

Hayot ham men uchun sensiz bema’ni,

Sensiz o’tmasinda hatto daqiqam.

 

Here is the direct amateur translation of mine in the Indonesian language just to be more understandable for the reader:

 

 

 

Anda tempat suci saya


Puisi – tempat suci saya, tempat doa menyembah,
Penuh racun dan madu – jiwa yang berharga saya,
Anda kesedihan saya dan harapan, penderitaan dan kesenangan.
Saya sederhana inspirasi di malam hari tidur saya.
Tanpa kalian, aku tidak perlu permata atau harta karun,
Tidak perlu untuk keindahan, atau kesenangan.
Tanpa Anda bagi saya hidup adalah kosong juga,
Mungkin tidak saat hidupku berlalu tanpa Anda!

 

Now, let’s make a comparison of the translated and original versions of the poem. First of all, the title of the poem itself gives the image of something that is valuable and dear to the poet. However, there is no one-word English equivalent of the word “ka’ba” (ka’bah) that means a holy place or shrine a person may worship to. Specifically, the word “ka’ba” means the shrine in Mecca which is visited by the Muslim pilgrims once a year. Someone may suggest, in that case, the title should not be translated; however, the translator could find the possible closer equivalent and it could be suggested this way also. Nevertheless, some words like “jindek ilhomim” (sedikit inspirasi) were translated more professionally in the target language than the original version. As an equivalent to the word “jindek” which means “a little or small” in the English language, I used the word “modest” instead of translating it directly. “Jindek ilhom” (sedikit inspirasi) means “a small amount of inspiration” in English; however, the translator translates it as “modest inspiration”(direct translation: sederhana inspirasi) which adds more beauty to the translated version of the original work. All that matters is the reasonableness of the translator to deliver the information to the reader in a clear and understandable way keeping the aesthetic values as well as the poetic structure.

According to Hariyanto (no date), poetic structure includes the plan of the original poem as a whole, the shape and the balance of individual sentences in each line. Metaphor is related to visual images created with combinations of words, which may also evoke sound, touch, smell, and taste whereas sound is anything connected with sound cultivation including rhyme, rhythm, assonance, onomatopoeia, and so forth. A translator cannot ignore any of them although he may order them depending on the nature of the poem translated.

According to Mashadi Said, finally, the socio-cultural problems in translating poetry exist in the phrases, clauses, or sentences containing word(s) related to the four major cultural categories, namely: ideas, behavior, product and ecology. The “ideas” include belief, values, and institution; “behavior” includes customs or habits; “products” include art, music, and artifacts, and “ecology” includes flora, fauna, plains, winds, as well as the weather. As an example, Mashadi shows the first stanza of Shakespeare’s Sonnet XVIII:

 

Shall I compare thee with a summer’s day?

Thou are more lovely and more temperate

Rough winds do shake the darling buds of May,

And summer’s lease hath all too short a date;

 

Direct Indonesian translation

 

Haruskah saya membandingkan engkau dengan hari di musim panas?
Engkau lebih indah dan lebih beriklim
Angin kasar lakukan mengguncang tunas Sayan dari Mei,
Dan sewa musim panas telah semua tanggal yang terlalu pendek;:

 

Here, the description of summer serves as a symbol of beauty which gives the image of the gracefulness of the girl being described because “summer” implies a distinguished beauty for temperate countries. However, the cultural equivalents or near equivalent of “summer” does not mean so for some countries with hot climate. And to translate any expression containing such words, the translator should consider every single expression carefully in term of the importance and expressiveness. As Peter Newmark (1988) claims in the above mentioned case the translator does not have any choice; he has to supply the cultural equivalent in the target language. He suggests that the translator should let the reader learn and understand what a certain word means for others in the other part of the globe. Actually, “summer’s day” is a day when the sun shines brightly and the flowers, especially the sweet-scented roses are blossoming everywhere in England as William Shakespeare expressed in his sonnet. Meanwhile, “summer’s day” in other countries with rather burning weather means suffering of life where irrigation channels are dried up and the sand scatters everywhere. Nonetheless, later, the reader who resides in the part of the globe with a hot climate will learn the beauty described with the description of “summer” when he or she discovers that the poem was written by an Englishman.

However, there are a number of other cases that some professors and specialists consider translating poetry to be difficult and there might be some other cases that make translation really a problematic issue for the translator, in their views. For instance, according to William R. Schmalstieg, a professor of the Pennsylvania State University, the difficulty of translating poetry is twofold: the words and meaning on the one hand, the flow and rhythm (or rhyme) on the other. As he claims in his article, most translations of poetry are really bad. One can find no rhythm or rhyme in such “professional” works of translation. This is mainly because the translator knows the foreign language too well and his or her language too poorly or vice versa. Additionally, their grasp of both languages may be limited to the writing of academic and formal papers whereas the procedure of translating a work of poetry requires rather literal and sometimes colloquial language.

According to Nosirjon Juraev, a promising Uzbek poet, a translator needs to possess an aptitude for poetry and must feel and understand the language of poetry as well. For instance, if a professional specialist of the English language is given a poem to translate, he or she may not be able to find a matching word or a phrase in the language being translated into for his or her language skills were limited to other aspects of the language or they may simply lack talent for poetry. Moreover, after a common reader reads his or her translation and gets nothing out of it, this shows that the translator’s efforts were in vain. Therefore, only mastering a foreign language does not suffice to translate a poetry work; instead, the translator must be aware of some certain words or phrases which can give totally different meanings in poetry. Furthermore, the translator sometimes needs to use more precise word or phrase in order to make up the rhyme or to keep the original meaning of the poem. Conversely, the translator may sometimes need more general word or phrase to make his or her translation more beautiful and an effective one. For this reason, the translator may make omissions as well as additions in his or her work. Specifically, as an amateur translator, I also frequently make use of insertions and omissions in my translations differently from the original work of poetry. Nonetheless, I always strive not to lose the originality of the poem but to keep its original meaning in its translated version as well. Another difficulty which I mostly experience while translating poems from Uzbek into English is choosing an appropriate word which can be the best equivalent in the translated version of the poem. I consider that this question at issue is a common problem for all the translators. To be more specific, readers of poetry often come across such occurrences in translated works. An English translation of an Uzbek poem translated by Qosim Ma’murov, an English language professor and translator in Uzbekistan can be shown as an appropriate example for the statements above:

 

Spring

Up the tender crops ju

mp from joy,

Throw their hats into the sky high.

The lazy wind lay embracing still,

The fragrance of Mint’s beloved girl.

 

The tulips blaze sparkling

The joys fall tick-ticking.

In the embrace of green feeling

I wish I were a tulip flaming.

 

www.translate.google.co.id  website translation:

Musim Semi

Tanaman lembut melompat dari sukacita,
Lempar topi mereka ke langit tinggi.
Angin malas berbaring memeluk masih,
Keharuman gadis tercinta permen itu.

Tulip kebakaran berkilau
Kegembiraan yang jatuh tik-berdetik.
Dalam pelukan perasaan hijau
Saya berharap saya adalah tulip menyala.

 

This is a sample translation work of an Uzbek poetess Uktamoy Kholdorova’s poems collected in her book named “My Heart is Weeping” printed in India.

Here is the original version of the above provided poem:

 

 

Ko’klam

 

Sevinchdan irg’ishlar maysalar

Qalpog’in osmonga otadi.

Yalpizning erka qiz hidini

Tanbal yer quchoqlab yotadi.

Porillab yonadi lolalar

Shodliklar chakillab tomadi

Yam-yashil tuyg’ular bag’rida

Lolaga aylansam qaniydi.

 

Here, the reader is suggested to pay attention to the word tender crops in the first line. The reader may get surprised by the translator’s word choice here. He translated the word “maysalar” (rumput muda) which in reality means “newly grown grass” as “tender crops” which means “young, soft or delicate harvest” (muda, panen, lembut atau halus). It is alright to use the word “tender” (lembut) as an adjective before the word “grass”(rumput) to describe how delicate, fragile, and immature it looks but using it with the word “crop” (tanaman) is obviously a mistake; moreover, one would probably consider it to be a blunder. The translator could have used another word such as verdure, greenery, young grass, or sprouts (kehijauan, hijau, rumput muda, atau kecambah) as an English equivalent to the word “maysalar” (young grass – rumput muda) rather than using the word “tender crops” (lelang tanaman). Actually, the word “crop” has the following meanings in the English language as written in the World Book Dictionary and Encyclopedia compiled by Thorndike Barnhart:

  1. a product grown or gathered for use, especially as food:

Wheat, corn, and cotton are three main crops of the United States.

  1. a. the whole amount (of wheat, corn, or the produce of any plant or tree) that is yielded in one season or region:

The potato crop was very small this year. b. the yield of some other product in a season: The ice crop.

  1. 3.       anything like a crop: a crop of lies.
  2. a. a clipping or cutting short of the hair. b. clipped hair; a short haircut.
  3. a mark produced by clipping the ears, especially of a domestic animal; earmark.
  4. a. a baglike swelling of the esophagus of many birds where food is stored and prepared for digestion; craw:

Fuel consumption is so great that most birds have a kind of carburetor called a crop for straining and preparing their food before it is injected into the combustion cylinders of the stomach and intestines (Atlantic).

b. a similar organ in other animals or in insects: The honey sac of a bee is called a crop. The earthworm empties the food into the crop, which is a storage chamber from which the food is released in small portions to the gizzard (A.M.Winchester).

  1. 7.                   a. the handle or stock of a whip. b. a short whip with a loop instead of a lash: a riding crop.
  2. an entire tanned hide of an animal.
  3. Mining. an outcrop of a vein or seam.

 

We have considered almost all the meanings of the word “crop” above; however, we could not find the very meaning we have been searching for. This means that the translator made a mistake and the editor of the book was not aware of that mistake. Also in the third and fourth lines of the poem there are some mistakes. We can effortlessly notice them at a single look: “…Yalpizning erka qiz hidini Tanbal yer quchoqlab yotadi…” Here is its translation: “…The lazy wind lay embracing still, The fragrance of Mint’s beloved girl…”  Angin masih malas berbaring memeluk, Keharuman gadis tercinta Mint   The word “still” (masih) is an insertion here; however, by using this extra word which was not included in the Uzbek version, the translator did a good job in order to make the meaning clearer and more understandable to the reader. Nevertheless, there is a big mistake in that line which totally changed the meaning of the statement written in the Uzbek version. It is the word “wind” which did not exist in the Uzbek version. Actually, it should have been “earth or ground” which means “yer” (tanah) in Uzbek, not “wind” which means “shamol” (angin) in the Uzbek version. This may be a simple typo (a mistake in typing) but there is another blunder in this line too: “…Yalpizning erka qiz hidini Tanbal yer quchoqlab yotadi…”  Translation: “…The lazy wind lay embracing still, The fragrance of Mint’s beloved girl…” This shows that the translator is probably not aware of the language of poetry or he did not understand what the poetess really wanted to mean. Here, the poetess used symbolism and she probably referred to how fragrant the mint was as she described it in an unusual way. This unusual description of the scent of mint made the poem sound more beautiful presenting a “food for thought”. She actually did not mean a real girl who is a beloved one of the mint. If the poem is read in its original form in Uzbek, the reader gets totally different meaning of it unlike its translated form. The translator is definitely responsible for this mistake. This awkward, unconvincing, almost robotic English translation did a disservice to the original version.

The above mentioned mistakes and the problems in a single small poem are just a tip from an iceberg. All that matters in translating poetry is understanding what meaning each word conveys or connotes. Here is my own translation of Muhammad Yusuf’s poem titled as “Hazil” (“Joke”) which is also not free of omissions, insertions, or probably some mistakes:

 

 

Joke

 

All the gossips are false about me,

I have no self-control through and through.

Imbibing wine is legacy to me by Khayyam,

That man will get surely hurt if I do not do.

 

It’s me who started; I will put the end,

My friends vainly fret over loss of mine.

If I happen to die before I turn forty,

It’s because of false girls, not because of wine!..

 

www.translate.google.co.id  website translation:

 

Lelucon

Semua gosip palsu tentang saya,
Saya tidak memiliki kontrol diri melalui dan melalui.
Imbibing anggur adalah warisan kepada saya oleh Khayyam,
Orang itu akan pasti terluka jika aku tidak melakukannya.

Ini aku yang memulai, saya akan menempatkan akhir,
Teman-teman saya sia-sia resah atas hilangnya tambang.
Jika saya kebetulan meninggal sebelum aku berbalik empat puluh,
Itu karena perempuan palsu, bukan karena anggur! ..

 

To be candid, it took me quite a long time to find appropriate words as well as proper rhymes for the above-written translation of the poem. I actually did my utmost to keep the originality of the poem: I also strived to keep the original meaning and utilize more literary words in this translation. The following poem is the original version in the Uzbek language:

 

Hazil

 

Mening haqimdagi g’iybatlar yolg’on,

Ixtiyor o’zimda bo’lsa qaniydi.

Sharob ichish menga Xayyomdan qolgan,

Ichmasam ul zotning ko’ngli ranjiydi.

 

O’zim boshladimmi, o’zim qilgum bas,

Do’slarim behuda zavolim izlar,

Agar qirqqa kirmay o’lsam, may emas,

Meni xarob etgan bevafo qizlar!..

 

The word “imbibing” in the third line which is underlined may not be familiar to some people as it is not frequently used in our everyday speech. Actually, “to imbibe” is another word for “to drink” (minum). Here appears a good question: What is the use of using the word “to imbibe” rather than using its basic translation “to drink” which means minum in the Indonesian language? “To imbibe” is a literary word which can beautify the poem. If the translator wrote simply “to drink” the poem might look to be weaker in literary features. Moreover, in the forth line the translator inserted the word “surely”(pasti)  in order to make the statement look more determined. One can easily notice that he also made an omission (particularly a substitution) in the fourth line: “…Ichmasam ul zotning ko’ngli ranjiydi.” – “…That man will get surely hurt if I do not do.  Orang itu pasti akan menyakiti jika saya tidak melakukan.”

The translator did not translate the word kalau aku tidak minumas “if I do not drink/imbibe”; he just substituted that word to “if I do not do” because the “what-to-do” part was clear from the previous line. The same thing occurred in the following lines:

“…If I happen to die before I turn forty, It’s because of false girls, not because of wine!..” “…Agar qirqqa kirmay o’lsam may emas, Meni xarob etgan bevafo qizlar!..” “… Jika aku kebetulan meninggal sebelum aku berbalik empat puluh, Itu karena perempuanpalsu, bukan karena anggur! ..”

In the above mentioned translated version of Muhammad Yusuf’s poem, a reader may notice some changes in the meaning of the original version of the poem. This is because of the rhyming problems. As it is obvious, without rhyming words or rhythmic structures a work of poetry may look really boring or even meaningless. Such types of works may lack enthusiasm and an encouragement toward the reader to continue reading the work till the end with excitement. Since not all the words have exact equivalents in the target language, there will definitely be some alterations and substitutions in the translated form of a certain work of poetry. Moreover, more scrutiny should be paid on word choice in the poem. It is a crucially important factor in translating poetry.  I would like the readers to pay attention and analyze the poem in term of word choice:

 

 

 

Childhood

 

Once giggling on the hills

Playful girls had a fun.

They used to ask from me

If their scarves were gone.

Although I knew everything –

Their shawls were not gone,

I did not mind as it was

Nubile girls’ act of fun.

 

www.translate.google.co.id  website translation is as follows:

 

Masa Kanak-Kanak

Setelah cekikikan di perbukitan
Gadis Playful telah menyenangkan.
Mereka menggunakan untuk meminta dari saya
Jika selendang mereka pergi.

Meskipun saya tahu segalanya –
Selendang mereka tidak pergi,
Aku tidak keberatan seperti yang
Gadis boleh kawin ‘tindakan menyenangkan.

 

According to an Italian adage a translator is told to be a cheater. I also considered the meaning of that proverb and came to an agreement with that saying through my translations. Actually, a translator never tends to cheat the readers; however, some changes i.e., substitutions, insertions, omissions, as well as some other alterations in the translated versions which may possibly affect the original meaning of a certain literary work can prove this point of view. As it is obvious to everyone, especially to those who possess the knowledge of understanding and analyzing poetry translations it is considerably difficult to translate a poem into a foreign language. Moreover, it requires a plenty of time to carefully choose the right word which can clearly provide the idea of the original form in the translated version too. This means that a translator needs to be patient and possess the knowledge of literature as well as critical thinking on his own translations. Just in order to test your aptitude in poetry, specifically, in poetry translation, I would like to provide one of my translations here for you to have an attempt at translating:

 

Once among poppies

One beauty was asleep.

I wish I did not see her,

My heart started to weep.

She was asleep like a rose,

There was nobody to care.

I would pass not touching her,

But my horse stopped there…

Famous Son

 

The son did not obey good words,

Mother – shocked. Father is nervous.

Neighs the horse at the stable

Ready for a long journey service.

Hands are shaking holding the rein,

Father’s words are now in his eye:

–                      If you don’t leave this year to school,

You will go then, don’t you deny…

Disloyal son happy on the horse:

Studying makes wise always.

I don’t care about cattle,

May they become prey to wolves…

He left leaving fields behind,

As well as his home on the hill.

Becoming a famed bard in town

Was the boy’s inordinate will.

Some years passed. Still stooping

Old father feeds sheep and cow.

By the way, he had a naughty son –

He is famous in the town now.

 

 

Anak Yang Terkenal

(Translated by Widyawati Prayitno)

Seorang anak tak patuhi perintah,

Lara ibu.  Serta ayah.

Sayup-sayup ringkikan

Tandakan siap perjalanan panjang.

Tangan gemetar memegang kekang

Terbayang ucapan ayahnya.

Jika tak pergi mencari ilmu sekarang,

Pergilah kau di tahun depan.

Tak setia namun bahagia di atas kereta

Selalu bijak dalam membaca

Tak peduli pada semua

Walaupun jadi mangsa.

Ia pergi meninggalkan semua

Rumah serta bukit-bukitnya.

Keinginan yang tak biasa

Menjadi penyair terkenal di kota.

Tahun-tahun berlalu, ayah yang renta

Membungkuk menafkahi anaknya.

Sekarang anak yang tak setia

Terkenal di kota tak bernama.

 

 

Reference


Aznaurova, E. S., Abdurakhmanova, Kh. I., Demidova, I. M., Iriskulov, M. T., Phomenko, N. V., Sabirova, M. A., Takhirjanova, S. T., & Khudaiberganova, M. K. 1989 Translation: theory and practice. Tashkent: Ukituvchi.

 

Barnhart, Thorndike. 1963. The World Book Encyclopedia and Dictionary (1 & 2 volumes). Chicago, IL: Doubleday & Company, Inc.

 

Blachowicz, C., & Fisher, P. 2000. Vocabulary instruction. In M. Kamil,  P. Mosenthal, P. D. Pearson & R. Barr (Eds.), Handbook of Reading Research (Vol. 3, pp. 503-523). Mahwah, NJ: Erlbaum.

 

Kholdorova, Uktamoy. 2004. My Heart is Weeping: A dedication to Taj Mahal. India.

 

Kirszner, L. G., & Mandell, S. R. (2004). Portable Literature (fifth edition) Canada: Thomson, Heinle.

 

Hariyanto, Sugeng, no date, Problems in Translating Poetry. Online: http://www.translationdirectory.com/article640.htm

 

Komissarov, V. N., & Koralova, A. L. 1990. A manual of translation from English into Russian. Moscow: Vysshaya shkola.

 

Lefevere, A. 1975. Translating poetry: seven strategies and a blueprint. Assen: Van Gorcum.

 

Levitskaya, T. R., & Fiterman, A. M. 1973. Posobiye po perevodu s angliyskogo yazyka na russkiy. Moscow: Vysshaya shkola.

 

Muhammad Yusuf. 2007. Selected poems. Tashkent: Sharq.

 

Newmark, Peter. 1981. Approaches to Translation. Oxford and New York: Pergamon Press.

Newmark, Peter. 1988. A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall.

PENGKHIANATAN DEMI KESETIAAN: UPAYA MASUK AKAL UNTUK MENCAPAI TERJEMAHAN PUISI IDEAL

Sugeng Hariyanto

Politeknik Negeri Malang

 

Abstrak

Di dalam penerjemahan puisi sering dikatakan bahwa hasil terjemahan tidak sebaik puisi aslinya. Lebih jauh, ada tiga mitos tentang hasil penerjemahan puisi, yaitu: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Di dalam artikel singkat ini penulis berusaha menelusuri asal-muasal mitos di atas dan mencoba menyajikan pandangannya tentang kebenaran mitos tersebut.

Penulis juga menyinggung bagaimana penerjemahan puisi sumber yang sama bisa menghasilkan puisi-puisi yang berbeda jika penerjemahannya dilakukan oleh penerjemah yang berbeda. Keruwetan ini menjadi bertambah, menurut penulis, jika kritikus ikut mengomentari hasil terjemahan karena penerjemah dan kritikus mungkin sekali memiliki pengalaman dan latar budaya yang berbeda.

Akhirnya, penulis mengemukakan pendapatnya bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi tetap bisa diupayakan untuk ‘setia’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Key-words: puisi, terjemahan, kesetiaan bentuk dan isi, keindahan, kritik terjemahan

 

Ada beberapa ‘mitos’ yang berkembang tentang menerjemahkan puisi. Yang saya maksud ‘mitos’ adalah kata-kata yang telah dipercayai kebenarannya tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kadang hal ini juga kita sebut asumsi. Mitos-mitos atau asumsi-asumsi tersebut adalah: (a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.

Pencetus mitos pertama ini adalah Henri Gifford. Dia berpendapat bahwa sastra terjemahan diumpamakan sebagai reproduksi hitam putih dari lukisan cat minyak yang berwarna. Lebih jauh, karya terjemahan menurutnya tidak akan bisa menandingi kehalusan dan kelengkapan imajinasi penulis asli. Setiap upaya penerjemahan adalah sebuah upaya pemiskinan, dan taraf pemiskinan ini pada taraf yang tertinggi pada penerjemahan puisi (Gifford dalam Damono, 2003). Mungkin karena hal inilah, akhirnya Gifford berpendapat bahwa “Translation is resurrection, but not of the body…” (Gifford dikutip Tomlinson dalam Carter, 2005). Hal ini harus kita sikapi dengan pemahaman bahwa Gifford sendiri adalah seorang penerjemah. Jadi, pendapatnya ini bagi saya lebih merupakan ideologi penerjemahannya.

Karena itu penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa di tubuh yang berbeda, maka wajar kalau kita tidak bisa mengharapkan kemolekan tubuh yang sama, bentuk linguistik yang sama. Ketidakpadanan bentuk linguistik atau makna itulah yang disebut pengkhianatan.

Mitos kedua, penerjemahan puisi adalah pengkhianatan yang kreatif. Pikiran ini berasal dari Prancis, yang di sana terjemahan karya sastra dianggap trahison creatice, pengkhianatan yang kreatif. Mitos ini juga tumbuh subur di Indonesian karena ada bukti-bukti yang dilakukan penyair hebat kita Chairil Anwar adalah trahison creatice. Masih terkait dengan mitos kedua, mitos ketiga adalah penerjemahan yang cantik pasti tidak setia, dan yang setia pasti tidak cantik. Sampai sekarang pun, banyak orang percaya bahwa yang cantik mesti tidak setia, dan yang setia selalu tidak cantik. Pernah dalam suatu seminar, Sapardi Joko Damono menunjukkan “kebenaran dua mitos terakhir ini” dengan puisi Huesca-nya Chairil yang dianggap pengkhianatan kreatif dari puisi asli “To Monnet Heinemman”.

Puisi sumber:

Heart of the heartless world,

Dear heart, the thought of you

Is the paint in my side,

The shadow that chills my view

 

The wind rises in the evening

Reminds that autumn is near.

I am afraid to lose you

I am afraid of my fear.

 

On the last mile to Huesca,

The last fence for our pride,

Think so kindly, dear, that I

Sense you at my side.

 

And if bad luck should lay my strength

Into the shallow grave,

Remember all the good you can;

Don’t forget my love.

 

Puisi ‘terjemahan’:

Jiwa di dunia yang hilang jiwa

Jiwa sayang, kenangan padamu

Adalah derita di sisiku,

Bayangan yang bikin tinjauan beku.

 

Angin bangkit ketika senja,

Ngingatkan musim gugur akan tiba.

Aku cemas bisa kehilangan kau,

Aku cemas pada kecemasanku.

 

Di batu penghabisan ke Huesca,

Pagar penghabisan dari kebangaan kita,

Kenanglah sayang, dengan mesra

Kau kubayangkan di sisiku ada.

 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku pada kuburan dangkal,

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

Menurut Sapardi Djoko Damono, terjemahan ini adalah terjemahan yang cantik. Dan di antara terjemahan Chairil Anwar, ini termasuk yang paling setia. Mari kita cermati kesetiaannya.

Pada larik pertama “heartless world” diterjemahkan menjadi “dunia yang hilang jiwa”. Padahal “heartless” aslinya bermakna “kejam”. Apakah “hilang jiwa” berarti “kejam”? Menurut Sapardi Djoko Damono, Chairil menciptakan ungkapan baru yang tidak ada hubungannya dengan kekejaman. Pada larik kedua, “dear heart” diterjemahkan menjadi “Jiwa sayang”, demi memburu pengulangan kata “jiwa” (tidak diterjemahkan menjadi “kekasih”, “jantung hati”, dsb.)  Perhatikan juga “aku cemas” untuk ungkapan asli “I am afraid”. Aku cemas rasanya lebih kuat kandungan emosinya daripada “aku khawatir”, “aku takut”.

Perhatikan pula dua larik terakhir yang disatukan dalam TBSa-nya.

 

Remember all the good you can;

Don’t forget my love

 

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

 

“Remember” dan “don’t forget” dirangkum menjadi “ingatlah”. Sementara itu “yang kekal” ditambahkan untuk memburu rimanya. Dengan contoh ini Sapardi seolah ingin menasbihkan bahwa yang cantik itu tidak setia, alias yang berkhianat. Kalau mau yang setia, carilah yang tidak cantik.

Dari paparan singkat di atas, kiranya dapat dimengerti kenapa asumsi-asumsi itu bisa terjadi. Sekarang, bagaimana pengkhianatan itu bisa terjadi? Dan benarkah mitos-mitos itu di dalam kenyataannya?

Untuk memahami masalah ini, ingin saya tawarkan kacamata teoritis. Kacamata pertama adalah teori polisistem. Di dalam teori polisistem, sebuah budaya merupakan serangkaian sistem dari banyak sistem yang bersifat hierarkis. Misalnya, kalau sastra di dalam sebuah budaya menempatkan sastra yang konvensional dalam posisi primer, maka sastra inovatif berada dalam posisi yang sekunder. Demikian juga sebaliknya. Lantas apa hubungannya dengan terjemahan sastra? Hubungannya terletak pada sikap masyarakat budaya terhadap sastra terjemahan. Kalau masyarakat budaya tersebut menempatkan sastra terjemahan dalam posisi primer, maka penerjemahnya akan berusaha sedekat mungkin untuk “setia”. Namun, kalau masyarakat mendudukkan sastra terjemahan dalam posisi sekunder, maka penerjemahnya harus tunduk pada aturan-aturan keindahan yang ada di dalam sastra sasaran. Menurut perkiraan saya, apabila BSa mempunyai genre/jenis sastra yang mantap untuk karya yang diterjemahkan, maka ada kecenderungan bahwa hasil terjemahannya akan tunduk pada poetika BSa. Namun, apabila jenis yang seperti itu belum ada di dalam BSa maka ada kecenderungan penerjemah untuk lebih setia pada TBSu.

Hal ini menjadi agak rumit jika karya tersebut akan diterbitkan. Karena ada pihak lain (yang disebut patron) yang mempengaruhi cara menerjemahkan. Lefevere (dalam Hoed) berpendapat bahwa ciri khas sastra di dalam sebuah budaya ditentukan oleh dua hal: Patron dan perilaku susastra masyarakat (code of behavior). Patron meliputi ideologi, ekonomi dan status seniman. Di dalam perilaku susastra ada kaidah-kaidah terkait genre, keindahan, dan fungsi sastra.

Lantas, saya menghipotesiskan adanya “pertarungan” pengaruh antara poetika, patron dan penerjemah. Bagi saya, ketiga pihak itu berbagi ruang pengaruh atas karya terjemahan. Apabila pengaruh salah satu pihak meningkat, pengaruh pihak lain akan menurun. Apabila patron sangat berkuasa (penerjemah di pihak yang lemah), maka hasil terjemahannya lebih diwarnai oleh ideologi penerjemahan dari patron. Jika pertimbangan poetika yang dipentingkan, maka pengaruh patron dan pertimbangan ideologi penerjemahan si penerjemah akan semakin kecil pengaruhnya. Demikian juga jika pengaruh patron yang mendominasi, maka kepentingan poetika dan ideologi penerjemah yang dikalahkan.

Saya menduga bahwa untuk para penerjemah besar, yang sangat mempengaruhi adalah ideologi penerjemahannya dan pihak patron mungkin dengan sukarela menyerahkan segalanya kepada penerjemah tersebut.

Kiranya pandangan saya tentang ‘perebutan’ ruang pengaruh ini bisa diperjelas dengan model penerjemahan usulan Bolaños (2002, 2008). Meskipun model ini disebutnya Model Penerjemahan Dinamis, tetapi sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep terjemahan dinamik gagasan Nida. Menurut gagasan Bolanos, pada bingkai terluar sebuah proyek penerjemahan ada pemrakarsa penerjemahan (initiator), yang saya sebit sebagai “patron” dan penerjemah (translator). Pemrakarsalah yang memerintahkan penerjemah untuk bekerja. Di dalam bekerja, penerjemah berusaha menangkap maksud sebuah teks dan itu dia lakukan dengan menganalisis dimensi pragmatik, semantik, sintaktik, atau kadang ditambah semiotik, dari teks bahasa sumber (TBSu) serta mempertimbangkan perintah dari pemrakarsa. Setelah makna dan pesan ditangkap, penerjemah melakukan tekstualisasi. Sebelum melakukan tekstualisasi, dia akan mempertimbangkan norma bahasa sasaran (BSa). Di sinilah, pertimbangan poetika masuk. Pada saat ini, dia juga memperhatikan kehendak pemrakarsa atau patron penerjemahan. Di sini jugalah pengaruh patron mempengaruhi.

Kembali ke perbincangan tentang ketiga asumsi di atas? Betulkah karya terjemahan selalu lebih buruk daripada karya aslinya? Secara teori hal ini bisa disanggah. Setiap budaya mempunyai norma-normanya sendiri, mempunyai kriteria sendiri sebagai ukuran keindahan sastra. Jadi, keindahan puisi terjemahan bisa menyamai keindahan puisi asli apabila ditakar dengan kriteria keindahan sastra BSa. Hal ini bisa dicapai apabila puisi terjemahan tersebut tidak memaksakan diri membawa masuk “tubuh” asing ke dalam BSa. Dengan kata lain, saya setuju dengan Ignas Kleden, saat dia menulis, “sebuah terjemahan biasanya lebih jelek atau lebih baik dari yang asli, dan tak mungkin sama dalam segala sesuatunya dengan sajak yang asli”.  Secara empiris, perhatikan terjemahan puisi “How Happy Is the Little Stone” ke dalam bahasa Jawa oleh Effendi Kadarisman ini (yang begitu cantik dan masih setia):

 

Puisi terjemahan:

 

WATU KLUNGSU

Saiba senenge watu klungsu

Dolan dhewekan satengahing dalan

Ora maelu sakehing gegayuhan

Ora kesamaran nandhang cingkrang

Nganggo jas warna soklat

Paringane jagat kang mbeneri liwat

Uripe merdhika kaya surya

Bisa bebrayan, bisa sumunar tanpa kanca

Anyanggemi patembayan sawiji

Kanthi prasaja, kanthi permati

 

Puisi sumber:

 

How happy is the little Stone

 How happy is the little Stone

That rambles in the Road alone,

And doesn’t care about Careers

And Exigencies never fears —

Whose Coat of elemental Brown

A passing Universe put on,

And independent as the Sun

Associates or glows alone,

Fulfilling absolute Decree

In casual simplicity

 

 Jika kita tidak diberitahu bahwa puisi itu adalah terjemahan dari “How Happy Is the Little Stone” atau tidak kebetulan menghadapi kedua puisi itu dalam waktu yang sama, mungkin kita tidak menyangka bahwa puisi tersebut adalah puisi terjemahan. Kata-kata yang digunakan khas bahasa Jawa, misalnya “watu klungsu” (batu sebesar biji asam) untuk menerjemahkan “little stone”, “gegayuhan” (keinginan) untuk “career”, “nandhang cingkrang” (mengalami kekurangan) untuk “exigencies”, “patembayan” untuk “decree”, dan begitu khasnya “kanthi prasaja, kanthi permati” untuk mengungkapkan “in casual simplicity”. Puisi terjemahan di atas begitu dekatnya dengan puisi asli, tetapi begitu “Jawa-nya” saat kita baca. Inilah yang menurut saya puisi terjemahan yang ideal, yang cantik dan setia. Ini artinya karya terjemahan tidak harus lebih buruk daripada karya aslinya.

Benarkah semua puisi terjemahan adalah pengkhianatan dan yang cantik mesti tidak setia? Ini tergantung pada definisi kata ‘setia’ dan ‘khianat’. Jika ‘setia’ dipahami sebagai kesepadanan (ekuivalensi) sepenuhnya (formal dan maknawi) dari TBSu dan TBSa, maka akan benar adanya bahwa terjemahan puisi yang baik adalah sebuah pengkhianatan. Namun apabila yang disebut kesetiaan mengacu pada keindahan, dan diakui bahwa tolok ukur keindahan dalam bahasa yang berbeda juga berbeda, maka yang ‘cantik dan setia’ akan dapat terwujud. Sekali lagi, sedikit ulasan puisi di atas adalah buktinya. Meskipun ini hanya satu puisi, paling tidak ini memberi bukti bahwa yang ‘cantik dan setia’ masih mungkin diwujudkan.

Ada kalanya, memang, penerjemah harus melepas sedikit makna untuk memburu keindahan (linguistic/literary form), di lain waktu dia mungkin mengorbankan keindahan untuk memburu makna. Selama ini, situasi dilematis ini yang dikedepankan sehingga seolah-olah mitos “cantik tidak setia’ itu menjadi semacam kutukan bagi penerjemahan puisi.

Yang perlu diingat lagi adalah kenyataan bahwa pemahaman penerjemah akan makna, pesan dan keindahan dari puisi aslinya juga sangat menentukan. Dua orang penerjemah mungkin menangkap makna/pesan yang berbeda dari puisi yang sama. Coba perhatikan terjemahan dari puisi “Hope” di bawah ini:

 

Asa

 Asa itu bagaikan burung dan sayapnya

yang bersemayam di jiwa,

dendangkan irama

tiada putusnya.

 

Dalam terpaan angin kencang kukecap merdunya

Dalam amukan badai serasa perihnya

namun si burung mungil tetap setia

tiada henti sebar hangatnya.

 

Kudengar suaranya di negeri paling gigil

dan di samudera paling musykil

namun tak sedikit pun dariku

ia pinta walau hanya secuil,

walau hanya secuil.

(terjemahan oleh Abdul Mukhid)

 

Harap

Harap ialah sesuatu bersayap

yang bertengger di jiwa,

dan berdendang tanpa kata,

dan tanpa putus-putusnya,

 

dan terdengar merdu di deru topan;

dan badai sungguhlah ganas

jika sampai mengusir burung kecil itu,

burung yang sebarkan hangat.

 

Pernah kulihat ia di sedingin-dinginnya daratan,

juga di seasing-asingnya lautan;

tapi, biar cuaca seganas apa, tak pernah

mulut menadah padaku, meski demi seremah.

(terjemahan oleh Wawan Eko Yulianto)

 

Dan berikut ini adalah puisi aslinya:

 

Hope     

 Hope is the thing with feathers

That perches in the soul,

And sings the tune–without the words,

And never stops at all,

 

And sweetest in the gale is heard;

And sore must be the storm

That could abash the little bird

That kept so many warm.

 

I’ve heard it in the chillest land,

And on the strangest sea;

Yet, never, in extremity,

It asked a crumb of me.

 

Jika kita simah hasil kerja dua penerjemah di atas, kita tahu bahwa mereka menunjukkan beberapa perbedaan. Pertama, Abdul Mukhid (AM) memandang bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan, karena itu redundansi. Wawan Eko Yulianto (WEY) berpendapat bahwa itu perlu dihadirkan karena dengan demikian lebih dekat ke aslinya. Kedua, pemahaman kata “sore” juga berbeda. AB menekankan “perihnya”, sementara WEY menekankan akibat dari kata ini kepada si burung. Jadi, dia pilih ungkapan “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang sampai mengusir burung itu.

Dalam contoh-contoh di atas kita simak karya tiga orang. Dua yang terakhir adalah karya dua penyair yang menerjemahkan puisi. Karena keduanya menerjemahkan puisi, keduanya saya sebut “penerjemah” (tidak harus dalam arti profesi penerjemah). Sementara itu Effendi Kadarisman adalah ahli linguistik dan penyair yang kesehariannya mengajarkan dan berdiskusi tentang ilmu linguistik dan etnopoetika kepada para mahasiswa.

Abdul Mukhid (sahabat saya) adalah penyair yang penerjemah. Selain menulis puisi dan menerjemahkan puisi, dia juga menerjemahkan manual-manual teknik yang nirgaya bahasa dan nir-alegori. Di dalam hal penerjemahan puisi ini, yang dikutip dalam artikel ini, semua penerjemah menerjemahkan puisi tanpa adanya pesanan penerbit. Jadi, dalam hipotesis saya patron “penerbit” yang biasanya sangat berpengaruh, sekarang menjadi nihil.

Posisi penerjemah/penyair menjadi dominan. Yang akan membedakan adalah pandangan penerjemah/penyair terhadap bagaimana terjemahan puisi yang baik (ideologi penerjemahan), karena sebagai penyair keduanya mempunyai pemahaman yang dalam tentang poetika sastra Indonesia. Apakah penerjemah memandang dirinya mempunyai tugas untuk menyampaikan makna asli dengan bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, ataukah penerjemah barangkali mempunyai “pesan” yang sama dengan penulis puisi asli dan meminjam puisi asli tersebut untuk menyampaikan pesannya di dalam BSa. Golongan kedua ini akan menjadi sealiran dengan Gifford yang mengatakan bahwa penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa ke dalam badan baru. Di dalam studi penerjemahan, aliran ini akan menyatu dengan “function-oriented approach” yang di masa pasca kolonialisme (PDII) dikembangkan oleh Reiss, Nord, dll., yang di Indonesia adalah segolongan dengan Chairil Anwar.

Sedangkan golongan pertama tadi akan sealiran dengan para teoretikus studi penerjemahan yang berpendapat bahwa penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari BSu ke dalam BSa dengan mempertahankan bentuk linguistiknya sebisa mungkin (Nida) atau penerjemahan adalah proses yang dipengaruhi oleh pemahaman budaya, bahasa dan norma-norma budaya (termasuk di dalamnya norma sastra) dari TBSu dan TBSa oleh penerjemahnya (Newmark, Bolaños).

 

Ruwetnya Jika Kritikus Ikut Nimbrung

Mari kita kembali ke perbedaan pilihan kata antara AM dan WEY di atas. Abdul Mukhid (AM) berpendapat bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan dalam bahasa sasaran. Wawan Eko Yulianto (WEY) memandang bahwa ‘informasi’ itu perlu dihadirkan. Kedua, dari kata asli “sore” AB menekankan rasa “perihnya”, sementara WEY mengemukakan akibat dari kata ini kepada si burung, maka dia pilih kata “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang bisa mengusir burung itu.

Saya adalah pembaca yang kebetulan sedikit mengerti BSu. Misalnya saja saya menjadi kritikus terjemahan. Saya berpendapat bahwa kata “mengusir” di dalam terjemahan WEY kurang tepat. Yang lebih tepat, menurut saya, adalah “membuat diam”. Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa masalah perbedaan tafsir makna/pesan asli ini semakin rumit apabila kritikus terjemahan ikut nimbrung. Perhatikan ilustrasi di Gambar 1 berikut ini.

turunan pesan terjemahan puissiGambar 1. Turunan makna/pesan dalam proses penerjemahan dan pengkritikan karya terjemahan

Dalam Gambar 1 diilustrasikan bahwa pada saat penerjemah membaca puisi aslinya (TBSu), maka dia berusaha menangkap makna dan pesannya. Seperti kita ketahui, makna dan pesan puisi sering kali samar. Hasil penangkapan makna yang samar ini akan dipengaruhi oleh beberapa aspek pribadi penerjemahnya, termasuk pengetahuan budaya dan penguasaan bahasa. Makna dan pesan itu dicermati dan kemudian ditulis ulang (tekstualisasi) ke dalam bahasa sasaran (BSa). Tekstualisasi ini sangat dipengaruhi oleh ideologi penerjemahannya dan penguasaan norma BSa, termasuk norma-norma keindahan sastra BSa. Dan apabila ada orang lain (mis, kritikus atau orang awam) membandingkan puisi terjemahan ini dengan puisi aslinya, maka sebenarnya dia membandingkan pemahamannya akan puisi asli dengan pemahamannya atas puisi terjemahan (BSa) yang merupakan tekstualisasi dari pemahaman penerjemahnya atas puisi asli (BSu). Jadi, puisi terjemahan merupakan ‘turunan’ kedua dari puisi asli. Pemahaman kritikus dari puisi asli adalah ‘turunan’ pertama melalui jalur dirinya. Dan pemahamannya atas puisi terjemahan adalah turunan ‘ketiga’ melalui jalur penerjemah. Sehingga perbandingan yang dilakukan oleh kritikus sastra terjemahan adalah perbandingan dari ‘turunan pertama’ dengan ‘turunan ketiga’. Setiap tahap turunan (derivasi) ada kemungkinan distorsi makna. Dapat dibayangkan betapa hal ini mendatangkan kemungkinan yang besar bagi ketidakpadanan (ketidaksetiaan menurut kaca mata kritikus). Oleh Ignas Kleden (2004), fenomena makna puisi yang sulit ditangkap ini digambarkan dalam ungkapan “a poem means all that it can mean” atau “puisi bisa bermakna apa saja”. Oleh karena itu kebanyakan orang (“kritikus”) akan berpendapat bahwa penerjemahan puisi adalah sebuah pengkhianatan. Sekali lagi, saya berpendapat bahwa hal ini tidak mutlak benar.

Ya, tentu saja, yang cantik tidak akan pernah setia jika definisi kesetiaan mengacu pada bentuk linguistik saja karena kriteria keindahan TBSu dan TBSa menuntut bentuk linguistik yang berbeda. Alhasil, benarlah apa yang dikatakan Benny H. Hoed (segera terbit) bahwa terjemahan suatu karya sastra tidak dapat sepenuhnya memenuhi persyaratan pengalihan pesan yang “sempurna”. Dan ini tampak nyata bila kita bandingkan dengan penerjemahan teks jenis informatif.[1] Maka, apabila persyaratan pengalihan yang “sempurna” untuk jenis teks informatif ini kita terapkan ke penerjemahan sastra, terutama puisi, hasilnya adalah adanya “pengkhianatan kreatif”.

Lantas, kenapa judul tulisan ini “pengkhianatan dalam kesetiaan”? Sebenarnya ini bertolak dari mitos itu, yang membatasi “kesetiaan” pada kesepadanan bentuk linguistik atau fisik. Kesetiaan saya maknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi ini dilakukan dalam upaya menuju ‘kesetiaan’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut hemat saya, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Referensi

Carter, Peter. 2005. Review of Metamorphoses: Poetry and Translation, Same Difference. The London Magazine December / January 2005. Accessible from: www.carcanet.co.uk/cgi-bin/scribe?showdoc=365;doctype=review

Bolaños Cuellar, Sergio. 2002. Equivalence Revisited: A Key Concept in Modern Translation Theory. Forma Y Funcion 15 (2002), pp. 60-88. Departemento de Linguistica, Universidad Nacional de Colombia, Bogota, D.C. (Retrieved from: http://redalyc.uaemex.mx, on 5 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2006. Source Language Text, Parallel Text, and Model Translated Text: A Pilot Study in Teaching Translation. (Article sent personally by the article writer through email on 8 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2008. Towards an Intergrated Translation Approach: Proposal of Dynamic Translation Model. Ph.D. Dissertation. Hamburg: Hamburg University.

Damono, Sapardi Djoko. 2003. Menerjemahkan karya Sastra. Makalah disajikan dalam Kongres Nasional Penerjemahan, UNS, Surakarta, 15-16 September 2003.

 

Hoed, Benny H. (akan terbit). Penerjemahan Karya Sastra.

 

Kleden, Ignas. 2004. Goenawan Muhammad Selected Poems: Resensi Buku. Majalah Tempo, Edisi 25/XXXIII/16-22 Agustus 2004.

 


[1] Katahrina Reiss berpendapat bahwa teks dapat dibedakan menjadi teks informatif, apelatif dan ekspresif. Jenis teks ekspresif (misalnya puisi) harus diterjemahkan dengan mementingkan bentuk dan pesannya, sementara teks informatif mementingkan pesannya saja.