Posts Tagged ‘Metabahasa Semantik Alami’

Verba Emosi Bahasa Rote Dialek Dengka: Suatu Tinjauan MSA

Mirsa Umiyati

Universitas Warmadewa

 

   Abstrak

            Tulisan ini dilandasi oleh teori Metabahasa Semantik Alami yang digagas oleh Anna Wierzbicka (1996). Teori ini dupakai untuk membedah leksikon bahasa rote dialek dengka (selanjutnya disebut BRDD). Leksikon BRDD yang terwakili oleh leksikon lasa ‘merasa’ dipandang mampu mewakili ungkapan perasaan seseorang dalam memikirkan peristiwa baik yang memiliki acuan yang baik maupun peristiwa yang memiliki acuan yang buruk. Verba yang mewakili peristiwa yang baik diwakili oleh verba umuho’o ‘senang’, koa ‘bangga’, hi ‘suka’ dan sue ‘senang/cinta’. Sedangkan verba yang mewakili peristiwa yang memiliki acuan yang buruk diwakili oleh verba na’amuti ‘benci’, lala mala ‘sakit hati’, sususa’ ‘sedih’, luli ‘marah’, nggahisa ‘tidak sengaja’, fokur ‘kaget’, mae ‘malu’, nggengger ‘terkejut’, masaloe ‘gelisah’, lalamela ‘sakit hati’, na’atu ‘gusar’.

 

Kata Kunci: Metabahasa Semantik Alami, Verba Emosi, Fitur Semantik

 

  1. Pendahuluan

Bahasa Rote dialek Dengka (selanjutnya BRDD) merupakan salah satu dari dua bahasa daerah rumpunAustronesia di Kabupaten Rote-Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah penutur BRtergolong cukup besar, yakni kurang lebih 200.000 orang, yang bermukim di Pulau Rote, Semau,dan sebagian Pulau Timor (Kumanireng, dkk., 2000:1). Sementara itu, satu bahasa lain yang jugaterdapat di Kabupaten Rote-Ndao adalah bahasa Ndao (BN) dengan jumlah penutur kurang lebih3000 orang, yang bermukim di Pulau Ndao dan Nuse.

Kekhasan BRDD terlihat pada variasi bahasa. Mengutip tulisan Manafe (1884) tentang BR,Fox (1986:178²180) mengemukakan bahwa pengelompokan dialek dalam BR dilakukanmenurut bunyinya. Walaupun dialek-dialek itu memiliki bunyi-bunyi yang berbeda, siapapunyang tinggal di bagian timur pulau itu dapat memahami apa yang dikatakan oleh orang yang tinggal di bagian barat, tanpa mengalami kesulitan. Menurut Fox, dialek BR terdiri atas: (1)Oepao, Ringgou, dan Landu; (2) Bilba, Diu, dan Lelenuk; (3) Korbafo; (4) Termanu, Keka, danTalae; (5) Bokai; (6) Baa dan Loleh; (7) Dengka dan Lelain; (8) Thie; dan (9) Oenale dan Delha.

Mengkombinasikan tradisi filsafat, logika dalam kajian semantik dengan pendekatan tipologi terhadap suatu bahasa berdasarkan atas penelitian empiris lintas bahasa adalah prinsip dasar dari teori Metabahasa Semantik Alami (Weirzbicka, 1996:23). Mempertahankan satu bentuk untuk satu makna (baik makna leksikal, ilokusi maupun makna gramatikal) dan satu makna untuk satu bentuk untuk kata dan konstruksi gramatikal yang lain merupakan salah satu prinsip yang diterapkan di dalamnya.

Metabahasa Semantik Alami menggunakan pendekatan analisis semantis yang didasarkan pada pembentukan parafrasa. Parafrasa diartikan sebagai suatu konsep atau kata yang diperinci kedalam kombinasi konsep atau kata yang lebih simpel, dengan mempergunakan eksponen dari makna asali; makna yang tidak bisa berubah; makna yang dibawa manusia sejak lahir. Parafrasa diharapkan mampu memberikan gambaran tentang komponen dan struktur semantik.

  1. Landasan Teori

Sudipa (2010: 8) mengatakan bahwa makna Asali, salah satu asumsi yang mendasarkan teori MSA adalah makna yang tidak bisa dideskripsikan tanpa perangkat makna asali. Munculnya asumsi ini dilatari pemahaman bahwa sebuah kata merupakan konfigurasi dari makna asali, bukan ditentukan oleh makna kata yang lain dalam leksikon. Jelasnya, makna asali adalah perangkat makna yang tidak dapat berubah (Goddard, 1996:2) karena diwarisi manusia sejak lahir. Makna ini merupakan refleksi dari pikiran manusia yang mendasar. Makna asali dapat dieksplikasi dari bahasa alamiah (ordinary language) yang merupakan satu-satunya cara dalam mempresentasikan makna (Weirzbicka, 1996:31).

Klasifikasi VBRDD juga bertumpu pada (1) skala kestabilan waktu yang di klasifikasikan menjadi tiga, yaitu (a) verba keadaan (b) verba proses, dan (c) verba tindakan; (2) makna asali ‘semantic primes’ yang melekat pada setiap butir leksikon VBRDD. Makna asali ini merupakan salah satu aspek pendekatan dalam teori MSA yang dijadikan tumpuan analisis utama. Verba emosi merupakan subbagian dari verba keadaan.

Sejumlah eksponen yang berada dalam makna asali yang berasal dari penelitian yang dilakukan Anna Weirzbicka terhadap bahasa-bahasa dari kelompok dan benua yang berbeda, dijabarkan dalam tabel berikut :

Tabel I. The English eksponen of Semantic Primitive

            No  

The English Exponents of the Semantic Primitives

1 Substantive I, YOU, SOMEONE, SOMETHING, PEOPLE, BODY
2 Relation Substantive KIND OF, PART OF
3 Determiners THIS, THE SAME, OTHER
4 Quantifiers DO, HAPPEN, MOVE, PUT, GO
5 Attributes BIG, SMALL, GOOD, BAD
6 Intensifiers VERY
7 Mental Predicate WANT, FEEL, THINK, KNOW, SEE, HEAR
8 Speech SAY, WORDS, TRUE
9 Actions, events, movements DO, HAPPEN, MOVE
10 Existence and possessive THERE IS, HAVE
11 Life and death LIVE, DIE
12 Logical concept NOT, MAYBE, CAN, BECAUSE, IF
13 Time WHEN, NOW, AFTER, BEFORE, A LONG TIME, A SHORT TIME FOR SOME TIME, MOMENT
14 Space WHERE, HERE, ABOVE, BELOW NEAR, FAR, INSIDE, TOUCHING (CONTACT)
15 Augmentor MORE
16 Similarity LIKE (HOW, AS)

 

Polisemi Takkomposisi. Polisemi menurut MSA merupakan bentuk leksikon tunggal yang dapat mengepresikan dua makna asali yang berbeda. Hal ini terjadi karena adanya hubungan komposisi antara satu eksponen dan eksponen lainnya karena eksponen tersebut memiliki kerangka gramatikal yang berbeda. Pada tingkatan yang sederhana, eksponen dari makna asali yang mungkin tidak akan menjadi polisemi dengan cara yang berbeda pada bahasa yang berbeda pula. Lebih lanjut dikatakan bahwa ada dua jenis hubungan, yaitu (1) hubungan yang menyerupai pengartian (entailment-like relationship), seperti :MELAKUKAN, TERJADI, dan hubungan implikasi (implicational relationship) misalnya MERASAKAN, TERJADI (Sudipa, 2010 : 10), seperti pada contoh berikut ini :

  • X melakukan sesuatu pada Y

Sesuatu terjadi pada Y

  • Jika X merasakan sesuatu

Maka sesuatu terjadi pada X

Perbedaan sintaksis yang dapat diketahui dari verba melakukan dan terjadi pada contoh (1) diatas ialah bahwa melakukan memerlukan dua argumen, sedangkan terjadi hanya membutuhkan satu argumen. Hubungan implikasi terjadi pada verba terjadi dan merasakan. Misalnya apabila X merasakan sesuatu, maka sesuatu terjadi pada X.

Struktur Semantik Verba keadaan BRDD dibangun oleh predikat mental yang terdiri atas makna asali yang diterangkan dalam tabel berikut.

 

 

 

Tabel II. Struktur Semantik Verba Keadaan BRDD

KATEGORI BHS. INDONESIA BAHASA ROTE
KOGNISI PIKIR DUDU-A
PENGETAHUAN TAHU BUBULU’
KEINGINAN INGIN NAU
EMOSI RASA RASA
PERSEPSI LIHAT ITA
DENGAR LENA

 

  1. Isi Bahasan

3.1 Tipe MERASAKAN dan MEMIKIRKAN

Leksikon dalam Bahasa Rote : lasa ‘merasakan’ mampu mengungkapkan perasaan seseorang dalam hal memikirkan suatu peristiwa. Peristiwa yang diungkapkan bisa terjadi sesuai atau tidak sesuai dengan harapan seseorang. Verba emosi ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) Tipe merasakan sesuatu yang baik dan (2) Tipe merasakan sesuatu yang tidak baik yang akan dijabarkan berikut.

  1. Tipe merasakan sesuatu yang baik

Subtipe MERASAKAN dan MEMIKIRKAN menjelaskan makna umuho’o ‘senang’, dengan variasi: koa ‘bangga’, hi ‘suka’ dan sue ‘senang/cinta’yang berciri makna dasar senang. Dalam eksplorasi makna terkait dengan gabungan polisemi ini, ada dua orientasi yang menjadi acuan dari peristiwa dalam pikiran yang diungkapkan oleh demen, yakni : (a) peristiwa masa sekarang yang memberi ciri bahwa seseorang sekarang merasakan sesuatu yang baik pada dirinya. (b) kadang-kadang orang yang umuho’o diungkapkan oleh boil ‘kagum’ memiliki orientasi masa datang. Orang yang boil mula-mula memiliki sesuatu yang buruk bergejolak dalam pikirannya ‘sesuatu yang buruk terjadi pada X’ tetapi ia kemudian mengetahui bahwa hal ini tidak terjadi. Oleh karena itu orang yang boil adalah orang yang merasakan sesuatu yang baik. Gabungan komponen merasakan dengan peristiwa yang baik, yang terjadi dalam bahasa Rote diungkapkan dengan beberapa leksikon : umuho’o ‘senang’, koa ‘bangga’, hi ‘suka’ dan sue ‘senang/cinta’ . Dengan ciri-ciri khusus pembeda makna masing-masing. Makna dasar leksikon-leksikon ini adalah senang, karena sesuatu peristiwa terjadi sesuai dengan harapan seseorang sebagaimana contoh kalimat berikut.

  1. Au       lala-ngga   loa-loa ne karena au     haue   kelas   lua

1TG   hati-1TG  lega     sekali     karena 1TG   naik   kelas   dua

‘Hati saya lega sekali karena saya naik kelas dua’

 

  1. Au       umuho’o   karena   do     basa       ia   papa-ngga   no    

1TG   bahagia     karena PAR selama ini   bapak-1TG dan

 

      Mama-ngga   esa   sue        esa

Ibu-1TG         satu   sayang   satu

‘Aku bahagia karena selama ini bapak dan ibu saya saling menyayangi’

 

  1. Papa-ngga     no     mama-ngga   esa   sue   esa

Bapak-1TG   dan   ibu-1TG           satu   cinta satu

‘bapak dan ibu saya saling mencintai’

 

  1. Au       lala-ngga   loa-loa ne karena au     haue   kelas   lua

1TG   hati-1TG   lega     sekali     karena 1TG   naik   kelas   dua

‘Hati saya lega sekali karena saya naik kelas dua’

 

  1. Au       umuho’o   karena   do     basa      ia   papa-ngga   no    

1TG   bahagia     karena PAR selama ini   bapak-1TG dan

 

      Mama-ngga   esa   sue        esa

Ibu-1TG         satu   sayang   satu

‘Aku bahagia karena selama ini bapak dan ibu saya saling menyayangi’

 

  1. Papa-ngga     no    mama-ngga   esa   sue   esa

Bapak-1TG   dan   ibu-1TG           satu   cinta satu

‘bapak dan ibu saya saling mencintai’

 

 

 

  1. Au     Umuho’o     saong-ga                         mahine’

saya   senang     istri- (kepunyaan saya)   pintar

‘ Saya senang punya istri pintar’

 

  1. Hataholi     la       koa     aana’ naka soa’a tulufali       hataholi fea’

Orang-orang PART bangga anak itu   selalu menolong orang     lain

‘Orang-orang bangga (terhadap) anak itu yang selalu menolong orang lain ’

 

  1. Au    hi           ua         pao

saya   suka   makan mangga

‘Saya senang makan mangga’

 

  1. Au       sue       ho

Saya     suka   kamu

‘ Aku suka kamu’

 

Berdasarkan contoh kalimat diatas, peristiwa yang terjadi sesuai dengan harapan seseorang, memiliki acuan yang baik, seperti loa-loa ‘lega’, umuho’o ‘bahagia’, sue ‘cinta/sayang’ . Dalam contoh kalimat (1), semula au ‘aku’ sebagai subyek dalam kalimat ini berpikir was-was sehingga tidak berani mengatakan sesuatu karena kecemasan yang dia rasakan, namun tidak berselang lama dari keadaan itu, dia merasakan sesuatu yang baik terjadi, yaitu dia naik kelas. Peristiwa yang sangat diharap-harapkannya sebelumnya membuat dia secara tidak sadar berjingkrak-jingkrak tanda kesenangannya.

Demikian juga dengan contoh kalimat (2), sebelumnya, subyek kalimat dalam hal ini au ‘aku’yang sebelum merasakankebahagiaan, sebelumnya diawali oleh perasaan cemas akan kondisi ibu dan bapaknya. Peta komponen yang bisa digambarkan terhadap situasi ini adalah “ sebelum ini X merasakan sesuatu yang buruk”, tetapi agak berselang, sesuatu yang buruk itu tidak terjadi, sehingga au ‘aku’ merasakan senang dalam waktu yang relative lama. Dari penjelasan diatas, dapat ditarik suatu eksplikasi dari verba umuho’o sebagai berikut.

Eksplikasi umuho’o ‘seneng’

Pada saat itu, X merasakan sesuatu

X memikirkan sesuatu seperti itu

Aku berpikir bahwa sesuatu yang baik terjadi padaku

X merasakan sesuatu seperti itu

  1. Tipe merasakan sesuatu yang tidak baik

Gabungan komponen merasakan dengan peristiwa yang tidak baik, yang terjadi dalam bahasa Rote diungkapkan dengan beberapa leksikon : na’amuti ‘benci’, lala mala ‘sakit hati’, sususa’ ‘sedih’, luli ‘marah’, nggahisa ‘tidak sengaja’, fokur ‘kaget’, mae ‘malu’, nggengger ‘terkejut’, masaloe ‘gelisah’, lalamela ‘sakit hati’, na’atu ‘gusar’. Dengan ciri-ciri khusus pembeda makna masing-masing. yang berbanding kontras dengan peristiwa yang mengacu pada peristiwa yang buruk yang tentunya mengacu pada peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan sebagaimana berikut.

  1. Au       nggali           leo   sa     teo-ngga     ume   na karena   bafa            ako’

1TG   tidak senang  tinggal  di     tante-1TG  rumah di    karena   mulut-2TG   cerewet                         ‘Aku tidak senang tinggal di rumah tanteku karena mulutnya cerewet’

 

  1. Fai   ia papa -ngga   talalu   sususa’   karena      aa-ngga        mate

Hari ini   bapak-1TG     sekali susah       karena      kakak-1TG   mati

‘Hari ini bapak saya sangat sedih karena kakak saya meninggal’

 

  1. Mama –ngga luli      odi-ngga   karena    nama na’o   doi’

Mama-1TG      marah  adik-1TG    karena      mencuri       uang

‘Aku memarahi anakku’

 

  1. Aana     naka    nendi lulunggi  sa ume        lala  

Anak      Def      pembawa  sial           di rumah     dalam

 

Karena  soa’a           natota           no           lame  titia’                          ala  

Karena  sering          berkelahi      dengan   tetangga

‘ Anak itu pembawa sial di dalam rumah karena sering berkelahi dengan tetangga’

 

  1. Au       mama-ngga      masaloe   karena    odi-ngga       failua

1TG      mama-1TG         sedih      karena                 sdik-1TG        sudah dua hari

 

Ene-ngga   nea     hau   ume       sa

Tidak         PAR      ke     rumah     di

‘Ibu saya gelisah karena adik saya sudah dua hari ini tidak pulang ke rumah’

 

  1. mama -ngga   lala na nela   karena   papa-ngga      lao            hela     e

ibu-1TG           hati         sakit   karena   bapak-1TG       pergi        bapak PAR

‘Ibu saya sakit hati karena di tinggal pergi bapak saya’

 

  1. Mama Maghda boik   hambu oto     feuk ma lot       BRITAMA

Mama Maghda kaget dapat   mobil baru dari undian BRITAMA

‘ Mama Maghda kaget dapat mobil baru dari undian BRITAMA’

 

  1. Au     luli             eni

1TG   memarahi 3TG

‘Aku memarahi dia’

 

  1. Au     fokur   karena   le   nembe Dela            

1TG kaget   karena   ombak  pantai NAMA TEMPAT

 

tatananala          a-ana’                                           naka

menggulung         anak             itu

‘Saya kaget karena ombak pantai Dela menggulung anak itu’

 

  1. Au       nggengger     karena     unu’      a   sea

1TG   terkejut         karena     gunung PART meletus

‘Aku terkejut karena gunung meletus’

 

Berdasarkan contoh kalimat diatas, peristiwa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan seseorang, memiliki acuan yang buruk, seperti nggali ‘tidak senang’, sususa’ ‘sedih’, luli ‘marah’ dan masaloe ‘susah’. Sama halnya dengan verba emosi positif, verba emosi negatif memiliki tingkatan yang berbeda-beda meskipun makna dasarnya sama, yaitu nggahisa ‘tidak senang’. Sabagai contoh, verba fokur ‘kaget’ dan verba nggengger ‘terkejut’ yang berasal dari polisemi MERASAKAN dan MEMIKIRKAN seperti yang dicontohkan pada kalimat (7), (9) dan (10). Au ‘saya’ dan mama Maghda ‘mama Maghda’ merasakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau susah untuk terjadi sehingga tidak seorangpun yang menyangka tiba-tiba hal itu terjadi, akan tetapi kenyataanya, hal tersebut terjadi.

Semula mama Maghda tidak menyangka akan mendapatkan undian BRITAMA dari bank, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, kenyataanya, sewaktu undian itu dibuka, ternyata namanyalah yang diumumkan sebagai pemenang. Demikian pula dengan au ‘saya’ yang tidak menyangka sebelumnya bahwa gunung tersebut akan meletus dan atau ombak pantai Dela akan menggulung anak kecil itu. Suatu peristiwa yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, namun pada kenyataannya hal itu telah terjadi, sehingga pemetaan eksponennya X tidak tahu sebelumnya ini akan terjadi, dan aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Eksplikasi verba emosi negatif nggahisa ‘tidak senang’ dijabarkan sebagai berikut.

Eksplikasi nggahisa ‘ tidak seneng’

Pada saat itu, X merasakan sesuatu

X memikirkan sesuatu seperti itu

  • Sesuatu yang buruk akan terjadi
  • Aku tidak menginginkan ini
  • Selang beberapa saat aku tahu sekarang sesuatu yang buruk tidak terjadi

Karena ini : pada saat itu saja aku merasakan sesuatu yang baik

X merasakan sesuatu seperti ini.

Bila diamati secara lebih mendalam, leksikon yang bermakna dasar seneng memiliki sub-subtipe yang dibedakan dengan elemen-elemen khusus yang melekat padanya. Hal ini bisa dibedakan dalam pembagian yang lebih khusus, mengingat ada ciri tambahan yang melekat pada butir leksikon yang bersangkutan. Verba : boil ‘kagum’ dan loa-loa ‘lega’ memiliki ‘senang’ sebagai makna dasar bergabung dengan ‘heran’ dengan unsur tambahan.

  1. Penutup

Verba emosi bahasa rote dialek dengka (selanjutnya VEBRDD) tergolong klasifikasi verba keadaan yang penerapan makna asali, direpresentasikan oleh leksikon lasa ‘merasakan’. Dimensi baru pada verba keadaan BRDD sering muncul berupa pemetaan eksponen dan eksplikasi berbentuk parafrasa terhadap leksikon verba keadaan. Dimensi ini mampu melakukan telaah makna sampai menemukan fitur halus pembeda, sehingga tidak ada lagi makna yang berputar-putar. Produk pendekatan ini diharapkan berupa informasi tuntas bahwa satu bentuk mengandung satu makna dan satu makna diwahanai oleh satu bentuk.

 

REFERENSI

Allan, Keith. 2001. Natural Language Semantics.. Massachussetts : Blackwell

Anom, I Gusti Ketut, Ida Bagus Made Suastra, I Wayan Suardiana, I Wayan Japa, I Wayan Suteja, I Made Riken dan I Made Swatjana. 2009. Kamus Bali-Indonesia beraksara Latin dan Bali. Kerasama Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dengan Badan Pembina Bahasa , Aksara dan Sastra Bali Propinsi Bali

Anom, I Gusti Ketut Anom. 1995. Sistem Morfologi Verba Dengan Afiks {(N-…-ang/-in0} dalam bahasa Bali. Bali: Thesis Magister Linguistik Universitas Udayana

Astrayadi, Ida Ayu Gede. 2003. Struktur dan Peran Semantik Verba Bahasa Bali.. Tesis S2. Linguistik. Denpasar

Balukh, Jermy. 2008. Pembentukan verba nana—(k) dalam bahasa Rote : antara Pasif dan Antikausatif. (Serial Linguistika Vol. 15 no.29, September 2008)

Chaer, Abdul Drs.2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Fanggidae, A.M, dkk. 1996. Morfologi bahasa Rote (laporan penelitian, tidak diterbitkan). Kupang : Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Nusa Tenggara Timur

Givon, Talmy. 1984. Syntax : A Functional Typology Introduction. Vol 1. Amsterdam/Philadelphia : John Benyamins

Goddard, Cliff. 1997. Semantic Analysis : A Practical Introduction. Australia: The University of New England

Leech, Geoffrey. 1981. Semantics. England : Penguin Books

Lyons, John. 1991. Language and linguistics. Cambridge : Cambridge University Press

Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik. Diindonesiakan oleh I Soetikno. Jakarta: Gramedia

Matthews, P.H. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Mulyadi. 1998. Struktur Semantis Verba Bahasa Indonesia. Tesis S2 Linguistik Denpasar

Mulyadi. 2000. Struktur Semantis Verba Penglihatan dalam Bhasa Indonesia.. Jurnal Ilmiah MLI Linguistik Indonesia, tahun 18 No.2pp 77-89

Simpen, Wayan. 1995. Afiksasi Verbal Bahasa Bali. Tesis S2 Humaniora Universitas Indonesia Jakarta

Sudipa, I Nengah, Frans I Made Brata dan Made Rajeg. 2003. Struktur Semantis Verba Bahasa Bali : Sebuah Analisis Makna Alamiah Metabahasa. Laporan Penelitian dana DIK Unud 2003.

Sudipa, I Nengah. 2005. NSM dalam Bahasa Bali: Kasus Makna MEMOTONG, dimuat pada buku Cemetuk untuk Prof. HT Ridwan, Phd (USU). Pastika, I Wayan. 2005. Fonologi Bahasa Bali: Sebuah Pendekatan Generatif Transformasi. Kuta-Bali: Pustaka Larasan.

Sudipa, I Nengah. 2007. Verba Emosi Bahasa Bali : Suatu Tinjauan Metabahasa Semantik Alami (MSA). Disajikan pada Seminar International Austronesia IV di Denpasar

Sudipa, I Nengah. 2008. Verba Persepsi Bahasa Bali : Tinjauan MSA. Artikel pada jurnal pustaka : Jurnal Ilmu-ilmu budaya. Vol. IX No 1

Sudipa, I Nengah. 2010. Struktur Semantik Bahasa Bali dari Masare- Majujuk. Disajikan pada Seminar International Bahasa dan Budaya Austronesia, 19-20 Jili 2010. denpasar.

Sudipa, I Nengah dan I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini. 2010. The English Mental Predicate ”KNOW” An NSM Approach. Majalah PUSTAKA: jurnal Ilmu-ilmu Budaya, No. 2, Vol.X.

Tamelan, Thersia, Grimes, Barbara. 2010. How do you kill a horse? Collocational-Restrictions in Dela-Oenale. Kupang : Language and Culture Unit

Tamelan, Thresia.2010. Aspect and mood in Dela-Oenale : a Language Spoken in Western Rote Indonesia. Kupang : Language and Culture Unit.

UKAW. 2002. Ethnologue-language of the world. 16th edition

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Valin, Van Robert Jr dan Raudy J. La Polla. 1999. Syntax. Structure and Meaning. Cambridge : Cambridge University Press

Wierzbicka, Anna. 1996. Semantic : Primes and Universal. Oxford : Oxford University Press

Wierzbicka, Anna. 1999. Emotins Across Language and Cultures: Diversity and Universals. Cambridge : Cambridge University Press

Yoon, Kyung-Joo. 2001. The Semantic Primes THIS in Korean. Proceeding of the 2001 conference of the Australian Linguistic Society Australian [cited 24 november 2003] available from : http:/www.google.com.