Posts Tagged ‘Kurniawan’

Studi Kasus Pemerolehan Bahasa Anak Usia 2 Tahun Hasil Pernikahan Pasangan Beda Daerah: Kajian Fonologi (Fonetik Artikulatoris)

Kurniawan

Universitas Mataram

 

Abstrak

Studi kasus pemerolehan bahasa pada anak laki-laki berusia dua tahun yang merupakan hasil pernikahan pasangan beda daerah. Digunakan kajian fonologi pada aspek fonetik artikulatoris untuk menguraikan data kebahasaan. Menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode lapangan. Pemerolehan bahasa banyak dipengaruhi lingkungan keluarga. Tampaknya anak pada usia dua tahun menghasilkan pelesapan dan perubahan bunyi terhadap bahasa yang diujarkan. Hasil analisis menunjukkan bentuk pelesapan bunyi dipengaruhi ketidaksempurnaan alat ucap serta cara mengartikulasikannya sedangkan perubahan bunyi terkait rangkain tahapan pemerolehan bahasa yang sempurna.

 

Kata kunci: studi kasus, pemerolehan bahasa, fonologi

 

Abstract

Case studies of language acquisition in boys aged two years is the result of the wedding couple different areas. Used phonological studies on aspects of articulatory phonetic language to decipher the data. Descriptive qualitative approach with field methods. Language acquisition greatly influenced the family environment. It seems that children at the age of two years resulted in deletion and change the sound of the language uttered. The analysis showed deletion forms influenced sound imperfections said tool and how to articulate while the sound changes associated string of perfect stages of language acquisition.

 

Keywords: case studies, language acquisition, phonology

 

PENDAHULUAN

Bahasa telah menjadi sarana paling efektif yang dimiliki manusia. Pantaslah dijadikan alat komunikasi untuk menyampaikan maksud pada orang lain. Menyangkut pikiran, perasaan, gagasan, dan sebagainya dalam berbagai interaksi antarsesama manusia. Dengan demikian, harus diakui bahwa bahasa telah memainkan peran penting dalam kehidupan manusia.

Pada perkembangannya, sudut pandang terhadap dinamika bahasa manusia telah menjadi perhatian bagi para pakar serta peneliti. Termasuk yang paling disoroti menyangkut awal mula pemerolehannya. Disebabkan tahapan tersebut memiliki keunikan sebelum mencapai bahasa yang sempurna. Hal tersebut dapat diperhatikan dari wujud artikulasi dalam proses awal pemerolehan bahasa seorang anak. Begitu tampak berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang dewasa. Oleh karena itu, orang-orang yang berada di lingkungan sekitar anak selalu takjub terhadap pemerolehan bahasa yang “ajaib” tersebut.

Proses pemerolehan bahasa pada anak menarik untuk dicermati serta diteliti secara intensif oleh berbagai pihak. Termasuk penelitian yang dilakukan terhadap seorang anak laki-laki berusia 2 tahun hasil pernikahan antara orang Lombok (laki-laki) dengan orang Dompu (perempuan) yang berbeda latar belakang suku, budaya, dan bahasa. Dengan perbedaan tersebut, maka kontak budaya dan bahasa tidak dapat dihindari oleh pasangan suami-istri tersebut. Mengakibatkan anak yang dihasilkan dari pasangan pernikahan beda daerah akan mengalami kesulitan menguasai bahasa yang menjadi latar belakang asal kedua orangtuanya. Dalam hal memilih bahasa dari pihak Ibu atau bahasa dari pihak Ayah yang akan menjadi awal pemerolehan bahasa bagi si anak. Biasanya yang terjadi yakni anak diajarkan pada penggunaan bahasa yang netral dari bahasa kedua orang tuanya. Oleh karena demikian, bahasa Indonesia menjadi pilihan bagi orang tua yang memiliki latar belakang pernikahan berbeda suku, budaya, dan bahasa terhadap proses awal pemerolehan bahasa untuk anaknya .

Secara realitas, proses pemerolehan ataupun penguasaan bahasa seorang anak merupakan sesuatu yang menakjubkan. Pada prosesnya, pemerolehan bahasa tetap menjadi suatu isu disebabkan belum ada pembuktian yang akurat. Muncul berbagai pandangan tentang pemerolehan bahasa, seperti dinyatakan Dardjowidjojo (2003:225) bahwa pemerolehan menyangkut proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Sedangkan menurut Maksan (1993:20), pemerolehan bahasa merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seorang anak secara tidak sadar, implisit, dan informal. Pendapat lain, Chaer (2003:167) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pandangan berbeda muncul dari Tarigan (2011:5) bahwa pemerolehan bahasa anak mempunyai ciri berkesinambungan serta rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Dari berbagai pandangan tersebut, dapat dinyatakan bahwa semuanya pandangan para pakar tersebut masih merupakan sebuah hipotesis. Sebab belum ada seorangpun (para pakar) yang dapat memastikan manifestasi proses berpikir seorang anak dalam pemerolehan bahasanya.

Adapun hal paling nyata terkait pemerolehan bahasa seorang anak sangat bergantung pada berbagai sumber serta cara mendapatkannya. Seperti dinyatakan Tarigan (2011:5) bahwa pemerolehan bahasa banyak ditentukan oleh interaksi rumit aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial. Perihal tersebut terkait pernyataan Slobin (dalam Tarigan, 2011:5), pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa dibangun sejak semula oleh setiap anak dan memanfaatkan aneka kapasitas bawaan sejak lahir yang beragam dalam interaksinya dengan pengalaman-pengalaman dunia fisik dan sosial.

Terkait unsur biologis yang dipandang dapat membantu pemerolehan bahasa seorang anak. Diasumsikan bahwa proses pemerolehan bahasa sebagai hasil interaksi antara kemampuan mental seorang anak dengan lingkungan bahasa. Terdapatnya kemampuan internal yang telah ada dengan sesuatu yang “baru” diterima seorang anak. Pernyataan tersebut menyangkut bagian yang dimiliki seorang anak sejak lahir berupa language acquisition device (LAD) atau “sarana pemerolehan bahasa”. Sejak lahir anak telah dibekali kecerdasan termasuk kemampuan berbahasa (Campbel, dkk, 2006:2-3). Akan tetapi, hal itu tidak akan berarti jika tanpa adanya penerimaan seorang anak terhadap lingkungan bahasa disekitarnya. Oleh karena lingkungan menjadi faktor yang dapat memperngaruhi kemampuan berbahasa seorang anak (Campbel, dkk, 2006:2-3). Keduanya perlu menjadi pertimbangan dalam upaya membantu pemerolehan bahasa seorang anak. Dapat diistilahkan sebagai faktor internal (kemampuan mental) dan faktor eksternal (lingkungan bahasa). Dengan demikian, diperlukan keseimbangan antara kedua faktor tersebut agar dapat menghantarkan seorang anak memperoleh kematangan berbahasa. Dapat disimpulkan bahwa kematangan biologis mencoba memadukan kedua faktor dalam usahanya mencapai pemerolehan “kematangan” bahasa seorang anak.

Pada perspektif kognitif banyak menitikberatkan pada pemikiran Piaget, seorang pakar dari Universitas Geneva, Swiss. Piaget memandang pemerolehan bahasa seorang anak memiliki korelasi dengan perkembangan kognisi. Oleh sebab itu, para pihak yang terlibat dengan anak dianjurkan memperhatikan tahapan dalam perkembangan kognisinya. Menurut Chaer (2003:223), urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa. Perihal tersebut memang beralasan sebab tahapan yang merupakan proses yang harus dilalui seorang anak tidak dapat dipaksakan secepat mungkin untuk menghasilkan “kemampuan” berbahasanya. Namun, seorang anak tetap secara bertahap dalam proses pemerolahan bahasanya. Dengan mencermati perkembangan kognisi, maka dapat diperhatikan peningkatan kemampuan bahasa seorang anak. Oleh karena demikian, hubungan perkembangan kognisi dengan proses pemerolehan bahasa seorang anak telah membentuk ikatan komplementer. Seperti yang digambarkan Piaget (dalam Tarigan, 2011:41) melalui rancangan tahap-tahap perkembangan bahasa seorang anak. Adapun tahapan yang dimaksud, meliputi: a) pralinguistik I – tahap meraban antara usia 0 – 0,5 tahun, b) pralinguistik II – tahap meraban dengan kemunculan kata nonsense dimulai antara usia 0,5  – 1 tahun, c) liguistik I – tahap kalimat satu kata antara usia 1 – 2 tahun, d) linguistik II – tahap kalimat dua kata dimulai antara usia 2 – 3 tahun, e) linguistik III – tahap pengembangan tata bahasa antara usia 3 – 4 tahun, f) linguistik IV – tahap tata bahasa pradewasa dimulai antara usia 4 – 5 tahun, dan g) linguistik V – merupakan tahap kompetensi penuh dimulai antara usia 5 tahun dan seterusnya. Sesungguhnya pembagian tahapan oleh Piaget dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terlibat dengan pemerolehan bahasa anak, termasuk orang tua.

Sesuatu yang tidak dapat disepelakan dalam proses pemerolehan bahasa seorang anak berupa keberadaan lingkungan sosial. Diduga banyak mempengaruhi pemerolehan bahasa seorang anak, khususnya lingkungan keluarga terutama keberadaan seorang Ibu yang senantiasa dekat dengan anak. Seperti dinyatakan Dardjowidjojo (2003:241) bahwa bahasa seorang Ibu dianggap mendominasi pengaruh pemerolehan bahasa anak. Melalui interaksi secara intensif antara anak dan Ibu, maka membuka peluang hadirnya stimulus dalam proses pemerolehan bahasa. Akan tumbuh kemampuan seorang anak untuk menghasilkan tuturan secara bertahap serta dikemudian hari dapat memahami tuturan orang lain. Oleh karena demikian, betapa sangat penting interaksi seorang anak dengan lingkungan sosial (terutama Ibu sebagai orang tua) dalam rangka “membantu” pemerolahan bahasanya. Oleh sebab kehadiran orang tua (Ibu) merupakan pemrakarsa untuk mendampingi anaknya dalam berkomunikasi. Dengan demikian, orang tua akan selalu mengasah kemampuan berbahasa dalam proses pemerolehan bahasa anak. Dalam praktiknya, proses pemerolehan bahasa seorang anak dapat dioptimalkan melalui interaksi komunikasi yang intensif dengan lingkungan sosial terutama keluarga. Pada akhirnya dapat membantu perkembangan kognisi serta kematangan bahasa seorang anak. Serta menghasilkan pola-pola berkomunikasi yang mengarah bahasa orang dewasa. Dapat dinyatakan bahwa keaktivan interaksi seorang anak dengan lingkungan sosial (keluarga) dapat meningkatkan kematangan pemerolehan bahasa seperti orang dewasa.

Dicermati dari aspek biologis, kognisi, serta sosial terhadap pemerolehan bahasan seorang anak. Ketiganya cenderung menitikberatkan pada interaksi terhadap lingkungan untuk membentuk kematangan bahasa seorang anak pada usia dini. Oleh karena demikian, peran lingkungan (khususnya keluarga) secara signifikan memberikan dominasi terhadap perkembangan bahasa seorang anak. Keberadaan lingkungan sebagai bentuk penguatan untuk tingkah laku bahasa (Skinner dalam Pateda, 1990:43). Munculnya penguatan karena dipengaruhi adanya interaksi seorang anak dengan lingkungannya. Menunjukkan suatu pengkondisian, terdapatnya stimulus dari lingkungan yang dapat menimbulkan respon seorang anak sebagai penerima. Oleh karena itu, ketika terjadi perubahan lingkungan, maka dapat mempengaruhi perasaan serta pikiran terhadap prilaku berbahasa seorang anak secara bertahap. Adanya stimulus-respon, berpeluang mengarahkan pemerolehan bahasa seorang anak melalui proses pengulangan. Menurut Pateda (1990:45), hal itu dilakukan sebagai wujud peniruan karena berulangnya frekuensi satu kata dan urutan kata yang selalu diucapkan anak.

Mencermati situasi tersebut, dianjurkan lingkungan (keluarga) anak sejak awal membentuk perilaku berbahasa secara baik serta positif. Namun yang harus diperhatikan oleh lingkungan bahwa pemerian penguatan berkala perlu disesuaikan dengan kemampuan kognisi anak. Agar seorang anak efektif dalam proses pemerolehan bahasanya. Menurut Pateda (1990:51) bahwa adanya gagasan pemerolehan bahasa anak yang menekankan proses latihan dalam bentuk pertanyaan (stimulus orang tua) karena dapat memunculkan suatu jawaban (respon anak).  Oleh sebab itu, dianjurkan pertanyaan yang diajukan mulai dari bentuk yang sederhana sampai pada kategori rumit. Dengan pertanyaan yang tepat sesuai tingkat kognisi yang dimiliki, maka anak dapat memberikan tanggapannya. Dengan demikian, proses membiasakan (stimulus-respon) dari lingkungan khususnya keluarga dapat membantu seorang anak memperoleh kematangan bahasa.

Sesungguhnya proses pemerolehan bahasa seorang anak memunculkan bunyi-bunyian, yang berawal dari pralinguistik menuju linguistik. Menandakan kehadiran struktur tata bahasa di dalam proses tersebut, perihal proses pralinguistik menjadi linguistik yang dimaksud, yakni: 1) pengocehan (babbling) – bunyi-bunyi yang berwujud teriakan, rengekan, atupun tangisan terkait suku kata tunggal. Terdapat beberapa ahli yang berbeda pendapat tentang usia anak pada tahap ocehan. Seperti pandangan Mar’at (2005:43), bahwa tahap ocehan terjadi pada usia antara 5 dan 6 bulan. Sedangkan Dardjowidjojo dan Atmaja (2000: 244) menyatakan bahwa tahap celoteh terjadi sekitar umur 6 bulan. Adanya perbedaan usia anak berceloteh sangat bergantung pada situasi perkembangan neurologi seorang anak. Namun yang paling penting untuk diingat bahwa seorang anak pada fase pengocehan sangat menyukai objek berbentuk gambar. Menurut Trevar (dalam Tarigan, 2011:17), sang anak akan memberi respon yang berbeda-beda terhadap orang dan objek “bergambar”. 2) satu kata (holofrastis) – berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Situasi ujaran yang dihasilkan seorang anak akan mengandung kata-kata tunggal karena mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Seorang anak terus menerus berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang di dunia (Tarigan, 2011:18). Mulailah  seorang anak menggunakan serangkaian bunyi secara berulang-ulang untuk mengemukakan gagasan pada makna yang sama maupun berbeda. Oleh karena demikian, anak mulai mengerti bahwa bunyi ujaran berkaitan dengan ekspresi pesan yang disampaikan pada orang lain (Indah, 2011:32). Pada proses tersebut, seorang anak sudah mengucapkan pengembangan kata-kata yang pertama. Dari ucapan yang dihasilkan dalam kosakata permulaan dapat muncul berbagai tipe kata. Seperti dinyatakan Tarigan (2011:18), seorang anak dapat mencari dan menemukan kata: tindak (makan, minum, duduk, dsb), ekspresi sosial (hei, halo, dsb), lokasional (di sini, di sana, dsb), dan pemerian (panas, dingin, dsb) 3) dua kata – dapat berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Menurut Tarigan (2011:21) hal tersebut merupakan kesinambungan dalam makna anak-anak pada ujaran satu kata yang menjadi ujaran kombinasi untuk mengekspresikan makna-makna mereka. Dengan demikian, ujaran seorang anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Memperlihatkan bahwa seorang anak sudah dapat berpikir melalui penggunaan subjek dan predikat. Walaupun pada penggunaan infleksi, kata ganti orang, dan sebagainya belum dapat dilakukan (Tarigan, 2011:20). 4) telegram (telegraphic speech) – mulai pada usia 2 dan 3 tahun. Sebab anak akan mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances). Pada proses selanjutnya, seorang anak dapat membentuk kalimat serta mengurutkan bentuk-bentuknya dengan benar. Kosakata yang dihasilkan anak berkembang dengan pesat. Dampaknya, bahasa yang diujarkan seorang anak semakin mirip dengan bahasa orang dewasa.

Pralinguistik menjadi linguistik terkait proses perkembangan pemerolehan bahasa seorang anak. Perubahan pralinguistik menjadi linguistik karena adanya penguatan dari interaksi seorang anak dengan lingkungan sosial sebagai lingkungan bahasa. Dalam istilah Bruner (dalam Tarigan, 2011:68) sebagai sistem pendukung pemerolehan bahasa (language-acquisition support system atau LASS). Dalam hal ini yang paling menonjol yakni kehadiran lingkungan keluarga, memungkinkan dapat membantu secara optimal dalam pemerolehan bahasa seorang anak. Semakin tinggi tingkat interaksi seorang anak dengan lingkungan keluarga, maka semakin besar peluang dalam pemerolehan bahasanya, begitupun sebaliknya. Pada perkembangannya, peranan yang dilakukan lingkungan keluarga pada anak dalam pemerolehan bahasanya akan mengasah kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain di luar dari lingkungannya.

Seorang anak dalam merealisasikan proses pemerolehan bahasa tentu memiliki strategi tersendiri. Akan menyesuaikan dengan tingkat usia serta perkembangan kognisinya. Secara umum terdapat empat strategi pemerolehan bahasa seorang anak, meliputi: peniruan, produktivitas, umpan balik, dan prinsip operasi. Adanya strategi yang dimaksud sebagai orientasi yang secara sistematis dilakukan seorang anak dalam pemerolehan bahasa serta mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dengan lawan tutur. Untuk menguatkan pernyataan tersebut, dapat mengacu pada pandangan Chomsky. Terdapat dua proses yang muncul ketika pemerolehan bahasa seorang anak dimulai. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Adapun yang dimaksud kompetensi yakni proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik) seorang anak secara tidak disadari – “bakat” yang dibawa setiap anak sejak lahir. Akan tetapi, kompetensi perlu mendapatkan bimbingan, dalam hal ini tentu dari lingkungan sosial (khususnya keluarga). Pada akhirnya seorang anak dapat menghadirkan performansi dalam berbahasa. Namun yang perlu dipahami bahwa kedua proses tersebut memiliki perbedaan yang menonjol. Jika eksistensi kompetensi merupakan pengetahuan intuitif yang dimiliki seorang anak terkait bahasa ibunya. Sedangkan performansi menyangkut kemampuan anak menggunakan bahasa dalam rangka berkomunikasi dengan lingkungannya. Oleh karena berkomunikasi dibutuhkan dua proses yakni pemahaman dan pemroduksian bahasa. Menurut Chaer (2003:167), proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi ujaran yang didengar, sedangkan proses penerbitan (pemroduksian) melibatkan kemampuan menghasilkan bahasa sendiri.

Berdasarkan uraian tersebut, bahwa bahasa yang diperoleh seorang anak karena terdapatnya proses mental yang telah ada lalu diperkuat melalui interaksi dengan lingkungan sosial (bahasa) serta terbantu oleh perkembangan kognisinya. Perihal tersebut dapat memberi pemahaman bagi peneliti dalam upaya mengetahui pemerolahan bahasa anak. Oleh karena demikian, penelitian yang dilakukan perlu mencari informasi tentang sumber-sumber pemerolehan bahasa anak. Sebagai pembuktian secara empiris terhadap penyataan yang dikemukakan oleh para pakar. Akan tetapi, fokus utama tetap tertuju pada studi kasus terhadap wujud pemerolehan “bunyi” bahasa seorang anak berusia 2 tahun. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan mengkaji dari bidang fonologi terkait fonetik artikulatoris .

 

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Sesungguhnya fonologi sebagai satuan bahasa yang mendeskripsikan bunyi bahasa. Beberapa para ahli telah mengemukakan tentang fonologi sebagai ilmu tentang bunyi. Seperti pandangan Verhaar (2012:9) yang menyatakan bahwa fonologi merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa. Sementara menurut Chaer (2013:3) fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Sedangkan KBBI (2008:244) mendefinisikan fonologi sebagai ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi bahasa terkait ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Bidang fonologi terdapat dua jenis kajian yakni fonetik dan fonemik. Namun, penelitian yang dilakukan hanya mengkhususkan pada aspek fonetik. Dalam rangka mencermati bunyi bahasa yang diujarkan serta menyikapi asumsi adanya pelesapan dan perubahan yang terjadi ketika anak menuturkan bunyi bahasa. Diketahui bahwa fonetik sebagai bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari atau menyelidiki bunyi bahasa yang diproduksi oleh manusia tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (Marsono, 2008:2). Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Chaer (2013:4), fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujar yang tidak memiliki fungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan Verhaar (2012:10) bahwa fonetik merupakan cabang linguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa yang lebih terfokus pada sifat-sifat akusifnya atau pelafalanya. Sementara menurut Muslich (dalam Sulastri, 2013), fonetik sebagai bidang kajian ilmu pengetahuan yang menelaah tentang bunyi-bunyi bahasa dalam ujaran manusia. Dengan demikian, fonetik hanya membedakan bunyi ujaran yang dihasilkan.

Penelitian terhadap pemerolehan bahasa seorang anak yang berusia 2 tahun difokuskan pada aspek fonetik yang menitikberatkan pada segi artikulatoris. Adapun fonetik artikulatoris hanya mendeskripsikan mekanisme alat-alat ucap manusia dalam menghasikan bunyi bahasa. Lebih lanjut, mendeskripsikan cara membentuk dan mengucapkan bunyi bahasa serta pembagian bunyi bahasa dan pengartikulasiannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa fonetik artikulatoris hanya sebatas lingkup linguistik teoretis.

Difokuskan penelitian pada aspek fonetik artikulatoris, didasari ketertarikan peneliti untuk mengetahui serta mengemukakan tentang bentuk “keanehan” pemerolehan bahasa terhadap bunyi yang dihasilkan seorang anak berusia 2 tahun. Memahami bunyi merupakan sesuatu hal yang dipandang penting dalam proses awal pemerolehan bahasa seorang anak (Samsuri dalam Sulastri, 2013). Oleh karena demikian, perlu dilakukan identifikasi serta pendataan terhadap bunyi-bunyi bahasa yang tidak lazim dalam menghasilkan sebuah kata. Selanjutnya menyikapi adanya pelesapan dan perubahan bunyi terhadap kata yang dituturkan. Melalui proses tersebut, maka peneliti dapat menguraikan wujud bunyi bahasa serta bentuk pelesapan dan perubahan yang dihasilkan oleh anak yang dijadikan subjek penelitian. Pada akhirnya, peneliti dapat mengetahui seberapa baik tingkat kematangan bunyi bahasa yang dimiliki seorang anak pada usia 2 dalam proses pemerolehannya.

Asumsi penelitian yang dilakukan, bahwa anak yang masih berusia antara 2 tahun menghasilkan bunyi bahasa yang “tidak biasa” atau berbeda dengan bahasa yang dituturkan oleh orang dewasa. Disebabkan seorang anak belum mencapai tahap kesempurnaan pada alat ucapnya. Biasanya seorang anak akan menggunakan bunyi yang telah dikuasainya serta mudah diujarkan untuk mengganti bunyi yang belum dipelajari. Menurut Werdiningsih (2002:6) bahwa pemerolehan bunyi bahasa melalui beberapa tahapan. Oleh karenanya seorang anak harus selalu intensif menuturkan bunyi bahasa agar dapat menguasai bahasa secara sempurna seperti orang dewasa. Menurut Samsuri (dalam Sulastri, 2013) bahwa penguasaan bunyi dipandang penting dalam pembelajaran bahasa dan penelitian bahasa. Dapat dinyatakan bahwa seorang anak berusia 2 tahun masih dalam proses menghasilkan bunyi bahasa yang sempurna.

Studi kasus terhadap pemerolehan bahasa seorang anak yang berusia 2 tahun dengan menyoroti pada bidang fonologi (fonetik artikulatoris). Penelitian berlandaskan pandangan para pakar yang mengemukakan tentang fonologi, khususnya fonetik artikulatoris serta penyebab terjadinya gejala pelesapan dan perubahan bunyi bahasa. Oleh karena demikian,  untuk memahami tujuan yang dimaksud maka pijakan teoretis yang digunakan meliputi pandangan Werdiningsih (2002) dalam bukunya “Dasar-dasar Psikolinguistik”, Mar’at (2005) dalam bukunya “Psikolinguistik: Suatu Pengantar”, Marsono (2008) dalam bukunya “Fonetik: Seri Bahasa”, Chaer (2013) dalam bukunya “Fonologi Bahasa Indonesia”, dan  Muslich (2014) dalam bukunya “Fonologi Bahasa Indonesia”.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, bertujuan menggambarkan objek apa adanya (Sugiyono, 2010:59). Adapun yang menjadi subjek penelitian yakni seorang anak bernama Mirza Ukail (disapa Mirza), yang berusia antara 2 tahun. Merupakan hasil pernikahan pasangan yang memiliki latar belakang perbedaan daerah (Lombok dan Dompu). Untuk mendata pemerolehan bahasa yang telah dimiliki oleh Mirza. Proses pengumpulan data penelitian dilakukan menggunakan metode lapangan melalui observasi, perekaman, dan wawancara terhitung tanggal 16 – 22 Desember 2014, dikediaman Mirza yang beralamat di BTN Blencong Jalan Blusafir Blok I No. 1 Gunungsari Lombok Barat, NTB. Dengan demikian, peneliti merupakan instrumen utama dalam mengumpulkan data terhadap pemerolehan bahasa. Untuk mendapatkan data yang akurat, maka peneliti menggunakan instrumen pendukung berupa alat perekam, pulpen, dan buku catatan. Setelah data rekaman diperoleh, maka data ditranskripkan ke dalam bentuk tulisan agar mempermudah menelaah dan mendeskripsikan bahasa yang dituturkan oleh Mirza. Selanjutnya bahasa tersebut dikaji secara fonologi khususnya aspek fonetik artikulatoris. Selain itu, untuk memperkaya penelitian maka dikemukakan informasi tentang sumber pemerolehan bahasa Mirza berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan orang yang ada di lingkungan keluarga (tempat tinggal  Mirza).

 

TEMUAN

  1. Informan Penelitian

Seorang anak laki-laki yang bernama Mirza Ukail, kerap dipanggil dengan sapaan Mirza. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Abdul Azis dan Omi Nova, lahir pada tanggal 19 Desember 2012. Profesi Ayahnya sebagai seorang Kontraktor dan Ibunya seorang Bidan. Berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas yang dilakukan, Mirza senang bergerak dan mengoceh terhadap objek yang dilihat serta ditemukan. Oleh sebab itu, Mirza dapat dikategorikan sebagai anak yang lincah dan aktif. Paling mengejutkan berdasarkan informasi yang diperoleh, bahwa Mirza selalu tidur malam paling cepat pukul ± 01.00 dini hari – diisi dengan kegiatan bermain.

Di lingkungan keluarga, ternyata Mirza hanya ditemani Ibu dan Neneknya sedangkan Ayahnya masih bekerja di Kalimantan. Sehingga interaksi Mirza dan Ayahnya hanya melalui telepon. Dengan demikian, Ibu dan Nenek menjadi orang yang paling dekat dengan Mirza. Namun, orang yang paling intensif berkomunikasi dengan Mirza yakni Neneknya dibandingkan Ibunya. Dalam keseharian, bahasa Indonesia menjadi media berinteraksi pada lingkungan keluarga tersebut. Oleh karena itu, pemerolehan bahasa Mirza tentu menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa yang menjadi latar belakang kedua orang tuanya.

  1. Sumber Pemerolehan Bahasa Mirza Ukail

Oleh karena Mirza merupakan tipe anak yang aktif serta lincah. Hal itu sangat membuat kewalahan Nenek serta Ibunya. Lalu Mirza dibatasi area bermain, hanya di rumah dan jarang berinteraksi dengan teman sebaya. Adapun pemerolehan bahasa Mirza lebih banyak diperoleh dari Nenek, Ibu, dan media televisi yang ditonton sehari-hari. Dalam penguasaan bahasa, Mirza selalu merespon (fase peniruan dan melafalkan) terhadap segala sesuatu bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh objek yang diamati (Nenek, Ibu maupun media). Tampak terasa dari perbendaharaan kata yang terus meningkat karena bermula dari pengulangan kata-kata yang didengar serta dihasilkan sendiri. Sedangkan dari sisi bunyi bahasa yang diujarkan, kata yang dituturkan oleh Mirza belum terdengar secara jelas.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dinyatakan sumber pemerolehan Mirza dari lingkungan bahasa banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Selain itu, terdapat pula bahasa yang dihasilkan sendiri – mental serta perkembangan kognisi. Terkait lingkungan keluarga sebagai sumber pemerolehan bahasa, karena tempat tersebut  bahasa didengar serta diajarkan sehari-hari. Dengan demikian, pengaruh lingkungan kelurga sangat dominan, khususnya sang Nenek. Serta kecenderungan pemerolehan bahasa oleh Mirza pada usia 2 tahun berada pada tahap peralihan satu kata ke dua kata. Namun pada situasi tertentu, sesekali mengungkapkan tiga kata.

  1. Data Pemerolehan “Bunyi” Bahasa Mirza Ukail

Setelah dilakukan penelitian selama satu pekan terhitung mulai tanggal 16 – 22 Desember 2014. Pada rentang tanggal tersebut, pengumpulan data terhadap pemerolehan bahasa Mirza dilakukan secara sporadis. Namun, tidak menghilangkan esensi dari tujuan penelitian yang ingin mengumpulkan bunyi bahasa atau pembendaharaan kosa kata yang dimiliki Mirza untuk dikaji secara fonologi, khususnya pada aspek fonetik artikulatoris. Pada proses selanjutnya, hasil transkripsi rekaman lalu dipilah dengan hanya menfokuskan pendataan pada kata yang mengalami pelesapan dan perubahan bunyi bahasa. Adapun data tentang bunyi bahasa yang diujarkan oleh Mirza dimasukkan ke dalam tabel serta disusun sesuai abjad. Daftar kaka-kata yang dimaksud dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Kata yang Benar Bunyi Bahasa oleh Mirza Pelesapan Bunyi Perubahan Bunyi
air ai [r]
mangga angga [m]
halo alo [h]
hape ape [h]
sate ate [s]
awas awa [s]
batuk batu [k]
bebek bεbε [?]
bundar bunda [r]
duduk dudu [?]
empat empah <t> menjadi [h]
enak ena [?]
gatal gata [l]
hujan hujah <n> menjadi [h]
ikan ikah <n> menjadi [h]
biru iru [b]
burung iyuh [b] <u> menjadi [i] dan

<r> menjadi [y]

jajan jacan [n] <j> menjadi [c]
jatuh jatu [h]
kakak kaka [?]
kotor koto [r]
merah melah <r> menjadi [l]
motor moto [r]
naik nai [k]
nenek nεnε [?]
gerobak oba [g], [ə], [r], [k]
mobil obi [m], [l]
orang olah, oyah <r> menjadi [l] dan [y]
lompat ompa [l], [t]
sepeda peda [s], [ə]
sakit saki [t]
senang sənan [g]
sungguh sunggu [h]
suap uap, sua [s] atau [p]
bunga unga [b]
quran ura [q], [n]

 

Mengacu data pada tabel di atas, telah teridentifikasi pelesapan dan perubahan bunyi bahasa yang dihasilkan Mirza. Tampak pelesapan lebih dominan dibandingkan perubahan dalam bunyi bahasa. Pada pelesapan bunyi bahasa dalam berbagai variasi kata, yang tidak muncul seperti [b], [ə], [g], [h], [?], [l], [m], [n], [p], [q], [r], [s], dan [t]. Sedangkan untuk perubahan bunyi bahasa terdapat kemunculan bunyi [c], [h], [i], [l], [y], dan [h].

 

 

PEMBAHASAN

Setelah diketahui bentuk kata yang diujarkan oleh Mirza telah mengalami gejala pelesapan dan perubahan bunyi bahasa. Dengan demikian, diperlukan pemaparan terhadap pelesapan dan perubahan bunyi bahasa tersebut. Perihal yang dimaksud dapat mengacu pada pandangan para pakar dalam menjelaskan permasalahan pelesapan dan perubahan bunyi. Dua hal tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pelesapan Bunyi

Posisi alat ucap serta cara artikulasi merupakan bagian pembahasan dari fonetik artikulatoris. Oleh karena itu, pelesapan bunyi terhadap kata yang diujarkan oleh Mirza dapat dideskripsikan berdasarkan bentuk alat ucap serta cara artikulasi yang dikemukakan oleh para pakar (Mar’at, Marsono, Chaer, dan Muslich).

  1. Pelesapan bunyi [b] yang terdapat pada kata <biru> menjadi [iru] dan kata <buruh> menjadi [iyuh]. Dapat dinyatakan bahwa Mirza mengalami kesulitan menghasilkan konsonan hambat letup bersuara bilabial melalui bunyi [b] di awal kata.
  2. Pelesapan bunyi vokal [ə] pada kata <gərobak> menjadi [oba] dan <səpeda> menjadi [peda]. Hal tersebut menunjukkan bahwa Mirza masih kesulitan membunyikan vokal [ə] yang berada di tengah kata. Diketahui bunyi [ə] merupakan vokal pusat tengah tidak bundar yang berentetan dengan konsonan hambat letup bersuara dorso velar melalui bunyi [g] dan konsonan frikatif tidak bersuara lamino alveolar pada bunyi [s].
  3. Pelesapan bunyi [g] pada kata <gərobak> menjadi [oba], dan <sənah> menjadi [sənan]. Dengan demikian, Mirza mengalami kesulitan memunculkan konsonan hambat letup bersuara dorso velar pada bunyi [g] yang terdapat di awal dan akhir kata.
  4. Pelesapan bunyi [h] terdapat pada kata <halo> menjadi [alo], <hape> menjadi [ape], <jatuh> menjadi [jatu], dan <suhguh> menjadi [suhgu]. Hal ini menandakan bahwa Mirza mengalami kesulitan untuk menghasilkan konsonan frikatif tidak bersuara maupun bersuara laringal pada bunyi [h] di awal dan akhir kata.
  5. Pelesapan bunyi [?] pada kata <batu?> menjadi [batu], <bεbε?> menjadi [bεbε], <dudu?> menjadi [dudu], <ena?> menjadi [ena], <kaka> menjadi [kaka], <nai?> menjadi [nai], dan <nεnε?> menjadi [nεnε]. Dapat dinyatakan bahwa Mirza masih kesulitan untuk mengungkapkan konsonan hambat letup bersuara dan tidak bersuara glotal hamzah melalui bunyi [?] yang terdapat pada akhir kata. Demikian pula pada kata <gərobak> menjadi [oba], Mirza juga mengalami kesulitan untuk munculnya bunyi [k] di akhir kata, yang merupakan konsonan hambat letup tidak bersuara dorsovelar.
  6. Pelesapan bunyi [l] terdapat pada kata <gatal> menjadi [gata], <mobil> menjadi [obi], dan <lompat> menjadi [ompa]. Hal itu menunjukkan bahwa Mirza mengalami kesulitan dalam menghasilkan konsonan lateral bersuara apiko alveolar pada bunyi [l] yang terdapat di awal maupun akhir kata.
  7. Pelesapan bunyi [m] pada kata <mangga> menjadi [angga], dan <mobil> menjadi [obi]. Dengan demikian, Mirza masih kesulitan untuk menghasilkan konsonan nasal bersuara bilabial pada bunyi [m] di awal kata.
  8. Pelesapan bunyi [n] terdapat pada kata <quran> menjadi [ura]. Hal itu menandakan bahwa Mirza belum dapat menghadirkan konsonan nasal bersuara apiko alveolar pada bunyi [n] yang terdapat di akhir kata.
  9. Pelesapan bunyi [p] pada kata <suap> menjadi [sua]. Hal tersebut menunjukkan bahwa Mirza masih kesulitan memunculkan konsonan hambat letup tidak bersuara bilabial melalui bunyi [p] pada akhir kata.
  10. Pelesapan bunyi [q] pada kata <quran> menjadi [ura]. Perihal tersebut belum dapat dijelaskan sebab bunyi [q] tidak termasuk bunyi konsonan dalam bahasa Indonesia.
  11. Pelesapan bunyi [r] yang terdapat pada kata <air> menjadi [ai], <kotor> menjadi [koto], <motor> menjadi [moto], dan <gərobak> menjadi [oba]. Oleh karena demikian, Mirza mengalami kesulitan dalam mengungkapkan konsonan getar apiko alveolar melalui bunyi [r] di awal maupun tengah kata.
  12. Pelesapan bunyi [s] pada kata <sate> menjadi [ate], <awas> menjadi [awa], dan <suap> menjadi [uap]. Oleh karena demikian, Mirza masih kesulitan untuk menghadirkan konsonan frikatif tidak bersuara lamino alveolar melalui bunyi [s] yang terdapat di awal kata.

Berdasarkan hasil deskripsi tersebut, dapat dinyatakan bahwa alat ucap serta cara artikulasi Mirza masih belum berada pada tahap kesempurnaan sehingga selalu mengalami kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi tertentu, baik berada di awal, tengah, maupun akhir kata. Oleh karenanya, bunyi bahasa yang dihasilkan Mirza tentu berbeda dengan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh orang dewasa. Sebab Mirza masih melakukan pelesapan bunyi bahasa terhadap kata-kata yang diujarkan. Hal itu tampak dari pelesapan bunyi [ə], konsonan hambat letup ([p], [b], [g], dan [?] atau [k]), konsonan frikatif ([s] dan [h]), konsonan nasal melalui bunyi [m], konsonan lateral melalui bunyi [l], serta konsonan getar melalui bunyi [r], yang seharusnya dibunyikan pada berbagai variasi kata yang menjadi data. Menunjukkan bahwa belum sempurnanya pembentukan alat ucap serta cara mengartikulasikan sehingga mengakibatkan Mirza “terpaksa” melakukan pelesapan beberapa bunyi terhadap kata-kata yang diujarkan. Menurut (Mar’at 2005:46-47) bahwa proses penyederhanaan disebabkan oleh memory span yang terbatas, kemampuan representasi yang terbatas, kepandaian artikulasi yang terbatas.

Mencermati hasil deskripsi data pemerolehan bahasa dikaji secara fonologi yang menitikberatkan pada aspek fonetik artikulatoris. Diketahui wujud pelesapan yang dilakukan oleh Mirza terdapat pada awal, tengah, dan akhir kata. Hal tersebut diistilahkan oleh Muslich (2014:123) sebagai zeroisasi – pelesapan yang dilakukan melalui penghilangan bunyi sebagai akibat upaya penghematan pengucapan. Menandakan ketidaksempurnaan alat ucap serta cara artikulasi, hal tersebut dapat terjadi pula pada anak-anak normal maupun berkebutuhan khusus, perubahan bunyi dalam proses tersebut kerap terjadi akibat kompetensi yang belum baik atau kondisi artikulator yang belum berkembang (Muslich, 2014:125). Lebih lanjut, Muslich (2014:125) menyatakan bahwa jika proses penghilangan, penanggalan, atau pelesapan satu atau lebih fonem pada awal kata disebut aferesis, pada tengah kata disebut sinkop, dan pada akhir kata disebut apokop.

  1. Perubahan Bunyi

Untuk mengujarkan kata secara sempurna tidak dapat berlangsung secara tiba-tiba. Melainkan butuh proses panjang untuk menghasilkan hal tersebut. Begitu juga yang dialami oleh Mirza dalam proses menghasilkan bunyi bahasa secara sempurna terkait pemerolehan bahasanya. Upaya yang dilakukan berupa mengubah bunyi yang berada pada titik artikulasi yang sama dengan bunyi bahasa yang dimaksud. Oleh sebab itu, untuk menguatkan pernyataan tersebut dapat mengacu pada pandangan yang dikemukakan oleh Werdiningsih (2002), Chaer (2013), dan Muslich (2014).

  1. Perubahan bunyi <j> menjadi [c] terdapat pada kata <jajan> menjadi [jacan]. Perubahan bunyi tersebut masih dapat dijelaskan, bahwa kedua bunyi tersebut secara struktur (daerah) artikulasi masuk dalam konsonan palatal yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah (medio) sebagai artikulator dan langit-langit keras (palatum) sebagai titik artikulasi. Adapun cara mengartikulasikan konsonan hambat pada bunyi [j] dengan bersuara, sebaliknya bunyi [c] dengan menghalangi sama sekali udara pada daerah artikulasi. Oleh karena keduanya berada pada daerah artikulasi yang sama, maka dapat diistilahkan sebagai kehomorganan atau hanya berbeda pada cara mengartikulasikannya (Chaer, 2013:11). Terkait perubahan bunyi yang dihasilkan oleh Mirza, dapat dinyatakan sebagai proses tahapan pencapaian pemerolehan bunyi bahasa yang sempurna. Hal ini dipengaruhi keberadaan alat ucap serta cara artikulasi belum mencapai tahap kesempurnaan, namun Mirza berusaha membunyikan [j] yang merupakan bunyi hambat letup bersuara melalui [c] yang merupakan bunyi hambat letup tak bersuara.
  2. Perubahan bunyi <u> menjadi [i] pada kata <buruh> menjadi [iyuh]. Adapun perubahan bunyi tersebut masih dapat dijelaskan prosesnya karena sama-sama berada pada struktur atau posisi artikulator aktif dengan artikulator pasif – kedua bunyi termasuk jenis vokal tertutup. Pada praktiknya, bunyi [u] dan [i] berada pada titik artikulasi pembentukan vokal yang terletak pada tinggi rendahnya lidah ketika lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit dalam batas vokal. Lalu menghasilkan vokal tinggi, yang dibentuk jika rahang bawah merapat ke rahang atas. Oleh karena demikian, untuk menghasilkan bunyi [u] pada kata [buruh] maka Mirza terlebih dahulu menggunakan bunyi [i] untuk mengantikannya karena dianggap lebih mudah diujarkan. Hal itu dapat dilakukan sebab kedua bunyi masih berada pada titik artikulasi yang sama.
  3. Perubahan bunyi <r> menjadi [y] pada kata <buruh> menjadi [iyuh], <r> menjadi [l] pada kata <merah> menjadi [melah] serta <r> menjadi [y] dan [l] pada kata <orah> menjadi [olah] maupun [oyah]. Dapat dinyatakan bahwa perubahan bunyi /r/ menjadi [y] dan [l] pada kata tersebut sebagai suatu tahapan dalam mencapai kesempurnaan bunyi bahasa dalam upaya pemerolehan bahasa pada kata [buruh], [merah], dan [orah]. Hal tersebut didasari pandangan Werdiningsih (2002:6-7) bahwa pemerolehan atau penguasaaan /r/ diperoleh pembelajar (bahasa Jawa) melalui empat tahap, yaitu (1) tahap zero (kosong) yang tampak pada ucapan <roti> menjadi [oti], (2) tahap /r/ berubah menjadi [y] yang tampak pada ucapan <roti> menjadi [yoti], (3) tahap /r/ berubah menjadi [l] yang tampak pada ucapan <roti> menjadi [loti] dan (4) tahap /r/ terealisasi bunyi [r] yang tampak pada ucapan <roti> diucapkan [roti] pula.
  4. Perubahan bunyi <n> menjadi [h] yang terdapat pada kata <hujan> menjadi [hujah] dan <ikan> menjadi [ikah]. Situasi tersebut masih dapat diuraikan, bahwa bunyi /n/ dan /h/ digolongkan ke dalam bunyi nasal dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut, tetapi membuka jalan agar dapat keluar melalui rongga hidung. Jika dilakukan antara ujung lidah dengan gusi maka hasilnya bunyi [n] sedangkan jika dilakukan antara pangkal lidah dengan langit-langit lunak maka hasilnya bunyi [h]. Oleh karena demikian, untuk menghasilkan bunyi bahasa secara sempurna dalam proses pemerolehan bahasa pada kata [hujan] dan [ikan], maka Mirza terlebih dahulu menggunakan bunyi [h] sebelum [n].

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa perubahan bunyi dihasilkan oleh alat ucap serta cara artikulasi yang dilakukan oleh Mirza sebagai rangkaian tahapan untuk menghasilkan bunyi bahasa yang sempurna. Seperti perubahan bunyi <j> menjadi [c], <u> menjadi [i], <r> menjadi [y] dan [l], serta <n> menjadi [h]. Menurut Chaer (2009:96), saat berbicara dan melafalkan kata-kata, tidak dapat berdiri sendiri sehingga selalu berkaitan dan saling memengaruhi dengan yang lain dalam suatu rangkaian. Dengan demikian, perubahan-perubahan bunyi bahasa yang dilakukan oleh Mirza merupakan suatu proses mencapai tahap kesempurnaan pemerolehan bahasa seperti bahasa yang dituturkan serta dimiliki oleh orang dewasa.

Dapat dikemukakan bahwa perubahan terkait pelemahan bunyi. Menurut Muslich (2014:116) bahwa pelemahan bunyi sebagai sebuah gejala kebahasaan berupa ketika bunyi lemah memengaruhi bunyi kuat sehingga terjadi perubahan bunyi, seperti bunyi <j> menjadi [c]. Hal tersebut diistilahkan sebagai Lenisi (Crowley dalam Muslich, 2008:117). Sementara menurut Fernandez (dalam Muslich, 2008:118) bahwa konsep pelemahan bunyi mencakup bunyi-bunyi getar, sentuhan, luncuran, dan sebagainya – dapat diistilah sebagai Rotatisme, seperti bunyi [r] dan [l] serta [y].

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pemaparan hasil dan pembahasan tentang pemerolehan bahasa Mirza. Ternyata lingkungan bahasa yang paling dominan yakni lingkungan keluarga (khususnya sang nenek). Lebih lanjut, data kebahasaan terkait pemerolehan bahasa oleh Mirza dikaji secara fonologi yang menitikberatkan aspek fonetik artikulatoris. Diketahui bahwa Mirza pada usia 2 tahun dalam menghasilkan bunyi bahasa masih melakukan pelesapan dan perubahan. Pada pelesapan bunyi bahasa, Mirza belum dapat menghasilkan bunyi vokal [ə], konsonan hambat letup ([p], [b], [g], dan [?] atau [k]), konsonan frikatif ([s] dan [h]), konsonan nasal melalui bunyi [m], konsonan lateral melalui bunyi [l], serta konsonan getar melalui bunyi [r] pada variasi kata-kata yang didata, hal itu terjadi pada awal, tengah, dan akhir kata. Banyak dipengaruhi oleh bentuk alat ucap serta cara artikulasi Mirza yang belum mencapai tahap kesempurnaan. Sedangkan pada perubahan bunyi, Mirza membunyikan <j> menjadi [c], <u> menjadi [i], <r> menjadi [y] dan [l], serta <n> menjadi [h]. Adapun perubahan bunyi yang terjadi terkait rangkaian tahapan untuk menghasilkan bunyi bahasa sempurna seperti tuturan orang dewasa.

Untuk mencapai kematangan berbahasa Mirza, maka dibutuhkan peran lingkungan bahasa terutama keluarga. Harus secara intensif melakukan interaksi komunikasi sehingga Mirza membiasakan bunyi-bunyi bahasa yang belum dikuasainya. Hal tersebut dapat membantu kematangan kognisi dalam upaya Mirza memperoleh bahasanya. Hingga akhirnya bunyi bahasa yang dituturkan oleh Mirza dapat mencapai tingkat kematangan seperti bahasa yang dituturkan oleh orang dewasa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Campbel, dkk. 2006. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Depok: Intuisi Press.

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono dan Atmaja, Unika. 2000. ECHA: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Indah, Rohmani Nur. 2011. Gangguan Berbahasa: Kajian Pengantar. Malang: UIN-Maliki Press.

Maksan, Marjusman. 1993. Psikolinguistik. Padang: IKIP Padang Press.

Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.

Marsono. 2008. Fonetik: Seri Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Muslich, Masnur. 2014. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Jogjakarta: Nusa Indah.

Sulastri, Isna. 2013. Pengertian Fonologi dan Kajiannya (http://uniisna.wordpress.com) diakses tanggal 7 Desember 2014 pukul 16.35.

Sugiyono. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. 2011. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa.

Verhaar, J. W. M. 2012. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Werdiningsih, Dyah. 2002. Dasar-dasar Psikolinguistik. Bandung. Angkasa.