Posts Tagged ‘kesetiaan’

PENGKHIANATAN DEMI KESETIAAN: UPAYA MASUK AKAL UNTUK MENCAPAI TERJEMAHAN PUISI IDEAL

Sugeng Hariyanto

Politeknik Negeri Malang

 

Abstrak

Di dalam penerjemahan puisi sering dikatakan bahwa hasil terjemahan tidak sebaik puisi aslinya. Lebih jauh, ada tiga mitos tentang hasil penerjemahan puisi, yaitu: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Di dalam artikel singkat ini penulis berusaha menelusuri asal-muasal mitos di atas dan mencoba menyajikan pandangannya tentang kebenaran mitos tersebut.

Penulis juga menyinggung bagaimana penerjemahan puisi sumber yang sama bisa menghasilkan puisi-puisi yang berbeda jika penerjemahannya dilakukan oleh penerjemah yang berbeda. Keruwetan ini menjadi bertambah, menurut penulis, jika kritikus ikut mengomentari hasil terjemahan karena penerjemah dan kritikus mungkin sekali memiliki pengalaman dan latar budaya yang berbeda.

Akhirnya, penulis mengemukakan pendapatnya bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi tetap bisa diupayakan untuk ‘setia’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Key-words: puisi, terjemahan, kesetiaan bentuk dan isi, keindahan, kritik terjemahan

 

Ada beberapa ‘mitos’ yang berkembang tentang menerjemahkan puisi. Yang saya maksud ‘mitos’ adalah kata-kata yang telah dipercayai kebenarannya tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kadang hal ini juga kita sebut asumsi. Mitos-mitos atau asumsi-asumsi tersebut adalah: (a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.

Pencetus mitos pertama ini adalah Henri Gifford. Dia berpendapat bahwa sastra terjemahan diumpamakan sebagai reproduksi hitam putih dari lukisan cat minyak yang berwarna. Lebih jauh, karya terjemahan menurutnya tidak akan bisa menandingi kehalusan dan kelengkapan imajinasi penulis asli. Setiap upaya penerjemahan adalah sebuah upaya pemiskinan, dan taraf pemiskinan ini pada taraf yang tertinggi pada penerjemahan puisi (Gifford dalam Damono, 2003). Mungkin karena hal inilah, akhirnya Gifford berpendapat bahwa “Translation is resurrection, but not of the body…” (Gifford dikutip Tomlinson dalam Carter, 2005). Hal ini harus kita sikapi dengan pemahaman bahwa Gifford sendiri adalah seorang penerjemah. Jadi, pendapatnya ini bagi saya lebih merupakan ideologi penerjemahannya.

Karena itu penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa di tubuh yang berbeda, maka wajar kalau kita tidak bisa mengharapkan kemolekan tubuh yang sama, bentuk linguistik yang sama. Ketidakpadanan bentuk linguistik atau makna itulah yang disebut pengkhianatan.

Mitos kedua, penerjemahan puisi adalah pengkhianatan yang kreatif. Pikiran ini berasal dari Prancis, yang di sana terjemahan karya sastra dianggap trahison creatice, pengkhianatan yang kreatif. Mitos ini juga tumbuh subur di Indonesian karena ada bukti-bukti yang dilakukan penyair hebat kita Chairil Anwar adalah trahison creatice. Masih terkait dengan mitos kedua, mitos ketiga adalah penerjemahan yang cantik pasti tidak setia, dan yang setia pasti tidak cantik. Sampai sekarang pun, banyak orang percaya bahwa yang cantik mesti tidak setia, dan yang setia selalu tidak cantik. Pernah dalam suatu seminar, Sapardi Joko Damono menunjukkan “kebenaran dua mitos terakhir ini” dengan puisi Huesca-nya Chairil yang dianggap pengkhianatan kreatif dari puisi asli “To Monnet Heinemman”.

Puisi sumber:

Heart of the heartless world,

Dear heart, the thought of you

Is the paint in my side,

The shadow that chills my view

 

The wind rises in the evening

Reminds that autumn is near.

I am afraid to lose you

I am afraid of my fear.

 

On the last mile to Huesca,

The last fence for our pride,

Think so kindly, dear, that I

Sense you at my side.

 

And if bad luck should lay my strength

Into the shallow grave,

Remember all the good you can;

Don’t forget my love.

 

Puisi ‘terjemahan’:

Jiwa di dunia yang hilang jiwa

Jiwa sayang, kenangan padamu

Adalah derita di sisiku,

Bayangan yang bikin tinjauan beku.

 

Angin bangkit ketika senja,

Ngingatkan musim gugur akan tiba.

Aku cemas bisa kehilangan kau,

Aku cemas pada kecemasanku.

 

Di batu penghabisan ke Huesca,

Pagar penghabisan dari kebangaan kita,

Kenanglah sayang, dengan mesra

Kau kubayangkan di sisiku ada.

 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku pada kuburan dangkal,

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

Menurut Sapardi Djoko Damono, terjemahan ini adalah terjemahan yang cantik. Dan di antara terjemahan Chairil Anwar, ini termasuk yang paling setia. Mari kita cermati kesetiaannya.

Pada larik pertama “heartless world” diterjemahkan menjadi “dunia yang hilang jiwa”. Padahal “heartless” aslinya bermakna “kejam”. Apakah “hilang jiwa” berarti “kejam”? Menurut Sapardi Djoko Damono, Chairil menciptakan ungkapan baru yang tidak ada hubungannya dengan kekejaman. Pada larik kedua, “dear heart” diterjemahkan menjadi “Jiwa sayang”, demi memburu pengulangan kata “jiwa” (tidak diterjemahkan menjadi “kekasih”, “jantung hati”, dsb.)  Perhatikan juga “aku cemas” untuk ungkapan asli “I am afraid”. Aku cemas rasanya lebih kuat kandungan emosinya daripada “aku khawatir”, “aku takut”.

Perhatikan pula dua larik terakhir yang disatukan dalam TBSa-nya.

 

Remember all the good you can;

Don’t forget my love

 

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal

 

“Remember” dan “don’t forget” dirangkum menjadi “ingatlah”. Sementara itu “yang kekal” ditambahkan untuk memburu rimanya. Dengan contoh ini Sapardi seolah ingin menasbihkan bahwa yang cantik itu tidak setia, alias yang berkhianat. Kalau mau yang setia, carilah yang tidak cantik.

Dari paparan singkat di atas, kiranya dapat dimengerti kenapa asumsi-asumsi itu bisa terjadi. Sekarang, bagaimana pengkhianatan itu bisa terjadi? Dan benarkah mitos-mitos itu di dalam kenyataannya?

Untuk memahami masalah ini, ingin saya tawarkan kacamata teoritis. Kacamata pertama adalah teori polisistem. Di dalam teori polisistem, sebuah budaya merupakan serangkaian sistem dari banyak sistem yang bersifat hierarkis. Misalnya, kalau sastra di dalam sebuah budaya menempatkan sastra yang konvensional dalam posisi primer, maka sastra inovatif berada dalam posisi yang sekunder. Demikian juga sebaliknya. Lantas apa hubungannya dengan terjemahan sastra? Hubungannya terletak pada sikap masyarakat budaya terhadap sastra terjemahan. Kalau masyarakat budaya tersebut menempatkan sastra terjemahan dalam posisi primer, maka penerjemahnya akan berusaha sedekat mungkin untuk “setia”. Namun, kalau masyarakat mendudukkan sastra terjemahan dalam posisi sekunder, maka penerjemahnya harus tunduk pada aturan-aturan keindahan yang ada di dalam sastra sasaran. Menurut perkiraan saya, apabila BSa mempunyai genre/jenis sastra yang mantap untuk karya yang diterjemahkan, maka ada kecenderungan bahwa hasil terjemahannya akan tunduk pada poetika BSa. Namun, apabila jenis yang seperti itu belum ada di dalam BSa maka ada kecenderungan penerjemah untuk lebih setia pada TBSu.

Hal ini menjadi agak rumit jika karya tersebut akan diterbitkan. Karena ada pihak lain (yang disebut patron) yang mempengaruhi cara menerjemahkan. Lefevere (dalam Hoed) berpendapat bahwa ciri khas sastra di dalam sebuah budaya ditentukan oleh dua hal: Patron dan perilaku susastra masyarakat (code of behavior). Patron meliputi ideologi, ekonomi dan status seniman. Di dalam perilaku susastra ada kaidah-kaidah terkait genre, keindahan, dan fungsi sastra.

Lantas, saya menghipotesiskan adanya “pertarungan” pengaruh antara poetika, patron dan penerjemah. Bagi saya, ketiga pihak itu berbagi ruang pengaruh atas karya terjemahan. Apabila pengaruh salah satu pihak meningkat, pengaruh pihak lain akan menurun. Apabila patron sangat berkuasa (penerjemah di pihak yang lemah), maka hasil terjemahannya lebih diwarnai oleh ideologi penerjemahan dari patron. Jika pertimbangan poetika yang dipentingkan, maka pengaruh patron dan pertimbangan ideologi penerjemahan si penerjemah akan semakin kecil pengaruhnya. Demikian juga jika pengaruh patron yang mendominasi, maka kepentingan poetika dan ideologi penerjemah yang dikalahkan.

Saya menduga bahwa untuk para penerjemah besar, yang sangat mempengaruhi adalah ideologi penerjemahannya dan pihak patron mungkin dengan sukarela menyerahkan segalanya kepada penerjemah tersebut.

Kiranya pandangan saya tentang ‘perebutan’ ruang pengaruh ini bisa diperjelas dengan model penerjemahan usulan Bolaños (2002, 2008). Meskipun model ini disebutnya Model Penerjemahan Dinamis, tetapi sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep terjemahan dinamik gagasan Nida. Menurut gagasan Bolanos, pada bingkai terluar sebuah proyek penerjemahan ada pemrakarsa penerjemahan (initiator), yang saya sebit sebagai “patron” dan penerjemah (translator). Pemrakarsalah yang memerintahkan penerjemah untuk bekerja. Di dalam bekerja, penerjemah berusaha menangkap maksud sebuah teks dan itu dia lakukan dengan menganalisis dimensi pragmatik, semantik, sintaktik, atau kadang ditambah semiotik, dari teks bahasa sumber (TBSu) serta mempertimbangkan perintah dari pemrakarsa. Setelah makna dan pesan ditangkap, penerjemah melakukan tekstualisasi. Sebelum melakukan tekstualisasi, dia akan mempertimbangkan norma bahasa sasaran (BSa). Di sinilah, pertimbangan poetika masuk. Pada saat ini, dia juga memperhatikan kehendak pemrakarsa atau patron penerjemahan. Di sini jugalah pengaruh patron mempengaruhi.

Kembali ke perbincangan tentang ketiga asumsi di atas? Betulkah karya terjemahan selalu lebih buruk daripada karya aslinya? Secara teori hal ini bisa disanggah. Setiap budaya mempunyai norma-normanya sendiri, mempunyai kriteria sendiri sebagai ukuran keindahan sastra. Jadi, keindahan puisi terjemahan bisa menyamai keindahan puisi asli apabila ditakar dengan kriteria keindahan sastra BSa. Hal ini bisa dicapai apabila puisi terjemahan tersebut tidak memaksakan diri membawa masuk “tubuh” asing ke dalam BSa. Dengan kata lain, saya setuju dengan Ignas Kleden, saat dia menulis, “sebuah terjemahan biasanya lebih jelek atau lebih baik dari yang asli, dan tak mungkin sama dalam segala sesuatunya dengan sajak yang asli”.  Secara empiris, perhatikan terjemahan puisi “How Happy Is the Little Stone” ke dalam bahasa Jawa oleh Effendi Kadarisman ini (yang begitu cantik dan masih setia):

 

Puisi terjemahan:

 

WATU KLUNGSU

Saiba senenge watu klungsu

Dolan dhewekan satengahing dalan

Ora maelu sakehing gegayuhan

Ora kesamaran nandhang cingkrang

Nganggo jas warna soklat

Paringane jagat kang mbeneri liwat

Uripe merdhika kaya surya

Bisa bebrayan, bisa sumunar tanpa kanca

Anyanggemi patembayan sawiji

Kanthi prasaja, kanthi permati

 

Puisi sumber:

 

How happy is the little Stone

 How happy is the little Stone

That rambles in the Road alone,

And doesn’t care about Careers

And Exigencies never fears —

Whose Coat of elemental Brown

A passing Universe put on,

And independent as the Sun

Associates or glows alone,

Fulfilling absolute Decree

In casual simplicity

 

 Jika kita tidak diberitahu bahwa puisi itu adalah terjemahan dari “How Happy Is the Little Stone” atau tidak kebetulan menghadapi kedua puisi itu dalam waktu yang sama, mungkin kita tidak menyangka bahwa puisi tersebut adalah puisi terjemahan. Kata-kata yang digunakan khas bahasa Jawa, misalnya “watu klungsu” (batu sebesar biji asam) untuk menerjemahkan “little stone”, “gegayuhan” (keinginan) untuk “career”, “nandhang cingkrang” (mengalami kekurangan) untuk “exigencies”, “patembayan” untuk “decree”, dan begitu khasnya “kanthi prasaja, kanthi permati” untuk mengungkapkan “in casual simplicity”. Puisi terjemahan di atas begitu dekatnya dengan puisi asli, tetapi begitu “Jawa-nya” saat kita baca. Inilah yang menurut saya puisi terjemahan yang ideal, yang cantik dan setia. Ini artinya karya terjemahan tidak harus lebih buruk daripada karya aslinya.

Benarkah semua puisi terjemahan adalah pengkhianatan dan yang cantik mesti tidak setia? Ini tergantung pada definisi kata ‘setia’ dan ‘khianat’. Jika ‘setia’ dipahami sebagai kesepadanan (ekuivalensi) sepenuhnya (formal dan maknawi) dari TBSu dan TBSa, maka akan benar adanya bahwa terjemahan puisi yang baik adalah sebuah pengkhianatan. Namun apabila yang disebut kesetiaan mengacu pada keindahan, dan diakui bahwa tolok ukur keindahan dalam bahasa yang berbeda juga berbeda, maka yang ‘cantik dan setia’ akan dapat terwujud. Sekali lagi, sedikit ulasan puisi di atas adalah buktinya. Meskipun ini hanya satu puisi, paling tidak ini memberi bukti bahwa yang ‘cantik dan setia’ masih mungkin diwujudkan.

Ada kalanya, memang, penerjemah harus melepas sedikit makna untuk memburu keindahan (linguistic/literary form), di lain waktu dia mungkin mengorbankan keindahan untuk memburu makna. Selama ini, situasi dilematis ini yang dikedepankan sehingga seolah-olah mitos “cantik tidak setia’ itu menjadi semacam kutukan bagi penerjemahan puisi.

Yang perlu diingat lagi adalah kenyataan bahwa pemahaman penerjemah akan makna, pesan dan keindahan dari puisi aslinya juga sangat menentukan. Dua orang penerjemah mungkin menangkap makna/pesan yang berbeda dari puisi yang sama. Coba perhatikan terjemahan dari puisi “Hope” di bawah ini:

 

Asa

 Asa itu bagaikan burung dan sayapnya

yang bersemayam di jiwa,

dendangkan irama

tiada putusnya.

 

Dalam terpaan angin kencang kukecap merdunya

Dalam amukan badai serasa perihnya

namun si burung mungil tetap setia

tiada henti sebar hangatnya.

 

Kudengar suaranya di negeri paling gigil

dan di samudera paling musykil

namun tak sedikit pun dariku

ia pinta walau hanya secuil,

walau hanya secuil.

(terjemahan oleh Abdul Mukhid)

 

Harap

Harap ialah sesuatu bersayap

yang bertengger di jiwa,

dan berdendang tanpa kata,

dan tanpa putus-putusnya,

 

dan terdengar merdu di deru topan;

dan badai sungguhlah ganas

jika sampai mengusir burung kecil itu,

burung yang sebarkan hangat.

 

Pernah kulihat ia di sedingin-dinginnya daratan,

juga di seasing-asingnya lautan;

tapi, biar cuaca seganas apa, tak pernah

mulut menadah padaku, meski demi seremah.

(terjemahan oleh Wawan Eko Yulianto)

 

Dan berikut ini adalah puisi aslinya:

 

Hope     

 Hope is the thing with feathers

That perches in the soul,

And sings the tune–without the words,

And never stops at all,

 

And sweetest in the gale is heard;

And sore must be the storm

That could abash the little bird

That kept so many warm.

 

I’ve heard it in the chillest land,

And on the strangest sea;

Yet, never, in extremity,

It asked a crumb of me.

 

Jika kita simah hasil kerja dua penerjemah di atas, kita tahu bahwa mereka menunjukkan beberapa perbedaan. Pertama, Abdul Mukhid (AM) memandang bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan, karena itu redundansi. Wawan Eko Yulianto (WEY) berpendapat bahwa itu perlu dihadirkan karena dengan demikian lebih dekat ke aslinya. Kedua, pemahaman kata “sore” juga berbeda. AB menekankan “perihnya”, sementara WEY menekankan akibat dari kata ini kepada si burung. Jadi, dia pilih ungkapan “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang sampai mengusir burung itu.

Dalam contoh-contoh di atas kita simak karya tiga orang. Dua yang terakhir adalah karya dua penyair yang menerjemahkan puisi. Karena keduanya menerjemahkan puisi, keduanya saya sebut “penerjemah” (tidak harus dalam arti profesi penerjemah). Sementara itu Effendi Kadarisman adalah ahli linguistik dan penyair yang kesehariannya mengajarkan dan berdiskusi tentang ilmu linguistik dan etnopoetika kepada para mahasiswa.

Abdul Mukhid (sahabat saya) adalah penyair yang penerjemah. Selain menulis puisi dan menerjemahkan puisi, dia juga menerjemahkan manual-manual teknik yang nirgaya bahasa dan nir-alegori. Di dalam hal penerjemahan puisi ini, yang dikutip dalam artikel ini, semua penerjemah menerjemahkan puisi tanpa adanya pesanan penerbit. Jadi, dalam hipotesis saya patron “penerbit” yang biasanya sangat berpengaruh, sekarang menjadi nihil.

Posisi penerjemah/penyair menjadi dominan. Yang akan membedakan adalah pandangan penerjemah/penyair terhadap bagaimana terjemahan puisi yang baik (ideologi penerjemahan), karena sebagai penyair keduanya mempunyai pemahaman yang dalam tentang poetika sastra Indonesia. Apakah penerjemah memandang dirinya mempunyai tugas untuk menyampaikan makna asli dengan bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, ataukah penerjemah barangkali mempunyai “pesan” yang sama dengan penulis puisi asli dan meminjam puisi asli tersebut untuk menyampaikan pesannya di dalam BSa. Golongan kedua ini akan menjadi sealiran dengan Gifford yang mengatakan bahwa penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa ke dalam badan baru. Di dalam studi penerjemahan, aliran ini akan menyatu dengan “function-oriented approach” yang di masa pasca kolonialisme (PDII) dikembangkan oleh Reiss, Nord, dll., yang di Indonesia adalah segolongan dengan Chairil Anwar.

Sedangkan golongan pertama tadi akan sealiran dengan para teoretikus studi penerjemahan yang berpendapat bahwa penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari BSu ke dalam BSa dengan mempertahankan bentuk linguistiknya sebisa mungkin (Nida) atau penerjemahan adalah proses yang dipengaruhi oleh pemahaman budaya, bahasa dan norma-norma budaya (termasuk di dalamnya norma sastra) dari TBSu dan TBSa oleh penerjemahnya (Newmark, Bolaños).

 

Ruwetnya Jika Kritikus Ikut Nimbrung

Mari kita kembali ke perbedaan pilihan kata antara AM dan WEY di atas. Abdul Mukhid (AM) berpendapat bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan dalam bahasa sasaran. Wawan Eko Yulianto (WEY) memandang bahwa ‘informasi’ itu perlu dihadirkan. Kedua, dari kata asli “sore” AB menekankan rasa “perihnya”, sementara WEY mengemukakan akibat dari kata ini kepada si burung, maka dia pilih kata “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang bisa mengusir burung itu.

Saya adalah pembaca yang kebetulan sedikit mengerti BSu. Misalnya saja saya menjadi kritikus terjemahan. Saya berpendapat bahwa kata “mengusir” di dalam terjemahan WEY kurang tepat. Yang lebih tepat, menurut saya, adalah “membuat diam”. Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa masalah perbedaan tafsir makna/pesan asli ini semakin rumit apabila kritikus terjemahan ikut nimbrung. Perhatikan ilustrasi di Gambar 1 berikut ini.

turunan pesan terjemahan puissiGambar 1. Turunan makna/pesan dalam proses penerjemahan dan pengkritikan karya terjemahan

Dalam Gambar 1 diilustrasikan bahwa pada saat penerjemah membaca puisi aslinya (TBSu), maka dia berusaha menangkap makna dan pesannya. Seperti kita ketahui, makna dan pesan puisi sering kali samar. Hasil penangkapan makna yang samar ini akan dipengaruhi oleh beberapa aspek pribadi penerjemahnya, termasuk pengetahuan budaya dan penguasaan bahasa. Makna dan pesan itu dicermati dan kemudian ditulis ulang (tekstualisasi) ke dalam bahasa sasaran (BSa). Tekstualisasi ini sangat dipengaruhi oleh ideologi penerjemahannya dan penguasaan norma BSa, termasuk norma-norma keindahan sastra BSa. Dan apabila ada orang lain (mis, kritikus atau orang awam) membandingkan puisi terjemahan ini dengan puisi aslinya, maka sebenarnya dia membandingkan pemahamannya akan puisi asli dengan pemahamannya atas puisi terjemahan (BSa) yang merupakan tekstualisasi dari pemahaman penerjemahnya atas puisi asli (BSu). Jadi, puisi terjemahan merupakan ‘turunan’ kedua dari puisi asli. Pemahaman kritikus dari puisi asli adalah ‘turunan’ pertama melalui jalur dirinya. Dan pemahamannya atas puisi terjemahan adalah turunan ‘ketiga’ melalui jalur penerjemah. Sehingga perbandingan yang dilakukan oleh kritikus sastra terjemahan adalah perbandingan dari ‘turunan pertama’ dengan ‘turunan ketiga’. Setiap tahap turunan (derivasi) ada kemungkinan distorsi makna. Dapat dibayangkan betapa hal ini mendatangkan kemungkinan yang besar bagi ketidakpadanan (ketidaksetiaan menurut kaca mata kritikus). Oleh Ignas Kleden (2004), fenomena makna puisi yang sulit ditangkap ini digambarkan dalam ungkapan “a poem means all that it can mean” atau “puisi bisa bermakna apa saja”. Oleh karena itu kebanyakan orang (“kritikus”) akan berpendapat bahwa penerjemahan puisi adalah sebuah pengkhianatan. Sekali lagi, saya berpendapat bahwa hal ini tidak mutlak benar.

Ya, tentu saja, yang cantik tidak akan pernah setia jika definisi kesetiaan mengacu pada bentuk linguistik saja karena kriteria keindahan TBSu dan TBSa menuntut bentuk linguistik yang berbeda. Alhasil, benarlah apa yang dikatakan Benny H. Hoed (segera terbit) bahwa terjemahan suatu karya sastra tidak dapat sepenuhnya memenuhi persyaratan pengalihan pesan yang “sempurna”. Dan ini tampak nyata bila kita bandingkan dengan penerjemahan teks jenis informatif.[1] Maka, apabila persyaratan pengalihan yang “sempurna” untuk jenis teks informatif ini kita terapkan ke penerjemahan sastra, terutama puisi, hasilnya adalah adanya “pengkhianatan kreatif”.

Lantas, kenapa judul tulisan ini “pengkhianatan dalam kesetiaan”? Sebenarnya ini bertolak dari mitos itu, yang membatasi “kesetiaan” pada kesepadanan bentuk linguistik atau fisik. Kesetiaan saya maknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi ini dilakukan dalam upaya menuju ‘kesetiaan’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut hemat saya, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Referensi

Carter, Peter. 2005. Review of Metamorphoses: Poetry and Translation, Same Difference. The London Magazine December / January 2005. Accessible from: www.carcanet.co.uk/cgi-bin/scribe?showdoc=365;doctype=review

Bolaños Cuellar, Sergio. 2002. Equivalence Revisited: A Key Concept in Modern Translation Theory. Forma Y Funcion 15 (2002), pp. 60-88. Departemento de Linguistica, Universidad Nacional de Colombia, Bogota, D.C. (Retrieved from: http://redalyc.uaemex.mx, on 5 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2006. Source Language Text, Parallel Text, and Model Translated Text: A Pilot Study in Teaching Translation. (Article sent personally by the article writer through email on 8 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2008. Towards an Intergrated Translation Approach: Proposal of Dynamic Translation Model. Ph.D. Dissertation. Hamburg: Hamburg University.

Damono, Sapardi Djoko. 2003. Menerjemahkan karya Sastra. Makalah disajikan dalam Kongres Nasional Penerjemahan, UNS, Surakarta, 15-16 September 2003.

 

Hoed, Benny H. (akan terbit). Penerjemahan Karya Sastra.

 

Kleden, Ignas. 2004. Goenawan Muhammad Selected Poems: Resensi Buku. Majalah Tempo, Edisi 25/XXXIII/16-22 Agustus 2004.

 


[1] Katahrina Reiss berpendapat bahwa teks dapat dibedakan menjadi teks informatif, apelatif dan ekspresif. Jenis teks ekspresif (misalnya puisi) harus diterjemahkan dengan mementingkan bentuk dan pesannya, sementara teks informatif mementingkan pesannya saja.