Vol 2/1

 

DAFTAR ISI (TABLE OF CONTENTS)

 

Indonesia and Poland: Language (Foreign) Policy as a Soft Power
Anna Grzywacz (Warsaw University)

The Villain in Spiderman Movie I: A Deconstructive Analysis
Tino Agus Salim (State University of Malang)

Modifying EFL Communicative Language Teaching for Indonesian Context
Sugeng Susilo Adi (University of Brawijaya)

Employing English in the Workplace for Communication and Interaction
Tutuk Widowati (State Polytechnic of Malang)

Fungsi Pertanyaan dalam Interaksi Kelas Bengkel Politeknik Negeri Malang
Moh. Thamrin  (State Polytechnic of Malang)

Difficulties in Poetry Translation
Maksud Mamatkulovich Temirov (State University of Malang)

Pengkhianatan demi Kesetiaan: Upaya Masuk Akal untuk Mencapai Terjemahan Puisi Ideal
Sugeng Hariyanto (State Polytechnic of Malang)

===

KATA PENGANTAR

 

Sidang pembaca yang terhormat,

Di dalam volume kedua nomor pertama ini kami persembahkan beberapa artikel hasil penelitian dan pemikiran eksploratif. Untuk memudahkan pemetaan, kami sajikan terlebih dahulu artikel-artikel linguistik. Setelah itu kami sajikan artikel-artikel yang terkait pengajaran bahasa, dan kemudian kami sajikan artikel terkait penerjemahan.

Di artikel pertama Anna Grzywacs dari Universitas Warsawa menyajikan analisisnya tentang perbandingan politik bahasa asing yang dijalankan oleh pemerintah Polandia dan Indonesia. Dia mulai dari pembahasan konsep umum terkait politik bahasa sebagai kekuatan lunak dan mengakhiri tulisannya dengan perbandingan-perbandingan pelaksanaan politik bahasa oleh Polandia dan Indonesia dengan didukung data-data statistik.

Di artikel kedua, Tino Agus Salim mengaplikasikan pisau dekonstruksi untuk membedah tokoh jahat dalam film Spiderman I. Artikel ini berfokus pada analisis terhadap karakterisasi Green Goblin dari perspektif Deconstruksi dengan bingkai “Morphology of Folk Tale” milik Propp dan kemudian mendiskonstruksinya dengan strategi membaca diskonstruktif dan dibangun kembali untuk mencapai “undecidable meanings”.

Di artikel ketiga, Sugeng Adi Susilo mengusulkan pendekatan dalam pengajaran bahasa Inggris dengan memodifikasi “Communicative Language Teaching” dengan mempertimbangkan konteks belajar Indonesia. Dengan meramu pendekatan berbasasis pengajaran bahasa komunikatif dan dipadu dengan audio lingual method, dia meramu apa yang disebutnya “audio lingual communicative language teaching”. Dia percaya bahwa pendekatan ini adalah alternatif yang layak dicoba demi kesuksesan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia.

Di artikel ke-4, Tutuk Widowati menyajikan hasil penelitian pengembangan materi pengajaran bahasa Inggris. Titik berat sajiannya kali ini adalah untuk memberi gambaran bagaimana mendesain materi pengjaran Bahasa Inggris yang digunakan di dalam Mata Kuliah Bahasa Inggris di Bengkel Teknik Sipil, untuk mahasiswa Teknik Sipil Politeknik. Materi ini didesain menggunakan alur Hutchinson dan Waters (1987:108), yang meliputi empat komponen: input, content focus, language focus, task. Selain itu, di dalam model ini juga disisipkan bagian pengayaan kosakata, menulis dan berbicara.

Di dalam artikel ke-5, Moh. Thamrin menyajikan hasil penelitiannya tentang Bahasa Indonesia di dalam kelas. Data tuturan yang berbentuk pertanyaan dianalisis dengan menggunakan model analisis interaksi Miles dan Hubermen (1984) dengan langkah (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi data. Dia menemukan bebrap hal berikut. Bentuk pertanyaan yang dipakai dalam interaksi dosen-mahasiswa di kelas bengkel Politeknik Negeri Malang adalah pertanyaan yang berfungsi menyuruh, meminta, dan melarang. Bentuk pertanyaan yang dipakai dalam interaksi mahasiswa-dosen di kelas bengkel Politeknik Negeri Malang adalah pertanyaan yang berfungsi meminta. Bentuk pertanyaan yang digunakan dalam interaksi kelas bengkel antara dosen-mahasiswa memiliki variasi lebih banyak daripada interaksi mahasiswa-dosen.  Hal ini disebabkan oleh perbedaan hubungan interaksional antara dosen-mahasiswa.

Di artikel ke-6, Maksud Mamatkulovich Temirovmengungkapkan betapa sulitnya menerjemahkan puisi. Dengan mengikuti poin-poin yang dikemukakan Hariyanto (tapa tanggal), dia menunjukkan rumitnya menerjemahkan puisi dengan contoh-contoh bahasa Inggris, Uzbek, dan Indonesia. Penulis ini juga menggunakan “Google translate” untuk menunjukkan betapa rumitnya menangani masalah nilai ekspresif and estetik, kolokasi, metafora, dll.

Di artikel penutup, Sugeng Hariyanto memaparkan tiga mitos dalam penerjemahan puisi: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Selain itu penulis juga menyinggung bahwa penerjemah yang berbeda akan menghasilkan terjemahan yang berbeda meskipun puisi sumbernya sama. Pembahasan perbedaan ini semakin ruwet jika pertimbangan kritikus juga ikut dikaji. Akhirnya, penulis mengemukakan bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna, bukan ekuivalensi bentuk linguistik. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

Selamat membaca,

Tim Penyunting