Analisis Teknik dan Kualitas Terjemahan Tindak Tutur Memprotes dalam Novel Stealing Home (Hati yang Terenggut) Karya Sherryl Woods

Irta Fitriana

Universitas Pesantren Tinggi Darul U’lum Jombang

irtaunipdu@gmail.com

 

Abstrak

Penerjemahan tuturan/ tindak tutur merupakan kegiatan menerjemahkan yang cukup menarik mengingat proses pemahaman pesan harus dikaitkan dengan konteks (situasi tutur) yang melingkupinya. Perhatian terhadap konteks sangat diperlukan guna mempertahankan maksud tuturan agar tidak menimbulkan distorsi makna atau misunderstanding dalam bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa). Selain itu, jenis tindak tutur dalam Bsu tidak mengalami perubahan dalam bahasa sasaran (Bsa). Penelitian ini ditulis dengan tujuan untuk menganalisis teknik dan kualitas terjemahan (keakuratan dan keberterimaan) tindak tutur memprotes dalam novel Stealing Home (Hati yang Terenggut). Adapun tindak tutur memprotes merupakan bagian dari tindak tutur ekspresif. Hasil analisis menunjukkan 15 data tuturan memprotes. Adapun teknik penerjemahan yang digunakan sebanyak 11 teknik dengan frekuensi total penggunaan sebanyak 31 kali. Penggunaan sebelas teknik ini dinilai berdampak baik pada kualitas terjemahannya dan menghasilkan terjemahan yang akurat, berterima dan mudah dipahami.

Kata kunci: penerjemahan, tindak tutur memprotes, keakuratan, keberterimaan

Abstract

Translation of an utterance/ speech act is an interesting translating activity since the process of understanding the message can’t be separated from the context around the utterance. Context comprehension must be considered to maintain the intention of an utterance. It is done to avoid  any distortion or misunderstanding between source language (SL) and target language (TL). In addition, the type of speech acts in SL is not changed in TL. This study is aimed at analyzing the techniques and translation quality (accuracy and acceptability) of protesting utterances in Stealing Home (Hati yang Terenggut). Protesting is a subtype of expressive speech act.  After analyzing the data, there are 15 protesting utterances found. The translation techniques that are used are 11 techniques with a total frequency of use is 31 times. The use of these techniques has given a good impact on the quality of the translation. Thus the translation produced is accurate, acceptable and easily understood.
Keywords: translation, protesting speech act, accuracy, acceptability

 

 Satu hal yang perlu kita akui bahwa saat ini banyak sekali karya sastra terjemahan yang dijual di pasaran. Sejumlah buku fiksi terjemahan lebih banyak ditemukan daripada buku karya penulis lokal. Gejala apakah ini? Ini bisa berarti banyak. Mungkin saja artinya kita memang kurang memiliki penulis fiksi yang baik atau mungkin karya-karya terjemahan memang lebih diminati dan lebih laku di pasaran daripada karya penulis lokal? Kehadiran novel maupun karya-karya terjemahan ini secara tidak langsung juga dapat memberikan inspirasi dan manfaat dalam pengembangan khasanah sastra dan budaya (https://www.goodreads.com/topic/show/90241-penerjemah). Hal ini dapat diartikan bahwa dengan membacanya, banyak nilai, ajaran, dan pesan dalam novel terjemahan yang sesuai yang kemungkinan dapat diterapkan dalam budaya kita.

Sebagian besar novel yang diterjemahkan merupakan novel-novel best seller di negaranya, salah satunya adalah Stealing Home. Ditulis oleh seorang penulis ternama versi New York Times, Sherryl Woods mampu mengantarkannya menjadi novel best seller. Sudah lebih dari 100 judul ­novel) best seller ditulisnya (http://my-private-things.blogspot.com/search/label/harlequin). Kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita yang realistis dengan kenyataan dan tidak terlalu ‘sinetron’. Semua tokoh-tokohnya dibawa dalam suatu drama percintaan yang indah tetapi realistis sehingga tidak terkesan murahan dan cengeng. Dalam penulisan novel ini, beberapa hal yang menjadi ciri khas ala Woods sebagai penulis novel-novel romansa, antara lain pengungkapan emosi yang penuh perasaan, humor yang khas, kisah cinta yang sangat manis dan kisah keluarga yang tak terlupakan, persahabatan yang erat, karakter-karakter kuat dengan berbagai kejutannya, setting, dan plot cerita yang saling melengkapi. Penyatuan komponen-komponen ini mampu menempatkan novel pada level istimewa dan sebagai teman yang tepat dikala santai.

Pernyataan dalam resensi novel Stealing Home menyimpulkan bahwa cerita dalam novel ini mampu mengaduk emosi pembaca. Meskipun cerita percintaannya berliku, namun dapat membantu menyegarkan kembali kebosanan pembaca akan novel-novel historis (http://my-private-things.blogspot.com/search/label/harlequin). Ditampilkan dengan tokoh utama wanita yang mengalami  permasalahan kompleks dalam kehidupan rumah tangganya, Woods memulai seri manis Stealing Home dengan fokus pada dampak perselingkuhan suami hingga perkawinan 20 tahunnya rusak dan perceraian pada psikologi anak-anak. Selain itu, tema cinta juga menambahkan kedalaman dan intensitas emosional untuk hubungan romantis. Cinta, sebagai tema utama novel ini secara implisit mengungkapkan bahwa cinta akan membuat seseorang merasa berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan perjuangan keras untuk mempertahankannya. Dengan demikian, Stealing Home merupakan contoh yang bagus dari sebuah novel romansa yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Hati yang Terenggut pada tahun 2010 dengan alih bahasa Ursula G Buditjahya.

Penerjemahan novel atau karya sastra menjadi hal yang menarik mengingat dalam  menerjemahkannya tidak hanya mensyaratkan transmisi informasi diantara dua bahasa dan kemungkinan dalam suatu ujaran memuat maksud lain dari penutur. Selain itu penerjemah juga harus memperhitungkan “gereget, emosi dan rasa suatu karya dalam versi bahasa orisinal; bentuk estetis yang dipakai pengarang orisinal; juga setiap informasi yang terkandung dalam pesan.” Adapun makna pada BSu tidak mengalami perubahan dalam Bsa.  (http://inisiatifpenerjemahansastra.org/tulisan-writings/sastra-terjemahan-kita/).

Penerjemahan tindak tutur merupakan contoh kasus dari sebuah teks yang tidak hanya mempunyai makna harfiah saja, tetapi juga maksud tertentu yang harus diterjemahkan sehingga terjemahannya harus sesuai untuk menghindari kesalahpahaman.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis dan menerjemahkan tuturan antara lain konteks situasi yang menaungi suatu tuturan, isi topik tuturan, kedudukan sosial penutur dan mitra tutur.

Aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu merupakan tindak tutur atau tindak ujar (Rustono, 1999: 24). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa mengujarkan sesuatu dapat disebut sebagai tindakan atau aktivitas yang selalu memiliki maksud tertentu. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berkomunikasi dengan mitra tuturnya, maka dia harus mengetahui fungsi dari bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi tersebut untuk mencapai pemahaman akan pesan dari mitra tuturnya. Pesan inilah yang menjadi fokus penerjemahan tuturan/ tindak tutur.

Secara umum, penerjemahan adalah proses penyampaian pesan dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa). Newmark (1988: 5) mendefinisikan penerjemahan sebagai “rendering the meaning of a text into another language in the way that the author intended the text”. Artinya, penerjemahan merupakan sebuah proses untuk menerjemahkan sebuah makna kedalam bahasa lain sesuai dengan yang dimaksud oleh penulis. Definisi ini diperjelas lagi oleh Nababan dalam Nurhaniah (2008: 10), penerjemahan tidak hanya mengalihkan pesan saja tetapi juga bentuk bahasanya. Dengan kata lain, penerjemahan merupakan usaha mencapai tingkat kesepadanan ideal antara Bahasa Sumber (BSu) dengan Bahasa Sasaran (BSa). Dari dua pemikiran ini, dapat disimpulkan bahwa penerjemahan tidak sekedar mencari padanan antara Bsu ke dalam Bsa, tetapi bagaimana seharusnya maksud penulis bisa dipahami oleh pembaca Bsa dengan memperhatikan aspek bentuk dan gaya bahasa, sehingga hasil terjemahan sesuai dalam hal makna dan ekspresi dari Bsu ke dalam Bsa secara tertulis, lisan atau tanda. Dengan demikian, kegiatan menerjemahkan tidak hanya proses pengalihan makna BSu sedekat mungkin dalam BSa tetapi juga harus memperhatikan maksud penulis mengingat penerjemahan pada dasarnya merupakan alat komunikasi antara penulis teks BSa dan pembaca teks BSa.

Pemilihan tindak tutur memprotes dalam penelitian ini lebih pada kesesuaian dengan tema cerita dan genre novel. Stealing Home merupakan novel genre romansa yang bercerita tentang seorang wanita yang mengalami banyak permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya, seperti perselingkuhan suaminya sampai cinta baru dari pria yang menaruh hati padanya. Novel genre romansa ini memuat banyak tuturan ekspresif sebagai ekspresi dan luapan perasaan karakter ceritanya. Dengan demikian, novel ini memiliki muatan tindak tutur ekspresif yang cukup banyak untuk diteliti, salah satunya adalah tuturan memprotes sebagai bagian dari tindak tutur ekspresif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana terjemahan tuturan memprotes  dalam novel Stealing Home yang mencakup penerapan teknik-teknik penerjemahan yang digunakan juga dampaknya terhadap kualitas terjemahan. Teknik penerjemahan yang digunakan merupakan teknik-teknik penerjemahan yang diproposisikan oleh Molina dan Albir (2002), yakni 18 teknik penerjemahan meliputi teknik adaptasi, penambahan, peminjaman, kalke, kompensasi, deskripsi, kreasi diskursif, padanan lazim, generalisasi, amplifikasi linguistik, harfiah, modulasi, partikularisasi, reduksi, substitusi, transposisi, dan variasi. Langkah terakhir adalah menganalisis dampak penggunaan teknik penerjemahan terhadap kualitas terjemahannya yang ditinjau dari tiga aspek, yaitu keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Aspek keakuratan berkaitan dengan kesepadanan makna antara Bsu dan Bsa. Aspek keberterimaan berhubungan dengan kaidah kebahasaan pada Bsa dan derajat mudah tidaknya terjemahan dapat dipahami oleh pembaca sasaran adalah landasan penting dalam aspek keterbacaan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan dasar bidang penerjemahan, terpancang,  dan berkasus tunggal. Penelitian bidang penerjemahan dengan pendekatan pragmatik ini berfokus pada produk atau hasil karya terjemahan. Terjemahan tindak tutur ekspresif dalam novel Stealing Home menjadi topik kajian dalam penelitian ini. Kajian penerjemahan terletak pada penggunaan teknik penerjemahan dan pengaruhnya pada kualitas terjemahan dari aspek keakuratan dan keberterimaan.

Sumber data yang dikaji adalah tindak tutur memprotes yang ada pada novel Stealing Home. Satuan lingual tindak tutur memprotes adalah kalimat tuturan yang dinaungi oleh konteks. Selanjutnya, data informan, yaitu hasil kuesioner dan wawancara mendalam terhadap informan (rater) sangat penting dilakukan dalam penilaian kualitas terjemahan mencakup aspek keakuratan dan keberterimaan. Data dalam penelitian ini adalah tuturan ekspresif pada novel berdasarkan pendekatan teori pragmatik yakni tindak tutur. Dengan kata lain, pemilihan data dilakukan dengan puposive sampling.

 

PEMBAHASAN

Tindak tutur memprotes merupakan bagian dari tindak tutur ekspresif. Memprotes mengandung pengertian sebagai pernyataan tidak menyetujui atau menentang, mitra tuturnya. Berikut beberapa temuan tindak tutur memprotes dalam novel Stealing Home yang ditabulasikan dalam tabel taksonomi berikut ini:

Tabel Taksonomi Teknik dan Kualitas Terjemahan Tindak Tutur Memprotes Dalam Novel Stealing Home

 

Data Bsu Bsa Teknik Penerjemahan Varian KT
Kak Kber
1/SH/M Maddie: “I am not cautious.” Maddie: “Tapi aku bukan orang yang berhati-hati.” Harfiah Tunggal 2.33 3
2/SH/T Ty: “Then why the hell did he leave us for her?” Ty: “Lalu kenapa dia pergi dari kita demi pelacur itu?” Harfiah + reduksi + kompensasi Triplet 3 3
3/SH/M Maddie: “Surely Tyler wouldn’t.” Maddie: “Pasti Ty tidak akan begitu.” Harfiah + Amplifikasi Linguistik Kuplet 3 3
4/SH/T Ty: “Oh, come on, Mom, get real, I’m not flunking anything.” Ty: “Mama lihat dong kenyataannya. Nilaiku tidak ada yang jatuh kok.” Variasi + Kompensasi + Modulasi Triplet 3 3
5/SH/D Dana Sue: “Hey, slow down. Nobody’s bullying anybody.” Dana Sue: “Hei, santai. Tidak ada yang menggertakmu.” Harfiah Tunggal 2.33 3
6/SH/T Ty: “Why’d she have to show up here? It’s embarrassing.” Ty: “Kenapa dia harus muncul disini? Memalukan.” Transposisi + penambahan Kuplet 2.33 3
7/SH/H Helen: “But he never invited me out for pizza.” Helen: “Tapi, dia tidak pernah mengajakku makan pizza. Harfiah + Penambahan + Peminjaman Murni Triplet 3 3
8/SH/M Maddie: “Don’t you think I thought of calling Skeeter first?” Maddie: “Kamu pikir aku tidak menelepon Skeeter dulu?” Harfiah Tunggal 2.33 3
9/SH/M Maddie: “Look, just because you had a tough day in court, you don’t get to come home and try out your interrogation techniques on me.” Maddie: “Lihat, cuma karena kau menemukan kesulitan di pengadilan kau mencobakan teknik interogasimu kepadaku?” Transposisi + penambahan Kuplet 2.33 3
10/SH/M Maddie: “I wasn’t the first one in our family to stir up gossip.” Maddie: “Bukan aku satu- satunya di keluargaku yang jadi pusat gosip.” Harfiah Tunggal 2.33 3
11/SH/T Ty: “But I can’t accept this one.” Ty: “Tapi aku tak bisa terima ini.” Harfiah Tunggal 3 3
12/SH/M Maddie: “But Ty’s still in high school,” Maddie: “Tapi Ty kan masih SMA.” Harfiah + peminjaman Murni Kuplet 3 3
13/SH/M Maddie: “Noreen is sixteen years younger than you are,” Maddie: “Noreen enam belas tahun lebih muda dari kau sendiri!” Harfiah + amplifikasi linguistik Kuplet 3 3
14/SH/Pg Peggy: “But she didn’t answer my question,”

 

Peggy: “Tapi, ia tidak menjawab pertanyaanku.” Harfiah Tunggal 3 3
15/SH/T Ty: “He has more right to be here than you do.” Ty: “”Dia lebih berhak di sini ketimbang Papa!” Harfiah + Tansposisi Kuplet 3 3

Keterangan:

Bsu         : Bahasa Sumber

Bsa         : Bahasa Sasaran

TP           : Teknik Penerjemahan

V              : Varian

KT           : Kualitas Terjemahan

Kak         : Keakuratan

Kber       : Keberterimaan

 

Berikut detil temuan tuturan memprotes dalam  novel Stealing Home:

  1. Bsu: Then why the hell did he leave us for her.

Bsa: Lalu kenapa dia pergi dari kita demi pelacur itu.

Meskipun berat dan sesak rasanya, Maddie dengan sabar dan tenang berusaha meyakinkan Ty, anak sulungnya yang berusia 17 tahun bahwa kepergian ayahnya pasti beralasan dan yang terpenting adalah Bill tetap menyayanginya, akan tetapi Ty sudah terlanjur kesal dan muak dengan perbuatan ayahnya. Dia merasa bahwa tindakan ayahnya tersebut sudah sangat keterlaluan. Maddie kembali meyakinkan bahwa meskipun ayahnya pergi, ayah tetap menyayanginya. Ty tidak terima dam memprotes pernyataan ibunya tersebut bahwa jika benar ayah menyayanginya, lalu kenapa dia tega meninggalkan keluarga demi perempuan yang  disebutnya sebagai pelacur itu. Tuturan ini berdasarkan konteksnya, dapat dikatakan sebagai tindak tutur ekspresif memprotes yang dilakukan oleh Ty sebagai ekspresi kekesalannya terhadap ayahnya, Bill.

  1. Bsa: Look, just because you had a tough day in court, you don’t get to come home and try out your interrogation techniques on me.

Bsa: Lihat, cuma karena kau menemukan kesulitan di pengadilan kau mencobakan teknik interogasimu kepadaku?

Helen curiga dengan kedekatan antara Maddie dan Cal. Namun, ketika ditanya, Maddie selalu mengelak dan hal ini membuat Helen tidak henti-hentinya mendesak dan memojokkannya mengingat Maddie masih dalam proses perceraian. Hampir dalam urusan paling detil di rumah Maddie, Cal selalu dilibatkan, diantaranya adalah memperbaiki pipa rumah yang bocor, mencari Ty yang hilang beberapa waktu lalu. Maddie menentang sikap Helen yang terus menginterogasinya, mengapa Cal tampak begitu penting dan spesial bagi Maddie, padahal dia adalah pelatih bisbol anaknya. Maddie menyampaikan protesnya kepada Helen yang menurutnya sebagai pelampiasannya yang kesal terhadap kliennya di pengadilan. Dilihat dari konteks yang menaunginya, tuturan ini termasuk tindak tutur ekspresif memprotes dimana Maddie memprotes sikap Helen yang terus mendesaknya sebagai akibat dari pelampiasan kekesalannya menghadapi klien di pengadilan.

  1. Bsu: Oh, come on, Mom, get real, I’m not flunking anything.

Bsa: Mama lihat dong kenyataannya. Nilaiku tidak ada yang jatuh kok.

Setelah menemui Cal, guru Ty di sekolah, Maddie mendapat banyak laporan terkait prestasi Ty yang menurun drastis. Penurunan prestasi ini hampir dirasakan oleh seluruh guru yang mengajarnya.  Ketika dikonfirmasi kepada Ty yang disertai ancaman tidak boleh keluar rumah, Ty justru memprotes apa yang disampaikan oleh ibunya. Ty mengatakan bahwa nilainya tidak ada yang jatuh dan prestasinya baik-baik saja. Tuturan ini termasuk tindak tutur ekspresif memprotes dimana penutur atau Ty memprotes pernyataan yang disampaikan oleh ibunya bahwa nilainya banyak yang turun di sekolah melalui tuturan “Nilaiku tidak ada yang jatuh kok.”

  1. Bsu: Don’t you think I thought of calling Skeeter first?

Bsa: Kamu pikir aku tidak menelepon Skeeter dulu?

Helen mengetahui bahwa Cal berada di rumah Maddie kemarin malam. Tentu saja hal itu cukup mencurigakan. Namun Maddie menjelaskan bahwa dia terpaksa  meminta Cal datang untuk memperbaiki pipa di rumahnya yang bocor. Helen menyeringai mendengar alasan Maddie. Cukup mengherankan. Helen mengintrogasinya kenapa tidak menghubungi Skeeter, si ahli pipa saja untuk memperbaiki saluran pipa di rumahnya, tetapi justru menelepon Cal, namun Maddie memprotes dengan mengatakan bahwa dirinya sudah berkali-kali menghubungi Skeeter namun tidak ada respon. Tuturan ini mengandung ilokusi ekspresif memprotes yang dilakukan oleh Maddie menanggapi mitra tuturannya, yakni Helen.

 

Teknik Penerjemahan Tindak Tutur Memprotes

Langkah selanjutnya setelah mengklasifikasikan jenis tindak tutur ekspresif, yaitu mengidentifikasi teknik- teknik penerjemahan yang digunakan. Penerjemahan tindak tutur memprotes ini antara lain teknik harfiah, reduksi, kompensasi, amplifikasi linguistik, variasi, modulasi, peminjaman naturalisasi, peminjaman murni, dan transposisi dengan 3 jenis varian penerjemahan yang digunakan diantaranya varian tunggal (3 data/ 20%), varian kuplet (7 data/ 46,7 %), varian triplet (5 data/ 33,3%).

 

  1. Varian tunggal

Teknik harfiah

Penerapan teknik ini dilakukan dengan menerjemahkan secara harfiah sesuai dengan kaidah Bsa. Dalam penelitian ini, teknik harfiah diterapkan pada 54 data tindak tutur. Berikut salah satu contohnya:

Peggy: But she didn’t answer my question.
Peggy: Tapi, ia tidak menjawab pertanyaanku.

 

 

  1. Varian kuplet

Harfiah + Amplifikasi Linguistik

Selain varian tunggal, beberapa data ditemukan menggunakan dua teknik penerjemahan dalam satu data tuturan dari Bsu ke Bsa atau disebut varian kuplet. Setelah proses analisis, ditemukan sebanyak 38 data tuturan yang diterjemahkan dengan menggunakan teknik varian kuplet. Berikut contoh temuan varian kuplet harfiah dan amplifikasi linguistik:

Maddie: Pasti Ty tidak akan begitu.
Maddie: Surely Tyler wouldn’t.

 

  1. Varian triplet

Variasi + Kompensasi + Modulasi

Varian triplet adalah penerjemahan satu data tertentu dengan menerapkan tiga teknik penerjemahan sekaligus. Dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 21 data tuturan yang diterjemahkan dengan varian triplet. Berikut contoh temuan data yang diterjemahkan dengan teknik variasi, kompensasi, dan modulasi seperti berikut:

Ty: Oh, come on, Mom, get real, I’m not flunking anything.
Ty: Mama lihat dong kenyataannya. Nilaiku tidak ada yang jatuh kok.

 

Kualitas Terjemahan Tindak Tutur Memprotes

Dalam penilaian kualitas terjemahan, terdapat tiga aspek penting yakni keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Namun, dalam penelitian ini, aspek yang diteliti adalah meliputi aspek keakuratan dan keberterimaan. Berdasarkan penilaian, kualitas terjemahan tindak tutur memprotes pada novel Stealing Home merupakan terjemahan yang akurat, artinya seluruh data (100%)  diterjemahkan secara akurat dalam Bsa. Sedangkan untuk aspek keberterimaan, sebanyak 3 data atau (20%) termasuk dalam kategori terjemahan kurang berterima, sebagian besar merupakan terjemahan yang berterima.

 

Dampak Teknik Penerjemahan terhadap Kualitas Terjemahan

Setelah dilakukan analisis, kualitas terjemahan tindak tutur memprotes pada novel Stealing Home cenderung baik. Terjemahan akurat banyak ditemukan dalam penelitian ini dibandingkan dengan terjemahan yang kurang akurat. Terjemahan tidak akurat tidak ditemukan dalam penelitian ini. Terjemahan akurat dipengaruhi oleh kesepadanan makna antara Bsu dan Bsa sedangkan kurang akuratnya terjemahan tuturan ekspresif ini disebabkan oleh sebagian pesan tidak tersampaikan. Demikian halnya dengan penilaian tingkat keberterimaannya. Dikatakan sebagai terjemahan berterima jika teks Bsu memiliki kesesuaian dengan kaidah dan budaya Bsa, mencakup penggunaan frasa, klausa, dan kalimat dalam bahasa Indonesia. Tuturan  yang kurang berterima dalam penelitian ini disebabkan oleh penggunaan kata yang kurang lazim digunakan dalam Bsa, juga struktur tuturan yang kurang sesuai dengan kaidah dalam Bsa. Sehingga dapat disimpulkan penerapan temuan teknik penerjemahan cenderung baik terhadap kualitas terjemahan tindak tutur ekspresif dalam novel Stealing Home ini.

 

KESIMPULAN

Jenis tindak tutur memprotes yang ditemukan dalam penelitian ini sebanyak 15 tuturan. Sementara itu sebanyak 10 teknik penerjemahan digunakan dalam menerjemahkannya  yang terbagi dalam tiga jenis varian, yakni varian tunggal, kuplet, triplet, dan kwartet. Kualitas terjemahan tindak tutur memprotes dalam novel Stealing Home meliputi aspek keakuratan dan keberterimaan. Seluruh data dalam penelitian ini telah diterjemahkan secara akurat. Dari segi keberterimaan, 3 data teridentifikasi kurang berterima. Penerapan beberapa teknik penerjemahan cenderung memiliki dampak baik terhadap kualitas terjemahan. Teknik harfiah merupakan teknik dominan yang banyak digunakan dalam bentuk varian tunggal, kuplet, dan triplet. Dengan kata lain, penerapan teknik-teknik dalam menerjemahkan tuturan memprotes dalam novel Stealing Home ini cenderung akurat, berterima dan mudah dipahami. Dapat pula disimpulkan bahwa tuturan memprotes dalam novel Stealing Home ini dikatakan berhasil karena menjaga kekhasan tema cerita termasuk penokohannya dalam terjemahan bahasa Indonesia.

 

REFERENSI

Molina, L., & Albir, H. (2002). Translation Techniques Revisited: A Dynmic and Functionalist Approach. Meta Journal des Tranducteur/ Meta: Translators’ Journal (XLLVII) No.4, hal. 498- 512.

Newmark, Peter. 1988. A Textbook of Translation. Singapore: Prentice Hall.

Nurhaniah, Yayuk Anik. 2008. Terjemahan Kalimat Tanya pada Percakapan di dalam Novel Remaja “Dear No Body” ke dalam Bahasa Indonesia. Tesis. UNS

Rustono, 1999. Pokok- pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press

http://my-private-things.blogspot.com/search/label/harlequin diakses pada 15 Juni 2013

https://www.goodreads.com/topic/show/90241-penerjemah diakses pada 15 Juni 2013

Comments are closed.