BAHASA ROJAK DI MALAYSIA : ANTARA IDENTITAS DAN REALITAS (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)

Nani Darmayanti*

Universitas Padjadjaran

  

ABSTRAK

Penelitian ini membahas Bahasa Rojak di Malaysia yang ditinjau berdasarkan kedudukannya di antara pembangun identitas dan realitas yang ada di masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik sadap rekam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis bahasa yang terdapat dalam bahasa rojak ialah (1) bahasa Melayu, (2) bahasa Cina, (3) bahasa Tamil dan (4) bahasa Inggris. Faktor yang melatarbelakangi seorang penutur mencampur-campur  bahasanya ialah (1) keakraban penutur dengan lawan tutur yang memiliki kesamaan identitas, (2) keinginan penutur mempertahankan dan menunjukkan identitasnya kepada lawan tuturnya dan (3)  penutur ingin meningkatkan dan menunjukkan kuasanya di hadapan kelompok umum. Adapun dampak yang dapat ditimbulkan atas penggunaan bahasa rojak dalam masyarakat ini dibagi menjadi dua bagian yaitu dampak positif dan dampak negatif. Kata Kunci : Bahasa Rojak, Identitas, Realitas, Malaysia, Sosiolinguistik..

Kata kunci: Bahasa Rojak, identitas, realitas, penutur, lawan tutur, sosiolinguistik

***

Bahasa ialah prasyarat penting bagi kesuksesan kebanyakan aktivitas kehidupan manusia, baik secara individu, kelompok atau institusi (Idris Aman 2007: 103). Dalam perkembangannya, bahasa senantiasa mengalami perubahan seiring dengan kehidupan masyarakat yang senantiasa berubah dinamis pula. Salah satu faktor yang turut memengaruhi perubahan bahasa dalam masyarakat ialah percampuran budaya. Dalam hampir seluruh bahasa di dunia, fenomena percampuran budaya memberikan dampak juga pada munculnya percampuran  bahasa di lingkungan masyarakat, termasuk di Malaysia.

Saran Kaur Gill (1997 : 47) menyatakan bahwa sebagai negara yang terdiri daripada berbagai etnik, khasnya Melayu, India dan Cina, Malaysia menghadapi banyak tantangan persoalan bahasa yang berlatar belakang penduduk bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Tantangan ini berasal dari dasar yang berbeda untuk mengekalkan dan memelihara identitas linguistik negara, etnik, dan antarabangsa.  Salah satu wujud tantangan persoalan bahasa yang dihadapi Malaysia yang berpenduduk berbilang bangsa ini ialah munculnya suatu fenomena bahasa yang disebut Bahasa Rojak.

Bahasa Rojak ialah fenomena bahasa yang mencampur baur antara bahasa Melayu dengan bahasa asing lainnya. Istilah ini lahir karena mengaitkan sesuatu yang dicampur-campur itu seperti rojak yang merupakan makanan yang terdiri daripada beberapa bahan yang dicampur (Awang Sariyan 2006 : 546 ).

Bahasa Rojak yang terdapat di Malaysia terdiri atas percampuran antara bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Bahasa India dan Bahasa Cina.

Sebagian pihak berpendapat bahwa keberadaan bahasa rojak ini dapat merusak Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Sebagian pihak lainnya berpendapat bahwa bahasa rojak bukanlah hal yang harus ditakuti karena keberadaan bahasa rojak ini sesungguhnya merupakan wujud daripada identitas pengguna bahasa itu sendiri. Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa dalam dunia bahasa sendiri diakui adanya bahasa ragam resmi dan bahasa ragam tak resmi. Dalam ragam resmi, pengguna bahasa harus menggunakan bahasa nasionalnya sebagai identitas kebangsaan. Namun, dalam ragam tak resmi, pengguna bahasa tidak diharuskan menggunakan bahasa nasional karena dalam ragam tidak resmi, identitas etniklah yang umumnya lebih ditekankan. Jadi, bagaimanakah sesungguhnya kedudukan Bahasa Rojak ini di Malaysia? Hal inilah yang menarik peneliti untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

 

Bahasa sebagai Identitas

Identitas etnik seseorang dibentuk berdasarkan berbagai faktor. Faktor yang membentuk  etnik seseorang tersebut di antaranya ialah amalan, tradisi, bahasa, agama dan sosiobudaya. Lihat faktor-faktor pembentuk identitas seseorang dalam gambar berikut.

Gambar 1. Faktor-faktor pembentuk identitas seseorang

 

Faktor-faktor inilah yang menjadi ciri dan dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, dari semua ciri yang ada, ciri paling penting yang membedakan seseorang ialah bahasa (Saran Kaur Gill 1997: 42).

Bahasa ialah ciri yang menentukan identitas seseorang pada peringkat negara dan internasional, perlulah dirujuk pada Fishman yang menekankan ada pernyataan yang mengatakan bahwa identitas mempunyai kaitan dekat dengan bahasa karena bahasa lisan ialah salah satu terpenting kumpulan etnik (Fishman 1999: 143). Penyataan di atas dikuatkan oleh Spolsky (1998: 57) yang mengulangi pernyataan ini apabila menyatakan penanda identitas penting bagi seseorang ialah bahasa kelompok yang dia ikuti. Kedua-dua pakar linguistik ini menekankan bahwa bahasa ialah bagian penting identitas seseorang.

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa bahasa ialah alat yang dapat menunjukkan ciri-ciri identitas seseorang dan suatu kaum. Setiap kaum/etnik tertentu akan senantiasa menggunakan bahasa kaumnya untuk menunjukkan identitas dan menunjukkan eksistensi kaumnya tersebut. Jika suatu kaum dilarang menggunakan bahasanya sendiri, maka kaum tersebut dapat kehilangan identitas dan eksistensinya.

 

Bahasa dan Realitas

Realitas kebahasaan secara umum dibagi menjadi dua bagian. (1) bahasa ragam resmi dan (2) bahasa ragam tidak resmi. Bahasa ragam resmi dalam masyarakat Malaysia mengharuskan pengguna bahasa di Malaysia menggunakan Bahasa Melayu karena Bahasa Melayu ialah bahasa negara. Bahasa Melayu sebagai bahasa ragam resmi ini mesti digunakan dalam berbagai forum resmi kenegaraan, bahasa resmi pendidikan, dan forum resmi lain yang menunjukkan bahasa Melayu sebagai identitas negara.

Yang dimaksud bahasa Melayu sebagai bahasa negara ialah bahasa kebangsaan Malaysia dan bahasa resmi negara. Ini termaktub dalam Perkara 152 dalam Perlembagaan Negara/Malaysia, Akta Bahasa Kebangsaan 1967, dan Undang-undang Pendidikan Kebangsaan semenjak Akta Pelajaran 1957 hingga ke Akta Pendidikan 1996 (Teo Kok Seong, 2006 : 698).

Sementara itu bahasa ragam tak resmi, di dalamnya mengakomodasi bahasa-bahasa lainnya selain bahasa kebangsaan sebagai sarana komunikasi di kalangan masyarakan umum. Bahasa ragam tak resmi ini umumnya terdiri dari bahasa-bahasa bawahan, seperti bahasa etnik yang mewakili setiap etnik yang ada dalam suatu lingkungan itu sendiri. Bahasa ragam tak resmi ini umumnya digunakan oleh masyarakat dalam proses komunikasi seperti dalam percakapan, senda gurau, jual beli di pasar dan sebagainya.

 

Bahasa Rojak di Malaysia

Bahasa Rojak ialah fenomena bahasa yang mencampur baur antara bahasa Melayu dengan bahasa asing lainnya. Istilah ini lahir karena mengaitkan sesuatu yang dicampur-campur itu seperti rojak yang merupakan makanan yang terdiri daripada beberapa bahan yang dicampur (Awang Sariyan 2006 : 546).

Gambar 2.   Bahasa yang terdapat dalam bahasa Rojak di Malaysia

Di Malaysia, bahasa rojak terdiri dari percampuran bahasa Melayu, bahasa Cina, bahasa Inggris dan bahasa Tamil.

Fenomena bahasa rojak antara kedua-dua atau lebih bahasa ialah fenomena yang berlaku dalam hampir seluruh masyarakat di dunia yang mengalami percampuran budaya. Percampuran antara kedua-dua bahasa itu umumya berlaku dalam konteks tidak resmi, seperti dalam perbualan,  gurau senda, jual beli di pasar dan sebagainya. Terjadinya perkara ini dalam ranah tidak resmi sesungguhnya dapat diterima sebagai suatu realitas sosiolinguistik.

Hal ini karena dalam komunikasi tidak resmi, berlaku keluwesan  atau kelenturan bahasa yang amat ketara, disebabkan wujudnya berbagai variabel sosial dan psikologi. Latar suasana, keperluan, topik dan sasaran komunikasi, misalnya sangat berpengaruh terhadap lakuan bahasa dalam konteks tidak resmi.

 

Alih Kode

Salah satu penanda dalam bahasa rojak ialah alih kode. Cristal (1978) menerangkan bahwa alih kode berlaku apabila seseorang yang dwibahasa menggunakan dua bahasa atau lebih semasa berkomunikasi. Grosjean (1989) pula memberi penjelasan alih kode sebagai situasi di mana penutur dwibahasa menggunakan satu bahasa sahaja atau menukar dari satu bahasa ke bahasa lain semasa pertuturan atau perbualan mereka. Terdapat berbagai bentuk penggunaan bahasa rojak, contohnya, yang menggunakan alih kode leksikal (kata), frasa, dan juga kalimat dari kedua-dua bahasa.

 

Kaedah Penyelidikan

Secara lebih spesifik, penyelidikan ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis dan bentuk bahasa yang terdapat dalam bahasa rojak di Malaysia, (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan penggunaan bahasa rojak oleh masyarakat di Malaysia, dan (3) mendeskripsikan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dengan terjadinya bahasa rojak di Malaysia.

Demi menempatkan penyelidikan yang akan dilakukan ini berada pada jalur yang sistematis, maka pengkaji menetapkan beberapa kaedah yang menjadi pedoman utama dalam penyelidikan. Kaedah penyelidikan tersebut ialah sebagai berikut: (1) Metode penyelidikan yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif. (2) Kerangka penyelidikan yang digunakan ialah sosiolinguistik, yaitu ilmu yang berkaitan dengan pengamatan bahasa dalam realitas sosial. (3) Korpus yang digunakan dalam penyelidikan ini ialah korpus bahasa percakapan yang dikutip langsung dari hasil pengamatan langsung di masyarakat, khususnya di kampus Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia.

Kajian ini diharapkan memberi manfaat bagi pemerkayaan kajian bahasa dalam realitas sosial dan juga diharapkan bermanfaat bagi pemahaman bahasa sebagai identitas dalam realitas di negara Malaysia yang memiliki percampuran budaya yang tinggi.

 

ANALISIS DATA

Bahasa Rojak di Malaysia: Antara Identitas dan Realitas

Di bawah ini dihuraikan (1) jenis-jenis bahasa yang memberi pengaruh terjadinya bahasa rojak. (2) bentuk-bentuk bahasa yang terdapat dalam bahasa rojak. (3) Faktor-faktor yang melatarbelakangi digunakannya bahasa rojak oleh penutur dan (4) Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan bahasa rojak oleh masyarakat di Malaysia. Huraian tersebut dilakukan terhadap data bahasa yang telah dikumpulkan berdasarkan pengamatan terhadap mahasiswa di kampus Universiti Kebangsaan Malaysia.

 

 Bahasa Tamil dalam Bahasa Melayu (Bentuk: Kata)

(1) Fairuz            : ”Bagi roti cannai dua.”

Mamak         : ”Makan? Bungkus?”

Fairuz            : ”Tah Pau.”

Mamak         : ”Roti cannai onnu. Tah pau.”

Pelayan        : ”ya!”

 

Data (1) di atas memperlihatkan bahwa telah terjadi alih kode bahasa Tamil ke dalam percakapan bahasa Melayu dalam ragam tak resmi. Alih kode yang membentuk bahasa rojak ini berbentuk kata dan frasa, yaitu kata onnu ’dua’ serta tah pau ’bungkus’. Alih kode ini berlaku antara seorang pembeli Melayu dengan seorang Mamak India. Berlakunya bahasa rojak ini dilatarbelakangi pembeli yang berbahasa Melayu mau mengakrabkan diri dengan penjual yang berbahasa India. Selain itu, Mamak ketika memberi perintah kepada pelayannya yang juga berasal daripada India, ia menggunakan bahasa India dilatarbelakangi untuk mempercepat pemahaman atas perintah yang disampaikan. Selain itu, hal tersebut juga dilatarbelakangi keakraban di antara mamak dan pelayannya yang sama-sama beretnik India

 

Bahasa Inggris dalam Bahasa Melayu (Bentuk: Kata dan Frasa)

(2) Nor Diana    : Kak Nani, best tak kasut

                              (sepatu) baru saye ni?

 Nani              : Wah, best sangat lah Didie. You beli kat mane?

 Nor Diana    : Beli kat Mid Valey. Harga benda ni pun less akak.

 Nani              : Very Good lah tuh Die.

 

Data (2) memperlihatkan bahwa telah terjadi alih kode bahasa Inggris ke dalam percakapan bahasa Melayu dalam ragam tak resmi. Alih kode yang membentuk bahasa rojak ini berbentuk kata iatu kata dan frasa best ’bagus’, you ’kamu’,  less ’murah’ dan very good ’sangat bagus’. Alih kode ini berlaku di antara dua orang kawan yang sama-sama berbahasa Melayu. Berlakunya bahasa rojak ini dilatarbelakangi karena penutur dan lawan tutur mahu mengakrabkan diri dan menunjukkan eksistensi/kemampuannya berbahasa asing (Inggris). Perkara ini kerap terjadi dalam masyarakat yang berstatus pendidikan tinggi. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa dengan menggunakan bahasa Inggris penutur/lawan tutur memiliki status yang tinggi/dinilai lebih berpendidikan. Penggunaan bahasa rojak dalam ragam tak resmi seperti kasus di atas sesungguhnya dapat diterima sebagai realitas sosiolinguistik karena jika dalam ragam tak resmi diharuskan menggunakan bahasa resmi, maka komunikasi yang terjadi ialah komunikasi yang kaku dan tidak ramah.

 

Bahasa Inggris dalam Bahasa Melayu (Bentuk: Kata)

(3)    Pengerusi       : ”Para hadirin diminta swich off telefon bimbit.”

         Ketua            : ”Ok. now, saudara dipersilakan membentangkan cadangan penyelidikan saudara.”

         Peserta        : ” Terima kasih.”

 

Data (3) di atas memperlihatkan bahwa telah terjadi alih kode bahasa Inggris ke dalam percakapan bahasa Melayu dalam ragam resmi. Alih kode yang membentuk bahasa rojak ini berbentuk kata dan frasa, iatu kata switch off ’memadamkan’, Ok ’baik’ dan now ’sekarang’. Alih kode ini berlaku antara seorang pengurus, ketua program, dan peserta sidang proposal dalam sebuah acara resmi. Berlakunya bahasa rojak ini dilatarbelakangi peserta tutur dalam majelis tersebut terdiri dari orang-orang yang memiliki derajat pendidikan tinggi sehingga mereka ingin menunjukkan status mereka. Akan tetapi, dengan digunakannya bahasa Inggris seperti di atas dalam ragam resmi, justru dapat membawa dampak menghambat pemasyarakatan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan dan menjejaskan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan kesatuan daripada negara Malaysia. Dalam ragam resmi sepatutnya penutur dan lawan tutur menggunakan bahasa Melayu sebagai identitas kebangsaan.

 

Bahasa Cina dan Bahasa Inggris dalam Bahasa Melayu (Bentuk : Kata)

(4)    Swaresh  : ”Cepat-cepat jangan bagi kereta itu masuk!’

       Ho            : ”He…he…kiasu betullah you ini mah.”

 

Data (4) di atas menunjukkan bahwa telah terjadi alih kode dari bahasa Cina dan bahasa Inggris ke dalam percakapan bahasa Melayu dalam ragam tak resmi. Alih kode ini berbentuk kata, yaitu kiasu dan you. Alih kode ini berlaku antara dua orang kawan yang berasal daripada etnik Cina dan etnik India. Berlakunya bahasa rojak ini dilatarbelakangi keakraban antara kedua kawan tersebut. Penutur yang beretnik India berusaha mengungkapkan maksud yang ingin disampaikannya dengan menggunakan bahasa Melayu (bukan bahasa Tamil) karena selain ketidakmampuannya berbahasa Cina, juga untuk menghormati kawannya yang hanya mampu berbahasa Melayu dan bahasa Cina.

 

Bahasa Melayu dalam Bahasa Inggris (Bentuk: Kata)

 (5)    Dekan           : ”Bagaimana dengan penyelidikan lanjutan ini?”

       Dr. Ahmad   : ”I fikir we cant do that?”

       Dekan           : ”Why?”

       Dr. Ahmad   : ”Because, This is impossible project”.

 

Data (5) di atas memperlihatkan bahwa telah terjadi alih kode bahasa Melayu ke dalam percakapan bahasa Inggris. Alih kode yang membentuk bahasa rojak ini berbentuk, yaitu kata fikir. Alih kode ini berlaku antara dua orang Melayu yang menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sebuah acara resmi (rapat fakultas). Tujuan digunakannya bahasa Inggris dan mencampurkannya dengan bahasa Melayu dalam percakapan tersebut dilatarbelakangi keinginan penutur dan lawan tutur untuk menunjukkan identitasnya sebagai kalangan yang berpendidikan. Namun, dengan digunakannya bahasa Inggris seperti di atas dalam ragam resmi, justru telah membawa dampak buruk bagi perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan karena dalam ragam resmi sepatutnya penutur dan lawan tutur menggunakan bahasa Melayu sebagai identitas kebangsaan.

 

Bahasa Cina dalam Bahasa Melayu (Bentuk: Kalimat)

(6)    Xixia          : ”Berape harga benda ini mah?’

      Penjual      : ”30 Ringgit je”

      Lee            : ”Zhe xie xie de zhi liang bu hao, bu yao zai zhe mai.”

        Penjual        : ”Macam mane? Nak Tak?”

       Xixia               : ”Tak. Maaf.”

        Penjual        : ”Eh, awak cakap ape tadi? Kenape jadi tak nak?”

 

Data (6) menunjukkan bahwa telah terjadi alih kode dari bahasa Cina ke dalam percakapan bahasa Melayu dalam ragam tak resmi. Alih kode yang membentuk bahasa rojak ini berbentuk kalimat, yaitu kalimat Zhe xie xie de zhi liang bu hao, bu yao zai zhe mai.’Kualiti kasut ini tak bagus. Jangan kamu beli barang ini di sini’. Alih kode ini berlaku di antara dua orang kawan yang sama-sama beretnik Cina dan seorang penjual kasut beretnik Melayu. Berlakunya bahasa rojak ini dilatarbelakangi karena penutur yang memiliki kesamaan etnik (Cina) dengan lawan tutur yang bermaksud mengungkapkan sesuatu yang bersifat sulit di hadapan lawan tutur lainnya yang beretnik Melayu. Dengan demikian penutur mengalihkan kode dari percakapan berbahasa Melayu menjadi bahasa Cina. Penggunaan bahasa rojak seperti kasus di atas dapat pula menimbulkan kecurigaan atau kesalahpahaman dari lawan tutur yang tidak memahami kalimat yang diungkapkan penutur (Lee) tersebut. Hal ini dapat menimbulkan gangguan dalam proses komunikasi yang berlangsung. Oleh itu, seorang penutur jika berhadapan dengan lawan tutur, sebaiknya menghindari penggunaan bahasa yang tidak dipahami lawan tutur karena dapat menghambat keramahan proses komunikasi yang berlangsung. Dalam hal inilah bahasa Melayu sebagai bahasa negara dan bahasa persatuan sebaiknya digunakan.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada bab II, diperolehi beberapa kesimpulan. Kesimpulan yang dirumuskan di dalam bab III ini dibagi menjadi tiga bahagian sesuai dengan tujuan penyelidikan yang telah dihuraikan pada bahagian 1.2.

Pertama, jenis bahasa yang terdapat dalam bahasa rojak ialah (1) bahasa Melayu, (2) bahasa Cina, (3) bahasa Tamil dan (4) bahasa Inggris. Keempat bahasa ini saling bercampur menjadi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat umum di Malaysia. Percampuran bahasa inilah yang disebut sebagai bahasa rojak. Sementara itu, Bentuk-bentuk percampuran bahasa dalam bahasa rojak terdiri daripada bentuk (1) kata, (2) frasa dan (3) kalimat.

Kedua, berbagai faktor melatarbelakangi seorang penutur mencampur-campur bahasa yang digunakannya. Faktor tersebut antaranya ialah (1) Keakraban penutur dengan lawan tutur yang memiliki kesamaan identitas, (2) Keinginan penutur mempertahankan dan menunjukkan identitasnya kepada lawan tuturnya dan (3)  Penutur ingin meningkatkan dan menunjukkan kuasanya di hadapan kelompok umum. (dalam kasus penutur yang mencampurkan bahasa kebangsaan dengan bahasa Inggris).

Ketiga, dampak yang dapat ditimbulkan atas penggunaan bahasa rojak dalam masyarakat ini dibagi menjadi dua bahagian yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif daripada bahasa rojak ini antaranya ialah (1) keakraban antara penutur dan lawan tutur, (2) kemudahan pemahaman dari pesan yang disampaikan, dan (3) terwujudnya identitas dari masing-masing penutur. Sementara itu, dampak negatif dari bahasa rojak ini di antaranya ialah (1) Membawa dampak buruk bagi perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan, (2) Menghambat pemasyarakatan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan, (3) Melemahkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan kesatuan negara Malaysia dan (4) Dapat menimbulkan kecurigaan lawan tutur.

Penggunaan bahasa etnik dalam ragam tidak resmi ini tidak dapat dipersalahkan karena dalam ragam tak resmi yang lebih ditekankan adalah bahasa yang dapat menunjukkan dan mempertahankan identitas penuturnya baik secara pribadi maupun secara kelompok etniknya.

 

SARAN

Keberadaan bahasa rojak bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Penggunaan bahasa rojak justru menunjukkan bahwa di Malaysia ialah negara yang memiliki nilai budaya yang kaya yang berasal dari gabungan ragam etnik yang ada di Malaysia. Penggunaan bahasa rojak dalam ragam tidak resmi dapat diterima sebagai suatu fenomena kebahasaan yang dinamis. Akan tetapi, dalam forum resmi yang memerlukan penunjukan identitas kebangsaan, maka masyarakat di Malaysia semestinya menghilangkan penggunaan bahasa rojak ini dan mesti  beralih   menggunakan   bahasa    Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Kesadaran antara menggunakan bahasa Melayu dalam ragam resmi, dan menggunakan bahasa etnik dalam ragam tak resmi perlu dilakukan secara sungguh-sungguh oleh seluruh masyarakat Malaysia. Dengan demikian, bahasa Melayu sebagai identitas kebangsaan semakin terbentuk dengan baik dan kokoh, dan bahasa etnik pun sebagai identitas perseorangan dapat tetap lestari di Malaysia yang terdiri daripada berbagai etnik ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Awang Sariyan. 1996. Bahasa Kacukan: Antara Realitas Sosiolinguistik dengan Idealisme Perancangan Bahasa. Jurnal Bahasa. 6 (4)  Kuala Lumpur : Dewan

Bahasa dan Putaka.

Fidsman, J.A. ed. 1999. Handbook of Language and Ethnic Identity. New York. Oxford University Press.

Idris Aman. 2007. Bahasa dan Linguistik : Penyelidikan dan Pendidikan. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Nor Hashimah Jalaluddin, Imran Ho Abdullah, Idris Aman. 2007. Linguistik Teori dan Aplikasi. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Saran Kaur Gill. 1997. Kekompleksan ’Prihatin Bahasa’ dalam Masyarakat Multietnik Malaysia. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Spolsky, B. 1998. Sociolingustics. Oxford: Oxford University Press

 

Nani Darmayanti adalah staf pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran dan Alumni Universitas Kebangsaan Malaysia dalam bidang analisis wacana kritis. Beliau dapat dihubungi melalui alamat email nanidarma@gmail.com.

Comments are closed.