Peran Kelompok Nomina (Linguistik Sistemik Fungsional) Dalam Penilaian Keakuratan Terjemahan Teks Bidang Sains

nurdinNurdin Bramono

Prodi Bahasa dan Sastra Inggris Unipdu Jombang

email: nurdintranslator@ gmail.com

Abstract

It is a must to review translation result to figure out the quality. The quality of translation result is very important due the aim of source text writer can be delivered in target text and understandable. Thus, certain approach is useful to assess the translated text to discover the error translation occurred. The missed translation can be verified by using linguistic approach since the translation is a linguistic process as well. Hence, this study will discuss about the effectiveness of nominal group (part of systemic functional linguistic) to assess the accuracy of scientific text in O’ Brien’ Pengantar Sistem Informasi dan Manajemen Perspektif Bisnis dan Manajerial. Based on the analysis result, it can be noted that nominal group can help to check the error translation. The errors were about structure shift, and deletion.

Keyword : nominal group, systemic functional linguistic, translation, assessment, scientific text

Abstrak

Review terhadap hasil terjemahan merupakan suatu keharusan. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui kualitas terjemahan. Kualitas terjemahan mutlak harus diketahui untuk mengetahui sejauh mana maksud penulis dalam bahasa sumber bisa tersampaikan dengan baik dalam bahasa sasaran. Oleh karena itu, dalam melakukannya diperlukan suatu pendekatan linguistik tertentu. Hal ini disebabkan karena penerjemahan pada dasarnya adalah suatu proses linguistik Dalam makalah ini, peneliti akan membahas tentang efektivitas penerapan pendekatan kelompok nomina (linguistik sistemik fungsional) dalam menilai dan menganalisis kualitas terjemahan teks bidang sistem informasi dan manajemen dalam buku dalam buku Pengantar Sistem Informasi Dan Manajemen. Berdasarkan hasil analisis tampak bahwa kelompok nomina(linguistik sistemik fungsional) berperan cukup signifikan dalam membantu melakukan analisis terhadap kualitas terjemahan teks bidang sains. Hal ini ditunjukan dalam sejumlah contoh dalam sub temuan. Dalam analisis sub temuan, ditemukan sejumlah kesalahan terjemahan yakni hilangnya informasi bahasa sumber dalam bahasa sasaran dan pergeseran susunan gramatikal.

 Kata kunci: kelompok nomina, linguistik sistemik fungsional, terjemahan, penilaian, teks sain

 

Tulisan yang baik berdampak positif terhadap pemahaman pembacanya. Tidak berbeda halnya dengan terjemahan. Hasil terjemahan yang baik akan memberikan pemahaman positif bagi penikmatnya pula. Hal ini bisa diketahui dengan cara melakukan penelitian terhadap minat baca pembaca buku hasil terjemahan. Selain itu juga, mahasiswa/peneliti bidang kebahasaan bisa melakukan praktik analisis mandiri terhadap kualitas terjemahan buku atau lainnya. Dalam makalah ini akan dibahas tentang penilaian kualitas terjemahan dengan menggunakan pendekatan tertentu. Sebelum melakukan analisis lebih mendalam, peneliti akan melakukan tinjauan terhadap sejumlah penelitian yang terkait dengan analisis produk terjemahan (aspek keakuratan dengan penerapan pendekatan linguistik tertentu). Adapun penelitian pertama adalah jurnal yang ditulis oleh Suprayitno dengan judul Strategi Penerjemahan Istilah Kearsipan dari Bahasa Inggris ke Dalam Bahasa Indonesia Terhadap Kamus Istilah Kearsipan Karangan Sulistyo Basuki (tanpa tahun). Jurnal ini membahas tentang strategi penerjemahan istilah kearsipan. Menurutnya, terdapat tujuh strategi penerjemahan yang diterapkan dalam menerjemahkan istilah kearsipan. Strategi yang paling dominan adalah sereapan deskriptif dengan total presentase 33,60%. Dalam melakukan analisis strategi tersebut, suprayitno tidak menggunakan pendekatan linguistik tertentu. Hal terlihat dari landasan teori dan strategi penerjemahan. Disamping itu juga, Suprayitno juga memanfaatkan pedoman pembentukan istilah yang diterbitkan oleh pusat bahasa. Analisis penelitian yang selanjutnya adalah dilakukan pada jurnal yang berjudul Analisis Penerjemahan Istilah Budaya Pada Novel Negeri 5 Menara Ke Dalam Bahasa Inggris: Kajian Deskriptif Berorientasi Teori Newmark. Makalah ini ditulis dalam jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora volume 3 nomor 2 Oktober 2014 oleh PAP Sukadana beserta tim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur penerjemahan istilah dalam novel Negeri 5 Menara. Pendekatan penelitian yang diterapkan oleh peneliti adalah dengan menggunakan teori kebudayaan yang digagas oleh Peter Newmark. Berdasarkan hasil analisis terhadap dua penelitian diatas bisa dikatakan bahwa, pendekatan yang diterapkan penulisnya berbeda. Makalah pertama menggunakan kamus, sementara yang kedua dengan pendekatan budaya. Jenis teks terjemahan yang dianalisis juga berbeda, namun tujuan utamanya adalah untuk mencari prosedur penerjemahan istilah. Hal ini memberikan inspirasi kepada penulis untuk menggunakan pendekatan linguistik tertentu dalam menganalisis kualitas terjemahan agar berbeda dari kedua makalah diatas.

 

LANDASAN TEORI

Kelompok nomina (nominal group) adalah kelompok kata yang mempunyai unsur inti kata benda (2003;100). Dalam hal ini, kata benda tersebut tidak akan bermakna bilamana berdiri sendiri. Sehingga diperlukan kata penjelas untuk merealisasikan makna yang seharusnya. Adapun kelompok nomina disimbolkan dalam bentuk huruf D atau deiktik. Simbol ini menunjukkan sesuatu yang sudah teridentifikasi atau belum. Simbol ini direalisasikan ke dalam artikel a, atau the (2003;101). Simbol selanjutnya adalah huruf E atau ephitet. Simbol ini direalisasikan ke dalam kata sifat(adjective). Selanjutnya adalah huruf C atau classifier. Simbol ini berfungsi sebagai penjelas bagi inti frasa, dan direalisasikan ke dalam kata benda, kata sifat atau gerund (2003;102). Berikutnya adalah huruf T atau thing. Huruf ini adalah inti kelompok nomina. Sementara Q atau qualifier adalah huruf yang berfungsi untuk menunjukkan informasi tambahan.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Data penelitian ini adalah kalimat yang mengandung istilah sistem informasi dan manajemen, yang dikutip dari buku Introduction to Information system dan terjemahannya. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis kualitas terjemahan teks tersebut adalah kelompok nomina (bagian dari Linguistik Sistemik Fungsional). Dalam hal ini, penulis tidak menggunakan keselurahan aspek LSF, tetapi lebih menekankan pada penggunaan kelompok nomina(nominalisasi). Riyadi (2003;100) menjelaskan bahwa kelompok kata yang mempunyai unsur inti kata benda.

 

TEMUAN

Sebelum pembahasan dilakukan, terlebih dahulu akan disampaikan batasan dalam diskusi ini. Adapun bentuk batasannya adalah, penulis tidak akan membahas semua kalimat yang ada dalam buku Introduction to Information System dan terjemahannya. Tetapi hanya lima kalimat saja. Hal ini disebabkan karena makalah ini penelitian mini yang bertujuan untuk mengetahui peran kelompok nomina (linguistik sistemik fungsional) dalam membantu untuk penilaaian kualitas terjemahan. Alasan utama peneliti menggunakan pendekatan ini adalah disebabkan oleh struktur teks ilmiah yang banyak dihuni oleh istilah teknis.

Berikut ini adalah temuan tentang peran linguistik sistemik fungsional (mode nominalisasi) dalam membantu penilaian keakuratan terjemahan. Di dalam serangkaian data ini dipakai beberapa simbol sebagai berikut. Simbolkan huruf D mewakili deiktik, E untuk ephitet, C untuk classifier, T untuk thing, dan Q untuk qualifier.

Data Pertama

BSu: Why study information systems and information technology? That’s the same as asking why anyone should study accounting, finance, operation management, marketing, human resource management, or any other major business function

BSa: Mengapa mempelajari sistem informasi dan teknologi informasi? Hal ini sama dengan menanyakan alasan mengapa seseorang harus belajar akuntasi, keuangan, manajemen operasional, pemasaran, manajemen sumber daya manusia, atau fungsi bisnis lainnya.

 

Any

Other major Business function
D D E C T

 

Fungsi Bisnis lainnya
T C

Pada frasa, any other major business function, kata function merupakan inti yang diperjelas oleh frasa any other major business. Namun, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terdapat informasi bahasa sumber yang dihilangkan. Adapun informasi tersebut adalah kata major. Dalam hal ini, kata Major merupakan adjective yang berfungsi sebagai penjelas bagi function. Sehingga dengan tidak diterjemahkannya kata tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil terjemahan. Hal ini bisa dikatakan bahwa hasil terjemahan istilah dalam kalimat tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keakuratan makna berkurang, karena penerjemah tidak menerjemahkan informasi yang seharusnya ditampilkan.  

Data Kedua

BSu: That’s why most business major must take a course in information systems

BSa: Inilah alasan mengapa mata kuliah bisnis harus memasukkan mata kuliah sistem informasi

Most Business Major
E C T

                              

Mata kuliah Bisnis
T C

  Berikutnya adalah data yang kedua. Pada frasa most business major. Kata most adalah ephitet(kata sifat). Sementara business adalah classifier(penjelas) dan major adalah thing(inti frasa). Namun ketika diterjemahkan, kata most dihilangkan, Bahkan terjadi penambahan dalam bentuk terjemahannya. Dengan dihilangkannya informasi bahasa sumber sudah barang tentu mengurangi keakuratan terjemahan. Dalam hal ini, kata most yang berfungsi sebagai penjelas dalam frasa tersebut, tidak dapat ditemukan dalam bahasa sasaran. Sehingga nilai terjemahannya sangat rendah. Selain kesalahan dalam penghilangan informasi bahasa sumber, pada terjemahan frasa diatas, terlihat bahwa penerjemah salah dalam diksi. Kata major yang seharusnya diterjemahkan sebagai “jurusan, berubah menjadi mata kuliah. Hal ini justru menambah minimnya kualitas terjemahan yang dihasilkan.  

Data Ketiga

BSu: For example, point-of-sale (POS) systems at many retail stores use electronic cash register terminals to electronically capture and transmit sales data over telecommunications links to regional computer centers for immediate (real time) or nightly (batch) processing.

BSa: Contohnya, sistem titik penjualan (point-of-sale – POS) di banyak toko ritel menggunakan teminal mesin kasir untuk secara elektronik menangkap serta memindahkan data penjualan sepanjang saluran komunikasi ke pusat komputer regional agar dapat diproses segera (real-time) atau didiproses setiap malam (batch).

Point Of Sale System
T Q

 

Sistem Titik Penjualan
T C C

Berdasarkan contoh terjemahan istilah diatas, tampak bahwa terjadi pergeseran gramatikal. Dalam bahasa sumber, istilah point of sale system tersusun dari point yang berfungsi sebagai inti frasa. Selanjutnya kata tersebut diselaskan oleh modifier of sale system. Ketika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, tampak bahwa susunan gramatikal point of sale system mengalami perubahan. System yang pada mulanya berfungsi sebagai penjelas, bergeser menjadi inti frasa (thing). Perubahan yang terjadi tersebut bukan suatu kesalahan, karena sebagai bentuk penyesuaian terhadap kaidah gramatikal bahasa Indonesia. Namun terdapat kesalahan lain yang muncul yakni penerjemah menggunakan teknik literal, sehingga kata yang dihasilkan tidak mampu memberikan penjelasan yang sesuai dengan bahasa sumber. Adapun terjemahan yang seharusnya adalah sistem kasir. Terjemahan ini sudah berterima dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.  

Data keempat

BSu: For example, advertising managers may use an electronic spreadsheet program to do what- if analysis as they test the impact alternative of advertising budgets on the forecasted sales of new products

BSa: Contohnya, manajer bagian periklanan dapat menggunakan program spreadsheet untuk melakukan analisis what if ketika mereka menguji dampak berbagai anggaran iklan atas prediksi penjualan produk-produk baru

the impact alternative of advertising budgets
D C T Q

 

Dampak Berbagai Anggaran iklan
T C C

Berdasarkan hasil analis, terlihat bahwa telah terjadi pergeseran makna. Pergeseran tersebut terletak pada terjemahan kata alternative yang berfungsi sebagai inti, telah berubah menjadi kata kerja. Perubahan ini berdampak terhadap bergesernya makna dari yang seharusnya. Penerjemah tidak tepat dalam melakukan pilihan kata, sehingga terjemahan yang dihasilkan berbeda dengan makna bahasa sumber. Hal ini dapat dikatakan bahwa penerjemah kurang mampu dalam melakukan proses pemilihan kata. Sehingga, makna yang dihasilkan tergolong ambigu.  

Data kelima

BSu: Data can take many forms, including traditional alphanumeric data, composed of numbers and alphabetical and other characters that describe business transactions and other events entities.

BSa: Data dapat berupa banyak bentuk, termasuk data alfanumerik tradisional, yang terdiri dari angka dan huruf serta karakter lainnya yang menjelaskan transaksi bisnis dan kegiatan serta entitas lainnya

Other Event entities
D C T

 

Kegiatan Serta Entitas lainnya
T T D

Pada contoh diatas, terdapat pergeseran struktur gramatikal yang berdampak terhadap kualitas terjemahan. Dalam hal ini kata entitites yang berfungsi sebagai inti frasa berubah ketika diterjemahkan. Bahkan bentuknya tidak diperjelas dengan modifier.  Tidak berbeda halnya  dengan kata event. Dalam bahasa sumber, kata tersebut berfungsi sebagai penjelas, namun pada hasil terjemahannya berfungsi sebagai inti frasa (thing). Sehingga secara tidak langsung, kesalahan terjemahan tersebut berdampak terhadap berkurangnya kualitas terjemahan.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis tampak bahwa kelompok nomina (dalam linguistik sistemik fungsional) dapat menunjukkan kelemahan hasil terjemahan. Hal ini dibuktikan dari sejumlah analisis pada temuan diatas. Dua contoh berikut ini adalah hasil analisis terjemahan dengan menggunakan pendekatan kelompok nomina. Contoh yang pertama adalah kata major dalam frasa any other major business function. Dalam frasa tersebut, kata major yang berfungsi sebagai penjelas, tidak diterjemahkan dalam bahasa sasaran. Sehingga, makna frasa any other major business function tersebut berkurang.

Contoh kedua adalah frasa most business major. Frasa tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi mata kuliah bisnis. Berdasarkan hasil terjemahan tersebut, tampak bahwa kata most tidak diterjemahkan. Padahal, kata tersebut adalah salah satu penjelas bagi kata major.  Bahkan penerjemah melakukan kesalahan dalam penerjemahan kata major. Dalam hal ini major bermakna “jurusan/program studi” dalam universitas.

Berdasarkan kedua contoh tersebut, bisa dikatakan bahwa pendekatan kelompok nomina mampu mendeteksi informasi bahasa sumber yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran. Hal ini bisa di ketahui dari membandingkan struktur frasa bahasa sumber dengan bahasa sasaran.

Selanjutnya adalah pendekatan kelompok nomina mampu mendeteksi pergeseran struktur frasa yang berdampak terhadap keakuratan terjemahan. Hal ini ditunjukkan  pada contoh data nomor empat. Kata impact yang berfungsi sebagai penjelas (classifier). Namun ketika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bergeser menjadi inti frasa. Hal ini tentu adalah suatu kesalahan mengingat kata yang berfungsi sebagai penjelas (classifier)harus diterjemahkan sebagai penjelas pula. Karena bilamana tidak diterjemahkan sesuai fungsinya, maka tingkat keakuratannya bisa berkurang.

Contoh terakhir adalah frasa other event entities. Frasa tersebut menempatkan kata entities sebagai inti (thing) sedangkan event adalah penjelas atau (classifier). Namun, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran, struktur frasa mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut  menempatkan kata kegiatan sebagai inti frasa. Sedangkan struktur frasa tersebut  secara keseluruhan bertambah dengan adanya kata serta. Sehingga secara makna, frasa tersebut mengalami perubahan secara struktur yang berdampak terhadap menurunnya tingkat keakuratan.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa, penerapan kelompok nomina (yang merupakan bagian dari linguistik sistemik fungsional) sangat tepat untuk mengetahui . keakuratan terjemahan teks ilmiah. Meskipun harus membuat kotak-kotak(seperti pada contoh analisis diatas) namun, hal ini terbukti efektif untuk mengetahui kesalahan dalam terjemahan, misalnya informasi bahasa sumber yang tidak diterjemahkan atau pergeseran struktur gramatikal. Hal ini disebabkan karena dalam teks ilmiah terdapat banyak istilah-istilah teknis, sehingga dapat diketahui sejauh mana keakuratan terjemahannya. Sehingga perannya dalam membantu analisis kualitas terjemahan sangat penting dan signifikan.

 

REFERENSI

A O’Brien, James. 2005. Introduction to Information System. New York: Mcgraw Hill

A O’Brien, James. 2008. Pengantar Sistem Informasi dan Perspektif Bisnis Manajerial. Jakarta: Salemba Empat

Santosa, Riadi. 2003. Semiotika Sosial: Cetakan Pertama. Surabaya: Jawa Pos Press.

Suprayitno.(tanpa tahun). Strategi Penerjemahan Istilah Kearsipan dari Bahasa Inggris ke Dalam Bahasa Indonesia Terhadap Kamus Istilah Kearsipan Karangan Sulistyo Basuki.

PAP Sukadana et al. Analisis Penerjemahan Istilah Budaya Pada Novel Negeri 5 Menara Ke Dalam Bahasa Inggris: Kajian Deskriptif Berorientasi Teori Newmark. jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora volume 3 nomor 2 Oktober 2014.

Comments are closed.