Model Pengalihbahasaan Buku Teks Bidang Ekonomi dan Keuangan Berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia: Analisis Akurasi Terjemahan Buku Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management

Ade Sukma Mulya, Ina Sukaesih, Nur Hasyim

Politeknik Negeri Jakarta

 

Abstract

This is a multiyear research with the purposes of establishing a translation model for economics texbooks from English to Bahasa Indonesia. In the first year, the research focused on the translation product analysis to investigate the quality of the translation. The research employed descriptive-qualitative approach for multiple cases. The data gathered from Marketing Management and Fundamentals of Financial Management textbooks, The data gathered from the textbooks are obtained through content analysis, results of questionnaires filled in by informants and in-depth interview. The findings of the research indicate that: the translation model pertains with source language, the translation process including the message equivalence, and the use of ideology, methods and techniques of translation, the output ( the target language), and the outcome (the qualitry) including the aspects of accuracy, acceptabilitry, and the readibility. The analysis of the translation products show that the translation of the sentences in the Marketing Management textbook is mostly accurate.

Key words: economics textbooks, translation accuracy, translation model, accuracy, acceptability, and readibility aspects

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menyusun model penerjemahan untuk buku teks bidang ekonomi dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Pada tahun pertama, penelitian diarahkan pada analisis produk terjemahan untuk mengetahui kualitas terjemahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kasus ganda. Analisis konten digunakan terhadap data yang diperoleh dari dokumen (buku teks Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management), hasil kuesioner dan interview mendalam dengan informan. Temuan yang diperoleh pada tahun pertama menghasilkan model terjemahan yang meliputi bahasa sumber, proses penerjemahan yang mencakup kesepadanan pesan dan penggunaan ideologi, metode dan teknik penerjemahan, output (hasil terjemahan dalam bahasa sasaran), dan outcome (kualitas terjemahan) yang mencakup keakuratan, keberterimaan dan keterbacaan. Analisis terhadap aspek keakuratan memperlihatkan bahwa terjemahan buku teks Marketing Management sebagian besar akurat.

Kata kunci: buku teks ekonomi, keakuratan terjemahan, model terjemahan, aspek keakuratan, keberterimaan, keterbacaan

 

Banyak karya pengalihbahasakan buku teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia yang beredar luas di masyarakat, khususnya di perguruan tinggi. Berdasarkan hasil studi awal penelitian diketahui bahwa dalam beberapa kasus pengalihbahasaan terdapat kekeliruan atau ketidaksesuaian dengan prinsip-prinsip teori terjemahan. Kekeliruan yang dilakukan oleh sejumlah penerjemah ketika mengalihbahasakan buku teks dapat merugikan para pembaca dari buku terjemahan tersebut, yang semula buku terjemahan dapat membantu memahami buku teks, tetapi faktanya sebaliknya, buku terjemahan malah menyesatkan para pembaca.

Dari alasan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk menyusun suatu model pengalihan bahasa buku teks sehingga dapat bermanfaat untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas.

Untuk menghasilkan terjemahan yang berkualitas perlu adanya sutau model yang dapat menuntun penerjemah dalam mengalihkan bahasa sumber ke bahasa sasaran. Setelah model tersusun, kemudian model tersebut diimplementasikan   untuk mengungkap kualitas terjemahan buku Management Marketing, dan Fundamentals of Financial Management.

Berdasarkan fokus penelitian di atas, peneliti fokus pada penyusunan model pengalihan bahasa yang dihasilkan dari berbagai kajian teori penerjemahan, kemudian model tersebut digunakan menganalisis kualitas terjemahan pada aspek keakuratan pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.

Studi awal terhadap buku terjemahan Marketing Management, dan Fundamentals of Financial Management ditemukan beberapa hasil terjemahan dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa) yang menurut peneliti tidak tepat, seperti contoh berikut ini.

Bsu : Companies selling mass consumer goods and services such as soft drinks, cosmetics, air travel, and athletic shoes and equipment spend a great deal time trying to establish a superior brand image.

Bsa : Perusahaan yang menjual barang-barang kebutuhan konsumen dan jasa dalam jumlah besar; seperti minuman ringan, kosmetik, penerbangan, sepatu, dan peralatan olah raga, serta menghabiskan banyak waktu untuk mencoba mengembangkan citra merek yang unggul.

Dari hasil terjemahan di atas telah terjadi pergeseran makna karena penerjemah menambahkan kata tambahan serta sebelum kata kerja utama, yang seharusnya tidak perlu, sehingga membuat terjemahan itu tidak sepadan. Kata spend pada kalimat di atas adalah kata kerja utama sehingga memiliki peran yang sangat penting, tetapi karena penerjemah menambahkan kata serta menghabiskan, sehingga mengaburkan makna dari kata kerja utama tersebut.

Penerjemah menerjemahkan mass consumer goods and services adalah barang-barang kebututuhan dan jasa dalam jumlah besar. Goods and services; goods diterjemahkan barang-barang, seharusnya barang; services diterjemahkan jasa sehingga goods and services terjemahannya adalah barang dan jasa. Mass consumer diterjemahkan kebutuhan konsumen, padahal tidak terdapat kata kebutuhan pada bahasa sumber, sehingga terjadi pergeseran makna, dan seharusnya diterjemahkan konsumen dalam jumlah besar, sehingga untuk menerjemahkan mass consumer goods and services adalah barang dan jasa untuk konsumen massal.

Selanjutnya a great deal time trying to establish a superior brand image diterjemahkan banyak waktu untuk mencoba mengembangkan citra merek yang unggul, penerjemah menambahkan kata pengembangan, padahal tidak ada kata itu dalam teks aslinya. Kata pengembangan yang ditambahkan oleh penerjemah juga tidak tepat, dan justru mengubah makna menjadi tidak sepadan. Terjemahannya yang tepat untuk a great deal time trying to establish a superior brand image adalah banyak waktu yang berguna hanya untuk menetapkan merek yang berkesan unggul, sehingga terjemahan yang telah direkontruksi ulang adalah sebagai berikut: “Perusahaan- perusahaan yang menjual barang dan jasa untuk konsumen massal, seperti minuman ringan, kosmetik, penerbangan, sepatu dan peralatan olah raga menghabiskan banyak waktu yang berguna hanya untuk menetapkan merek yang berkesan unggul

Bsu : A growing number of today’s companies are also shaping separate offers, services, and messages, to individual customer , based on information about past transactions, demographics, psychographics, and media, and distribution preferences. Bsa: Kini semakin banyak perusahaan yang juga membentuk penawaran, layanan, dan pesan terpisah untuk pelanggan individual, berdasarkan atas informasi tentang transaksi masa lalu, demografis, psikografis, dan preferensi media, dan distribusi.

Dari terjemahan di atas, telah terjadi pergeseran klausa simples. Klausa simpleks tersebut mendeskripsikan suatu informasi yang menggunakan present conttinuos tense, tetapi oleh penerjemah diterjemahkan menggunakan simple present sehingga maknanya tidak sepadan.

 

Kelompok nomina A growing number of today’s companies diterjemahkan Kini semakin banyak perusahan, A growing number diterjemah banyak, seharusnya diterjemahkan sedang tumbuh, penerjemah tidak menerjemahkan kata growing sehingga terjadi pergeseran makna karena kata growing tersebut untuk mempertegas bahwa hanya perusahan-perusahan yang sedang tumbuh tersebut bukan semua jenis perusahaan. Terjemahannya yang lebih tepat adalah sejumlah perusahaan yang sedang tumbuh saat ini. Apabila diterjemahkan ulang, terjemahannya adalah sebagai berikut: “Sejumlah perusahaan yang sedang tumbuh saat ini juga sedang   membentuk penawaran, layanan, dan pesan terpisah untuk pelanggan individual, berdasarkan atas informasi tentang transaksi masa lalu, demografis, psikografis, dan preferensi media, dan distribusi”.

Dengan memperhatikan contoh-contoh tersebut dipandang perlu dilakukan penelitian tentang kualitas terjemahan buku teks Management Marketing, dan Fundamentals of Financial Management yang selanjutnya hasil penelitian akan dimanfaatkan untuk membuat model penerjemahan buku teks bidang manajemen agar para penerjemah dan pengguna buku dapat menerjemahkan dan mendapatkan hasil terjemahan yang sepadan dengan makna yang tetkandung pada buku aslinya. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian ini secara lengkap diformulasikan sebagai berikut:

Bagaimana model penerjemahan untuk menghasilkan terjemahan yang berkualitas?

Bagaimana implementasi model penerjemahan dalam pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dalam buku terjemahan Management Marketing dan Fundamentals of Financial Management tersebut kedalam bahasa Indonesia

Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk mengidentifikasi teknik, metode dan idiologi penerjemahan dalam buku teks Marketing Management dan Fundamentals of Financial Management .     Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk menerjemahkan buku teks bidang ekonomi.

Bagaimana implementasi model penerjemahan untuk menyusun buku panduan penerjemahan.

 

Tujuan umum penelitian ini adalah:

  • Penyusunan model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran khusunya buku teks bidang ekonomi yang berbahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  • Mengimplementasikan model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran fokus pada pengalihan pesan dalam kalimat-kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management. (Fokus Penelitian tahun pertama).
  • Mengimplementasi model pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran fokus pada idiologi, metode dan teknik-teknik penerjemahan dalam kalimat-kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management dan istilah teknis dalam buku teks Fundamentals of Financial Management (Fokus Penelitian tahun kedua).
  • Mengimplementasikan model penerjemahan dengan menerjemahkan buku teks bidang ekonomi ( Fokus Penelitian Tahun Ketiga).
  • Penyusunan Buku Panduan Penerjemahan Buku Teks ( Fokus Penelitian Tahun Keempat).

 

KAJIAN TEORI

Pengertian Penerjemahan

Penerjemahan merupakan kegiatan pengungkapkan kembali makna atau pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yang dilakukan oleh seseorang dan seseorang tersebut minimal yang bersangkutan adalah bilingual yaitu menguasai bahasa sumber dan bahasa target. Di samping seorang bilingual juga dituntut seorang penerjemah memahami kontek budaya baik budaya bahasa sumber dan dan bahasa sasaran.

Ada dua teori yang terkenal sampai abad pertengahan 20, atau sejak zaman Romawi; teori terjemahan yang menerjemahkan melalui mengalihan kata perkata dari bahasa sumber ke bahasa sasaran atau disebut “word-for-word translation”, dan teori terjemahan bebas biasa disebut “sense-for-sense translation”. Menurut para ahli penerjemah, kedua teori tersebut memiliki berbagai kelemahan dan kelebihan (Munday 2006 : 21).

Terjemahan dengan teknik kata per kata merupakan strategi penerjemahan yang sudah tua, teknik terjemahan kata per kata ini dikaitkan dengan unit-unit terjemahan, Sementara itu, terjemahan bebas memiliki tujuan untuk mengungkapkan amanat yang ada pada teks (Hatim 2013: 17).

Para pakar teori penerjemahan mendefinisikan penerjemahan dengan cara yang berbeda-beda. Menurut Nababan (2003: 19), definisi-definisi penerjemahan yang mereka kemukakan ada yang lemah, kuat, dan ada pula yang saling melengkapi satu sama lain. Catford (Nababan, 2003: 19) misalnya mendefinisikan penerjemahan sebagai proses penggantian suatu teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran. Dia juga mengartikan penerjemahan sebagai penggantian materi teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran. Menurut Nababan, teori itu sangat lemah karena seorang penerjemah tidak mungkin dapat menggantikan teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran karena struktur kedua bahasa itu pada umumnya berbeda, dan materi bahasa sumber juga tidak pernah digantikan dengan materi bahasa bahasa sasaran. Menurut Nababan, dalam terjemahan ditekankan agar isi teks bahasa sasaran tetap setia dengan isi teks bahasa sumber.

Definisi lain diungkapkan oleh Catford (1974: 20): “translation is the replacement of textual material in one language (SL) by equivalence textual material in another language (TL”). Catford menekankan tentang penggantian materi tekstual dari satu bahasa dengan padanan materi tekstual yang sama dalam bahasa lain. Dalam definisinya, selain menyentuh adanya dua bahasa, Catford juga mengungkapkan adanya materi tekstual, yang ditekankan pada ketidakharusan menerjemahkan keseluruhan teks dari Bsu, tetapi diganti dengan padanan maknanya dalam bahasa sasaran. Definisi Catford memiliki sedikit perbedaan dari definisi yang disampaikan Larson, yaitu tambahan faktor materi tekstual.

Ideologi Penerjemahan

Dalam penerjemahan, ideologi adalah keyakinan seorang penerjemah dalam melakukan penerjemahan, bahwa yang dilakukan dalam proses penerjemahan merupakan hal yang benar yang menghasilkan produk penerjemahan dengan kualitas yang baik. Dinyatakan Nababan (2013) bahwa dalam bidang penerjemahan, ideologi diartikan sebagai prinsip atau keyakinan tentang “benar atau salah”. Sebagian orang berpendapat bahwa produk penerjemahan harus memiliki pesan yang dikandung dalam teks bahasa sumber Sementara itu, sebagian lain berprinsip bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kaidah, norma dan budaya yang berlaku pada bahasa sasaran (Nababan, 2013). Berdasarkan kedua perbedaan keyakinan itu, dua ideologi penerjemahan muncul, yaitu foreinisasi dan domestikasi.

Ideologi foreinisasi dinyatakan sebagai paham yang meyakini bahwa mempertahankan budaya bahasa sumber dalam produk terjemahan penting, penerjemah menganggap bahwa pengenalan budaya, adat istiadat, kebiasaan dari budaya bahasa sumber perlu diketahui oleh pembaca. Munday (2001:147) mengutip Venuti bahwa dalam ideologi foreinisasi seolah-olah penerjemah”sending the reader abroad.” Dinyatakan oleh Nababan (2013) bahwa”bagi mereka, terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang tetap mempertahankan gaya dan cita rasa kultural bahasa sumber. Dalam upaya merealisasikan ideologi foreinisasi, penerjemah menggunakan metode penerjemahan word-for-word translation, literal translation, faithful translation dan semantic translation. Dengan keempat metode penerjemahan itu dimungkinkan keutuhan konten kultur bahasa sumber dalam produk penerjemahan karena padanan yang digunakan cenderung pada pemadanan formal atau kaku, sesuai dengan upaya mempertahankan kultur bahasa sumber.

Sementara itu, ideologi domestikasi merupakan paham yang berlawanan dengan ideologi foreinisasi. Ideologi ini meyakini bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kultur yang terdapat pada bahasa sasaran. seluruh aspek dalam produk penerjemahan harus tunduk pada aturan, norma, kebiasaan yang berlaku pada bahasa sasaran. Nababan (2013) mengutip Zhao Ni:”Domestication refers to the target-culture-oriented translation in which unusual expression to the target culture are exploited and turned into some familiar ones so as to make the translated text intelligible and easy for target readers.” Dalam produk terjemahan yang tunduk pada ideologi domestikasi, hal-hal yang kemungkinan tidak dikenal oleh pembaca akan diubah dan disesuaikan dengan kultur pembaca, padanan yang digunakan cenderung dinamis, disesuaikan dengan target pembaca yang dituju penerjemah. Dalam upaya merealisasikan ideologi domestikasi, metode penerjemahan yang sering digunakan adalah adaptation translation, free translation, idiomatic translation dan communicative translation.

Metode Penerjemahan

Ketika seorang penerjemah dihadapkan pada suatu teks bahasa sumber untuk diterjemahkan, maka hal pertama yang harus diputuskannya adalah metode penerjemahan yang akan digunakannya. Hal ini dikemukakan oleh Molina dan Albir (2002:507-508) dalam Nababan bahwa” pada dasarnya metode penerjemahan akan ditetapkan terlebih dahulu oleh penerjemah sebelum melakukan proses penerjemahan.” Jadi apakah yang disebut dengan metode penerjemahan? Nababan (2013) menyatakan bahwa metode penerjemahan adalah cara proses penerjemahan dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan penerjemahan. Metode penerjemahan merupakan pilihan global yang mempengaruhi keseluruhan teks. Metode penerjemahan dipengaruhi oleh ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah.   Ketika seorang penerjemah menganut ideologi foreinisasi maka metode yang akan dipilih adalah metode yang mendukung keutuhan nilai-nilai budaya bahasa sumber, Sementara itu, bagi penerjemah yang menganut ideologi domestikasi, metode yang akan menjadi pilihannya tentu yang memungkinkan pengalihan kultur bahasa sumber kedalam kultur bahasa sasaran.

 

TeknikPenerjemahan

Ketika seorang penerjemah telah memutuskan metode penerjemahan yang akan digunakannya, tahap selanjutnya yang akan dilalui adalah proses penerjemahan. Dalam tahap ini, penerjemah akan dihadapkan pada bagaimana teks akan diterjemahkan. Cara menerjemahkan saat penerjemah berhadapan dengan teks sumber disebut sebagai teknik penerjemahan. Nababan (2013) menuliskan bahwa teknik penerjemahan merupakan prosedur untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bagaimana kesepadanan terjemahan berlangsung yang dapat diterapkan pada berbagai satuan lingual: kata, frase ataupun kalimat. Dinyatakan juga bahwa teknik penerjemahan dapat disebut sebagai realisasi dari proses pengambilan keputusan yang hasilnya dapat diidentifikasikan pada karya terjemahan.

Teknik penerjemahan menyangkut tahapan berjenjang dari mulai leksis, distribusi yang mencakup morfologi dan sintaks serta pesan. Literal procedures digunakan ketika kedua bahasa memiliki kesepadanan kata, struktur, dan atau morfologi. Sementara itu, oblique procedures digunakan dalam kondisi ketika penerjemahan kata demi kata tidak dimungkinkan.

Teknik yang digunakan penerjemah tidak selalu tunggal, akan tetapibisa kombinasi diantaranya sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penerjemahan. Teknik-teknik penerjemahan yang termasuk literal translation proceduresitu, antara lain:      Borrowings: Dalam teknik penerjemahan ini, kata dari teks bahasa sumber dialihkan langsung ke dalam kata teks sasaran tanpa adanya proses penerjemahan.

Calque: Dalam teknik penerjemahan ini, terjadi pemindahan ungkapan atau struktur dari teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran.

Literal translation: Teknik penerjemahan ini sama dengan penerjemahan kata-demi-kata. Hal ini dimungkinkan dilakukan jika ada kesamaan rumpun bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Sementara itu, teknik-teknik penerjemahan yang termasuk dalam oblique translation procedures, antara lain:

Transposition: teknik penerjemahan dimana penerjemah melakukan perubahan terhadap satu bagian ungkapan(kaidah tata bahasa) dalam teks bahasa sasaran tanpa mengubah pesan yang dikandungnya.

Modulation: dalam teknik penerjemahan ini, terjadi perubahan semantik dan cara pandang dari teks sumber ke dalam teks sasaran.

Equivalence: dengan teknik ini, penerjemah menggambarkan situasi yang sama dengan gaya dan alat struktur yang berbeda. Misalnya ketika penerjemah menerjemahkan idiom.    Adaptation: teknik penerjemahan ini memungkinkan penerjemah mengubah referensi budaya, ketika budaya dari teks sumber tidak ditemukan dalam budaya teks sasaran.

Ketujuh teknik-teknik penerjemahan di atas ditambah dengan beberapa teknik lain, yaitu:

Compensation: teknik penerjemahan kompensasi digunakan ketika satu elemen dari teks Bsu tidak bisa diterjemahkan ke dalam teks Bsa karena tidak ada padanannya. Untuk itu hal tersebut diungkapkan dengan memberikan penjelasan.

Concentration: teknik penerjemahan yang menggunakan lebih sedikit ungkapan dalam teks Bsa dibandingkan dengan ungkapan dalam teks asalnya.

Amplification: teknik penerjemahan yang dilakukan ketika teks Bsa menggunakan lebih banyak kata daripada dalam teks Bsu.

Reinforcement: teknik penerjemahan ini hampir sama dengan teknik penerjemahan amplifikasi dimana penggunaan jenis kata dalam teks Bsu diganti atau ditambah dengan jenis kata lain dalam teks Bsa untuk lebih memperjelas makna.

Explicitation: dalam teknik penerjemahan ini dilakukan pengeksplisitan informasi dalam teks Bsu yang belum jelas atau memiliki arti ambigu.

Generalization: dalam teknik penerjemahan ini satu istilah digunakan untuk beberapa kata dalam teks Bsu, misalnya kata ‘rice’ digunakan untuk menerjemahkan kata ‘nasi’ dan ‘beras’.

Inversion: teknik penerjemahan ini memungkinkan pemindahan kata atau frase dalam teks Bsu ke tempat lain dalam kalimat atau paragraf dalam teks Bsa demi kealamian alur teks.

 

Kesepadanan dalam Penerjemahan

Kesepadanan merupakan salah satu teknik atau prosedur yang digunakan dalam  penerjemahan yang bisa terjadi pada tataran kata, frase atau teks. Vinay dan Darbelnet dalam paper “Ungureanu” mendefinisikan equivalence sebagai a procedure which replicates the same situation as in the original, whilst using completely different wording”. Aspek-aspek yang terlibat dalam kesepadanan (equivalence) ini adalah replikasi, situasi asli, kata berbeda. Intinya bahwa pesan yang terkandung dalam teks Bsu dialihkan ke dalam teks Bsa dengan menggunakan kata-kata Bsa.

Selain itu Hervey dan Higgins dalam Miyanda menyatakan bahwa ”equivalence denotes an observed relationship between ST utterances and TT utterances that are seen as directly corresponding to one another… Dalam penjelasan ini dapat dilihat adanya hubungan atau keterkaitan antara ungkapan dan atau pesan dari teks Bsu dengan teks Bsa. Ungkapan mengacu pada kata-kata Sementara itu, hubungan menekankan pada kesepadanan pesan atau makna.

Ke dua definisi di atas memiliki kesepakatan bahwa kesepadanan memiliki aspek kesamaan pesan atau makna dengan bahasa yang berbeda. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penerjemahan, kesepadanan merupakan keharusan walaupun ungkapan atau bahasa yang digunakan berbeda.

 

Mona Baker(1992) menyajikan tipologi kesepadanan yang terdiri dari:

Kesepadanan pada tataran kata; Baker (1992:11) menyatakan bahwa kata merupakan the basic meaningful element in a language. Dalam penerjemahan kesepadanan antara kata Bsu dan Bsa, mungkin terjadi kesepadanan kata atau ungkapan yang sama. Hal ini akan memudahkan penerjemah dalam melakukan tugasnya. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan kemungkinan ketiadaan padanan kata Bsa yang dapat menggantikan kata dari Bsu.

Kesepadanan di atas tataran kata, mengeksplorasi kesepadanan kombinasi antara kata-kata dan frase.

Kesepadanan pada tataran gramatika, mengeksplorasi kesepadanan pada tataran struktur kalimat   Kesepadanan pada tataran teks mengeksplorasi antara keterkaitan makna dalam konteks.

Kesepadanan Pragmatik mengeksplorasi bagaimana teks digunakan dalam situasi komunikasi yang melibatkan unsur-unsur yang terkait dalam penerjemahan, seperti penulis, pembaca, konteks budaya kedua bahasa terkait.

 

Selain Baker, Koller dalam Munday (2001: 47/48) menjelaskan lima tipe kesepadanan:

Denotative Equivalence yang berkaitan dengan kesepadanan unsur ekstralinguistik dalam teks

Connotative Equivalence berkaitan dengan pilihan kata, khususnya antar kata yang memiliki arti yang hampir sama

Text-normative Equivalence berkaitan dengan tipe teks yang berbeda-beda dan memiliki ciri yang berbeda pula

Pragmatic Equivalence, atau communicative equivalence yang berorientasi pada pembaca produk terjemahan. Hal ini sejalan dengan konsep Nida tentang ‘dynamic equivalence’

Formal Equivalence berkaitan dengan bentuk dan estetika teks yang mencakup permainan kata-kata dan aspek-aspek gaya individu teks sumber.

Nida dalam Munday (2001:41–42) membagi kesepadanan kedalam dua tipe, yaitu: (1) Formal equivalence yang menekankan pada pesan, baik dalam bentuk dan isi, (2) dynamic equivalence yang berkaitan dengan pemahaman bahwa pesan harus disesuaikan dengan kebutuhan linguistik dan ekspektasi budaya pembaca serta kealamian ungkapan sebagai pusat perhatian.

Dari ketiga ahli di atas bisa disepakati bahwa kesepadanan berawal dari tataran kata, kemudian berlanjut sampai pada tataran konteks. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kesepadanan adalah pemilihan unsur-unsur kata atau ungkapan, frase, kalimat, teks, komunikatif, budaya dan kealamian teks supaya pesan yang dialihkan dapat mencapai kualitas terjemahan yang tinggi.

Nida memiliki tiga kriteria dalam menilai kualitas penerjemahan, yang dinyatakan sebagai berikut: Three fundamental criteria are basic to the evaluation of all translating, and in different ways help to determine the relative merit of particular translations. These are: (1) general efficiency of the communication process, (2) comprehension of intent, and (3) equivalence of response.

Kriteria yang disajikan bersifat kualitatif yang cenderung subjektif, kurang standar dan nilai reliabilitasnya rendah. Nababan (2010) menyatakan bahwa penerjemahan merupakan transfer makna dari bahasa sumber (source language) ke bahasa sasaran (target language) dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan. Ketiga faktor yang terdapat dalam produk terjemahan tersebut dikenal sebagai kualitas penerjemahan sebagai parameter atau kriteria baik tidaknya suatu produk terjemahan.

Terdapat dua sistem dalam penilaian kualitas terjemahan yang digunakan, dalam (Schiaffino dan Zearo), disebut sebagai: (a) argumentation-centred systems dan (b) quantitative-centered systems. Sistem pertama bertumpu pada penilaian kualitatif, argumentasi, Sementara itu, argumentasi merupakan hal yang lebih relatif dibandingkan dengan sistem kualitatif. Kelebihan sistem kualitatif juga disampaikan oleh Schiaffino dan Zearo sebagai berikut, ” The advantage of quantitative-centered methods is that they lend themselves to quantifying errors and, therefore, make measurements possible.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model Penerjemahan

            Dari pembahan berbagai teori penerjemahan dapat disusun suatu model penerjemahan. Model penerjemahan ini dapat dipakai sebagai acuan untuk menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas. Model penerjemahan dapat dilihat pada tabel berikut.

ade1

 

Penjelasan gambar:

Input : Kata, Istilah Teknis, Frasa, Klausa, Kalimat, Teks yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Proses Penerjemahan :

Kesepadanan : Inti dari kegiatan penerjemahan adalah pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pesan yang dialihkan harus sepadan dengan bahasa sumber.

Kesepadanan pada tataran kata; Baker (1992:11) menyatakan (1)bahwa kata merupakan the basic meaningful element in a language. Dalam penerjemahan kesepadanan antara kata Bsu dan Bsa, mungkin terjadi kesepadanan kata atau ungkapan yang sama. Hal ini akan memudahkan penerjemah dalam melakukan tugasnya. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan kemungkinan ketiadaan padanan, (2)Kesepadanan pada tataran gramatika, mengeksplorasi kesepadanan pada tataran struktur kalimat, (3) kesepadanan pada tataran teks mengeksplorasi antara keterkaitan makna dalam konteks, (4) kesepadanan Pragmatik mengeksplorasi bagaimana teks digunakan dalam situasi komunikasi yang melibatkan unsur-unsur yang terkait dalam penerjemahan, seperti penulis, pembaca, konteks budaya kedua bahasa terkait. .

Idiologi Penerjemahan

Ideologi foreinisasi dinyatakan sebagai paham yang meyakini bahwa mempertahankan budaya bahasa sumber dalam produk terjemahan penting, penerjemah menganggap bahwa pengenalan budaya, adat istiadat, kebiasaan dari budaya bahasa sumber perlu diketahui oleh pembaca. Munday (2001:147) mengutip Venuti bahwa dalam ideologi foreinisasi seolah-olah penerjemah”sending the reader abroad.” Dinyatakan oleh Nababan (2013) bahwa”bagi mereka, terjemahan yang bagus adalah terjemahan yang tetap mempertahankan gaya dan cita rasa kultural bahasa sumber. Dalam upaya merealisasikan ideologi foreinisasi, penerjemah menggunakan metode penerjemahan word-for-word translation, literal translation, faithful translation dan semantic translation. Dengan keempat metode penerjemahan itu dimungkinkan keutuhan konten kultur bahasa sumber dalam produk penerjemahan karena padanan yang digunakan cenderung pada pemadanan formal atau kaku, sesuai dengan upaya mempertahankan kultur bahasa sumber.

Ideologi domestikasi merupakan paham yang berlawanan dengan ideologi foreinisasi. Ideologi ini meyakini bahwa produk penerjemahan harus mengikuti kultur yang terdapat pada bahasa sasaran. seluruh aspek dalam produk penerjemahan harus tunduk pada aturan, norma, kebiasaan yang berlaku pada bahasa sasaran. Nababan (2013) mengutip Zhao Ni:”Domestication refers to the target-culture-oriented translation in which unusual expression to the target culture are exploited and turned into some familiar ones so as to make the translated text intelligible and easy for target readers.” Dalam produk terjemahan yang tunduk pada ideologi domestikasi, hal-hal yang kemungkinan tidak dikenal oleh pembaca akan diubah dan disesuaikan dengan kultur pembaca, padanan yang digunakan cenderung dinamis, disesuaikan dengan target pembaca yang dituju penerjemah. Dalam upaya merealisasikan ideologi domestikasi, metode penerjemahan yang sering digunakan adalah adaptation translation, free translation, idiomatic translation dan communicative translation.

Teknik Penerjemahan adalah ah satu cara yang dipakai penerjemah ketika mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Salah satu manfaat dari teknik penerjemahan adalah mengatasi kesulitasn pengalihan pesan dari kata, frasa, klausa atau kalimat.

Teori Teknik Penerjemahan Molina Albir :

Teknik yang digunakan penerjemah tidak selalu tunggal, akan tetapibisa kombinasi diantaranya sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penerjemahan. Teknik-teknik penerjemahan yang termasuk literal translation proceduresitu, antara lain:

Borrowings: Dalam teknik penerjemahan ini, kata dari teks bahasa sumber dialihkan langsung ke dalam kata teks sasaran tanpa adanya proses penerjemahan.

Calque: Dalam teknik penerjemahan ini, terjadi pemindahan ungkapan atau struktur dari teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran.

Literal translation: Teknik penerjemahan ini sama dengan penerjemahan kata-demi-kata. Hal ini dimungkinkan dilakukan jika ada kesamaan rumpun bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Sementara itu, teknik-teknik penerjemahan yang termasuk dalam oblique translation procedures, antara lain:

Transposition:teknik penerjemahan dimana penerjemah melakukan perubahan terhadap satu bagian ungkapan(kaidah tata bahasa) dalam teks bahasa sasaran tanpa mengubah pesan yang dikandungnya.

Modulation: dalam teknik penerjemahan ini, terjadi perubahan semantik dan cara pandang dari teks sumber ke dalam teks sasaran.

Equivalence: dengan teknik ini, penerjemah menggambarkan situasi yang sama dengan gaya dan alat struktur yang berbeda. Misalnya ketika penerjemah menerjemahkan idiom.

Adaptation: teknik penerjemahan ini memungkinkan penerjemah mengubah referensi budaya, ketika budaya dari teks sumber tidak ditemukan dalam budaya teks sasaran.

Ketujuh teknik-teknik penerjemahan di atas ditambah dengan beberapa teknik lain, yaitu:Compensation: teknik penerjemahan kompensasi digunakan ketika satu elemen dari teks Bsu tidak bisa diterjemahkan ke dalam teks Bsa karena tidak ada padanannya. Untuk itu hal tersebut diungkapkan dengan memberikan penjelasan.

Concentration: teknik penerjemahan yang menggunakan lebih sedikit ungkapan dalam teks Bsa dibandingkan dengan ungkapan dalam teks asalnya.

Amplification: teknik penerjemahan yang dilakukan ketika teks Bsa menggunakan lebih banyak kata daripada dalam teks Bsu.

Reinforcement: teknik penerjemahan ini hampir sama dengan teknik penerjemahan amplifikasi dimana penggunaan jenis kata dalam teks Bsu diganti atau ditambah dengan jenis kata lain dalam teks Bsa untuk lebih memperjelas makna.

Explicitation: dalam teknik penerjemahan ini dilakukan pengeksplisitan informasi dalam teks Bsu yang belum jelas atau memiliki arti ambigu.

Generalization: dalam teknik penerjemahan ini satu istilah digunakan untuk beberapa kata dalam teks Bsu, misalnya kata ‘rice’ digunakan untuk menerjemahkan kata ‘nasi’ dan ‘beras’.      Inversion: teknik penerjemahan ini memungkinkan pemindahan kata atau frase dalam teks Bsu ke tempat lain dalam kalimat atau paragraf dalam teks Bsa demi kealamian alur teks.

Metode Penerjemahan

Nababan (2013) menyatakan bahwa metode penerjemahan adalah cara proses penerjemahan dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan penerjemahan. Metode penerjemahan merupakan pilihan global yang mempengaruhi keseluruhan teks. Metode penerjemahan dipengaruhi oleh ideologi penerjemahan yang dianut oleh penerjemah.   Ketika seorang penerjemah menganut ideologi foreinisasi maka metode yang akan dipilih adalah metode yang mendukung keutuhan nilai-nilai budaya bahasa sumber, Sementara itu, bagi penerjemah yang menganut ideologi domestikasi, metode yang akan menjadi pilihannya tentu yang memungkinkan pengalihan kultur bahasa sumber kedalam kultur bahasa sasaran.

 

Output:

Bahasa sumber adalah hasil pengalihan dari bahasa sasaran. Hasil terjemahan harus akurat sehingga tidak ada distorsi makna dalam terjemhan, Pengukuran keakuratan telah dikembangkan oleh Nababan, Nuraeni dan Sumarjono (2012). Terjemahan akurat adalah makna kata, frasa, klausa dan kalimat dalam bahasa sumber telah dialihkan ke bahasa sasaran.

Outcomes:

  1. Keberterimaan :Hasil terjemahan dapat digunakan. Bahasa yang diterjemahkan harus berterima dalam kontek bahasa sasaran. Hasil terjemahan sudah tersusun dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Keterbacaan : Terjemahan harus bermanfaat dari aspek keterbacaan. Keterbacaan dari terjemahan tersebut mudah dipahami atau sulit dipahami.

 

Pembahasan Pengalihan Pesan

Pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran adalah salah satu yang terdapat pada model penerjemahan. Pengalihan pesan adalah inti dari proses penerjemahan. Pesan bahasa sumber yang dialihkan harus akurat dan sepadan dalam bahasa sasaran.Kesepadanan harus tercapai pada tataran makna, gramatika, dan budaya.

Peneliti menggunakan data terjemahan yang menjelaskan konsep pemasaran dalam buku teks Marketing Management yang ditulis oleh Philip Kotler dan Kevin Lane Keller . Data yang berupa kalimat yang menjelaskan konsep pemasaran dalam bahasa sumber beserta hasil terjemahannya dipakai untuk untuk mengimplementasikan model terjemahan pada aspek pengalihan pesan. Data penelitian berjumlah 125 data yang menjelaskan konsep pemasaran. Berikut ini adalah contoh analisis pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran .

Analisis Pengalihan Pesan dalam Terjemahan Buku Teks Marketing Management

Bahasa Sumber: Formally or informally, people and organization engage in a vast number of activities that we could call marketing.

Bahasa sasaran : Secara formal atau informal, orang dan organisasi terlibat dalam sejumlah besar aktivitas yang dapat kita sebut pemasaran.

Analisis :Dari hasil terjemahan di atas; penerjemah mempertahankan strukur kalimat, sehingga tidak terjadi pergeseran atau perubahan struktur kalimat, yaitu kalimat simplek. Ada dua temuan yang tidak tepat; yaitu kata engaged diterjemahkan terlibat seharusnya terikat, terlibat dan terikat memiliki makna yang berbeda. People diterjemahkan orang (tunggal), seharusnya jamak misalnya para individu .

Terjemahan ulangnya adalah secara formal dan informal, para individu dan organisasi terikat dalam sejumlah besar aktivitas yang kita dapat sebut pemasaran.

Bahasa sumber : Marketing has been defined as an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.

Bahasa sasaran : Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan , mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengeola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntngkan organisasi dan pemangku kepentinganya.

Analisis : Dari terjemahan di atas tidak terjadi pergesaran struktur kalimat, namun terdapat ketidak tepatan dalam mengalihbahasaan “ Marketing has been defined as” diterjemahkan pemasaran adalah, padahal seharusnya pemasaran telah didefinisikan sebagai … karena kalimat tersebut merupakan kesimpulan dari beberapa penjelas mengenai pemasaran sebelumnya. Ketidak tepatan yang kedua adalah gerund diterjemahkan menjadi to infinitive a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers, seharusnya tetap dalam bentuk kata gerund, serangkaian proses penciptaan, pengkomunikasian, dan penghantaran nilai kepada pelanggan , meskipun maknanya hampir sama tetapi keakurasian tata bahasa menjadi kurang. Dalam menterjamahkan “ in ways” diterjemahkan dengan cara, seharusnya dalam berbagai cara. Its stakeholders diterjemahkan pemangku kepentingan seharusnya diterjemahkan relasinya .

Terjemahan ulang : Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses penciptaan, pengkomunikasian, dan pemberian nilai kepada pelanggan dan untuk pengelolaan hubungan pelanggan dalam berbagai cara yang menguntungkan organisasi dan para relasinya.

Bahasa Sumber : Thus, we see marketing management as the art and science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer value.

Bahasa sasaran : Karenanya, kita memandang managemen pemasaran (marketing management) sebagi seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih ,mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan, dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

Analisis : Tidak terjadi perubahan struktur sehingga tidak terjadi pergeseran kalimat, Sementara itu, temuan kekeliruan adalah pengubahan gerund menjadi infinitive sehingga terjadi pergeseran makna pada kalimat berikut ini , … as the art and science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer value. Sebaiknya penerjemah tetap menerjemahkan geund sebagai kata kerja yang dibendakan daripada kata kerja murni(verb) dengan menerjemahkan of menjadi dalam sehingga aspek akurasi menjadi lebih baik ..sebagai seni dan ilmu pengetahuan dalam pemilihan pasar sasaran, dan peraihan, pemeliharaan, penumbuhan pelanggan melalui penciptaan, penghantaran, dan pengkomunikasian nilai pelanggan unggul.

Terjemahan ulang: Dengan demikian, kita memandang manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu dalam pemilihan sasaran, dan peraihan, pemeliharaan, dan penumbuhan pelanggan melalui penciptaan, penghantaran, dan pengkomunikasian nilai pelanggan unggul.

Bahasa sumber : A social definition shows the role marketing plays in society; for example, one marketer said that marketing’s role is to deliver a higher standard of living.

Bahasa sasaran: Definisi sosial menunjukkan peran yang dimainkan pemasaran di dalam masyarakat sebagai contoh, seorang pemasar berkata bahwa peran pemasaran adalah untuk memberikan standar kehidupan yang lebih tinggi

Analisis: Penerjemah melakukan pergeseran struktur kalimat aktif menjadi pasif untuk mencapai kesepadanan makna, tetapi justru mengubah makna bahasa sumber. Menurut penulis, terjemahan ini tidak perlu mengubah struktur kalimat dari aktif menjadi passif, tetapi cukup menambahkan kata bahwa. Definisi sosial menunjukkan bahwa pemasaran memainkan peran dalam masyarakat. Penerjemah menerjemahkan kata deliver memberikan, sebenarnya kata yang tepat adalah menyampaikan, …seorang pemasar berkata bahwa peran pemasaran adalah untuk menyampaikan standar hidup yang lebih tinggi.

Terjemahan ulangnya : Definisi sosial menunjukkan bahwa pemasaran memainkan peran dalam masyarakat; sebagai contoh, seorang pemasar mengatakan bahwa peran pemasaran adalah untuk menyampaikan standar hidup yang lebih tinggi.

Bahasa sumber : Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging products and services of value with others.

Bahasa sasaran: Pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan di mana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain.

Analisis: Pada terjemahan tersebut terdapat ketidaktepatan dalam menerjemahkan kata through, dengan , seharusnya melalui sehingga diikuti kata benda (gerund) kalau diterjemahkan “dengan’ pasti akan diikuti kata kerja infinitive . dan kata a tidak perlu diterjemahkan sebuah , penerjemah juga mengalihbahasakan by which dimana seharusnya diterjemahkan sehingga, kemudian kekeliruan berikutnya adalah produk dan jasa yang bernilai dipertukarkan seharusnya yang dipertukarkan itu nilai dari barang dan jasa., sehingga terjemahannya adalah Pemasaran merupakan proses kemasyarakatam sehingga individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, pertukaran nilai dari barang dan jasa secara bebas .

Terjemahan ulangnya adalah : Pemasaran adalah proses kemasyarakat sehingga individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, melakukan pertukaran nilai barang dan jasa dengan bebas dengan pihak lain.

Bahasa sumber : The production concept is one of the oldest concepts in business. It hold that consummers will prefer products that are widely available and inexpensive.

Bahasa sasaran : Konsep produksi adalah salah satu konsep tertua dalam bisnis. Konsep ini menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang tersedia dalam jumlah banyak dan tidak mahal.

Analisis : Kekeliruan dalam terjemahan di atas adalah penerjemah mengalihbahasakan widely dengan banyak sehingga terjadi perubahan makna, sementara yang diinginkan oleh penulis buku adalah secara luas. Kata will tidak diterjemahkan padahal kata will itu penting karena mengandung makna sebab akibat, consummers diterjemahkan tunggal harusnya jamak.

Terjemahannya ulang adalah sebagai berikut :.konsep produksi adalah salah satu konsep tertua dalam bisnis. Konsep ini menyatakan bahwa para konsumen akan lebih menyukai produk yang tersedia secara luas dan tidak mahal.

Bahasa sumber : Relationship marketing , a key goal of marketing is to develop deep, enduring relationships with people and organizations that could directly or indirectly affect the success of the term’s marketing activities.

Bahasa sasaran : Pemasaran Hubungan. Tujuan kunci pemasaran adalah mengembangkan hubungan yang dalam dan bertahan lama dengan orang dan organisasi yang dapat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kesuksesan pemasaran

Analisis: pada terjemahan di atas, people diterjemahkan orang, sebaiknya para individu. Penerjemah mempertahankan struktur kalimat yang sama dengan bahasa sumber.

Bahasa sumber : Heightened competition Brand manufacturers are facing intense competition from domestic and foreign brand, resulting in rising promotion costs and shrinking profit margins.

Bahasa sasaran : Persaingan yang meningkat. Produsen merek menghadapi persaingan yang semakin ketat dari merek domestik dan asing. Akibatnya biaya promosi meningkat dan margin keuntungan semakin kecil.

Analisis : Penerjemah melakukan pergeseran dari satu kalimat simplek menjadi dua kalimat simplek. Menurut penulis tidak perlu mengubah menjadi dua kalimat dengan menggunakan kata penghubung yang, dan kekeliruan yang kedua  Heightened competition diterjamhkan persaingan yang sedang meningkat, seharusnya persaingan yang ditingkatkan karena heightened adalah past participle bukan present participle, kekeliruan yang ketiga adalah present continous tense diterjemahkan simple present sehingga mengubah makna.

Dari analisis, terjemahan yang tepat adalah : Persaingan yang ditingkatkan. Para produsen merek sedang menghadapi persaingan yang ketat dari merek domestik dan asing yang mengakibatkan biaya promosi meningkat dan margin keuntungan menyusut.

Bahasa Sumber : New Company CapabilitiesThey can also conduct fresh marketing research using the internet to arrange for focus group, send out quesionnaires, and gather frimary data in saveral other ways

Bahasa sasaran :Kemampuan Baru Perusahaan. Mereka (para peneliti) juga dapat melakukan riset pemasaran yang baru dengan menggunakan internet untuk mengadakan kelompok fokus, mengirimkan kuesioner, dan mengumpulkan data primer dengan beberapa cara.

Analisis : Dari hasil terjemahan di atas, pengalihan bahasa yang kurang tepat, yaitu fresh diterjemahkan baru seharusnya aktual, arrange diterjemahkan mengadakan seharusnya menentukan   focus group dialihbahasakan kelompok fokus, seharusnya kelompok sasaran. Penerjemah tampaknya ingin mempermudah proses penerjemahannya dengan menggunakan ideologi forenisasi.

Penulis menerjemahkan ulang dengan hasil sebagai berikut : Para peneliti dapat juga melakukan penelitian pemasaran yang masih aktual dengan menggunakan internet untuk menentukan kelompok sasaran, mengirimkan kuesioner, dan mengumpulkan data primer dengan berbagai cara .

Bahasa sumber : Key Igredian of the marketing management process are insightful creative marketing strategies and plans that can guide marketing activities.

Bahasa sasaran : Unsur utama proses manajemen pemasaran adalah strategi dan rencana pemasaran yang mendalam dan kreatif yang dapat memandu kegiatan pemasaran.

Analisis : Hasil terjemahan sudah sesuai dengan tatabahasa bahasa sumber, dan struktur bahasa pada terjemahan sama dengan bahasa sumber, yaitu kalimat simplek.

Bahasa sumber : Marketing and Customer Value.Marketing is about satisying customers’ needs and wants. The task of any business is to deliver customer value at profit.

Bahasa sasaran : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Memuaskan kebutuhan konsumen adalah inti dari pemasaran . sasaran dari setiap busines adalah menghantarkan nilai pelanggan untuk menghasilkan laba.

Analisis : Penulis menemukan kekeliruan pada penerjemahannya , penerjemah menambahkan kata inti padahal tidak terdapat pada bahasa sumbernya. Penerjemah memulainya dengan kata kebutuhan sebagai subjek, seharusnya diterjemahkan sesuai struktur kalimat aslinya saja akan lebih akurat dan berterima. Pada kalimat yang kedua , value of profit diterjemahkan sendiri-sendiri, seharusnya tidak boleh dipisah karena merupakan satu kesatuan . Ada kata yang tepat untuk menerjemahkan kata busniness yaitu kegitan usaha.

Dari hasil analisis tersebut , menurut penulis terjemahan yang tepat adalah : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Pemasaran merupakan pemuasan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Tugas dari setiap kegiatan usaha adalah menghantarkan nilai keuntungan terhadap pelanggan

Bahasa sumber : The Selling Concept. The selling concept is practiced most aggressively with unsought goods, goods that buyers normally do not think of buying, such as insurance, encyclopedias, and cemetery plots. Most firms also practice the selling concept when they have overcapacity. Their aim is to sell what they make, rather than make the market want.

Bahasa sasaran : Konsep penjualan dipraktikan paling agressif untuk barang-barang yang tidak dicari (unsought goods), yaitu barang-barang yang biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli konsumen, seperti asuransi, ensiklopedia, dan peti mati. Kebanyakan perusahan juga mempraktekan konsep penjualan ketika mengalami kelebihan kapasitas. Tujuannya adalah menjual apa yang mereka buat, alih-alih membuat apa yang diinginkan pasar.

Analisis: dari terjemahan di atas terdapat terjemahan yang tidak sepadan diantaranya adalah rather than diterjemahkan alih-alih, seharusnya dialihbahasakan daripada sekedar. Most companies lebih tepat dialihbahasakan kebanyak perusahaan seharusnya sebagian besar perusahaan,… the selling concept when they have overcapasity.sebaiknya diterjemahkan …konsep penjualan tersebut ketika perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kelebihan kapasitas.

Terjemahan ulangnya adalah : Konsep penjualan dilakukan paling agressif untuk barang-barang yang yang biasanya tidak dicari oleh para pembeli, yaitu barang=barang yang biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli oleh para konsumen, seperti asuransi, ensiklopedia, dan peti mati. Sebagian besar perusahaan mempraktekan konsep penjualan tersebut ketika perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kelebihan kapasitas. Tujuannya adalah menjual apa yang mereka buat, daripada sekedar memenuhi kebutuhan yang diinginkan pasar.

Bahasa sumber : The traditional view of marketing is that the firm makes something and then sells it. In this view, marketing takes place in the second half of the process. Companies that subscribe to this view have the best chance of succeeding in economies marked by goods shortages where consumers are not fussy about quality, features, or style –for example , basic staple good in developing market.

Bahasa sasaran : Pemasaran tradisional memandang bahwa perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. Dalam pandangan ini, pemasaran terjadi di paruh kedua proses. Perusahaan yang menerapkan pandangan ini memiliki peluang sukses terbaik dalam ekonomi yang ditandai kelangkaan barang di mana konsumen tidak memusingkan kualitas, fitur atau gaya, –misalnya barang primer dasar di psasr yang sedang berkembang.

Analisis : Ada yang kurang sepadanan dalam menerjemahkan :… marketing takes place in the second half of the process, yang diterjemahkan : …pemasaran terjadi di paruh kedua proses harusnya …pemasaran terjadi di paruh proses yang kedua karena second menunjukkan urutan (cardinal). Kode data : C2/P2/75

Bahasa Sumber : The Value Chain. Michael Porter of Harvard has proposed the value chain as a tool for identifying ways to create more customer value. According to this model, every firm is a syntesis of activities perform to design , produce, market, deliver, and support its product..

Bahasa Sasaran : Rantai Nilai. Michael dari Harvard mengatakan rantai nilai (value chain) alat untuk mengindentifikasi cara menciptakan lebih banyak nilai pelanggan. Menurut model ini, setiap perusahaan merupakan sintesis dari beberapa kegiatan yang dilaksankan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, menghantarkan, dan mendukung produknya.

Analisis :Terdapat beberapa pengalihan bahasa yang tidak sepadan : has proposed dialaihbahasakan mengatakan seharusnya telah mengusulkan , kedua;… to create more customer value diterjamahkan … menciptakan lebih banyak nilai pelanggan sehingga dapat menimbulkan ketidakjelasan seharusnya untuk menciptakan nilai lebih bagi pelanggan.

Terjemahan ulang : Rantai Nilai. Michael Porter telah mengusulkan rantai nilai sebagai alat untuk pengidentifikasian cara penciptaan lebih banyak nilai pelanggan. Menurut model ini setiap perusahaan merupakan sintesis dari berbagai kegiatan yang dipertunjukkan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, menyampaikan, dan mendukung produknya.

Bahasa sumber : Holistic marketers achieve profitable growth by expanding customer share, building customer loyalty and capturing customer lifetime value.

Bahasa Sasaran : Pemasar holistik mencapai pertumbuhan yang menguntungkan dengan memperluas pangsa pelanggan, membangun loyalitas pelanggan, dan menangkap nilai seumur hidup pelanggan.

Analisis : Marketers diterjemahkan pemasar, seharusnya para pemasar yang menunjukkan jamak.

Bahasa sumber : Value Exploration. Finding new value opportunities is a matter of understanding the relationships among three spaces: (1) the customer’s cognitive space,(2)the compnay’s comptence space, (3) the collaborator’s resource space.

Bahasa sasaran : Eksplorasi Nilai. Menemukan peluang nilai baru adalah masalah memahami hubungan antara 3 ruang:(1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan, dan (3) ruang sumber daya kolaborasi.

Analisis : Terdapat terjemahan yang kurang sepadanan diantaranya adalah : Finding new value opportunities dialihbahasakan Menemukan peluang nilai baru seharusnya dialihbahasakan Penemuan berbagai peluang baru yang bernilai, kedua; terjemahan untuk frasa… a matter of understanding the relationships among three spaces dialihbahasakan masalah memahami hubungan antara 3 ruang seharusnya …aspek yang terkait dengan pemahamanan hubungan diantara tiga ruang . finding diterjemahkan sebagai infinitive seharusnya diterjemahkan sebagai gerund.

Terjemahan ulang : Penemuan berbagai peluang baru merupakan permasalahan pemahaman hubungan antara 3 ruang:(1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan, dan (3) Pihak yang bekerjasama memiliki sumber daya .

Bahasa sumber : Value Creation. Value-creation skills for marketers include identifying new customer benefits from the customer’s view; utilizing core competencies from business domain; and selecting and managing business partners from its collaborative networks. To create new customer benefits, marketers must understand what the customer thinks about, wants, does, and worries about and observe whom customers admire and interact with, and who influences them.

Bahasa sasaran : Penciptaan Nilai. Keahlian menciptakan nilai bagi pemasar meliputi pengindentifikasian manfaat pelanggan baru dari pandangan pelanggan; pemanfaatan kompetensi inti dari wilayah bisnisnya; dan pemilihan serta pengelolaan mitra bisnis dari jaringan kolaborasinya. Untuk menciptakan manfaat pelanggan baru, pemasar harus memahami pikiran pelanggan, keinginan, tindakan dan kekhawatiran pelanggan serta meneliti siapa yang dikagumi pelanggan dan berinteraksi dengannya, serta siapa mempengaruhi mereka.

Analisis: tidak terjadi perubahan struktur kalimat pada terjemahan di atas, namun ada beberapa phrasa atau kalimat hasil terjemahannya tidak tepat, misalnya value creation dialihbahasakan keahlian menciptakan nilai seharusnya creation diterjemahkan sebagai gerund yaitu penciptaan, kolaborasi sebaiknya dibahasa Indonesiakan yaitu kerjasama, , seharusnya …, what the customer thinks about, wants,… diterjemahkan …pikiran pelanggan, keinginan,… sehingga terjadi pergeseran makna seharusnya … apa yang para pelanggan pikirkan… observe diterjemahkan meneliti seharusnya mengamati

Terjemahan ulang : Penciptaan nilai. Keahlian penciptaan nilai bagi pemasar meliputi pengindentifikasian manfaat pelanggan baru dari sudut pandang pelanggan, pemanfaatan kompetensi inti dari wilayah bisnisnya; dan pemilihan serta pengelolaan mitra usaha dari jaringan kerjasama. Untuk menciptakan manfaat dari pelanggan baru, para pemasar harus memahami apa yang dipikirkan, apa yang diinginkan oleh pelanggan serta mengetahui tindakan dan kekhawatiran pelanggan dan mengamati kepada siapa mereka kagumi, dan kepada siapa mereka berinteraksi, serta siapa yang mempengaruhi mereka.

Bahasa sumber : Integrative Growth. A business can increase sales and profits through backward, forwrard, or horizontal within its industries.

Bahasa sasaran : Pertumbuhan Integratif. Sebuah bisnis dapat meningkatkan penjualan dan laba melalui integrasi ke belakang, ke depan, dan horizontal di dalam industrinya.

Analisis : tatabahasa sudah sesuai dengan tatabahasa pada bahasa sumber

Kode data : C2/P2/H89

Bahasa sumber : SWOT Analysis. The overall evaluation of a company’s strengh, weaknesses, opportunities, and threats is called SWOT Analisis. It’s a way of monitoring the external internal marketing environment.

Bahasa sasaran : Analisis SWOT. Keseluruhan evaluasi tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahan disebut analisis SWOT. Analisis SWOT (strengh, weaknesses, opportunities, threat) merupakan cara untuk mengamati lingkungan pemasaran eksternal dan internal.

Analisis: Dari terjemahan di atas tidak terjadi perubahan struktur kalimat. The overall evaluation sebaiknya dialihbahasakan evaluasi yang lengkap atau menyeluruh , kata tentang sebaiknya diganti dengan kata terkait sehingga terjemahannya adalah evaluasi yang lengkap terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan perusahaan disebut analisis SWOT. Pada kalimat kedua monitoring diterjemahkan mengamati seharusnya pengawasan ( dasar-dasar manajemen adalah perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi), sehingga terjemahaannya adalah Analisis SWOT merupakan cara pengawasan lingkungan pemasaran eksternal dan internal.

Terjemahan ulang : Analisis SWOT. Evaluasi yang lengkap terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah perusahaan disebut analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan cara penagamatan lingkungan pemasaran internal dan eksternal.

Kode data :C.2/h.75/7

Bahasa sumber : Strong companies are reenginerring their work flows and building cross-functional teams to be responsible for each process.

Bahasa sasaran : Perusahaan yang kuat merekayasa kembali alur kerja mereka dan membangun tim lintas fungsional yang bertanggungjawab dalam tiap-tiap proses.

Analisis :…are reenginerring harusnya diterjemahkan sedang merekayasa ulang, artinya menunjukkan kegiatan yang sedang berproses, apabila tidak menambahkan kata sedang, makna berbeda dengan makna pada bahasa sumbernya,

Terjemahan ulang : Perusahaan-perusahaan yang kuat sedang melakukan perekayasaan ulang alur kerja mereka dan membangun tim lintas fungsional yang bertanggungjawab untuk setiap proses.

Bahasa sumber : Core Competencies.Traditionally, companies owned and controlled most of the resources that entered their business –labor power, materials, machines, information and energy -but this situation is changing. Many companies today outsource less-critical resources if they can obtain better quality or lower cost.

Bahasa sasaran : Kompetensi inti. Dulu, perusahaan memiliki dan mengendalikan sebagian besar sumber daya yang memasuki bisnis mereka – tenaga kerja, bahan, mesin, informasi, dan energi –tetapi situasi ini tengah berubah. Kini banyak perusahaan meng—outsource sumber daya yang kurang penting jika mereka bisa mendapatkan kualitas yang lebih baik atau biaya yang lebih rendah.

Analsis :Sebaiknya tradisionally tidak diterjamahkan dulu tapi dialihbahasakan konsep lama atau konsep tradisional karena dulu dan tradisional berbeda, bisa saja sesuatu yang tradisional masih dipergunakan sampai saat ini.

Terjemahan ulang : Kompetensi inti. Pada konsep lama, perusahaan memiliki berbagai sumber daya sendiri dan mengendalikan sebagian sumber daya milik mereka –tenaga kerja, bahan, mesin, informasi, dan energi tetapi keadaan seperti itu sedang berubah. Kini banyak perusahaan meng-outsource sumber daya dengan kualitas baik dengan biaya yang lebih rendah.

Bahasa sumber : The marketing plan is the central instrument for directing and coordinating the marketing effort.

Bahasa sumber : Rencana pemasaran (marketing plan) Adalah instrumen sentral untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha pemasaran.

Analisis: central diterjemahkan sentral seharusnya penting. Plan sebaiknya diterjemahkan perencanaan, karena plan pada bahasa sumber adalah kata benda yang berarti perencanaan.

Terjemahan ulang : Perencanaan pemasaran adalah instrumen penting untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha pemasaran.

 

Bahasa sumber : Organizational and Organizational Culture. What is exatly corporate? Most business people would be hard – pressed to describe this elusive concept , which some defines as “the shared experiences, stories, beliefs,and norms that characterize an organization”.

Bahasa sasaran : Organisasi dan Budaya Organisasi. Apa sebenarnya budaya korporat itu? Sebagian besar pebisnis sulit menggabarkan konsef elusif ini, yang didefinisikan oleh beberapa orang sebagai ‘pengalaman , cerita, kepercahayaan, dan norma yang dimiliki bersama dan menentukan karakter organisasi.

(catatan : elusive : sukar untuk dipahami, sukar ditangkap)

Analisis : elusive pada terjemahan di atas adalah kata penting oleh sebab itu harus dibahasa indonesiakan. Elusive artinya susah untuk dipahami. Business people diterjemahkan pebisnis, sebaiknya diterjemahkan sebagai pelaku usaha.

Terjemahan ulang : Organisasi dan Budaya Organisasi. Apa sebenarnya pengertian budaya perusahaan? Para pelaku usaha kesulitan untuk memahami kosep budaya organisasi karena sulit untuk dipahami, beberapa definisi menyatakan bahwa budaya organisasi sebagai pertukaran pengalaman, cerita, kepercayaan, dan norma-norma yang membentuk karakter organisasi.

Bahasa sumber : Key ingredians of the marketing management process are insightful, creative marketing strategies and plans that can guide marketing activities. Developing the right marketing strategy over time requires a blend of discipline and flexibility. Firms must stick to a strategy but also find new ways to constantly improve it.

Bahasa sasaran : Unsur utama proses manajemen adalah strategi dan rencana pemasaran yang mendalam dan kreatif yang dapat memandu kegiatan pemasaran. Pengembangan strategi pemasaran yang benar sepanjang waktu memerlukan bauran disiplin dan felksibilitas. Perusahaan harus tetap berpegang pada startegi, tetapi juga menemukan cara baru untuk terus mengembangkannya.

Analisis : pada terjemahan di atas key diterjemahkan utama , bukan kunci menurut penulis sudah tepat karena diikuti kata ingredian yang berarti unsur atau ramuan. Pada kata insightfull diterjemahkan mendalam, padahal insightfull artinya wawasan atau pengetahuan yang luas, … insightfull, creative marketing strategies and plans… seharusnya dialihbahasakan … perencanaan dan strategy pemasaran yang kreatif dan berwawasan luas … berikutnya terjemahan yang kurang sepadan adalah require artinya meminta bukan membutuhkan ; meminta dan membutuhkan memiliki makna yang tidak sepadan, kata lainnya yaitu dicilpine diterjemahkan disiplin padahal yang diinginkan pada kontek tersebut adalah pengetahuan , sehingga untuk menerjemahkan … Developing the right marketing strategy over time requires a blend of discipline and flexibility. Pengembangan strategi pemasaran yang tepat meminta bauran pengetahuan dan fleksibilitas . Pada akhir kalimat terdapat frasa… constantly improve it, dialihbahasakan terus mengembangkannya, sebenarnya yang makna yang tepat adalah terus menerus memperbaikinya .

Dari analisis tersebut, terjemahan ulangnya adalah …Unsur utama managemen pemasaran adalah perencanaan dan strategi pemasaran yang kreatif dan berwawasan luas yang dapat memandu berbagai kegitan pemasaran. Pengembangan stregi pemasaran yang tepat sepanjang waktu meminta bauran pengetahuan dan fleksibilitas. Perusahaan harus tetap berpegang pada startegi, tetapi juga menemukan cara baru yang terus menerus memperbaikinya.

Bahasa sumber : Marketing and Customer Value. Marketing is about satisfying consumer’s needs and wants. The task of any business is to deliver of customer value at a profit.In a hypercompetitive economy with increasingly rasional buyers faced with abundant choices, a company can win only fine-turning the value delivery process and choosing , providing, and communicating superior value.

Bahasa sasaran : Pemasaran dan nilai pelanggan. Memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah inti dari pemasaran.Sasaran dari setiap bisnis adalah menghantarkan nilai pelanggan untuk menghasilkan laba. Dalam ekonomi yang sangat kompetitif, dengan semakin banyaknya pembeli rasional yang dihadapkan dengan segudang pilihan, perusahaan hanya dapat meraih kemenangan dengan melakukan proses penghantaran nilai yang bagus serta memilih, menyediakan, dan mengkomunikasikan nilai-nilai yang unggul.

Analisis : Penerjemah menggunakan teknik terjemahan bebas dan menambahkan beberapa kata yang tidak terdapat pada bahasa sumber sehingga berpengaruh terhadap kesepadanan makna, seprti menambahkan kata inti padahal di bahasa sumbernya tidak ada. Seharusnya penerjemah harus selalu setia pada makna yang disampaikan pada bahasa sumber. Menurut penulis, terjemahannya seharusnya sesuai dengan struktur bahasa sumbernya : Pemasaran adalah terkait dengan pemuasaan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Terjemahan yang tidak sepadan juga ditemui pada kalimat berikut : The task of any business is to deliver of customer value at a profit… the task dialihbahasakan sasaran, seharusnya tugas, untuk terjemahan sasaran adalalah target, sehingga terjemahannya adalah … Tugas kegiatan usaha adalah menghantarkan nilai pelanggan pada pencapaiam keuntungan.

Terjemahan ulang : Pemasaran dan Nilai Pelanggan. Pemasaran adalah pemuasaan kebutuhan dan yang diinginkan pelanggan. Tugas setiap kegiatan usaha adalah menyampaikan pelanggan suatu nilai untuk keuntungan/laba. Dalam persaingan ekonomi yang sangat tinggi dengan meningkatnya para pembeli rasional yag dihadapkan pada banyak pilihan, perusahaan hanya dapat meraih kemenangan dengan melakukan proses pergantian nilai dan pemilihan, penyediaan, dan pengkomunikasian nilai-nilai yang unggul.

Bahasa sumber : Value Exploration. Finding new value opportunities is a matter of understanding the relationships among three spaces:(1) the customer’s cognitive space;(2) the company’s competence space, and(3) the collaborator’s resource space.

Bahasa sasaran : Eksplorasi nilai. Menemukan peluang nilai baru adalah masalah memahami hubungan antara tiga ruang: (1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan , dan (3) ruang sumber daya kolaborator.

Analisis :Finding adalah gerund atau kata kerja yang dibendakan sehingga harus diterjemahkan penemuan bukan menemukan, new value opportunities diterjemahkan peluang nilai baru, seharusnya peluang –peluang baru yang bernilai, matter diterjemahkan masalah, seharusnya aspek, understanding dialihbahasakan memahami seharusnya pemahaman.

Dari analisis tersebut, terjemahan ulangnya adalah : Penemuan peluang-peluang baru yang bernilai merupakan aspek pemahaman hubungan antar 3 ruang: (1) ruang kognitif pelanggan, (2) ruang kompetensi perusahaan , dan (3) ruang sumber daya kolaborator.

Bahasa sumber : Marketing opportunity is an area of buyer need and interest that a company has a probability of profitable satisfying.

Bahasa sasaran : Peluang pemasaran(marketing opportunity) adalah wilayah kebutuhan dan minat pembeli, di mana perusahaan mempunyai probabilitas tinggi untuk memuaskan kebutuhan tersebut dengan menguntungkan.

Analisis: Terdapat terjemahan yang tidak sepadan, misalnya penerjemah mengalihbahasakan that dimana, seharusnya sehingga . Ketidaktepatan yang lainnya adalah ketika menerjemahkan probability , probabilitas tinggi, penerjemah menambahkan kata tinggi sehingga tidak sepadan dengan bahasa sumber.

Terjemahan ulangnya adalah : Peluang pemasaran adalah ranah kebutuhan dan minat pembeli sehingga perusahaan mempunyai pilihan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan tersebut dengan cara pemuasan perolehan keuntungan.

Bahasa Sumber : An environmental threat is a challenge posed by an unfavorable trend or development that would lead, in the absence of defensive marketing action, to lower sales or profit

Bahasa sasaran : Ancaman lingkungan adalah tantangan yang ditempatkan oleh tren atau perkembangan yang tidak disukai yang akan menghasilkan penurunan penjualan atau laba akibat tidak adanya tindakan pemasaran defensive.

Analisis : trend harus dialihbahasakan kecenderungan, favorable = baik , posed menurut kamus berarti mengajukan, bersikap, berpose, sementara penerjemah mengalihbahasakan ditempatkan (tidak tepat).

Terjemahan ulang : Ancaman lingkungan merupakan tantangan yang disikapi oleh kecenderungan yang tidak menyenangkan atau perkembangan yang akan mengarah pada penjualan yang rendah atau penurunan keuntungan.

Bahasa sumber : Strategic Formulation. Goals indicate what a business unit wants to achieve ; strategy is a game plan for getting there. Every business must design a strategy for achieving its goals, consisting of a marketing strategy and compatible technology strategy and soucing strategy.

bahasa sasaran : Formulasi strategis. Tujuan(goal) mengindikasikan apa yang ingin dicapai oleh unit bisnis; Sementara itu, strategi adalah rencana permainan kita untuk mencapai kesana. Setiap bisnis harus merancang sebuah strategi untuk mencapai tujuannya, yang terdiri dari strategi pemasaran, serta strategi teknologi, dan strategi pengadaan yang kompatibel.

Analisis: Penerjemah menambahkan kata “Sementara itu, dan kita” padahal tidak ada pada bahasa sumber. There sebaiknya tidak diterjemahkan kesana, tetapi diterjemahkan apa yang ingin dicapai oleh unit bisnis.

Terjemahan ulang : Perumusan strategi. Tujuan menunjukkan bahwa apa yang ingin dicapai oleh unit usaha; strategi adalah suatu permainan perencanaan untuk mencapai apa yang ingin dicapai oleh unit usaha. Setiap usaha/bisnis harus merancang strtegi untuk mencapai tujuan unit usaha, yang terdiri dari strategi pemasaran dan penggunaan strategi teknologi yang tepat.

Bahasa sumber : A marketing information system, MIS, consists of people, equipment, and procedures,to gather, sort, analyze, evaluate, and distribute needed, timely, and accurate information to marketing decision makers.

Bahasa sasaran : Sistem informasi pemasaran, MIS(marketing information system) terdiri dari orang-orang, peralatan dan prosedur, untuk mengumpulkan, memilah, menganalisis, mengevaluasi, dan mendistribusikan informasi yang dibutuhkan, tepat waktu, dan akurat bagi pengambil keputusan pemasaran.

Analisis: tidak terjadi pergeseran kalimat, dan terjemahannya sudah tepat.

Bahasa sumber : A marketing intelligence system is a set procedures and sources managers use to obtain everyday information about developments in the marketing environment..

Bahasa sasaran : Sistem intelijen pemasaran(marketing intelligence system) adalah kumpulan prosedur dan sumber daya yang digunakan manager untuk mendapatkan informasi harian tentang berbagai perkembangan dalam lingkungan pemasaran.

Analisis : a set diterjemahkan sekumpulan, seharusnya seperangkat. Sources managers diterjemahkan sumber daya yang digunakan para manajer, terjemahan yang tepat adalah para manager sumber daya.

Terjemahan ulang : Sistem intelijen pemasaran adalah seperangkat prosedur dan para manager sumber daya menggunakan untuk mendapatkan informasi harian tentang berbagai perkembangan dalam lingkungan pemasaran.

Bahasa sumber : The world population is showing explosive growth: it totaled 6.1 billion in 2000 and will exceed 7.9 billion by the year 2025.

Bahasa sasaran : Pertumbuhan Populasi Dunia. Populasi dunia memperlihatkan pertumbuhan eksplosif: total populasi dunia mencapai 6,1 miliyar pada tahun 2000, dan akan melebihi 7.9 miliar pada tahun 2025.

Analaisis : tense diatas menggunakan present continous tetapi diterjemahkan simple present sehingga makna bahasa sumber tidak sepadan dengan bahasa sasaran. Eksplosif seharusnya diterjemakan luarbiasa. Population seharusnya diterjemahkan penduduk, bukan populasi. Total sebaiknya diterjemahkan jumlah

Terjemahan ulang : Pertumbuhan penduduk dunia. Penduduk dunia sedang memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa: Jumlah penduduk dunia mencapai 6,1 milyar pada tahun 2000, dan akan melebihi 7.9 milyar pada tahun 2025.

Bahasa sasaran : Marketing insights provide diagnostic information about how and why we observe certain effect in the marketplace, and what that means to marketers.

Bahasa sasaran : Pemahaman atau gagasan pemasaran (marketing insight) memberikan informasi diagnostic tentang bagaimana dan mengapa kita meneliti pengaruh tertentu di pasar , dan apa arti hal tersebut bagi pemasar.

Analisis : provide sebaiknya diterjemahkan menyediakan. Diagnostic information sebaiknya diterjemahkan informasi awal.

Terjemahan ulangnya : Pemahaman atau gagasan pemasaran menyediakan informasi awal tentang bagaimana dan mengapa kita mengamati dampak tertentu di pasar, dan apa arti bagi pemasar.

Bahasa sumber : We define marketing research as the systematic design, collection, analysis, and reporting of data and finding relevant to a specific marketing situation facing the company.

Bahasa sasaran : Kita mendefinisikan riset pemasaran (marketing research) sebagai perancangan, pengumpulan, analisis, dan pelaporan data sistematis, serta temuan yang relevan, terhadap situasi pemasaran tertentu yang dihadapi perusahaan.

Analisis : kata systematic hanya untuk kata design, collection dan analisis. Kekeliruan pada terjemahan di atas adalah pelaporan data sistematis, karena sistematis hanya menjelaskan untuk kata perancangan, pengumpulan dan analisis.

Terjemahan ulangnya : Kita mendefinisikan riset pemasaran sebagai perancangan , pengumpulan , analisis yang sistematis dan pelaporan data, serta temuan yang relevan terhadap situasi pemasaran tertentu yang dihadapi oleh perusahaan.

Bahasa sasaran : The second stage of marketing research is where we develop the most efficient plan for the gathering needed information and that will cost.

Bahasa sasaran : Tahap kedua riset pemasaran adalah di mana kita mengembangkan rencana paling efektif untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan, dan berapa biayanya.

Analisis : tidak terjadi perubahan struktur kalimat. Sebaiknya plan diterjemahkan perencanaan. Kata efisien diterjemahkan efektif sehingga mengubah makna karena Efisien dan efektif dua kata yang berbeda.

Terjemahan ulangnya : Tahap kedua dari riset pemasaran adalah dimana kita mengembangkan perencanaan yang paling efesien untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, dan berapa biaya yang akan dikeluarkan.

Bahasa sumber ; The researcher can gather secondary data, primary data, or both. Secondary data are data that were collected for another purpose and already exist somewhere. Primary data are data freshly gathered for a specific purpose or for a research project.

Bahasa sasasaran : Sumber data. Periset dapat mengumpulkan data sekunder, data primer atau keduanya. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk tujuan lain dan sudah ada di suatu tempat. Data primer adalah data baru yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu atau untuk projek riset tertentu.

Analisis : Tidak terjadi perubahan struktur dan terjemahannya sudah sesuai dengan makna bahasa sumber.

Bahasa sumber : Ethnographic research is a particular observational research approach that uses concepts and tools from anthropology and other social science disciplines to provide deep understanding of how people live and work.

Bahasa sasaran : Riset Ethnografi adalah pendekatan riset observasi tertentu yang menggunakan konsep dan alat dari ilmu social lain untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana orang hidup dan bekerja.

Analisis: anthropologi tidak diterjemahkan padahal kata itu penting.

Terjemahan ulang : Riset ethnografi adalah pendekatan riset yang berdasarkan pada hasil obervasi tertentu yang menggunakan konsep dan alat dari ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya untuk memberikan pemahaman yang mendalam bagaimana orang hidup dan bekerja.

Bahasa sumber : A focus group is a gathering of 6 to 10 people carefully selected by researchers based on certain demographic, psychographic, or other considerations and brought together to discuss various topics of interest at length.

Bahasa sasaran : Kelompok focus(focus group) adalah sebuah perkumpulan yang terdiri dari 6 sampai 10 orang yang dipilih secara teliti oleh periset berdasarkan pertimbangan demografis, psikografis, atau pertimbangan lain dan dipersatukan untuk mendiskusikan berbagai topik minat dalam waktu yang panjang.

Analsisis: Tidak terjadi perubahan struktur kalimat dan terjemahannya sudah sesuai dengan makna yang ingin disampaikan pada bahasa sumber.

Bahasa sumber : Experimental research : the most scientifically valid research is experimental research, designed to capture cause-and- effect relationships by eliminating competing explanations of the observed findings.

Bahasa sasaran ; Riset Eksperimen, riset yang paling valid secara ilmiah adalah riset ekperimen(experimental research) .Riset ini dirancang untuk menangkap hubungan sebab akibat dengan menghilangkan berbagai penjelasan tentang temuan yang diteliti.

Analisis: Penerjemah mengubah struktur kalimat untuk memudahkan memahami makna yang ingin disampaikan pada sumber. Menurut penulis perubahan struktur kalimat dari satu kalimat menjadi dua kalimat sudah tepat karena perubahan tersebut dapat membantu pembaca memahami terjemahan tersebut dengan mudah.

Bahasa sumber : Market demand for a product is the total volume that would be bought by a defined marketing environment under a defined marketing program.

Bahasa sasaran : Permintaan pasar(market demand) untuk sebuah produk adalah volume yang akan dibeli oleh kelompok pelanggan tertentu di wilayah geografis tertentu dalam periode waktu tertentu pada lingkungan pemasaran tertentu dibawah program pemasararan tertentu.

Analisis : Total tidak diterjemahkan, sebaiknya total diterjemahkan jumlah . Defined marketing environment diterjemahkan kelompok pelanggan tertentu, menurut penulis tidak tepat karena makna yang ingin disampaikan adalah lingkungan pemasaran yang telah ditetapkan.

Terjemahan ulang : Permintaan pasar(market demand) untuk sebuah produk adalah jumlah volume yang akan dibeli oleh lingkungan pemasaran yang telah ditetapkan di wilayah geografis tertentu. dalam periode waktu tertentu pada lingkungan pemasaran tertentu dibawah program pemasararan tertentu.

Bahasa sumber : The potential market is the set of consumers who profess a sufficient level of interest in a market offer. However, consumer interest is not enough to define a market for marketers unless they also have sufficient income and access to the product.

Bahasa sasaran : Pasar potensial adalah kumpulan konsumen yang memiliki tingkat minat cukup besar terhadap penawaan pasar. Meskipun demikian, minat konsumen tidak cukup untuk mengidentifikasi pasar bagi pemasar kecuali mereka juga mempunyai penghasilan dan akses yang cukup besar terhadap produk.

Analisis : The potential market diterjemahkan pasar potensial, seharusnya diterjemahkan pasar yang memiliki potensi. The set of consumers diterjemahkan kumpulan konsumen, seharusnya sekumpulan konsumen.

Terjemahan ulang :Pasar yang memiliki potensi adalah sekumpulan potensi yang memiliki tingkat minat cukup besar terhadap penawaran pasar. Meskipun demikian, minat konsumen tidak cukup untuk mengidentifikasi pasar bagi pemasar kecuali mereka juga mempunyai penghasilan dan akses yang cukup besar terhadap produk.

Bahasa sumber : Total market potential is the maximum amount of sales that might be available to all the firms in an industry during a given period, under a given level of industry marketing effort and environmental conditions.

Bahasa sasaran : Total potensi pasar (total potential market) adalah jumlah penjualan maksimum yang mungkin tersedia bagi semua perusahaan dalam sebuah industri sepanjang suatu periode di bawah tingkat pemasaran industry dan kondisi lingkungan tertentu

Analisis : Total market potential diterjemahkan total potensi pasar, seharusnya jumlah pasar yang memiliki potensi. A given level of industry marketing effort diterjemahkan tingkat pemasaran industry dan kondisi lingkungan tertentu. Given tidak diterjemahkan, seharusnya diterjemahkan yang telah ada, sehingga terjemahan dari kelompok kata tersebut adalah usaha pemasaran industri pada level yang telah ada.

Bahasa sumber : Total customer satisfaction: satisfaction is person’s feelings of pleasure or disappointment, that result from comparing a product’s perceived performance (or outcome) to their expectations.

Bahasa sasaran : Secara umum, kepuasan (satisfaction) adalah perasaan atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka.

Analisis:Total customer satisfaction diterjemahkan secara umum, seharusnya kepuasan jumlah pelanggan. person’s feelings of pleasure or disappointment, feeling of pleasure harusnya diterjemahkan perasahaan bahagia. …from comparing a product’s perceived performance (or outcome) to their expectations diterjemahkan membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka, seharusnya membandingkan kualitas produk yang dpersepsikan dengan harapan .

Terjemahan ulang : Kepuasan pelanggan yang optimal, kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kualitas produk yang dpersepsikan dengan harapan .

Bahasa sumber : Product and Service Quality: quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.

Bahasa bahasa sasaran: Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

Bahasa sumber : Product and Service Quality: quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.

Bahasa sasaran : Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

Analisis : Product and service tidak diterjemahkan, seharusnya diterjemahkan barang dan jasa.

Bahasa sumber : Customer portfolio. Marketers are recognizing the need to manage customer portfolios, made up of different groups of customers defined in terms of their loyalty, profitability, and other factors.

Bahasa sasaran : Portopolio pelanggan. Pemasar mengakui adanya kebutuhan untuk mengelola portopolio pelanggan yang terdiri dari berbagai kelompok pelanggan yang didefinisikan berdasarkan loyalitas, profitabilitas, dan factor lain.

Analaisis: Marketers diterjemah tunggal seharusnya jamak, para pemasar. Recognize diterjemahkan mengakui seharusnya mengenal. Made up diterjemahkan terdiri dari seharusnya dibuat .

Terjemahan ulang : Portopolio pelanggan. Para pemasar mengenal adanya kebutuhan untuk mengelola portopolio pelanggan , yang dibuat dari berbagai kelompok pelanggan yang dikelompokan berdasarkan loyalitas, profitabilitas, dan factor lain.

Bahasa sumber : Customer relationship management(CRM) is the process of carefully managing detailed information about individual customer “touch points” to maximize customer loyalty.

Bahasa sasaran : Manajemen hubungan pelanggan adalah proses mengelola informasi rinci tentang pelanggan perorangan dan semua ‘titik kontak” pelanggan secara seksama untuk memaksimalkan loyalitas pelanggan.

Analsisis:

Bahasa sumber : Building loyalty: creating a strong , tight connection to customers is the dream of any marketer and often the key to long term marketing success.

Bahasa sasaran : Membangun loyalitas: Menciptakan hubungan yang kuat dan erat dengan pelanggan adalah mimpi semua pemasar dan hal ini sering menjadi kunci keberhasilan pemasaran jangka panjang .

Analsisis: creating diterjemahkan menciptakan seharusnya penciptaan, karena creating yang dimaksud adalah gerund.

Bahasa sumber : The aim of marketing is to meet and satisfy target customers’ needs and wants better than competitors. Marketers are always looking for emerging customer trends that suggest new marketing opportunities. For example, the emergence of the mobile phone, especially with teens and young adults, has marketers rethinking their practices.

Bahasa sasaran : Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan sasaran dengan cara yang lebih baik daripada para pesaing. Pemasar selalu mencari kemunculan tren pelanggan yang menunjukkan peluang pemasaran baru. Misalnya, kemunculan telopon seluler, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, membuat pemasar memikirkan kembali praktik mereka,

Analsisis : …better than competitors mengandung makna memuaskan kebutuhan pelanggan sasaran lebih baik daripada memikirkan para pesaing. Marketers diterjemahkan singular, pemasar harusnya jamak. opportunities diterjemahkan singular harus plural, hat suggest diterjemahkan yang menunjukkan, seharusnya yang sesuai.

Terjemahan ulang: Tujuan pemasaran adalah untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan sasaran hasilnya lebih baik daripada memikirkan para pesaing. Para Pemasar selalu mencari kemunculan tren pelanggan yang sesuai dengan peluang-peluang pemasaran baru. Misalnya, kemunculan telopon seluler, terutama di kalangan remaja dan dewasa , membuat pemasar memikirkan kembali cara memasarkannya.

 

Analisis Pengalihan Pesan Dalam Terjemahan Buku Teks Fundamentals of Financial Management

Keakuratan Hasil Terjemahan Istilah Manajemen keuangan

ADE2

Fundamentals of Financial Management sebagai buku pegangan dalam mata kuliah Manajemen Keuangan telah diterjemhakan ke dalam bahasa Indonesia. Edisi yang terakhir yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia adalah Edisi 13. Dari edisi terjemahan yang menjadi subjek penelitian adalah Edisi 9, Edisi 12, dan Edisi 13. Dalam penelitian ini, aspek keakuratan terjemahan menjadi pokok pembahasan. Dari hasil temuan, dalam Edisi 12, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 141 (80, 57). Hal ini dapat disimpulkan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 12 dapat dianggap akurat. Begitu juga dalam Edisi 13, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 153 (87, 42%). Juga dapat disimpulkan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 13 dianggap akurat.

Sementara itu, dalam Edisi 9, dari 175 istilah yang dinilai oleh informan yang memiliki keakuratan rata-rata sebanyak 63 (36%). Masih jauh untuk mencapai bahkan sampai ke setengah dari jumlah istilah yang dibahas, sehingga membawa ke kesimpulan bahwa makna dalam buku terjemahan Edisi 9 dianggap tidak akurat.

Perbandingan keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan dari buku teks Fundamentals of Financial Management adalah: yang paling akurat dalam Edisi 13, urutan kedua tingkat keakuratan dalam Edisi 12, dan dalam Edisi 9 tidak akurat. Tingkat keakuratan yang rendah, sebesar 36% pada Edisi 9 mengarahkan pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi rendahnya penilaian informan terhadap keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan. Faktor yang pertama menurut peneliti adalah faktor kekinian. Edisi 9 yang paling terdahulu (1997) kemungkinan besar masih terbatas dalam hal istilah, baik padanan dalam bahasa sasaran maupun referensi lain yang dapat mendukung, misalnya ketersediaan kamus atau referensi terjemahan sebelumnya untuk perbandingan. Selain itu, penerjemah Edisi 9, Heru Sutojo yang merupakan seorang sarjana ekonomi, yang mungkin dianggap lebih mengerti keakuratan makna pesan yang terkandung dalam istilah manajemen keuangan, akan tetapi tidak bisa menjamin keakuratan dalam mentransfer pesan yang terkandung dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Yang selanjutnya, menurut peneliti adalah ketiadaan atau pengabaian referensi pendukung, kemudian tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan teknik penerjemahan ‘Reduction’ telah menyumbang terhadap tingkat keakuratan dalam edisi terjemahan ini. Yang terakhir adalah ketiadaan pengetahuan tentang teori penerjemahan, atau bahkan mungkin dalam proses penerjemahan tidak ada pemikiran tentang seperti apa penerjemahan yang baik itu.

Sementara itu, Edisi 12 (2005) dan 13 (2015) yang dinilai akurat oleh informan memiliki kekinian yang lebih daripada Edisi 9. Hal ini memberikan dampak positif terhadap keakuratan hasil terjemahannya. Padanan dalam bahasa sasaran sudah lebih banyak, penggunaan istilah dalam bahasa sasaran sudah lebih lazim, tidak ada yang ‘obsolete’. Referensi lain, seperti hasil terjemahan dan kamus telah tersedia. Edisi 12 diterjemahkan oleh dua orang yang memiliki bidang ilmu berbeda, ilmu ekonomi dan ilmu bahasa. Seorang yang memiliki ilmu bahasa, mungkin sedikitnya memiliki pengetahuan tentang penerjemahan sehingga tidak heran hasil terjemahannya memiliki keakuratan tinggi walaupun masih berada di bawah keakuratan Edisi 13. Walaupun begitu, harus juga dilihat faktor-faktor lain yang memberikan dampak pada nilai keakuratan terjemahan istilah manajemen keuangan ini. Untuk Edisi 13, yang pertama, peneliti tetap berpendapat bahwa kekinian lebih memberikan dampak positif terhadap kekuratan hasil terjemahan ini: ketersediaan padanan yang lebih, referensi hasil terjemahan terdahulu untuk perbandingan. Walaupun latar belakang pendidikan penerjemah tidak diketahui, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keakuratan hasil terjemahan, keuntungan memiliki referensi pendukung lain yang lebih beragam merupakan nilai plus dalam keakuratan hasil terjemahannya.

 

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pengalihan pesan menjadi kurang akurat karena ada keterbatasan penerjemah dalam penguasahaan struktur bahasa baik bahasa sumber maupun bahasa sasaran.
  2. Pengalihan pesan menjadi kurang akurat karena adanya penambahan informasi yang dilakukan oleh penerjemah.
  3. Model Penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan buku teks ekonomi meliputi teks dalam bahasa sumber sebagai input, proses yang mencakup kesepadanan, ideologi, metode dan teknik penerjemahan, output sebagai hasil dalam bahasa sasaran dan outcome yang merepresentasikan kualitas terjemahan.
  4. Pengalihan pesan dari istilah teknis manajemen keuangan rata-rata akurat karena tidak dipengaruhi oleh struktur kalimat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baker, Mona. 2009. Translation Studies. New York: Rountledge

Baker, Mona, In Other Words., Prentice Hall, London

Catford, JC. 1974. A Linguistic Theory of Translation. New York: Oxford University Press.

Boris Burden, dkk., 2009, Cultural Translation: an introduction to the problem, and responses. Translation Studies Volume 2, Issue 2

Cronin, Michael & Sherry Simon. 2014. Translation and the City. Translation Studies,

Evans Jonathan. 2014. Film Remake, the blacksheep of translation. Translation Studies

Fitriasari, D. 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta. Salemba 4.

Fromkin, Victoria. An Introduction to Language. New south Wales: Harcourt Brace

Jovanovic Group(Australia) Pty.limited.

Griffiths, P. 2006. An Introduction to English Semantics and Pragmatics.

Edinburgh: Endinburgh University Press

Hatim, Basil and Jeremy Munday.2004. Translation, An Advance Resource Book. New York : Routledge.

Hiltrop, JM. 2008. Human Resource Management in the Future. 13th Edition. London. Prentice Hall,

Ida Sundari Husen. 2005. Masalah pilihan Kata dalam Penerjemahan:Menciptakan Kata  Baru atau Menerima Kata Pinjaman. Lingua Vol. 9 No. 1 Maret 1-15

Malmkjaer, K. 2005. Linguistics and Language of Translation. Edinburgh: Endinburgh University Press.

Molina, L. & Hurtado.A. 2002. Transalation Techniques Revisited: A  Dynamic and Functionalish Approach. Meta, Vol.47, n.4. p. 498-512.University Press.

Munday, J. 2001.Introducing TRANSLATION STUDIES. New York :Routledge.

Mubarakah, Q. 2013. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta. Salemba 4.

Munday, 2001. Theories in Translation. Prentice Hall, London

Comments are closed.