Teknologi Informasi dan Profesi Penerjemahan

Achmad Suyono, Sugeng Hariyanto, Politeknik Negeri Malang

 

Ada beberapa megatren yang mempengaruhi profesi penerjemahan. Beberapa dari megratren yang terpending adalah globalisasi ekonomi, perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi. Globalisasi ekonomi menyebabkan sebuah perusahaan berusaha untuk hadir dan berbisnis di seluruh dunia. Untuk itu, perusahaan merasa perlu menerbitkan situs web dalam bahasa dimana perusahaannya akan beroperasi, menerbitkan dokumen produk dalam bahasa pasar sasaran, dll. Ini berarti penerjemahan menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan jarak psikologi. Perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi jenis teks dan karenanya mempengaruhi bagaimana teks itu harus diterjemahkan. Teks sekarang ini tidak saja tetrtulis di artas kertas, tetapi tersimpan di server internet dan bisa memuat gambar dan suara. Karakteristik jenis teks baru ini tentunya tidak bisa diterjemahkan dengan cara tradisional. Diperlukan perangkat lunak tertentu dan keterampilan tertentu di samping keterampilan linguistik yang digunakan di penerjemahan tradisional. Terakhir. dengan adanya digitalisasi membuat dokumen referensi yang dulu tercetak diatas kertas sekarang dengan mudah dibuka dan dirujuk menggunakan komputer. Hal ini juga terkait dengan perangkat lunak atau kemajuan teknologi informasi. Dengan digitalisasi, seorang penerjemah dapat membuka banyak kamus dan ensikopledia dalam beberapa detik saja. Artikel ini juga membahas secara ringkas apa-apa yang perlu dipersiapkan oleh penerjemah dalam rangka menjawab tantangan tiga butir megatren ini. Terakhir, pembahasan ini juga dapat ditarik lebar ke arah kurikulum pengajaran penerjemahan. Singkatnya, kurikulum harus juga memuat butir-butir keterampilan yang diperlukan untuk menjawab tantangan ini.

 

Kata kunci: megatren, globalisasi, teknologi informasi, digitalisasi, perangkat lunak penerjemahan, CAT Tool, mesin penerjemah, website, keterampilan penerjemahan, keprigelan penerjemah, kurikulum penerjemahan

 

Tiga Megatren yang Mempengaruhi Profesi Penerjemah

Tiga megatren yang mempengaruhi terjemahan dan profesi penerjemahan adalah: globalisasi ekonomi, perkembangan teknologi informasi, dan digitalisasi. Globalisasi berasal dari kata “globe” yang merujuk pada bola dunia. Globalisasi adalah suata proses meleburnya batas-batas negara sehingga individu, perusahaan, pemerintah beroperasi dengan pertimbangan kepentingan dirinya sendiri dan individu, perusahaan, pemerintah lain di seluruh permukaan “globe” (bola dunia). Pada dasarnya, globalisasi adalah integrasi intemasional (Chomsky[1]). Integrasi ini bisa di bidang budaya, sains, dan lain-lain. Namun, yang menjadi panglimanya sejauh ini adalah globalisasi ekonomi. Inti dari globalisasi ekonomi ini adalah berdagang di seluruh permukaan “globe” (bumi). Dalam rangka melakukan perdagangan inilah, perusahaan perlu membuat dokumen dalam bahasa pasar di bagian lain bumi ini. Dan ini adalah penerjemahan juga.

Globalisasi sekarang ini sedang kencang-kencangnya karena mendapat sokongan yang luar biasa dari bidang teknologi informasi. Teknologi informasi menurut Information Technology Association of America (ITAA), is “the study, design, development implementation, support or management of computer-based information systems, particularly software applications and computer hardware.” Teknologi informasi (TI) secara umum meliputi penggunaan perangkat keras dan lunak komputer untuk mengonversi, menyimpan, melindungi, memroses dan membuka ulang informasi.[2] Dengan adanya teknologi ini, terbuka banyak kemungkinan terkait kerja terjemahan yang efisien. Dengan komputer orang bisa menulis dengan cepat dan mencari data dengan cepat karena banyak dokumen yang didigitalisasi. Mendigitalkan informasi berarti mengubahnya ke dalam bentuk yang mudah dibaca oleh komputer (Collin Cobuild Dictionary). Bukan hanya dokumen yang akan diterjemahkan yang mengalami digitalisasi. Kamus pun juga mengalami digitisasi, sehingga ini mempengaruhi kerja penerjemah. Selain itn. beberapa perangkat lunak komputer juga dibuat untuk memudahkan kerja penerjemah. Proses memadukan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini kehidupan penerjemah disebut digitalisasi.[3] Dengan digitalisasi ini, kamus yang tebal dapat di boat menjadi beberapa megabyte saja. Kamus pun dapat dibuka dengan sangat cepat.

Dari hal-hal baru yang dicapai oleh perkembangan TI, Internet adalah yang paling berdampak besar. Internet adalah hubungan jaringan komputer dengan standar yang sama sehingga pesan dapat dikirimkan dari satu komputer yang terdaftar di sebuah jaringan ke komputer lain dalam jaringan lain (Crystal,: 3). Dengan demikian, internet adalah media baru bagi pertukaran pesan. Dan menururt Crystal (6-10), ragam bahasa yang dipakai di internet mempunyai cirri tersendiri dalam hal: (a) fitur grafis, (b) fitur grafologis, (c) fitur gramatikal. (d) fitur leksikal, dan fitur wacana. Karena suara juga bisa ditampilkan di dalam Ides, maka Crystal juga menambahkan (e) fitur fonetik dan (f) fitur fonologis.

Lebih jauh Crystal (10) mengidentifikasi beberapa situasi yang menggunakan internet: (a) email, (b) chatgroup, (c) virtual world (online game), (d) word wide web, (e) instant messaging, and (f) blogging. Dari enam penggunaan internet tersebut, world wide web mempu: pengaruh yang paling besar terhadap penerjemahan. Pengaruh ini dapat ditelisik dari dua hal. Pertama, semakin banyak situs web yang diterjemahkan dan kedua, semakin bamak informasi yang ada di internet yang bisa membantu kerja penerjemah. Singkatnya, gabungan antara perkembangan teknologi komputer dan internet, mempengaruhi profesi penerjemahan dalam hal (a) format dokumen baru, (b) kebutuhan penerjemahan yang semakin banyak dan sumber daya penerjemahan semakin kaya.

Menurut Gouadec (2007) Teknologi Infirmasi (TI) mempengaruhi profesi penerjemah. Pertama karena TI membuka pasar terjemahan yang benar-benar baru. Kedua. bidang terjemahan sebagai profesi yang semakin khusus, bukan lagi sekadar bisa dikerjakan oleh dwibahsawan, karena bidang ini memerlukan perangkat lunak khusus dengan tingkat harga yang lumayan dan kerumitan yang tinggi. Dia malah mengistilahkan “clean up the market’* untuk perubahan ini. Ketiga, website menjadi sarana untuk mengelola penawaran dan kebutuhan jasa terjemahan. Dan akhirnya, TI melahirkan peranti penerjemahan berbantuan komputer (CAT Tool).

Lebih lanjut Gouadec (2007) juga menengarai adanya lima hal yang membuat revolusi teknologi ini menjadi tidak bersahabat bagi penerjemah. Pertama, komputerisasi telah mengubah kerja terjemahan dari kerja amatir menjadi kerja rumahan dan kemudian menjadi bagian dari proses industri. Sebagai proses industri, berarti ada volume pekerjaan yang sangat besar, ada alat tertentu yang selaras dengan proses induistri keseluruhan, dan penerapan prosedur standar. Ini artinya penerjemah harus berinvestasi besar tidak hanya dalam hal uang tetapi juga dalam hal belajar teknik-teknik dan cara kerja baru. Menurutnya, standar perlengkapan penerjemah terkait TI adalah program pengolah kata, desk publishing, manajemen memori terjemahan, menajemen glosari, dan internet tanpa batas.

Hal kedua yang kurang menguntungkan penerjemah adalah ketatnya kompetisi harga karena dengan globalisasi dan internet, klien bisa memesan jasa terjemahan kepada siapa pun di sudut dunia asalkan harganya rendah dan kualitas tidak mengecewakan. Ketiga. TI membuat penerjemah sangat bergantung pada komputer, bahkan bisa-bisa menjadi ‘pesuruh’ komputer. Hal terakhir adalah terpisahnya penerjemah dari koleganya karena bekerja dari rumah. Khusus untnk hal terakhir ini, Gouadec (2007) tidak sepenuhnya benar karena dengan bantuan internet sekarang ini komunikasi dengan sesama penerjemah dapat dilakukan dengan baik. Lebih jauh Gouadec (200”) juga menyatakan bahwa nantinya setelah penerjemah menguasa sarana baru ini. penerjemah segera akan disibukan dengan belajar bagaimana menangani materi (jenis teks) sumber baru yang akan dibuat dengan sarana yang lebih baru dari yang telah dikuasai oleh penerjemah

 

Kebutuhan Baru, Kompetensi Baru, Keterampilan Baru

Adanya format dokumen baru menuntut penerjemah menerjemahkan dengan teknik yang baru pula karena tidak mungkin dokumen yang berupa file animasi diterjemahkan dengan program pengolah kata saja. Seperti yang telah disinggung di atas. Perkembangan TI melahirkan peranti penerjemah berbantuan komputer (yang dalam bahasa Inggris disebut “Computer Assisted Translation Tools atau disingkat CAT Tool).[4] Lebih lanjut, dengan adanya digitalisasi, perangkat lunak CAT Tool ini dapat dengan mudah disebarkan dan dipasang di komputer para penerjemah.

Penguasaan keterampilan terkait CAT Tool ini dapat dikategorikan sebagai salah satu sub-kompetensi menerjemahkan (PACTE Group, 2005). PACTE Group adalah sebuah kelompok riset di University of Barcelona yang khusus mempelajari kompetensi terjemahan secara sistematis dan empiris. Grup ini mendefinisikan kompetensi terjemahan sebagai sistem yang mendasari pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat menerjemahkan (PACTE Group, 2005). Lesznyak (2007: 168) mengatakan bahwa model kompetensi terjemahan yang diusulkan oleh kelompok riset ini adalah yang paling canggih untuk saat ini. Grup PACTE menyatakan bahwa kompetensi terjemahan memiliki empat karakteristik khas: (a) kompetensi terjemahan adalah pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh semua dwibahasawan, (b) pada dasarnya kompetensi terjemahan bersifat prosedural (bukan deklaratif), (c) kompetensi terjemahan terdiri dari beberapa sub-kompetensi, dan (4) sub-kompetensi strategis sangat penting karena kompetensi terjemahan merupakan pengetahuan prosedural, bukan deklaratif. Sub-kompetensi terjemahan dan kesalingterkaitan diilustrasikan pada Gambar 1 berikut ini.

PACTEGambar 1. Model Kompetensi Terjemahan menurut Grup PACTE (2005)

 Subkompetensi pertama adalah subkompetensi bilingual (dwibahasa). Subkompetensi ini terdiri atas pengetahuan pragmatik, sosio-linguistik, tekstual dan leksikal-gramatikal bahasa sumber (Bsu) dan Bahasa Sasaran (Bsa). Menurut hemat saya, ini kurang lebih sama dengan kompetensi linguistik pada umumnya. Sub-kompetensi kedua adalah subkompetensi ekstra-linguistik yang terdiri dari pengetahuan ensiklopedik, tematik dan bikultural (dwibudaya). Sub-kompetensi ketiga adalah pengetahuan tentang terjemahan. Pengetahuan ini adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip yang memandu penerjemahan (misalnya proses penerjemahan, metode terjemahan, prosedur terjemahan, dll.) dan pengetahuan tentang profesi penerjemah (msl. Jenis-jenis terjemahan, cara memahami perintah terjemahan, karakteristik pembaca sasaran, harapan pembaca sasaran, dll.). Subkompetensi keempat—subkompetensi instrumental—adalah subkompetensi yang terdiri dari pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan penggunaan alat atau sumber-sumber yang dapat membantu penerjemah menerjemahkan. Di sinilah kita bisa menggolongkan keterampilan penggunaan teknologi penerjemahan. Terakhir, sub-kompetensi yang paling penting terletak di tengah-tengah di dalam gambar di atas, yaitu sub-kompetensi strategis. Ini adalah subkompetensi yang mengordinasikan subkompetensi lainnya sehingga dapat terciptaka kompetensi terjemahan yang utuh. (Meskipun tidak sama persis, ini bisa dibandingkan dengan strategi metakognitif di dalam teori strategi belajar.) Subkompetensi ini berperan dalam memecahkan masalah dan menjamin efisiensi proses karena subkompetensi ini terkait dengan perencanaan proses penerjemahan dan pembuatan keputusan dalam setiap tahap proses penerjemahan.

Selain terjemahan itu, ada satu kelompok komponen yang mempengaruhi hasil terjemahan, yaitu komponen psiko-fisiologis. Komponen psiko-fisiologis mengacu pada komponen kognitif dan sikap (memori, rentang perhatian, ketekunan, daya kritis, dll.) dan mekanisme psikomotor. Karena dwibahasan selalu memiliki pengetahuan tentang dua bahasa (Bsu dan Bsa) dan mungkin juga memiliki pengetahuan ekstra-linguistik, maka PACTE Grup menganggap bahwa sub-kompetensi khusus dari kompetensi terjemahan adalah subkompetensi strategis, instrumental dan pengetahuan tentang terjemahan. Sehubungan dengan pembahasan kita sekarang, dengan adanya globalisasi, perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi, subkompetensi instrumental perlu mendapat perhatian lebih karena teks-teks yang akan dikerjakan meliputi teks-teks elektronik.

 

Proses Penerjemahan Teks Elektronik

Pentingnya keterampilan ini dapat dilihat dari model penerjemahan naskah elektronik usulan Hariyanto (2009). Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 2 berikut ini.

REVISED - translation processGambar 2. Model penerjemahan naskah elektronik (Hariyanto (2009)

Di dalam model tersebut, proses penerjemahan dibagi menjadi tiga fase utama: persiapan, proses utama, dan penutup. Ini bisa dibaca di bagian kiri. Di bagian tengah adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh penerjemah dan di bagian kanan adalah kompetensi (pengetahuan dan/atau keterampilan) yang dipakai dalam menerjemahkan teks elektronik. Kalau dibaca secara horizontal, maka didapatlah keterangan bahwa dalam proses persiapan, langkah pertama adalah mempelajari perintah penerjemahan dan butir subkompetensi yang diperlukan adalah keterampilan dwibahasa dan pengetahuan tentang penerjemahan.

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa mulai dari fase persiapan, keterampilan instrumental diperlukan untuk mempersiapkan glosari. Mempersiapkan glosari mungkin berarti membuka file atau bahwa menyusun glosari baru. Hal ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak manajemen glosari, yang biasanya berhubungan dengan perangkat lunak terjemahan utama (memori terjemahan). Dalam proses utama penerjemahan, keterampilan instrumental yang diperlukan adalah keterampilan untuk menuliskan hasil terjemahan (BSa), untuk menemukan kata atau istilah yang ekuivalen di dalam arsip memori terjemahan, dan juga untuk memanipulasi kode teknis dalam dokumen elektronik. Akhirnya, pada tahap kesimpulan, keterampilan instrumental diperlukan untuk memeriksa terjemahan kualitas terjemahan dari segi linguistic (konsistensi terminologi) dan kualitas teknis (dengan memeriksa apakah format naskah rusak atau beberapa kode teknis hilang atau tidak). Dengan demikian, penguasaan perangkat lunak penerjemahn menjadi mutlak adanya untuk menerjemahkan naskah jenis baru sebagai buah dari perkembangan teknologi informasi.

 

Penutup

Pentingnya menguasai keterampilan baru seperti yang dipaparkan di atas sudah disadari oleh Himpunan Penerjemah Indonesia dan beberapa asosiasi penerjemah di Indonesia. Oleh karenanya beberapa pelatihan singkat di bidang ini sudah digelar karena, terutama HPI, khawatir bahwa lapangan kerja di bidang ini akan diambil oleh orang di luar Indonesia. Sementara itu, di perguruan tinggi Indonesia, hal ini kurang begitu mendapat tanggapan sehingga tidak banyak jurusan bahasa asing yang mengajarkan matakuliah Terjemahan yang mengenalkan keterampilan ini kepada mahasiswanya. Sejatinya, perguruan tinggi yang menawarkan matakuliah Penerjemahan selayaknya mengikuti perkembangan ini dan mengenalkan teknologi penerjemahan ini di dalam sajian kuliahnya. Kalau tidak, maka kemungkinan kerja bagi para mahasiswa hanyalah menjadi penerjemah naskah tertulis dan tidak bisa melebar ke penerjemahan naskah elektronik yang jenisnya sangat beragam, mulai dari menu layar untuk alat elektronik, antarmuka perangkat lunak, sampai halaman web. Mahasiswa juga perlu dikenalkan dengan bagaimana mencari bantuan dengan cepat dan efisien di internet, baik dengan cari melakukan pencarian lewat browser maupun mengenali cara menggunakan situs-situs khusus perjemah seperti www.bahtera.org/kateglo.[5]

Pengajaran Terjemahan idealnya mengonversi keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan penerjemah untuk bekerja ke dalam kurikulum matakuliah atau program studi penerjemahan dan, kurikulum itu sendiri harus bersifat fleksibel (Suryawinata, 1982: 23). Fleksibel di sini artinya mudah beradaptasi dengan situasi yang ada atau dengan kbutuhan terjemahan di lapangan.Selanjutnya Suryawinata (1982: 29) juga menyatakan bahwa pengajaran terjemahan yang dikembangkan berdasarkan teori dan praktek yang relevan akan menghasilkan penerjemah yang baik.

Sejauh ini, dalam pengajaran matakuliah Terjemahan di Indonesia, umumnya tidak mengajarkan keterampilan atau subkompetensi instrumental seperti yang disampaikan di atas. Tidak ada topik-topik ini di dalam katalog matakuliah Penerjemahan di sebagian besar (atau bahkan hampir semua) program studi bahasa asing, termasuk di dalam silabus Program D3 Penerjemahan Universitas Terbuka (UT) (Katalog UT, 2007). Keterampilan dan pengetahuan ini juga tidak diperkenalkan kepada mahasiswa Terjemahan, Departemen Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, dan mahasiswa Program Studi Penerjemahan di Sekolah Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar (Machali, 2009). Sajauh yang penulis ketahui, Pengantar CAT Tools ini diberikan kepada mahasiswa program pascasarjana dalam Sastra Inggris, bidang peminatan Penerjemahan, di Universitas Gunadarma, Jakarta. Sekarang ini bidang penerjemahan sebagai bidang profesi telah berkembang menjadi GILT (Globalisasi, Internasionalisasi, Lokalisasi dan Terjemahan). Oleh karena itu calon penerjemah harus siap berhadapan dengan dokumen elektronik. Oleh karena itu, sekali lagi, topik terkait

CAT Tool harus diperkenalkan kepada mahasiswa program studi Bahasa Inggris atau Penerjemahan. Dengan masuknya topik-topik ini, bisa diharapkan mahasiswa mengembangkan sendiri keterampilannya berdasarkan pengetahuan dasar yang diperoleh di bangkuk kuliah. Tentunya, ini sejalan dengan apa yang Budin (di Hornby, Pochhacker, dan Kaindl, 1992) nyatakan bahwa beberapa megatrend komunikasi, yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi, internasionalisasi, komersialisasi, dan kontekstualisasi, mengarah pada profil profesional yang baru dan kurikulum universitas harus disesuaikan secepat mungkin.

Akhir kata, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kompetensi linguistik (atau sub-kompetensi dwibahasa) dalam arti yang luas merupakan sub-kompetensi utama untuk penerjemah. Namun, temuan penelitian Hariyanto (2009) dan pembahasan dalam makalah ini mempertegas bahwa perkembangan teknologi informasi yang menyokong globalisasi dan membawa serta digitalisasi memerlukan adaptasi cepat dari universitas yang mengajarkan Terjemahan sebagai bagian dari kurikulum mereka atau sebagai program studi yang terpisah sehingga kebutuhan penerjemah yang handal bisa dijawab dengan tepat.

 

Daftar Pustaka

Crystal, David. 2006. Language and the Internet. 2nd Edition. New York: Cambridge University Press.

Gouadec. Daniel, 2007. Translation as A Profession. John Benjamins Publishing Co

Hariyanto, Sugeng. 2009. The Translation of Company Websitesfrom English into Indonesian. Unpublished Doctorate Dissertation. Gradute Program, UM, Malang

Hornby, Mary Snell., Pochhacker, Franz., and Kaindl, Klaus. 1992. Translation Studies: An Interdisipline. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.

Lesznyak, Marta. 2007. Conceptualizing Translation Competence. Across Languages and Cultures. 8 (2), pp. 167-194.

PACTE Group. 2005. Investigating Translation Competence: Conceptual and

Methodological Issues. Meta: Translation Journal, vol 50, No 2, 2005. pp. 609-619.

http: en.wikipedia.org/wiki/Globalizatiori – cite ref-135 Noam Chomsky Znet 07 May 2002 /The Croatian Feral Tribune 27 April 2002 [4]

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/inforemation_technology.

[3] http://www.businessdictionary.com/definition/digitalization.html

[4] Mesin penerjemah tidak termasuk di dalam perkembangan baru ini karena mesin penerjemah sendiri mulai dikembangkan sebelum Perang Dunia II dan tidak terkait dengan kemunculan jenis teks baru ini.

[5] Kateglo adalah gabungan dari kamus, thesaurus dan glosari yang dikembangkan oleh anggota Bahtera bemama Ivan Lannin yang juga Executive Director Wikimedia Indonesia.

Comments are closed.