STRATEGI BELAJAR TEKNIK MNEMO DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JERMAN

Sri Prameswari Indriwardhani, M.Pd.
(Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang)

 

Abstract: One of the communicative languange competences is called strategic competence. Language learning strategies explain how a language can be learned and how mental concepts can be created to reach a certain language competence. Mnemotechniques are part of cognitive learning strategies. They enable the student to systematically store new vocabulary in his or her brain which can be accessed easily at any time. Mnemotechniques consist of, a)mnemonic rhymes, acronyms, b) storytelling technique, c) visualization.

Key Words: learning strategies, mnemotechniques

 

Menurut Brown (2000:7), belajar dan mengajar saling berhubungan karena belajar adalah mendapatkan atau memperoleh suatu pengetahuan dari suatu bahan atau keterampilan melalui pengalaman dan instruksi. Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan yang matang. „ Learning is relatively permanent change in a behavioral tendency and is the result of reinforced practice“. Mengajar adalah menunjukkan atau membantu seseorang untuk belajar bagaimana mengerjakan sesuatu, memberikan instruksi-instruksi dan membimbing dalam belajar sesuatu. Mengajar merupakan pembimbingan dan menfasilitasi belajar, dan menyediakan kondisi yang kondusif untuk belajar.

Pembelajaran bahasa khususnya bahasa asing sekarang ini berdasarkan pada metode komunikatif. Metode ini mengembangkan beberapa kompetensi. Menurut Bachman dalam Brown (2000:248-249), dalam Communicative Language Competence dan Bimmel (2000:39), kompetensi komunikatif meliputi kompetensi linguistik dan kompetensi strategi. Kompetensi linguistik meliputi kompetensi tatabahasa, yang di dalamnya terdapat kosakata, morfologi, sintak, fonologi, kompetensi memahami teks, kompetensi pragmatik, dan sosiokultural. Kompetensi Strategi meliputi kompetensi menggunakan bahasa (strategi komunikasi) dan kompetensi menggunakan strategi belajar.

Menurut Neuner (1991:76), mengajarkan strategi belajar dalam pembelajaran bahasa sangatlah penting, karena dengan mengajarkan strategi belajar maka pembelajar dalam belajar bahasa akan menjadi lebih mandiri. Salah satu strategi belajar bahasa adalah dengan strategi belajar teknik Mnemo.

Mnemoteknik merupakan salah satu strategi belajar kognitif. Strategi belajar kognitif adalah menghubungkan apa yang sudah ketahui dengan konsep atau gagasan-gagasan baru, sehingga konsep atau gagasan itu mempunyai tambatan dalam ingatan sehingga tidak akan mudah untuk dilupakan. Ada dua proses yang sangat menentukan dalam otak yaitu: asosiasi dan penyortiran. Kata-kata dalam ingatan merupakan simbol-simbol yang mempunyai elemen-elemen yang saling berhubungan. Elemen-elemen itu bersifat semantis, morfologis, sintaktis, fonetis dan afektif. Jika semua elemen itu dihubungkan maka kata-kata itu akan tersimpan dengan baik dan dapat dengan mudah diingat. Penyortiran adalah proses pemilahan kata-kata dalam pikiran (Bohn, 2000: 82-84).

Teknik ini sudah ada sejak zaman dulu, akan tetapi bisa dikatakan bahwa penemunya adalah penyair Yunani Simonides, yang hidup pada tahun 556 – 468 sebelum Kristus lahir. Dalam suatu peristiwa pembantaian pada acara pesta makan malam di Thessalien, dia adalah satu-satunya orang yang selamat dalam pembantaian itu karena dia meninggalkan acara jamuan itu lebih awal dan dia dapat menceritakan secara detail korban pembantaian itu berdasarkan tempat duduknya. Teknik ini dinamakan Loci (tempat). Hal ini merupakan dasar dari teknik Mnemo (Sperber, 1989: 16-17)

Pada awal abad ke 16 sampai abad ke 17 sejalan dengan adanya zaman Reformasi dalam gereja, teknik ini digunakan untuk menghafalkan isi bibel dan pada zaman itu sudah ada Professor Mnemoteknik yang berkeliling untuk menyebarkan ilmunya dan karya-karyanya sudah dipublikasikan. Teknik Mnemo yang terkenal waktu itu adalah Kennworter yaitu pada setiap huruf mengandung kata tertentu, salah contoh dalam bahasa Indonesia adalah untuk mengingat warna pelangi dengan singkatan mejingkuhibiniu (merah, jingga, kuning, biru, nila, ungu).

Pada awal abad ke 20 dan abad 20 sudah banyak peneliti yang menghubungkan teknik ini dengan psikologi belajar dan efektifitas belajar. Menurut Levin dalam Sperber psikologi dalam belajar ialah Recoding, relating dan retrieving. Teknik Mnemo menghubungkan kata-kata yang akan dipelajari dengan pengetahuan sebelumnya (relating) melalui proses recoding.  Retrieving atau pengingatan kembali merupakan hasil dari kedua proses tersebut (Sperber,1989:22-29). Pada 20 tahun terakhir ini faktor-faktor dalam belajar seperti kenyataan (Konkretheit), kegairahan (Lebhaftigkeit), keanehan (Bizarrheit), emosi (Emotion), warna (Farbe) yang mempunyai pengaruh dalam belajar. Dalam Mnemoteknik faktor-faktor ini mendukung ingatan visual. Dalam mengingat suatu kata ada dua proses yaitu proses mengingat secara visual dan verbal. Proses ini akan saling menguntungkan apabila informasi itu diberikan secara gambar dan akustik motorik secara bersama-sama, sehingga apa yang telah diingat tidak akan mudah dilupakan. (Sperber,1989:83-84).

Menurut Brown (2000: 119) dan Pohl dalam www.pohl.de/lernen/index, fungsi otak bagian kanan adalah menyimpan informasi secara visual baik gerak tubuh dan gambar, intuisi, perasaan, kreatif dan spontan, suka akan musik dan seni, tergantung pada ruang/tempat dan menyimpan informasi secara global dan garis besar. Sedangkan fungsi otak kiri adalah menyimpan informasi secara verbal, matematis, rasional/logik, teratur, analisis dan sangat detail, tahap demi tahap dan tergantung pada waktu.

Pembahasan

Teknik Mnemo dalam Pembelajaran Bahasa Jerman

Syarat dari penerapan teknik Mnemo agar efektif menurut Mjima dalam www.mjima.de/mnemotechnik adalah dengan terlebih dahulu mengaktifkan minat pembelajar, menggunakan semua panca indera dan perasan pembelajar dan informasi yang akan diberikan sedapat mungkin secara visual. Menurut Sperber (1989: 10-16) dan Bohn (2000:95-100) yang termasuk strategi belajar teknik Mnemo adalah:

  1. Eselsbrücken/Merkverse und Akronym (titian ingatan dan akronim). Yang terpenting dalam titian ingatan ini adalah adanya kombinasi keseragaman rima dengan visual, motorik dan ritmik, sehingga informasi yang dipelajari akan tersimpan dengan baik. Contoh: untuk mengingat preposisi dalam bahasa Jerman bisa dengan menyanyikannya, aus,bei,mit,nach,seit,von,zu,seit,von zu alle haben Dativ (melodi lagu ini seperti lagu Brother John dalam bahasa Inggris).

Huruf awal sebuah kata dapat dijadikan sebagai titian ingatan. Akronim ini sangat individualis tergantung pembelajar itu sendiri. Misalnya seorang pembelajar mengemudi akan selalu ingatkata Wolke karena kata ini merupakan akronim dari:

Wasser (air)

Oel (minyak)

Licht (lampu)

Kraftstoff (Benzin)

Elektrik (elektrik/bertenaga listrik)

 

2. Schlüsselwortmethode(keyword method/Kata Kunci)

Proses metode ini adalah menghubungkan kesamaan bunyi antara bahasa Ibu dengan bahasa yang dipelajari/bahasa sasaran. Sperber (1989:11) mengatakan bahwa metode ini mendukung interaksi visual dalam ingatan. Contoh: pembelajar bahasa Jerman dari Ceko menghubungkan kata spáti – dengan bahasa Jerman spät (terlambat). Padanan dalam bahasa Indonesia masih belum diketemukan.

 

3.   Metode Loci

Loci berasal dari bahasa Yunani berarti tempat. Metode ini menggunakan ingatan ruang/tempat yang telah dikenal dengan baik sebagai tempat untuk menyimpan dan mengingat kosakata yang akan dipelajari. Proses metode ini adalah:

  1. pembelajar membayangkan suatu jalan, misalnya jalan menuju rumah atau jalan menuju tempat kerja.
  2. kemudian pembelajar berjalan melalui jalan itu dengan menghubungkan kata-kata yang ingin dipelajari. Dengan kata lain, pembelajar meletakkan kata-kata yang ia pelajari di tempat-tempat yang dia kenal dengan baik, sehingga menjadi suatu situasi yang tidak lazim. Situasi yang tidak lazim ini sangat mendukung ingatan.

c. pembelajar melalui jalan itu dalam pikiran dan menemukan benda-benda yang tidak lazim di tempat yang dia sudah kenal dengan baik.

Pengaruh dari teknik ini adalah menghubungkan apa yang pembelajar sudah ketahui dengan baik dengan suatu yang baru/ kata baru. Sehingga kata baru itu tidak akan mudah dilupakan. Akan tetapi untuk konsep-konsep yang abstrak teknik ini sulit untuk dilakukan.

Contoh: pada gambar berikut ini digambarkan penerapan metodi Loci. Kata bak mandi (Badewanne) ditempatkan di depan rumah, kata kapal (Schiff) diletakkan di depan garasi (Garage), kata Harimau (Tiger)diletakkan di atas Pagar (Zaun), dan kata berlian (Diamant) ditempatkan dia atas pohon Ek besar (Eiche), kemudian kata-kata itu dirangkai menjadi sebuah kalimat.

Sri-Laci

Gambar. Metode Loci (Bohn, 2000:97)

 

  1. Teknik bercerita (die Geschichtentechnik)

Proses teknik ini adalah pembelajar diminta untuk mengingat 10 kata dan membuat cerita dari 10 kata tersebut. Sebagai contoh: dalam suatu eksperimen, salah seorang pembelajar membuat cerita dari 10 kata berikut ini   Ente (angsa), Hausfrau (nyonya rumah), Hecke (pagar), Holzfäller(penebang kayu), Kissen (bantal), Kolonie (sekumpulan), Möbelstück (mebel), schlitten(terpeleset), Strümpfe(kaos kaki/stocking), stürzen(berlari kencang).

Menjadi “ Der Holzfäller stürzte aus dem Wald, schlitterte um eine Hecke hinter einer Kolonie von Enten. Er stolperte über ein Möbelstück, zerriss sich seine Strümpfe, während er zu dem Kissen hastete, auf dem die Hausfrau lag.”(seorang penebang kayu berlari kencang dari hutan kemudian dia tersangkut di pagar tanama yang di belakangnya ada sekumpulan angsa. Dia tersandung sebuah mebel, hingga kaus kakinya robek, dan terjatuh di atas bantal yang di atasnya berbaring sang nyonya rumah).

5.   Visualisasi

Contoh dari visualisasi adalah permainan ingatan atau “ Memoryspiel”. Dalam permainan ini pembelajar mencocokkan kata dengan gambar atau menghubungkan kata dengan warna. Contoh: rot wie Blut (semerah darah), weiß wie Schnee(seputih salju), blau wie Meer(sebiru laut). Visualisasi dapat berbentuk diagram tata bahasa untuk memudahkan dalam mengingat kaidah bahasa. Visualisasi dapat memperjelas fenomena kaidah bahasa Jerman, sebagai contoh kata kerja disimbolkan dengan bentuk ellips dan subjek dengan bentuk segi empat.

Sri-gbr3

 

Gambar. Teknik Visualisasi untuk Preposisi (Wolf,1988:11)

 

6. Gute Freunde (teman baik)

Teknik ini menghubungkan suatu kata dari bahasa ibu yang mempunyai hampir kesamaan tulisan dan pengucapan akan tetapi mempunyai arti/makna yang berbeda dengan bahasa sasaran. Teknik ini sangat cocok untuk bahasa yang serumpun. Contoh: kata come (dalam bahasa Inggris) dengan kommen, kedua kata ini menpunyai arti yang sama (Bohn, 2000:98-102 & Sperber, 1989: 113-140).

7. Menggunakan Flash cards yaitu menulis kata kata di kartu dan menggaris bawahi kata kata yang dianggap penting, membuat catatan sendiri tentang kaidah tata bahasa. Di balik kartu, siswa dapat menuliskan terjemahannya. Akan lebih bagus jika kartu disusun dalam 3 bagian, dengan sususan bagian pertama untuk kartu yang baru dipelajari, bagian kedua adalah kartu yang sudah dipelajari satu kali, dan bagian ketiga untuk kartu yang sudah kita pelajari secara mantap. Kartu dapat disusun secara abjad.

Sri-kartukosa kata

Gambar 2.13. Kartu Kosakata (Bohn.2000)

 

 

Simpulan        

Strategi belajar teknik Mnemo bukan merupakan strategi belajar yang baru, terlebih strategi akronim kita telah mengenalnya sejak di sekolah dasar ketika kita menghafal warna pelangi. Tidak ada salahnya dan bahkan dianjurkan dalam belajar bahasa asing, pembelajar menggunakan strategi belajar yang telah dikenalnya sehingga belajar itu menjadi lebih baik dan bermakna, seperti yang dikatakan oleh Neuner yaitu man lernt besser wenn man weisst.

 

Daftar Pustaka

Bimmel, Peter., Kast, Bernd., Neuner, Gerd. 2003. Deutschunterricht planen Arbeit mit Lehrwerkslektionen Fernstudieneinheit 18. München: Uni Kassel, Goethe Institut & Langenscheidt

Bimmel, Peter & Rampilon, Utte.2002. Lernstrategien und Lernautonomi Fernstudieneinheit 23. Muenchen: Uni Kassel, Goethe Institut & Langenscheidt

Funk, Hermann. 2000. The Learner’s Handbook, Learning Strategies, German Phrases, German Grammar. Berlin: Cornelsen

Bohn, Rainer, 2000. Probleme der Wortschatzarbeit Fernstudiemeinheit 22. München: Uni Kassel, Goethe Institut & Langenscheidt

Brown, H.Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching, second edition. New Jersey:Prentice Hall inc

Heyd, Gertraude. 1990. Deutsch Lehren Grundwissen für den Unterricht in Deutsch als Fremdsprache. Frankfurt am Main: Diesterweg

Neuner, Gerhard. 1991. Lernerorientierte Wortschatzauswahl und –vermittlung. Majalah Deutsch als Fremdsprache. Edisi 2/1991 hal: 76-83. München: Goethe Institut

Sperber, G Horst. 1989. Mnemoteknik im Fremdsprachenerwerb. München:Iudicium Verlag

www.mjima.de/mnemotechnik, diakses pada 27.04.2011

Comments are closed.