Makna Angka 6 dalam Perspektif Orang Sabu “Suatu Studi Semiotika Bilangan”

oleh: Hentji Kadja , Felysianus Sanga dan Marselus Robot
Universitas Nusa Cendana Kupang

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang sistematis dan lengkap mengenai makna angka 6 dalam perspektif orang Sabu. Teori analisis wacana kritis dan hermeneutika digunakan untuk memahami makna bilangan 6 dalam bilangan tradisi, serta teori semiotika Pierce dan Barthes. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan makna bilangan bilangan tradisi.Berdasarkian hasil analisis semiosis Pierce dan Barthes yang dilakukan peneliti ditemukan bahwa, perspektif orang Sabu angka 6 merupakan bilangan pembagian kekuasaan wilayah secara adil, dan persekutuan kekeluargaan dan persaudaraan dalam semangat jiwa yang murni. Makna bilangan 6 tradisi adalah seorang manusia menggunakan kekuasaan secara adil dalam semangat persekutuan kekeluargaan dan persaudaraan dalam jiwa yang murni, bila diulangi tiga kali akan menunjukkan sifat egoisme dan penonjolan diri yang serakah akan kekuasaan. Pada akhirnya disimpulkan bahwa orang Sabu memandang bilangan 6 sebagai bilangan kekuasaan adalah “manusia sebagai makhluk yang mulia diberi kekuasaan yang terbatas untuk mengatur alam semesta ini”.

 Kata Kunci : Makna Angka, Bilangan Tradisi , Semiotik, Kekuasaan, dan Keserakahan

 ABSTRACT

 This study aims to gain a complete and systematic description about meaning of number 6 based on Savuness perception. Theory of Critical Discourse Analysis and Hermeneutics are assessed to understand meaning of number 6 based on Savuness perception, as well as semiotics theory of Pierce and Barthes. Descriptive qualitative method is assessed to describe meaning of tradition number. Based on the Pierce and Barthes semiotics analysis done researcher. Found that perspective of Savuness, 6 is a number for dividing equitable power area, and it also has a meaning of brothership federation in pure soul spirit. The meaning of number 6, traditionally is a number of a human who use his power in justice for brother ship federation in a pure soul spirit. When this number is repeated three times, will show a greedy character and egoism of power. Finally, it is concluded that Savuness percept number 6 in as an authority number, is “human as honorable creature was given limited authority to organize this universe”.

 Keyword: Meaning of Number, Hermeneutics, Semiotics, Power, and Greed

 

===

 

Pythagoras (memandang alam berkaitan erat dengan matematika sedangkan segala sesuatu di dalamnya adalah angka. Angka memiliki makna yang khusus dan memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia, karena mereka percaya adanya kekuatan baik dan buruk. Dengan mengonversikan setiap unsur alam menjadi angka maka keteraturan dan sifat alam serta fenomena yang terjadi dapat dipahami. Pythagoras berpendapat bahwa segala sesuatu adalah bilangan-bilangan. Betapa pun luasnya alam semesta ini, unsur-unsur dan setiap perubahan di dalamnya dapat ditentukan dengan satuan-satuan bilangan. Sebagai percobaan, Pythagoras menggunakan dawai mono chord (dawai yang memiliki senar tunggal). Setiap perubahan panjang senar dengan perbandingan yang tetap (1:2; 2:3; 3:4) menghasilkan nada berbeda untuk setiap perbandingan, namun kedengarannya sangat harmonis. Keempat bilangan (satu, dua, tiga, dan empat) atau keempat angka (1, 2, 3, dan 4) disebut tetraktus, dan dianggap suci oleh kaum Pythagorean. Menurut mereka, setiap perubahan di alam semesta ini dapat dicocokkan dengan kategori-kategori matematis. Suara dawai dengan ukuran-ukuran tertentu dapat dikatakan dalam bilangan atau angka. Setiap perubahan yang terjadi di alam semesta ini dapat dinyatakan dengan bilangan-bilangan atau angka-angka (Netty 2012: ix – x)

Bilangan sepuluh, atau angka 10, sudah dianggap sebagai bilangan, atau angka sempurna, yang didapat dengan menjumlahkan 4 angka yang pertama dikenal manusia, yaitu angka 1,2,3, dan 4, yang bersama disebut tetraktus. Pada zaman Pythagoras, orang sudah mengenal planet-planet yang berjumlah 9 (Mercury, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto) yang dihisabkan lagi “bola api” (matahari) ke dalamnya sehingga menjadi 10 siarah. Demikianlah orang mengenal bilangan pokok yang dilambangkan dengan angka-angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 sebagai bilangan yang sempurna menurut Pythagoras (Syahrul: 2012). Dapat disimpulkan secara simbolik segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini memiliki keteraturan dan mempengaruhi kehidupan manusia.

Misteri atau makna angka dijumpai pula dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyrakat NTT yang multi etnis juga mengenal angka berkaitan dengan alam semesta, kelahiran dan sifat serta karakter manusia. Di NTT terdapat 45 sistem bilangan basis yang tersebar dan dapat dikelompokkan dalam 6 kelompok sosial berdasarkan jumlah bilangan pokok yakni: (1) kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 10. (2) Kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 9. (3) Kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 8. (4) Kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 7. (5) Kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 6. (6) Kelompok yang memiliki bilangan pokok 1 sampai 5. (Sanga: 1996) Masyarakat Sabu juga mengenal jumlah bilangan.

Masyarakat Sabu dikenal dengan orang Sabu yang tersebar di Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Sumba, dan daerah lainnya di NTT. Mereka hidup secara berkelompok dalam suatu wilayah tertentu. Istilah Sabu adalah istilah nama yang lazim dipakai secara umum oleh masyarakat Sabu, sedangkan istilah Sawu merujuk pada satu konsep yang sama. Kedua istilah ini dipakai dengan istilah Sabu karena sesuai kelaziman masyarakat menyebutnya.

Sanga (1996: 21)[2] mendeskripsikan kelompok etnis Sabu memiliki jumlah bilangan pokoknya sembilan. Dalam kepercayaan Jingitiu[3] dikenal Penguasa tertinggi bagi mereka hanya satu yang dinamakanDeo AmaatauDeo Muri Mara(=Tuhan yang ada dengan sendirinya). Sapaan tradisional untuk penguasa tertinggi itu adalah:

Deo do manga pa do keale, deo do pe pa kolo ngalhu =
Tuhan yang berdiam di tempat yang tidak pasti, tempat di mana Tuhan dapat mengawasi seluruh alam semesta ini, bukan di langit, bukan di bumi, melainkan di atas angin.

Dalam keyakinan Jingitiu, diakui enam langkah penciptaan oleh Deo Ama: (1) Mula-mula Tuhan menjadikan alam semesta; (2) Dengan bahan dari alam semesta Tuhan menciptakan Ai Deo (air Tuhan); (3) Dari Ai Deo terbentuklah Ra Ai (darah air); (4) Dari Ra Ai terbentuklah Woro Ra (buih darah); (5) Woro Ra membentuk Ai Woro (air buih); (6) Dengan Ai Woro inilah Tuhan membentuk manusia (Sanga 1996 ).

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk membahas makna angka 6 dalam perspektif orang Sabu dalam kaitannya dengan kitab Wahyu. Jika demikian penulis berpendapat: Makna Angka 666 akan mudah diterima masyarakat etnis Sabu, apabila filosofis makna bilangan tradisi dipahami oleh masyarakat etnis Sabu.

Berdasarkan latar belakang di atas, masalahyang diangkat dalam tulisan ini adalah makna apakah yang terkandung melalui penggunaan simbolik permainan angka 6?,dalam pandangan masyarakat etnis Sabu?. Bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang sistematis dan lengkap mengenai makna angka 666 dalam perspektif orang Sabu. Serta bermanfaat dapatmemberikan pemahaman yang tepat mengenai variasi angka 666serta kaitannya dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat etnis Sabu.

Kajian Teori

Hermeneutika

Secara etimologis Hermeneutik berasal dari kata Yunani: Hermeneuein yang berarti menafsirkan. Istilah hermeneutik mencakup dua hal, yaitu seni dan teori tentang pemahaman dan penafsiran terhadap simbol-simbol baik yang kebahasaan maupun yang nonkebahasaan. Paul Ricoeur dari latar belakang pandangan katholik, definisi yang pasti tentang hermeneutik adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur, 1985:43).Setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi.Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore, 1983:192)Ada tiga langkah pemahaman menurut Ricoeur, yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbol-simbol ke gagasan tentang ‘berpikir dari’ simbol-simbol.Pemahaman pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie yakni: 1)Pemahaman dari simbol ke simbol,2)Pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna,3)Langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.Pemahaman yang pada dasarnya adalah ‘cara berada’ (mode of being) atau ‘cara menjadi’ hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitupadateori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie.

Semiotik

Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest, 1993:1). Semiotik adalah studi yang tidak hanya merujuk pada tanda (signs) dalam percakapan sehari -hari, tetapi juga segala sesuatu yang merujuk pada bentuk-bentuk lain seperti words,images, sounds, gesture, dan objects. Sementara de Saussure menyebut ilmu ini dengan semiologi yakni sebuah studi tentang aturan tanda –tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (a science which studies the role of signs as a part of social life). Bagi Peirce (1931), semiotics was formal doctrine of signs which was closely related to logic. Tanda menurut Peirce adalah something which stands to somebody for something in some respect or capacity. Kemudian ia juga mengatakan bahwa every thought is a sign. Van Zoest (1993) memberikan lima ciri dari tanda. Pertama, tanda harus dapat diamati agar dapat berfungsi sebagai tanda. Kedua, tanda harus ‘bisa ditangkap’ merupakan syarat mutlak. Ketiga, merujuk pada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak hadir. Keempat, tanda memiliki sifat representatif dan sifat ini mempunyai hubungan langsung dengan sifat inter-pretatif. Kelima, sesuatu hanya dapat merupakan tanda atas dasar satu dan lain. Peirce menyebutnya dengan ground (dasar, latar) dari tanda.

Model tanda dikemukakan Peirce (dalam Hoed, 2002:21) adalah trikotomis atau triadik, dan tidak memiliki ciri-ciri struktural sama sekali. Prinsip dasarnya adalah bahwa tanda bersifat reprsentatif yaitu tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain (something that represent ssomething else). Proses pemaknaan tanda pada Peirce mengikuti hubungan antara tiga titik yaitu representamen (R) – Object (O) – Interpretant (I). R adalah bagian tanda yang dapat dipersepsi secara fisik atau mental, yang merujuk pada sesuatu yang diwakili olehnya (O). Kemudian I adalah bagian dari proses yang menafsirkan hubungan antara R dan O. Oleh karena itu bagi Pierce, tanda tidak hanya representatif, tetapi juga interpretattif. Teori Peirce tentang tanda memperlihatkan pemaknaan tanda sebagai suatu proses kognitif dan bukan sebuah struktur. Peirce membedakan tanda menjadi tiga yaitu indeks, ikon dan simbol. Model Peirce tentang unsur makna tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

semiotik-cendana

Gambar diagram Proses Semiosis dari Peirce

(Hoed 2011:199 dalam Suratmonto 2012 : 166)

Bagaimanakah hubungan ikon, indeks dan simbol? Seperti yang dicontohkan Hoed (2002:25), apabila dalam perjalanan pulang dari luar kota seseorang melihat asap mengepul di kejauhan, maka ia melihat R. Apa yang dilihatnya itu membuatnya merujuk pada sumber asap itu yaitu cerobong pabrik (O). Setelah itu ia menafsirkan bahwa ia sudah mendekati sebuah pabrik ban mobil. Tanda seperti itu disebut indeks, yakni hubungan antara R dan O bersifat langsung dan terkadang kausal. Peirce juga mengemukakan bahwa pemaknaan suatu tanda ada tahap kepertamaan (firstness) yakni saat tanda dikenali pada tahap awal secara prinsip saja. Firstness adalah keberadaan seperti apa adanya tanpa menunjuk ke sesuatu yang lain, keberadaan dari kemungkinan yang potensial. Kemudian tahap ‘keduaan’ (secondness) saat tanda dimaknai secara individual, dan kemudian ‘keketigaan’ (thirdness) saat tanda dimaknai secara tetap sebagai kovensi. Konsep tiga tahap ini penting untuk memahami bahwa dalam suatu kebudayaan kadarpemahaman tanda tidak sama pada semua anggota kebudayaan tersebut.

Barthes (1915-1980) mengatakan komponen-komponen tanda penanda-petanda terdapat juga pada tanda-tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan sistem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan identitasnya (de Saussure,1988). Dengan menggunakan teori signifiant signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi ekspresi(E) dan signifie menjadi isi (C). Antara E dan C harus ada relasi (R) tertentu, sehingga membentuk tanda (sign). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda.Ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengembangan ini disebut sebagai gejala metabahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy).Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi atau sistem primer. Kemudian pengembangannya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi disebut metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya. Dalam kaitan dengan pemakai tanda, kita juga dapat memasukkan perasaan sebagai (aspek emotif) sebagai salah satu faktor yang membentuk konotasi.

Pembahasan

Asal Usul Orang Sabu

Ada begitu banyak versi dan cerita yang dituturkan oleh para tua-tua adat tentang asal mulanya pulau Sabu dan riwayat awal terbentuknya masyarakat Sabu. Terdapat indikasi kuat bahwa orang Sabu berasal dari rumpun bangsa Melayu yang besar dari Hindia (Asia Selatan) yang beremigrasi sekitar tahun 500 BC[4].Riwu Kaho[5] menulis ada tiga gelombang imigrasi yang datang ke Indonesia. Gelombang pertama berasal dari Asia Selatan, mereka tiba di Indonesia pada tahun 2000 SM dan menyebar sampai ke Sabu. Gelombang kedua dari daerah Yunan dan wilayah Timur Laut Indo Cina tiba di Indonesia pada tahun 500 SM dan menyebar sampai ke Sabu. Gelombang ketiga berasal dari India Selatan dan tiba di Nusantara pada abad ke-2 SM.

Ada dua[6] kisah yang menceritakan tentang asal usul orang Sabu. Adapun asal usul tersebut sebagai berikut: Pertama[7], Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal dari leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang laut di sebelah Barat yang bernama Hura. Dalam peta India memang terdapat Kota Surat di Wilayah Gujarat, India Selatan. Kota Surat terletak di sebelah Kota Bombay, teluk Cambay, India Selatan. Daerah Gujarat pada waktu itu sudah di kenal di mana-mana sebagai pusat perdagangan di India Selatan.Para pendatang dari Gujarat ini ketika tiba di pula Raijua dapat hidup bersama dengan para imigran yang berasal dari perpindahan penduduk gelombang kedua, kemudian berasimilasi dengan imigran gelombang pertama, meskipun pengaruh mereka tampak dominan.  Rombongan India Selatan menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga. Setelah kawin-mawin, mereka menyebar di pulau Sabu dan Raijua, yang kemudian menjadi cikal bakal orang Sabu.

Kedua[8], Masyarakat sabu berasal dari leluhur Hawu Ga (KIka Ga) dan menurut hikayatnya orang Sabu berasal dari Surat (orang sabu melafalkannya dengan kata Hura), suatu tempat orang Hindia pada pantai Utara Bombay. Hawu Ga adalah salah satu anggota keluarga Lou yang mengembara dari negerinya (Hina Jawa Kepue) dan tiba di Raijua / Jawa Wawa. Ia mempunyai tiga orang saudara laki-laki dan seorang perempuan masing-masing bernama Lobo Ga, Laga Ga, Jape Ga, dan Mere Ga.Kemudian mereka dari Jawa Wawa meneruskan perjalanan menuju arah Timur, tiba di suatu tempat bernama Sasar yang di sebut Haha (Haha adalah Tanjung Sasar di pulau Sumba) dan mereka bermukim di sana. LaluHawu Ga (Kika Ga) meneruskan perjalannya lagi ke arah Timur, dari Hina Jawa Kepue tiba di Wadu Mea (Liae).Di atas batu karang ini ia mendapati Luji Liruanak dari Liru Ballasedang memancing ikan, karena lapar ia meminta ikan kepada Luji Liru. Luji Liru pun memberinya seekor ikan. Sesudah itu Luji Liru kembali ke langit dan setibanya di langit, ayahnya bertanya: “mana ikan perolehanmu hari ini?” Luji Liru menjawab: “saya telah berikan kepada seseorang yang tiba-tiba saja muncul di tempat saya memancing.” Kemudian ayahnya berkata lagi. “yang minta itu bukan orang lain. Ia adalah saudaramu sendiri. Bila besok kamu pergi memancing lagi, bawalah dia kemari”. Keesokan harinya Luji Liru pergi memancing di tempat itu dan ternyata Hawu Ga (Kika Ga) masih berada disana. Luji Liru pun menyampaikan pesan ayahnya supaya ia harus ikut ke langit. Ia kembali ke dunia dan dibekali dengan janji atau perintah Tuhan yang harus dijalankannya kelak dalam kehidupan manusia.

Setelah Kika Ga turun dari langit di Wadu Meakemudian bermukim di Merab’bu. Melihat Rai Hawu dalam keadaan yang seperti semula, maka dalam sekejap mata Luji Liruberubah bentuk menjadi seekor burung elang. Ia terbang ke Jawa Wawa (Raijua) untuk mencuri tanah dari kolong rumah Mone Weo. Tiba Jawa Wawa, secara diam-diam ia menggali tanah dari bawah kolong rumah Mone Weo dan dibawahnya tanah tersebut, kemudian dihamburkan dan dalam sekejap mata Rai Hawu terbentuk seperti sekarang ini.Kika Ga bersahabat dengan Maja dan Mone Weo dari Jawa Wawa. ‘Dara Rai yang di bawa oleh Kika Ga dijadikan sebagai dasar atau fondasi bagi Rai Hawu dan Jawa Wawa. Berdasarkan ‘Dara Rai itu, maka Rai Hawu dan Jawa wawa disebut Rai Do Dare Do Kewah’hu (tanah yang sudah dijanjikan). ‘Dara rai (janji atau dasar) dijadikan sebagai pedoman upacara adat yang tidak boleh di langgar.

 Sistem Hierarki Orang Sabu

Pemerintahan tradisi Orang Sabu dipegang oleh Mone Ama, Mone Ama tiap-tiap udu berbeda. Tugas dan tanggung jawab Mone Ama[9]: Deo Rai, sebagai pemimpin upacara tertinggi, bertanggung jawab atas penyelenggaran upacara di musim hujan.Pulod’do Wadu, memimpin upacara dimusim kemarau, membuka hallu aijji bersama Deo Rai dan Rue.Doheleo, memantau dan mengawasi hal penegakan adat dan penyelenggaraan upacara agama, mengkaji dan mencermati akan semua gejala alam, peristiwa, wabah penyakit, bencana alam, gagal panen dan lain sebagainya yang mengganggu kesejahteraan hidup masyarakat, kalau-kalau disebabkan karena adanya pelanggaran terhadap syariat agama dan adatistiadat oleh masyarakat. Sekaligus mengadakan upacara doamohon pengampunan pada Deo Ama atau menolak bala dan kekuatan negatif ke laut.Rue, memimpin upacara pentahiran diri dari segala musibah dan aib. Ini dipegang oleh warga kelompok Rue, yaitu Rue Ae dan Rue Iki bertanggung jawab atas upacara bagi bertunasnya mayang lontar. Pulodd’o dahi, bertanggungjawab atas upacara yang berkaitan dengan laut. Pulodd’o muhu, bertanggungjawab atas penelenggaraan upacara berkaitan dengan peperangan yang juga dikaitkan dengan sabung ayam. Melakukan upacara penatta nada ae dan menyembeli hewan babi dan anjing untuk dipersembahkan di suatu tempat bernama Uju, bersama kehune.Raga Dimu, bertugas untuk melakukan upacara ritual menangkal angin timur pada musim kemarau yang ada hubungan dengan masa transisi dari angin barat ke timur dan juga memanggil hujan turun.Dou Ae / Banggu Udu, bertugas untuk memelihara persekutuan di antara warga udu, memelihara kerukunan dan ketertiban hidup, membagi tanah udu kepada warga udu untuk digarap dan mengawasi agar tanah udu tidak sampai jatuh ke tangan udu lain serta menegakkan syariat agama.

Upacara –upacara tradisi

Kalender Adat[10] dan Upacara menurut Siklus Kehidupan Orang Sabu.
Tidak ada satupun aktivitas hidup orang Sabu selama satu tahun kalender yang dapat terpisah dari kehidupan keagamaan. Hal tersebut merupakan syarat agama sekaligus merupakan adat orang Sabu, terutama bagi mereka masih menganut agama asli. Dalam penyelenggaraan pemenuhan 9 amanat ini maka pelaksanaannya tidak telepas kaitannya dengan kalender kegiatan tahunan[11]. Pelaksanaan 9 Amanat Deo:Puru Hogo; diadakan pada bulan Kelila Wadu, saat akan dimulainya kegiatan iris tuak & dan masak gula yang merupakan salah satu bahan makanan pokok orang Sabu.Baga Rae; diadakan pada akhir bulan Baga Rae, dengan tujuan; Sebagai tanda akhir dari kegiatan iris tuak dan masak gula. Menyumbat mulut tanah agar jangan menelan korban. Mengecek tentang curah hujan pada musim penghujan yang akan datang. Memagari daerah agar terhindar dari musuh dan malapetaka. Mempererat tali persaudaraan antara warga Udu dan Kerogo.Jelli Ma; diadakan pada bulan Ko’o Ma sebagai upacara membersihkan kebun.Hanga Dimu; diadakan pada bulan Hanga Dimu, yakni Deo Rai dan Pululodo memulai panen kacang hijau dilanjutkan dengan acara Nga’a Hanga Dimu. Setelah itu baru warga boleh memulai panen kacang hijau.Daba; dalam daur hidup dikenal tahap; metana (lahir), pe wie ngara (pemberian nama), hapo (pengakuan tentang sahnya anak), daba (baptis), leko wue (belajar memakai pakaian), bagga (sunat), Atta Ngutu (potong gigi) dan peloko nga’a (perkawinan) serta made (kematian). Daba merupakan rangkaian acara yang dilaksanakan pada hari ketiga setelah panen sorgum dan pesta pado’a.Daba diadakan pada bulan Daba Akki.Banga Liwu; diadakan pada bulan Banga Liwu (malam ke 9 dari bulan baru). Dalam rangkai upacara tersebut bertujuan untuk: Mendinginkan obyek-obyek seperti kebun kapas, kebun kelapa, pinang dan kandang ternak. Penghormatan terhadap arwah leluhur dengan membawa sirih pinang ke pekuburan leluhur dan malamnya diadakan “Pedo’a bui ihi”.Hole; dilakukan pada hari ke 7 setelah purnama pada bulan Banga Liwu. Salah satu tujuannya adalah melepaskan celaka ke laut serta menutup mulut laut agar hasil yang dari darat jangan terhisap atau tertelan ke dalam laut. Atau dapat dikatakan dengan istilah buang sial.Hapo; merupakan acara pengakuan terhadap anak yang dilahirkan.Made; upacara yang bersangkutan dengan kematian.

Sistem Kepercayaan Agama Suku Sabu

Orang Sabu Pecaya pada satu Zat Ilahi yang disapa dengan:“Deo Ama” (Allah Bapa asal dari segala sesuatu), “Deo Woro Deo Penynyi” (Tuhan pencipta semesta)“Deo Mone Ae” (Tuhan Maha Kuasa/ Maha Agung). “Deo Muri Mara” (Tuhan yang ada pada dirinya sendiri atau ada dengan sendirinya)“Deo Wata I’a” (Tuhan pengasih dan penyayang)“Deo Mone Higa” ( Tuhan yang Maha Kuasa)“Deo do Ketutu Kelodo” (Tuhan yang Kekal)“Deo Mone Wie” (Tuhan sang pemberi dan Pemelihara), Segala ciptaan terdiri dari 2 unsur yang esensial, mengandung daya yang saling bertentangan, bergantungan, dan saling melengkapi. Contohnya laki-laki dan perempuan. Keduanya adalah setara dengan masing-masing fungsi yang saling melengkapi. Sehingga dalam kehidupan orang Sabu, laki-laki dan perempuan selalu dilihat sebagai suatu kesetaraan. Manusia harus selalu menjaga hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan. Jika hubungan itu baik maka disebut dengan “Meringgi” atau dingin yang mendatangkan damai sentosa, mengerru (hijau/kesuburan) dan merede (kelimpahan). Tetapi sebaliknya dan bila terjadi kesalahan atau pelanggaran terhadap aturan atau tatanan yang ada akan mendatangkan hal-hal yang “Pana” (Panas) atau hal-hal yang berupa petaka, bencana. Untuk menjaga Relasi yang harmonis antara Manusia dan Tuhan maka dalam tatanan kehidupan diatur juga tentang ritual-ritual keagaaman, hubungan kekerabatan dan hukum adat.

Nada adalah tempat beribadat bagi penganut agama suku Sabu (Agama Asli). Nada pertama didirikan Kika Ga di Kolo Marabbu (generasi 11, Miha Ngara). Nadaberkembang menjadi dua, yang satu tetap di Merabbu, yang satu di Kolo Teriwu.  Pada masa Wai Waka (generasi 18) diadakan pembagian wilayah dan masing-masing wilayah didirikan Nada.

Angka dalam masyarakat orang Sabu

Orang Sabu mengenal angka dari pembagian wilayah kepada keturunan Wai Waka[12]yakni: Dara Wai, Kole Wai, Laki Wai, Wara Wai, Jaka Wai, dan Waka Wai. Langkah yang ditempuh dalam pembagian wilayah itu didahului dengan upacara doa memohon petunjuk dari Deo Ama (dalam upacara ini WaiWaka[13] menyembeli seekor kerbau dan membaginya dalam enam bagian menurut jumlah anaknya dan meletakkannya di atas dammu kemudian masing-masing mengambil satu bagian). Setelah selesai pembagian wilayah diberikan bobot dalam bentuk angka yang melambangkan talenta masing-masing. Dara Wai mendapat angka 9, Kole Wai mendapat angka 8, Wara Wai mendapat angka 7, Laki Wai mendapat angka 6, Jaka Wai dan Waka Wai mendapat angka 5, sebagai petanda angka yang diperoleh masing-masing anak dapat dilihat pada kacang hijau. Upacara ini diakhiri dengan pesan[14]: (a) Mereka semua harus berpegang teguh pada semangat persaudaraan / kekeluargaan sebab mereka berasal dari satu bapak. (b) Persaudaraan akan terpelihara apabila mereka saling mengasihi satu dengan yang lain, saling menolong dalam suka maupun duka, segala persoalan harus dihadapi bersamadengan jalan musyawarah untuk mufakat bukan dengan perkelahian. (c) Mereka harus tetap setia berbakti kepada Deo Ama, adapun nama Deo Ama tidak dapat diketahui dan disebut oleh siapapun sebab sangat luhur, suci dan keramat.

Angka memiliki peran penting bagi orang Sabu dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan. Karena itu angka (bilangan) selalu tergambar dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Sabu baik dalam keseharian maupun dalam ritual dan ritus. Angka (bilangan) tersebut adalah:

 

Tabel 3

Nama dan jumlah bilangan orang Sabu

Lambang Bahasa Indonesia Bahasa Sabu
1 satu Ahhi / hehi
2 dua Dhu’e
3 tiga Tallu
4 empat Ap’pa
5 lima Lam’mi
6 enam An’na
7 tujuh Pidu
8 delapan Aru
9 sembilan Heo
   
10 sepuluh Henguru
11 Sebelas Henguru ahhi
12 Dua belas Henguru dhu’e
13 Tiga belas Henguru tallu
14 Empat belas Henguru ap’pa
15 Lima belas Henguru lam’mi
16 Enam belas Henguru an’na
17 Tujuh belas Henguru pidu
18 Delapan belas Henguru aru
19 Sembilan belas Henguru heo
20 Dua puluh Dhu’e nguru

 

Tabel ini mengiformasikan secara tradisi orang Sabu tidak mempunyai lambang bilangan atau angka, tetapi memiliki jumlah bilangan dengan berbagai sistem pengembangan yang dapat dipelajari. Oleh sebab itu, angka dan nama bilangan bahasa Indonesia dalam tabel ini digunakan hanya sebagai penjelas penamaan terhadap dan jumlah bilangan tradisi yang dimiliki oleh orang Sabu. Bilangan ahhi / hehi (satu) sampai dengan bilangan heo (sembilan) adalah bilangan tradisi. Bilangan ini menjadi dasar bagi masyarakat Sabu untuk mengembangkan bilangan secara kuantitatif maupun kualitatif dalam kehidupan mereka.Pada tabel terlihat bilangan henguru sampai dengan dhu’e nguru merupakan pengembangan dari bilangan tradisi secara kuantitatif. Perlu diketahui kapan terjadi pengembangan ini kapan dan oleh siapa tidak diketahui. Bilangan henguru berasal kata he[hi] yang berarti satu dan nguru yang berarti gugus untuk menyatakan puluh.

Pemakaian Bilangan dalam Masyarakat Sabu

Seperti telah dikemukakan di depan bahwa masyarakat Sabu tidak memiliki lambang bilangan tetapi dalam kehidupan dan komunikasi bilangan banyak di temui. Berdasarkan jumlah bilangan tradisi yang dimiliki, masyarakat Sabu mengembangkannya dalam praktek pemakaian menjadi bilangan satuan dan himpunan.

Himpunan yang Menyatakan Potong

Satuan potong yang dijadikan sebagai patokan ukuran yang dianggap sebagai himpunan dapat dibedakan atas:Atta: adalah potongan dari sebuah benda khususnya untuk daging; misalnya untuk satu potong disebut heatta, Bella : adalah potongan dari sebuah benda khusunya kain tenunan; misalnya untuk satu potong disebut hebella, Lai    : adalah potongan dari sebuah benda khususnya lembaran daun lontar; misalnya untuk satu potong disebut helai. Lada      : adalah potongan dari sebuah benda khususnya lidi daun lontar dan kelapa; misalnya untuk satu potong disebut helada

 Himpunan yang Menyatakan Buah

Kumpulan buahpun dijadikan oleh masyarakat Sabu sebagai lambang bilangan dalam sistem komuniasi mereka. Ekki     : satuan ini digunakan untuk kelapa, lima buah kelapa akan disebut heekki. Ujju : satuan ini digunakan untuk kumpulan yang berjumlah 16 ikat

Himpunan yang Menyatakan Ikat

Ujju: satuan ikatan yang menyatakan satu kumpulan yang terdiri dari 16 ikat. Rao: tanda yang digunakan untuk satuan menyatakan ( 3) ujju. Ku’u manu       : tanda yang digunakan untuk menyatakan ( 9 x 3) rao . Wawi kelila: tanda yang digunakan untuk menyatakan (27 x 7) rao

Himpunan yang Menyatakan Benda Padat

Kabba: ukuran terkecil yang dipakai dalam menakar. Ukuran ini terbuat dari tempurung buah kelapa yang telah dibersihkan daging kelapanya.Tobbo :ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat dengan ukuran lebih besar sedikt dari kabba. Ukuran ini dapat memuat 3 kabba. Kerigi        : ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat denngan ukuran lebih besar dari tobbo. Ketobbu :ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat denngan ukuran lebih besar dari kerigi, Ketanga orru        : ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat denngan ukuran lebih besar dari ketobbu. Hope jamma:ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat denngan ukuran lebih besar dari tobbo. Hope :ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat denngan ukuran lebih besar dari hope jamma.Kedejja:ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat dengan ukuran lebih besar dari hope. Hoka:ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat dengan ukuran lebih besar dari kedejja

Keruku:ukuran ini terbuat dari ayaman daun lontar yang dibuat dengan ukuran lebih besar dari hoka

Himpunan yang Menyatakan Benda Cair

Untuk ukuran tuak:

Haba tenae: ukuran terkecil dari habba yang dipakai untuk menyuguhkan minuman, ukuran ini terbuat dari daun lontar dengan ukuran tiga lidi lembar aun lontar.

Haba lima: ukuran ini dipakai untuk menyadap tuak, ukuran ini terbuat dari daun lontar dengan ukuran lima lidi lembar daun lontar.

Haba dau: ukuran ini dipakai untuk mengumpulkan tuak dari pohon tuak, ukuran ini terbuat dari daun lontar dengan ukuran tujuh lidi lembar daun lontar.

Haba worena: ukuran ini dipakai untuk mengumpulkan tuak yang telah disadap untuk dibawah pulang kerumah. ukuran ini terbuat dari daun lontar dengan ukuran sembilan lidi lembar daun lontar.

Loli: ukuran ini dipakai untuk pikulan tuak yang terdiri dari dua buah haba worena penuh yang dibawah pulang ke rumah

Orru: ukuran ini dipakai untuk tuak yang telah disiap dimasak. Ukuran ini terbuat dari tiga buah peruik, dan apabila akanimasak maka akan disebut herao.

Untuk ukuran gula:

Ketilu : ukuran ini dipakai untuk gula yang akan dipergunakan sehari-sehari, terbuat dari periuk kecil.

Oruboga: ukuran ini dipakai untuk menggumpulkan gula yang telah dimasak, lebih besar sedikit dari ketilu, 3 ketilu satu orruboga.

Orrupelako: ukuran ini dipakai untuk mengumpulkan gula, 3 orruboga satu orupelako.

Orru: ukuran ini dipakai untuk mengumpulkan gula, 3 orrupelako satu orru.

Rubi: ukuran ini dipakai untuk gula yang terdiri dari beberapa orruboga, ukuran inilah yang dipakai untuk penyimpanan persediaan makanan dan juga untuk dijual atau dibarter, 3 orru satu rubi.

Untuk pikulan :

Haba : ukuran pikulan untuk sebuah haba.

loli : ukuran pikulan dengan menggunakan dua buah haba penuh.

Orru: ukuran pikulan untuk tiga loli

Himpunan yang Menyatakan Ukuran Panjang

Egga : ukuran yang menyatakan jengkal, yakni antara ujung ibu jari dan ujung jari tengah.

Emmi : ukuran yang menyatakan satu telapak tangan, yakni antara ujung jari tengah sampai ke pangkal telapak tangan, ukuran ini juga dipakai untuk bentuk genggaman tangan kanan atau kiri, sedangkan untuk dua genggaman tangan disebut ebba.

Kewahhu: ukuran yang menyatakan dari ujung jari tengah sampai ke siku. Hebekka: ukuran yang menyatakan dari ujung jari tengah sampai ke dada. Reppa: ukuran yang menyatakan dari ujung jari tengah kanan sampai ke ujung jari tengah lengan kiri.

Reppa Hekoa : ukuran yang menyatakan hereppa ditambah dari ujung jari tengah kanan sampai ke siku lengan kiri.

Reppa Hetenga : ukuran yang menyatakan hereppa ditambah ujung jari tengah kanan sampai ke pertengahan dada.

Himpunan yang Menyatakan Ukuran Luas.

Lada : ukuran luas sebuah ladang .

Lobo : ukuran luas sebuah ladang di atas ladang.

Himpunan yang Menyatakan Waktu .

Untuk siang hari :Hou loddo, Rede loddo, Hae loddo, Dida loddo, Kewore loddo, jelli mawo,Wawa loddo, Mako loddo, Horo loddo, Jenna loddo.

Pada malam hari dengan berpatokan pada bintang (moto) disebut : Jennaloddo, Hennurai, Merangorai, Medda, Telora medda, Perommoliru, Mealiru, Kejukka manu hika, Mourai.

Bilangan yang Menyatakan Tingkat :

A’a: untuk mengatakan kedudukan anak laki-laki / perempuan yang pertama, Telora: untuk mengatakan kedudukan anak laki-laki / perempuan yang kedua, ketiga, dst…Ari: untuk mengatakan kedudukan anak laki-laki / perempuan yang terakhir

Sistem Pengembangan Bilangan Tradisi

Jumlah bilangan tradisi yang terbatas tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam berbagai kebutuhan komunikasi tentang fakta dan fenomena lingkungan alam terhadap sesama dan generasi sesudahnya. Karena itu terjadi pengembangan bilangan tradisi secara kuatitatif dan kualitatif.

  1. Secara kuantitatifdimaksudkan untuk dapat diukur, dihitung, atau ditentukan kurang atau lebih. Secara tradisi orang Sabu mengenal bilangan satu sampai sembilan, sedangkan batas hitung sampai tabba (ribu). Untuk juta (hejuta) dan miliar (melio) mendapat pengaruh dari luar. Berikut tabel bilangan hasil sistem pengembangan.

Tabel 4

Bilangan Hasil Sistem Pengembangan

10 Henguru
11 Henguru ahhi
20 Dhuenguru
21 Dhuenguru ahhi
100 Hengahu
101 Hengahu ahhi
1000 Hetabba
1001 Hetabba ahhi
1100 Hetabba hengahu
1500 Hetebba lammingahu
2000 Dhuetabba
10000 Hengurutabba
20000 Dhuengurutabba
100000 Hengahutabba
1000000 Hejuta
100000000 Melio

 

Dari tabel diatas terlihat jelas bahwa dalam pengembangan bilangan maka henguru menjadi patokan untuk bentuk bilangan kelipatannya, yakni hengahu, hetabba, hejuta bahkan hemilio.

  1. Secara kualitatif

Penunjuk waktu: Hari: satu hari dinyatakan dalam 18 pembagian waktu (9 waktu siang dan 9 waktu malam) Minggu: orang Sabu membagi minggu dalam 7 hari, Bulan: orang Sabu menggunakan perhitungan bulan atas 30 hari, 15 hari warruluha dan 15 hari warru hape. Tahun: orang Sabu menggunakan perhitungan tahun atas 12 bulan. (kalender terlampir)Musim:orang Sabu membagi musim atas dua musim yang disebut warru wadu dan warru ejjilai.Warru wadu terbagi atas enam bulan dan juga sebaliknya.

Makna bilangan dalam pandangan hidup masyarakat Sabu

Bilangan Satu

Bilangan satu: diyakini sebagai permulaan dari segala sesuatu. Dalam ritual Puru Hogo, Baga Rae dan Kuja Ma bilangan satu sebagai pertanda hari pertama memulai semua kegiatan. Dalam ritus Hapo Ana bilangan ini sebagai petanda awal kehidupan baru, dan dalam ritus Made sebagai persiapan untuk sebuah perjalan panjang dalam dunia gaib. Mereka juga mengakui bahwa alam semesta ini diciptakan oleh AhhiDo Muo Do Megala (satu Zat Ilahi) yang mereka kenal dengan Deo Ama. Untuk sebutan bagi Deo Ama orang Sabu juga menyebutnya Deo woro, deo penynyi, Deo Toda Pelaku, Deo Jawi. Terhadap alam semesta ini Deo Ama menetapkan hukum harmoni agar semua berfungsi dengan seimbang, selaras dan serasi sebagai satu kesatuan yang utuh, bilangan ini juga merupakan bilangan mutlak ada.

Bilangan Dua

Bilangan dua: diyakini bahwa Deo Ama menjadikan segala sesuatu itu berpasang-pasangan[15], ada 2 unsur yang esensial, mengandung daya yang saling bertentangan, bergantungan, dan saling melengkapi. Deo Ama menjadikan daratan sebagai laki-laki dan lautan sebagai Perempuan, Matahari dan bulan, siang dan malam; Dalam bentuk bangunan rumah adat bilangan ini merupakan bilangan pasangan tiang Duru dan Wui, pintu bagi laki-laki dan perempuan yang menandakan adanya peran dan fungsi yang ditegakkan. Dalam ritus Puru Hogo bilangan ini sebagai petanda kesiapan menyambut dan mengelola berkat yang akan datang dengan membuat Kepue Rao. Dalam ritus Baga Rae sebagai petanda adanya relasi yang harmonis dengan alam sekitar dan memohon perlindungan yang disebut Lau Rai. Dalam ritus Kuja Ma disebut nga’a pehiu Wini dengan maksud agar tanaman yang ditanam tidak tumbuh lebih subur satu dari yang lain. Dalam ritus Hapo Ana disebut Pehae lii Tao.

 

Bilangan Tiga

Bilangan tiga: diyakini bahwa dalam membangun sesuatu tidak dapat berjalan dengan baik tanpa ada kerja sama. Bilangan tiga digambarkan sebagai tiga batu tungku (‘duru rao). Apapun yang dikerjakan diatas ‘duru rao pasti akan berhasil. Bilangan ini juga muncul dalam pelaksanaan upacara Dab’ba dengan tiga simbol tanda abu ada dahi dan pipi kiri, kanan, tiga buah sirih dan pinang[16] yang dijadikan makhota dan tiga kali anak diayunkan (pewa’e). Juga dalam membangun rumah terdapat tiga susun (bagian) yang disebut: Kelaga Rai, Kelaga Darra dan Dammu. Fungsi Kelaga Rai untuk menerima tamu, Kelaga Darra dibagi menjadi Kelaga dduru tempat bagi kaum laki-laki melakukan aktivitas dalam rumah, Kelaga kopo tempat untuk kaum perempuan melakukan aktivitas dan menyimpan perbagai perbakalan rumah tangga. Dammu untuk menaruh hasil sebagai persembahan kepada Deo Ama. Bilangan ini juga merupakan awal dalam mengerjakan sesuatu. Karena itu dikenal haba tellu, ammu wotellu. Juga di kenal ada tiga makhluk gaib yang mengawasi alam semesta ini yakni Rai Bella, Dahi Bella, Liru Bella. Angka tiga dalam ritus perkawinan bermakna manusia terdiri dari pengabungan dari unsur Rai Bella, Dahi Bella, Liru Bella. Dalam ritus puru hogo sebagai tanda ucapan syukur dengan acara Nga’a Kewahu, dalam Jelli Ma, sebagai petanda perlidungan terhadap serangan hama yang ditandai dengan Nga’a Jelli Ma.

Bilangan empat

Bilangan empat: diyakini sebagai kesatuan kumpulan. Bilangan ini dikenal dalam arah mata angin, Utara (bo’dae) dan Selatan (bolow), Timur (Dimu) dan Barat (Wa), ada empat sudut rumah (dalam kelaga). Bilangan ini juga tergambar dalam upacara kuj’ja ma ada empat ikat ketupat yang bermakna melindungi tanaman dari kerusakan akibat angin dari keempat penjuru. Empat lubang disudut ladang melambangkan Ma Rai Ae, Na Rai Ae, Ma Rai Bella, Na Rai Bella, sebagai penghormatan kepada keempat tokoh diatas. Juga bermakna perlindungan alam atas segala hasil usaha manusia. Dalam ritus Baga Rae bermakna sikap mawas diri dan mau menerima sema peristiwa yang dialami dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan yang ditandai dengan acara pepehi antar warga. Dalam ritus da’ba angka ini bermakna diterimanya seorang anak sebagai bagian dari anggota keluarga. Dalam ritus Hapo bilangan ini bermakna pembersihan diri seorang ibu sehabis melahirkan.

Bilangan lima

Bilangan lima: diyakini sebagai Jabatan utama yang diembankan oleh Deo Ama kepada Kika Ga (Kika Liru) ketika kembali bumi.Jabatan ini oleh narasumber[17] sendiri sudah tidak dapat menyebutkannya lagi satu persatu. Bilangan ini juga dipakai untuk menyatakan suatu kumpulan dalam bentuk ikatan[18]. Juga merupakan bilangan yang tergambar dalam bangunan rumah orang Sabu di sebut ammuwolemmi. Dalam ritus hapo bilangan ini bermakna persekutuan yang erat dalam keluarga.

Bilangan enam

Bilangan enam: diyakini ada enam langkah penciptaan oleh Deo Ama. Dalam ritus Hole bilangan ini bermakna persekutuan kekeluargaan dan persaudaraan yang rukun. Dalam ritus Kuja Ma bilangan ini bermakna berakhirnya semua kegiatan dan pembersihan diri yang ditandai dengan acara Nga’a Kama Rai. Bilangan ini juga merupakan pembagian wilayah kekuasaan secara adil yang dilakukan oleh Wai Waka kepada anak-anaknya. Bagi orang Mesara[19] tanda yang dilihat pada kacang hijau, ketika tangkai daun sudah berjumlah enam tangkai maka ia di sebut penajakolo yaitu kacang siap berbunga dan menghasilkan buah.

Bilangan Tujuh

Bilangan tujuh : ditemukan pada pembagian wilayah yang dilakukan oleh Wai Waka juga pada bentuk (ukuran) bangunan rumah orang Sabu. Bilangan ini juga dikenal dengan sebutan, ratu mone pidu, pidu ddara pidu kewahhu pidu dduru artinya tanah tujuh taji, tujuh ikatan, tujuh keratan dalam ritus Kuja Ma. Orang Sabu mengenal ada tujuh setan (wango)[20] yang bermukin dalam laut (‘dara dahi) yakni Jawi Rai, Wango Rai, Podo Rai, Hagu Rai, Piga Rai, Raga Rai dan Ngallu Apa ( Dae lole dan Gara Rai). Liae juga mendapat julukan Rae Titu Ratu Mone Pidu yang artinya negeri yang diperintah oleh tujuh imam. Juga menunjukkan 7 jenis tanaman[21] yang dianggap menjadi kebutuhan pokok orang Sabu yakni; Kelapa, Pinang, Siri, Lontar, Kacang, nila, dan mengkudu.

Bilangan Delapan

Bilangan Delapan dalam bentuk bangunan rumah adat orang Sabu merupakan pengembangan dari bilangan berpasangan yaitu adanya empat gerri tebekka dan empat gerri ae. Bilanganini dalam ritus Akki Penabbu[22] dilakukan 8 tahun sekali dengan membawah 8 jenis binatang untuk dipersembahkan kepada Deo Ama atas tanaman lontar[23] yang telah tumbuh.

Bilangan Sembilan

Bilangan Sembilan diyakini sebagai Sembilan amanat Deo Ama, yang mengatur kehidupan manusia untuk menuju kesempurnaan. Kelalaian dalam melakukan kesembilan amanat ini akan mendatangkan bencana bagi orang Sabu. Angka tertinggi sebagai yang sulung diantara saudara-saudara. Dalam ritus Banga Liwu angka sembilan pada bunyi tambur bermakna selesainya semua rangkaian kegiatan sebagai tanda syukur dan hormat atas sema berkat yang diterima. Dalam ritus Baga Rae sebagai pengembangan dari jumlah tahun upacara.

Berdasarkan uraian di atas dan jumlah jenis persembahan yang disajikan kepada Deo Ama bilangan yang dipakai sebagai bilangan magis adalah bilangan tiga (3). Bilangan ini merupakan gambaran dari kehidupan manusia yang terdiri atas tubuh, jiwa dan roh yang diyakini pula merupakan gabungan dari Deo Liru Bella, Deo Dahi Bela dan Deo Rai Bella. Orang Sabu juga meyakini alam ini terbagi atas tiga bagian yakni rai liru, rai wawa dan rai menata, dan sebagai tanda perjanjian pada hari dabba. Menyatakann hubunganmanusia dengan Deo Ama, sesama dan alam gaib (deo ama oppu).

Berdasarkan data di atas maka makna angka / bilangan tradisi dapat dideskripsikan adalah:

  1. Bilangan 1 bermakna adanya satu kesatuan kekuatan ilahi yang mengatur jagat raya ini, Kesepakatan, awal mula segala sesuatu.
  2. Bilangan 2 bermakna persatuan fungsi dan peran Pasangan,
  3. Bilangan 3 bermakna kebersamaan dalam menanggung beban atau tanggungjawab, pemurnian dan perjanjian
  4. Bilangan 4 bermakna kesemestaan alam ini, relasi dengan alam semesta, pemulihan kekuatan dan pembersihan diri, sikap mawas diri dan mau menerima setiap peristiwa yang terjadi dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan. perlindungan alam
  5. Bilangan 5 bermakna tanggung jawab dan persekutuan yang erat diantara sesama anggota keluarga.
  6. Bilangan 6 bermakna kekuasaan, persekutuan dan pemurnian diri, penonjolan diri, hawa nafsu dan egois, pencarian jati diri
  7. Bilangan 7 bermakna kematangan, kesempurnaan
  8. Bilangan 8 bermakna kejayaan, kemenangan, kedamaian
  9. Bilangan 9 bermakna kehormatan, kemuliaan, keagungan

 

Perspektif Orang Sabu Terhadap Bilangan 6

Tabel 5 Proses semiosis Barthez

Denotasi Konotasi Mitos
Angka yang dipakai oleh Wai waka untuk membagi wilayah kepada anak-anaknya Penciptaan Kekuasaan dan keadilan

 

Makna denotasi bilangan 6 dalam perspektif orang Sabu sebagai pembagian kekuasaan dan talenta secara adil oleh leluhur mereka (Wai Waka kepada anak-anaknya). Pembagian ini dilakukan oleh Wai Waka diawali dengan doa dan pesan[24] kepada anak-anaknya untuk hidup rukun satu sama yang lain. Makna konotasi bilangan 6 dalam tradisi orang Sabu merupakan bilangan 6 langkah penciptaan oleh Deo Ama dan pada penciptaan keenam manusialah yang diciptakan terakhir dari Ai Woro.Bilangan ini memaknai persekutuan seluruh warga dan selesainya semua pekerjaan serta pembersihan diri. Mitosnya adalah manusia diberi kekuasaan untuk mengelolah hasil alam ini sebaik mungkin, dengan usaha sendiri maka tidak akan mencapai kesempurnaan, karena itu Deo Ama harus hadir sebagai pokok kesempurnaan. Jika bilangan 6 bermakna kekuasaan secara adil untuk memelihara persekutuan kekeluargaan dan pesaudaraan yang rukun dalam jiwa yang murni, maka bilangan 6 diulangi dua kali menegaskan adanya egoisme terhadap penggunaan kekuasaan. Bilangan 6 diulangi tiga kali menunjukkan hancurnya semangat persekutuan kekeluargaan daan persaudaraan yang adil dalam jiwa yang murni. Jadi angka 666 dalam tradisi bermakna manusia egois yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri.

Kesimpulan

Makna bilangan 6 dalam tradisi orang Sabu dipahami sebagai Pembagian kekuasaan secara adil dijalankan dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan yang rukun dengan jiwa yang murni. Bilangan 6 merupakan bilangan antara 3 dan sembilan yang menandakan manusia sebagai ciptaan Deo Ama dalam relasinya harus dapat bekerja samauntuk mencapai kesempurnaan.

Dalam masyarakat bilangan ini diulang tiga kali menunjukkan manusia berusaha menguasi alam dan sesama secara kejam untuk mencari hormat dan kemuliaan dirinya, sehingga semangat persekutuan kekeluargaan dan persaudaraan yang rukun dalam jiwa yang murni, menjadi rusak. Juga merupakan penegasan bahwa kekuasaan manusia ada batasnya.

 

Daftar Pustaka

Buku

Abrams, M.H., A Glosary of Literary Term (New York: Holt, Rinehart and Wiston, 1981)

Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi tentang Makna (Bandung: Sinar Baru, 1988)

Bartehs, Roland, Imaji Musik Teks Analisis semiology atas fotohrafi, iklan,film, msik, Alkitab, penulisan dan pembacaan kritik sastra ( Yogyakarta, Jalasutra 2010)

Budiman, Manneke, “Indonesia: Perang Tanda,” dalam Indonesia: Tanda yang Retak (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2002)

Danesi, Marcel, Pesan, Tanda dan Makna (Yogyakarta, Jalasutra 2010)

Depdikbud NTT, Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur (Kupang 1991)

De Saussure, F., Course in General Linguistics, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988)

Eco, Umberto, Semiotics and the philosophy of language, (London, The Macmiland Ltd, 1999)

Faisal, Sanapiah, Penelitian Kualitatif ; dasar-dasar dan aplikasi, (Malang, YA3 Malang 1990)

Fiske, John, Cultural and Comunication Studies Sebuah Pengantar (Yogyakarta, Jalasutra 2008)

Jorgensen, Marianne W. & Louise J. Phillips, “Analisis Wacana, teori dan metode” (Yogyakarta:Pustaka Belajar, 2007)

Hoed, Benny H, “Strukturalisme, Pragmatik dan Semiotik dalam Kajian Budaya,” dalam Indonesia: Tanda yang Retak (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2002)

Muhadjir, H. Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, & Realisme Metaphisik, Telaah studi teks dan Penelitian Agama; (Yogyakarta, Rake Sarasin 1998)

Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Lapangan Kualitatif; (Bandung: Remaja Rasda Karya, 2010)

Netty, A.G. Hadzarmawit, Bilangan Super (Surabaya: B Young Publishing, 2012)

Pateda, Mansoer, Semantik Leksikal (Jakarta: Rineka Cipta)

Rafiek, M, Teori Sastra, (Bandung:Refika Aditama,2010)

Riwu Kaho, Robert, Orang Sabu dan Budayanya, (Yogyakarta, Jogya Global Media 2005)

Rohman, Saifur. Hermeneutik Panduan kea rah desain Penelitian dan Analisis (Jakarta, Graha Ilmu 2012)

Sobur, Alex, Analisis Teks Media (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004)

Teew, A., Khasanah Sastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1984)

Titscher, Stefan, Metode Analisis Tek & Wacana; (Yogyakarta,Pustaka Belajar 2009)

Van Zoest, Aart, Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya; (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1993)

Wibowo Indiwan Seto Wahyu, Semiotika Aplikasi Praktis Penelitian dan Penulisan Skripsi Ilmu Komunikasi; (Jakarta, Universitas Prof. Dr. Moestopo,2006)

 

Karya ilmiah

Bunga Tedju, Pantekosarlin Y, Ritus HapoAna “Tinjuauan Teologis kontkestual terhadap Ritus Hapo Ana di Jemaat Pniel Luimadiri Klasis Sabu Barat”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2008)

Dali, John Ly, Hole “Tinjuauan Teologis kontkestual terhadap persepsi Orang Jingitiu tentang Yang Ilahi dalam ritus Hole di Jemaat Ebenhaezer Ege”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2008)

Dima, Yuliana, Hegutu Kado “Tinjuauan Teologis kontkestual terhadap ritus Hegutu Kad’do di Jemaat Imanuel Ligu”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2009)

Dryanti, Restituta, Makna Simbolik Tato bagi Manusia Dayak dalam Kajian Hermenutika Paul Ricoeur ( Tesis : Univesitas Indonesia, 2011

Hawu Haba, Yuda D, Injil dan Jingitiu ( Tesis: Jakarta, STT Jakarta, 2006)

Kana Wadu, Apriany, Makna Hengad’du bagi Orang Sabu “Suatu Studi tentang Hengad’du di GMMI Jemaat Persaudaraan Nunbaun Sabu”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2006)

Kota, Juliana, Hengad’du sebagai Akta perdamaian di Kalangan Masyarakat Suku Sabu “Tinjuauan Teologis terhadap Makna Hengad’du dan Implikasinya bagi Jemaat Syalom Raeliu”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2008)

Poyk, Joneth Laurencia Rillentry, Budaya Kad’di dan DampaknyaTerhadapKeluarga “Suatu Studi Sosio-Pastoral Terhadap Keluarga Sabu di Kampung Sabu Labat Kelurahan Bakunase ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2005)

Otemusu, Adriana, Kuja Ma “Tinjuauan Teologis kontkestual terhadap ritus Kuja Ma di Wilayah Adat Sabu Liae”, ( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2006)

Ritenour, Karen E, The Problem [of Paul Riceour’s Symbols] of Evil, ( Tesis : Oregon State University, 2002)

Shahab , Achmad, Nilai-Nilai Agama dalam Film Ayat-Ayat Cinta, (Skripsi : Surakarta, Univ Sebelas Maret FISIP, 2010)

Wadu, Marselina Jublina, Ritus Kematian Agama Suku Sabu dan Dampaknya terhadap Upacara Pemakaman Orang Sabu Kristen di Jemaat Yeruel Seba Kota,( Skripsi : Kupang, Univ Krist. Artha Wacana Fak Teologia, 2008)

 

Jurnal

El Mahdi, Lathifatul Izzah, Hermeneutika-Fenomenologi Paul Ricoeur: dari pembacaan teks simbol hingga pembacaan teks-aksi sejarah.   Jurnal kajian Islam Interdisipliner Vol 6, nomor 1, Januari-Juni 2007

Ferrara, Ricardo, Paul Ricouer (1913-2005) Sus Aportes A. La Teologia, Abril 2006

Sanga, Felysianus. Nama Bilangan Pokok dalam Bahasa-bahasa daerah di Nusa tenggara Timur Sebagai pengetahuan dasar Matematika bagi Siswa Pendidikan dasar. Kupang: Guru bahasa, Edisi I, Tahun Pertama 1996

Suratminto, Lilie, Brandes Sang Penyelamat Manuskrip Nagarakertagama (Jakarta, Jumantra Vol 3 No. 2 2012)

Data Internet

Hayashida Chinatsu      : “Mari Kita Selidiki Rahasia Angka 666” http://chinatsuh.blogspot.com 14 Agustus 2011

Kamus Arti kata           : “Bilangan”. http://artikata.com.

Kristanti,Elin Yunita : “Ini 11 Ramalan Kiamat yang Gagal Total”http://news.liputan6.com, Posted: 13/12/2012

Mardiana, Rintyastini Harissa : “Hermeneutika” http://www.slideshare.net 2011

Putra, Derichard H, “Fenomenologi dan Herneutika: Sebuah Perbandingan http://kalamenau.blogspot.com 20 Juli 2012

Sarapan pagi Bibilika    : “Memahami Ucapan yang Sulit dalam Perjanjian Baru : Bilangannya ialah 666. http://www.sarapanpagi.org,

Sarwono          : “Fenomenologi dan Hermeneutika” http://sarwono.staff.uns.ac.id, 32 Maret 2011

Sinaga, Suryani Juniati : “Waspadalah !!! 666 – Angka dari Antichrist / Dajjal” http://pedson.blogspot.com, Permata Kehidupan (Wednesday, 18 May 2005) 2 Desember 2007

Syekhuddin      : “Filsafat Hermeneutika” http://jaringskripsi.wordpress.com, 22 September 2002

Zakiya,Zika: “lima prediksi kiamat yang meleset” http://nationalgeographic.co.id, ( Sumber: Live Science)Selasa, 18 Desember 2012,

 

 

[1] Mahasiswa program Studi Linguistik PPs Undana angkatan 2012

[2] F. Sanga Sistem Bilangan Pokok Tradisional dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur sebuah kajian etnografis, Jurnal Guru Bahasa 1996

[3] Jingitiu adalah kepercayaan tradisional yang dianut oleh masyarakat Sabu, Kepercayaan Jingitiu ini sebenarnya hanyalah sebutan dari para penginjil Kristen Portugis saja, karena kepercayaan asli orang Sabu tidak diketahui secara pasti namanya. Hal ini didasarkan pada arti Jingitiu dalam bahasa lokal, yakni menolak (jingi) dari (ti) Tuhan (au). Padahal orang Sabu sangat meyakini adanya Tuhan yang mereka sebut dengan Deo Ama (Allah Bapa, asal dari segala sesuatu) atau Deo Woro Deo Pennji (Tuhan pencipta semesta) atau Deo Mone Ae (Tuhan Maha Kuasa / Maha Agung).

[4]http://www.kemendagri.go.idhttp://www.kemendagri.go.id

[5] Robert Riwu Kaho “Orang Sabu dan budayanya” 2005

[6] Pantekosarlin Y Bunga Tedju “Ritus Hapo Ana” 2008 : 12

[7]Ama Terru Ludji: “Agama suku Sabu” http://4.bp.blongspot.com

[8] Juda D. Hawu Haba “Gospel and Jingitiu” 2006 : 45-47

Baca Robert R. Kaho “Orang Sabu dan Budayanya” 2005

[9] Wilayah adat Mesara.

[10]Baca: Juda D. Hawu Haba “Injil dan Jingitiu” 2006

[11] Kalender adat terlampir

[12]Leluhur Orang Sabu dalam generasi ke-6

[13]Baca :Pantekosarlin Y Bunga Tedju” 2008

[14]Baca : Robert Riwu Kaho“Orang Sabu dan Budayanya” 2005

[15] Wawancara dengan pdt Emr. Nguru Wadu, Herman Dida,Leofilus Kale, Lambertus Huru

[16]Baca : Pantekosarlin Y. Bunga Tedju “Ritus Hapo Ana” 2008

[17] Petrus Baki, wawancara tanggal 2 Desember 2013

[18] Heekki terdiri dari lima buah (contoh pada kelapa)

[19] Baca : Yuda Deferset Hawu Haba “Injil dan Jingitiu” 2006

[20]Baca : John Ly Dali “Hole” 2008

[21] Diyakini berasal dari bagian tubuh Rai Ae: Kelapa = tempurung kepala, Pinang = biji mata, Siri = jari, Pohon Lontar = kemaluan, Kacang = ginjal, Mengkudu = ludah merah

[22] Yat padjie

[23] Tanaman lontar ini ditanam dalam satu kebun, setiap jumlah ke sepuluh sebagai tanaman persembahan.

[24] Lihat topik bilangan tradisi orang Sabu

 

 

Comments are closed.