Analisis Jenis dan Frekuensi Kesalahan Gramatikal Bahasa Inggris Tulis Mahasiswa

Zubaidi

Politeknik Negeri Malang


ABSTRAK

Kesalahan gramatikal dalam berbahasa asing tidaklah dapat dihindari dan ini waiar terjadi.  Kesalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang antara lain berupa: pengaruh bahasa  asal, generalisasi yang berlebihan (overgenerali-zation), tidak megetahui aturan gramatikal, atau aturan gramatikal yang disalah-mengertikan. Penelitian ini menguji frekuensi dan jenis kesalahan tulis dari 20 karangan pendek yang dibuat oleh mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Malang. Dari  429  kalimat dalam karangan tersebut ditemukan 871 kesalahan dalam 25 jenis. Jenis kesalahan yang terbanyak adalah omission of article, omission of plural, S-V agreement, dan omission of preposition. Hasil investigasi terhadap penyebab kesalahan tersebut adalah adanya pengaruh bahasa asal (L1) terhadap bahasa sasaran (L2).

 

Kata kunci: kesalahan gramatikal, error analysis, contrastive analysis, grammatical errors

 

Mempelajari kesalahan gramatikal (grammatical errors) dalam suatu wacana setidaknya dimaksudkan untuk dua tujuan, yakni: (1) men-cari data tentang perolehan bahasa (language acquisition), dan (2) mencari informasi sebagai dasar untuk mengembangkan kurikulum dan menyusun materi pengajaran (Richards, ed., 1974).

Kesalahan gramatikal adalah penyimpa-ngan terhadap aturan baku dalam bahasa tulis maupun lesan yang terjadi secara sistematis (Giri, 2010). Dalam proses mempelajari suatu bahasa kesalahan gramatikal adalah sesuatu yang wajar dan sering kali tidak ter-hindari. Oleh karena itu kesalahan ini perlu dipelajari dan dicermati sehingga dapat dike-tahui jenis, frekuensinya dan penyebabnya sehingga kemudian dapat ditemukan cara-cara untuk mengatasi kesalahan tersebut.

 Ada beberapa jenis kesalahan grama-tikal yang dikelompokkan secara umum dalam analisis kesalahan. Jenis kesalahan tersebut adalah (1) penghapusan morfem gramatikal (omitting grammatical morphemes), (2) penandaan ganda (double marking), (3) pola keteraturan (regularizing), (4) penggunaan archiform (using aarchiform), (5) penggunaan dua bentuk atau lebih dalam perubahan random (using two or more forms in random alteration), dan (6) salah penempatan (mis-ordering). Jenis-jenis kesalahan ini kemudian dikembangkan lagi bersamaan dengan dikem-bangkannya teori-teori baru dalam analisis kesalahan gramatikal dalam berbahasa.

 

Contrastive Analysis vs. Error Analysis

Contrastive analysis (CA) muncul pada abad ke-18 ketika William Jones membandingkan bahasa-bahasa Yunani dengan bahasa-bahasa Sanskrit. Dengan CA ini ia menemukan bahwa kedua kelompok bahasa tersebut memiliki banyak persamaan yang sistematis. CA memfokuskan pengamatannya pada aspek hubungan-hubungan fonologi dan evolusinya, sehingga dihasilkan silsilah-silsilah bahasa.

Pendekatan CA ini didasarkan pada asumsi bahwa kita dapat meramalkan dan menguraikan struktur bahasa yang dipelajari (L2) yang akan menyebabkan kesulitan dalam pelajaran dengan membandingkannya dengan bahasa asal (L1). Dalam  perbandingan bahasa  kedua bahasa tersebut akan ditemukan aspek-aspek bahasa yang sama dan berbeda. Diasumsikan bahwa aspek bahasa yang sama akan mudah dipelajari sedangkan aspek yang berbeda akan sulit dipelajari.

Selain itu, CA juga dikaitkan dengan teori pengalihan bahasa atau language transfer. Dalam teori ini dikatakan bahwa pembelajar bahasa cenderung untuk mengalihkan pola atau struktur bahasa asal ke pola atau struktur bahasa yang dipelajarinya. Menurut beberapa pakar CA, pengalihan bahasa digolongkan dalam dua kelompok, yakni pengalihan bahasa yang meunjang pembelajaran, dan pengalihan bahasa yang menghambat pembelajaran.

Para ahli bahasa terpecah menjadi dua kelompok dalam memandang manfaat CA ini, yakni kelompok yang percaya bahwa CA dapat memberikan sumbangan yang berarti bai pengajaran bahasa, dan kelompok yang meragukan manfaat CA dalam membantu keberhasilan pengajaran bahasa. Namun, setidaknya CA berguna dalam: (1) menerangkan mengapa kesalahan terjadi, dan (2) menunjuk-kan strategi apa yang harus diambil untuk mengurangi kesalahan itu dalam pembelajaran bahasa.

Dalam melakukan investigasinya, CA mengamati Perbedaan (dan persamaan) pada aspek: (1) fonologi, baik fonem segmental maupun suprasegmental, gugus vokal maupun gugus konsonan; (2) morfologi atau pembentukan kata; (3) sintaksis, yakni pembentukan kalimat, baik struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface structure); (4) leksis (lexical contrasts), yakni yang terkait dengan kosa kata; (5) budaya, yakni dalam perilaku non-linguistik; dan (6) ortografis (orthographical contrasts), yaitu dalam penulisan abjad, suku kata dan tulisan logografik.

Dalam teori CA ini dikatakan bahwa ‘belajar bahasa’ pada dasarnya merupakan suatu proses pembentukan kebiasaan-kebia-saan otomatis dan bahwa oleh karenanya kesalahan-kesalahan yang terjadi berasal dari kebiasaan dalam berbahasa asal (L1) yang mempengaruhi pembelajar dalam mempelajari bahasa sasaran (L2). Dikatakan juga bahwa analisis kontrastif atau perbandingan dari dua bahasa yang dipelajari akan menggambarkan aspek-aspek bahasa sasaran mana yang meng-hasilkan kesalahan.

Namun, beberapa pakar bahasa lain melihat bahwa sejumlah besar kesalahan yang dibuat pembelajar mungkin tidak dapat ditelusuri melalui bahasa asalnya. Oleh karena-nya, teori CA ini dianggap tidak dapat menjelaskan secara rinci sebab-sebab dari kesalahan gramatikal. Sebagai gantinya, muncullah teori baru yang disebut sebagai Error Analysis.

Error Analysis (EA) atau analisis kesalahan baru menjadi populer pada tahun 1965-an. Teori ini meneliti secara mendalam kesalahan-kesalahan yang ditemukan dalam pembelajaran bahasa dan mencari tahu sebab-sebab terjadi kesalahan yang dibuat. Tidak berbeda dengan CA, EA dipergunakan untuk mengidentifikasi unsur-unsur bahasa yang menimbulkan kesulitan belajar.

Sementara itu, EA dilaksanakan dengan menganalisis wacana pembelajar, baik lesan maupun tulis, dan mengidentifikasi kesalahan yang ada dan kemudian dikelompokkan dalam jenis kesalahan dan selanjutnya dihitung frekuensinya. Kesalahan yang mempunyai frekuensi tinggi dikategorikan sebagai unsur bahasa yang sukar dipejari atau dipahami; sebaliknya kesalahan yang mempunyai frekuensi rendah dianggap sebagai mudah.

Sebelum diuraikan lebih lanjut tentang metode dalam EA, perlu diketahui terlebih dahulu tentang kesalahan gramatikal (grammatical errors) dan kekeliruan gramatikal (grammatical mistakes).

Menurut teori audiolinguism, kesalahan gramatikal merupakan tanda bahwa cara penyajian materi bahasa kurang baik atau guru kurang mahir dalam mengajar. Sementara itu menurut pendekatan komunikasi, kesalahan-kesalahan gramatis justru merupakan tanda bahwa proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan bahwa kesalahan tersebut tidak perlu dihindari atau dielakkan.

Dalam berbahasa pembelajar sering membuat kesalahan. Kesalahan, atau lebih tepatnya penyimpangan dari strukutr yang benar, dibedakan dalam dua kategori, yakni KESALAHAN atau disebut errors, dan KEKELIRUAN atau disebut mistakes. Secara konsep, keduanya berbeda.

Kekeliruan (mistakes) adalah penyimpa-ngan yang tidak secara sengaja diucapkan atau dituliskan oleh seorang penutur, dan dengan mudah dapat diperbaiki oleh penutur itu sendiri. Semua orang, baik penutur asli maupun bukan penutur asli, dapat membuat kekeliruan. Tetapi apabila ia dapat dengan segera memperbaiki kekeliruan tersebut karena dia sadar bahwa ia membuat kekeliruan maka ini bukan disebabkan ia tidak menerapkan aturan-aturan tata bahasa yang benar. Kekeliruan biasanya disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis, seperti: kelelahan, kurang menyi-mak, mengantuk, memikirkan hal lain, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, kesalahan (errors) ialah penyimpangan dari tata bahasa yang benar karena ia tidak memahami aturan tata bahasa tersebut. Oleh karenanya, penutur tersebut  biasanya tidak dapat segera memperbaiki kesalahan itu. Kesalahan biasanya terjadi secara sistematis dan sering terjadi berulang. Penutur akan menyadari kesalahannya jika diberitahu oleh penutur lain atau guru.

Secara lebih rinci, langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis kesalahan (EA) ini adalah: (1) mengidentifikasi kesalahan, tidak hanya yang terkait dengan faktor linguistik tetapi juga dengan faktor non-linguistik; (2) menjabarkan kesalahan, yakni menggolongkan jenis kesalahan berupa addition, omission, alteration,  dan misordering; (3) menerangkan kesalahan, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya kesalahan, yang umumnya berupa fossilization, overgeneralization, hyper-correction, miscon-ception, dan misformation; (4) mengevaluasi kesalahan, yakni menganalisis kesalahan secara kualitatif dan kuantitatif; dan (5) memperbaiki kesalahan.

Dalam menganalisis kesalahan, EA menggunakan empat taksonomi untuk mengelompokkan kesalahan. Taksonomi ini diperlukan untuk mencari sebab-sebab kesalahan sehingga mudah dalam menarik kesimpulan. Keempat taksonomi tersebut adalah:

 

  1. 1.       Taksonomi Kategori Linguistik (linguistic category taxonomy)

Dalam taksonomi ini pengelompokan kesalahan didasarkan pada aspek kebahasaan (linguistic items) yang  meliputi fonologi, sintaks, morfologi, semantik, leksikon, dan wacana (discourse).

 

  1. 2.       Taksonomi Strategi Permukaan (surface strategy taxonomy)

Dengan taksonomi ini kesalahan gramatikal digolongkan berdasarkan pada bagaimana struktur bahasa mengalami perubahan yang mengarah pada kesalahan. Kesalahan yang mungkin terjadi adalah (1) omission, yakni penghilangan unsur-unsur kalimat tertentu yang justru diperlukan, (2) addition, yaitu penambahan unsur-unsur kalimat yang justru tidak diperlukan, (3) misformation, yakni pembentukan unsur kalimat yang salah, dan (4) misorder, yaitu penempatan unsur kalimat yang salah.

 

  1. 3.       Taksonomi Perbandingan (comparison taxonomy)

Taksonomi ini mengklasifikasi kesalahan dengan membandingkan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh anak-anak penutur asli  bahasa yang dipelajari. Kelompok kesalahannya dimasukkan dalam empat golongan, yakni development errors, interlingual errors, ambigious errors, dan other errors.

 

  1. 4.       Taksonomi Efek Komunikasi (communica-tion effect taxonomy)

Dalam taksonomi ini kesalahan didasarkan pada ‘kesalahan-kesalahan bukan dalam struktur dan kosa kata tetapi dalam ragam bahasa yang digunakan’ atau disebut sebagai unsur pragmatik. Unsur pragmatik ini mencakup setting,pelaku komunikasi, tujuan, suasana, topik, dan media.

 

Bahan-Bahan Analisis Kesalahan

Dalam melakukan analsis kesalahan gramatikal, peneliti dapat menggunakan sumber-sumber data analisisnya. Umumnya sumber itu dikumpulkan dari bahan-bahan wacana yang diproduksi oleh pembelajar, baik secara lesan maupun tertulis. Hasil-hasil penelitian menun-jukkan bahwa teknik pengambilan data dapat mempengaruhi hasil atau kesimpulan dari analisis, dalam hal ini adalah baik jenis kesalah-an yang ditemukan maupun urutan unsur-unsur bahasa yang menjadi titik perhatian analisisnya. Oleh karena itu, dalam memilih jenis data untuk dianalisis peneliti perlu mempertimbangkan kemungkinan hasil yang akan diperoleh.

Data untuk analisis kesalahan dapat diambil dari sumber-sumber berikut.

 

  1. a.      Wawancara

Biasanya wawancara dilaksanakan secara individual berdasarkan pertanyaan-perta-nyaan mengenai topik-topik tertentu. Hasil wawancara itu direkam dan kemudian dianalisis. Dengan cara wawancara  ini peran pewawancara sangat berpengaruh dalam ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh pembelajar. Situasi yang diciptakan oleh pewawancara akan juga mempengaruhi pembelajar secara psikologis yang pada akhirnya hasilnya mungkin baik atau tidak. Teknik wawancara ini membutuhkan waktu yang panjang sehingga jarang digunakan.

 

  1. b.      Karangan Tertulis

Dengan cara ini peneliti memberikan beberapa pilihan topik kepada pembelajar untuk kemudian menulis sebuah karangan pendek, satu atau beberapa paragraf, sesuai dengan topik yang dipilihnya. Tingkat kesulitan topik yang diberikan (berdasarkan latar belakang pengetahuan atau back-graound knowledge pembelajar) akan mempengaruhi hasil wacana yang diproduksi, terkait juga dengan penguasaan kosa katanya.

 

  1. c.       Karangan lesan

Dengan cara ini peneliti memberikan topik-topik tertentu dan pembelajar kemudian mencatat hal-hal yang akan diucapkan. Data analisis berupa rekaman dari karangan lesan yang diproduksi oleh pembelajar.

 

  1. d.      Dialog Terbuka

Cara ini disebut sebagai open-ended dialog, dimana pembelajar diberi suatu percakapan antara dua peran, A dan B. Peran A sudah memiliki kalimat-kalimat lengkapnya, sedangkan peran B masih kosong yang harus dilengkapi oleh pembelajar sesuai dengan konteks yang diberikan. Data semacam ini disebut sebagai data denga  bahan pancingan atau elicitated data.

 

  1. e.       Terjemahan

Bahan data analisis dengan cara ini dipero-leh dari pembelajar atas hasil terjemahan. Pembelajar diberi suatu wacana dalam bahasa asal (L1) dan mereka kemudian diminta untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa sasaran (L2). Teknik ini sering dipakai tetapi memerlukan kehati-hatian karena apabila ujaran-ujaran dari bahasa asal tidak jelas atau tidak disusun dengan baik dan baku maka hasil terjemahannya juga akan tidak baik. Dengan demikian, kesalahan yang terjadi bukan disebabkan oleh ketidakmampuan pembelajar dalam berbahasa sasaran tetapi lebih oleh faktor lain.

 

Subyek Penelitian

Penelitian ini menjabarkan dan menjelaskan kesalahan gramatikal yang terdapat pada karangan tulis pendek  oleh mahasiswa Program Diploma III, Jurusan Administrasi Niaga, Poli-teknik Negeri Malang. Di jurusan ini bahasa Inggris diajarkan sebagai salah satu mata kuliah pokok.

Mata kuliah ini diajarkan selama enam semester berturut-turut dan bersifat sebagai mata kuliah praktek dalam koridor English for Specific Purposes (ESP) dan English for Occupational Purposes (EOP). Dengan demikian, topik-topik yang diajarkan adalah topik yang terkait dengan jurusan, yang antara lain filing, handling guests, office management, financial management, office ettiquette, secretarial duties dan lain sebaginya.

Bahasa Inggris diajarkan dalam jumlah jam yang cukup banyak dibandingkan dengan mata kuliah lain, yakni 5 atau 6 jam per minggu selama 18 minggu. Pada semester 1 dan 2 bahasa Inggris diajarkan dengan fokus pada dasar-dasar bahasa Inggris termasuk grammar, ungkapan-ungkapan sederhana untuk berkomu-nikasi, dan dikemas dalam empat keterampilan berbahasa, yakni reading, listening, speaking dan writing.

 

Metodologi dan hasil penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap hasil karya tulis pendek oleh mahasiswa di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang.  Dengan menggunakan sampel secara acak, 20 karangan pendek diambil dari sejumlah 51 karangan. Karangan ini adalah hasil tugas dalam mengikuti mata kuliah ‘Business English’ yang diajarkan pada semester 5.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan gramatikal yang dilakukan oleh mahasiswa dalam karangan tulis mereka dan untuk mengetahui tingkat keseringan atau frekuensi kesalahan gramatikal untuk masing-masing jenisnya.

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi para pengajar bahasa Inggris, khususnya di Jursan Administrasi Niaga, sebagai salah satu evaluasi terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam berbahasa Inggris, yang ditunjukkan dengan terjadinya kesalahan-kesalahan gramatikal. Dengan demi-kian, pengajar dapat memberikan waktu khusus untuk mengajarkan dan memperbaiki kesa-lahan-kesalahan gramatikal tersebut bersama-sama dengan mahasiswa.

Dengan menggunakan taksonomi stra-tegi permukaan (surface strategy taxonomy), semua karangan dianalisis untuk mengidenti-fikasi kesalahan-kesalahan gramatikal yang terdapat di dalam setiap kalimat. Proses ini adalah bagian analisis yang membutuhkan  banyak waktu dan ketelitian karena setiap kalimat dari sejumlah 429 kalimat ditandai jenis-jenis kesalahannya. Tanda-tanda tertentu digunakan untuk menandai kesalahan, seperti garis bawah, lingkaran, tanda panah tunggal, tanda panah bolak-balik, tanda centang, tanda tanya, dan tanda coret.

Setelah semua kesalahan diidentifikasi, kesalahan tersebut kemudian dikelompokkan jenis kesalahannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 25 jenis kesalahan gramatikal seperti terangkum pada Tabel 1 berikut.

 

 

Tabel 1

Jenis, Contoh dan Frekuensi Kesalahan yang Dibuat oleh Mahasiswa

 

Jenis Kesalahan

Contoh

Frekuensi

Total

Persen

A.      Omission (tulisan superscript adalah pembetulan oleh peneliti)
A1. Article Qualified opinion is given by the auditor.

207

23,77

A2. Head noun GNP is used to measure high and low income.

5

0,57

A3. Subject We hope we are not deceived by that.

18

2,07

A4. Main verb … and the workers are not bored.

37

4,25

A5. Direct object The company divides it into several parts.

6

0,68

A6. Preposition The tax bond is divided into two parts.

58

6,66

A7. Plural In fact, the function of all secretaryies is not only helping the director.

83

9,53

A8. Conjuction … many private banks take fund from people with all methods and that is a good idea.

8

0,92

B.      Addition (tanda kesalahan dan pembetulan oleh peneliti)
B1. Double marking of verb Macro economy is a science that is studyies carefully …

18

2,07

B2. Double marking of noun … makes the workplace an important part of each worker employee.

18

2,07

B3. Article The selection depends on a the job analysis.

7

0,80

B4. Preposition We can know the economic situation of a country with in the same variables.

16

1,83

C.      Misformation (tulisan miring oleh peneliti)
C1. Overgenerali-zation It catched sight of Section 3 PBB institutions …

11

1,26

C2. Alternating forms of verb It is used to indicate and to provision

42

4,82

C3. Alternating forms of preposition Status refers with a person’s rank or …

29

3,33

C4. Alternating forms of adverb … to indicate the economic variables with the way totality.

26

2,99

C5. Alternating forms of noun All departments must have planning.

50

5,74

D.      Misordering (tulisan miring oleh peneliti)

 

 

D1. Adverb Credit tax only can happen if …

2

0,23

D2. Noun They don’t take the credit long-term because …

9

1,03

E.       Other Errors (tulisan miring oleh peneliti)

 

 

E1. Tense The limited company is being a kind of a comapnies…

29

3,33

E2. Passive voice … that is invite to operate in districts.

31

3,56

E3. Adj-Noun The price favourable is wanted by the supplier.

45

5,17

E4. Possessive Auditors report consists of …

21

2,41

E5. Agreement Tabungan Kesra are motored by BII, Bank Danmon, and Bank Bali.

81

9,30

E6. To-Infinitive The selection must to take attention to a rule and government appointment.

14

1,61

871

100,00

Sumber: Data primer penelitian

Langkah berikutnya dalam analisis ini adalah mencari sebab terjadinya kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada lima macam sebab terjadinya kesalahan, sebagai berikut:

1. Pengaruh bahasa asal (bahasa Indonesia) terhadap bahasa Inggris, yang mencakup:

1.a. Penghilangan kata sandang (article):

  • Secretary is assistant of leader. →   A secretary is an assistant of a leader.
  • In 1990 there was decrease of production. →   In 1990 there was a decrease of production.

1.b. Pengurutan frase benda yang tidak benar:

  • The operator bank includes …→   The bank operator includes …
  • Invoice Purchase is made for the buyer. →   Purchase Invoice is made for the buyer.)

1.c. Pemilihan kata depat yang tidak tepat:

  • The function of a secretary is different with the function of   …→   The function of a secretary is different from the function of…
  • We know people will be interested with high interests.→   We know people will be interested in high interests.

1.d. Pembentukan kata keterangan yang tidak tepat:

  • The leader must solve the problem with careful.→   The leader must solve the problem carefully.
  • “…to indicate the economic variables with the way totality.”→   …to indicate the economic variables in the total way.

 

2. Generalisasi aturan yang tidak benar (over-generalizatio), yang meliputi:

2.a. Pembentukan kata yang tidak benar (misformation):

  • The company never gived holidays. →   The company never gave holidays.
  • The guests may not be leaved doing nothing.→   The guests may not be left doing nothing.

2.b. Pembentukan kata benda yang tidak benar:

  • All departments must have plan-ning.→   All departments must have plans.
  • The guests must write thier identity in the guest booking.→   The guests must write thier identity in the guest book.

 

3. Aturan bahasa tertentu tidak dipahami, yang meliputi:

3.a. Pemakaian kata kerja yang salah:

  • After research the problem, so the writer…→   After researching the problem, the writer…
  • The secretary must keep smile.→   The secretary must keep smiling.

3.b. Pemilihan ‘tense’ yang tidak benar:

  • If the company was good, I will take the job.→   If the company were good, I would take the job.)
  • The waiting room provided good situation in order the guests can stay well.→   The waiting room provides good situation in order the guests can stay well.

3.c. Penggunaan kata depan yang tidak tepat:

  • The auditor has examined the financial report according in Auditing Standards.→   The auditor has examined the financial report according to Auditing Standards.
  • …to receive guests who will meet to the director.→   …to receive guests who will meet to the director.

 

4. Pembelajar tidak menerapkan tata bahasa secara lengkap, yang umumnya berupa penghilangan unsur bahasa tertentu:

4.a. Tidak adanya ‘head noun’ dalam frasa benda (omission of head-noun):

  • The secretary can keep the meeting for the next meeting.→   The secretary can keep the meeting minutes for the next meeting.
  • The company can use perpetual to balance the property.→   The company can use perpetual method to balance the property.

4.b. Tidak adanya kata kerja utama dalam kalimat (omission of main verb):

  • The workers absent from work.→   The workers were absent from work.
  • It also a kind of limited tax.→   It is also a kind of limited tax.

4.c. Tidak adanya subyek kalimat (omission of subject):

  • In the study developed categories of needs.→   In the study he developed categories of needs.
  • Also means an employee who manages correspondence.→   Also secretary means an employee who manages correspondence.

4.d. Tidak adanya kata depan (omission of preposition):

  • … to take care of the documents manager.→   … to take care of the documents of manager.
  • The duty the receiving department is to receive all goods.→   The duty the receiving department is to receive all goods

4.e. Tidak ada kesesuaian antara subyek dan kata kerja utamanya (S-V agreement):

  • She help the manager for his jobs.→   She helps the manager for his jobs.
  • It cause a person to take the tax…→   It causes a person to take the tax…

4.f. Tidak adanya kesesuaian antara kata sandang dan kata benda (Article-Noun agreement):

  • The secretary should be able to write a letters well.→   The secretary should be able to write a letter well.
  • The secretary then keeps that letters.→   The secretary then keeps those letters.

 

5. Pembelajar mempunyai pengertian yang salah tentang suatu konsep dalam bahasa sasaran (L2). Contoh kesalahan seperti ini adalah penulisan kata kerja berganda (double marking of verb):

  • So her leader must can take measures …→   So her leader must take measures …
  • Objective tax is be a tax which …→   Objective tax is a tax which …

 

Kesimpulan dan saran

Langkah berikutnya dalam analisis kesalahan dalam penelitian ini ada mengevaluasi kesalah-an. Yang dimaksud dengan mengevaluasi kesa-lahan adalah menganalisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Dari data primer penelitian, semua kesalahan dikelompokkan jenisnya dan kemudian dihitung frekuensinya. Hasil evaluasi ini tercantum pada Tabel 1 di atas.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan kesalahan yang dibuat adalah 871 dari 429 kalimat. Jenis kesalahan yang mempunyai frekuensi paling tinggi adalah ‘omission of article’ yakni sebesar 23,77%. Kesalahan seperti ini diyakini disebabkan oleh masih besarnya pengaruh bahasa asal (Bahasa Indonesia) terhadap kemampuan berbahasa Inggris karena kata sandang dalam bahasa Indonesia bukan merupakan unsur penentu dalam kalimat, sementara sebaliknya, kata sandang dalam bahasa Inggris sangatlah penting. Dengan demikian, unsur bahasa ini perlu mendapatkan perhatian khusus dalam proses belajar mengajar.

Jenis kesalahan kedua yang sering dila-kukan oleh mahasiswa adalah ‘omission of plural’ atau tidak menggunakan bentuk plural untuk frasa benda. Kesalahan ini dilakukan oleh mahasiswa sebanyak 9,53%. Kesalahan ini terjadi juga akibat pengaruh bahasa asal karena bahasa Indonesia tidak memiliki aturan yang sama terkait kesesuaian antara head-noun dan kata sandang atau article.

Jenis kesalahan ketiga dengan frekuensi besar adalah ‘S-V agreement’ dimana jumlah-nya adalah 81 atau sebesar 9,30%. Jenis kesalahan ini umumnya timbul karena maha-siswa tidak menerapkan atauran tata bahasa secara benar.

Kesalahan yang berkaitan dengan preposition perlu diajarkan secara lebih intensif dalam proses belajar mengajar mengingat hasil evaluasinya menunjukkan persentase yang cukup besar yakni 58 kesalahan.

Setelah evaluasi dalam metode peneli-tian ini, langkah berikutnya yang perlu dilaku-kan adalah memperbaiki kesalahan dengan cara melakukan rekonstruksi ujaran-ujaran yang digunakan. Memperbaiki kesalahan ini dilaku-kan dengan memperhatikan jenis kesalahan dan penyebab kesalahannya.

Selanjutnya, agar mahasiswa menyadari bahwa mereka membuat kesalahan gramatikal dalam kalimat yang mereka buat, memperbaiki kesalahan ini dilakukan bersama-sama dengan mahasiswa.

Karena pengaruh bahasa Indonesia menjadi penyebab paling besar terjadi kesalahan gramtikan ini, mahasiswa perlu diberi waktu cukup untuk lebih banyak mempelajari tata bahasa Inggris, khususnya pada aturan tata bahasa yang memiliki pola yang sangat berbeda dengan pola bahasa Indonesia. Pemberian materi ini akan lebih baik dilakukan dengan memberikan banyak latihan sehingga pola kalimat yang sering mereka buat secara salah dapat diingat lebih mudah dan dapat dipahami dan digunakan secara bawah sadar.

Penanganan kesalahan gramatikal harus dilakukan seara hati-hati dan diupayakan agar mahasiswa tidak merasa ‘salah’ yang akhirnya dapat menurunkan motivasi mereka untuk menggunakan bahasa Inggris. Perbaikan kesala-han gramatikal sebaiknya dilakukan dengan yang tepat.

 

Daftar Pustaka

Abbasi, Mehdi; Karimnia, Amin. 2011. “An analysis of grammatical errors among Iranian translation students: Insights from interlanguage theory”. European Journal of Social Sciences. 25(4). 525-536.

Abushihab, Ibrahim; El-Omari, Abdallah H.; and  Tobat, Mahmoud. 2011. “An analysis of written grammatical errors of Arab learners of English as a foreign language at Alzaytoonah Private University of Jordan”. European Journal of Social Sciences. 20(4). 543-552.

Erdogan, P. 2005. “Contribution of error analysis to foreign language teaching”. Mersin University Journal of the Faculty of Education. 1(2). 261-270.

Font-Llitjos, Ariadna; Probst, Katharina; and Carbonell, J aime G., “Error Analysis of Two Types of Grammar for the Purpose of Automatic Rule Refinement” (2004). Computer Science Department. Paper 304. http://repository.cmu.edu/compsci/304

Giri, Anju. 2010. “Errors in the use of English grammar”. Journal of NELTA. 15/1-2. 54-63.

Guasti, Maria Teresa. 2002. Language Acquisition: The Growth of Grammar. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology.

Lee, I. 2004. “Error correction in L2 secondary writing classrooms: The case of Hong Kong”. Journal of Second Language Writing. 13(4). 285–312.

Lightbown, Patsy M.; Spada, Nina. 1998. How Languages Are Learned. Oxford: Oxford University Press.

Richards,  Jack, (Ed).  1974.  Error  Analysis:  Perspectives  on  Second  Language  Acquisition.  London: Longman.

Thornbury, Scott. 1999. How to Teach Grammar. Essex: Pearson Education Limited.

Comments are closed.