Kiat Pengamanan Bahasa Indonesia (Tinjauan Skeptis pada Era Global)

Oleh: Mujianto

Politeknik Negeri Malang

ABSTRAK

Akhir-akhir ini bahasa Indonesia mulai terancam keberadaannya. Ancaman ini berasal dari dua hal, yaitu penerapan otonomi daerah, yang berdampak pada semangat ke­daerah­an termasuk adanya kebijakan dalam penggunaan bahasa daerahnya masing-masing dan terutama gencarnya globalisasi yang berdampak pada penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Banyak istilah dalam bahasa Inggris yang di­gunakan dalam berbagai situs kehidupan, baik di dunia pendidikan maupun di media massa. Jika kondisi demikian dibiarkan, maka akan ada peran bahasa Indonesia yang di­ganti­kan atau digeser oleh bahasa Inggris. Upaya penyikapan terhadap isilah asing dilaku­kan dalam tiga bentuk. Pertama, men­jaga agar setiap kata asing yang masuk mem­peroleh padanan yang berterima, sesuai dengan situasi pemakaiannya. Kedua, men­jaga agar tata bahasa Indonesia tidak ber­ubah dan agar tetap dikuasai oleh para pe­nuturnya. Ketiga, menggalakkan penulisan dalam ber­bagai bidang dengan bahasa Indonesia sesuai dengan ragam dan larasnya. Upaya pemaksimalan peran bahasa Indonesia dalam berbagai ranah kehidupan. Per­tama, ranah kehidupan bermasya­rakat, yang meliputi rumah-tangga, pergaulan (anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak), acara seremonial (upacara adat, tempat ibadah) dan lain-lain. Kedua, ranah ber­­bangsa dan ber­negara, yang meliputi petunjuk iden­titas kewarganegaraan, re­presen­tasi hasil karya ilmu pe­ngetahuan, tekno­logi, seni dan lain-lain. Ke­tiga, ranah kepeme­rintah­an, yang meliputi: perkantoran, pendidik­an, lembaga kenegaraan, re­pre­sentasi ke­bijakan bidang ideologi, politik, eko­nomi, sosial budaya, dan lain-lain.

Keywords:    bahasa Indonesia, ancaman, pengamanan bahasa, ragam, laras.

 

Berdasarkan kesejarahan lahirnya bahasa Indo­nesia lebih karena faktor politis, yakni karena ke­­butuhan persatuan seluruh wilayah nusan­tara yang memiliki kesamaan nasib dalam per­juang­an melawan penjajahan. Hal ini ter­cermin dalam ikrar pemuda seluruh nusantara pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan sumpah pe­muda. Sejak itulah bahasa Indonesia memiliki fungsi politis, menjadi alat pemersatu seluruh wilayah nusantara dalam koridor bangsa Indo­nesia. Dalam perkembangannya bahasa Indo­nesia di­angkat sebagai bahasa negara atau bahasa nasional dan bahasa resmi. Sebagai bahasa nasi­onal, bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi oleh seluruh bangsa Indo­nesia. Sementara itu, sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komu­nikasi pada situasi-situasi resmi kepemerintah­an. Secara hukum kedudukan bahasa Indo­nesia se­bagai bahasa negara atau bahasa nasional ter­tuang dalam UUD 1945 pasal 36.

Sejak bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara dan bahasa resmi, bahasa Indo­nesia telah digunakan sebagai media komuni­kasi dalam berbagai ranah kehidupan ber­masya­rakat, berbangsa dan bernegara. Pada daerah dan kota tertentu bahasa Indonesia telah digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, mulai di lingkungan rumah, masyarakat, per­gaul­an antarteman, pasar, sekolah, dan kantor pe­merintah. Namun, sebagian besar di wilayah negara Indonesia bahasa Indonesia hanya di­gunakan sebatas ranah resmi dan ilmiah. Di luar ranah itu, mereka menggunakan bahasa daerah. Hal ini di­perkuat oleh adanya penerapan undang-undang otonomi daerah, yang membawa nuansa kesukuan lebih mengemuka dan sikap kedaerah­an yang berlebihan. Implikasinya, banyak daerah yang membuat kebijakan peng­gunaan bahasa daerah masing-masing sebagai peng­antar dalam pendidikan terutama pada kelas rendah. Hal ini tentu berdampak pada me­nurunnya semangat penggunaan bahasa Indonesia di daerah ter­utama pada tingkat anak-anak, yang pada akhir­nya berpengaruh pada rendahnya kemahiran berbahasa Indonesia bagi anak-anak.

Pada sisi lain, globalisasi telah menembus batas kewilayahan (kenegaraan) dan ber­bagai situs ke­hidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pen­didikan, politik, dan tekno­logi). Segala peris­tiwa yang terjadi di belahan dunia mana pun dapat dengan mudah di­ketahui oleh masya­rakat dunia, termasuk di berbagai pelosok di Indo­nesia me­lalui tekno­logi informasi, baik melalui jaring­an tele­visi, internet, maupun media lainnya. Salah satu dampak globalisasi bagi bangsa Indo­nesia akhir-akhir ini adalah ‘euforia’ pengguna­an bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dalam berbagai situs ke­hidupan se­hari-hari di masya­rakat, misalnya di sekolah dan per­guruan tinggi (bilingual, moving class, learning university, entre­preneur university, education for all, domain dan sebagainya), mall (Malang Town Square, Malang Olympic Garden, Batu Town Square dan se­bagai­nya), televisi (TV-One, Trans-7, Metro TV, dan sebagainya), koran (Metro­polis, sportain­ment, total football, show and celebrity, dan se­bagainya), komputer (spasi, font, paste, dan se­bagainya), internet (browsing, chatting, e-mail, dan sebagainya), iklan (rent car, tour and travel, corner drink, buy 2 get 1, dan se­bagai­nya).

Penggunaan bahasa asing secara terus-menerus dalam segala sisi kehidupan memang nampak dapat mencirikan sosok masyarakat yang maju, berpendidikan, bahkan terkesan ‘keren’. Namun, pada sisi lain kondisi tersebut dapat meng­ancam keberadaan bahasa Indonesia. Jika bahasa asing digunakan dalam berbagai ranah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indo­nesia, maka bahasa Indo­nesia jarang ter­dengar oleh mereka. Akibatnya, masya­rakat Indonesia akan terbiasa dengan bahasa asing dan tanpa sadar akan meninggal­kan bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia akan ke­hilangan peranannya dalam beberapa ranah kehidupan bermasyarakat, misal­nya dalam per­gaulan sekolah, periklanan, koran dan maja­lah, teknologi informasi, dan sebagai­nya.

Fakta lain, sebagaimana yang dikemukakan oleh Pusat Bahasa Kemendiknas RI, bahwa minat masyarakat Indonesia untuk belajar mahir ber­bahasa Indonesia kalah jauh di­bandingkan ke­inginan masyarakat untuk mahir berbahasa asing. Bahasa Indonesia tidak terlalu diminati, bahkan sedang mengalami proses pengabaian. Dengan kata lain, bahasa Indonesia tidak di­anggap penting untuk dipelajari dan hanya di­jadikan bahasa tutur yang dipelajari secara ala­miah karena faktor lingkungan. Demikian pula dengan sikap positif masyarakat Indonesia ter­hadap bahasa Indonesia yang berada di pering­kat ketiga, ter­tinggal dibanding bahasa asing dan bahasa daerah. Kenyataan itu menunjuk­kan bahwa bahasa Indonesia belum dapat men­jadi lambang supremasi bahasa di tanah air sen­diri. Se­jumlah survei pendidikan menyebutkan bahwa nilai yang diraih para pelajar pada mata pe­lajar­an bahasa Indonesia tidak selalu men­dekati sem­purna. Sementara itu, nilai pada mata pelajaran bahasa Inggris lebih tinggi. Kita harus menyadari bahwa bahasa Indonesia di negeri ini belum me­miliki pamor untuk dijadi­kan simbol pencitraan negara di inter­nasi­onal. Di kandang sendiri, bahasa Indonesia masih kalah menarik di­bandingkan dengan bahasa Inggris, bahkan bahasa Arab. Mahir berbahasa Inggris atau ber­bahasa Arab bagi orang Indo­nesia lebih men­datangkan kebanggaan dari­pada mahir ber­bahasa Indonesia. Ke­mahiran ber­bahasa Indo­nesia dianggap sesuatu yang lumrah, umum, dan tidak prestatif. Inilah problem peng­hargaan kita terhadap Bahasa Indonesia, kata Wakil Menteri Pen­didik­an dan Kebudayaan Bidang Kebudaya­an, Wiendu Nuryati, di Jakarta, Selasa (29/11/2011).

Untuk menghindari terancamnya keberadaan bahasa Indonesia akibat perannya di­geser oleh bahasa asing ada dua kiat pengamanan yang dapat dilakukan, yaitu pe­nyikapan terhadap masuk­nya istilah asing dan pemaksimalan peran bahasa Indonesia. Kedua kiat pengamanan itu akan diuraikan pada bagian berikut.

 

Kiat Pengamanan Bahasa Indonesia

1.  Penyikapan Istilah Asing

Untuk menyikapi derasnya istilah asing yang masuk dalam situs-situs kehidupan bermasya­rakat sehari-hari ada tiga hal yang perlu dilaku­kan.

1)    Menjaga agar setiap kata asing yang masuk memperoleh padanan yang berterima, se­suai dengan situasi pemakaiannya. “Globa­lisasi tidak bisa dibendung. Bahasa asing memang akhirnya populer, sampai tempat makam saja terasa keren dengan nama ke­inggris-inggris­an. Dalam kondisi seperti ini, jika bahasa Indonesia mau populer, harus terus dike­depankan dengan kata-kata yang padanan­nya tidak kalah keren dengan bahasa asing,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudaya­an, Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryati, di Jakarta, Selasa (29/11/2011). Kecuali untuk tujuan pencendekiaan, se­baik­nya kita tidak memperkenalkan kata baru bila kata yang se­makna sudah ada dan ber­terima, meskipun merupakan kata serapan (pinjam­an) sebagai akibat dari pe­ner­jemahan fono­logis. Alter­natif kata baru yang terlalu banyak dapat mem­bingungkan masyarakat. Pada aspek pengem­bangan yang pertama, dilaku­kan penerjemah­an. Ada dua jenis pe­ner­je­mahan yang di­anggap paling “mudah” di­laku­kan, yaitu (a) peng­alihan pesan dengan men­carikan padan­annya, dan (b) penjiplakan struktur (calque). Pe­ner­je­mahan yang ideal adalah penerjemah­an dengan cara memper­oleh padanan yang berupa unsur dari bahasa Indonesia, bahasa Melayu, atau bahasa daerah. Namun, biasa­nya cara ini memerlu­kan waktu yang cukup lama. Contoh, kata ‘effective’ di­terjemahkan ‘me­laku­kan kegiat­an yang tepat sesuai tuju­an’, kemudian di­cari­kan padan­an­­nya dari bahasa daerah Palem­bang yang me­miliki arti yang hampir sama, yaitu kata ‘sangkil’ dan ‘efficient’ di­cari padanannya dengan kata ‘mangkus’. Dalam keadaan men­­desak, tindak­an “darurat” yang dilakukan adalah melaku­kan pe­nerjemahan fonologis, yakni meng­ambil bentuk kata asing itu dan disesuaikan dengan sistem bunyi dan ejaan bahasa Indo­nesia. Ini sudah dilakukan sejak lama, misal­nya wanita (Sanskerta), kudeta (Prancis), dan nafsu (Arab) (Alwi, 1986:78). Saat ini muncul kata dari bahasa Inggris seperti real estate, mal dan kon­do­mi­nium. Dewasa ini pe­ner­je­mah­an fonologis, yang tadi­nya merupa­kan upaya darurat bila terjadi tekanan deras bahasa asing, akhirnya men­jadi upaya yang makin sering digunakan karena di­anggap paling “mudah”, khususnya apabila tidak cukup waktu untuk mencari padanan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Oleh karena itu, perlu dikembang­kan prose­dur penerje­mahan fonologis yang se­suai dengan kaidah fono­logi dan kaidah tata bahasa Indonesia se­bagai pelengkap prose­dur pembentukan isti­lah. Harus diketahui pula bahwa dalam bahasa teknis biasa­nya ter­­dapat dua laras, yakni laras “tinggi” yang di­guna­kan oleh para pakar dalam penulis­an ilmiah, dan laras “rendah” yang digunakan oleh para montir / pekerja tingkat praktek yang pada umumnya terdapat dalam bahasa lisan. Di bidang ke­dokteran, pada laras “rendah” ter­dapat istilah-istilah untuk para awam bukan dokter, seperti kencing manis (laras “tinggi” = diabetes meli­tus), demam ber­darah (laras “tinggi” = demam dengue), atau cacar air (laras “tinggi” = varicella). Di bidang kompu­ter, pada laras “tinggi” di­kenal di-on-kan (laras “rendah” = dinyalakan), di-safe (laras “rendah” = di­simpan), atau di-copy (laras “rendah” = di­salin). Di bidang me­ka­nik oto­motif, pada laras “rendah” dikenal roda gila (laras “tinggi” = eksentrik), stang (laras “tinggi” = tuas), stir (laras “tinggi” = kemudi), dongkrak (laras “tinggi” = peng­ungkit), atau as (laras “tinggi” = poros).

2)    Menjaga agar tata bahasa Indonesia tidak ber­­ubah dan agar tetap dikuasai (secara tidak sadar) oleh para penuturnya. Dengan demi­kian, gejala penjiplakan tata hahasa asing ke dalam bahasa Indonesia harus dicegah. Dalam pengembangan istilah dan ungkapan, termasuk dalam hal kodifikasinya, perlu mem­perhatikan laras tata bahasa Indonesia. Pada aspek ini  harus diamati seringnya ter­jadi pe­langgaran atas kaidah tata bahasa Indonesia sebagai akibat adanya penjiplak­an. Ini ter­lihat antara lain, pada pelanggaran atas hukum DM (diterangkan menerangkan) dan penjiplakan struktur bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Hukum DM sudah sering di­langgar, misal­nya dalam pemberian nama toko seperti Sentosa Ban atau Setia Motor. Hal ini juga terlihat pada seluruh kata asing yang diambil alih melalui penerjemahan fonologis dan pen­jiplakan, seperti kata makro-ekonomi, mikro­-ekonomi, agro­indus­tri dan agro­bisnis. Tindak­­an penjiplakan itu salah dan “ber­bahaya” bagi pemertahanan kaidah bahasa Indonesia, walau­pun se­benar­nya tindakan itu sering ter­jadi karena ke­tidak­-pahaman penutur bahasa Indonesia tentang struktur ungkapan asing yang di­jiplak. Dalam hanyak hal, struktur MD tidak disadari oleh penutur, karena ke­seluruh­an ungkapan asing itu di­pandang sebagai satu satuan unsur bahasa. Kalau pemakai sadar bahwa struktur­nya harus disesuaikan maka ungkapan ter­sebut akan dibaca eko­nomi makro dan bisnis agro. Namun, dewasa ini masih ada saja pe­makai­an konstruksi hasil jiplak­an dari kon­struksi MD, misalnya Gunung Geulis Resor atau Modern Bakeri.

3)    Menggalakkan penulisan dalam berbagai bidang dengan bahasa Indonesia sesuai dengan ragam dan larasnya. Bidang penulis­an dengan bahasa Indonesia itu sejalan dengan per­kembangan ilmu pengetahuan dan tekno­­logi. Oleh karena itu, seluruh bidang keilmu­an, baik ilmu pengetahuan alam (kedokter­an, biologi, matematika, fisika, teknologi) mau­pun ilmu pengetahuan sosial (budaya, poli­tik, eko­nomi, manajemen, filsafat)  sebaiknya di­tulis dengan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Pengembang­an tata bahasa Indonesia juga perlu terus di­galak­kan peng­gunaannya dalam bidang non-ilmiah, seperti perdagangan, periklanan, mode, seni, me­masak, pariwisata, dan ke­su­sastraan (Hoed, 2011:9-10). Kepala Pusat Bahasa Depdik­nas Dendy Sugono mengata­kan, sebenarnya pembakuan istilah dan peng­’­indonesia’an kata dan ungkapan asing sudah lama dilakukan oleh Pusat Bahasa, namun kalang­an pers jarang menggunakan­nya. Me­nurut Yosi Herfanda (2010) penulis­an istilah asing yang diserap dalam penulisan teks berita media massa masih beragam dan sangat banyak yang salah. Bahkan, kesalah­an yang terjadi jumlahnya jutaan. Seperti kata ‘shalat’ dipakai 1.380.000 kali, kata ‘sholat’ (1.139.000) dan ‘salat’ (270.000). Kata ‘ustad’ (3.110.000), ‘ustaz’ (2.470.000), dan ‘ustadz’ (681.000). Kata ‘wudhu’ (151.000), ‘wudlu’ (59.300), dan ‘wudu’ (9.340). Kata ‘gender’ (924.000) dan ‘jender’ (76.000). Kata ‘objek’ (1.890.000), ‘obyek’ (1.840.000), dan ‘objek­tif’ (432.000), ‘obyek­tif’ (290.000). Serta kata ‘even’ (6.650.000), ‘event’ (6.650.000) dan  kata ‘iven’ digunakan 290.000 kali. Menurut Yosi Herfanda, terjadinya per­beda­an peng­guna­an istilah serapan itu karena perbedaan pedoman pembentukan istilah atau pe­nyerap­an bahasa asing Pusat Bahasa dan kalangan pers. Perbedaan cita rasa yang hendak di­lekatkan pada istilah asing yang di­serap ke dalam bahasa Indonesia. Anggapan dari kalangan pers bahwa pusat bahasa lamban dalam menyerap dan mem­bakukan bahasa asing ke bahasa Indonesia, se­hingga kalang­an pers melakukan pem­bakuan se­cepatnya dengan cara masing-masing yang berbeda.

2. Pemaksimalan Peran Bahasa Indonesia

Dalam upaya peningkatan peran bahasa Indo­nesia dalam berbagai aspek kehidupan perlu di­ke­mukakan betapa pentingnya fungsi bahasa bagi umat manusia. Samsuri (2000:4) ber­pen­dapat:

“Sejak bangun tidur pagi hari sampai malam hari, pada waktu istirahat manusia tidak lepas dari bahasa, bahkan ketika tidur lalu ber­mimpi pun menggunakan bahasa. Ketika se­orang ber­diam diri pada hakikatnya dia ber­bahasa, karena bahasa adalah alat untuk ber­fikir, me­renung, merasa, berkeinginan, dan mem­pe­ngaruhi. Bahasa sangat berakar bagi peng­gunaannya. Bahasa adalah tanda kepri­badi­an yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas bagi budi manusia. Dari pembicara­an se­se­orang kita dapat menangkap keingin­annya, latar belakang pendidikan, pergaulan, dan adat istiadatnya”.

Secara umum fungsi bahasa adalah alat komu­ni­kasi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Di samping fungsi umum itu, bahasa me­miliki fungsi khusus. Ada beberapa pendapat ber­kait­an dengan fungsi khusus bahasa. Fino­chiaro (1983) berpendapat bahwa fungsi bahasa meliputi fungsi: (1) personal, (2) interpersonal, (3) direk­tif, (4) referensial, dan (5) imaginatif. Selanjut­nya, Halliday (1973) dalam Suparno (1994:18) berpendapat bahwa bahasa memiliki 7 (tujuh) fungsi, yaitu (1) instrumental, (2) regula­tori, (3) re­­pre­sen­tasional, (4) interaksional,(5) personal, (6) huristis, dan (7) imaginatif.

Mengacu pada dua pendapat ahli bahasa ter­sebut, bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan nyata. Bahasa me­miliki peran dalam semua aspek kehidupan ber­masya­rakat. Bahasa yang dapat difungsikan dalam ber­bagai dimensi kehidupan adalah bahasa yang memiliki ketahanan yang kuat. Se­baliknya, jika bahasa itu hanya digunakan dalam ranah ter­tentu saja, maka bahasa itu tidak me­milki  posisi yang kuat di masyarakat. Semakin sedikit ranah bahasa itu digunakan, maka se­makin kecil peran bahasa itu dalam masyarakat, yang pada akhir­nya akan digeser oleh bahasa lain yang lebih banyak perannya dalam ber­bagai ranah yang ada di masyarakat. Dalam rangka pe­­maksimalan peran bahasa Indonesia perlu di­­lakukan reka­yasa bahasa. Menurut Takdir Ali­syahbana (dalam Moeli­­ono, 1985), aspek penting dalam rekayasa bahasa meliput (1) pem­bakuan bahasa, (2) pe­moderenan, dan (3) pe­nyediaan perlengkapan seperti buku pelajaran dan bacaan. Haugen (1972:287-293) dalam salah satu tulisnnya yang berjudul “Language Planning, theory and Prac­tice”, menyarankan agar reka­yasa bahasa di­mulai dengan pengetahuan situ­asi ke­bahasaan, setelah itu disusun program kegiat­an yang me­liputi penetapan sasaran, pe­netap­an kebijakan untuk mencapai sasaran itu dan se­jumlah pro­sedur untuk meng­imple­men­tasi­kan kebijakan itu.

Dalam rangka pemaksimalan peran bahasa Indo­nesia dalam berbagai situs kehidupan ber­masya­rakat, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Per­tama, memperhatikan faktor-faktor yang dapat menggeser posisi bahasa. Kedua, meningkatkan peran bahasa Indonesia dalam ranah ber­masya­rakat, berbangsa, dan bernegara.

2.1   Faktor Pergeseran Bahasa

Secara konseptual yang dimaksud dengan per­geseran bahasa (language shift) adalah per­ubah­an penggunaan bahasa secara evolusi dan konstan oleh penuturnya dari satu bahasa (asal) ke bahasa yang lain (bahasa target) (Holmes, 2001:51). Hal ini terjadi akibat adanya perubah­an profesi atau  pindah ke daerah lain sehingga secara sosial tidak memungkinkan  penggunaan bahasa asalnya dalam kehidupan sehari-hari, yang menyebabkan terjadinya pergeseran peng­­gunaan bahasa asal ke bahasa target. Pergeser­an bahasa, penurunan fungsi bahasa, dan peng­hilangan bahasa, dapat terjadi karena faktor per­­ubahan sosial yang sangat cepat (Aitchison, 1991:50). Di dalam perkembangannya pergeser­an bahasa tidak hanya disebabkan oleh adanya perubahan profesi dan perpindahan, tetapi ada beberapa faktor lain. Faktor penyebab per­geser­an bahasa dikemukakan sebagai berikut.

  • Faktor Politik

Setiap negara senantiasa berusaha mem­per­tahankan keberadaannya sebagai sebuah  negara yang berdaulat. Satu aspek untuk mem­pertahankan keberadaan negara adalah mem­perlakukan bahasa nasionalnya sebagai alat komunikasi resmi kenegaraan. Setiap orang yang berinteraksi dalam konteks formal harus meng­gunakan bahasa nasional. Oleh karena itu, jika seseorang akan memasuki suatu negara, yang bersangkutan harus me­mahami bahasa nasional negara yang akan dimasuki. Dengan demikian, jika ada orang asing akan bekerja di Indonesia, atau negara lain akan bekerja sama dengan Indonesia, maka sesorang atau negara itu harus memahami dan menggunakan bahasa Indo­nesia, bukan justru sebaliknya seperti yang selama ini terjadi.

  • Faktor Sosial

Pergaulan pada kelompok sosial yang memiliki pengaruh kuat pada lingkungannya akan mem­percepat pergeseran bahasa. “Kelompok  sosial yang kuat biasanya menjadi idola dalam segala perilaku sosial, termasuk perilaku penggunaan bahasa” (Holmes, 2001:51). Sebagai contoh, anak-anak dari keluarga pernikahan yang ber­beda latar belakang bahasa pertama (B1), mereka cenderung menggunakan bahasa Indo­nesia (B2) untuk ber­komunikasi di lingkungan keluarganya. Di dalam keluarga tidak mungkin di­ajarkan penggunaan bahasa vernacular (ragam bahasa kasar). Namun, karena pergaulan di luar rumah dengan kelompok bermain sehari-hari dengan waktu bermain yang leluasa, mereka memperoleh pilihan kata / ragam bahasa verna­cular yang akhirnya terbawa dalam komuni­kasi di lingkungan keluarga. Dengan kata lain, ter­jadi­lah pergeseran bahasa, yakni dari ragam bahasa tinggi bergeser dengan ragam vernacular.

  • Faktor Sikap Apatisme

Sikap apatisme terjadi karena kurangnya ke­sadaran masyarakat untuk mempertahan­kan bahasa etnisnya. Mereka tidak menyadari jika tidak ada usaha mempertahankan bahasa etnis­nya, maka bahasa etnisnya akan tergeser oleh bahasa asing yang digunakan dalam berbagai ranah masyarakat. Dengan kata lain, “sikap apa­tis masyarakat ter­hadap bahasa etnis, akan meng­ancam ter­hadap eksistensi bahasa etnis mereka” (Ibrahim, 1998: 57). Dalam konteks pe­mertahanan bahasa Indo­nesia dari ancaman bahasa asing, sikap apatisme terhadap bahasa Indonesia harus dihilangkan. Hal ini dapat di­laku­kan dengan cara memberi­kan motivasi tentang kesetaraan prestise peng­guna­an Indonesia dengan bahasa asing.

  • Faktor Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari perekonomian me­rupakan aspek  yang paling menonjol  dilakukan manusia. Hampir seluruh aktivitas manusia ber­kaitan dengan perekonomian.  Bahkan, karena tuntutan ekonomi seseorang harus merantau  ke daerah lain atau kota lain (urbanisasi). Para urban akan kehilangan bahasa etnisnya, ketika setiap hari harus meng­gunakan bahasa asing (B2) dalam mengerjakan aktivitas  kesehariannya dan dalam waktu yang relatif lama. “Untuk men­dapatkan pekerjaan merupakan alasan yang paling jelas untuk mempelajari bahasa lain” (Holmes, 2001:58). Sebagai contoh, para pencari kerja dari daerah yang menuju Jakarta tentu harus mampu berbahasa Indonesia karena bahasa yang digunakan sehari-hari di Jakarta adalah bahasa Indonesia. Di samping itu, akti­vitas per­ekonomian senantiasa dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga se­cara pelan-pelan bahasa Pertama (B1) akan tergeser oleh bahasa Kedua (B2).

  • Faktor Budaya

Suatu bahasa dikatakan kuat jika bahasa itu mengakar dalam budaya masyarakat pe­nutur­nya. Jika budaya masih secara aktif berlaku dalam masyarakat, maka bahasa yang menyertai budaya itu masih kuat. Sebaliknya, jika budaya tidak dilestarikan, maka bahasa sebagai media budaya itu akan tergeser, atau bahkan menjadi mati. Sebagai contoh hilang­nya bahasa Jawa “ngujubake” untuk berbagai upacara adat petani di Jawa Timur khusus­nya upa­cara persiapan panen pertanian bagi petani di Jawa Timur. Hal ini disebab­kan budaya itu telah hilang dari masyarakat petani di Jawa Timur.

Di samping itu, akulturasi budaya juga dapat se­cara pelan-pelan menggeser ke­duduk­an bahasa pada masing-masing budaya yang berakulturasi (Holmes, 2001:58). Per­campur­an / perkawinan budaya pada akhirnya akan menghilangkan ke­khasan masing-masing budaya. Mediasi budaya campuran tentu menggunakan bahasa yang netral. Misalnya per­campuran budaya Bali dan budaya Madura mediasinya adalah bahasa Indo­nesia. Dengan demikian, budaya campuran se­cara konstan menyatu dalam kehidupan sehari-hari, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Pada akhirnya bahasa Bali dan bahasa  Madura tergeser posisinya dalam konteks itu.

  • Faktor Perkembangan Teknologi

Bagi negara berkembang teknologi merupakan hasil importasi dari negara lain. Ke­hadiran tekno­logi tentu membawa segala aspek yang berkait­an penerapan teknologi itu. Salah satunya adalah bahasa yang digunakan sebagai representasi teknologi yang ber­sangkutan. Fakta keduniaan dan ilmu pengetahuan teknologi tidak akan ter­komunikasi­kan jika tidak dinyatakan dengan bahasa. Hal ini sejalan dengan fungsi bahasa re­presenta­sional, yakni bahasa berfungsi untuk menyajikan materi kebendaan yang memerlu­kan pe­nunjukan (Halliday, dalam Suparno, 1994:19). Hadirnya teknologi  dapat menghilang­kan fungsi peralatan tradisional, sehingga alat-alat ter­sebut akan ditinggalkan. Sejalan dengan itu tergeser / hilang pula penggunaan bahasa yang melekat  dengan alat tradisional. Sebagai contoh, kata “lesung” alat penumbuk padi, telah hilang di­ganti dengan “huller” alat pe­nyelip padi. Terkait dengan itu, seyogyanya teknologi importasi yang digunakan di Indo­nesia, telah dicarikan padanan­nya dalam bahasa Indonesia, sehingga nantinya tidak ter­geser oleh bahasa negara pengekpsor teknologi ke Indonesia.

2.2 Peningkatan Peran Bahasa Indonesia

Mengacu pada pentingnya bahasa Indonesia se­bagai alat pemersatu bangsa dalam Negara Ke­satuan Republik Indonesia (NKRI) dan banyak­nya faktor yang menyebabkan pergeseran bahasa, sehingga mengancam eksistensi bahasa Indo­nesia, maka perlu ada upaya yang nyata untuk mem­pertahankan eksistensi bahasa Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan peran bahasa Indonesia dalam seluruh domain kehidupan bermasya­rakat, berbangsa, dan bernegara.

  • Peningkatan Peran Bahasa Indonesia dalam Domain Masyarakat

Yang dimaksud peningkatan peran bahasa Indo­nesia dalam domain masyarakat ini adalah mem­fungsikan bahasa Indonesia dalam seluruh aspek  kehidupan bermasyarakat bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar bahasa Indonesia secara fungsional digunakan sehari-hari di dalam rumah tangga, pergaulan (anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak), upa­cara adat, pasar, warung, masjid, gereja, acara sere­­monial, tempat wisata / hiburan  dan aspek kehidupan bermasyarakat  lainnya. Dengan kata lain, bahasa Indonesia harus mengakar kuat dalam budaya masyarakat seluruh Indonesia. Jika kondisi ini dapat diciptakan, maka eksistensi  bahasa Indonesia akan kuat, tidak akan tergeser oleh bahasa etnis  ataupun  bahasa asing. Se­cara teoritis bahasa Indonesia harus memiliki fungsi personal, interpersonal, direktif, referensial, ima­ginatif, di seluruh lapisan masyarakat Indo­nesia (Nababan, 1987:37).

Sebagai implikasi lebih jauh dari konsep ini di­perlukan pemantapan paradigma lama yaitu bhinneka tunggal ika. Walaupun berbeda latar budaya, sosial, suku, bahasa pertama (B1), dan agama, bahasa Indonesia harus digunakan oleh masyarakat seluruh wilayah Indonesia, baik dalam rumah tangga, pergaulan (anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak), upacara adat, pasar, warung, masjid, gereja, acara sermonial, tempat wisata, dan aspek ke­hidupan bermasya­rakat lainnya. Dengan demikian, bahasa Indo­nesia akan mengakar pada seluruh masyarakat Indonesia, sehingga bahasa Indonesia betul-betul kuat di seluruh Indonesia.

  • Peningkatan Peran Bahasa Indonesia dalam Ranah Berbangsa dan Bernegara

Telah disadari, bahwa bangsa Indonesia itu lahir karena faktor politis, bukan antropo­logis. Dalam konteks ini bangsa Indonesia telah sepakat me­milih salah satu bahasa lingua fanca, bahasa Melayu, dijadikan bahasa Indonesia. Dengan demikian, peran bahasa Indo­nesia pada saat itu hanya untuk kepentingan alat pemersatu bangsa yang multi etnis  dalam konteks bangsa Indo­nesia. Memang dalam perkembangannya bahasa Indonesia telah di­fungsikan sebagai bahasa nasio­nal, yakni sebagai alat komunikasi seluruh rakyat Indo­nesia dalam konteks kehidupan ber­bangsa.

Namun, sebenarnya masih banyak ranah ber­bangsa dan bernegara yang seharusnya mem­fungsi­kan bahasa Indonesia sebagai media re­pre­sentasinya. Misalnya, sebagai pe­nunjuk iden­titas kewarganegaraan bagi seluruh orang yang meng­aku sebagai  warga negara Indonesia, sebagai re­presentasi hasil karya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat Indonesia, sebagai repre­sentasi produk perundang-undangan dan sistem hukum di Indo­nesia, sebagai representasi sistem pertahanan dan keamanan negara Indonesia, dan ranah kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya. Peningkatan peran bahasa Indonesia dalam ranah berbangsa dan bernegara secara teoritis relevan dengan fungsi instrumental, regu­la­tory, dan reperesentasional (Wahab, 1998:25).

  • Peningkatan Peran Bahasa Indonesia dalam Ranah Kepemerintahan 

Seperti diketahui, bahwa selama ini bahasa Indo­nesia telah diangkat sebagai bahasa resmi. Arti­nya bahasa Indonesia telah digunakan sebagai alat komunikasi resmi dalam konteks resmi ke­pe­merintahan, misalnya perkantoran, pengantar pendidikan, departemen, dinas pemerintah, lem­baga tinggi negara, dan lembaga-lembaga peme­rintah lainnya. Dalam situasi ini bahasa Indo­nesia dapat ditingkatkan peranannya pada berbagai ranah pe­nyeleng­garaan kepemerintahan secara menyeluruh, mulai pemerintahan desa, kecamat­­an, sampai dengan pemerintah pusat. Di samping itu, bahasa Indonesia harus digunakan dalam berbagai bentuk pelayanan pemerintah atau lembaga formal lainnya kepada masya­rakat, se­hingga seluruh ranah pelayanan umum / publik harus menggunakan bahasa Indo­nesia. Selanjut­nya, seluruh kebijakan pemerintah baik berkait­an dengan ideologi, politik, sosial budaya, eko­nomi, pertahanan dan keamanan harus  meng­gunakan bahasa Indonesia (Kar­tadi, 2000:15). Bahkan jika perlu membuat kebijakan yang ketat, siapa pun dan untuk ke­pentingan apa pun yang akan ber­hubungan dengan pemerintah Indo­nesia harus meng­guna­kan bahasa Indonesia.

3.    Simpulan dan Saran

3.1   Simpulan

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada akhir-akhir ini bahasa Indonesia telah terancam keberadaannya. Ancaman ini ber­asal dari dua hal, yaitu  pe­nerap­an otonomi daerah, yang berdampak pada semangat ke­daerahan termasuk adanya ke­bijakan dalam penggunaan bahasa daerahnya masing-masing dan gencarnya globalisasi yang sangat ber­dampak dalam penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris di Indonesia. Banyak istilah dalam bahasa Inggris telah digunakan oleh hampir seluruh situs kehidupan yang akrab dengan masyarakat, misalnya sekolah (SD – PT), koran, majalah, TV, iklan, komputer, dan inter­net. Jika kondisi  demikian dibiarkan, maka ada peran bahasa Indonesia yang digantikan atau di­geser oleh bahasa Inggris. Dengan demikian, ke­dudukan bahasa Indonesia dalam ranah ter­sebut terancam, dan jika ranah lain pun diganti oleh bahasa Inggris, maka tidak lama lagi bahasa Indo­nesia akan ditinggalkan oleh masya­rakat Indo­nesia, terutama generasi penerus. Oleh karena itu, harus ada upaya nyata untuk menangani ancaman keberadaan bahasa Indonesia, yaitu  penyikapan terhadap masuknya istilah asing dan pemaksimalan peran bahasa Indonesia.

  • Upaya penyikapan terhadap isilah asing di­lakukan dalam tiga bentuk, yaitu  (1) men­jaga agar setiap kata asing  yang masuk memper­oleh padanan yang berterima, sesuai dengan situasi pemakaiannya, (2) menjaga agar tata bahasa Indonesia tidak berubah dan agar tetap dikuasai oleh para penuturnya, dan (3) menggalakkan pe­nulisan dalam berbagai bidang dengan bahasa Indonesia sesuai dengan ragam dan larasnya.
  • Upaya pemaksimalan peran bahasa Indo­nesia dalam berbagai ranah kehidupan, yaitu (1)  ranah kehidupan bermasyarakat, yang me­liputi: rumah tangga, pergaulan (anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak), upacara adat, pasar, warung, masjid, gereja, acara sere­mo­nial, tempat wisata / hiburan, (2) ranah ber­bangsa dan bernegara, yang meliputi: pe­tunjuk identitas kewarganegaraan, represen­tasi hasil karya ilmu  penge­tahuan dan tekno­logi, produk perundang-undang­an dan sistem hukum, sistem per­tahanan dan keamanan negara, dan (3) ranah ke­pemerintahan, yang meliputi: per­kantoran, pengantar pen­didik­an, depar­te­men, dinas pe­merintah, lem­baga tinggi negara, represen­tasi kebijakan dalam bidang ideo­logi, politik, sosial budaya, eko­nomi, per­tahanan dan keaman­an.

3.1   Saran

Dalam rangka kedua upaya menangani ancam­an terhadap keberadaan bahasa Indo­nesia ter­sebut perlu ada payung hukum dari pihak pemerintah Indonesia. Bentuknya dapat berupa undang-undang, peraturan pemerintah, ataupun bentuk kebjakan pemerintah lain­nya. Hal ini dimaksud­kan agar semua pihak menyadari perlunya pe­nguatan peran bahasa Indonesia dalam se­genap lapisan kehidupan di Indonesia, agar tidak ter­gantikan oleh bahasa asing, khusunya bahasa Inggris. Jangan sampai bahasa Indonesia men­jadi bahasa ‘purbakala’, yang diakibatkan hilangnya peran bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dan kehilangan penuturnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadun, Yosi Herfanda. 2010. ‘Bahasa Media Massa’. Makalah disampaikan dalam Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta.

Aitchison, Jean. 1991. Language Change: Progress or Decay? Cambridge: Cambridge Univer­sity Press.

Alwy, Hasan. 1986. Pedoman Umum Pem­bentuk­an Istilah. Pusat Pembinaan dan Pe­ngem­bangan Bahasa RI. Jakarta: PT Gramedia Media Sarana Indonesia.

Finocehiaro, Mary; Burmfit Chirstopher. 1983. The Functional National ApproachFrom Theory to Practice. USA:  Oxford University Press.

Haugen, Einer. 1972. ‘Language Planning in Modern Norway’. Language Science and Natio­nal Development. California: Stanford University Press.

Hoed, Benny H. 2010. Kedudukan Bahasa Indo­nesia dan Tantangan Abad Masa yang Akan Datang. Jakarta: Universitas Indo­nesia.

Holmes, Janet, 2001. An Introduction to Sosio­linguistics. Pearson Education Limited Edin­­bugh Gate. England: Halow, Essex CM 20 2 JE.

Ibrahim, Abd. Syukur. 1998. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya: Pe­ner­bit Usaha Nasional.

Kartadi, Hardiana. 2000. “Ketahanan Nasional Bidang Sosial Budaya”. Jurnal LEMHAN­NAS, Edisi XXII, tanggal 23 November 2000. Jakarta: Lembaga Ketahanan Nasional.

Moeliono, Anton. 1985. ‘Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif dalam Perencanaan Bahasa’. Sen Indo­nesian Linguistics Development Project, W.A.L. Stokhof (ed.); juga dalam versi bahasa Inggris: Language Development and Language Culti­vation: Alternative Approaches in Language Planning. Sen Pacific Linguistics, S.A. Wurm (ed.).

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Departemen Pen­didikan dan Kebudayaan.

Samsuri. 2000. Analisis Bahasa Edisi ke-5, Sura­baya: Penerbit Erlangga.

Soeparno, 1994. Linguistik Umum, Jakarta: Depar­temen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wahab, Abdul. 1998. Butir-butir Linguistik. Sura­baya: Airlangga University Press.

Comments are closed.