FUNGSI PERTANYAAN DALAM INTERAKSI KELAS BENGKEL POLITEKNIK NEGERI MALANG

Moh. Thamrin

Politeknik Negeri Malang

Abstrak

Pertanyaan dalam interaksi kelas  memegang peranan penting. Dengan pertanyaan interaksi kelas dapat berjalan dengan baik karena pertanyaan dapat mengeksplorasi cara berpikir logis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan (1) fungsi pertanyaan  dosen-mahasiswa dalam interaksi kelas bengkel Politeknik Negeri Malang dan (2) fungsi pertanyaan mahasiswa-dosen dalam interaksi kelas bengkel Politeknik Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan ancangan pragmatik. Data tuturan yang berbentuk pertanyaan dianalisis dengan menggunakan model analisis interaksi Miles dan Hubermen (1984) dengan langkah (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi data. Bentuk pertanyaan yang dipakai dalam interaksi dosen-mahasiswa di kelas bengkel Politeknik Negeri Malang adalah pertanyaan yang berfungsi menyuruh, meminta, dan melarang. Bentuk pertanyaan yang dipakai dalam interaksi mahasiswa-dosen di kelas bengkel Politeknik Negeri Malang adalah pertanyaan yang berfungsi meminta. Bentuk pertanyaan yang digunakan dalam interaksi kelas bengkel antara dosen-mahasiswa memiliki variasi lebih banyak daripada interaksi mahasiswa-dosen.  Hal ini disebabkan oleh perbedaan hubungan interaksional antara dosen-mahasiswa.

Kata-kata kunci: Pertanyaan, fungsi pertanyaan, interaksi kelas.

Interaksi kelas merupakan aktivitas berbahasa. Aktivitas berbahasa pada hakikatnya melaksanakan berbagai tindak bahasa sesuai dengan aturan penggunaan unsur-unsur bahasa.  Tindak bahasa sebagai unit terkecil dalam peristiwa berbahasa dapat menunjukkan makna sosial. Seorang penutur bahasa Indonesia (BI) misalnya bermaksud menyuruh petutur untuk memutar pengatur gas mesin pengelas, dapat menggunakan bentuk verbal berupa kalimat (1)”Putarlah pengatur gas ini!”, atau (2) ”Pengatur gas ini perlu disetel lagi.” atau (3) ”Bagaimana kalau pengatur gas ini diputar?” Pemilihan terhadap satu formulasi kalimat tersebut mengandung efek yang berbeda baik bagi penutur maupun bagi petutur. Efek itu antara lain menyangkut kadar maksud dan jenis hubungan yang mewarnai antara penutur dan petutur, cara berpikir, serta tindak laku keduanya. Hal ini menandakan bahwa suatu bahasa tidak hanya berfungsi untuk mengungkapkan unsur kognitif saja, tetapi juga untuk mengungkapkan unsur sikap yang ada dalam setiap bahasa. Unsur sikap yang dimaksud yaitu unsur yang memperlihatkan maksud, pikiran, kegiatan, dan sebab tuturan itu dilakukan penutur. Dalam kondisi tertentu, unsur sikap tidak dinyatakan secara eksplisit oleh penutur, namun  dapat dimengerti oleh petutur.

Tindak bahasa yang banyak mendapatkan perhatian para ahli filsafat dan ahli bahasa adalah tindak ilokusi. Salah satu jenis tindak ilokusi yang berperan penting dalam interaksi kelas adalah tindak direktif, yakni tindak bahasa yang dilakukan penutur dengan tujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh petutur. Salah satu bentuk yang dipakai adalah bentuk pertanyaan. Dalam interaksi kelas, pertanyaan digunakan dosen pada tahap pembukaan, tahap inti, dan tahap akhir pembelajaran  dengan berbagai fungsi.

Penggunaan pertanyaan dalam interaksi kelas bengkel bertujuan (1) menciptakan suasana kelas agar mahasiswa memiliki kondisi siap untuk memulai praktik, (2) mengembangkan interaksi kelas secara optimal, (3) menciptakan suasana lebih hidup dan dinamis, (4) menciptakan ’kontekstual’ yang tinggi karena mahasiswa dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan (5) memperoleh balikan, seberapa banyak mahasiswa memperoleh keterampilan dalam proses pembelajaran. Bagi mahasiswa,  pertanyaan berfungsi sebagai pelatihan mengadakan negosiasi makna, menggunakan bahasa dengan konteks yang beragam, teknik mengatasi kesulitan, dan teknik pengembangan intelektual, emosional, serta moral.

Mengingat pentingnya peranan pertanyaan dalam interaksi kelas bengkel tersebut, pembinaan bagi dosen dan mahasiswa sebagai pengguna bahasa Indonesia perlu ditingkatkan. Pembinaan itu dapat dilakukan secara efektif apabila didukung oleh data empiris yang sahih. Untuk mendapatkan data tersebut perlu dilakukan penelitian fungsi pertanyaan dalam interaksi kelas bengkel Politeknik Negeri Malang.

 

BENTUK DAN FUNGSI PERTANYAAN

Di dalam berbahasa, kebutuhan penutur bukanlah semata-mata untuk menyampaikan proposisi dan informasi saja. Dengan bahasa, penutur dapat melakukan tindakan. Salah satu tindakan yang penting adalah tindak ilokusi.  Tindak ilokusi memiliki beberapa fungsi, salah satunya adalah fungsi direktif, yakni ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek yang dilakukan oleh petutur (Searle, 1985). Dalam menyatakan tindak direktif, penutur dapat menggunakan strategi yang berbentuk pertanyaan.

Sebagai salah satu unsur pembentuk kegiatan interaksi, pertanyaan memiliki bentuk dan fungsi yang sangat beragam. Bahasan berikut akan difokuskan pada bentuk dan fungsi pertanyaan dalam bahasa Indonesia. Alisyahbana (1969:51) membedakan kalimat tanya menjadi 3 macam, yaitu kalimat tanya yang dibentuk dengan menggunakan (1) intonasi tanya, (2) kata tanya, dan (3) akhiran tanya –kah. Satu bentuk pertanyaan yang lain, yakni kalimat tanya yang sama dengan perintah, sebagai alat interaksi, dan pertanyaan yang menyerupai seruan. Slamet Muljana (1969)  membedakan kalimat tanya menjadi 2, yaitu  kalimat tanya sebagian dan kalimat tanya keseluruhan. Pembagian ini didasarkan pada pusat perhatiannya. Pertanyaan keseluruhan menghendaki jawaban ya atau tidak, sedangkan pertanyaan sebagian menghendaki jawaban yang ada tambahan penjelasan.

Dengan menggunakan sudut pandang sintaksis, semantis, dan model yang mengikutinya, pertanyaan dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni pertanyaan ya-tidak dan pertanyaan selain ya-tidak. Pertanyaan ya-tidak merupakan pertanyaan yang jawabnya ya, tidak, atau bukan. Sedang pertanyaan selain ya-tidak yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang berupa penjelasan (Bloom, 1956).

DeGarmo (1972) mengemukakan bahwa pertanyaan berfungsi sebagai perangsang berpikir dan pendorong lahirnya suatu tindakan. Dalam kegiatan interaksi , pertanyaan berfungsi sebagai alat untuk menciptakan dan mengembangkan interaksi. Allen (1978) mengemukakan adanya empat fungsi pertanyaan, yakni meminta informasi, meminta izin, meminta keberterimaan, atau meminta konfirmasi.

Dengan menggunakan dasar situasi dan teknik, Coulthhard (1981) membedakan fungsi pertanyaan menjadi 3 macam, yaitu (1) pertanyaan sebagai permintaan penjelasan, (2) pertanyaan sebagai permintaan agar lawan bicara melakukan sesuatu, dan (3) pertanyaan yang difungsikan agar lawan bicara tidak melakukan sesuatu.

 

INTERAKSI KELAS

Sebagai suatu istilah, interaksi dapat diartikan sebagai kontak antar dua individu atau lebih dengan menggunakan media yang bersifat verbal dan nonverbal (Samson, 1976: 228). Dalam kegiatan interaksi, pelaku interaksi saling memberikan alternatif untuk berperan serta. Peserta interaksi mendengarkan apa yang disampaikan oleh peserta interaksi yang lain dan menunggu sampai selesai, barulah ia mulai berbicara. Kegiatan interaksi secara sistematis berhubungan dengan situasi fisik tempat terjadinya interaksi dan perhatian peserta interaksi difokuskan pada situasi fisik tersebut. Dengan kata lain, interaksi merupakan pertukaran unit-unit dasar wacana dengan melibatkan kegiatan pengiriman pesan, penerimaan pesan, dan konteks.  Dalam kegiatan interaksi ini proses terjadinya negosiasi makna tidak dapat dihindarkan.

Allen (1987:25) mengartikan interaksi sebagai konsep umum yang mengacu pada pertukaran yang kompleks dari tingkah laku yang terarah yang didistribusikan ke dalam suatu rentangan waktu oleh dua orang atau lebih. Interaksi juga merupakan proses verbal dan nonverbal yang bersifat timbal balik yang diorganisir dalam suatu pola tindakan yang bermakna antara satu individu dengan individu yang lain.

Dalam interaksi yang terdiri atas dua partisipan, dapat dijumpai adanya empat macam balikan, yakni (1) balikan yang berisi monitoring diri; pembicara bermaksud mengemukakan dan menilai apa dan bagaimana ia mengemukakan maksud; (2) balikan yang berisi macam-macam respon yang digunakan untuk menopang arus interaksi; (3) balikan yang berisi balikan-balikan dari pembicara terhadap respon yang mendahuluinya; (4) balikan yang berisi hasil yang bersifat umum sebagai kesimpulan interaksi yang dapat berupa: rangkuman, persetujuan, sikap, kontrak, dan modifikasi tingkah laku antarpeserta interaksi.

River (1987) menjelaskan bahwa interaksi sebagai kegiatan melibatkan pengiriman pesan, penerimaan pesan, dan konteks. Interaksi tidak hanya melibatkan aspek pengekspresian ide semata, tetapi juga melibatkan aspek pemahaman ide. Dalam menafsirkan makna, pelaku interaksi mendasarkan diri pada konteks, baik yang bersifat fisik mau pun nonfisik, serta semua unsur non-verbal yang terkait dengan kegiatan interaksi.

Dari uraian yang dipaparkan di atas dapat ditarik pengertian sebagai berikut. Interaksi berarti kontak dua individu atau lebih menggunakan media verbal, non-verbal, atau gabungan keduanya. Dalam berinteraksi, pelaku melakukan kegiatan pengiriman dan pemahaman pesan secara timbal balik yang terwujud dalam bentuk giliran bicara. Dalam mengirimkan dan menafsirkan pesan, pelaku interaksi mendasarkan diri pada konteks atau situasi interaksi.

Kegiatan interaksi dapat dipandang sebagai salah satu bentuk kegiatan komunikasi. Seperti halnya komunikasi, Hymes (1974) membagi interaksi terdiri atas komponen-komponen, yaitu (1) genre (macam interaksi), misalnya: lawak, percakapan informal, dan diskusi; (2) topik atau fokus interaksi; (3) tujuan atau fungsi interaksi; (4) latar interaksi, meliputi lokasi, musim, dan aspek fisik lainnya;  (5) partisipan, yang melibatkan unsur usia, jenis kelamin, etnis, status sosial, serta hubungan antar partisipan; (6) bentuk pesan; (7) isi pesan; (8) urutan tindak dalam berinteraksi; (9) pola atau struktur interaksi; dan (10) norma interpretasi yang meliputi pengetahuan umum, preposisi budaya yang relevan, dan acuan khusus.

Saville-Troike (1986:22) mengemukakan bahwa kemampuan berkomunikasi melibatkan aspek pengetahuan kebahasaan, kepada siapa berbicara, dan bagaimana mengatakan sesuatu dengan tepat. Selain itu kemampuan berkomunikasi berkaitan dengan pengetahuan tentang mengapa seseorang berbicara atau tidak berbicara dalam latar tertentu, bagaimana sifat pembicaraan dua individu yang memiliki status sosial berbeda, kapan mulai berbicara dan kapan harus berhenti berbicara, bagaimana cara menyatakan sesuatu, meminta sesuatu, dan menanyakan sesuatu.

River (1987:57) mengemukakan adanya 3 aspek dalam kegiatan berinteraksi. Pertama, kemampuan kosa kata yang mencakup pengertian seseorang menguasai kosa kata yang dibutuhkan dalam suatu kegiatan interaksi dan menggunakannya secara tepat. Kedua, kemampuan tatabahasa yang merupakan rumusan struktur dari suatu bahasa yang benar. Ketiga,  kemampuan komunikatif, baik yang bersifat reseptis  (menyimak) maupun yang bersifat produktif (berbicara).

Allen (1978:42) mengemukakan tujuh macam interaksi verbal yang lebih mengarah pada aspek media verbal yang digunakan,  yaitu pernyataan, pertanyaan, persetujuan, seruan, tertawa, fragmentasi, dan tuturan secara simultan. Komponen-komponen tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Pernyataan dan pertanyaan bersifat saling melengkapi dalam proses pemindahan informasi. Persetujuan merupakan komponen yang harus dimasukkan dalam proses interaksi verbal untuk menopang jalannya interaksi. Rangkaian tawa, seruan, interupsi, dan fragmentasi seringkali dipandang negatif dalam proses pemindahan atau pengiriman informasi, dan seringkali dipakai sebagai dasar untuk menilai tingkat gangguan dalam interaksi.

Edmonson (1981:32) mengemukakan adanya tiga komponen dalam interaksi verbal, yaitu media yang digunakan, giliran bicara, dan urutan yang relevan. Interaksi sering menggunakan media baik verbal dan non-verbal secara simultan. Unsur non-verbal seperti gerak mata, ekspresi wajah, serta gerak fisik lain sering menyertai kegiatan berbicara.  Peran sebagai pembicara dan pendengar terjadi secara bergantian.

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Kegiatan interaksi merupakan bagian dari komunikasi, oleh karenanya komponen interaksi sama dengan komponen komunikasi. Komponen komunikasi yang dimaksud adalah genre, topik, tujuan, latar, partisipan, media yang digunakan, isi pesan, urutan tindak, pola, dan norma interpretasi. Dalam interaksi verbal pelaku menggunakan bahasa, aturan interaksi, dan pengetahuan budaya yang relevan. Komponen bahasa yang dimaksud meliputi pertanyaan, pernyataan, seruan, persetujuan, dan fragmentasi. Dengan demikian, interaksi dapat ditinjau dari segi tujuan, fungsi, partisipan, situasi, media, mau pun topik interaksi. Selain itu juga bisa dilihat dari segi hubungan antarunsur pembentuk kegiatan interaksi, misalnya dari segi fungsi-partisipan-bentuk. Dari segi situasinya, interaksi dapat dibedakan menjadi interaksi intim, interaksi formal, interaksi keluarga, interaksi masyarakat, interaksi kelas, interaksi sekolah, dan interaksi sekolah dengan masyarakat.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk  penelitian kualitatif  yang menggunakan ancangan analisis wacana pragmatik, yaitu dalam analisis data  penelitian, peneliti mendasarkan pada konteks atau faktor penentu dalam interaksi, yaitu pemeran serta (dosen-mahasiswa, dan mahasiswa-dosen), tujuan, dan situasi yang melingkupinya

Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan dalam interaksi antara dosen-mahasiswa dan mahasiswa-dosen dalam kelas bengkel yang mengandung tindak direktif berupa bentuk dan fungsi pertanyaan. Proses pengumpulan data ini dilakukan melalui pengamatan disertai dengan perekaman dan pencatatan data lapangan. Proses pengamatan yang disertai dengan perekaman dan pencatatan data interaksi kelas bengkel dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar. Untuk memperoleh data utama telah ditempuh cara atau teknik pengumpulan data sebagai berikut. Ketika proses perekaman berlangsung, peneliti melakukan observasi mengenai konteks tuturan dan selanjutnya dicatat di format konteks.  Hal ini perlu dilakukan agar memperoleh data yang sesuai, terutama berkaitan dengan kapan dan bagaimana tuturan itu digunakan.

Data penelitian ini berupa tuturan yang mengekspresikan (1) bentuk pertanyaan dan (2) fungsi pertanyaan.  Analisis data penelitian ini dilakukan pada saat berlangsungnya pengumpulan dan selesai pengumpulan data. Analisis data penelitian ini menggunakan model analisis interaksi (Miles dan Huberman, 1984) dengan langkah-langkah (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) simpulan atau verifikasi. 

Verifikasi hasil akan memberikan deskripsi mengenai hasil penelitian berupa fungsi pertanyaan dalam interaksi kelas bengkel yang meliputi fungsi pertanyaan yang digunakan oleh dosen-mahasiswa dalam  interaksi kelas bengkel dan fungsi pertanyaan yang digunakan oleh mahasiswa-dosen dalam  interaksi kelas bengkel.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Fungsi Pertanyaan dalam Interaksi Kelas di Bengkel Politeknik Negeri Malang  antara Dosen-Mahasiswa

Fungsi pertanyaan  yang digunakan dalam inetraksi kelas bengkel antara dosen-mahasiswa terdapat 3 jenis fungsi, yaitu (1) menyuruh, (2) meminta, (3) dan (3) melarang. Penjelasan lebih lanjut mengenai kelima fungsi tersebut dapat dilihat di bawah.

 

Menyuruh

Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai menyuruh jika penutur menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu (Alwi, dkk. 2003: 353).  Kalimat dalam tuturan yang digunakan mudah dimengerti karena langsung pada tujuan tuturan itu digunakan.  Tuturan yang dipakai juga menyiratkan tentang langkah-langkah yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam praktik di bengkel. Memahami fungsi tuturannya harus melibatkan pula konteks ketika tuturan itu disampaikan.

Sama dengan fungsi menyuruh atau memerintah yang diwujudkan dalam bentuk deklaratif, fungsi menyuruh atau memerintah dalam pertanyaan ini hanya dapat dipahami oleh petutur apabila memerhatikan konteks ketika tuturan itu diucapkan. Bentuk pertanyaan  yang berfungsi menyuruh dapat dilihat pada tuturan berikut.

 

(1)     Diameternya berapa?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika dosen menyuruh mahasiswa  membuat lubang pada benda kerja dari bahan baja perkakas (tool steel) dengan diameter mata bor 15 mm berdasarkan gambar kerja yang telah ditunjukkan dosen kepada mahasiswa.

 

(2)     Hasti, mana kacamatamu?

Konteks:

Dituturkan oleh seorang dosen yang sedang jengkel dengan mahasiswa yang bernama Hasti yang tidak segera mengenakan kacamata praktiknya padahal mahasiswa yang lain sudah siap. Hasti dengan sadar segera mengenakan kacamata praktiknya.

 

(3)     Kamu belum dapat bagian kok diam saja?

Konteks:

Tuturan dosen kepada salah seorang mahasiswa yang bernama Imam karena belum mendapatkan benda kerja dan menyuruh Imam  mengambil benda kerja yang telah disiapkan oleh teknisi. Mahasiswa

 

Tuturan-tuturan dalam bentuk pertanyaan di atas dapat diketahui memiliki fungsi menyuruh oleh petutur setelah memperhatikan konteksnya. Ini semua berarti berkaitan dengan maksud atau daya ujaran. Tuturan Diameternya berapa? Hasti, mana kacamatamu? Kamu belum dapat bagian kok diam saja?  dipahami sebagai menyuruh oleh mahasiswa karena mahasiswa mengetahui (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya (Blum-Kulka, dalam Gunarwan, 2007: 186).

Tuturan-tuturan lain yang yang berfungsi menyuruh atau memerintah yang diwujudkan dalam pertanyaan di antaranya dapat dilihat pada contoh tuturan berikut.

 

(4)     Sudah dihitung untuk pengasarannya?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika proses pembubutan. Ia menyuruh mahasiswa menentukan pemakanan untuk pengasaran dengan ukuran antara 0,25 – 0,4  mm.

 

(5)     Sudah dikunci?

Konteks:

Tuturan seorang dosen kepada mahasiswa agar segera mengunci dengan skrup pengunci skala nonius dalam praktik mesin skrap.

 

(6)     Sarung tangannya mana?

Konteks:

Tuturan dosen kepada salah seorang mahasiswa ketika ia menyuruh mahasiswa untuk mengenakan sarung tangan.

 

(7)     Berapa derajat?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika menyuruh mahasiswa menyetting eretan melintang putar pada posisi 5 derajat

 

Berdasarkan analisis di atas bahwa fungsi  menyuruh atau memerintah dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Tuturan dalam bentuk pertanyaan dapat dipahami sebagai menyuruh atau memerintah bergantung:  (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya.

Searle (1975) menegaskan bahwa satu fungsi dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk ujaran. Fungsi menyuruh dalam bentuk pertanyaan merupakan tindak bahasa tak langsung dan jarak tempuh (derajat ilokusi) ujaran itu untuk dipahami lebih panjang dibandingkan dengan fungsi menyuruh yang diungkapkan dalam bentuk ujaran dalam bentuk kalimat perintah.

Fungsi menyuruh dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang paling dominan. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Dengan teknik seperti itu mahasiswa dapat terlibat secara aktif, dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

 

Meminta

Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai meminta jika penutur tampaknya tidak memerintah, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu (Alwi, dkk. 2003: 353).  Kalimat dalam tuturan yang digunakan mudah dimengerti karena langsung pada tujuan tuturan itu digunakan.  Tuturan yang dipakai juga menyiratkan tentang langkah-langkah yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam praktik di bengkel. Memahami fungsi tuturannya harus melibatkan pula konteks ketika tuturan itu disampaikan.

Di dalam interaksi kelas bengkel, fungsi meminta  dalam bentuk pertanyaan ini hanya dapat diketahui fungsi menyuruhnya apabila memperhatikan konteks ketika tuturan itu diucapkan. Pertanyaan yang berfungsi meminta dapat dilihat pada tuturan berikut.

 

(8)     Ada kesulitan?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa pada saat akan mengakhiri kegiatan praktik. Mahasiswa diminta untuk mengutarakan hal-hal yang menjadi kendala waktu praktik.

 

(9)     Ada pertanyaan?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika akan mengakhiri kegiatan praktik agar mahasiswa menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya.

 

(10)  Sudah dicek?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika akan meninggalkan ruang praktik agar mahasiswa mememeriksa ulang tentang kebersihan dan mematikan peralatannya.

 

(11)  Itu, tolong ada pisau pengukurnya?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika ia meminta mahasiswa mengambil pisau pengukur untuk melihat kerataannya.

 

(12)  Kenapa kok ngoyo?

Konteks:

Tuturan dosen yang meminta salah seorang mahasiswa agar menggerakan kikir dengan santai.

 

(13)  Bisa bagikan benda kerjanya?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika ia meminta tolong kepada ketua kelas untuk membagikan benda kerja kepada mahasiswa yang lain.

 

Tuturan-tuturan dalam bentuk pertanyaan di atas dapat diketahui memiliki fungsi meminta setelah memerhatikan konteks situasinya ketika tuturan itu diucapkan. Ini semua berarti berkaitan dengan maksud atau daya ujaran. Tuturan Ada kesulitan? Ada pertanyaan? Sudah dicek?Itu, tolong ada pisau pengukurnya? Kenapa kok ngoyo?Bisa bagikan benda kerjanya? dipahami sebagai meminta oleh mahasiswa karena mahasiswa mengetahui (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya (Blum-Kulka, dalam Gunarwan, 2007: 186).

Fungsi meminta dalam bentuk pertanyaan merupakan tindak bahasa tak langsung dan jarak tempuh (derajat ilokusi) ujaran itu untuk dipahami oleh mahasiswa (petutur) lebih panjang dibandingkan dengan fungsi menyuruh yang diungkapkan dalam bentuk ujaran imperatif.

Berdasarkan analisis di atas tuturan yang digunakan dalam interaksi dosen-mahasiswa di Bengkel Politeknik Negeri Malang yang berfungsi untuk  meminta dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Tuturan dalam bentuk pertanyaan dapat dipahami sebagai meminta bergantung:  (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya (Blum-Kulka, dalam Gunarwan, 2007: 186).

Searle (1975) menegaskan bahwa satu fungsi dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk ujaran. Fungsi meminta dalam bentuk pertanyaan merupakan tindak bahasa tak langsung dan jarak tempuh (derajat ilokusi) ujaran itu untuk dipahami lebih panjang dibandingkan dengan fungsi meminta yang diungkapkan dalam bentuk ujaran imperatif.

Fungsi meminta dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang menduduki urutan kedua. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Dengan menggunakan fungsi meminta, suasana kelas menjadi kondusif. Mahasiswa merasa lebih nyaman karena dihargai.

 

Melarang

Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai melarang  jika penutur menyuruh lawan bicaranya jangan melakukan sesuatu (Alwi, dkk. 2003: 352).  Kalimat dalam tuturan yang digunakan mudah dimengerti karena langsung pada tujuan tuturan itu digunakan. Memahami fungsi tuturannya harus melibatkan pula konteks ketika tuturan itu disampaikan.

 

(14) Mengapa diakal-akali?

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa agar bekerja sesuai dengan prosedur  agar hasilnya sesuai dengan target.

 

(15) Mengapa tidak menggunakan sepatu kulit?!

Konteks:

Tuturan dosen kepada mahasiswa ketika ia melarang mahasiswa memakai sepatu olah raga.

 

Tuturan dalam bentuk pertanyaan  dapat dipahami sebagai melarang karena  (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya (Blum-Kulka, dalam Gunarwan, 2007: 186).

Fungsi melarang dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang menduduki urutan ketiga. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Kegiatan belajar-mengajar memerlukan disiplin yang sangat tinggi. Kedisiplinan itu berkaitan dengan langkah kerja yang harus dilakukan mahasiswa, kedisiplinan memperlakukan mesin praktik, dan disiplin menaati tata tertib. Untuk mempertahankan konsentrasi mahasiswa ketika melakukan kerja praktik dan mempertahankan keselamatan kerja, salah satu strategi yang ditempuh dosen adalah menggunakan bentuk direktif yang berfungsi melarang.

 

Fungsi Pertanyaan dalam Interaksi Kelas Bengkel Politeknik Negeri Malang antara Mahasiswa-Dosen

Pertanyaan  yang digunakan dalam interaksi kelas bengkel Politeknik Negeri Malang antara mahasiswa-dosen terdapat satu jenis fungsi yaitu meminta.

 

Meminta

Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai meminta jika penutur tampaknya tidak memerintah, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu (Alwi, dkk. 2003: 353).  Memahami fungsi tuturannya akan lebih mudah jika melibatkan pula konteks ketika tuturan itu disampaikan.

Di dalam interaksi kelas bengkel, pertanyaan berfungsi meminta  dapat dilihat dalam tuturan di bawah.

 

(16) Berapa derajat Pak?

Konteks:

Tuturan seorang mahasiswa kepada dosennya ketika mahasiswa menyetting eretan melintang pada posisi 0 derajat. Mahasiswa tidak tahu ukurannya.

 

(17) Pisau fraisnya yang mana , Pak?

Konteks:

Tuturan seorang mahasiswa kepada dosennya ketika mahasiswa  meminta informasi karena kesulitan menentukan diameter ukuran pisau frais yang tepat.

 

(18) Pakai apa, Pak?

Konteks:

Tuturan seorang mahasiswa kepada dosen yang tidak mengetahui alat yang dapat dipakai untuk menghilangkan bagian-bagian yang masih tajam.

 

Tuturan-tuturan dalam bentuk pertanyaan di atas dapat diketahui memiliki fungsi meminta setelah memperhatikan konteks situasinya ketika tuturan itu diucapkan. Ini semua berarti berkaitan dengan maksud atau daya ujaran. Tuturan Berapa derajat Pak?  Pisau fraisnya mana Pak? Pakai apa Pak? dipahami sebagai meminta oleh dosen karena mengetahui (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya (Blum-Kulka, dalam Gunarwan, 2007: 186).

Searle (1975) menegaskan bahwa satu fungsi dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk ujaran. Meminta, misalnya dapat diungkapkan dalam bentuk ujaran yang salah satunya berupa interogatif. Fungsi meminta dalam bentuk interogatif merupakan tindak bahasa tak langsung dan jarak tempuh (derajat ilokusi) ujaran itu untuk dipahami oleh dosen (petutur) lebih panjang dibandingkan dengan fungsi menyuruh yang diungkapkan dalam bentuk ujaran imperatif.

Berdasarkan analis di atas dapat disimpulkan bahwa tindak direktif yang digunakan dalam interaksi mahasiswa-dosen menggunakan satu fungsi, yaitu meminta. Terbatasnya fungsi tersebut dipengaruhi oleh pemeran serta, tujuan, dan situasi dalam interaksi.

Sesuai dengan perannya dosen memiliki kesempatan lebih banyak untuk menggunakan fungsi pertanyaan dibandingkan dengan mahasiswa. Dosen sebagai pengelola kelas memungkinkan untuk menggunakan berbagai fungsi pertanyaan. Bentuk kegiatan belajar-mengajar praktik bengkel yang banyak melibatkan langkah kerja dan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja, dosen memberikan instruksi-instruksi agar mahasiswa melakukan sesuatu.

Peran mahasiswa yang sangat berbeda dengan dosen memberi kemungkinan tidak banyak untuk menggunakan fungsi pertanyaan dalam berinteraksi dengan dosen. Dari segi situasi, tidak banyak motivasi yang menggunakan berbagai fungsi dalam berinteraksi dengan dosen. Motivasi untuk menggunakan fungsi pertanyaan dalam interaksi dengan dosen lebih banyak sebagai strategi meminta bantuan untuk mengatasi hal-hal di luar kemampuannya atau meminta penguatan terhadap materi yang dipelajarinya.

 

KESIMPULAN

1)         Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai menyuruh jika penutur menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu. Pertanyaan dalam interaksi dosen-mahasiswa yang berfungsi untuk  menyuruh atau memerintah dipahami sebagai menyuruh atau memerintah bergantung:  (1) konteks yang mengacu kepada siapa bertutur, di mana, bilamana, untuk apa, dan bagaimana; serta (2) koteks, yang mengacu ke ujaran-ujaran sebelumnya yang mendahului dan atau yang mengikutinya.

2)         Fungsi menyuruh dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang paling dominan. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Dengan teknik seperti itu mahasiswa dapat terlibat secara aktif, dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

3)         Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai meminta jika penutur tampaknya tidak memerintah, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu. Fungsi meminta dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang menduduki urutan kedua. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Dengan menggunakan fungsi meminta, suasana kelas menjadi kondusif. Mahasiswa merasa lebih nyaman karena dihargai.

4)         Secara struktural dan konteks, kalimat dianggap sebagai melarang  jika penutur menyuruh lawan bicaranya jangan melakukan sesuatu Fungsi melarang dalam interaksi dosen-mahasiswa merupakan fungsi yang menduduki urutan ketiga. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dilakukan dengan teknik penugasan atau instruksi. Kegiatan belajar-mengajar memerlukan disiplin yang sangat tinggi. Kedisiplinan itu berkaitan dengan langkah kerja yang harus dilakukan mahasiswa, kedisiplinan memperlakukan mesin praktik, dan disiplin menaati tata tertib. Untuk mempertahankan konsentrasi mahasiswa ketika melakukan kerja praktik dan mempertahankan keselamatan kerja, salah satu strategi yang ditempuh dosen adalah menggunakan bentuk pertanyaan yang berfungsi melarang.

5)         Sesuai dengan perannya dosen memiliki kesempatan lebih banyak untuk menggunakan fungsi pertanyaan dibandingkan dengan mahasiswa. Dosen sebagai pengelola kelas memungkinkan untuk menggunakan berbagai fungsi pertanyaan. Bentuk kegiatan belajar-mengajar praktik bengkel yang banyak melibatkan langkah kerja dan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja, dosen memberikan instruksi-instruksi agar mahasiswa melakukan sesuatu.

6)         Peran mahasiswa yang sangat berbeda dengan dosen memberi kemungkinan tidak banyak untuk menggunakan fungsi pertanyaan dalam berinteraksi dengan dosen. Dari segi situasi, tidak banyak motivasi yang menggunakan berbagai fungsi dalam berinteraksi dengan dosen. Motivasi untuk menggunakan fungsi pertanyaan dalam interaksi dengan dosen lebih banyak sebagai strategi meminta bantuan untuk mengatasi hal-hal di luar kemampuannya atau meminta penguatan terhadap materi yang dipelajarinya.

 

 

REFERENSI

Alwi, Hasan. Dkk. 2003. Tata Bahasa baku bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Alisyahbana, Sutan Tahrir. 1968. Taba Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka.

Ervin-Tripp. 1968. An Introduction to Discourse Analisis. England: Longman.

Edmondson.1981. “An Analysis of Interaction of Language, Topic and Listener”. Dalam Jashua Fishman (ed.) Reading in the Sociology of Language.The Hague: Mouton.

Gunarwan, Asim. 2007. Pragmatik: Teori dan Kajian Nusantara. Jakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya

Miles, Mattew B dan A Micheael Huberman. 1984. Qualitative Data Analysis. California: SAGE Publication.

Saville-Troike, Muriel. 1986. The Ethnography of Comunication: An Introduction. New York: Basil Blackwell Ltd.

Searle, JR. 1969 (1983) Speech Act: An Essay in the Philosophy of Language Cambridge: Cambridge U.P.

Comments are closed.